GENDER

Akhirnya nemu juga artikel tentang gender. Ternyata konsep gender yang kutahu selama ini itu salah. Makanya kita repost di sini ya artikelnya, it’s worth reading…sumbernya dari sbektiistiyanto.files.wordpress.com, (so many thanks ya Mas Bekti…).

GENDER

 

1. SEKS DAN GENDER

Sejak dua dasawarsa terakhir, diskursus tentang gender sudah mulai ramai dibicarakan orang. Berbagai peristiwa seputar dunia perempuan di berbagai penjuru dunia ini juga telah mendorong semakin berkembangnya perdebatan panjang tentang pemikiran gerakan feminisme yang berlandaskan pada analisis “hubungan gender”.

Berbagai kajian tentang perempuan digelar, di kampus-kampus, dalam berbagai seminar, tulisan-tulisan di media massa, diskusi-diskusi, berbagai penelitian dan sebagainya, yang hampir semuanya mempersoalkan tentang diskriminasi dan ketidakadilan yang menimpa kaum perempuan. Pusat-pusat studi wanita pun menjamur di berbagai universitas yang kesemuanya muncul karena dorongan kebutuhan akan konsep baru untuk memahami kondisi dan kedudukan perempuan dengan menggunakan perspektif yang baru.

Dimasukkannya konsep gender ke dalam studi wanita tersebut, menurut Sita van Bemmelen paling tidak memiliki dua alasan. Pertama, ketidakpuasan dengan gagasan statis tentang jenis kelamin. Perbedaan antara pria dan wanita hanya menunjuk pada sosok biologisnya dan karenanya tidak memadai untuk melukiskan keragaman arti pria dan wanita dalam pelabagi kebudayaan. Kedua, gender menyiratkan bahwa kategori pria dan wanita merupakan konstruksi sosial yang membentuk pria dan wanita. (dalam Ibrahim dan Suranto, 1998: xxvi)

Namun ironisnya, di tengah gegap gempitanya upaya kaum feminis memperjuangkan keadilan dan kesetaraan gender itu, masih banyak pandangan sinis, cibiran dan perlawanan yang datang tidak hanya dari kaum laki-laki, tetapi juga dari kaum perempuan sendiri. Masalah tersebut mungkin muncul dari ketakutan kaum laki-laki yang merasa terancam oleh kebangkitan perempuan atau mungkin juga muncul dari ketidaktahuan mereka, kaum laki-laki dan perempuan akan istilah gender itu sendiri dan apa hakekat dari perjuangan gender tersebut.

Bertolak dari fenomena tersebut maka konsep penting yang harus dipahami terlebih dahulu sebelum membicarakan masalah perempuan ini adalah perbedaan antara konsep seks (jenis kelamin) dengan konsep gender.  Pemahaman yang mendalam atas kedua konsep tersebut sangatlah penting karena kesamaan pengertian (mutual understanding) atas kedua kata kunci dalam pembahasan bab ini akan menghindarkan kita dari kemungkinan pemahaman-pemahaman yang keliru dan tumpang tindih antara masalah-masalah perempuan  yang muncul karena perbedaan akibat seks dan masalah-masalah perempuan yang muncul akibat hubungan gender, disamping itu juga untuk memudahkan pemahaman atas konsep gender yang merupakan kata dan konsep asing ke dalam konteks Indonesia.

  1. Pengertian

Selama lebih dari sepuluh tahun istilah gender meramaikan berbagai diskusi tentang masalah-masalah perempuan, selama itu pulalah istilah tersebut telah mendatangkan ketidakjelasan-ketidakjelasan dan kesalahpahaman tentang apa yang dimaksud dengan konsep gender dan apa kaitan konsep tersebut dengan usaha emansipasi wanita yang diperjuangkan kaum perempuan tidak hanya di Indonesia yang dipelopori ibu Kartini tetapi juga di pelbagai penjuru dunia lainnya.

Kekaburan makna  atas istilah gender ini telah mengakibatkan perjuangan gender menghadapi banyak perlawanan yang tidak saja datang dari kaum laki-laki yang merasa terancam “hegemoni kekuasaannya” tapi juga datang dari kaum perempuan sendiri yang tidak paham akan apa yang sesungguhnya dipermasalahkan oleh perjuangan gender itu.

Konsep gender pertama kali harus dibedakan dari konsep seks atau jenis kelamin secara biologis. Pengertian seks atau jenis kelamin secara biologis merupakan pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis, bersifat permanen (tidak dapat dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan), dibawa sejak lahir dan merupakan pemberian Tuhan; sebagai seorang laki-laki atau seorang perempuan.

Melalui penentuan jenis kelamin secara biologis ini maka dikatakan bahwa seseorang akan disebut berjenis kelamin laki-laki jika ia memiliki penis, jakun, kumis, janggut, dan memproduksi sperma . Sementara seseorang disebut berjenis kelamin perempuan jika ia mempunyai vagina dan rahim sebagai alat reproduksi, memiliki alat untuk menyusui (payudara) dan mengalami kehamilan dan proses melahirkan. Ciri-ciri secara biologis ini sama di semua tempat, di semua budaya dari waktu ke waktu dan tidak dapat dipertukarkan satu sama lain.

Berbeda dengan seks atau jenis kelamin yang diberikan oleh Tuhan dan sudah dimiliki seseorang ketika ia dilahirkan sehingga menjadi kodrat manusia, istilah gender yang diserap dari bahasa Inggris dan sampai saat ini belum ditemukan padanan katanya dalam Bahasa Indonesia, —kecuali oleh sebagian orang yang untuk mudahnya telah mengubah gender menjadi jender— merupakan rekayasa sosial, tidak bersifat universal dan memiliki identitas yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh faktor-faktor ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, agama, etnik, adat istiadat, golongan, juga faktor sejarah, waktu dan tempat serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. (Kompas, 3 September 1995)

Oleh karena gender merupakan suatu istilah yang dikonstruksi secara sosial dan kultural untuk jangka waktu yang lama, yang disosialisasikan secara turun temurun  maka pengertian yang baku tentang konsep gender ini pun belum ada sampai saat ini, sebab pembedaan laki-laki dan perempuan berlandaskan hubungan gender dimaknai secara berbeda dari satu tempat ke tempat lain, dari satu budaya ke budaya lain dan dari waktu ke waktu. Meskipun demikian upaya untuk mendefinisikan konsep gender tetap dilakukan dan salah satu definisi gender telah dikemukakan oleh Joan Scoot, seorang sejarahwan, sebagai  “a constitutive element of social relationships based on perceived differences between the sexes, and…a primary way of signifying relationships of power.” (1986:1067)

Sebagai contoh dari perwujudan konsep gender sebagai sifat yang melekat pada laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan budaya, misalnya jika dikatakan bahwa seorang laki-laki itu lebih kuat, gagah, keras, disiplin, lebih pintar, lebih cocok untuk bekerja di luar rumah dan  bahwa seorang perempuan itu lemah lembut, keibuan, halus, cantik, lebih cocok untuk bekerja di dalam rumah (mengurus anak, memasak dan membersihkan rumah) maka itulah gender dan itu bukanlah kodrat karena itu dibentuk oleh manusia.

