Don’t Stand So Close To Me

Ini bukan mau ngomongin lagunya the Police tentang a schoolgirl’s crush on her young teacher which leads to an affair, bukan deh. Banyak hal yang terjadi dalam hidup sehari-hari yang bikin saya mesti memaki orang “Knock it off. Stay away from me…”

Jauh-jauh sonoh!
Jauh-jauh sonoh!

1. Naik KRL PP buat kerja.
Semua tahu KRL di Jkt pada jam pulang dan pergi kantor selalu penuuh sesak. Cuma saya kadang kesal jika di gerbong wanita, ibu2nya mulutnya berisik banget. Sudah uyel2an, masih kepusingan sama suara rumpies mereka, hadeeh. Udah gitu ibu2 dan mbak2 cantik pada sulit bergeser ngasih kesempatan penumpang baru untuk masuk. Mbok yaoo…sudah bukan kereta sendiri, murah pulak, napa sih ngga mau sedikit toleran bahwa semua orang juga ingin lekas2 pulang? Makanya saya lebih sering masuk gerbong campuran, bapak2 lebih mau berbagi space dibanding ibuk2. problem di gerbong campuran adalah baunya bedaa dengan di gerbong wanita, SUPER NANO2!! Ahay…ada yang bau kemenyan (serius), bau rokok, bau pesing (pipis ngga cebok kali), baru kringet, bau ketek, dll susah nyebutinnya coz langsung terbayang penderitaanku sehari2. Saya kan pendek, pastilah deket sama ketek bapak2, terutama yang tangannya gelantungan ke atas. Nasib orang pendek lainnya itu ya pasti di bawah dagu orang-orang tinggi di sekitarnya, dan kalau mereka punya problem sama halitosis, well enjoy your fate hahah. Saya pernah suatu ketika kejepit di antara dua bapak2 yang sedang ngobrolin kerjaan di kereta, ya ampuun berdua napasnya bau naga! Saya pasrah aja ketika masker tipis saya ngga bisa menahan serangan BM….mungkin mereka habis pesta rendang jengkol di kantor hiks.

2. Beraktivitas di kampus.

Saya kebetulan mengajar Communication Skills, jadi saya tahu sedikit tentang proximity yang ideal untuk berkomunikasi dengan rekan kantor atau peserta/murid diklat saya. Jarak proxemic selalu saya jaga supaya tidak menimbulkan hil-hil yang mustahal. Saya alergic sama orang-orang yang mau deket2an secara fisik dengan saya, ogaah. Jarak intimate yang cuma dua genggam tangan dari kita cuma saya lakukan dengan misua or anak2 saya. Dengan kawan, murid, dan lainnya, saya jaga jarak personal, sosial, dan publik saya. Makanya ketika ada orang yang sok2 ndusel, saya dengan juteknya mengusir orang itu jauh2…nggak peduli itu laki atau perempuan. Btw, sy juga ‘geli-an’, penggeli banget dari gawan bayi, makanya kesenggol orang dikit aja bisa kayak kesetrum….’Senggol Bacok’ is my middle name kata teman saya. Ini beneran nggak saya buat-buat, kerian pol pake bingitz. Ada pengalaman lucu dengan mahasiswa D4 saya, karena dia lagi minta bimbingan editing essay dia, dia selalu mepet2 ke arah saya. Akhirnya dia saya suruh duduk di depan saya sambil papernya saya balik, tapi jadinya saya yang kepuyengan baca tulisan dia dari atas. Tanpa saya suruh, mahasiswa tadi balik ke samping saya sambil menunjuk2 pekerjaannya. Saya ngga tahan, lalu saya tanya dia “Is there any reason why you’re standing so close to me?” Eh dia jawab: “Why Miss? I’m sorry. I thought you’re just like my mom.” Gedubraxx…..oalah tolee….lihat mukamu deh…emangnya saya that old? Saya tahu dia sudah married kok, punya anak satu, mosok toh tega2nya ngatain bu Efi kayak ibuknya huhuhuu…. Tapi berhubung dia ganteng jadi saya maafkan 😀 😀 😀  Saya cuma balas dia saja. “Well…just give us some room…being this close is not appropriate in my view. Nobody believes that you’re my son”…

Well, ini juga alasan saya mengapa saya suka jengah sama mahasiswa2 sekarang yang masih suka ngajak salim saya setelah mengajar. Saya suka menolak dengan halus dengan pura2 masih sbuk nulis di agenda atau kartu mengajar, supaya mereka lekas2 pergi aja ketika class is dismissed. Mereka kan bukan anak kecil lagi, ngapain juga cium tangan bu dosen yg penggeli ini…sudah pasti lah di hus hus sana pus….diusir halus sama saya.

