Airport English

Mau share bahan ajar buat ngajar English for Customs ya…. This time is  a role play.

Our customs officer
Our customs officer

A Role-play for Getting Through Customs: 

Time: 1 hour

Focus:

The purpose of this lesson is to give students the skills to pass customs with as little trouble as possible.

This lesson follows a simple format of an introduction and discussion, followed by a role-play activity.

Preparation:

The Teacher will need to print off and photocopy customs officer role-play sheets, traveler role-play sheets, and passport and character prompt cards. Note: There are two versions of the customs officer role-play sheet, A and B. This is so that students can hear common customs questions asked in more than one way.

Introduction:

Tell the students that they will be studying airport English. Have one student come up to the front. Give that student a passport card and explain that you are a customs officer. The student will have to pass customs. Because you are the customs officer, you will be able to lead the conversation. The conversation should go something like the conversation on your right.

I often have students try to accomplish a task cold, before I actually set out to teach them the skills to do it. This accomplishes two things: One, it lets me know if the lesson will be too easy and hence a waste of time for them. Two, if it’s not too easy, it lets the students know why they are studying it. One problem with false beginners is that they sometimes feel the subject material is below them, yet they are unable to function in that subject material. It is a way to show them their limitations.

Discussion:

After a few students have tried to get through your customs and immigration, then go over the conversation to the right. Write the questions on the board and ask the students what possible answers could be. With all of the questions and possible answers on the board, have a few more students try to come through your customs. Hopefully, they will have no problems doing it well.

Role-play Activity:

Now, comes the real focus of the class: role-playing going through customs. The class will be divided into two groups of students: customs officers and travelers. Hand out the custom officer role-play sheet to the custom officers. Each custom officer represents a country of their choosing and they will briefly interview each traveler before letting them into the country. It works well when you put their desks in a line so that the travelers can go from one customs officer to another in an orderly fashion.

Handout the passports and traveler role-play prompts to the travelers. Have the travelers read their prompts. Note: you should be able to fold the character prompts and paste them onto the back of the passports. It is very convenient like that.

As travelers get interviewed, the customs agents take down the travelers’ information. The travelers write down what countries they visited. Finally, if time permits have the students change roles.

Target Language:

A is the Customs Officer, B is the traveler.

A: Welcome to Jakarta. May I see your passport please?

B: Sure. Here it is.

A: Where are you coming from?

B: I’m coming from Dammam, Saudi Arabia.

A: What is the purpose of your visit?

B: I’m here on business.

A: How long are you planning to stay?

B: I’ll be staying for three weeks.

A: Where will you be staying?

B: I’ll be staying at a hotel, The Pullman Hotel.

A: Have you ever been to Indonesia before?

B: No, this is my first time.

A: Do you have anything to declare?

B: No, nothing.

A: Enjoy your stay.

B: Thank you, officer.

Source:

English for Customs, 2013.

Attachments:

Role Plays: Character Prompts and Passports

You are a German tourist.You have just come from Brazil. You want to stay for 3 weeks. You are just sight seeing. You are staying at a hotel.

Passport

ms X

Name:Gertrude Schmidt

Nationality: Germany

Expiry Date: 2013

Number: 213456

You are visiting your uncle who lives in this country. You will be staying for the summer vacation (2 months). You will be staying at your uncle’s house.

Passport

efi comic

Name: Francine Mahmoud

Nationality: France

Expiry Date: 2015

Number:AB35242

You are an exchange student. You will be studying at a language school. You will be staying for 6 months. You will be staying in a dormitory.

Passport

boy-face-cartoon-clip-art_430749

Name: Adolf Albert

Nationality: Sweden

Expiry Date: 2015

Number: XY23838

You are on a business trip. You are selling wine. You will be staying for 2 week. You will be staying at a hotel.

Passport

 index

Name: Bernt Adams

Nationality: Chile

Expiry Date: 2010

Number: GHG4234

 

You are a Brazilian woman soccer player. You are coming to play a soccer game. You will stay for 3 days at a hotel.

Passport

 free-vector-girl-face-cartoon-clip-art_107390_Girl_Face_Cartoon_clip_art_hight

Name: Shakira West

Nationality: Brazil

Expiry Date: 2014

Number: 213456

 

Dosen Teladan? No Reken!

Favorite Teacher?
Favorite Teacher?