Gender bisa dipertukarkan satu sama lain, gender bisa berubah dan berbeda dari waktu ke waktu, di suatu daerah dan  daerah yang lainnya. Oleh karena itulah, identifikasi seseorang dengan menggunakan perspektif gender tidaklah bersifat universal. Seseorang dengan jenis kelamin laki-laki mungkin saja bersifat keibuan dan lemah lembut sehingga dimungkinkan pula bagi dia untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan pekerjaan-pekerjaan lain yang selama ini dianggap sebagai pekerjaan kaum perempuan. Demikian juga sebaliknya seseorang dengan jenis kelamin perempuan bisa saja bertubuh kuat, besar pintar dan bisa mengerjakan perkerjaan-pekerjaan yang selama ini dianggap maskulin dan dianggap sebagai wilayah kekuasaan kaum laki-laki.

Disinilah kesalahan pemahaman akan konsep gender seringkali muncul, dimana orang sering memahami konsep gender yang merupakan rekayasa sosial budaya sebagai “kodrat”, sebagai sesuatu hal yang sudah melekat pada diri seseorang, tidak bisa diubah dan ditawar lagi. Padahal kodrat itu sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, antara lain berarti “sifat asli; sifat bawaan”. Dengan demikian gender yang dibentuk dan terbentuk sepanjang hidup seseorang oleh pranata-pranata sosial budaya yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi bukanlah bukanlah kodrat.

2. GENDER DAN SOSIALISASI

  1. Pengertian Sosialisasi

Kuatnya citra gender sebagai kodrat, yang melekat pada benak masyarakat, bukanlah merupakan akibat dari suatu proses sesaat melainkan telah melalui suatu proses dialektika, konstruksi sosial, yang dibentuk, diperkuat, disosialisasikan secara evolusional dalam jangka waktu yang lama, baik melalui ajaran-ajaran agama, negara, keluarga maupun budaya masyarakat, sehingga perlahan-lahan citra tersebut mempengaruhi masing-masing jenis kelamin, laki-laki dan perempuan secara biologis dan psikologis.

Melalui proses sosialisasi, seseorang akan terwarnai cara berpikir dan kebiasaan-kebiasaan hidupnya. Dengan proses sosialisasi, seseorang “diharapkan” menjadi tahu bagaimana ia mesti bertingkah laku di tengah-tengah masyarakat dan lingkungan budayanya, sehingga bisa menjadi manusia masyarakat dan “beradab”.

Sosialisasi merupakan salah satu proses belajar kebudayaan dari anggota masyarakat dan hubungannya dengan sistem sosial. Sosialisasi menitikberatkan pada masalah individu dalam kelompok. Oleh karena itu proses sosialisasi melahirkan kedirian dan kepribadian seseorang. (Soelaeman, 1998:109)

Kedirian sebagai suatu produk sosialisasi, merupakan kesadarn terhadap diri sendiri dan memandang adanya pribadi orang lain di luar dirinya. Adapun asal mula timbulnya kedirian antara lain karena:

a)  Dalam proses sosialisasi seseorang mendapat bayangan dirinya, yaitu setelah memperhatikan cara orang lain memandang dan memperlakukan dirinya. Misalnya, apakah dirinya dianggap baik, buruk, pintar, cantik dan sebagainya.

b)  Dalam proses sosialisasi juga membentuk kedirian yang ideal. Orang yang bersangkutan mengetahui dengan pasti apa-apa yang harus dia lakukan agar memperoleh penghargaan dari orang lain.

Proses sosisalisasi sebenarnya berawal dari dalam keluarga. Gambaran diri seseorang merupakan pantulan perhatian yang diberikan keluarga kepada dirinya. Persepsinya tentang diri, tentang dunia dan masyarakat sekelilingnya secara langsung dipengaruhi oleh tindakan dan keyakinan keluarganya. Sehingga nilai-nilai yang dimiliki oleh seorang individu dan berbagai peran yang diharapkan dilakukan olehnya, smeua berawal dari dalam lingkungan sendiri.

Proses sosialisasi ini tidak berhenti sampai pada keluarga saja, tapi masih ada lembaga lain. Cohan (1983) mengatakan bahwa lembaga-lembaga sosialisasi yang terpenting ialah keluarga, sekolah, kelompok sebaya dan media massa.

Sosialisasi pada dasarnya menunjuk pada semua faktor dan proses yang membuat setiap manusia menjadi selaras dalam hidupnya di tengah-tengah orang lain. Sehingga meskipun proses sosialisasi yang dijalani setiap orang tidak selalu sama, namun secara umum sasaran sosialisasi itu sendiri hampir sama di berbagai tempat dan budaya, yaitu antara lain:

a)  Individu harus diberi ilmu pengetahuan (keterampilan) yang dibutuhkan bagi kehidupan kelak di masyarakat.

b)  Individu harus mampu berkomunikasi secara efektif dan mengembangkan kemampuannya.

c)  Pengendalian fungsi-fungsi organik yang dipelajari melalui latihan-latihan mawas diri yang tepat.

d)  Bertingkah laku selaras dengan norma atau tata nilai dan kepercayaan pokok yang ada pada lembaga atau kelompok khususnya dan masyarakat umumnya.

  1. Sosialisasi  Peran Gender

Pranata sosial yang kita masuki segabai individu, sejak kita memasuki keluarga pada saat lahir, melalui pendidikan, kultur pemuda, dan ke dalam dunia kerja dan kesenangan, perkawinan dan kita mulai membentuk keluarga sendiri, memberi pesan yang jelas kepada kita bagaimana orang “normal” berperilaku sesuai dengan gendernya.(Mosse, 1996:63)

Karena konstruksi sosial budaya gender, seorang laki-laki misalnya haruslah bersifat kuat, agresif, rasional, pintar, berani dan segala macam atribut kelelakian lain yang ditentukan oleh masyarakat tersebut, maka sejak seorang bayi laki-laki lahir, dia sudah langsung dibentuk untuk “menjadi’ seorang laki-laki, dan disesuaikan dengan atribut-atribut yang melekat pada dirinya itu. Demikian pula halnya dengan seorang perempuan yang karena dia lahir dengan jenis kelamin perempuan maka dia pun kemudian dibentuk untuk “menjadi” seorang perempuan sesuai dengan kriteria yang berlaku dalam suatu masyarakat dan budaya dimana dia lahir dan dibesarkan, misalnya bahwa karena dia dilahirkan sebagai seorang perempuan maka sudah menjadi “kodrat” pula bagi dia untuk menjadi sosok yang cantik, anggun, irrasional, emosional dan sebagainya.

Proses sosialisasi peran gender tersebut dilaksanakan melalui berbagai cara, dari mulai pembedaan pemilihan warna pakaian, accessories, permainan, perlakuan dan sebagainya yang kesemuanya diarahkan untuk mendukung dan memapankan proses pembentukan seseorang “menjadi” seorang laki-laki atau seorang perempuan sesuai dengan ketentuan sosial budaya setempat.

Pembedaan identitas berdasarkan gender  tersebut telah ada jauh sebelum seseorang itu lahir. Sehingga ketika pada akhirnya dia dilahirkan ke dunia ini, dia sudah langsung masuk ke dalam satu lingkungan yang menyambutnya dengan serangkaian tuntutan peran gender. Sehingga seseorang terpaksa menerima identitas gender yang sudah disiapkan untuknya dan menerimanya sebagai sesuatu hal yang benar, yang alami dan yang baik. Akibatnya jika terjadi penyimpangan terhadap peran gender yang sudah menjadi bagian dari landasan kultural masyarakat dimana dia hidup, maka masyarakat pun lantas menilai hal tersebut sebagai sesuatu yang negatif bahkan mungkin sebagai penentang terhadap budaya yang selama ini sudah mapan. Dan sampai sejauh ini yang sering menjadi korban adalah kaum perempuan.

