Berkibarlah Benderaku

bendera-indonesia1

Sudah bulan Agustus, bulan perayaan kemerdekaan RI tercinta. Pagi tadi berangkat dari rumah menuju Stasiun Pondok Ranji melewati suatu perumahan di seputaran Jalan Ceger Raya, saya bisa menghitung berapa rumah yang sudah mengibarkan bendera di halaman masing-masing…hmm nggak banyak. Memang jalan raya gang penuh dengan umbul-umbul warna warni, tapi itu kan inventaris RT, pasti pengurus warga yang memasangnya.

Yah beginilah masyarakat kota, terlalu sibuk dengan rutinitas keseharian sampai lupa kalau tanggal 17 Agustus sudah tinggal menghitung hari. Emang salah ya nggak mengibarkan bendera? Hmm…sebagai WNI yang baik tentunya cinta tanah air dan bangsa dong….nggak usahlah maju perang atau bela negara macam jaman sebelum 1945, atau harus mengharumkan nama negara dengan prestasi level internasional…cukup kibarkan bendera kita di hari ulang tahun RI. As simple as that.

Saya suka bilang ‘preeet’ jika orang berwacana mau menjadi Nusantara Jaya dan sebagainya blaa blaa blaa… Nggak usah jauh-jauh deh dengan kegiatan kibar bendera bin upacara. Ngomongin perbuatan kita saja sebagai WNI yang baik di keseharian kita. Lha kalau kita saja pemalas, suka buang sampah sembarang, telat bayar pajak dsb jangan harap ini negara mau maju. Masyarakatnya memiliki sikap yang jauh dari civilized. Apalagi sedihnya jika melihat masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama, tetapi keseharian tingkah lakunya banyak menyimpang dari norma agama…dan minim aksi untuk meluruskannya. Keteladanan itu penting, maka setiap diri kita tuh patutnya jadi teladan buat lingkungan sekitar kita. Ngga bisa mengharapkan banyak dari ulama, guru, atau pemerintah saja, sebenarnya setiap individu warga negara RI ini bertugas menjadi WNI teladan bagi semua di sekitar kita. Saya membayangkan kalau bisa seperti itu, NKRI akan jadi super power deh….

#lamunan_pagihari#

True Scholar

beasiswa

Saya punya teman yang saat ini sedang menyelasaikan S3 nya di sebuah universitas papan atas di tanah air. Well, beliau punya everything, waktu dan biaya dan kemauan keras untuk terus belajar. Sepertinya ada position yang ingin dikejarnya. I love to see my friends continue their education. Saya juga akan segera menyusul lanjut S3 jika my short term plan saya terpenuhi dulu…sama dapet beasiswa hehee. Well, my biggest question buat beliau itu adalah apakah beliau layak dipanggil seorang true scholar?

Beliau juga akademisi alias dosen, tetapi selama bertahun-tahun mengenal beliau saya sih tidak melihat significant improvement dari beliau dari sisi teknis substantif, tapi entahlah karena beliau majoring di bidang yang agak beda dengan saya…saya English Education dan beliau humaniora.

I’m talking about that person’s use of language…..so lousy. Kami ini kan pengajar bahasa Inggris, dan penggunaan bahasa yang baik dan benar juga menunjukkan kadar keilmuan kita. But saya melihat beliau bukan sebagai orang yang stubborn ya…saya rasa beliau itu cuma kurang banyak improvement dengan real context. Yang saya bicarakan di sini adalah beliau yang sering mengajar di tempat saya dengan kesalahan gramatikal yang banyak. Saya baru tahu ketika melihat bahan tayang beliau yang dipakai di pusdiklat serta hasil evaluasi peserta yang menuliskan “pengajar tidak teliti dan perlu update pengetahuan”…memang sih jadi ngeri ketika tahu beliau banyak melakukan even simple mistakes seperti penggunaan preposition yang salah serta pilihan kata yang nggak pas. Yang paling annoying adalah literal translation dari Indonesia ke Inggris tanpa mikirin semantik, aduuh. Akhirnya saya sering mantengin status beliau di FB, karena beliau juga sangat updated di sosmed. Dan ternyata, setiap hari saya lihat kesalahan gramatikal beliau tuh buanyaak bnaget. Tapi saya masih tetap respek dengan beliau. Namanya juga bukan native speaker ya…salah itu normal sih.

Cuma saya salut dengan rasa percaya diri beliau…bisa jadi beliau tidak sadar kalau kesalahan bahasa beliau itu banyak ya. Nah…saya ini teman baik atau ngga ya? Rasanya sungkan mau membetulkan kesalahan beliau, kesannya saya sok kritis dengan beliau. Tadi saya sempat lihat foto tayangan presentasi beliau untuk skala internasional…omigosh banyak banget ingrammaticals nya? What should I do to her?

Well, true scholar, I believe, are perfectly comfortable acknowledging mistakes or admitting they don’t know something. Apa beliau bisa bersikap seperti true scholar jika ada yang menunjukkan bahwa beliau banyak melakukan kesalahan? Tapi saya ini nih yang nggak berani meluruskan beliau…kita kan friends?

Saya tahu beliau orang yang very positif dan open-minded, but I don’t want to hurt that person’s feeling. Beliau itu merasa achievement beliau luar biasa, that’s what I see from beberapa statusnya di FB. Apa saya ngiri? I can guarantee no, not at all. Saya tahu beliau itu berjuang keras dan terus belajar supaya bisa mempresentasikan paper di LN…beliau berhak sekali untuk dibilang hebat. Yang saya suka geli adalah beliau sendiri yang sering melabeli dirinya dengan great, super, awesome…Saya kalau sampai berani berkomentar tentang karya beliau meskipun itu untuk kebaikan beliau pasti akan merusak rasa bangga dan sukses beliau.

Saya coba membalikkkan situasinya jika saya dalam posisi beliau dan saya mendapat kritikan dari teman saya itu. Kalau saya pasti menerima, because my love of learning and truth is far greater than my ego. Saya harus berterima kasih atas masukan teman saya itu. Saya bukan tipe seperti beliau yang menurut saya terlalu bringing attention to herself or bragging about her accomplishments…

Saya rasa beliau itu memiliki self-worth yang terlalu tinggi, meskipun beliau itu orang yang nice to everybody. Karena itu saya tidak mau membuat beliau merasa insecure atau oversensitive dengan masukan saya. Such a lousy friend, huh?

Ini sih cuma buat pembelajaran saya saja nanti kalau saya suda lanjut S3 harus lebih hati-hati dan menjaga reputasi sebagai scholar ya…menjadi true scholar yang humble dan tidak anti kritik serta tidak mudah tersinggung jika mendapat feedback.