3. Beraktivitas di kantor.

Di kantor saya banyak pegawai pria dan wanita, naah yang suka bikin masalah itu dengan pegawai cowok. Dari saya masih bujangan sampai sudah anak empat begini, masih ada aja problem dengan pegawai laki yang ge-er- an. Satu contoh kemarin saja, punya kendala dengan seseorang. Dari awal kami bekerja sama,  he seemed nice and easy to work with, and we both have good initial impression, biasa kita kan professional jadi must be nice to every one. Sekitar the past three weeks, since we started working more closely together on a project from our training center, I have found myself feeling incredibly uncomfortable and uneasy around him. Catat ya, saya tuh  very rarely reacted to someone like this. Saya kan memang friendly and easy-going  but my intuition, for whatever reason, seems to be sounding the alarm untuk bapak satu ini. (karena dulu jg ada yg ge-er jg bbrp tahun lalu, tapi saya bisa lepas dr orang itu dengan status masih musuhan sampai sekarang. Salah sendiri sih…nggak liat2 orang kalo mau naksir2 centil). Karena itu saya trust my intuition, this man honestly bikin ulah kayak mencurigazion banget, dia speaking to me a bit too familiarly  and staring at me a little too often, aneh lah, misalnya pas lagi rapat, atau saat saya lagi baca2 koran di kursi tengah tiba-tiba mak serrr eh ngga taunya emang beliau staring at me sejak tadi, kalo kepergok saya trus mesam-mesem gaje. Saya sih  pasang muke bingung aje ke beliau and continuing with business as usual and treating him like all my other colleagues, since we do have to work together terus. Cuman saya suka tersiksa kalo  end up alone with him in a meeting room atau di lantai 5 ini. Kalo beliau mendekat, saya buru2 kabur ke kubikel saya sambil pasang headset, menghindari diajak ngobrol…coz pasti menjurus ke terlalu personal. Apalagi kalo beliau deket, kayaknya sebelumnya barusan semprot2 Bulgari Extreme deh, freshly sprayed sebelum mepet2 Bo! Why I get nervous when I have to interact with him? So far, keeping him at arms length and ensuring myself don’t end up alone with him sounds right to me. Makanya saya nulis cerita ini nih…buat saksi kapan2 kalo saya nggak ada minat kok ngeladenin bapak2 ganjen. That’s not my type! Semoga bukan sayanya yang ke-GR-an….wis kewut kok onok ae kayak gini. Entu bapak kali yang second puberty. 😀 😀

Udah ah curcolnya…balik kerja lagi.

stay away!
stay away!

MENGETAHUI DAN MENGEMBANGKAN POTENSI KECERDASAN ANAK SESUAI KARAKTER DAN GAYA BELAJAR ANAK

What's your learning style?
What’s your learning style?

Hari Sabtu, 14 Februari 2015 saya mengikuti seminar parenting yang kesekian kalinya di SMPIT Auliya Bintaro. Kali ini topiknya adalah mengenali gaya belajar anak agar bisa mengembangkan potensi kecerdasannya secara maksimal. Nara sumbernya adalah psikolog A-Genius dari Surabaya.
Psikolog mengawali paparannya dengan memberikan latar belakang tentang kejadian yang kita lihat dalam keseharian kita. Banyak anak menurun prestasi belajarnya di sekolah karena di rumah dipaksa belajar tidak sesuai dengan gayanya. Begitu juga sebaliknya, anak ternyata gampang belajar di rumah tetapi kesulitan saat mereka belajar di sekolah.

Kita sebagai orangtua atau guru tidak bisa memaksakan seorang anak harus belajar dengan suasana dan cara yang kita inginkan karena pada dasarnya masing-masing anak memiliki tipe atau gaya belajar sendiri-sendiri. Kemampuan anak dalam menangkap materi dan pelajaran tergantung dari gaya belajarnya. Anak akan mudah menguasai materi pelajaran dengan menggunakan cara belajar mereka masing-masing.
Menurut DePorter dan Hernacki (2002), gaya belajar adalah kombinasi dari menyerap, mengatur dan mengolah informasi. Ada tiga jenis gaya belajar berdasarkan modalitas yang digunakan individu dalam memroses informasi (perceptual modality).
Mari kita kenali lebih lanjut pengertian dan macam-macam gaya belajar.