Lagi tersenyum melihat surat dari kampus yang isinya ucapan terima kasih karena telah mengajar di semester ini serta lembar evaluasi pengajar yang menyebutkan rata2 nilai evaluasi kita. Nilai saya masih bagus :D, yang menggelitik itu ya masih ada pemeringkatan bahwa Anda ranking sekian dari sekian pengajar yang mengajar di mata kuliah tersebut, kebetulan sih tahun ini dapat yang no.1 (catat: kebetulannnya di bold, coz ini peristiwa langka). Btw, hasil evaluasi itu 100% dari evaluasi tatap muka oleh mahasiswa. SO, this is surprising aja kok mahasiswa tahun ini bagus menilai saya, padahal saya lagi killer2nya tahun ini (gawan baby qiqiqik), pikiran saya cuma satu: sekre salah ngerekap kali 😀 😀 😀 . Lagian, seumur2 jg baru kali ini dpt evaluasi di atas, biasanya jg mhsw pelit nilai saya coz I really put hard times for them during the semester, like always.

I never give a care about that ranking, truly I never care whether I’m the most favorite teacher or not, karena juga nggak ngaruh tuh ke honor saya ha ha ha. Saya jadi malah ingin nulis artikel ini tentang beberapa teman saya yang pernah jadi dosen favorit di kampus. Yang saya tahu mereka memang punya extra effort supaya jadi popular di mata mahasiswanya, mulai dari bagi pin BB atau nyuruh mahasiswa add mereka di FB, setiap minggu beli Silver Queen buat mahasiswa (bagus sih, cuma kalo keseringan kan bisa tekor dosennya, belum lagi seolah memperlakukan mahasiswa seperti anak-anak yang mau jadi aktif dengan iming-iming hadiah), gampang obral janji bakal memberi nilai dengan murah hati (kalau saya sih proporsional saja dengan aktivitas, UTS dan UAS mereka, kalo memang bagus ya berikan A plus, kalau mahasiswanya nggak maksimal mana bisa dikasih A, kan nanti nilai tidak memiliki daya beda antara mahasiswa satu dan lainnya?)

Buat saya jadi dosen itu yang penting bisa dijadikan role model mereka bahwa dosen benar-benar bisa dipercaya dalam melakukan penilaian. Di awal kuliah saya selalu telah membuat kesepakatan dengan mahasiswa supaya jangan terlambat hadir atau absen tanpa keterangan karena akan menjadi diskon bagi nilai akhir mereka. Juga terkait terlambat mengumpulkan tugas, nilai tugasnya adalah nol. Jadi ketika ada mahasiswa yang melanggar, saya dengan mudah menerapkan sanksi karena mau membuat mereka konsekuen dengan tindakan mereka. Jangan melemah dengan mahasiswa yang menghiba2, kita tidak salah atau kejam jika dari awal sudah membuat kesepakatan ini dengan mereka.

Dalam hal dosen bonus, ngga ada yang salah jika mereka melakukannya dengan criteria. Saya memberikan bonus 10 poin jika mahasiswa mengerjakan tugas mingguan dari awal sd akhir semester tanpa ada yang luput. Dari awal sudah saya terangkan kebijakan ini akan menjadi bantuan jika UTS atau UAS nanti jeblok, sedangkan tidak ada ketentuan tentang ujian remedial. Memang kenyataannya paling yang konsisten melakukannya tidak lebih dari 40% kelas, karena saya hanya sempat mengeceknya sekali dalam sebulan, jadi paling hanya 4x sd maksimal 6x selama mengajar satu semester. Tetapi mahasiswa seharusnya tetap terus mengerjakan meskipun tidak selalu saya periksa buku tugas mereka. Saya kesal juga dengan teman dosen favorit di kampus yang ngasih tugas paper ke mahasiswa yang nilai UTSnya jeblok di bawah 50, tetapi dengan mengumpulkan satu tugas paper langsung dikoreksi menjadi 78, buat saya itu ngawur dan korup. Masa nilai naik signifikan sekali hanya dengan satu makalah yang itupun tidak dia periksa? Bagi saya itu mengajari mahasiswa untuk menggampangkan penyelesaian masalah. Saya juga heran dengan mahasiswa sekarang, jika nilainya C saja sudah mengejar2 dosennya minta tugas untuk ngatrol nilai, jaman saya mana berani kita begitu, terima saja jika memang kita cuma di dapat C meskipun sudah mati2an belajar, itu namanya berani terima kenyataan jika kita masih belum memenuhi standar untuk dapat A. Kalau saya mending dapat C tetapi kita memiliki kompetensi yang memadai daripada nilai A tapi tidak mencerminkan kompetensi nyata yang dimiliki, pepesan kosong banget…

