Another Random Rumpies

writing 5

This time I want to write in Bahasa Indonesia. Just got something and I really want to sweep my mind cause I can’t say this out loud in real life karena pasti banyak yang pros or cons juga.

Berbulan dan bertahun menjadi penonton kondisi yang terjadi di masyarakat, baik di social media atau dari berita-berita cuma bisa mengelus dada. Indonesiaku…masyarakatnya yang masih minim budaya membaca sekarang muakin buanyak yang beralih menjadi netizen karena memang jaman yang sudah berubah. Tetapi karena memang sifat kritis yang kurang membuat mereka mudah sekali menyebarkan dan share segala yang mereka rasa baik atau buruk tanpa research atau pikir jauh apa efeknya jika disebarluaskan.

Yang  kemarin nongol di FB adalah temen saya, … share Kaesang Pangarep Video “Lebih Sopan” yang isinya penuh makian “Dasar Ndesoo..!” Saya tahu maksud Kaesang itu baik yaitu tebarkan kebaikan, kerja keras jangan korupsi atau minta fasilitas, berbaktilah buat Indonesia, jangan menghancurkan Indonesia.” OK for that saya setuju pesan dia. Yang saya kurang suka yaitu ketika dia mencuplik video anak-anak yang tarhib dengan teriakan “bunuh si Ahok” lalu Kaesang mengatakan “itu dapat dari mana? Ajarannya siapa itu?” … yah yang melek dan waras pasti tahu dari lingkungan mereka. Ketika Kaesang mulai bernasehat “jangan mudah diadu domba” that’s still acceptable cause kita memang torn apart,  tapi ketika bilang “jangan mudah mengkafir-kafirkan”…maan itu bakal membuat war lagi saya rasa karena bisa jadi itu akan bermakna menyinggung kaum muslim Indonesia yang akhir-akhir ini makin terluka dengan isu radikalisme yang digeneralisir kepada most moslem. Apalagi dia pakai Salam Kecebong, berarti berasa aroma gamupon 😀 😀 in my view. Or did he just make that to create another polemics dan ujung2nya nguntungin channel dia? OK positive thinking, saya rasa Kaesang membuat video itu sebagai reaksi spontan dari share video pawai itu sebelumnya, but ngga semua orang bisa lho membaca niat baik dia. Jujur saya juga ketika melihat video2 tentang bom Kampung Melayu itu, hati saya terluka…sama terlukanya dengan jutaan muslim Indonesia yang mengutuk keras semua aksi terorisme dengan dalil apapun. Saya terluka kok begituu jelas banget jika aksi itu full of rekayasa seseorang yang memanfaatkan kids untuk politics.

Masyarakat Indonesia saat ini masih menyimpan berton-ton sampah, garbage di pikiran dan hati media…thanks to sosmed dan news yang mengaduk-aduk kita dari sejak jaman pilkada 2012, pilkada DKI barusan, sekarang sepertinya menanam benih untuk jelang pilpres 2019 yah… shame on you politics! Gara-gara politik semua orang mau dump the garbage out of their mind di semua media. Satu trigger saja langsung viral, melukai ke mana-mana, hatred meluas, uneg2 makin menimbun di hati dan kepala. Berbulan dan bertahun saya lihat makin banyak barisan unek2 pakai serial, trit war, tebar hoax dll semua aja dari seluruh Indonesia. Ya Allah, ampuni kami. Politisi membuat fallacies demi kepentingan mereka, dan kita harus bisa menetralkan sendiri dengan values yang kita miliki, sampai kapan kita bisa tetap bertahan?

I think bad politics ruins our life, and efeknya nyebar sampai ke segala aspek kehidupan sampai ke agama segala (iya saya tahu kehidupan kita seluruhnya harus mengikuti ajaran agama even sampai mengurusi negara, but I see politisi sini pintar sekali yah mengait2kan keburukan seolah-olah karena ajaran agama, setan banget nggak tuh?). Oya,  sampai sekarang FB teman2 saya masih tuh ada share war antara dua kubu, apa saja jadi bahan sahut2an, woii…Ramadhan nih, puasa harusnya menahan diri.