Sebagai contoh dalam adat budaya Jawa di Indonesia, seorang budayawan terkemuka, Umar Kayam, mengungkapkan bahwa sebutan wanita sebagai kanca wingking (teman di belakang) merupakan pengembangan dialektika budaya adiluhung. Sosok budaya inilah yang berkembang di bawah ilham “halus – kasar” yang secara tegar menjelajahi semua sistem masyarakat Jawa. Sistem kekuasaan feodal aristokratik, demikian Kayam, telah menetapkan wanita untuk memiliki peran atau role menjadi “penjaga nilai-nilai halus-kasar dan adiluhung” di dalam rumah.(Kompas, 23 Oktober 1995)

Penjajahan kultural yang demikian panjang dan membuat perempuan lebih banyak menjadi korban itu terus dilestarikan. Tidak jarang, alasan-alasan kultural memberikan legitimasi sangat ampuh. Ia dicekokkan melalui pelbagai pranata sosial dan adat istiadat yang mendarahdaging dalam jantung kesadaran anggotanya. Rasionalisasi kultural inilah yang pada gilirannya membuat perempuan secara psikologis mengidap sesuatu yang oleh Collete Dowling disebut Cinderella Complex, suatu jaringan rasa takut yang begitu mencekam, sehingga kaum wanita merasa tidak berani dan tidak bisa memanfaatkan potensi otak dan daya kreativitasnya secara penuh. (Ibrahim dan Suranto, 1998:xxvi)

Sosialisasi yang jika kita cermati pengertiannya, yaitu merupakan sebuah proses yang membantu individu melalui belajar dan penyesuaian diri, bagaimana bertindak dan berpikir agar ia dapat berperan dan berfungsi baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. (Noor, 1997:102) telah juga dilakukan tidak hanya melalui lembaga keluarga dan lembaga adat, melainkan juga oleh lembaga negara dan lembaga pendidikan.

Pemapanan citra bahwa seorang perempuan itu lebih cocok berperan sebagai seorang ibu dengan segala macam tugas domestiknya yang selalu dikatakan sebagai “urusan perempuan”, seperti membersihkan rumah, mengurus suami dan anak, memasak, berdandan dan sebagainya. Sementara citra laki-laki, disosialisasikan secara lebih positif, dimana dikatakan bahwa laki-laki karena kelebihan yang dimilikinya maka lebih sesuai jika dibebani dengan “urusan-urusan laki-laki” pula dan lebih sering berhubungan dengan sektor publik, seperti mencari nafkah, dengan profesi yang lebih bervariasi daripada perempuan. Kesemua itu disosialisasikan sejak dari kelas satu Sekolah Dasar melalui buku-buku pelajaran di sekolah hingga Panca Dharma Wanita, yang menyatakan bahwa tugas utama seoarang perempuan adalah sebagai “pendamping” suami, dan itulah yang diyakini secara salah oleh sebagian orang sebagai “kodrat wanita.”

3. GENDER DAN STRATIFIKASI

Pembedaan laki-laki dan perempuan berlandaskan gender mungkin tidak akan mendatangkan masalah jika  pembedaan itu tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender inequalities) baik bagi kaum laki-laki maupun bagi kaum perempuan. Meski ketidakadilan itu lebih banyak dirasakan oleh kaum perempuan, sehingga bermunculanlah gerakan-gerakan perjuangan gender.

Ketidakadilan gender tersebut antara lain termanifestasi pada penempatan perempuan dalam stratifikasi sosial masyarakat, yang pada kelanjutannya telah menyebabkan kaum perempuan mengalami apa yang disebut dengan marginalisasi dan subordinasi.

  1. Pengertian Stratifikasi

Bila ditinjau dari asal katanya, istilah stratifikasi berasal dari kata stratus yang artinya lapisan (berlapis-lapis). Sehingga dengan istilah stratifikasi diperoleh gambaran bahwa dalam tiap kelompok masyarakat selalu terdapat perbedaan kedudukan seseorang dari yang berkedudukan tinggi sampai yang berkedudukan rendah, berlapis-lapis dari atas ke bawah.

Pelapisan sosial dalam masyarakat tersebut terjadi karena adanya “sesuatu” yang dihargai dalam masyarakat tersebut. Misalnya, berupa pemilikian uang atau benda-benda ekonomis lainnya seperti mobil, rumah, benda-benda elektronik dan lain sebagainya. Pemilikan kekuasaan, ilmu pengetahuan, agama atau keturunan keluarga. Untuk selanjutnya masyarakat dinilai dan ditempatkan pada lapisan-lapisan tertentu berdasarkan tingkat kemampuannya dalam memiliki “sesuatu” yang dihargai tersebut.

Proses terjadinya pelapisan dalam masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya atau sengaja disusun untuk mencapai satu tujuan bersama, misalnya pembagian kekuasaan dan wewenang yang resmi dalam organisasi formal.

Disamping itu, pelapisan dalam masyarakat juga bisa bersifat tertutup, dimana didalamnya tidak memungkinkan pindahnya seseorang dari satu lapisan ke lapisan lain, baik gerak pindahnya ke atas maupun ke bawah. Misalnya, penempatan seseorang dalam lapisan tertentu yang diperoleh berdasarkan kelahiran. Contoh paling banyak terdapat pada masyarakat dengan sistem kasta, masyarakat feodal dan masyarakat rasial. Sementara pada masyarakat dengan sistem pelapisan terbuka, setiap orang mempunyai kesempatan untuk naik ke lapisan yang lebih tinggi tetapi juga  dimungkinkan untuk jatuh ke lapisan yang lebih rendah.

  1. Stratifikasi Perempuan Berlandaskan Perbedaan Gender

Jika kita mengaitkan masalah gender dengan stratifikasi maka mau tidak mau kita harus melihat kembali pada proses sosialisasi  yang telah mengawali pemapanan pembedaan laki-laki dan perempuan berdasarkan hubungan gender.

Selama ini telah disosialisasikan, ditanamkan  sedemikian rupa, ke dalam benak, ke dalam pribadi-pribadi seseorang, laki-laki dan perempaun, bahwa karena “kodrat”-nya seorang laki-laki berhak dan sudah seharusnya untuk mendapat kebebasan, mendapat kesempatan yang lebih luas daripada perempuan. Tuntutan nilai-nilai yang ditentukan oleh masyarakat telah mengharuskan seorang laki-laki untuk lebih pintar, lebih kaya, lebih berkuasa daripada seorang perempuan. Akibatnya segala perhatian dan perlakuan yang diberikan kepada masing-masing dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan tersebut pun disesuaikan dan diarahkan untuk memenuhi tuntutan tersebut. Kepada laki-laki diberikan prioritas dan kesempatan lebih luas untuk sekolah dan menuntut ilmu lebih tinggi daripada kesempatan yang diberikan kepada kaum perempuan. Kepada kaum laki-laki pula dibuka pintu selebar-lebarnya untuk bekerja di berbagai sektor publik dalam dunia pekerjaan yang dianggap maskulin, sementara perempuan lebih diarahkan untuk masuk ke sektor domestik dengan pekerjaan-pekerjaan yang selama ini memang dianggap sebagai “urusan” perempuan.

Bertolak dari kondisi tersebut maka akses perempuan terhadap “sesuatu” yang dihargai dalam masyarakat, yang menjadi sumber kelahiran pelapisan dalam masyarakat pun menjadi sangat rendah. Sehingga kaum perempuan dengan segala keterbatasan yang sudah ditentukan oleh masyarakat untuknya terpaksa menempati lapisan yang lebih rendah di masyarakat daripada kaum laki-laki.

