Pengelolaan dan Pengembangan Tenaga Pengajar

Di dalam perencanaan dan pengembangan program pembelajaran tentunya dibutuhkan pengelolaan tenaga pengajar sebagai sumber belajar yang memiliki peranan terbesar dalam memastikan pencapaian tujuan pembelajaran. Secara administratif di BPPK (Unit Eselon I saya bekerja), kegiatan pengelolaan tenaga pengajar dilakukan oleh Subbidang Pengelolaan Tenaga Pengajar  (Subbid TP) di Bagian Renbangdik di Pusdiklat (Unit Eselon II), di mana cakupan tugasnya tidak hanya mengenai penugasan mengajar dan tugas kediklatan lainnya melainkan juga termasuk pengembangan kompetensi tenaga pengajar.

Subbid Pengelolaan TP juga menerbitkan rekomendasi tenaga pengajar, di mana manfaatnya adalah untuk memberi saran atau bahan pertimbangan kepada pihak yang paling bertanggung jawab dalam menentukan/ menunjuk pengajar yang akan mengampu materi pembelajaran tertentu, sesuai Rumpun Mata Keahlian yang dikuasainya. Adapun datanya bersumber dari database pengajar (dari subbidang tenaga pengajar) maupun hasil evaluasi pengajar yang telah diolah dari Bidang Evaluasi dan Pelaporan Kinerja (Evaluasi pengajar pelatihan sejenis), masukan dari narasumber saat rapat kurikulum, masukan dari Wali Program,  dan survey (mencari secara formal dan informal) baik melalui internet, lembaga. Dalam rekomendasi Tenaga Pengajar, subbid TP tidak hanya mempertimbangkan persyaratan administratif saja, tetapi wajib melihat prasyarat kompetensi (prerequisite) calon pengajar. Yang dimaksud dengan prerequisite adalah kompetensi awal atau minimal yang harus terpenuhi sebelum pengajar mendapat penugasan, dan kompetensi ini meliputi KSA, atau knowledge, skill, dan attitude dalam keahlian tertentu, yang bisa dilihat dari sertifikasi dan jam praktik yang dimiliki calon pengajar.

teacher_teaser

Secara ringkas, tugas administratif lainnya oleh Subbid TP  yang terkait pengelolaan tenaga pengajar yaitu

  • mengukur beban kerja tenaga pengajar (widyaiswara), menyusun profil tenaga pengajar
  • menyusun database pengajar, dokumen kinerja dan monitoring risiko
  • menyusun surat keterangan, Surat Rekomendasi Tenaga Pengajar dan SPMK yang diperlukan pengajar
  • mengoordinasikan kebutuhan pembelajaran maupun uji kompetensi widyaiswara
  • Melakukan negosiasi dan kesepakatan tarif dengan pengajar, khususnya pengajar praktisi (output dokumen: referensi tarif dan surat pernyataan tarif

Pengembangan Tenaga Pengajar

Menurut Wexley dan Latham (1991:22-24) terdapat enam elemen yang harus dipenuhi seorang pengajar yaitu (1) pengajar harus mencapai tujuan spesifik pembelajaran; (2) pengajar harus mengajar prinsip dasar pembelajaran orang dewasa; (3) pengajar harus mampu berkomunikasi efektif pada saat pembelajaran; (4) pengajar harus mengajar sesuai dengan materi perencanaan tiap pertemuan pembelajaran; (5) pengajar harus mampu memilih metode terbaik yang akan digunakan; dan (6) pengajar harus mampu memahami peserta secara individual.

Tenaga pengajar yang dilibatkan di program pembelajaran di lingkungan Kementerian Keuangan diharapkan agar memenuhi kriteria sebagaimana disebutkan oleh Wexley dan Latham tersebut. Oleh karena itu tenaga pengajarnya terdiri atas widyaiswara atau pejabat/pegawai yang ada kaitannya dengan materi substantif pembelajaran serta praktisi eksternal yang memenuhi persyaratan sebagai berikut (menurut ketentuan kami ya…):

(1) menguasai materi yang akan diajarkan/memiliki keahlian substantif pada mata pelajaran yang akan diberikan;

(2) mempunyai kemampuan  dan/atau pengalaman mengajar; dan

(3) mendapat persetujuan mengajar dari pimpinan instansi.

Dan untuk memastikan jika tenaga pengajar selalu mengikuti tuntutan perkembangan terkini maka upaya pengembangan mereka harus tetap dilaksanakan. Pengembangan tenaga pengajar sebagaimana pengembangan ASN Kemenkeu lainnya mengacu pada PER-4/PP/2017 yang bisa mengambil bentuk pembelajaran klasikal maupun non klasikal. Bentuk pembelajaran klasikal misalnya

  • pelatihan; baik pelatihan teknis, pelatihan fungsional, maupun pelatihan sosio kultural
  • seminar maupun pertemuan ilmiah lainnya yang sejenis
  • kursus maupun short course skill lainnya
  • penataran maupun kegiatan character building lainnya
  • lokakarya maupun workshop teknis
  • sosialisasi dan community of practice (COP) sharing
  • dan lain-lainnya yang membutuhkan tatap muka kelas antara pemateri dan peserta

Sedangkan bentuk pembelajaran non-klasikal antara lain

  • e-leaming dan pelatihan jarak jauh
  • magang (on the job learning)
  • pertukaran pegawai negeri sipil dengan pegawai swasta atau secondment
  • mentoring
  • coaching
  • keteladanan (job shadowing)
  • observasi
  • consultation
  • Community of Practice (COP) group
  • dll

Sampai di sini dulu ya bahasan kita. Semoga teman-teman saya yang suka nanya bagaimana pengembangan tenaga pengajar dilaksanakan di tempat kerja saya terpuaskan dengan secuil tulisan ini. Saya lanjutkan sharing topik lainnya nanti ya, sesuai dengan FAQ yang teman-teman berikan lewat email. OK cherioo…

I’m A Certified TOT Trainer…

efi TOT

I’m a Widyaiswara, or a corporate trainer in Ministry of Finance RI. Many people just know me as a lecturer or even a teacher. Well, they are not totally wrong, coz a corporate trainer is essentially  a teacher who works in a corporate setting, spending  days training employees on new skills, strategies and systems relevant to their business needs. I see myself more as an educator or instructor who works in a business setting. And to be a Widyaiswara like me you must really love helping people, cause our trainees are mostly demanding.