VISUAL (Visual Learners)
Gaya Belajar Visual menitikberatkan pada ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham.
Gaya belajar seperti ini mengandalkan penglihatan atau melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya. Ada beberapa karakteristik khas bagi orang-orang yang menyukai gaya belajar visual ini:
– Kebutuhan melihat sesuatu (informasi / pelajaran) secara visual untuk mengetahuinya atau memahaminya
– Memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna
– Memiliki pemahaman yang cukup terhadap masalah artistic
– Memiliki kesulitan dalam berdialog secara langsung
– Tidak terlalu reaktif terhadap suara, jadi sulit mengikuti anjuran secara lisan sehingga seringkali salah menginterpretasikan kata atau ucapan

Ciri-ciri Gaya Belajar Visual ini yaitu:
1. Cenderung melihat sikap, gerakan, dan bibir guru yang sedang mengajar.
2. Bukan pendengar yang baik saat berkomunikasi.
3. Saat mendapat petunjuk untuk melalukan sesuatu biasanya akan melihat teman-teman lainya baru kemudian dia sendiri yang bertindak .
4. Tak suka bicara di depan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain. Terlihat pasif dalam kegiatan diskusi.
5. Kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan.
6. Lebih suka peragaan daripada penjelasan lisan.
7. Dapat duduk tenang ditengah situasi yang ribut dan ramai tanpa terganggu.

Psikolog mencontohkan di keseharian kita biasanya jika anak Visual meminta sesuatu pada kita, dia akan minta kita untuk menoleh dan menatap dia jika kita memberikan respons atau jawaban. Yang lucu, saya jadi terbuka mata jika suami saya itu ternyata tipe visual. Sepertinya saya harus banyak memberikan tampilan visual yang lebih baik jika ingin tetap disayang misua, hehehe…

AUDITORI (Auditory learners)
Gaya belajar auditori mengandalkan para pendengaran untuk memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan.
Artinya , mereka harus mendengar , baru kemudian mereka bisa mengingat dan memahami informasi itu.
Ada beberapa karakteristik yang khas bagi orang-orang yang menyukai gaya belajar auditori ini:
– Semua informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran
– Memiliki kesulitan untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung
– Memiliki kesulitan menulis ataupun membaca

Ciri-ciri Gaya Belajar Auditori yaitu:
1. Mampu mengingat dengan baik penjelasan guru di depan kelas, atau materi yang didiskusikan dalam kelompok/kelas
2. Pendengar ulung
3. Cenderung banyak omong 😀 😀 😀
4. Tidak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya
5. Kurang cakap dalam mengerjakan tugas mengarang/menulis
6. Senang berdiskusi dan berkomunikasi dengan orang lain
7. Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru di lingkungan sekitarnya, seperti hadirnya anak baru, adanya papan pengumuman di pojok kelas, dll

Wah, gaya auditori ini benar-benar Faishal banget. Karena tahu ini, saya nanti akan coba jadi lebih sabar buat menghadapi si sulung Faishal. Dia banyak ngomong, tapi jika harus mengerjakan tugas suka mau lekas-lekas selesai, dengan tulisannya yang kayak cakar ayam. Dia lemah di matematika. Sudah tiap hari di drill, tetap saja jika ketemu latihan baru, pelajaran yang lalu jadi hilang semua. Waktu kecil hafalan dia bagus sekali, sekarang mulai berkurang karena banyak pelajaran yang harus dia baca setiap hari. Itu pun saya harus sering bantu mengulanginya biar lebih paham. Sekarang saya tahu bahwa tipe auditori akan lebih efektif jika didampingi dalam belajar, jadi saya nggak bisa lepas Faishal belajar sendiri jika ingin memastikan dia paham materi yang harus dia kuasai.

KINESTETTIK (Kinesthetic Learners)
Gaya Belajar Kinestetik mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. Karakter pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. Hanya dengan memeganggnya saja, seseorang yang memiliki gaya belajar ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya.

