Let’s Write a Poem!

Tujuan membaca adalah memahami pesan penulisnya, kita bisa katakan bahwa reading meliputi kegiatan memecahkan puzzle dan clues dalam kata-kata yang dirangkai penulis. Poetry reading sering dianggap the most exciting kind of reading karena maknanya yang tersembunyi. Poems menyajikan sedikit kata tetapi pesan dan clues-nya sangat kaya. Ini sangat membantu Anda untuk menerapkan top-down strategy dalam membaca. Pada Kegiatan Belajar kali ini, kita akan belajar solving a poem dengan seluruh reading skills yang Anda miliki.

Untuk Kegiatan Belajar kali ini kita membaca acrostic. Acrostic adalah puisi yang sangat sederhana dengan menggunakan huruf-huruf dari suatu kata sebagai penandanya (biasanya dicetak tebal atau dengan warna font yang berbeda), paling sering dengan huruf di awal kata yang dipakai. Read the following examples and tell the class how does the writer of each one feel?

 Poem 1

Tired, longing for a bed

Reading, trying to kill the time

Arching legs, no room to stretch

Visits to distant friends, when will we arrive?

Empty seats to slump across

Loathing to return

Poem 2

Another afternoon of celebration

Black clouds gather beyond

Coats and capes hurry past my window

Dogs stand huddled against the wall

Electric storms are threatening

Far away they rumble

Gutters splashing, overflowing

Humbled, good to be alive

Poem 3

Where have the yeaRs gone?

Our arms Embrace

Changes Unseen

Sorrows Not known

Ghosts of the past wIthin

LOst friend,

Where have the years goNe?

How fun is it for you? Acrosctic reading bisa dilanjutkan dengan writing activity. Cobalah membuat acrostic dengan menggunakan nama Anda ataupun orang yang Anda kenal. Setelah itu diskusikan dengan teman yang duduk di dekat Anda.

Selamat mencoba!

Listening to News

 

 

 

 

 

 

Indikator Keberhasilan

Setelah mengikuti KB ini peserta diklat dapat menyimak berita dalam bahasa Inggris dengan baik yang ditandai dengan:

1)    menjelaskan  basic strategies

2)    memahami TV news

3)    memahami radio news

Uraian dan Contoh

1)    Basic Strategies in Listening to News

Hampir setiap hari kita mendengarkan berita. Untuk memperlancar bahasa Inggris kita, maka perlu juga mendengarkan berita dalam bahasa Inggris. Berita bisa kita peroleh dari TV, radio, maupun Internet, namun menggunakan media berita berbahasa Inggris di radio bisa lebih optimal untuk belajar karena lebih mudah diaksesnya. Untuk keberhasilan belajar maka kita harus memilih menggunakan media dari luar negeri agar exposure kita menggunakan native speakers.

Sebelumnya ada beberapa hal yang harus kita ketahui tentang radio dan televisi luar negeri:

Pertama, masalah jadwal penyiaran. Ada baiknya kita mengetahui jadwal siaran berita yang ingin didengarkan. Saat ini setiap stasiun radio dan TV luar negeri seperti VOA, BBC, ABC, memiliki website resmi yang bisa kita unduh jadwal siaran bahasa inggris mereka. Kita juga harus tahu berita apa yang ingin didengarkan: politik, olah raga, seni, budaya, kesehatan atau yang lainnya. Cocokkan dengan menu berita yang dalam versi bahasa indonesia apakah ada pilihan-pilihan beritanya. Yang paling mudah memang berita umum yang disampaikan setiap jam baik dalam versi Indonesia atau versi Inggris. Versi bahasa Indonesia berguna untuk membantu kita jika memiliki kesulitan memahami berita berbahasa Inggris.

Kedua, jika memungkinkan juga lihat penyiar atau host dari berita tersebut. Hal ini bukan prinsip sekali, tetapi terkadang ada beberapa penyiar yang pronunciation -nya lebih susah ditangkap mereka yang baru mulai belajar listening.

Setelah mendapat jadwal siaran, maka kita siap untuk belajar mendengarkan berita. Berikut ini beberapa strategi ketika berlatih:

Pertama, keep on listening. Kita harus membiasakan telinga untuk mendengar pengucapan bahasa inggris, maka tune-in saja pada satu radio atau TV dan  dengarkan saja tanpa berusaha memahaminya… masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Lakukan kegiatan ini sesering mungkin dengan santai, misalnya sambil menyetir, mengetik di kantor, membersihkan rumah, beristirahat, mempersiapkan kelengkapan kerja dan lain sebagainya.