I got my certified professional trainer from LAN (National Administration) in 2005, that’s the beginning of my corporate trainer career. What people don’t really know is that I hold a CTT  (Certified Train the Trainers) license in 2012, you can only see that title on my business card actually 😀 ,  and since then I have conducted TOT trainings nation wide, as a teacher trainer . Assignments to train MOF staffs to become the next trainers keep coming to me, although I don’t really see myself as a very good role model (honestly 😀 ). But I really like to see others succeed and bring out the best in them to meet business needs. And most importantly, I love to learn many things all the time. As you know, business is so dynamic, it keeps changing,  which means the nature of my training will change as well.

I just wanna share you things that you’ll experience once you become a corporate trainer.

  1. Travel a lot and meet more people. Yup, cause business prefers in house trainings and that means you have to come to the locations that need your service. And if you can balance your time as a trainer and a traveler who can explore nice places, it’s so rewarding experience.
  2. Stand in front of many people and let them judge you. Yup, you must enjoy your public speaking, cause audiences will be judging you actually. I handle this by keeping in mind that what I’m delivering in class is something that helps my trainees reach and exceed their potentials, so I go easy with whatever reactions I got.
  3. Set aside your ego cause you are not always the expert. Sometimes your trainees are more senior than you are and even more knowlegeable. Just show no fear, have acceptance of yourself and everyone we work with. After all, we can always learn from anybody, including from our trainees…
  4. Feel awesome when someone gets it. Well, this won’t happen with everyone in our class, and it won’t happen with every class.  But when I realize that something I said is making some people change the way they look at something, and I can watch that change happen right in front of my eyes, it’s so awesome!
  5. Do something irrelevant probably. I call that an attempt to build rapport with my trainees, cause I don’t really like the rigid separation of trainer and trainees. So you need to occasionally drop the formality or throw in a joke. For sure you need to try and experiment many icebreakers and energizer methods in your class.
  6. Develop your consultation skills. That’s because you have to relate to a variety of people and be able to help them with the specific and so unique problems they have. I build my listening skills and now I can also ask deeper questions and to converse better with others.

Are there still more to those I mentioned? For sure yes. If you want to know more, let’s just talk more about it in my TOT classes. The only way to learn to be a trainer is to jump on in and see what happens . So, see ya!!

certified

 

Pembelajaran: Jangan Salah Mendefinisikan

pen

Saya mau cerita jika pedoman disain pembelajaran di unit kerja saya, BPPK,  tuh masih belum tepat jadi pedoman penyusunan kurikulum. Ya, saya tegaskan sekali lagi jika PER-4/PP/2017 kurang lengkap dan tepat untuk menjadi pedoman desain pembelajaran di Kementerian Keuangan. Kenapa? Biar gampang saya break down secara runut saja ya…tolong menyimak pakai konsentrasi biar lebih gampang dicerna. Sama siapkan PER-4 sambil buat dicoret-coret jika perlu.  I am not playing judge here, ini cuma masukan supaya ada move untuk segera memperbaiki pedoman penyusunan kurikulum di BPPK.

OK, pra anggapan saya yaitu pertama, ada ketentuan yang mismatch secara eksternal dengan peraturan-peraturan lain yang berlaku di Kemenkeu. Kedua, ada ketidaksesuaian secara internal di dalam PER-4/PP/2017 tersebut maupun ketidakjelasan teknis dalam pedoman tersebut.

Saya enlist dulu fakta-fakta yang mempengaruhi pra anggapan saya:

  1. Pada PER-4/PP/2017 Bab I Pasal 1 poin 2: definisi pembelajaran tidak sama dengan definisi pada PMK Nomor 216/PMK.01/2018 tentang Manajemen Pengembangan SDM di Kementerian Keuangan serta PMK Nomor 45/PMK.011/2018 tentang Pedoman Analisis Kebutuhan Pembelajaran.
  2. Pada PER-4/PP/2017 Bab II Pasal 4 menuliskan Bentuk Pembelajaran secara kurang tepat.
  3. Pada PER-4/PP/2017 BAB IV Pasal 13 mengatur tugas dan tanggung jawab menyusun desain pembelajaran secara lengkap oleh Widyaiswara tetapi pada Bab V terdapat unsur yang belum diatur yaitu KNS.
  4. Lampiran dalam PER-4/PP/2017 belum seluruhnya sesuai dengan aturan-aturan maupun petunjuk pengisian dalam pedoman tersebut.

OK ya saya coba analisis satu per satu masalah tadi.

  1. PER-4/PP/2017 Bab I Pasal 1 poin 2 menyederhanakan definisi “pembelajaran Kementerian Keuangan Corporate University” menjadi “pembelajaran” sedangkan keduanya adalah hal yang berbeda. Pembelajaran Corpu mengacu pada competency development secara luas yaitu sebagai organizational learning yang meliputi banyak aspek, sedangkan pembelajaran dalam aturan PMK Nomor 216/PMK.01/2018 dan PMK Nomor 45/PMK.011/2018 pembelajaran mengacu pada pengertian instructional learning yang lebih sempit yaitu terkait pelatihan atau training (dulu disebut ‘diklat’); di mana instructional adalah bagian kecil saja dari competency development. Ini diperkuat dengan Pasal 10 dalam PMK Nomor 216/PMK.01/2018 yang menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi dengan desain pembelajaran adalah hal yang berbeda. Desain pengembangan kompetensi memiliki Model 70:20:10 dan ini sangat berbeda dengan desain ‘instruksional’ (dulu disebut “disain kurikulum”) di mana dalam pengertian kedua memiliki porsi 10 saja (sebagai instructional learning atau training) yang harus dibuat berimpact tinggi dengan mengaitkan pada 20 (collaborative learning) dan 70 (workplace learning). Pendefinisian ‘pembelajaran’ yang tepat akan memudahkan perubahan/penambahan komponen-komponen instruksional agar selaras dengan Model Pembelajaran Corpu 70:20:10.
  2. Pada PER-4/PP/2017 Bab II Pasal 4 kata “Bentuk” tidak tepat digunakan karena klasikal dan nonklasikal merupakan “Jalur Pembelajaran”, jadi sebaiknya kata tersebut dihilangkan. Tentunya ini juga dimaksudkan agar selaras dengan ketentuan di PMK 216/PMK.01/2018 yang menyebutkan tentang jalur pembelajaran klasikal dan nonklasikal. Maka pada Pasal 5 dan Pasal 6 di PER-4/PP/2017 perlu ditambahkan kata “Bentuk Pembelajaran”.
  3. Pada PER-4/PP/2017 Pasal 13 tugas pengembangan desain pembelajaran seolah semua menjadi tugas Widyaiswara sedangkan pada mekanismenya (Bab V) desain pembelajaran adalah kerja Tim Penyusun Desain Pembelajaran dan Widyaiswara bertanggung jawab penuh hanya di penyusunan GBPP (Garis-Garis Besar Program Pembelajaran) dan SAP (Satuan Acara Pembelajaran) seperti tertulis di pasal 18, sedangkan pada komponen lain Widyaiswara adalah SGO (Skills Group Owner) terkait pendidikan dan pelatihan. Penyusunan KAP telah terlihat jelas mekanismenya pada Bab V tetapi mekanisme tentang KNS belum ada di Bab V.