Kondisi yang telah menempatkan kaum perempuan dalam posisi yang tidak menguntungkan di atas telah juga melahirkan pelbagai bentuk ketidakadilan gender (gender inequalities) yang termanifestasi antara lain dalam bentuk:

a)  Marginalisasi

Proses marginalisasi, yang merupakan proses pemiskinan terhadap perempuan, terjadi sejak di dalam rumah tangga dalam bentuk diskriminasi atas anggota keluarga laki-laki dengan anggota keluarga perempuan. Marginalisasi juga diperkuat oleh adat istiadat maupun tafsir keagamaan. Misalnya, banyak diantara suku-suku di Indonesia yang tidak memberi hak kepada kaum perempuan untuk mendapatkan waris sama sekali atau hanya mendapatkan separuh dari jumlah yang diperoleh kaum laki-laki.

Demikian juga dengan kesempatan dalam memperoleh pekerjaan, berbeda antara laki-laki dan perempuan, yang akibatnya juga melahirkan perbedaan jumlah pendapatan antara laki-laki dan perempuan.

Seorang perempuan yang bekerja sepanjang hari di dalam rumah, tidaklah dianggap “bekerja” karena pekerjaan yang dilakukannya, seberapapun banyaknya, dianggap tidak produktif secara ekonomis. Namun seandainya seorang perempuan “bekerja” pun (dalam arti di sektor publik) maka penghasilannya hanya dapat dikategorikan sebagai penghasilan tambahan saja sebagai penghasilan seorang suami tetap yang utama, sehingga dari segi nominal pun perempuan lebih sering mendapatkan jumlah yang lebih kecil daripada kaum laki-laki.

Mengenai marginalisasi perempuan ini, Ivan Illich mengungkapkan sebuah fakta sebagai berikut:

Selama bertahun-tahun ini, diskriminasi terhadap perempuan dalam pekerjaan-pekerjaan yang berupah, yang terkena pajak, dan yang dilaporkan atau dipantau secara resmi, kedalamannya tidak berubah namun volumenya makin bertambah. Kini 51 % perempuan di Amerika Serikat bekerja di luar rumah, sementara tahun 1880 hanya tercatat 5%. Jika pada tahun 1880 dalam keseluruhan tenaga kerja di Amerika hanya 15% yang perempuan sekarang mencapai 42%. Kini separuh dari semua perempuan yang sudah kawin punya penghasilan sendiri dari suatu pekerjaan luar rumah, sementara seabad silam hanya 5% yang memiliki pendapatan sendiri. Sekarang hukum membuka kesempatan pendidikan serta karier bagi perempuan, sedangkan pada tahun 1880 banyak yang tertutup baginya. Sekarang rata-rata perempuan menghabiskan 28 tahun sepanjang hidupnya untuk bekerja sementara tahun 1880 angka rata-rata yang tercatat hanya 5 tahun. Ini semua kelihatan seperti langkah-langkah penting ke arah kesetaraan ekonomis, tapi tunggu sampai Anda terapkan alat ukur yang tepat. Upah rata-rata tahunan perempuan yang bekerja penuh-waktu masih mandek pada rasio magis dibanding pendapatan laki-laki, yakni 3:5 —-59%, dengan kenaikan atau penurunan 3% — persis persentase seratus tahun silam. Kesempatan pendidikan, ketersediaan perlindungan hukum, retorika revolusioner — politis, teknologis, atau seksual —tak mengubah apa-apa sehubungan dengan rendahnya pendapatan perempuan dibanding laki-laki. (1998:16)

b.  Subordinasi

Pandangan berlandaskan gender juga ternyata bisa mengakibatkan subordinasi terhadap perempuan. Anggapan bahwa perempuan itu irrasional atau emosional berakibat munculnya sikap menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting.

Subordinasi karena gender tersebut terjadi dalam segala macam bentuk yang berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya.

Salah satu konsekuensi dari posisi subordinat perempuan ini adalah perkembangan keutamaan atas anak laki-laki. Seorang perempuan yang melahirkan bayi laki-laki akan lebih dihargai daripada seorang perempuan yang hanya melahirkan bayi perempuan. Demikian juga dengan bayi-bayi yang baru lahir tersebut. Kelahiran seorang bayi laki-laki akan disambut dengan kemeriahan yang lebih besar dibanding dengan kelahiran seorang bayi perempuan.

Subordinasi juga muncul dalam bentuk kekerasan yang menimpa kaum perempuan. Kekerasan yang menimpa kaum perempuan termanifestasi  dalam berbagai wujudnya, seperti perkosaan, pemukulan, pemotongan organ intim perempuan (penyunatan) dan pembuatan pornografi.

Hubungan subordinasi dengan kekerasan tersebut karena perempuan dilihat sebagai objek untuk dimiliki dan diperdagangkan oleh laki-laki, dan bukan sebagai individu dengan hak atas tubuh dan kehidupannya. (Mosse, 1996:76)

Anggapan bahwa perempuan itu lebih lemah atau ada di bawah kaum laki-laki juga sejalan dengan pendapat teori nature yang sudah ada sejak permulaan lahirnya filsafat di dunia Barat. Teori ini beranggapan bahwa sudah menjadi “kodrat” (sic!) wanita untuk menjadi lebih lemah dan karena itu tergantung kepada laki-laki dalam banyak hal untuk hidupnya. (Budiman, 1985: 6) Bahkan Aristoteles mengatakan bahwa wanita adalah laki-laki – yang – tidak lengakap. (Ibid.)

Demikianlah pendikotomian laki-laki dan perempuan berdasarkan hubungan gender  nyata sekali telah mendatangkan ketidakadilan gender bagi perempuan yang termanifestasi dalam berbagai  wujud dan bentuknya. Karena diskriminasi gender perempuan diharuskan untuk patuh pada “kodrat” –nya yang telah ditentukan oleh masyarakat untuknya. Karena diskriminasi pula perempuan harus menerima stereotype yang dilekatkan pada dirinya yaitu bahwa perempuan itu irrasional, lemah, emosional dan sebagainya sehingga kedudukannya pun selalu subordinat terhadap laki-laki, tidak dianggap penting bahkan tidak dianggap sejajar dengan laki-laki, sehingga perempuan diasumsikan harus selalu menggantungkan diri dan hidupnya kepada laki-laki.

Bertolak dari kondisi demikianlah maka jika dulu Karl Marx memperjuangkan kesamaan kelas, kini  kaum feminis menggemakan perjuangannya, untuk memperoleh kesetaraan gender. Untuk memperoleh kedudukan dan hak yang sama dengan laki-laki.