Kedua, ketika situasi mendukung kita perlu serius untuk menangkap arti dari berita tersebut. Luangkan waktu 5-10 menit untuk mendengarkan dengan seksama, dan catat beberapa kata kunci atau kata-kata sulit yang ditemukan. Setelah selesai coba membuka kamus untuk mencari penjelasannya. Selanjutnya cobalah merangkum berita yang baru saja didengar dengar. Membuat catatan akan membantu memperkuat ingatan kita akan apa yang baru didengar.

Ketiga, setelah merangkum berita, ikuti berita versi Indonesia. Ini untuk mengecek apakah rangkuman versi kita hampir sama atau tidak. Mendengarkan versi bahasa Indonesia lebih menjelaskan kita tentang detil yang mungkin tidak tertangkap dalam versi bahasa Inggris. Setelah itu ulangi dengarkan lagi berita bahasa Inggrisnya dengan lebih seksama, catat lagi hal-hal yang mungkin terlewat dalam versi bahasa Inggris.

Kelima, jika siarannya terbatas, maka carilah  situs resmi radio tersebut dan dapatkan ringkasan beritanya di sana. Pelajari bahasanya, kata-kata yang digunakan dan cocokkan dengan hasil mendengarkan yang baru dilakukan.

Keenam, setelah kita paham isi berita, cobalah ceritakan ulang isi berita tersebut kepada orang lain, atau buat rangkuman versi terakhir untuk dibaca orang lain.

Terakhir, lakukan langkah di atas secara berulang-ulang. Jangan lupa untuk mencatat special terms atau istilah-istilah yang khusus dipakai dalam suatu topik berita. Ada satu contoh ketika musim kebakaran hutan di Indonesia beberapa tahun lalu,  sering terdengar kata HOT SPOT. Dalam keseharian kita kenal hot spot sebagai area untuk bebas mengakses internet, tetapi dalam konteks kebakaran  hot spot disebut titik api yang ada di hutan-hutan yang dilihat dari udara. Dengan special terms maka vocabulary kita akan semakin bertambah ketika berlatih listening.

2)     Listening to TV News

Berita dari televisi asing sangat efektif untuk meningkatkan kemampuan listening kita. Selain menambah wawasan dan pengetahuan, berita televisi bisa menjadi variasi dalam belajar listening yang kebanyakan hanya melalui audio saja. Dengan adanya visualisasi di layar televisi, comprehension akan  lebih meningkat dan biasanya lebih mudah untuk merangkum berita TV daripada berita dari radio.

3)     Listening to Radio News

Mendengarkan berita berbahasa Inggris melalui radio membutuhkan konsentrasi yang besar, karena fokus kita hanya pada audio saja tanpa ada visualisasi yang membantu untuk menangkap isi berita. Oleh karena itu, untuk pemula sebaiknya memilih penyiar radio yang lebih lambat tempo bicaranya serta lebih jelas pronunciation-nya untuk ditangkap. Saat ini radio nasional kita banyak yang menggunakan English news service, seperti Voice of Indonesia (VOI/RRI), Trijaya FM, Smart FM, Hard Rock FM, dan lain sebagainya. Radio nasional bisa dipakai sebagai latihan awal, selanjutnya kita tetap harus mencoba siaran bahasa Inggris dari radio luar negeri seperti BBC, Radio Netherland, VOA, ABC, dan lainnya.

Berikut ini adalah contoh  news script dari  radio Voice of Indonesia.  (Ketika mendengarkan berita dari VOI kita bisa mencocokannya dengan berita dari The Jakarta Post, karena sebagian besar berita aktual mereka mengadopsi dari koran tersebut).