Coba disimak Tabel berikut ini, ada beberapa contoh saja hasil analisis ketidaksesuaian penulisan dalam PER-4/PP/2017, dibuat tabel supaya lebih ringkas saja.

No. Hal Analisis
1. Lampiran I halaman 1. Format 1 KAP. No. 5 Penulisan Model Pembelajaran adalah salah. Seharusnya ditulis ‘Bentuk Pembelajaran’.
2. Lampiran I halaman 4. Petunjuk Pengisian Petunjuk Pengisian perlu dibuat lebih jelas. Misalnya pada No. 2 tentang penulisan Tujuan Program harus dijelaskan jika diisi dengan kalimat pernyataan (statement) tentang pemenuhan kebutuhan performansi (learning output) yang diinginkan.

Pada No. 3 tentang Kebutuhan Strategis Unit Pengguna harus dijelaskan jika diisi pemenuhan kebutuhan stategis (learning outcome) yang seperti apa.

Pada No. 4 tentang Sasaran harus dijelaskan jika diisi dengan target peserta secara khusus (specific target learner) misalkan unit tertentu atau jabatan tertentu.

Pada No. 6 tambahkan tentang ‘learning goal’ agar tidak rancu dengan No. 2. Perlu ditambahkan pengunaan kata kerja operasional dengan format ABCD untuk penyeragaman penulisan tujuan di seluruh BPPK.

3. Lampiran I halaman 6.

Petunjuk Pengisian

Pada No. 19 perlu dijelaskan lagi yang dimaksud dengan Kualifikasi Umum adalah syarat administrasi seperti Pendidikan, Pangkat/Gol., serta jabatan.

Pada No. 20 perlu dijelaskan lagi yang dimaksud dengan Kualifikasi Khusus adalah kompetensi khusus pengajar; sertifikasi khusus, dll.

Pada No. 28 kata ‘nomor’ dihilangkan karena redundansi dengan NIP.

4. Lampiran I halaman 11 s.d. 14.

Contoh 1 KAP

Contoh KAP Pelatihan Metode Kajian Penganganggaran masih banyak terdapat kesalahan penyusunan, antara lain:

1.       Penulisan SK dan KD tidak sepenuhnya format ABCD sehingga tujuan tidak memenuhi prinsip SMART

2.       Analisis Instruksional di SK 5 tidak logis

3.       Penulisan Jenis dan Jenjang Program seharusnya tertulis  “Pelatihan Teknis Tingkat Dasar”.

4.       Pengisian Fasilitas hendaknya langsung menuliskan jenis fasilitas yang diberikan (bukan memilih ada/tidak) misalnya 1. Asrama / Hotel standar BPPK  

2. Konsumsi Prasmanan  3. ATK Pelatihan

4. Perpustakaan              5. Laboratorium Praktik dll

5. Lampiran I halaman 19

Contoh 2 KAP

Kesalahan penulisan Persyaratan Peserta yaitu syarat kompetensi seharusnya dikosongkan, karena Pendidikan termasuk syarat administrasi dan jenjang pelatihan adalah tingkat dasar maka tidak ada entry behavior.
6. Lampiran II halaman 3.

Petunjuk Pengisian

Pada no. 14 dan 15 perlu diatur ketentuan waktu apakah berupa jamlat (JP) atau satuan menit agar terdapat keseragaman.

Pada No. 16 ditambahkan acuan ketentuan penulisan referensi untuk penyeragaman. (Harvard style/APA style/ Ketentuan Penulisan KTI dll)

Dan masih banyak lagi kesalahan/ketidaksesuaian yang dicantumkan dalam PER-4/PP/2017 yang umumnya meliputi:

  • Ketidakcermatan pengisian Deskripsi Program yang meliputi Tujuan Program, Kebutuhan Strategis Unit Pengguna yang akan Dicapai, dan Sasaran (Target Learners). Saya nanti akan buat tulisan khusus tentang cara merumuskan dan menyusun KAP ya, you just wait there. 
  • Penulisan Tujuan Perfomansi, Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar  dalam contoh di Lampiran Peraturan tidak memenuhi kriteria ABCD. Tujuan kan harus SMART ya, model penulisan ABCD itu sangat memenuhi unsur specific, measurable, achievable, realistic dan timely. Semua contoh tidak ada condition dan degree, so bagaimana kita bisa mengukur evaluasinya tanpa ada batasan dalam tujuan yang kita buat?
  • Penggunaan kata kerja yang tidak operasional pada tujuan performansi. Ini yang paling menggemaskan, karena saya rasa semua orang BPPK paham itu taksonomi Bloom dan paham daftar KKO atau action verbs yang lazim dipakai. Jangan gunakan kata kerja yang tidak bisa ukur pencapaian keberhasilannya secara spesifik, misalnya kata “memahami”, “menghayati”, “menginternalisasi”, duuh nanti mengukur ketercapaiannya seperti apa ya? Can you figure it out? Susah kan? 
  • Kerunutan dan kelogisan analisis instruksional dari SK menjadi KD. Saya perlu sharing lagi nih cara Dick and Carey menyusun tujuan pembelajaran. Just wait.
  • Penulisan persyaratan peserta dan kualifikasi pengajar tidak seragam. Harusnya PER mengatur penyeragaman cara menuliskan specific target learners seperti apa, dan leveling pelatihan harus dijelaskan mana yang perlu prasyarat entry behavior. Sama halnya dengan persyaratan mengajar, atur agar kita bisa bedakan antara syarat administrasi dengan persyaratan kompetensi.
  • Contoh KAP e-Learning yang diberikan tidak sama dengan format pedoman, which is so misleading kalau pegawai yang kurang paham malah mengambil dan meniru contoh yang nocontoh alias salah.
  • Satuan estimasi waktu dalam GBPP yang tidak seragam, ada yang dengan JP ada dengan Menit. So, gunanya peraturan ya harus menstate sampai detail ukuran satuan waktu yang mau dipakai.
  • Tidak mencantumkan format KNS (Kerangka Naskah Soal) yang merupakan bagian dari kurikulum. So, how are you gonna plan the evaluation kalau KNS saja tidak ada contohnya?

