Coping with Rising Prices

Semua serba naik euy!
Semua serba naik euy!

Do you remember when life was simple and everything was cheap in our country? If you say no, you might think that it’s just a dream to live in a place where you could buy anything you wanted for next to nothing! Well, there’s no denying that life is getting more and more expensive – the latest in March is the prices of shallot and garlic rise steeply beyond our imagination. Shall we only blame on our government’s incapability in managing the agriculture sector, especially related to food imports? I think that is not the solution to face the rising prices. Remember, we’ve been dealing with so many rising prices and costs form time to time: electricity, gas, food, and so on. Some people are able to survive, some others don’t. And many agree that the best thing to do to cope with the rising cost of everything is just managing your money. Angeline Tan, a Certified Financial Planner with Great Eastern Life says that the successful people who can manage and save money are those who plan and have budgets. If you see yourself now crippled by the rising prices, you might have something wrong with your personal budgeting.

Here are the things to manage your money so as you can survive in times of inflation, taken from Maura Fogarty from Reader’s Digest Asia.

The first thing to do is to determine your monthly income: salary, TKPKN, honorarium, rental income from your owned property, and anything that comes in a monthly basis. Then, figure out how much you spend. Keep all the bills and receipts you have collected and write down everything you have paid for in a month. Track every single expenditure, whether by cash or credit card, because you need to have an accurate data before keeping up a good budget. While doing this, you might be surprised with your “losing money” list: but keep on being honest in tracking so that you can solve your problem.

The next step is to categorize your list of income and expenses into three groups: fixed expenses, committed expenses and discretionary expenses. Fixed expenses are things that don’t change from month to month, such as your housing, insurance, taxes and car payments. If you pay the expense annually, just divide the sum by 12 to get the monthly cost. Committed expenses are things you’re committed to, such as utilities, mobile phone charges, food, transportation, credit card payments, children’s school fees, and allowances for parents.  Everything else falls under discretionary expenses: spending on clothing, entertainment, school books, children’s extra-curricular activities, medical bills, gifts, vacations, etc.

If you have written everything down, you’ll have a picture of where your money goes so far. It’s now the time to review your list and starting out to make a budget.

What do you see in your list? Do you spend more than you earn? If the answer is yes, it’s time to reduce your spending. Look at your discretionary expenses and figure out which ones that are easiest to cut back. Perhaps you can visit a mall once in every two weeks to avoid impulse shopping or some undoing there by taking a shopping list with you. Try eat out once in two weeks instead of weekly. Forget about keeping up with new gadget or new high-tech toys. Then look at your committed expenses. You must make a bit life style changing, or else you won’t be able to save money and keep up with the rising prices. Reduce the bill for your phone and the internet, save electricity and water to reduce utility bills, and figure out cooking without much use of expensive food stuff such as garlic, onion, shallot, chili, etc. Try to take a bus or train instead of a taxi or private car.  It’s hard in the beginning, but keep remembering that you are doing these to make a good budget.

Now you’re just starting out to make a budget. There is a 50-30-20 plan suggested by Harvard professor Elizabeth Warren. That means: your fixed and committed expenses should make up half of your after-tax income; 30 percent is discretionary spending and the final 20 percent goes to savings. (Some might say that the amount of saving depends on your situation: whether you are single, married, or married with other families living with you. But 20%, according to Elizabeth Warren, is the least you should save which can be taken occasionally for emergency reasons). Can you just do that? You won’t know unless you try. Well, we might not be able to control the rising prices and the cost of living, but the above tips are just what you need to get the most of your money.

References

“How to Manage Your Money” by  Maura Fogarty accessed March 19, 2013 from http://www.rdasia.com/how-to-manage-your-money

“How to Cope with Rising Food Prices” by Jean Chatzky, accesses March 25, 20133 from http://www.dailyfinance.com/2011/03/11/how-to-cope-with-rising-food-costs/

Keynote Speech

Seminar Perencanaan Keuangan Keluarga 2013
Seminar Perencanaan Keuangan Keluarga 2013

Pusdiklat Keuangan Umum tempat saya bekerja sering sekali mengadakan seminar. Sebagai Widyaiswara, saya selalu diikutkan di kepanitiaan seminar. Yang berat bagi saya adalah jika harus menjadi ketua panitia seminar, karena di samping harus mencari narasumber atau penyaji yang tepat, kita juga diminta menyiapkan keynote speech dan juga membantu membuat proceeding setelah seminar. That’s a lot of works for sure.