Europe E.coli Outbreak Caused by Toxic New StrainHong Kong/Moscow – A deadly outbreak of E.coli centred in Germany and spreading across Europe is caused by a dangerous new strain, Chinese scientists who analyzed the bacteria said. The scientists said the outbreak, which has killed 17 and made more than 1,500 others ill in at least 10 European countries and is thought to come from vegetables, carried genes making it resistant to several classes of antibiotics. “This E. coli is a new strain of bacteria that is highly infectious and toxic,” said the scientists at the Beijing Genomics Institute in Shenzhen city in southern China who are collaborating with colleagues in Germany.
World Health Organization spokesperson Aphaluck Bhatiasevi said the WHO was waiting for more information from laboratories. “This strain has never been seen in an outbreak situation before,” he said.
In a worsening trade row prompted by the outbreak, Russia banned imports of all raw vegetables from the European Union, prompting an immediate protest by the European commission.
Moscow had already banned imports of vegetables from Germany and Spain over the outbreak, which German officials originally blamed on contaminated cucumbers imported from Spain before backtracking and apologizing to Madrid.
Gennady Onishchenko, head of the Russian consumer protection agency Rospotrebnadzor, said the deaths caused by the outbreak “demonstrate that the much-praised European sanitary legislation, which Russia is being urged to adopt, does not work,” Interfax News agency reported.
The new ban would take effect on Thursday morning, he said. The European Commission said it would write to Moscow within hours to say the move was disproportionate.Reuters/VOI

Latihan

1. Bukalah webpage http://www.englishclub.com/listening/radio.htm dan bukalah Listening to News. Pilihlah berita terbaru dan kerjakan latihannya.

2. Bukalah webpage http://learningenglish.voanews.com/. Carilah Articles with Activities for English Beginner dan kerjakan Test your English Comprehension.

3. Bukalah webpage http://www.bbc.co.uk/worldserviceradio dan carilah berita pada Most Listened To. Pilihlah satu berita yang Anda sukai dan buatlah summary of the news.

Rangkuman

Mendengarkan berita berbahasa Inggris merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan listening kita. Berita dapat diperoleh dari televisi, radio, maupun Internet. Seseorang bisa dikatakan memahami berita jika dia bisa merangkum isi berita serta menceritakannya kembali kepada orang lain. Agar kemampuan listening makin terasah, ikuti berita dari sumber-sumber luar negeri seperti BBC, VOA, Radio Netherland, dan lain sebagainya.

Listening Comprehension Strategies

LISTENING COMPREHENSION  STRATEGIES

 Indikator Keberhasilan

Setelah mengikuti KB ini peserta diklat menerapkan listening comprehension strategies dengan baik yang ditandai dengan:

1)                  menerapkan listening comprehension strategies

2)                  menjelaskan top-down strategies

3)                  menjelaskan bottom-up strategies

Uraian dan Contoh

1)     Listening Comprehension Strategies

Dalam belajar bahasa Inggris dikenal istilah listening strategies. Listening strategies  adalah tehnik atau aktivitas yang secara langsung meningkatkan pemahaman serta ingatan seseorang pada listening input.  Listening strategies diklasifikasikan menurut cara seorang listener memroses input. Dalam ‘real-life’ listening, kita biasa menggunakan strategi tertentu yang tergantung pada alasan atau sebab kita untuk melakukan listening.

Perhatikan situasi di bawah ini:

Saat makan siang, teman Anda, si A, menceritakan pengalamannya berlibur di pedesaan, yang ternyatasangat menyenangkan tapi sekaligus menegangkan. Anda menyimak dengan antusias dan sesekali menyela untuk mengungkapkan kekaguman, keterkejutan, atau rasa simpati Anda dengan cerita si A.

Sore harinya, teman Anda yang lain, si B, menelpon untuk mengundang Anda makan malam di rumahnya besok. Karena Anda belum pernah ke rumahnya, Anda mendengarkan arahan dari si B tadi dengan seksama sambil mencatat.
Bagamana cara Anda mendengarkan di setiap situasi di atas? Pasti ada perbedaannya. Pada situasi pertama, perhatian utama Anda adalah menangkap maksud dan ide umum dari cerita si A serta tahu kapan saatnya memberikan komentar. Sebaliknya pada situasi kedua, menyimak kata-kata si B secara persis sangatlah penting, tentunya agar Anda nanti tidak tersesat di jalan.

Perbedaan kedua cara di atas terkait dengan teknik yang dipakai dalam memroses input untuk listening, yang akan dibahas lebih lanjut setelah ini.