So far itu saja yang bisa saya ulas, dan simpulan saya:

  1. PER-4 /PP/2017 disusun dengan kurang teliti dan terkesan terburu-buru diterbitkan mengingat ketentuan tentang Manajemen Pengembangan SDM dan AKP baru diterbitkan di tahun 2018. Ini yang menjadi faktor mismacth dengan PMK Nomor 216/PMK.01/2018 maupun PMK Nomor 45/PMK.011/2018.
  2. Perlu redefinisi “pembelajaran’ dengan jelas dalam PER-4 /PP/2017. Bedakan jelas antara organization learning, development, dan training.
  3. Perlu revisi ketentuan dan Lampiran Contoh yang benar dalam PER-4/PP/2017.

Saran saya sih BPPK perlu segera membentuk tim penyusun revisi atas PER-4/PP/2017. Kalau perlu pakai konsultan pendidikan khusus buat ngajarin para struktural di sini. Lalu BPPK perlu menyosialisasikan konsep Corporate University secara lebih jelas lagi, sepertinya tidak semua pegawai paham dengan pembelajaran corporate university, padahal dulu sudah ada program Microlearning Pengenalan Kemenkeu CorpU di KLC. Berarti course itu ngga ngefek? Wallahu A’lam…

My Students Got Bad Scores…

I’ve just submitted students’ mid test scores to academic division via https://portal.pknstan.ac.id/.  As usual, there are students who got A, B, C, and D…this so normal every semester to have this kind of result. But now I’m wondering about my students’ reactions, especially those who got Cs and Ds, how are they going to accept their results without later bothering me with questions and retakes? I know they are definitely getting horrible butterflies in their stomach waiting to get the result announced on our academic portal tomorrow.

frustrated_student_large-862x1169.jpg

So listen students, take your UTS scores for your early warnings before the semester ends with your final score of English course. It’s not what you face, but what you perceive from it will determine your growth. I am so objective and fair in my scoring, and you all can take the score in two ways. You can accept it as my way of showing you fair evaluation or regard it with resentment. It’s all up to you.

You know, a failure can be regarded in a positive way. When something goes wrong or you are going through a hard time, understand that it is natures way to teach you something. There is a hidden message there. You are asked to correct something or  bring a change in the way you did it. So that you’ll be saved from bigger faults in future.

So now you know that you have lower scores on yout English UTS, you should know then where you have to bring changes. If you keep on learning with your old habits, chances for you to improve is so small. If you wish to achieve the success  by the end of this semester, you need to practice more, do more exercises, participate more in class etc. I know you are going to make mistakes during your study, but it’s better to make it earlier. Believe me these are only small challenges you are facing that prepares you for your life.

So, bad UTS scores are not the end of the world. I suggest you never consider them as failure. BTW, why fear failure? Yes you have failed once in the UTS test, but it never defines that you are going to fail again. Try harder next time and maybe you could score higher than what you would have scored in the old one. Take it that you can’t go back and change what has been done, but you can work to make sure it never happens again.

All the best, guys….

 

Linguistic Functions

Linguistic Functions refer to the general social uses of language, and there are just so many theories about it. Here in this article I’d like to share some theories that I know.

In Waugh (1980), Roman Jakobson defined six functions of language according to which an effective act of verbal communication can be described. Jakobson’s work was influenced by Karl Bühler’s Organon-Model, to which he added the poetic, phatic and metalingual functions. They are:

  1. The Referential Function

corresponds to the factor of Context and describes a situation, object or mental state. The descriptive statements of the referential function can consist of both definite descriptions and deictic words, e.g. “The autumn leaves have all fallen now.” Similarly, the referential function is associated with an element whose true value is under questioning especially when the truth value is identical in both the real and assumptive universe.

  1. The Poetic Function

focuses on “the message for its own sake’(the code itself, and how it is used) and is the operative function in poetry as well as slogans.

  1. The Emotive (alternatively called “Expressive” or “Affective”) Function

relates to the Addresser (sender) and is best exemplified by interjections and other sound changes that do not alter the denotative meaning of an utterance but do add information about the Addresser’s (speaker’s) internal state, e.g. “Wow, what a view!”

  1. The Conative Function

engages the Addressee (receiver) directly and is best illustrated by vocatives and imperatives, e.g. “Tom! Come inside and eat!”

  1. The Phatic Function

is language for the sake of interaction and is therefore associated with the Contact/Channel factor. The Phatic Function can be observed in greetings and casual discussions of the weather, particularly with strangers. It also provides the keys to open, maintain, verify or close the communication channel: “Hello?”, “Ok?”, “Hummm”, “Bye”…

  1. The Metalingual (alternatively called “Metalinguistic” or “Reflexive”) Function

is the use of language (what Jakobson calls “Code”) to discuss or describe itself.

linguistics-and-reality-750x350

Meanwhile, Geoffery Leech( 1974 ) mentioned that language has five functions. They are:

  1. Informational

This function concentrates on the message. It is used to give new information. It depends on truth and value. Let us look at this example, the car is big, the bus is crowded.

2. Expressive

It can be used to express its originator’s feelings and attitudes – swear words and exclamations are the most obvious instance of this. The speaker or writer of this function tries to express his feelings. He or she reflexes his or her impression. This function could give a clear image for the personality of the speaker or writer. The best example of this kind is Poetry and literature. In fact, this function evokes certain feelings and express feelings. Examples of this kind are, I am very happy or I spent a wonderful vacation. We can see from the previous examples that they reflex the feelings of the speaker or the writer.

