Pengelolaan dan Pengembangan Tenaga Pengajar

Di dalam perencanaan dan pengembangan program pembelajaran tentunya dibutuhkan pengelolaan tenaga pengajar sebagai sumber belajar yang memiliki peranan terbesar dalam memastikan pencapaian tujuan pembelajaran. Secara administratif di BPPK (Unit Eselon I saya bekerja), kegiatan pengelolaan tenaga pengajar dilakukan oleh Subbidang Pengelolaan Tenaga Pengajar  (Subbid TP) di Bagian Renbangdik di Pusdiklat (Unit Eselon II), di mana cakupan tugasnya tidak hanya mengenai penugasan mengajar dan tugas kediklatan lainnya melainkan juga termasuk pengembangan kompetensi tenaga pengajar.

Subbid Pengelolaan TP juga menerbitkan rekomendasi tenaga pengajar, di mana manfaatnya adalah untuk memberi saran atau bahan pertimbangan kepada pihak yang paling bertanggung jawab dalam menentukan/ menunjuk pengajar yang akan mengampu materi pembelajaran tertentu, sesuai Rumpun Mata Keahlian yang dikuasainya. Adapun datanya bersumber dari database pengajar (dari subbidang tenaga pengajar) maupun hasil evaluasi pengajar yang telah diolah dari Bidang Evaluasi dan Pelaporan Kinerja (Evaluasi pengajar pelatihan sejenis), masukan dari narasumber saat rapat kurikulum, masukan dari Wali Program,  dan survey (mencari secara formal dan informal) baik melalui internet, lembaga. Dalam rekomendasi Tenaga Pengajar, subbid TP tidak hanya mempertimbangkan persyaratan administratif saja, tetapi wajib melihat prasyarat kompetensi (prerequisite) calon pengajar. Yang dimaksud dengan prerequisite adalah kompetensi awal atau minimal yang harus terpenuhi sebelum pengajar mendapat penugasan, dan kompetensi ini meliputi KSA, atau knowledge, skill, dan attitude dalam keahlian tertentu, yang bisa dilihat dari sertifikasi dan jam praktik yang dimiliki calon pengajar.

teacher_teaser

Secara ringkas, tugas administratif lainnya oleh Subbid TP  yang terkait pengelolaan tenaga pengajar yaitu

  • mengukur beban kerja tenaga pengajar (widyaiswara), menyusun profil tenaga pengajar
  • menyusun database pengajar, dokumen kinerja dan monitoring risiko
  • menyusun surat keterangan, Surat Rekomendasi Tenaga Pengajar dan SPMK yang diperlukan pengajar
  • mengoordinasikan kebutuhan pembelajaran maupun uji kompetensi widyaiswara
  • Melakukan negosiasi dan kesepakatan tarif dengan pengajar, khususnya pengajar praktisi (output dokumen: referensi tarif dan surat pernyataan tarif

Pengembangan Tenaga Pengajar

Menurut Wexley dan Latham (1991:22-24) terdapat enam elemen yang harus dipenuhi seorang pengajar yaitu (1) pengajar harus mencapai tujuan spesifik pembelajaran; (2) pengajar harus mengajar prinsip dasar pembelajaran orang dewasa; (3) pengajar harus mampu berkomunikasi efektif pada saat pembelajaran; (4) pengajar harus mengajar sesuai dengan materi perencanaan tiap pertemuan pembelajaran; (5) pengajar harus mampu memilih metode terbaik yang akan digunakan; dan (6) pengajar harus mampu memahami peserta secara individual.

Tenaga pengajar yang dilibatkan di program pembelajaran di lingkungan Kementerian Keuangan diharapkan agar memenuhi kriteria sebagaimana disebutkan oleh Wexley dan Latham tersebut. Oleh karena itu tenaga pengajarnya terdiri atas widyaiswara atau pejabat/pegawai yang ada kaitannya dengan materi substantif pembelajaran serta praktisi eksternal yang memenuhi persyaratan sebagai berikut (menurut ketentuan kami ya…):

(1) menguasai materi yang akan diajarkan/memiliki keahlian substantif pada mata pelajaran yang akan diberikan;

(2) mempunyai kemampuan  dan/atau pengalaman mengajar; dan

(3) mendapat persetujuan mengajar dari pimpinan instansi.