2)     Bottom-up Strategies

Ketika mendengarkan arahan petunjuk menuju rumah seorang teman seperti pada situasi kedua di atas, pemahaman akan arahan si B akan diperoleh dengan dividing dan decoding pesan yang disampaikan sedikit demi sedikit. Kita harus mampu menerjemahkan suara yang kita dengar ke dalam kata-kata jika kita harus mengenali sesuatu, misalnya nama jalan atau instruksi cara naik angkutan umum menuju rumah si B. Cara ini disebut dengan strategi bottom-up.

Dalam kehidupan sehari-hari, sangat penting menerapkan bottom-up strategies, misalnya ketika sedang mendengarkan kuliah, lirik lagu, cara memasak sesuatu, cara mengoperasikan mesin, dan lain sebagainya. Seorang listener harus mencerna listening input dengan cermat dan seksama, agar tidak terjadi kesalahan.

3)     Top-down Strategies

Cara mendengarkan cerita liburan si A dalam contoh kasus di atas menggunakan strategi top-down listening. Artinya Anda menggunakan background knowledge Anda untuk memahami makna dari pesan yang disampaikan. Background knowledge terdiri dari context, yaitu situasi dan topik serta co-text, atau kalimat-kalimat sebelum dan sesudah kalimat yang Anda dengar. Context seperti mengobrol dengan teman dalam situasi yang  santai sendiri sudah membatasi topik-topik yang  mungkin dibahas dalam percakapan. Ketika konteks-nya ‘holiday’, maka  pengetahuan kita tentang holiday yang berperan untuk menyelaraskan suara yang kita dengar dengan ekspetasi yang kita harapkan dalam mendengar dan menangkap detail-detail khusus terkait liburan.

Dalam realitas sehari-hari, listening yang terampil dipengaruhi olehpenggunaan kedua proses (top-down dan bottom-up) secara serempak. Bayangkan Anda sedang bicara dengan teman-teman Anda (dalam bahasa Indonesia) di satu pasar yang sangat berisik, maka Anda harus harus ‘menebak’ sebagian besar informasi dalam percakapan berdasarkan pengetahuan Anda tentang topik yang sedang dibahas dan apa-apa yang telah diucapkan teman-teman Anda. Dengan cara ini, Anda menggunakan lebih banyak top-down processing  untuk menutupi ketidakjelasan dalam suara yang didengar, sehingga akan menjadi kendala bagi  bottom-up processing.Sama juga halnya dengan orang yang sedang belajar bahasa Inggris, ketika ia dihadapkan dengan grammar dan vocabulary yang sulit dalam listening, ia akan menggunakan pengetahuannya untuk berusaha memahami hal-hal yang sulit tadi. Ini berarti ia akan menggunakan proses top-down untuk menutupi kendala dengan proses bottom-up. Di lain pihak, jika seorang listener  tidak paham dengan apa yang dia dengar, maka ia tidak akan bisa mengembangkan topik percakapan yang sedang dibahas, sehingga penggunaan proses top-down tentu akan sangat minim

Latihan

1. Manakah listening strategiesyang digunakan dalam kegiatan di bawah ini?

– A stewardess demonstrates the airplane emergency procedure

– Someone was telling his unforgettable interview

– A teacher is lecturing on how to compose an essay

– Someone was watching TV news

2. Bagaimana penggunaan listening strategies dalam kehidupan sehari-hari?

Rangkuman

Strategi dalam listening meliputi top-down dan bottom up. Dalam top-down strategies kita menggunakan background knowledgeyang terdiri dari context dan co-text untuk memahami makna dari listening. Dalam bottom-up strategies, sesorang harus bisa dividing dan decoding pesan yang disampaikan secara bertahap. Dalam realitas sehari-hari, listening yang terampil dipengaruhi olehpenggunaan kedua proses (top-down dan bottom-up) secara bersamaan.

Implementasi Nilai-Nilai Kemenkeu di Mata Seorang Widyaiswara

Ini adalah tulisan saya yang saya buat dalam satu jam karena mendadak diminta panitia mengirimkan essay tentang  implementasi nilai-nilai Kemenkeu di unit masing-masing. Saya dijadikan kandidat pegawai teladan BPPK untuk hari Keuangan 2012. Lagi full ngajar dan nggak sempat research n reading buat nulis, ya sudah saya buat saja tulisan sekenanya. Buat saya tidak penting mau jd pegawai teladan atau tidak, dan sampai sekarang pun saya tidak tahu siapa pegawai teladan Kemenku tahun 2012 ini, my focus hingga saat ini adalah menyelesaikan diklat2 yang harus saya ajar sd Desember 2012. Lagipula saya tahu ada kandidat lain yang lebih tepat jadi pegawai teladan, my colleague ustad Muchtar Yahya. Just wanna share my writing here, that’s all.