3. Directive

The aim is to influence the behavior or attitudes of others. The most straightforward instances of the directive function are commands and requests. This function of social control places emphasis on the receiver’s end, rather than the originator’s end of the message: but it resembles the expressive function in giving less importance, on the whole, to conceptual meaning than to other types of meaning, particularly affective and connotative meaning” The examples of this kind are, I want a cup of tea or close the door.

5. Aesthetic

The use of language for the sake of the linguistic artifact itself, and for no purpose. This aesthetic function can have at least as much to do with conceptual as with affective meaning. The function associated with the message-the vehicle-is the poetic or aesthetic function: the sign taken as an end in itself. All art understood as art is taken to embody this function, and any object valued for its beauty rather than for its ideological value or usefulness-whether a gorgeous car, an elegant teapot, or some acreage of untouched real estate-takes on this function.

6. Phatic

The function of keeping communication lines open, and keeping social relationships in good repair ( in Britain culture, talking about the weather is a well-known example of this). An example of this, when two people meet each other accidently in a place. They start talking about something unimportant for the sake of communication like, how are you? How is your children? And so on. We can say that it is a kind of daily talking. It is not meaning but is good.

And the last theory is by H. Douglas Brown, who classified function of language into two types. His classification is not much different from that of Leech or Jakobson. They are:

  1. The transactional view

The language is used to convey ‘factual information or proportionate’

2. The Interactional view

The functions involve social relationship and attitudes of individuals.

 

 

References

Waugh, Linda (1980), “The Poetic Function in the Theory of Roman Jakobson”, Poetics Today

https://www.ukessays.com/essays/english-language/five-functions-of-language-english-language-essay.php

Inductive Approach and Deductive Approach in TESOL

There are many theoretical approaches that have been developed to promote the students’ success in learning English. In TESOL (Teaching English to Students of Other Languages), there are two main theoretical approaches for the presentation of new English grammar structures or functions to ESL/EFL students: inductive approach and deductive approach. The deductive approach is more traditional of the two theories, while the inductive approach is a more modern theory.

The deductive approach is a more traditional style of teaching in that the grammatical structures or rules are dictated to the students first (Rivers and Temperley 110). Thus, the students learn the rule and apply it only after they have been introduced to the rule. For example, if the structure to be presented is present perfect, the teacher would begin the lesson by saying, “Today we are going to learn how to use the present perfect structure.” Then, the rules of the present perfect structure would be outlined and the students would complete exercises, in a number of ways, to practice using the structure. (Goner, Phillips, and Walters 135) In this approach, the teacher is the center of the class and is responsible for all of the presentation and explanation of the new material.

The inductive approach represents a more modern style of teaching where the new grammatical structures or rules are presented to the students in a real language context (Goner, Phillips, and Walters 135). The students learn the use of the structure through practice of the language in context, and later realize the rules from the practical examples. For example, if the structure to be presented is the comparative form, the teacher would begin the lesson by drawing a figure on the board and saying, “This is Mike. He is tall.” Then, the teacher would draw another taller figure next to the first saying, “This is Andy. He is taller than Mike.” The teacher would then provide many examples using students and items from the classroom, famous people, or anything within the normal daily life of the students, to create an understanding of the use of the structure. The students repeat after the teacher, after each of the different examples, and eventually practice the structures meaningfully in groups or pairs. (Goner, Phillips, and Walters 135-136) With this approach, the teacher’s role is to provide meaningful contexts to encourage demonstration of the rule, while the students evolve the rules from the examples of its use and continued practice (Rivers and Temperley 110).

In both approaches, the students practice and apply the use of the grammatical structure, yet, there are advantages and disadvantages to each in the EFL/ESL classroom (Rivers and Temperley 110). The deductive approach can be effective with students of a higher level, who already know the basic structures of the language, or with students who are accustomed to a very traditional syle of learning and expect grammatical presentations (Goner, Philips, and Walters 134). The deductive approach however, is less suitable for lower level language students, for presenting grammatical structures that are complex in both form and meaning, and for classrooms that contain younger learners (Goner, Philips, and Walters 134). The advantages of the inductive approach are that students can focus on the use of the language without being held back by grammatical terminology and rules that can inhibit fluency. The inductive approach also promotes increased student participation and practice of the target language in the classroom, in meaningful contexts. The use of the inductive approach has been noted for its success in EFL/ESL classrooms world-wide, but its disadvantage is that it is sometimes difficult for students who expect a more traditional style of teaching to induce the language rules from context. Understanding the disadvantages and advantages of both approaches, may help the teacher to vary and organize the EFL/ESL lesson, in order to keep classes interesting and motivating for the students (Goner, Philips, and Walters 129).

Source: International Teacher Training Organization

References:

Goner, Phillips, and Walters. Teaching Practice Handbook: Structures: Grammar and Function. Heinemann, 1995. 129-138.

Rivers, Wilga M., Temperley, Mary S. A Practical Guide to the Teaching of English as a Second or Foreign Language. Oxford University Press, 1978. 110.

Presentasi Zen: Ngajar Diklat Pertama di 2015

Waah sudah hampir setahun nggak update blog ini 😉 he he he… Kemarin hari Rabu 22 Januari 2015 mengajar diklat di Pusdiklat Keuangan Umum untuk yang pertama untuk Diklat Manajemen Diklat, kebagian mengajar Mata Pelajaran Penyelenggaraan Diklat. Kali ini peserta diklatnya spesial….Widyaiswara baru angkatan 2014. Sebenarnya diklat ini ditujukan untuk para pegawai yang akan bekerja di Badan Diklat…tapi spertinya menurut AJF di Setban sana WI dianggap pegawai baru yang harus diberi orientasi tentang fungsi-fungsi dan proses bisnis dalam pelaksanaan diklat. Sewaktu rapat persiapan penyelenggaraan saya sebagai Wali Program sudah mengatakan bahwa kami tidak akan mengubah kurikulum, kami hanya akan menambahkan konten dalam bahan ajar yang sesuai dengan calon peserta yaitu widyaiswara.
Agak bingung juga awalnya karena saya dapat 8 jamlat untuk memberikan materi Penyelenggaraan Diklat. Oya, lucunya calon peserta malah ada yang memang pengajar materi itu, jadi saya malah memanfaatkan beliau untuk sharing pengalaman beliau dalam melaksanakan tugas-tugas di Subbid Penyelenggaraan I. Balik lagi ke materi, bagi saya menceritakan bisnis proses di bidang Penyelenggaraan Diklat buat saya cukup hanya satu jamlat. Saya siapkan bahan ajar tentang itu selengkap mungkin. Nah, karena peserta saya semua adalah pengajar, maka saya tambahkan materi tentang manajemen kelas. (Nanti akan saya share bahan mengajar saya itu lain waktu.) Isinya ada tentang building rapport, handling questions, pendekatan mengajar, serta tips menggunakan Presentasi Zen. Nah sharing tentang Presentasi Zen ini yang saya beri porsi yang lebih banyak dengan harapan agar bermanfaat buat mereka dalam mengajar. Presentasi Zen itu saya pelajari kilat saja dalam 5 hari dengan membaca bukunya (yang mau e-booknya sila email saya) dan ketika saya menyajikan materi di kelas dengan menggunakan slide Presentasi Zen. Oya, peserta saya sangat antusias dengan materi terakhir ini, dan di sesi praktek mereka membuat bahan tayangan mengenai penyelenggaraan diklat dalam 5 kelompok dengan gaya Zen serta mempresentasikannya dengan style Zen.