Dan untuk memastikan jika tenaga pengajar selalu mengikuti tuntutan perkembangan terkini maka upaya pengembangan mereka harus tetap dilaksanakan. Pengembangan tenaga pengajar sebagaimana pengembangan ASN Kemenkeu lainnya mengacu pada PER-4/PP/2017 yang bisa mengambil bentuk pembelajaran klasikal maupun non klasikal. Bentuk pembelajaran klasikal misalnya

  • pelatihan; baik pelatihan teknis, pelatihan fungsional, maupun pelatihan sosio kultural
  • seminar maupun pertemuan ilmiah lainnya yang sejenis
  • kursus maupun short course skill lainnya
  • penataran maupun kegiatan character building lainnya
  • lokakarya maupun workshop teknis
  • sosialisasi dan community of practice (COP) sharing
  • dan lain-lainnya yang membutuhkan tatap muka kelas antara pemateri dan peserta

Sedangkan bentuk pembelajaran non-klasikal antara lain

  • e-leaming dan pelatihan jarak jauh
  • magang (on the job learning)
  • pertukaran pegawai negeri sipil dengan pegawai swasta atau secondment
  • mentoring
  • coaching
  • keteladanan (job shadowing)
  • observasi
  • consultation
  • Community of Practice (COP) group
  • dll

Sampai di sini dulu ya bahasan kita. Semoga teman-teman saya yang suka nanya bagaimana pengembangan tenaga pengajar dilaksanakan di tempat kerja saya terpuaskan dengan secuil tulisan ini. Saya lanjutkan sharing topik lainnya nanti ya, sesuai dengan FAQ yang teman-teman berikan lewat email. OK cherioo…

Presentasi Zen: Ngajar Diklat Pertama di 2015

Waah sudah hampir setahun nggak update blog ini 😉 he he he… Kemarin hari Rabu 22 Januari 2015 mengajar diklat di Pusdiklat Keuangan Umum untuk yang pertama untuk Diklat Manajemen Diklat, kebagian mengajar Mata Pelajaran Penyelenggaraan Diklat. Kali ini peserta diklatnya spesial….Widyaiswara baru angkatan 2014. Sebenarnya diklat ini ditujukan untuk para pegawai yang akan bekerja di Badan Diklat…tapi spertinya menurut AJF di Setban sana WI dianggap pegawai baru yang harus diberi orientasi tentang fungsi-fungsi dan proses bisnis dalam pelaksanaan diklat. Sewaktu rapat persiapan penyelenggaraan saya sebagai Wali Program sudah mengatakan bahwa kami tidak akan mengubah kurikulum, kami hanya akan menambahkan konten dalam bahan ajar yang sesuai dengan calon peserta yaitu widyaiswara.
Agak bingung juga awalnya karena saya dapat 8 jamlat untuk memberikan materi Penyelenggaraan Diklat. Oya, lucunya calon peserta malah ada yang memang pengajar materi itu, jadi saya malah memanfaatkan beliau untuk sharing pengalaman beliau dalam melaksanakan tugas-tugas di Subbid Penyelenggaraan I. Balik lagi ke materi, bagi saya menceritakan bisnis proses di bidang Penyelenggaraan Diklat buat saya cukup hanya satu jamlat. Saya siapkan bahan ajar tentang itu selengkap mungkin. Nah, karena peserta saya semua adalah pengajar, maka saya tambahkan materi tentang manajemen kelas. (Nanti akan saya share bahan mengajar saya itu lain waktu.) Isinya ada tentang building rapport, handling questions, pendekatan mengajar, serta tips menggunakan Presentasi Zen. Nah sharing tentang Presentasi Zen ini yang saya beri porsi yang lebih banyak dengan harapan agar bermanfaat buat mereka dalam mengajar. Presentasi Zen itu saya pelajari kilat saja dalam 5 hari dengan membaca bukunya (yang mau e-booknya sila email saya) dan ketika saya menyajikan materi di kelas dengan menggunakan slide Presentasi Zen. Oya, peserta saya sangat antusias dengan materi terakhir ini, dan di sesi praktek mereka membuat bahan tayangan mengenai penyelenggaraan diklat dalam 5 kelompok dengan gaya Zen serta mempresentasikannya dengan style Zen.