Ciri-ciri Gaya Belajar Kinestetik yaitu:
1. Menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya, termasuk saat belajar
2. Sulit berdiam diri atau duduk manis, selalu ingin bergerak
3. Mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya aktif. Contoh saat guru menerangkan pelajaran, dia mendengarkan sambil tangannya asik menggambar atau mencoret-coret
4. Suka menggunakan obyek nyata sebagai alat bantu belajar
5. Sulit menguasai hal-hal abstrak seperti peta, symbol, dan lambang
6. Menyukai praktek langsung atau percobaan
7. Menyukai permainan dan aktivitas fisik

Nah, saya tersadar juga bahwa Shodi dan Daffa, si nomor 2 dan 3, adalah tipe kinestetik. Mereka lebih suka belajar dengan diberi contoh. Selain itu mereka dari kecil suka menghabiskan kertas (entah sudah berapa ribu rim ya…) buat corat-coret, menggambar maupun menulis cerita. Tembok rumah pun jadi saksi korban kekreatifan tangan anak berdua itu. Jadi ingat di rapor Shofi waktu kelas 3 sampai ditulisi pesan gurunya agar ananda Shofi mengurangi kegiatan menggambar ketika mengikuti pelajaran. Hehehe…gurunya perlu tahu bahwa anak meskipun sibuk corat-coret ternyata dia juga sedang menyimak pelajaran ya. Oya, ketika gadget tidak saya sediakan di rumah buat anak-anak, mereka tetap asyik aja karena selalu sibuk mencari aktivitasnya sendiri, entah itu memasak, bereksperimen, buat komik, bikin prakarya dan lain-lain. Ini juga buat uji kesabaran saya yang kadang suka uring-uringan karena rumah sering dibuat berantakan sama anak berdua itu.
So, benar seminar parenting ini sangat bermanfaat. Dengan mengetahui gaya belajar anak-anak maka kita akan mempunyai pegangan yang berguna untuk menerapkan lingkungan pembelajaran yang sesuai dengan karakter anak dan membuat belajar menjadi lebih menyenangkan untuk mereka. Karena itu, setelah acara seminar, saya menyempatkan meminta tes fingerprint untuk melihat lebih lanjut potensi dan kecenderungan belajar si sulung, Faishal. Biayanya satu juta rupiah. Buat saya nilai itu tidak seberapa buat menggali potensi buat masa depan anak.

Taking A Gift From Our Students

Akhir semester telah tiba. Seperti biasa, wall FB teman2 dosen saya pasti akan penuh dengan beragam selfie and wefie dengan para mahasiswanya. Hanya bisa geli campus gemas saja, karena beberapa dari mereka jor-joran pameran kado dari mahasiwanya. Saya cuma bisa mengelus dada saja, toh itu wall mereka.

Saya dari dulu tidak pernah mau upload foto2 dengan mahasiswa saya di FB meskipun mereka juga mengemail hasil foto kuliah terakhir kita. Kuliah terakhir cukup berarti saya selesai melakukan kewajiban saya sebagai pengajar mereka. Buat saya pameran foto kuliah akhir itu seperti kita nyumbang ilmu ke orang lalu kita pamer2kan ke seluruh dunia bahwa ini loh, kita sudah tuntas kasih ilmu ke mahasiswa…riya sekali. I don’t know, I just want to do things the way it should be, I don’t want to be popular or spectacular at all. I don’t have to show everyone that I’ve made it to the end of the semester, that’s all. Biasa aja keleeess…mungkin juga karena saya sudah mengajar mahasiswa dari 1995 dan sepertinya nggak lucu juga kalau saya masih wefie2 centil lutju imut2 on FB di usia separuh baya gini 😀 😀 😀   Saya sudah narsis duluan di FB 9 thn lalu dan kalo skrg mau pun juga saya sudah punya blog ini or Path buat ajang saya, anti deh saya nampil di FB n IG buat semester end celebration, that’s suits my much younger fellow lecturer.

