This is How My Office Looks Like

My office is always disorganized! I think I only have once in a year to fix the mess. This time you can see it neat (that’s the best I can do with my stuffs), after I trashed many things while tidying it up yesterday.

From my table
From my table

DSCN5809 DSCN5810

I also hang my key chains from the places I visited in the past. Sometimes I hang my children’s school work. This month is Shofi’s drawings.

On the wall
On the wall

DSCN5805 DSCN5806 DSCN5807

I always know that this is the right time to get my office organized when I have a mental tailspin entering my office. That is the first sign there’s a problem with the place I do my works. If I just postpone to do it, I will feel overwhelmed, and that is the most important signal that the situation has gotten out of hand. I must clean it as soon as possible, because a quick glance around that domicile cubicle sends me shuddering, I have been working with a load larger than most people can slug through on their own. 😀 😀 😀

This one is taken in 2012, two years before the above pictures.
This one is taken in 2012, two years before the above pictures.

8 Kunci Menjadi Pembicara yang Efektif

Tujuh tahun lalu, tepatnya 2007, saya pernah mengikuti pelatihan Public Speaking bersama Excellencia (lembaga Personality & Communications milik psikolog cantik Puspita Zorawar), dengan trainer ibu Magdalena Daluas, seorang News Anchor TVRI yang sudah senior dalam public speaking. Kali ini saya mau sharing delapan tips dari beliau agar menjadi pembicara efektif yang sukses. Saya masih ingat semuanya karena materi yang saya dapat itu juga selalu saya bagikan lagi kepada peserta diklat MP Master of Ceremony saya. Selamat menyimak.

Tips jadi pembicara dan MC
Tips jadi pembicara dan MC

Kunci 1. Miliki Keinginan dan Tujuan.
Ini seperti menjadi motivasi agar menjadi pembicara yang baik. Keinginan itu seperti mimpi, sedangkan tujuan adalah mewujudnyatakan mimpi tersebut. Artinya jika kita sudah memiliki mimpi agar menjadi pembicara efektif yang sukses, maka kerjakan mimpi itu agar menjadi kenyataan.
Banyak cara untuk mewujudkan mimpi itu, misalnya dengan melakukan latihan pernafasan (diafragma), latihan resonansi, latihan artikulasi, dan menerapkan semua latihan itu ketika berbicara.

Kunci 2. Kembangkan Power Base
Artinya milikilah kemampuan berbicara. Ibu Magdalena berpesan selalu gunakan pernafasan diafragma ketika berbicara. Selain itu perhatikan nada, volume, intonasi, jeda maupun kecepatan berbicara. Oya, saat menerangkan ini beliau memberikan sepuluh jenis suara yang kurang menarik, sambil diperagakan juga seperti apa suara yang nggak cocok untuk seorang public speaker, kami sampai ngakak-ngakak karena seorang penyiar senior yang kalem dan charming bisa ngocol habis. Sepuluh suara itu yaitu:
– berbicara terlalu cepat: selain susah ditangkap, akan Nampak seperti berbicara tanpa berpikir dahulu
– suara mendesah: kata beliau yang begini ini kebanyakan suara perempuan, meski ada juga pria yang seperti ini. Cuman lanjut beliau ini hanya cocok buat penyiar radio yang tayang untuk prohram tengah malam 😀 😀 😀
– volume suara terlalu keras: kesannya adalah gaya ‘bossy’ dan berpandangan sempit, seakan tidak mau mendengar orang lain.
– rahang terkunci: pembicara terlihat kaku dan kesannya tidak pernah merasa bahagia. Kata beliau orang seperti ini biasanya jika tidur giginya beradu.
– nada terlalu tinggi: suara akan terdengar melengking dan seperti orang berteriak atau menjerit. Suara cempreng seperti ini benar-benar harus menjauh dari mic 😀 😀 😀
– nada terlalu rendah: umumnya pria yang melakukan ini. Suara akan terdengar seperti komandan militer yang seakan sulit didekati.
– suara abu-abu: ini adalah suara seperti robot, datar, pecah, tidak ada variasi nada. Sangat monoton.
– suara bergumam: selain membuat kesal, suara seperti ini sulit dimengerti karena ucapan yang tidak jelas.
– suara sengau: biasanya karena rahan terkunci dan bibir agak tertutup membuat suara keluar melalui hidung, sangat tidak nyaman mendengarnya.
– suara terlalu lembut: kesan yang ditimbulkan adalah pemalu dan kurang percaya diri.