courtesy of fastcodesign.com
courtesy of fastcodesign.com

Apa itu Presentasi Zen? Itu sebenranya presentasi powerpoint juga tapi dengan spesial tips dari Garr Reynold, pakar desain slide presentasi kelas dunia. Seorang Profesor Manajemen dan Desain di Kansai Gaidai University, beristrikan orang Jepang. Rupanya dia terinspirasi banyak dengan filosofi Jepang, dan contoh-contoh dia banyak mengambil dari budaya Jepang. Ada banyak pengertian tentang Zen, namun secara singkat Zen itu adalah filosofi tentang kesederhanaan (simplicity) dan fokus (focus). Zen mengajarkan tentang fokus pada kesederhanaan, yaitu berfokus pada hal-hal yang penting dan meninggalkan hal-hal yang tidak penting.

Bagaimana cara agar bisa membuat presentasi yang professional seperti Presentasi Zen? Tahap persiapan pertama adalah be creative: thinking out of box, tinggalkan zona nyaman dengan kebiasaan membuat slide presentasi seperti yang sering kita buat. Untuk itu kita perlu berpikir seperti seorang beginner, yang mau belajar apa saja dan tentunya kita perlu melepaskan diri dari batasan-batasan yang membuat kita kurang kreatif. Kedua, keep as simple as possible. Menurut Garr Reynolds, less itu sebenarnya more: sedikit itu malah berarti lebih. Oleh karena itu, prinsip ketiga adalah, jangan pikirkan apa yang bisa ditambahkan dalam setiap slide, tapi pikirkan apa yang bisa dikurangi.Think to “subtract”, not to”add” Sehingga, prinsip berikutnya, jadikan dalam setiap slide hanya ada satu esensi yang bermakna. Jangan buat desain slide presentasi bak mendekorasi ruang pesta ulang tahun anak2 karena desain tidak sama dengan dekorasi .
So, untuk mencapai kebermaknaan, disamping pemilihan kata yang sedikit sensasional, juga harus ditunjang dengan visual yang relevan karena slide presentasi harusnya lebih visual daripada hanya sekedar kumpulan kata-kata saja. Ketika menggunakan visual khususnya gambar dalam setiap slide, perhatikan ruang kosong. Sisakan ruang kosong, jangan isi semua ruang kosong dengan teks, gambar, grafik, animasi yang tidak perlu. Nah, dalam perencanaan sebaiknya kita planning analog dulu, jangan langsung going digital pakai komputer supaya proses kreatif tidak terganggu. Kita bisa pakai brainstorm, clustering, lalu membuat storyboard . Why? Coz nanti slide pertama sampai slide terakhir kita akan seperti bercerita yang mengalir mulai dari pendahuluan, permasalahan, klimaks sampai resolusi dan kesimpulan. Terakhir, dalam Zen delivery ada tips yang saya singkat dengan SUCCESS: simple, unexpectedness, concreteness, credibility, emotion, dan story. Untuk lebih jelasnya ceritanya lain kali saja yah…saya lagi too excited karena mengajar kemarin sukses buat saya, meskipun ada sedikit kekurangan: saya mengajarnya suka keracunan bahasa, campur aduk bahasa Jawa, Indonesia, Inggris hahaha…sama suka nyuruh peserta cepet2 karena takut wakktunya molor dari jadwal. Saya nggak takut or grogi jika diminta mengajar materi ini lagi 😀

buku keren
buku keren

Being Likeable People

I have a colleague, let’s call him Mr. X, who seems to be everyone’s disaster. Mr. X never makes a healthy environment at work in the sense that he makes everyone stressful and looses threshold of tolerance. Mr. X is our mutual enemy. Well, bad guys can be found anywhere, even at the workplace. But, have you ever wondered how some people don’t have an enemy in the whole world? Have you also noticed that most people are drawn to them right from the start?