Kementerian Keuangan Republik Indonesia

Pertama- tama saya menulis essay ini lebih terutama sebagai ajang saya untuk melihat dan refleksi diri sebagai salah seorang pendidik, seorang Widyaiswara, di lingkungan Kementerian Keuangan RI, jadi lebih dari sekedar tulisan tentang implementasi nilai-nilai Kemenkeu semata.

Saya telah menjadi widyaiswara semenjak tahun 2005, dan sebenarnya sejak saya mendapatkan penempatan pertama CPNS di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara  tahun 1999 telah berkecimpung di bidang pengajaran. Dalam sepanjang perjalanan karir saya ternyata kecintaan pada bidang yang saya geluti inilah membuat saya bisa  menikmati tugas yang saya emban sehari-hari. Sebagai seorang Widyaiswara, wewenang dan tugas pokok saya adalah mendidik, mengajar, dan melatih PNS pada di Kementerian Keuangan. Dan saya melihat tugas tersebut adalah amanah bagi saya.  Untuk melaksanakan amanah tersebut, saya harus memiliki dan menjaga empat kompetensi utama, yaitu kompetensi pengelolaan pembelajaran, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi substantif.

Kompetensi pengelolaan pembelajaran ialah kemampuan yang harus dimiliki widyaiswara dalam merencanakan, menyusun, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Jika dipadankan dengan tugas seorang guru, ini mirip dengan kemampuan pedagogis. Dengan kompetensi ini saya harus menyusun kurikulum pembelajaran (GBPP dan SAP), menyusun bahan ajar saya (modul, handout, bahan tayang, dll), mengajar dengan menerapkan teknik komunikasi efektif mengingat metode pembelajarannya melibatkan peserta dewasa, dan terakhir adalah mengevaluasi pembelajaran, termasuk di sini adalah membuat soal ujian, mengawasi pelaksanaan ujian, serta memeriksa hasil ujian.

Kompetensi kedua yaitu kepribadian, dimana saya harus menjadi teladan bagi peserta diklat dan lingkungan saya serta harus menunjukkan etos kerja saya sebagai widyaiswara yang professional.

Kompetensi ketiga yaitu kompetensi sosial, yaitu bagaimana saya melakukan hubungan dengan lingkungan kerja saya. Ini meliputi membina hubungan dan kerjasama dengan sesama widyaiswara dan dengan pengajar eksternal, serta menjalin hubungan dengan penyelenggara/pengelola lembaga Diklat serta instansi pemerintah lainnya.

Kompetensi terakhir yaitu kompetensi substantif, yaitu kemampuan di bidang keilmuan dan keterampilan dalam mata diklat yang saya ajarkan. Saya memiliki kompetensi di substansi Bahasa Inggris. Saya dituntut untuk selalu meningkatkan ilmu dan pengetahuan saya, dan di samping itu saya perlu untuk membuat karya tulis sebagai pengembangan diri saya dan juga sharing pengetahuan bagi khalayak umum.

Jika mengaitkan empat kompetensi di atas dengan nilai-nilai Kementerian Keuangan, yang meliputi integritas, profesionalisme, sinergi, pelayanan dan kesempurnaan, apakah saya sudah benar-benar melaksanakannya? Sejujurnya saya sendiri sulit menjawabnya, karena hanya mereka yang bekerja di lingkungan saya yang lebih bisa menilai saya. Saya lebih berpegang pada  patokan saya bahwa saya mengemban amanah yang harus saya dukung dengan empat kompetensi yang sudah saya jelaskan di atas. Dengan meyakini bahwa tugas adalah amanah, saya berusaha keras agar saya tidak berbuat sekena hati saya. Ketika menyiapkan suatu kurikulum, saya harus pastikan bahwa kompetensi tersebut yang dibutuhkan dalam diklat, sehingga benar-benar merupakan terjemahan dari need analysis yang dibuat cermat, dengan menurunkan knowledge, skill dan attitude apa saja yang harus dirinci di dalamnya. Dalam penyusunan bahan ajar, saya harus merujuk pada sumber keilmuan yang sahih dan akurat serta mengikuti perkembangan yang terjadi, sehingga updating bahan ajar bagi saya itu mutlak dan perlu. Jika kantor tidak terlalu mendukung saya dalam hal ini, saya akan mendapatkannya meskipun dengan biaya sendiri. Contohnya mendapatkan akses internet, perpustakaan, literatur terbaru, kesempatan diklat di luar badan, belajar sesuai spesialisi, dan lain sebagainya.