courtesy of fastcodesign.com
courtesy of fastcodesign.com

Apa itu Presentasi Zen? Itu sebenranya presentasi powerpoint juga tapi dengan spesial tips dari Garr Reynold, pakar desain slide presentasi kelas dunia. Seorang Profesor Manajemen dan Desain di Kansai Gaidai University, beristrikan orang Jepang. Rupanya dia terinspirasi banyak dengan filosofi Jepang, dan contoh-contoh dia banyak mengambil dari budaya Jepang. Ada banyak pengertian tentang Zen, namun secara singkat Zen itu adalah filosofi tentang kesederhanaan (simplicity) dan fokus (focus). Zen mengajarkan tentang fokus pada kesederhanaan, yaitu berfokus pada hal-hal yang penting dan meninggalkan hal-hal yang tidak penting.

Bagaimana cara agar bisa membuat presentasi yang professional seperti Presentasi Zen? Tahap persiapan pertama adalah be creative: thinking out of box, tinggalkan zona nyaman dengan kebiasaan membuat slide presentasi seperti yang sering kita buat. Untuk itu kita perlu berpikir seperti seorang beginner, yang mau belajar apa saja dan tentunya kita perlu melepaskan diri dari batasan-batasan yang membuat kita kurang kreatif. Kedua, keep as simple as possible. Menurut Garr Reynolds, less itu sebenarnya more: sedikit itu malah berarti lebih. Oleh karena itu, prinsip ketiga adalah, jangan pikirkan apa yang bisa ditambahkan dalam setiap slide, tapi pikirkan apa yang bisa dikurangi.Think to “subtract”, not to”add” Sehingga, prinsip berikutnya, jadikan dalam setiap slide hanya ada satu esensi yang bermakna. Jangan buat desain slide presentasi bak mendekorasi ruang pesta ulang tahun anak2 karena desain tidak sama dengan dekorasi .
So, untuk mencapai kebermaknaan, disamping pemilihan kata yang sedikit sensasional, juga harus ditunjang dengan visual yang relevan karena slide presentasi harusnya lebih visual daripada hanya sekedar kumpulan kata-kata saja. Ketika menggunakan visual khususnya gambar dalam setiap slide, perhatikan ruang kosong. Sisakan ruang kosong, jangan isi semua ruang kosong dengan teks, gambar, grafik, animasi yang tidak perlu. Nah, dalam perencanaan sebaiknya kita planning analog dulu, jangan langsung going digital pakai komputer supaya proses kreatif tidak terganggu. Kita bisa pakai brainstorm, clustering, lalu membuat storyboard . Why? Coz nanti slide pertama sampai slide terakhir kita akan seperti bercerita yang mengalir mulai dari pendahuluan, permasalahan, klimaks sampai resolusi dan kesimpulan. Terakhir, dalam Zen delivery ada tips yang saya singkat dengan SUCCESS: simple, unexpectedness, concreteness, credibility, emotion, dan story. Untuk lebih jelasnya ceritanya lain kali saja yah…saya lagi too excited karena mengajar kemarin sukses buat saya, meskipun ada sedikit kekurangan: saya mengajarnya suka keracunan bahasa, campur aduk bahasa Jawa, Indonesia, Inggris hahaha…sama suka nyuruh peserta cepet2 karena takut wakktunya molor dari jadwal. Saya nggak takut or grogi jika diminta mengajar materi ini lagi 😀

buku keren
buku keren

SEKALI LAGI TENTANG KOMPETENSI WIDYAISWARA

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya Kementerian Keuangan memerlukan aparat keuangan yang professional, yakni yang berprestasi dan memuaskan customer serta stakeholder. BPPK memiliki peran khusus untuk menunjang tugas dan fungsi Kemenkeu tersebut sesuai dengan visinya yaitu menjadi lembaga pelatihan dan pendidikan terdepan dalam menghasilkan SDM Keuangan dan Kekayaan Negara yang amanah, professional, berintegritas tinggi dan bertanggung jawab. Untuk itu BPPK perlu didukung oleh para Widyaiswara, ujung tombak pemegang peranan penting dalam keberhasilan diklat-diklat BPPK, yang kompeten dalam bidangnya. Tulisan ini akan membahas tentang kompetensi widyaiswara dari berbagai peraturan dan literatur yang penulis baca.

Menurut PERMENPAN nomor 14 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya, Widyaiswara adalah pejabat fungsional yang berwenang dengan tugas, tanggung jawab, wewenang untuk mendidik, mengajar, dan/atau melatih PNS pada lembaga pendidikan dan pelatihan pemerintah. Sedangkan David McClelland mengatakan bahwa a competency is defined as an underlying characteristic of a person which enables them to deliver superior performance in a given job, role, or situation. Jadi bisa kita kembangkan bahwa kompetensi widyaiswara adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan kerja, karakteristik, sikap dan perilaku yang mutlak dimiliki Widyaiswara untuk mampu melakukan tugas tanggung jawabnya secara profesional.