Likeable people seem to bear charmed lives. People are always willing to give them a hand. All they have to do is ask and whatever they want falls into their laps. While most of us, like the rest of humanity, struggle against the odds, these people seem to sail through life and the work place without a scratch. Why do they have it so good?

It is true that unpleasant people also succeed. Unpopular people also make the grade, but the category of people who are liked by everybody have better batting averages. Should this be surprising? If you were given the task of selecting from two candidates with equal abilities, would you not pick the one who is more pleasant and liked by all?

They are nice people
They are nice people

Likeable people do not get to be that way by chance. There are two main reasons that I will elaborate in this article.

First, they work at being likeable. These are things likeable people do in their life, as modified from wikiHow:

  1. being respectful to everyone

For sure likeable people have self-respect and therefore they are also respectful to everyone they meet. They are never judgmental and dismissive to anybody, making everyone feel welcomed. In return, everyone appreciates and gets along well with these people.

  1. being polite to everyone

Not everyone can interact nicely with strangers, but likeable people do it so easily because they are not rude. They always ask for favors patiently, respond to others promptly, and always remember to say please and thank you.

  1. initiating random acts of kindness

Likeable people do things for other people, even if they don’t know those people. They are willing to do selfless thing like pressing the lift button for others, holding a door when going in or out of a building, picking something up for a stranger when he drops it, offering to take a picture for others who are trying to take one, and many more.

  1. being honest

While being honest, likeable people do it gently. That is why other people never hesitate to ask for advice from them. They are sincere and never fake their attention. They are also very careful in giving truthful comment so that others won’t feel upset or hurt by the truth.

  1. keeping the promise

Likeable people can follow through on all their commitments because they make full efforts to fulfill their promises. They also communicate their progress to keep their friends and co-workers in the loop about it.

  1. thinking of own strengths and explore opportunities to show them

Likeable people know what talent or trait that others admire in them. I have a colleague who’s good at filing and she volunteers to show me how to file my archives for DUPAK in a better way. Another friend who is a good singer once got up on our office gathering night and sang several songs to entertain us. And there is also a colleague of mine who is a computer expert that frequently helps and mentors me how to handle my Mac. I always admire those guys!

  1. always smiling

This simple gesture is likeable people’s mark. Their smiles always improve the mood of everyone around them, triggering the feeling of lightheartedness and happiness. By the way, their smiles are genuine, perhaps because they have happy thoughts or positive feelings.

 

 

The second reason and above all for likeable people to charm everyone: they are never confrontational. After a while, being nice becomes second nature to them. This way likeable people let their personalities shine and they earn others’ admiration. In contrast to this, the obnoxious person like Mr. X holds on to his inflated ego and when asked to do a favor, chants his mantra: “Why should I?” My poor colleague, he should know that a person who likes to make others uncomfortable with his actions will earn grudge and others’ negative feelings.

 

Knowing the two reasons above, is it any wonder then that likeable people succeed in career and life more often than most? By the way, Mr. X is not in good career advancement; I think he reaps what he has sown.

 

In sum, be likeable: pleasant, polite, respectful, go out of the way to be helpful, and never be confrontational. You will enjoy a better reputation that can strengthen networking, socializing, and career development.

 

***

Anggaran Tradisional dan Anggaran Visioner

Ini sebenarnya tulisan suami saya, aslinya cuman 1  halaman A4 saja. Pas saya baca, jidat langsung mengkerut: nggak mudeng coz ngga komunikatif bahasanya ha ha ha. Dengan bekal Academic Writing, saya edit sana-sini dan jadilah dia artikel sepanjang 2 halaman dan lumayan dimengerti lah daripada sebelumnya.  Selamat menyimak ^_^

Keep your budget, mate!