Yah, kita sebagai penonton kejadian di sekitar kita tetap harus bisa menahan diri, berpikir kritis, dan tetap mengedukasi orang-orang di sekitar kita. Jika kita banyak membaca dengan kritis, itu akan membuat kita educated, punya more understanding dan tolerance. Sebarkan yang baik-baik saja tanpa perlu menyindir, kita semua sudah bisa membaca yang tersirat. Kalau mau kehidupan yang damai, semua harus bisa mengutamakan kepentingan bersama, dan itu nggak bisa ditawar lagi.

I’m a moslem, ajaran Islam itu sangat sempurna dan indah, hanya orang-orangnya yang tidak bisa memuliakannya dengan perbuatan yang benar. That’s what I see. Kalau ingin melihat Indonesia damai selamanya, mulai sekarang ajarkan toleransi kepada anak dan generasi muda dengan santun. Saya PNS dengan lingkungan kerja yang variatif backgroundnya, tapi our real life di lingkungan kami sih benar-benar woles karena kami semua punya toleransi tinggi. Bukankah enak hidup seperti itu?

Ini juga pengingat bagi saya, supaya tidak lelah menjadi neutralizer. Saya paham bagaimana perasaan teman Kristen saya ketika mereka disebut kafir, yang saya bilang pada mereka itu bukan mengkata-katai mereka, to us moslems itu cuma istilah untuk menyebut non-believer atau non-Islam. Janganlah memandang ajaran agama kami dari kacamata non muslim cause you won’t never understand it. Saya juga tidak berharap mereka paham sepenuhnya kita moslem sih, sama seperti mereka tidak paham jika Islam itu tidak kejam dan sadis (karena itu yang ada di benak mereka). Saya tetap bekerja sama dengan mereka penuh profesionalisme, karena kita ini sama2 agen pemerintah, tujuan organisasi harus kita wujudkan. Saya jadi ingat dulu pas mengajar MP Pancasila di BDK V Balikpapan lebih dari 10 tahun lalu, ketika ada mahasiswa saya yang nanya “Memangnya kita hidup pakai Pancasila bu, kan kita orang Islam maka kita hidupnya cara Islami kan?” Saya ingat sekali saya jawab “iya saya Moslem dan saya menjalankan syariat Islam. Tapi landasan hidup bernegara kita adalah Pancasila maka segala tata urutan perundangan berlandaskan Pancasila. Jadi kita juga hidup berdasarkan Pancasila. Jangan dikira bersyariat agama Islam itu anti sila pertama ya…” Saya waktu itu rasa gempa bumi juga ditanya mahasiswa seperti itu (ngajar karena gantiin temen pulak, mahasiswanya ada Islam, Kristen, Katolik, Hindu, bahkan ada dua orang yang Chinese),  tapi saya keep calm karena I know what I do. Saya hanya memandang Pancasila adalah dasar Negara dan alat untuk mempersatukan bangsa, tidak lebih. Indonesia ini di awal ditata oleh kompromi para founding fathers yang ulama muslim dengan yang non muslim. Negara diatur oleh peraturan2 yang bersumber pada Pancasila, hasil kompromi yang penuh rahmat Allah SWT. In my life, saya bersyariat Islam, dan dalam melaksanakan tupoksi PNS saya tentu saya pakai peraturan2 dan undang2 yang turunan Pancasila semua. Saya juga pernah bilang ke semua mahasiswa saya di sana semester itu jika kalian merasa tidak bisa melayani publik, atau memilih kalangan sendiri, jangan jadi PNS, berhenti sekarang saja daripada merugikan keuangan Negara dengan menggaji orang yang tidak ikhlas dan tidak perform. Menjadi PNS adalah heroic, kalian akan sering dalam tugas ketimbang mengurusi keluarga and that’s the truth. So, being a PNS is a jihad to me, berjuang di jalan Allah. Kalau sistem Negara diisi orang-orang yang tidak amanah, tinggal menunggu kehancurannya Indonesia ini, oh noo… Btw, do you think pemerintah sekarang amanah? ah, nggak saya terusin bahasannya ah, ntar panjang dan melebar ke mana2.