Menurut PERMENPAN nomor 14 tahun 2009, Standar Kompetensi Widyaiswara adalah kemampuan minimal yang secara umum dimiliki oleh Widyaiswara dalam melaksanakan tugas, tanggung jawab dan wewenangnya untuk mendidik, mengajar, dan/atau melatih PNS, yang terdiri atas kompetensi pengelolaan pembelajaran, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi substantif. Dan secara terperinci pula dalam PERMENPAN Nomor 14 Tahun 2009 telah disebutkan kompetensi jabatan widyaiswara pada setiap jenjang (Pertama, Muda, Madya dan Tinggi). Tetapi belum ada Peraturan Kepala LAN yang khusus diturunkan dari PERMENPAN nomor 14 tahun 2009 terkait Standar Kompetensi Widyaiswara. Namun jika dilihat dari komponennya, sepertinya tidak berbeda dengan Peraturan Kepala LAN no 5 tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Widyaiswara (yang diturunkan dari Permenpan nomor 66 tahun 2005). Berikut ini adalah penjabaran kompetensi widyaiswara menurut Peraturan Kepala LAN no 5 tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Widyaiswara:

  • kompetensi pengelolaan pembelajaran, yaitu kemampuan yang harus dimiliki widyaiswara dalam merencanakan, menyusun, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran, yang meliputi kemampuan:
  1. membuat GBPP/Rancang Bangun pembelajaran mata diklat (RBPMD) dan SAP/Rencana Pembelajaran (RP)
  2. menyusun bahan ajar
  3. menerapkan pembelajaran orang dewasa
  4. melakukan komunikasi yang efektif dengan peserta dan
  5. mengevaluasi pembelajaran
  • kompetensi kepribadian, yaitu kemampuan yang harus dimiliki widyaiswara mengenai tingkah laku dalam melaksanakan tugas jabatannya yang dapat diamati dan dijadikan teladan bagi peserta diklat, yang meliputi kemampuan:
  1. menampilkan pribadi yang dapat diteladani; dan
  2. melaksanakan kode etik dan menunjukkan etos kerja sebagai WI yang professional
  • Kompetensi sosial , yaitu kemampuan yang harus dimiliki WI dalam melakukan hubungan dengan lingkungan kerjanya, yang meliputi kemampuan:
  1. membina hubungan dan kerjasama dengan sesama WI; dan
  2. menjalin hubungan dengan penyelenggara/pengelola lembaga Diklat
  • Kompetensi substantif, yaitu kemampuan yang harus dimiliki WI di bidang keilmuan dan keterampilan dalam mata diklat yang diajarkan yang meliputi kemampuan:
  1. menguasai keilmuan dan keterampilan mempraktekkan sesuai dengan materi diklat yang diajarkan; dan
  2. menulis karya tulis ilmiah yang terkait dengan lingkup kediklatan dan/atau pengembangan spesialisasinya

Dari hasil diskusi didapatkan kesepakatan bahwa ada dua standar kompetensi mengajar seorang Widyaiswara yang perlu ditekankan. Pertama, WI harus menguasai metode pengajaran yang efektif. Efektif disini tentu saja mengacu pada prinsip komunikasi yang efektif dimana pesan yang diterima = pesan yang dikirim. Prinsip ini penting karena seorang WI harus mampu menyampaikan materi secara tepat pada peserta. Kedua, WI harus menguasai teknik pengajaran yang interaktif. Interaktif disini berarti teknik pengajaran yang menarik, yang melibatkan seluruh peserta, serta pembelajarannya mberpusat pada siswa.  Dua kompetensi itu penting dimiliki seorang WI dalam mengajar dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Jadi WI tidak saja dituntut menguasai materi substanstif saja tapai harus bisa membuat pesertanya tidak ngantuk maupun tidak partisipatif di kelas..

Dari dua kompetensi tersebut kemudian disusun suatu indikator kompetensi mengajar Widyaiswara. Ada 4 indikator yang harus dipenuhi seorang WI yang memiliki kompetensi mengajar “menguasai metode pengajaran yang efektif” antara lain :

  1. Materi yang disampaikan harus sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dalam hal ini peserta boleh dibuka wawasannya kemana-mana hanya saja TPU dan TPK harus tetap disampaikan.
  2. Penggunaan Bahasa yang mudah dimengerti peserta. WI yang canggih itu bisa menyampaikan materi yang sulit dengan bahasa yang mudah dipahami peserta. Penggunaan bahasa asing boleh saja di kelas, jika memang akan memudahkan pemahaman peserta.
  3. Peserta memahami materi yang disampaikan. Evaluasi-evaluasi lisan terkait materi selama proses maupun di akhir sesi pembelajaran, rasanya lebih tepat dilakukan guna mengukur pemahaman peserta terhadap materi.
  4. Peserta mampu menyelesaikan tugas yang diberikan. Apalagi jika materi yang diberikan mengandung banyak muatan praktik maka peserta harus lebih sering diajak mencoba dan mengerjakan daripada diberi teori saja.

Ada 5 indikator yang harus dipenuhi seorang WI yang memiliki kompetensi mengajar “menguasai teknik pengajaran yang interaktif” antara lain :

  1. WI memakai metode pembelajaran yang bervariasi. Ceramah yang terlalu lama hanya membuat peserta bosan. WI harus memvariasinya dengan metode diskusi, simulasi, brain storming, bermain peran, debat, praktik…yang penting sesuai tujuan pembelajaran.
  2. Peserta aktif dalam proses pembelajaran. Hal itu salah satunya bisa dilihat dari aktifnya peserta bertanya kepada WI. Juga dari antusiasnya peserta dalam melakukan diskusi, presentasi, atau latihan. Prinsipnya adalah proses pembelajaran yang “learner-centered” dan tidak sekedar “trained centred
  3. Pemakaian media pembelajaran yang menarik. YWI harus menguasai teknik pembuatan slide presentasi yang menarik, baik dari segi tampilan, kombinasi warna, maupun background yang memikat. Perlu dipertimbangkan juga media pembelajaran selain komputer dan power point semata. Ini penting untuk mengantisipasi jika listrik tiba-tiba mati atau trouble pada peralatan yang dibawa…
  4. Pemakaian Ice Breaking yang efektif. Kalau bisa sih berupa cerita, game yang selaras dengan tema materi dan tidak sekedar nyanyi-nyanyi gak jelas yang biasanya menjadi andalan para WI. Mungkin kita harus ingat bahwa pelajarannya bukanlah pelajaran seni suara hingga nyanyinya jangan berlebih…
  5. Menguasai Teknik Komunikasi yang menarik. Prinsipnya adalah kata-kata hanyalah 7%, nada suara 38%, sedangkan 55% adalah body languange…

another idea to write

Kepustakaan

http://www.bppk.depkeu.go.id/webbc/images/stories/file/2011/artikel/Pengembangan%20Profesionalisme%20WI.pdf tentang Pengembangan Profesionalisme Widyaiswara Pasca Permenpan nomor 14 tahun 2009 oleh Adang Karyana S. accessed September 25, 2012.

http://www.ditbin-widyaiswara.or.id/permenpan.html tentang Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 14 tahun 2009 tentang Jabatan fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya. accessed September 25, 2012.