Bagi kebanyakan kita (pegawai Pemerintah), tanggal muda adalah saat yang paling  dinantikan. Saat gajian memang dapat membuat orang bahagia: Anda dapat membeli lebih banyak keperluan sehari-hari, segera membayar kewajiban anda, mengubah penampilan, dan lain sebagainya. Namun mungkin saja Anda tidak terlalu bahagia dengan tanggal muda jika Anda termasuk kelompok mereka yang bergaji sepuluh koma; artinya setelah tanggal 10 anda benar-benar koma.

Tapi kita mungkin pernah melihat  seorang pegawai negeri yang tidak terpengaruh dengan datangnya hari gajian atau tidak. Kita katakan orang tersebut dalam keadaan bebas finansial, artinya setiap keinginannya dapat terpenuhi kapanpun dia mau tanpa tergantung dengan tanggal gajian. Di dalam praktek, kita semua memiliki kebebasan dalam mengelola uang yang ada. Namun, keputusan finansial yang dibuat harus tepat dan bijak,  jangan sampai seperti pepatah: besar pasak dari pada tiang.

John Maynard Keynes menggambarkan tiga motivasi orang dalam memegang uang: sebagai transaksi, berjaga-jaga dan spekulasi. Kita bisa saja menghabiskan semua pendapatan, sampai tidak ada sisa yang disimpan. Namun seyogyanya kita dapat mengelola pendapatan dengan bijak sehingga selalu ada saldo kas positif setiap akhir bulan, juga agar pendapatan yang ada tidak digunakan hanya untuk pemenuhan kebutuhan dan  pembelian barang saja (konsumsi).

Banyak orang yang sadar akan pentingnya pengelolaan anggaran, namun sulit untuk melakukannya. Alasannya sederhana saja: gaji atau pendapatan yang diterima kecil. Padahal perlu kita ketahui bahwa anggapan besar-kecilnya pendapatan sebenarnya adalah relatif. Bukankah kita mengenal konsep efektivitas selain efisiensi? Segala pengeluaran yang akan kita lakukan perlu dikaji apakah sudah dalam  perencanaan sebelumnya, dan  kita perlu selalu bertanya tepatkah keputusan yang kita lakukan terhadap pendapatan kita sendiri dan adakah alternatif  pendapatan lain ?

Mereka yang berpenghasilan besarpun bisa saja tidak melakukan pengelolaan dalam anggarannya. Umumnya mereka malas, karena kapanpun mereka dapat mengeluarkan uang tanpa kesulitan. Mereka berpendapat, nanti juga akan mendapat tambahan penghasilan berupa honor atau bonus selain gaji bulanan, jadi buat apa repot melakukan perencanaan dan sebagainya. Anggapan tersebut menurut penulis sebenarnya keliru, karena pendapatan besar dengan skema pengeluaran besar sebetulnya tidak ada bedanya dengan pendapatan kecil. Mari kita simak dua tipe pengelolaan anggaran berikut ini:

Anggaran Tradisional

Kita melihat pengelolaaan anggaran dengan prinsip sederhana, yaitu besarnya  pengeluaran selalu kita sesuaikan dengan besarnya pendapatan. Kata berapa dan ke mana menjadi kata kunci di sini. Dengan demikian kita berasumsi bahwa pendapatan kita adalah relatif tetap. Strateginya adalah bagaimana  kita secara cermat mengelola pengeluaran. Metode penganggaran seperti ini kita kelompokkan sebagai anggaran tradisional, karena hanya mencakup berapa besar pendapatan kita dan ke mana saja kita keluarkan. Umumnya mereka yang memakai pola ini tidak efektif karena mereka cenderung menghabiskan pendapatannya untuk konsumsi. Kalaupun ada sisa, biasanya akan habis juga untuk keperluan lain yang mendesak.