Kunci 3. Sesuaikan Suara dengan Mimik.
Ini menjukkan penjiwaan seorang public speaker atas apa yang disampaikannya pada audiens. Suara harus menggambarkan kepribadian dan pesan si pembicara. Ekspresi wajah harus natural dan bervariasi yang selaras variasi nada yang digunakan.

Kunci 4. Miliki Kekuatan Berbicara
Kekuatan berbicara berarti mampu membuat pesan yang dimengerti audiens. Ini akan didukung dendan nada suara, volume, intonasi, jeda, speed, pelafalan, artikulasi dan resonansi. (baca artikel saya yang lain tentang konsep dasar ini). Gunakan nada yang sedang agak rendah, volume dan intonasi yang bervariasi. Serta berbicara dengan kecepatan normal.

Kunci 5. Persiapkan Pesan Dengan Seksama
Jika materi disiapkan dengan cermat, maka apa yang kita bawakan akan memberi efek atau impact. Oleh karena itu perlu diketahui dulu siapa audiensnya, apa tujuan berbicara kita serta bagaimana hasil akhir yang kita harapkan. Dengan demikian, pembicara akan konsentrasi dan focus dalam membawakannya (terkait dengan penyajian adalah metode dan prosedurnya).

Kunci 6. Perhatikan Audiens
Audiens adalah penerima pesan sang pembicara, maka seorang pembicara yang baik harus mendahulukan kepentingan audiensnya. Ada beberapa ketrampilan yang dibutuhkan pembicara:
– peduli terhadap audiens (bisa dibantu dengan interaksi positif)
– kemampuan memotivasi
– menggunakan pengetahuan dan referensi yang kuat
– meninggalkan kesan yang positif atau baik

Kunci 7. Lakukan Kontak Mata
Pembicara efektif tidak boleh takut melakukan kontak mata. Tataplah audiens dengan tulus dan pasti, sehingga mereka akan merasa diutamakan oleh pembicara. But please don’t stare at your audience (napsuin lagi, bwt nggampar 😀 …)

Kunci 8. Miliki kesabaran.
Tentunya kesabaran dalam melakukan latihan dan pengembangan terus-menerus. Ketrampilan menjadi pembicara yang efektif tidak bisa seketika dibangun tanpa praktek yang berkelanjutan. Karenanya perlu sabar dan tetap berpkir positif bahwa kita bisa mencapai tujuan menjadi pembicara yang efektif dan sukses.

Semoga artikel ini bermanfaat.

Kembali ke Angka 6, Horreee….

Tadi di parkiran ketemu mbak Dewi dari bidang Evalapkin, katanya Ms. Efi sekarang langsingan ya? Alhamdulillah….Wi..kalo bukan bulan puasa sudah tak traktir kamu he he heLangsung saya lari ke Poliklinik buat nimbang, uasiiik ternyata BB sudah diawali angka 6 lagi setelah sempat jadi 75 kg kemarin.
Ramadhan yang membawa berkah, nggak pakai diet2 khusus kalau puasa bener sih memang seharusnya berat badan turun. Tapi pas dipikir2 bisa jadi karena sudah seminggu ini saya nggak pakai pengasuh bayi (singkat kata beliau saya PHK saja karena selama kerja 10 bulan ini bikin gemes terus, saya sudah ngalah2 karena perlu menitip baby selama kerja tapi beliau ini tipe yg kurang smart dan tidak amanah, jadilah harus saya pecat jika tidak mau merusak mbak asisten II dan tukan cuci saya).