Sama dengan menerima bingkisan atau kado dari mahasiswa, saya paling tidak bisa dan sangat tidak suka menerimanya. Memang sih saya punya beberapa kado dari mantan siswa saya, tapi catat itupun mereka berikan ketika mereka sudah bukan jadi mahasiswa saya, mereka sudah jadi teman kerja saya. Akan lebih bermakna sekali buat saya jika mereka memberikan sesuatu di masa lepas dari kampus ketika mereka masih mengingat kita sebagai orang yang pernah berbagi ilmu dengan mereka dahulu, dan itu invaluable sekali buat saya, meskipun hanya berupa gambar karikatur saya, sekotak coklat, bros kecil, mug, atau kotak tisu saja. Gravatar saya ini, contohnya, adalah kreasi mantan saya, eh mantan mahasiswa saya 🙂 🙂 🙂

Alasannya saya tidak mau kado mahasiswa sih simple aja, that’s against my value. There will always be implications behind accepting the gift. I never believe if the gift is intended as a thank you for some special situation, with no intent to influence me. Some, perhaps,you may say it is more gracious to accept the gift than insult someone attempting to express gratitude, but for me I just want to be professional. Saya yakin pasti akan ada possibility of a conflict of interest. I want to be as objective as possible in evaluating students and structuring my courses. Saya berprinsip menerima hadiah saat masih jadi dosen  akan mengantar kepada ketidakadilan dan memutuskan sesuatu tidak dengan sebenarnya. Dari Abu Humaid as Sa’idi , Rasululloh SAW pernah bersabda: Hadiah pegawai termasuk ghulul (khianat) (HR. al Baihaqi dalam as Sunan as Shugro 3267 dan dishohihkan oleh syaikh Albani dalam shohihul Jaami’ 7021). Satu lagi, saya tidak mau dengan menerima hadiah, it might signal to other students that they should consider giving gifts as well, atau lebih parah lagi berpikiran bahwa semua dosen harus diberi hadiah saja supaya adil. Saya karena dari awal sudah memilih mengajar sebagai profesi dan ladang ibadah saya, maka yang lebih pantas bagi saya adalah sebaiknya tidak merima haidah agar ilmu mereka murni semata karena Alloh Ta’ala pula. Saya tidak melihat sesuatu yang lebih mudah dan menenangkan hati dari kehati-hatian Kata hadis Bukhori kan “Tinggalkan apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu” maka tanpa ragu lagi saya anggap menerima hadiah dari mahasiswa adalah haram buat saya.

So, saya sering mengecewakan mahasiswa saya dengan menolak kado mereka. Ada juga yang bilang ini bukan kado Ma’am…cuma plakat saja (ada nama saya di situh , oh nooo, sami mawon kids…). Pokoke emoh nggak mau kado2 dr mahasiswa, cah…dosenmu iki THP ne wis ngungkuli Eselon 3, hayoo wani ngado sesuai seleraku ? 😀 😀 😀 Really I do not want to let them down karena mereka sudah menyiapkan jauh-jauh hari buat saya. I do appreciate their concern, but saya selalu berusaha menolak dengan halus. Pernah saya dengan cara pura-pura menerima, kemudian saya berikan lagi kepada ketua kelas sebagai hadiah saya buat dia saat itu juga dan dia tidak boleh menolaknya. Pernah juga cukup dengan mengatakan saja that’s so considerate and sweet of them to give me such a gift, but thanks anyway I don’t take any gifts from students. Tapi saya katakan saya hargai perhatian mereka, dan mereka tidak memaksa. Intinya saya tekankan meskipun kado itu is just a sincere appreciation out of their heart for me, saya lebih suka mereka mengenangnya dalam hati sebagai budi harus mereka balas kepada orang lain dengan kemauan untuk berbagi ilmu saya kepada siapa saja yang perlu dengan ilmu itu. Isn’t that so much sweeter? Saya cuman minta didoakan mereka saja supaya saya akan tetap sehat buat mengajar terus, and that’s more than any gift in the world.