Anggaran Visioner

Dalam hal ini kata kuncinya bukan hanya berapa dan ke mana tetapi ditambah dengan dari mana dan bagaimana. Pemakai tipe anggaran ini suka menggali sumber-sumber lain yang sah yang menambah penghasilan (dari mana). Mereka akan selalu berpikir apa yang akan saya lakukan untuk menambah penghasilan. Selain itu ia juga merasa dituntut untuk melakukan pengeluaran yang dapat menambah value aset (bagaimana). Mereka terpacu untuk berpikir dinamis dan jauh ke depan (visioner), tetapi tetap rasional dan realistis. Orang-orang dengan anggaran visioner semacam ini memilki tipikal suka belajar, inovatif, luwes dalam networking, pekerja keras dan bersemangat.

Setelah mengetahui dua tipe di atas, pertanyaannya adalah kita termasuk kelompok yang mana? Tidak ada kata terlambat untuk berbenah diri jika Anda termasuk model anggaran tradisional, dan jika Anda termasuk yang visioner, keep it up!

Mari berbenah

Membenahi tipe penganganggaran dan perencanaan keuangan Anda mutlak dilakukan bagi kelompok tradisional. Berikut tips yang penulis sarikan dari ceramah Ahmad Gozali (perencana keuangan dari Safir Senduk & Rekan) pada Seminar Persiapan Purna Bhakti Pusdiklat Keuangan Umum beberapa waktu lalu di BPPK.

1. Buang mindset bahwa gaji kita pas-pasan.

Berapapun penghasilan kita, akan selalu terasa pas dengan pengeluaran. Karena untuk pengeluaran biaya hidup misalnya, standarnya selalu mengikuti berapapun penghasilan kita, sehingga bagaimanapun akan terasa pas. Bersyukurlah jika pas-pasan, karena kekurangan itu jelas tidak enak, dan berlebihan juga akan menimbulkan masalah baru yang lebih besar.

2. Tentukan tujuan keuangan

Petakan apa saja yang Anda inginkan. Misalnya, kapan memiliki rumah sendiri, ke mana akan menyekolahkan anak, kapan akan pensiun, kapan dan ke mana akan liburan, dll tetapkan tujuan dengan detil, mencakup waktu dan kebutuhan dananya.

Misalnya: ingin membeli rumah di Bintaro yang harganya Rp 4 miliar lima tahun lagi. Dengan adanya tujuan ini, Anda bisa menghitung berapa dana yang harus disisihkan untuk ditabung atau diinvestasikan, dan setelahnya, berapa batas maksimal pengeluaran keluarga setiap bulan.

3. Sisihkan semua yang harus dikeluarkan di awal setelah menerima gaji.

Bayar semua cicilan di awal ketika menerima penghasilan, setelah itu, sisihkan dulu jumlah untuk ditabung. Tidak perlu banyak, yang penting konsisten setiap bulan. Sisanya, barulah dipakai untuk biaya hidup. Sisa inilah yang sebetulnya menjadi penghasilan bersih kita.

4. Pilihlah sumber penghasilan lain yang bisa Anda dapatkan serta investasi yang bisa dilakukan.

Anda bisa mencari pekerjaan tambahan, berbisnis, membeli logam mulia, properti, deposito berjangka, obligasi, saham, reksadana, unit link, dll. Sebelum berinvestasi pada satu instrumen investasi, Anda perlu mempelajari dan memahami biaya transaksi termasuk pajak yang perlu dibayar. Perhitungan imbal hasil (return) untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai adalah berdasarkan imbal hasil bersih setelah dikurangi biaya dan pajak.

Akhirnya, pilihan ada di tangan Anda, mau sepuluh koma atau bebas finansial? Saatnya Anda mereview style penganggaran Anda!

Kepustakaan

Sutikno, Mike R. Anggaran yang Visioner. Artikel pada majalah Bisnis Indonesia edisi 61, 10 Februari 2008.