Dalam implementasi pembelajaran di kelas, sebisa mungkin saya menggunakan teknik komunikasi yang menarik dengan aktivitas yang bervariasi sesuai dengan tujuan pembelajaran. Untuk itu saya harus menguasai teknologi pembelajaran serta psikologi pembelajaran orang dewasa. Saya sering melakukan obervasi mandiri selama saya mengikuti pelatihan-pelatihan di luar dan sering mengadopsi teknik yang dipakai pengajar saya untuk diterapkan di kelas saya nanti. Prinsip saya adalah harus berani berinovasi, berkreasi dan percaya diri untuk mencobanya di kelas. Terkadang saya selipkan games di sela pengajaran untuk me-refresh peserta diklat dan saya sediakan hadiah-hadiah kecil yang saya beli dengan uang pribadi. Tidak ada yang lebih rewarding ketika peserta diklat memahami apa yang kita ajarkan, meningkat ketrampilannya, serta terhibur di kelas.

Dalam menyusun soal ujian, saya harus cermat mengembangkannnya agar sesuai dengan indicator keberhasilan, sehingga nilai ujian benar-benar mencerminkan ketrampilan dan pengetahuan yang didapat selama diklat. Proses evaluasi ini sangat menyita perhatian dan pikiran, karena itu saya perlu menyiapkannya jauh-jauh hari, sebisa mungkin diproses ketika kurikulum sudah selesai disusun. Menjaga kerahasiaan soal dan hasil ujian adalah mutlak, dan saya tidak memiliki kompromi untuk hal ini.

Untuk peningkatan kemampuan substantif saya, saya melanjutkan Studi S2 secara mandiri, karena jika saya mengikuti tugas belajar berarti saya akan meninggalkan tugas pokok saya sementara waktu. Dan itu sulit dilakukan mengingat unit kerja saya, Pusdiklat Keuangan Umum, memiliki ratusan diklat yang harus diselenggarakan tiap tahunnya dan sangat membutuhkan widyaiswara seperti kami yang jumlahnya masih belum memadai dengan beban kerja unit kami. Dengan pengetahuan substantif, saya juga perlu membaginya dengan media karya tulis. Karya tulis saya tidak selalu harus dipublikasikan di media cetak, tetapi bisa saya unggah saja di website dan blog pribadi saya. Ini juga berfungsi untuk menjaring networking dengan pengajar dan nara sumber yang bekerja sama dengan diklat-diklat di unit saya.

Konsekuensi dari tugas widyaiswara sudah saya terima sejak awal mula memilihnya menjadi jabatan saya. Konsekuensi utama ialah ketika waktu kita sehari-harinya lebih tersita untuk penyelenggaraan diklat (mengajar full time), maka sesi perencanaan dan evaluasi saya tentunya dilakukan di luar jam kerja. Saya katakan bahwa menjadi pendidik adalah pekerjaan 24 jam, setiap ada waktu luang, di situlah kita mengerjakan apa yang tidak bisa kita selesaikan di jam kerja kantor. Banyak pihak di luar saya yang juga akan terganggu kinerjanya jika saya tidak bisa menyelesaikan tugas saya tepat waktu, misalnya bidang Renbang Diklat dan bidang evaluasi Diklat, demikian hal nya dengan balai-balai diklat di daerah. Ketika ada penugasan di luar kota dan memakan waktu cukup lama, saya bawa juga PR dan tugas saya agar tidak menjadi kendala pihak lain dan beban tambahan sekembalinya saya dari tugas di daerah. Saya harus bisa membagi waktu saya antara pekerjaan widyaiswara dan keluarga agar keduanya tidak terabaikan, maka time management sangat penting buat saya. Dan saya menikmatinya, karena ada kepuasan tersendiri ketika kita berhasil dalam diklat-diklat kita dikarenakan persiapan yang baik.