Waduh random talks saya bener-bener ngga ada intinya ya. Ini sih gara-gara nggak nulis blas sekian minggu gara2 gara ngajar. Sekarang sudah masuk bulan puasa, clas off, sudah ada waktu menyelesaikan modul2 dan video knowledge capture saya. OK deh Selamat Beribadah Ramadhan, see you all later. Mau macul lagi. 😀

Random Rumpies

Singapore_city

Wow it’s been a while not posting here. Since I don’t know what to write, let’s just talk about random things. Today I’m supposed to be in Singapore to attend IMF Regional Economic Outlook for Asia Pacific, but somehow I refused to attend it. It would be nice to hangout with my friends from SMU and NUS, also with the “Mustafa strollers” ladies from India, Bangladesh, Hong Kong, Malaysia, Brunei, I really miss them all. But I still have two other things to do in Jakarta today: validation of TKBI with PPSDM and meeting with the PH for my knowledge capture. Well, I choose the last since it’s very crucial for my e-learning videos, I can be a validator next week anyway. Yes, every day we have to make the best decision for our sanity sake. I don’t want to be too burdened with many things that are not supposed to be my business. This IMF REO meeting in my view suits my boss, the echelon I of FETA. Of course it will be nice to talk again with Mr Ranil Salgado, but I think my boss has to be with those professors and directors since he is the decision maker in my institution. I am a trainer, no social climber. Shooting videos for my e-lecture is more important and urgent to do this moment.

My secretary had reminded me of the consequence before I made my decision. I told her to relax, coz chances will keep coming once you are already a proficient person. If I must be shunned from attending international events using our budget, I’ll take the consequences because there are just so many possible ways once you have the will power and also  the money of course he he… Also, been to Singapore for five times already, not many left to explore there.

I kinda want to talk about social climber. This is just my feeling when I’m around my IMF buddies. I always think that  I don’t belong to the club because I don’t have a structural position, a policy maker position. I thinks I have explained in my post last year that IMF sessions are full of macroeconomic policy makers all around the world, I was just too lucky to get acquainted with directors, chief economist, CEOs, professorsand so on. Although I am a senior trainer, equivalent to associate professor,  it’s just nothing when you are not in the management. I’m in the club because my expertise in training management gives way for me to represent my boss, and nothing’s fancy about that. I’m an inverted snob, I guess, not an arriviste.

Wait a second, I think I got wrong with social climber definition. Lemme check it from Webster.

Social climber: one who attempts to gain a higher social position or acceptance in fashionable society. OK, from Cambridge then: someone who tries to improve their social position by being very friendly to people from a highersocialclass.

Well, I wasn’t wrong at all. So, what’s my social position? A working class, that suits me. But my family descend from noble one sih… the Djojoprakto. Mmm does that name matters? Well, definitely NOT if you’re not from Bakrie, Panigoro, Ibnu Sutowo, Tanoe, or Soeharto 😀 😀 . Well, although I’m a working class, my society are all professionals. I’m now in middle class, but I don’t have the need to be in the upper class. There’s a fact that I belong to BS club in Bintaro, but those socialites take me with them for my professional  expertise in English. See, I’m reaching out to many people because I love to help people, doesn’t matter who they are. My motivation is genuine when I befriend with everyone, that’s why I know my friends so well and I connect with them on an intimate level. I think social climbers are selfish, narcissistic and self-centered, status-driven , and they lacks empathy because most are ‘users’ coz their connections must give them benefit. I can say this because I know some examples in my life. Well…this rumpies is getting ngelanturs…I must stop now. Continue next time. Bye.