Ngurus anak bikin kurus :D
Ngurus anak bikin kurus 😀

So, ngasuh baby itu membakar kalori sangat cepat. Saya ini kan kurang aktivitas fisik, although I have a long hard day at work everyday. Tapi memang kadang dalam seminggu cuma 10 sd 30 JP di kelas, sisanya banyak duduk ngetik di cubicle. Lari2 cuman pas pagi dan sore bwt ngejar KRL sama taksi. Misua selalu bilang ayo doong olahraga…malam hari juga OK kok (heh ini workout beneran ya, bukan ‘olahraga malam’ buat yg ngeres). Tapi kaaan I’m just too tired to workout when I get home and even on weekends. (halah alesyan thok)
Sekarang semenjak ngga ada si mbak yg entu itu saya harus bangun lebih pagi lagi, jam 2 atau 3, biar semua OK n rapi sebelum sy berangkat kantor jam 6.15. Harus begitu agar mbak asisten II fokus ngurusin baby Fia sampai saya pulang lagi sore harinya. Kalo Fia sudah tidur, saya ikut bantu2 si mbak merapikan rumah, pokoknya keeping busy yang penting agar dua asisten yg tersisa ini tetep semangat kerja dan nggak kewalahan ngurusi rumah dan anak 4. Noo problemo deh, kalau begini terus, I think I will be back into my skinny jeans, after just 2 months, 😀 😀 😀
Summary: being busy can be considered an effective calorie burner.

No. 1 or No. 2?

Right now I am still indecisive about who to vote for the upcoming Presidential Election: Prabowo or Jokowi?

No 1 or No 2 ???
No 1 or No 2 ???

After frustratingly indecisive leadership in large democracies over the last ten years under Mr. SBY, I’m hoping that either Prabowo or Jokowi can sweep away the cobwebs in our government. I’m writing this in a view of a commoner, a house-wive who knows little about politics.

Prabowo seems qualified, regardless of his dark record of his past (about human rights abuses). He has fiery nationalistic rhetoric, financial backing from his tycoon brother and the broad coalition of supporting him, like PPP, PKS and PAN, three parties that always win my support.
While Jokowi is greater in his characteristics and track record in Solo delivery, I think. But his campaign is so disorganized and lack of prior planning, maybe because he’s lacking of fund. And I don’t really like the fact that he is supported by PDIP. Well, in Indonesian politics, parties in The Parliament influence the government in deciding most issues behind closed doors by consensus in interest-based committees that are subject to minimal transparency or accountability. Jokowi must be strongly influenced by his sponsoring party, PDIP, lead by former president Megawati. Is he really ready for the big league if he was initially forced by Megawati for presidency?

I still remember the Megawati presidency, there were a lot of rising gas, oil, dan fuel prices. There were also a lot of demonstrations, but Megawati saw the criticism as an insult to PDIP, and cynically said that people can just choose another country to live in if they are not with her. To demonstrants that are opposed to her are arrested, like Nanang and Muzakkir if I’m not mistaken, so she’s really not that democratic. If Jokowi is driven by her, I just can’t take it. I will never forget my hatred during her reign. But I really adore Jokowi’s folksy charm, corruption-free reputation and record of improving basic services as a local leader in Jakarta and his home town of Solo in central Java.

Prabowo, can we give him a second chance? His allegations of human-rights abuses has never been fully investigated by our government. He ran unsuccessfully for president in 2004 and 2009, that’s a lot of money on his part for these two elections. I’m a bit suspicious with his big coallition: what’s their plan? Btw,  Prabowo looked cruel before, but now he is more of a humanist and at least in the past two months it shows. I love men who looks decisive and firm, ganteng like my husband ha ha ha…be rational, Efi! but at the same time shows cares. One more thing, Prabowo for sure looks more masculine than Jokowi, well it’s just because of his military upbringing , I think. Jokowi is also too soon for a DKI governor to run for national office. I think he can be a great president, but to me this year is too premature for him to run,and especially he has had little experience of professional international engagement. His English is also terrible. But I never doubt that he has the characterisrics as a true leader.

From the candidate debates on Youtube, I learn that both Prabowo and Jokowi offer similar solutions for Indonesia’s slowing growth rate—build roads and seaports, open millions of acres of farmland and reduce fuel subsidies. Prabowo calls for halting the loss of $85 billion annually in natural-resources assets and ensuring food security. For this, I quite agree with you, Sir! But Jokowi’s development plans are far better and implementable in my view.

Well, the more I write, the more I become confused. Let’s see what’s next in three days time. I want to see how both supporters play in the remaining days before July 9. So far, I hate the Jokowi’s fans: they removed Prabowo’s posters at night. Oh ya, my FB wall is full of my friends campaign for both. And the fights between the two sides on the internet are getting worse. Peace, guys….

Calm down, folks! Don't throw hates to each other!
Calm down, folks! Don’t throw hates to each other!