DAFTAR   PUSTAKA

Budiman, Arief, Pembagian Kerja Secara Seksual, Sebuah Pembahasan Sosiologis tentang Peran Wanita di dalam Masyarakat. Jakarta, Gramedia,1985

Fakih, Mansour, DR. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997

Ibrahim, Idi Subandy dan Hanif Suranto, (ed). Wanita dan Media. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1998

Illich, Ivan. Matinya Gender. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998

Mosse, Julia Cleves. Gender dan Pembangunan. Yogyakarta: Rifka Annisa Women’s Crisis Center dan Pustaka Pelajar, 1996

Munir, Lily Zakiyah, (ed). Memposisikan Kodrat. Bandung: Mizan, 1999

Noor, H. M. Arifin, Drs. Ilmu Sosial Dasar. Bandung: Pustaka Setia, 1997

Saptari, Ratna dan Brigitte Holzner. Perempuan Kerja dan Perubahan Sosial. Sebuah Pengantar Studi Perempuan. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1997

Soelaeman, M. Munandar. Ir. MS. Ilmu Sosial Dasar, Teori dan Konsep Ilmu Sosial. Bandung: Refika Aditama, 1998

Advantages and Disadvantages of CALL (Computer Assisted Language Learning)

Mid-Semester Assignment

Efi Dyah Indrawati

Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Jakarta – Indonesia

Introduction

Communication and technology have been part of our live, especially in the area of education. In all educational system, the use communication and technology has certain place; therefore, computers play significant role in the learning process. Teaching English for a second-language learner can take benefit from using a computer. Indeed, a computer is a tool and medium that facilitates people in learning a language, although the effectiveness of learning depends totally on the users (Hartoyo 2006, 11).

Recently, the numbers of English teachers using CALL has increased markedly. In addition, many articles have been written about the role of it in English learning. Although the potential of the Internet for educational use has not been fully explored yet and the average school still makes limited use of computers for some reasons , it is obvious that we have entered a new information age in which the links between ICT and EFL have already been established. This paper is aimed at discussing what CALL is and what advantages and disadvantages CALL offers so as we know its strength and weaknesses in in their usage for teaching English for ESL students.

What is CALL?

CALL is a program derived from CAL (Computer-Assisted Learning) which is implemented to language, but the use of computer here is mainly aimed at providing a language learning tutorial program (Hartoyo 2006, 21). In addition, Egbert (2005, 4) says that CALL means students learn language in any context with, through, and around computer technologies. From both definitions, the main focus of CALL is on the application of computers in language learning.

Advantages of CALL

Many educators (Jonassen 1996, Salaberry 1999, Rost 2002 in Lai 2006) indicate that the current computer technology has many advantages for second language learning. The following are the advantages as stated by many experts:

  1. Interest and motivation

Classical language teaching in classroom can be monotonous, boring, and even frustrating, and students can loose interest and motivation in learning. CALL programmers can provide student ways to learn English through computer games, animated graphics, and problem-solving techniques which can make drills more interesting (Ravichandran 2000).

2. Individualization

CALL allows learners to have non-sequential learning habit; they can decide on their own which skills to develop and which course to use, as well as the speed and level by their own needs.

3. A compatible learning style

Students have different style of learning, and an incompatible style for students will cause serious conflicts to them. Computer can provide an exciting “fast” drill for one student and “slow” for another.

4. Optimal use of learning time

The time flexibility of using computer enables students to choose appropriate timing for learning. Winter (1997) in Kiliçkaya (2007) stressed the importance of flexible learning, learning anywhere, anytime, anyhow, and anything you want, which is very true for the web-based instruction and CALL. Learners are given a chance to study and review the materials as many times they want without limited time.

5. Immediate feedback

Students receive maximum benefit from feedback only if it is given immediately. A delayed positive feedback will reduce the encouragement and reinforcement, and a delayed negative feedback affect the crucial knowledge a student must master. Computer can give instant feedback and help the students ward off his misconception at the very first stage. Brown (1997) in Kiliçkaya (2007) listed the advantages of CALL as giving immediate feedback, allowing students at their own pace, and causing less frustration among students.

6.  Error analysis

Computer database can be used by teacher to classify and differentiate the type of general error and error on account of the influence of the first language. A computer can analyze the specific mistakes that students made and can react in different way from the usual teacher, which make students able to make self-correction and understand the principle behind the correct solution. (Ravichandran, 2007)

7. Guided and repetitive practice

Students have freedom of expression within certain bounds that programmers create, such as grammar, vocabulary, etc. They can repeat the course they want to master as many as they wish. According to Ikeda (1999) in Kiliçkaya (2007), drill-type CALL materials are suitable for repetitive practice, which enable students to learn concepts and key elements in a subject area.

8. Pre-determined to process syllabus

Computer enhances the learning process from a pre-determined syllabus to an emerging or process syllabus. For example, a monotonous paper exercise of ‘fill-in-the-blanks’ type can be made more exciting on the screen in the self-access mode, and students can select their own material. Therefore, CALL facilitates the synthesis of the pre-planned syllabus and learner syllabuses “through a decision-making process undertaken by teacher and learners together” (Breen 1986 in Ravichandran 2000).

Disadvantages of CALL

Although there are many advantages of computer, the application of current computer technology still has its limitations and disadvantages. Some disadvantages of CALL are as follows:

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Less-handy equipment.

According to Ansel et al (1992) in Hartoyo (2006, 31), the CAL program is different from traditional books that can be carried around and studied wherever and whenever they wish: on a train, at home, in the middle of the night, and so on. School computers or language laboratory can only be accessed in restricted hours, so CALL program only benefits people who have computers at home or personal notebook.

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Increased educational costs. Gips, DiMattia, and Gips (2004) in Lai (2006) indicated that CALL will increase educational cost, since computers become a basic requirement for students to purchase, and low-budget school and low income students cannot afford a computer

  1. Lack of trained teachers

It is necessary for teachers and students to have basic technology knowledge before applying computer technology in second language teaching and learning. Therefore, computers will only benefit those who are familiar with computer technology (Roblyer 2003 in Lai 2006).

2. Imperfect current CALL programs

At present, the software of CALL mainly deals with reading, listening, and writing skills. There are some speaking programs have been developed recently, but their functions are still limited. Warschauer (2004) in Lai (2006) stated that a program should ideally be able to understand a user’s spoken input and evaluate it not just for correctness but also for ‘appropriatness’. Speaking program should be able to diagnose a learner’s problem with pronunciation, syntax, or usage and then intelligently decide among a range of options.

3. Inability to handle unexpected situations

The learning situation that a second-language learner faces are various and ever changing. Computers merely have artificial intelligence, and it cannot deal with learner’s unexpected learning problem or response to learner’s questions immediately as teachers do. Blin (1994) in Lai (2006) stated that computer technology with that degree do not exist, and are not expected to exist quite a long time. In other words, today’s computer technology and its language learning programs are not yet intelligent enough to be truly interactive.

Conclusion

In summary, the advantages of CALL can be outlined as providing motivation and autonomy for learner, compatible and time flexible learning, immediate and detailed feedback, error analysis, and a process syllabus. Some considerations must be given to the disadvantages of CALL, such as less handy equipment, high cost of education, lack of trained teachers and of CALL programs of perfect quality, and limited capacity of computers to handle unexpected situations.

To conclude, CALL has certain advantages and disadvantages and  teachers should know the strengths and weaknesses in applying CALL in ESL classrooms. It is agreeable that technological advancement and development has enabled the application of CALL programs in language learning and instruction, and it has become a new trend recently. Even so, computer technology still has its limitation and weaknesses. Therefore, we must first realize the advantages and disadvantages of current CALL programs before applying them to improve our teaching or to help student learning. In the end, we can avoid the mistake in employing CALL program and get the maximum benefit for our ESL teaching and learning.

Bibliographical References

Hartoyo, Ma, Ph.D. 2006. Individual Differences in Computer Assisted Language Learning (CALL). Semarang: Universitas Negeri Semarang Press.

Kiliçkaya, Ferit. 2007. The Effect of Computer Assisted Language Learning on Turkisk Learners’ Achievement on The TOEFL Exam. htpp://www.iatefl.org.pl/call/j_soft27.htm accessed July 22, 2008/ 17:10:00.