So, saya bener nih nggak mau usil sama yang pernah juga dapat gelar Dosen Terbaik di kampus ini sebelum-sebelumnya, cuma please deh nggak usah bragging out mamerin ke semua orang bahwa dia yang ranking 1 di sini by pasang2 setatus di FB and Instagram, karena kita semua tahu kok kualitas masing2 dosen di sini, to me it’s just a rank. That doesn’t mean that they are the best teachers… Saya tahu ada di antara dosdan itu yang kemarin mbocorin soal ke mahasiswa agar nilai mereka bagus di UAS, yang kayak gini nggak bakalan dipakai ngajar lagi tahun depan di sini. Mau dapat recognition dari mahasiswa kok pakai cara super bodoh menurut saya. Kalau setiap tahun hanya kita melulu yang ditunjuk jadi dosko, itu pun sudah jadi bukti bahwa even kampus mengakui siapa yang lebih kompeten dan trustworthy untuk jadi coordinator. Jika suatu ketika ada mantan mahasiswa yang datang menemui kita, menginvite kita di groupnya, atau mengirimi kita sesuatu, itu adalah real acknowledgement dari murid kita karena masih menganggap kita teman atau guru mereka. Saya mending dipanggil Ms. Evil (bukan Ms. Efi nih hehee) saking killernya sama mahasiswa yang pemalas, pembohong, atau yang nggak sopan, karena saya bukan orang permisif sama kesalahan meskipun saya gaul juga dengan mahasiswa. Ada mahasiswa yang sering saya hukum dan didiskon nilainya karena sering telat ngga berani protes karena sadar dia sendiri yang cari masalah dengan dosennya. Teman saya itu gaul abis pake banget, saking gaulnya sampai2 mahasiswa ngelunjak, banyak minta kompensasi ini itu ke dosen, telat dibiarin, tidak bikin PR dibiarin, tiap mau ujian minta kisi-kisi (which a very stupid request, wong sudah ada GBPP), pokoknya naudzubillah deh. Belum lagi ada mantan dosdan yang cheating dengan punya affair dengan … idaman lain, dikiranya itu asik ya punya cem2an daun muda, lha ini kan merusak reputasi beliau sebagai teladan dwoonk… For me itu beban jika sdh pernah dapat dosen ranking 1, kita dituntut untuk berlaku selaiknya seorang teladan SELAMANYA.

Again, I don’t care for the “favorite” label. I work as my gratitude to God for giving me a chance to share my knowledge and expertise to students, and I will do my job with my own values. Jadi, mau di ranking paling bawah pun I don’t care deh, yang penting Allah ridha sama pekerjaan saya dan saya tidak melakukan hal-hal yang merusak reputasi saya maupun mahasiswa saya. Jadi, dosdan, ngga patheken. (Soeharto’s style). 😀

Saya copy-in dikit nih old email dari one of my ex-student sebagai penutup: saya tetap simpan printscreen emailnya yang bikin melting itu …so sweet sih, saya doakan kamu sukses selalu mbak…

How are you, Ma’am? I hope you still remember me: you gave me a nickname ‘Spike’ on iBT class in year 2007. (dah ingat lagi kan bu? kalo ngga clue-nya saya yang paling cantik di kelas, cuz other trainees were male. Saya ikut PBT tahun 2003 juga, nah ingat kan? maksa). On one evening, I suddenly remembered you and wanted to write this for you:

The best teachers guide, inspire, encourage and provide us with a love of learning. Ah yes, you are one, Ms. Efi. You really built our brains when you taught our class in 2003 and 2007. I am now more proficient in English because you told me that the best student never stops the learning even when the program ends.  How fortunate I am to have had a  marvelous teachers  that pave our way toward a successful career. Salam dari Adelaide, I’m taking FIPPM in Flinders University.

Love,

A. B. M.

P. S . ….

Nah bagian P.S. nya agak panjang sih tapi gak penting buat ditaruh sini ya, too personal soalnya. Buat saya ini nih hasil evaluasi yang riil dan trusted, meskipun nggak sering saya menerima kaya ginian. But at least my teaching somehow gives impact to some of my students.