Bagaimana supaya tetap professional meskipun tidak mendapatkan honor dari tugas rutin yang dikerjakan? Keep happy, itu saja kunci buat saya. Kita sudah mendapat gaji dan TKPN, meskipun grading widyaiswara menurut saya masih harus disesuaikan dengan beban tanggung jawabnya. Mengeluh saja tidak akan menyelesaikan kendala saya. Setiap hari kita semua memiliki deadlines yang harus diselesaikan, terus mengeluh bisa mengendurkan semangat diri sendiri maupun orang di sekitar kita. Seorang pendidik harus bisa menunjukkan dan berbagi kebahagiaan di hadapan semua orang, terutama peserta diklat. Selain itu stay thankful. Dan saya bersyukur Allah SWT memberikan saya kesehatan dan kekuatan, serta keluarga yang sangat memahami dan mendukung karir saya, teman-teman yang sangat kooperatif serta pihak-pihak yang banyak memberikan dukungan bagi pelaksanaan tugas saya.

Jika saya ditanya ide apakah yang bisa saya sarankan untuk implementasi nilai-nilai Kemenkeu di unit kerja kita, maka saya lebih focus pada bagaimana agar kita semua menjadi PNS yang happy dan thankful tadi. Semua ini terkait dengan menumbuhkan integritas dan motivasi pegawai, agar mereka berkinerja melebihi indicator yang sudah ada. Dan itu butuh kerjasama semua pihak di unit masing-masing.

Saran saya ada beberapa hal bisa dilakukan di unit saya:

1. Fasilitas

Saya mengacu kepada teori Maslow bahwa kita harus memenuhi kebutuhan di berbagai level untuk memotivasi orang ke level berikutnya. Maka selain rasa aman dan terjamin, pegawai perlu dibekali dengan fasilitas yang bisa mendukung pekerjaan, karena ketidaklengkapan di sini akan menghambat pegawai untuk menerapkan seluruh kemampuannya dalam tugas. Prinsip saya, underutilization adalah demotivation buat pegawai.

2. Reward yang rutin

Reward tidak selalu dalam bentuk moneter, karena tidak semua pegawai merasa puas dengan imbalan berwujud finansial. Reward bisa diberikan dalam bentuk penghargaan/pengakuan yang layak dengan criteria yang tepat (misalnya bukan karena jam kerja atau tidak pernah absen saja, ini bukan criteria yang tepat). Pegawai perlu diberitahu secara rutin/berkala akan kontribusinya pada unit (seperti Wall of Fames, sertifikat, atau cukup ucapan terima kasih), sehingga turut memotivasi pegawai lain untuk berkinerja yang baik. Bentuk reward lain bisa juga kesempatan untuk mengikuti outing, coaching, atau training bersama, ini lebih untuk menjalin rasa kekeluargaan dan kebersamaan pegawai.

3. Keteladanan

Semua individu adalah pemimpin, jadi semua pegawai dan terutama atasan harus mencontohkan perlilaku dan etos kerja yang baik kepada lingkungan. Maka seseorang harus bisa menularkan kebiasaan yang baik sekecil apa pun (jujur, rajin, cekatan, cermat, tidak menang sendiri, mau bekerja sama, saling menghargai, dll) , serta bisa mengakui jika melakukan kesalahan dan mengakui kelebihan dan kekuatan orang lain. Nilai-nilai Kemenkeu tidak hanya bisa dijadikan slogan saja bagi saya, tetapi ditunjukkan oleh perilaku keseharian yang bisa dijadikan teladan bagi semua. Karena kita di lingkungan birokrasi, seyogyanya memang dimulai dari atasan, tetapi kembali bahwa semua orang adalah pemimpin, maka kita tidak perlu saling menunggu.

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan kunci implementasi nilai-nilai Kemenkeu adalah bahwa  setiap pegawai melakukan apa yang seharusnya dilakukan (bahkan lebih baik dari seharusnya), sehingga akhirnya kita menjadi pegawai yang professional, bermartabat dan terhormat. Sebagai widyaiswara, saya perlu melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang pendidik, sebagai wujud dari amanah yang saya emban. Demikian halnya dengan semua individu di Kemenkeu. PNS Kemenkeu yang professional adalah amunisi untuk Reformasi Birokrasi kita, dan akan menjadi modal besar bagi pembangunan bangsa.