Ravichandran, T., M.A., M. Phil., P.G.C.T.E., (Ph.D.) 2000. Computer Assisted Language Learning (CALL) in the Perspective of Interactive Approach: Advantages and Apprehensions. Htpp://members.rediff.com/eximsankar/call.htm accessed July 22, 2008 / 17:06:00.

 

Assignment 3 (CALL Program Assessment)

Task 3

Subject: ICT in Language Education

Lecturer: Hartoyo, M.A., Ph.D.

CALL Program Assessment: CD Evaluation

by Efi Dyah Indrawati

Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Jakarta – Indonesia

Introduction

CD Evaluation that I perform here is based on the basis of five principles of self-access computer-mediated language learning program by Hartoyo (2006:90-91). They are:

1. ‘interactivity’ (feedback and instruction)

2. usability (flexibility)

3. content ‘appropriatness’

4. effectiveness

5. performance (attractiveness)

The followings are the ratings that I use for overall evaluation of a CD:

***** = Very Good

**** = Good

*** = Fair

** = Limited

* = Poor

CD 1

Title : Issues in English

Publisher : Protea Textware Melbourne

Year : 1995

Rating : ****

Evaluation:

Since the CD doesn’t use runtime files, I have to explore the content first then click the setup to install it, which is impractical for people who are not computer literate. Yet, I admit that the author of the CD is very creative in programming a way to improve English learning by using content approach on hot issues in life. The CD is very interactive, in the sense it stimulate user’s interaction by providing feedback.The appearance of the program is not bad, yet it could be a bit dull for people who love attractive colors and design.

After we launch the program, we can see the attractive exposition of menu or topics (rich content), such as Animal Rights, Euthanasia, Discrimination, Smoking, Public Transport, the Environment, Gambling, and Growing Old, presented from level 1 to level 4. All are provided with Getting Start, Listening, Vocabulary, Grammar, Speaking, and Writing buttons. The narrators on the video are various people, which make the CD more appealing. From level 1-3, there are Jenny, Michael, Parthena, Isobel, Andrew, Gary, Ryan, Sally Ryan, and Carol; while in level four, the features are experts or guests in each issue like John McPherson, Rob Wootton, Jim Roberts, Manar Tchelebi, Carol Oliver, Will Tomadin and. Kay Koetsier.

Talking about the usability (flexibility), the operation of the CD is very easy, just by doing the instructed action on each button, such as:

Getting Start (questions on comprehension of the video): we just need to drag the available answer to match the question on the box. If we can answer then right, the feed back will be spoken “Right!”

Listening: we just need to click the right word that we hear from the audio. If we can answer one question, the response can be “Excellent!”, “That’s right!”, “Well done!”

Vocabulary (using pictures and words): we just need to drag the words to match the pictures. We will know that we didn’t give the right answer if we couldn’t put the right word to the right box.

Grammar: we must type the right complement of a sentence using keyboard, and if we succeed the response will be “Good!”, “Well done!”, or “Excellent work!”

Speaking: we record word using microphone, and we can click a word to listen to the sample pronunciation

Writing: we must type using keyboard a sentence to fulfill questions on the issue presented by a speaker.

I found the CD is very practical for English self-learning. Yet, the navigation buttons are not provided with text, so we must try to click each one to know the function (such as the balloon callout sign means ‘go back’); this can be frustrating for people who lack of computer skills because they will get confused in choosing the menu. In addition, the quality sound of video are not good, it was choppy spoken sounds. I think that’s because CD burning quality is not very good; I finally viewed the text by clicking text button to help me understand the spoken statements by the actors/guest speakers. Anyway, one good point about this CD is that it also provides a glossary or index for learning, which is rarely provided in English learning CDs.

In my viewpoint, this CD is appropriate for students of junior or senior secondary school (ESL students), since the materials are ranged from level 1 (Basic English) up to 4 (intermediate English). This CD can be very effective to improve students’ mastery of the four language skills for their level: speaking, grammar, listening, and writing.

CD 2

Title : Speak English: Talk More

Publisher : Eurotalk Ltd.

Year : 2000

Rating : ****

Evaluation:

To start using this CD is quite easy if we have already had Quicktime program in our computer; this happens to me the first time I open it using my notebook. The second time I tried using it with my own home PC, I failed and have to restart my computer because this program asks a screen resolution of 1024 x 76.

The appearance (performance) of the program is very attractive: using bright colors and modern design, which makes is more appealing than the previous CD (Issues in English).The narrator who begins the program is very encouraging by saying: “Good luck, have fun, and enjoy it!” There are only two hosts or presenters, a man and a women, but it is alright. Like the previous CD, the navigations buttons are not accompanied by text, so we must try out each button to find out the functions. This is not very flexible in the usability, and it can be a bit frustrating for people who are not very keen on computers. Meanwhile, this CD is interactive enough by stimulating users to score higher, yet it is not provided with feedback (such “Good” or “Congratulations” for high scorer, or “Try Better” for poor scorer) like the precious CD. This CD is actually provided with Help Language, but we must insert Talk More extras CD, and of course I have none of them.

The effectiveness of this CD is on the materials to improve speaking proficiency, they are put in context for speaking, such as greetings, at the restaurant, shopping, getting around, at the hotel, on the phone, emergencies, leisure, and business. This really helps users to enlarge vocabularies in certain context. In addition, the pace of speaking by the hosts is very slow, and the pronunciation is very clear, sometimes they use sign language while speaking. This is quite helpful for people who want to improve their pronunciation skill by imitating the hosts’ speaking.

All in all, this CD is appropriate for learning speaking for ESL learners in the elementary level because the material is very easy to learn and understand. It can also meet the need of students of elementary and secondary school to practice speaking.

CD 3

Title : Talk Now! Learn English: Belajar Bahasa Inggris

Publisher : Eurotalk Interactive London

Year : 2000

Rating : ****

Evaluation:

This CD doesn’t use runtime files so I have to use the Window’s explorer to find the setup to install it first. Some problems for me who have just moderate computer expertise, I couldn’t open with my PC because it asks a screen resolution of 1024 x 768, therefore I use my notebook. Also, my computer is ‘hang’ while using this CD quite often, I don’t really know why.

I find this CD is very interactive; it can stimulate users, even seems to communicate with users by providing feedback on each attempt. For example, if we click a wrong answer, it will tell us by saying “No!”, and if we click the right answer, it will say “Yes!” It also rewards users if they can answer all questions correctly by saying “Selamat!” (the score is excellent). Talking about the usability, the navigations buttons are clear and provided with Indonesian description. For example is when we want to change the language, we can click the symbol of flag, or when we want to quit the program, we just click the symbol of a foot. Users are flexible to choose the menu; they can skip exercise that is too difficult to attempt. The appearance or performance of the program is very attractive: colorful and modern-stylish design, typical of product of the year 2000s.

The effectiveness of this CD is that it helps users to improve their vocabulary, phrases, and pronunciation. One thing that I notice is that this CD is appropriate for people who want to learn General English in the intermediate level and also students on the level of Junior to Senior high school.

CD 4

Title : Easy to Sing

Publisher :

Year :

Rating : **

Evaluation:

At first I couldn’t open this using either my PC or my notebook, and I thought it must be the bad quality of CD burning again, so that the file (or maybe the directory) is corrupted and therefore unreadable. But when I try using VCD players at a CD rental, I finally succeeded to open it, although only for once (the second time I replayed it was not successful).