A Notion about Sharing

Share Share Share
Share Share Share

Years ago I read a book by Robert Fulghum entitled All I Really Need to Know I Learned in Kindergarten. There are sixteen things important in our lives and we learned them in kindergarten. And I remember most the very first line: Share everything.

When I reflect on my experiences as a trainer today, I am reminded of the power of his ideas. Yes, as educators, we too should share. To share, as defined by Merriam Webster, is simply to let someone else have or use a part of (something that belongs to you). We should share our materials, our time, our experiences, and our optimism. The wonderful thing about sharing is that receiving is absolute in the bargain.

 

Sharing Materials

As trainers, we work with a lot of materials: curriculum, syllabi, course outline, books, modules, handouts, power points, and so on. When we design or prepare those materials, we also got the information from other sources, so I think there should be no problem to share them again with others. I know some people are very secretive about information and their ideas because they don’t want others to take credit from what they have been doing. For my part, I would be glad to share for I will know if my work is really exemplary or worth modeling for others. When I share, I usually get more feedback from others, which can provide answer for me that mine are relevant, effective, or useful. To me it’s not like giving away my intellectual capital for free, because I get the generosity of fellow trainers with their shared perspectives in return. By sharing my materials, I will increase the depth of my knowledge.

 

Sharing Time

Sharing is the social skill through practice and patience, and that certainly demands our investment of time. I think it is more rewarding when a two-way process occurs: one person communicates and the other person needs to understand and be in a position to respond, if they wish to. Without interaction, I don’t really think a real conversation occurs. Nowadays it is more timesaving for us to use forums and groups in our social media sites, such as Facebook, Twitter, Google+, Pinterest or LinkedIn. We can also use them to strengthen our branding if we use them wisely. (I know some people use social media just to vent their frustration: grousing and complaining all the time, which I think we shouldn’t as we are professionals). In my instance, I have cultivated the most productive relationships with my colleagues or trainees when I engage in face-to-face conversation or group discussions several times. These I mean not just an email exchange or a quick chat on FB or WA; we do need to set aside special time to do it. By saving some time for sharing, I get honest exchange of ideas and build a better rapport with my colleagues or trainees since we both want to be benefited from the sharing.

 

Sharing Optimism and Balanced Perspective

 

Trainers must show optimism and balanced perspective, which are important to our happiness. I believe that good things will happen if we are optimistic. It gives us reason to look forward to the future with positive attitude. When we have optimism, we will do everything in our power to improve the situation, and keep hoping that our actions will be fruitful.

 

An optimist trainer will not show fear and doubt in front of his or her trainees. Trainers will behave differently since optimism and balanced perspective give us energy and motivation to do the efforts, it can make all the difference. Therefore, we must cultivate optimism through frequent sharing because it doesn’t come easily, as life is also full of challenges and opportunities as well. When we share, we focus our attention on our innate character strengths (wisdom, courage, compassion, and so on). We must trust our own ability to deal with any situation that crosses our path and let others know the key success to do it. So, rather than sharing our perceived failures and what we don’t have, we should encourage each other by sharing good things. We will have a feel-good strategy, which I think can also be good for our immune system and success levels as well. Research has shown that optimistic people tend to be healthier and experience more success in life.

 

My Closing Remarks

There are real benefits to sharing what you know and have. Ideas are open knowledge that anyone should have access to. There are never any benefits in not sharing most knowledge with the people around us. I have always believed in the power of sharing ideas and have found that the more I have done this, the better our units (and I) have done. So, setting aside certain amount of time for sharing will improve my ability and my rapport with others.

 

We must share information freely, and never hide information from anyone. When we give away all our ideas, we create the need to replenish them, which opens the door to creativity and innovation. Furthermore, sharing our ideas with others give us access to more ideas. The people I know who hoard information tend to have stale ideas because they only share or seek innovation when relevant, meaning that their own store of information is limited and stagnant.

And finally, happiness may stem from sharing optimism and balanced perspective. All trainers’ success depends on their abilities to remain optimistic and accepting that life is full of challenges and chances that we can benefit from. We must share optimism and we can lead everyone to success or better life.

 

So, share, share, share.

Just to Remind You, My Students…

I often find student evaluations rather frustrating. They are contradictory, short-sighted and sometimes insulting, especially when I know students did not put much effort in the class in the first place. I think their evaluations are also biased towards lecturers who are physically more appealing. And students, with their lack of experience and expertise, are not in a good position to evaluate an expert. What more could be said against student evaluations?

For me , a good teacher is based on three things:
– explaining the material well.
– the course content are carefully selected
– can meet the learning output

Image

The course content is probably the most important factor in making a student better at the subject. I’ve benefited very much from taking classes from professors who have a really bad English, are not good at communicating or keeping you interested during the lecture. But their notes were amazing: there was a clear logical progression, everything was very well defined, and most importantly, the course was challenging and the problem sets made you think. At the time, I would have rated them as bad lecturers due to their poor communication abilities. In retrospect, I would much prefer a bad communicator to an excellent professor with unstructured notes.

Also, I know that sometimes being good at what you do is simply not enough. Students who hate the subject, but like the lecturer typically work harder in the class. On the other hand, if a student hates the lecturer (for teaching well and being tough like I did in class) their ability to learn is sometimes negated.

Students now won’t necessarily like a tough lecturer at the time, but if they learn what they need to know to succeed in college and beyond, they will respect and come to like them later on in life (Case in point…my ex student who is now studying in Australia for her Master Degree hated me years ago when I taught her in Diploma IV, now she realized how valuable my lessons were…and now considers me one of her best teachers). So, I’m okay with not really favorable evaluation report that I got, cause I know my students can thank me later when they work.