Tapi ada dua kejadian tentang urusan kado2an ini yang tidak akan pernah saya lupakan. Sekitar tahun 2004 ada kelas mahasiswa pajak yang sebagian besar dari Indonesia bagian timur. Di akhir kuliah, salah seorang dari mereka memaksa saya menerima kado dia meskipun saya menolaknya. Dia ngotot mengatakan itu bukan kado bu, tapi oleh-oleh dari ibunya di Kalimantan dan kata ibunya salam buat saya, lalu dia segera lari pergi tanpa mempedulikan teriakan saya untuk kembali. Dia anak yang paling pintar di kelas saya, mungkin dia merasa concern dengan teman2nya yang dari Papua yang dalam daftar saya akan saya berikan D karena malas dan juga memang nggak bisa dibantu dengan cara apa pun di matkul saya. Saya cukup gemas waktu itu, saya buka kadonya, isinya kain songket halus (sampai sekarang masih ada di rumah saya, nggak akan saya pakai seumur hidup). Saya cukup kagum juga dengan keberanian dia, tapi saya diskon nilai dia dari semula A menjadi B- karena mencoba menyuap dosennya. Saya merasa gagal mengubah attitude mahasiswa saya bahwa kita harus sportif dan berani menerima penilaian obyektif dari dosen. Nilai itu cuma sebuah angka di atas secarik kertas, tapi dia tidak menunjukkan jati diri murid itu sebenarnya. (Saya juga heran, mengapa mahasiswa sekarang lebih penting dapat nilai bagus daripada dapat kuliah yang bagus. Mereka kurang menghargai proses…). Wanti2 aja buat mahasiswa saya nih kalau ngga mau nilai attitude saya kurangi, jangan coba2 kasih2 barang sama saya. Titik. (muka jutek). Nilai bagus harus diperjuangkan ya kids, dengan kesungguhan dalam mengikuti kuliah, keseriusan dan ketabahan dalam mengerjakan tugas2 dari dosen, kemampuan bekerja sama dengan teman belajar, partisipasi kelas, dll…kalau itu kalian tunjukkan nggak bakalan saya kasih kalian D, paling apes juga C itu pun kalo kalian kebangetan KSA nya, you can have my words.

Dan yang terakhir adalah hari Rabu minggu lalu, 11 Feruari 2015 di akhir kelas sang ketua kelas memberikan bingkisan dengan kertas kado warna biru. Saya tanya apa itu, mereka bilang it’s a token from our heart to show their deepest thank you for teaching them. Saya terangkan bahwa I just can’t take any gift from my students since it’s against my norms. I kindly told them no thank you, but they insisted. I insisted no thank you again, and they re-insisted. Really, the student put me in an awkward position of being an authoritarian person who cannot participate in typical activities (maksudnya accepting small favors or gifts). I told them that it should be clear that I’m a teacher, but a teacher can still be warm and approachable, and they can still be my friends forever, even after the semester is over. I reminded them that I did mention on my very first meeting in my class is that all I want to see from a student is their best effort in my class. That’s is truly a gift for me. Suddenly I got too emotional.

It was such a mixed feeling inside. Too me, balancing act between me feeling uncomfortable accepting the gift and making the giver feel uncomfortable rejecting the gift is very, very difficult. Saat itu yang terlihat di mata saya adalah betapa lugu dan tidak merasa bersalah mereka hingga sampai empat kali mereka bolak-balik memaksa saya menerima kado mereka. Langsung terbayanglah wajah anak2 saya (Faishal, Shofi, Daffa, Afia) dengan wajah lucu imut mereka meminta guru mereka menerima kado mereka dan bu guru tidak mau karena takut dosa. Seketika mata saya memerah dan berhamburanlah airmata saya tanpa bisa saya hentikan. Saya terlalu marah tapi kehabisan kata-kata untuk menjelaskan mereka, bahwa sebenarnya saya sayang mereka tetapi saya hanya ingin berhati-hati saja dalam menyikapi hadiah. Mereka akhirnya berhenti memaksa begitu melihat saya keluar air mata sambil gemeteran ngomong “You can give anything to your lecturers but not ME! End of discussion!”. It was a mixed feeling inside, antara gemas, sedih, marah, tidak berdaya, dan kasihan campur baur jadi satu. Lugu mereka itu keterlaluan buat saya kalau sampai tidak bisa membedakan mana itu ungkapan sayang atau mana itu gratifikasi (udah dapat kuliah Anti Korupsi belom sih?)…. Saya cuma bilang next time please ask your lecturer whether he or she is OK with a gift. Nyesel juga agak blow up, ya apa daya saya kan Arema yang kalo esmosi susah direm. Tapi dalam hati saya berdoa, semoga mahasiswa saya sadar bahwa yang mereka lakukan itu tidak bisa diterapkan ke semua dosen, bahwa masih ada dosen yang tidak bisa mereka beri hadiah dan begitu tulus mengajar mereka hanya demi mencari ridha Allah semata. Well, turning down a gift is often seen as rude, but I just cant take a “collective gift” (saya tahu mereka urunan buat beli kado) dan again…saya rela dianggap dosen nggak asik dan jaim daripada saya harus mengorbankan value saya. I hope someday they will understand me.

enjoy