The CD contains selection of songs, and users can choose what they want to listen to, so this not an interactive CD. There is no interaction between computer and users by providing feedback. The performance is not very attractive, because the layout of the screen is just standard. In dealing with the flexibility, the buttons used are standard and not very interesting, yet easy to navigate. The song lyrics on the CD are easy to catch and follow, which are quite helpful to create an enjoyable environment for learning. In my opinion, this CD is appropriate for English learners of beginner levels, such as kindergarten or elementary school. This is very helpful to develop student’s vocabulary through songs. The good points of the songs used in the CD are that they also teach some moral values of life. In my viewpoint, this CD is okay as an alternative choice for English learning, especially for the elementary level.

CALL and CALT in Program for TOEFL iBT Preparation

 

by Efi Dyah Indrawati

Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Jakarta – Indonesia

 

Introduction

 

In recent years, the use of computers and technology is becoming more and more common in teaching and learning process, especially in language instructions. This influence also can be seen in the field of language assessment in which computerized testing is administered altogether. One example of the development in teaching, learning, and assessing language is in the teaching of TOEFL preparation. TOEFL test was designed by Educational Testing Service (ETS) to measure the English language ability of people who do not speak English as their first language and who plan to study at colleges and universities in North America, Europe, or Australia. TOEFL initially used the old format of paper-based test (PBT), then in July 1995, ETS began giving different form of the TOEFL test called computer-based test (CBT) Starting in July1998, ETS introduced the computer-based TOEFL test in the United States, Canada, Latin America, Europe, the Middle East, and selected Asian countries. The Next generation TOEFL, the Internet-Based TOEFL (iBT) was launched on September 24, 2005 in the United States, then in the following month, it was administered in Canada, Germany, Italy, and France. The iBT is being introduced throughout the world in phases during 2006.

Teaching TOEFL preparation, especially the iBT one, in my view, must make the best use of CALL (Computer Assisted Language Learning) and CALT (Computer Adaptive Language Testing). Therefore, this paper is aimed at analyzing how to make the most effective TOEFL iBT preparation by accommodating both CALL and CALT. The discussion will be arranged as follows:

1.      What is CALL?

2.      What is CALT?

3.      What is TOEFL iBT?

4.      How to implement CAL and CALT in TOEFL IBT Preparation?

 

Discussion

 

1.      Computer-Assisted Language Learning (CALL)

CALL (Computer-Assisted Language Learning) can be defined as using computers as an intermediary in learning a language (Hartoyo 2006: 11). This method is actually an impact of the advancement of information technology and communication, which necessitates learning should be interactive as to provide more advantages to learners. Many experts has stated the importance of interactive capability (Nelson et al 1976; Brandl 1991; Hartoyo 1993:25, 1994; Petermandle 1990 in Hartoyo 2006: 11-13) and flexibility in language teaching (Davis 1993 in Hartoyo 2006:13). CALL is designed to give feedback, texts and graphical information on computers, which are good combination of features to provide learners with clear explanations, descriptions, and illustrations as well as motivation (Hartoyo 2006: 13).

The latest development of CALL is integrative CALL, which links such sources as text, graphics, sound, animation, and video called “hypermedia” and enables learners to navigate through CD-ROMs and the Internet at their own pace and path using a variety of media.

There are some advantages of using CALL, among them are given by Ravichandran (2000):

  1. stimulate learner’s interest and motivation
  2. provide more individual attention to learners
  3. offer a compatible learning for unique styles of individual students
  4. accommodate an optimal use of learning time
  5. give immediate feedback
  6. provide error analysis

 

On the other hand, CALL can indicate some disadvantages, as suggested by some experts (Ansel et al 1992, Gould and Grischowsky 1984, Kiliçkaya 2006). They are:

  1. less-handy than ‘traditional books’
  2. more difficult and tiring in reading, which cause eye strain and irritation
  3. costly for programmers, teachers, and students
  4. not suitable for all learners (different learning styles)                        

 

2.      Computer-Assisted Language Testing (CALT)

CALT is tests that are administered at computer terminals or on personal computers (Brown, 1997). Receptive-response items, including multiple-choice, true-false, and matching items, are fairly easy to adapt in computer-assisted testing medium. Meanwhile, other language tasks, such as compositions, and oral presentations, prove much more difficult to develop for computer-assisted testing (Brown, 1997)

Using CALT offers advantages in two categories: testing consideration and human consideration (Brown 1997). Among the testing consideration advantages of using computerized tests are:

  1. providing more accurate at scoring selected-response tests than human being
  2. providing more accurate reporting scores
  3. giving immediate feedback in the form of a report test scores, complete with a printout of basic testing statistic.

Among human considerations, the following are some advantages of using computer in language testing:

  1. The use of computers allows students to work at their own pace.
  2. CALTs generally take less time to finish than PBT tests, and therefore more efficient (Madsen 1991; Kaya-Carton, Carton, and Dandonoli 1991; Laurier 1996 in Brown 1997)
  3. In CALTs, students should experience less frustration than PBT tests.
  4. Students may find CALTs are less overwhelming because the questions are presented one at a time on the screen rather than in an intimidating test booklet with hundreds of test items.
  5. Many students like computers and even enjoy the testing process (Stevenson and Gross 1991 in Brown 1992)

 

The disadvantages of using computers in language testing can also be subdivided into two categories, physical considerations and performance consideration (Brown, 1997).

Among the physical considerations, the disadvantages are:

  1. Dependence on computer equipment and electricity source, which may not always be available or working in order.
  2. Limited screen capacity that can be problem on relativity long passage of readings.
  3. The graphics capabilities of many computers may be limited (especially for older ones of the cheaper ones)

Among the performance considerations, the disadvantages are:

  1. Different results from the tests administered in a PBT format (Henning 1991). More research needs to be done on various types of language tests and items.
  2. Different degree of student’s familiarity with computers that lead to discrepancies on the CALT tests (Hicks 1989, Henning 1991, Kirsch, Jamieson, Taylor, & Eignor 1997 in Brown 1997).\
  3. Computer anxiety (Henning 1991 in Brown 1997).

 

3.      TOEFL iBT

The Next Generation TOEFL iBT is a test to measure English proficiency and academic skills of non-native speakers of English required b primarily by English language colleges and universities , divided into four sections: Reading, Listening, Speaking, and Writing (Phillips 2005). ETS has set the types of problems for each section as follows:

The Reading section consists of three long passages on academic topics (>800 words each) and question about the passages. The topics are the kind of material that might be found in an undergraduate university textbook, and students answer questions about main ideas, details, inferences, sentence restatements, sentence insertion, vocabulary, function, and overall ideas.

The Listening section consists of six long passages and questions about the passages (two student conversations and four academic lectures or discussions). Students are asked to answer questions on main ideas, details, function, stance, inferences, and overall organization.

The Speaking section consists of two independent tasks and four integrated tasks. In the two independent tasks, student must answer opinion questions about some aspect of academic life. In two integrated reading, listening, and speaking tasks, student must read a passage, listen to a passage, and speak about how the ideas in two passages are related. In two integrated listening and speaking tasks, student must listen to long passages and then summarize and offer opinions on the information in the passage.

The Writing section consisted of one integrated task and one independent task. In the integrated task, students must read an academic passage, and listen to an academic passage, and write about how the ideas in the two passages are related. In the independent task, student must write a personal essay.