Suatu hari di Pusdiklatwas BPKP…

Saya mengantar peserta Diklat Pengelolaan Diklat Golongan III tahun 2010 bulan Februari kemarin untuk melakukan studi banding ke Pusdiklatwas BPKP di Ciawi. Kami memilih Pusdiklatwas BPKP sebagai objek tujuan kunjungan karena pusdiklat tersebut telah memiliki sertifikasi ISO 9001: 2008, padahal Pusdiklatwas BPKP baru melakukan kegiatan operasional pertamanya pada tahun 1983 di Jl. Purnawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (artinya, dulu BPPK, unit instansi saya sebenarnya adalah ‘ induk’ dari BPKP, tapi si ‘anak’ ini jadinya lebih hebat dari induknya yang sampai saat ini SOPnya aja belum kelar2 dibuat…). Lokasi pusdiklat di Ciawi juga baru ditempati tahun 2004, tapi sarananya sangat lengkap dan juga manajemennya sangat luar biasa efektifnya. Satu lagi, ada 12 diklatnya sudah mendapat sertifikasi LAN…benar-benar membuat saya mengacungkan 2 jari tinggi-tinggi buat Pusdiklatwas BPK.

Ini sebagian gambar yang bisa saya share buat anda:

Ruang asrama seperti ini loh..

Trus ini fasilitas rekreasi, ada lapangan tenis, kolam pemancingan, jogging track, dll.

Perpustakaan juga ada, koperasi, wartel juga (tapi kayanya mau ditutup karena ngga laku)

Oya gambar isi asrama juga lumayan. Dari sisi fasilitasnya sih biasa2 saja, tapi lihat arrangementnya persis hotel saja.

Ruang makannya juga oke, lobby dan ruang tunggu tamu sangat asik deh…

Saya juga sempat melihat laboratorium komputer dan polikliniknya…

Nah yang paling berkesan lagi itu melihat rencana buka tahun mereka, just take a look:

Membuat Blog di Microsoft Word

Salah satu penyedia layanan untuk membuat blog secara gratis adalah Blogger. Situs Web yang telah diambil alih oleh Google ini dapat diakses di alamat http://www.blogger.com. Di situ, Anda tinggal mendaftar. Selesainya pendaftaran, Anda bisa langsung membuat blog, bikin tulisan, dan “menerbitkannya”.

Untuk pendaftaran, Anda memang harus online. Akan tetapi, untuk menulis Anda tidak perlu online supaya bisa menghemat biaya ber-Internet. Cara yang paling sederhana adalah dengan menulis blog dulu di penyunting teks, seperti Notepad atau Microsoft Word, secara offline. Kalau sudah selesai, baru online, kemudian buka situs Web layanan blog, login, lalu copy-paste hasil tulisan yang ada di penyunting teks.

Kita sebut cara yang barusan disebut adalah cara manual. Cara yang akan dijelaskan berikutnya kita sebut dengan cara otomatis. Tulisan tetap dibuat secara offline. Online-nya baru nanti, setelah tulisan selesai dibuat. Cara otomatis ini menggunakan Microsoft Word. Tapi, bukan sembarang Microsoft Word, melainkan Microsoft Word yang sudah dilengkapi dengan add-on bernama Blogger For Word. Aplikasi tambahan gratisan itu bisa didapat dari http://buzz.blogger.com/bloggerforword.html. Ukuran paket instalasinya kecil, cuma 2MB.

Cara pemakaiannya bisa diringkas seperti ini. Setelah Blogger For Word di-install, toolbar Blogger akan muncul pada Microsot Word. Kemudian, tuliskan isi blog seperti biasa, tetapi jangan online dulu, offline saja. Kalau tulisan sudah selesai, nyalakan koneksi Intenet, lalu publish deh.

Nah, cara detailnya seperti ini. Oh ya, kita pakai Word 2007 untuk artikel ini. Di versi lama mungkin berbeda, tetapi sedikit saja.

1. Klik [Add-Ins] pada menu di sebelah atas. Opsi [Add-Ins] sebaris dengan [Home], [Insert], [Page Layout], dan lain-lain.

2. Klik [Blogger Settings], kemudian pada kotak yang muncul, masukkan username dan password untuk masuk ke Blogger. Klik [OK].

3. Ketikkan isi blog di dalam Word. Kalau sudah selesai, online-lah. Kemudian, klik [Publish].

4. Masukkan judul blog dan pilih blog yang akan berisi tulisan itu. Klik [Send]. Selesai.

Disarikan dari PCplus