 

We can see that the Structure section as used in PBT and CBT TOEFL was removed, but TOEFL iBT itself necessitate a good command of grammar in the Speaking and the Writing section (Sharpe, 2007). Since TOEFL iBT is designed to test the actual skills a student need to be successful in his studies, all four skills in the TOEFL iBT must be improved by taking practices intensively.

 

Implementation of CALL and CALT in the program for TOEFL iBT preparation

Hartoyo (2006) states that there are five principles for designing and testing CALL program: interactivity (feedback and instruction), usability (flexibility), content appropriateness, effectiveness, and performance (attractiveness). Therefore, in teaching TOEFL preparation, the CALL programs should meet the requirements above, so that the aim of learning can be optimally reached. Since the aim of TOEFL preparation teaching is to improve a student’s English skills as well as his test-taking strategies to gain higher TOEFL score, the CALL program is merged with the criteria of a good CALT (Computer-Assisted Language Testing) program. Educational Testing Service (ETS) in 2006 necessitated the important features of IBT test: to measure the ability to communicate successfully in academic setting, to reflect how language is really used, and to keep up with the best practices in language learning and teaching. Therefore, ETS has set standardized certain qualities of the TOEFL iBT:

  1. It tests four language skills that are important for effective communication: speaking, listening, reading, and writing, given in about four hours long.
  2. Some tasks require test-takers to combine more than one skill.
  3. The speaking and writing section responses are rated by certified human raters.
  4. The comprehensive scoring information is provided to explain test taker’s English language ability.

 

Basing on the above features, there are many products of TOEFL iBT preparation released by various publications, such as Baron’s, Kaplan, Thomson, Longman, etc. I use different softwares to teach TOEFL iBT preparation in my training center (Pusdiklat Keuangan Umum BPPK Departemen Keuangan RI) because I want to provide my trainees with programs that suit their need to improve their language learning and their test taking practices. Each software has its own weakness and strength, therefore I employ various CD-ROMs for learners.

            I stated previously that the CALL program should be integrated with the criteria of a good CALT (Computer-Assisted Language Testing) in making a good TOEFL preparation program, so that it can  improve a student’s English skills as well as his test-taking strategies to gain higher TOEFL. Therefore, basing my view from the review of related literature on CALL and CALT, a comprehensive TOEFL iBT preparation program must meet the following characteristics:

 

1. Content

The program contains appropriate material for TOEFL iBT in four skills (speaking, listening, reading, and writing):  Diagnostic Pre-Tests for each section of TOEFL iBT,  Language Skills, Test-Taking Strategies, Practice Exercises of one or more skills a TOEFL format, TOEFL Review Exercises, Post-Tests for each section, Mini Tests to stimulate the experience of actual length using shorter version, Complete Tests for the full-length version of actual test, Scoring Information to determine the approximate TOEFL score in each test, and Self-Assessment Checklist to allow students to monitor their progress in specific language skills they attempt.

2. Performance and Flexibility

The presentation and layout of screen must be in attractive colors, and the toolbar in each section must allow students to navigate through the test with ease. Some important buttons are Volume, Timer, Volume, Help, Next/Continue, Previous/Back, OK/Confirm Answer, View Text,  Repeat/Listen, Check/Review/Explanation, Section Exit, Main Menu, and Exit/Quit. The video and visualization must not too distracting that divert students to listen carefully to the audio, and illustration must be sufficient (charts, diagrams, pictures, photos, etc).

Dealing with the content that are segmented into sections or mini tests, it will provide flexible learning (anytime, anything learners want, etc) and greater autonomy for learners.

3. Feedback and motivation

Scores, either raw scores, weighted scores, and scaled scores, should be accompanied by immediate feedback. Feedback must also be proper to encourage and motivate student to learn and practice more. For example, the program should provide learners who receive low score with some positive remarks, such as “Try again”, “Don’t give up”, and so on. If a learner cannot answer all items within certain time limit, the remark can be “Just a little bit faster!”, “Pace yourself!” and so on. These will avoid frustration for learners.

4. Effectiveness and Accuracy

The effectiveness of TOEFL preparation program can be seen from how it can assists language learners to improve their language skills and their score. Therefore, the scoring report must be accurate and immediate. This will also avoid student’s anxiety and frustration for not knowing the progress he achieved by his self-learning and practice.

 

If a TOEFL preparation program can have such characteristics as mentioned above, it will offer a greater chance for improving language skills and TOEFL score for its learners. None of the software I use in my training program has all those qualities. One program is very rich in the exercises, yet it has no scoring and feedback for speaking and writing like human raters can give. The program just provides a self-checklist for learners to predict their performance in the two sections. Here I see that on these two sections, still computers cannot replace the portion of human, especially of language teachers and raters.

Even though such perfect program could exist, still there could be some problems encountered due to some physical or performance consideration, such as limited computer ability or learner’s unfamiliarity with computers.

 

Summary and Conclusion

To sum up, I view that a good program for TOEFL iBT preparation must integrate both CALL and CALT advantages, such as appropriate content for the TOEFL preparation program, interesting performance, immediate and accurate feedback, motivation, and effective scoring and result. If a computer program for TOEFL iBT preparation can have such characteristics, it will offer a greater chance for improving language skills and TOEFL score for its learners. The mere problems will be encountered due to some physical or performance consideration, such as limited computer ability to score like human or learner’s unfamiliarity with computers.

To conclude, an ideal computer program for TOEFL iBT preparation are not only the assignment for TOEFL teachers but also for learners and computer programmers as well. Computer and technology will still continue to flourish, so there is no need to be skeptical about the use of it in language teaching and testing. Although computers cannot replace language teachers and raters, it can be employed to assist teachers to provide the best teaching and test-taking skills for TOEFL iBT students.

 

 

Bibliographical References

 

Educational Testing Service. 2006. The Official Guide to the New TOEFL iBT. New York: McGraw-Hill.

Hartoyo, Ma, Ph.D. 2006. Individual Differences in Computer Assisted Language Learning (CALL). Semarang: Universitas Negeri Semarang Press.

Kiliçkaya, Felit. 2006. The Effect of Computer Assisted Language Learning on Turkish Learner’s Achievement on the TOEFL Exam. http://www.iatefl.org.pl/call/j_soft27.htm accessed July 22, 2008.

Lai, Cheng-Chieh and William Allan Kritsonis. 2006. The Advantages of Computer Technology in Second Language Acquisition. National Journal for Publishing and Mentoring Doctoral Student Research Vol.3 No.1.

Phillips, Deborah. 2006. Longman Preparation Course for the TOEFL Test: Next Generation iBT. New York: Pearson Ed.Inc.

Ravichandran, T., M.A., M.Phil., P.G.C.T.E., (Ph.D.)  Computer Assisted Language Learning (CALL) in the Perspective of Interactive Approach: Advantages and Apprehensions. http/www.iatefl.org/j_soft27.

Rogers, Bruce. 2007. Thomson The Complete Guide to the TOEFL®Test iBT edition. Singapore: Seng Lee Press.

Sawaki, Yasuwo. 2001.  Comparatibility of Conventional and Computerized Tests of Reading in a Second Language. Language Learning and Technology Vol.5 No.2, May 2001 pp.38-59. http://llt.msu.edu/vol.5num2/pdf/sawaki/pdf

Sharpe, Pamela J, Ph.D. 2007.Barron’s TOEFL iBT: Internet-Based Test with CD-ROM ed.12.. Jakarta: Binarupa Aksara.

Skehan, Peter. 1999. English Language Learning in TESOL Vol.40 No.1, 2006. London: University of London