Saya mau sharing beberapa contoh keynote speech yang pernah saya buat untuk seminar di tempat saya. Membuat keynote speech bisa dibilang gampang-gampang susah. Tapi intinya sih kuncinya keynote speech adalah motivation. Makanya keynote speech harus bisa membuat para hadirin jadi ingin  pursue and achieve professional and personal goals. Saya suka mengamati gaya Kepala Pusdiklat KU membawakan keynote speech dengan banyak cerita, kadang humor, dan yang jelas ada a call to action. Asyik banget menyimaknya, karena beliau sering memakai sambutan yang saya siapkan sebagai reminder saja, beliau lebih banyak berimprovisasi di luar teks.

Okay silakan dibaca…

***

Keynote Speech

KEPALA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PADA

SEMINAR PERSIAPAN PENSIUN

“PERSPEKTIF PSIKOLOGIS DAN PERENCANAAN KEUANGAN”

PUSDIKLAT KEUANGAN UMUM, 29 MARET 2011

  1. Yth. Ibu Rieny Hassan, S.Psi. (sebagai Pembicara I)
  2. Yth Bapak Ahmad Gozali, Perencana Keuangan dari Safir Senduk (sebagai Pembicara II)
  3. Yth Bapak Mukhtar Yahya Widyaiswara Utama Pusdiklat Keuangan Umum (sebagai Moderator)
  4. Yth Kepala Pusdiklat Keuangan Umum (selaku pemrakarsa seminar ini)
  5. Yth Sekretaris Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, para Kepala Pusdiklat dan Direktur STAN,
  6. Yth Para undangan dan peserta seminar yang berbahagia

Assalamu’alaikum Warohmatullohi wa barokatuh

Salam sejahtera untuk kita semua

Saudara-saudara sekalian,

Pada pagi hari berbahagia ini, kita akan melaksanakan seminar sehari tentang persiapan masa pensiun pegawai,  yang dalam hal ini menggunakan pendekatan yang ditinjau dari perspektif psikologis dan perencanaan keuangan.

Seminar  ini terselenggara atas kerja sama antara BPPK cq Pusdiklat Keuangan Umum, Bapepam-LK dan Ikatan Akuntan Indonesia.

Seperti yang kita ketahui, Manusia tidak terlepas dari aktivitas bekerja. Ada orang yang bekerja untuk mencari uang, ada yang bekerja untuk mengisi waktu luang, ada pula yang bekerja untuk mencari identitas, dsb. Apapun alasan manusia bekerja, semuanya adalah untuk memenuhi kebutuhannya. Menurut Maslow ( dalam Atkinson, 2000) kebutuhan manusia secara garis besar dapat dibagi atas : kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan dimiliki, kebutuhan harga diri, dan aktualisasi diri. Alasan seseorang bekerja bisa memenuhi salah satu kebutuhan yang diutarakan oleh Abraham Maslow.

Bila ditelusuri lebih jauh, suatu pekerjaan lebih berkaitan dengan kebutuhan psikologis seseorang dan bukan hanya berkaitan dengan kebutuhan materi semata. Secara materi, orang bisa memenuhi kebutuhan sandang pangan melalui bekerja. Namun secara psikologis arti bekerja adalah menimbulkan rasa identitas, status, ataupun fungsi sosial (Steers and Porter, 1975). Seseorang biasa menjawab bahwa “Saya dosen di PS. Psikologi”, “Saya praktek dokter di RS X….”, “Saya seorang Pegawai Negeri di …”. Hal ini menunjukkan bahwa bekerja merupakan bagian dari identitas diri. Dengan perkataan lain, orang merasa berharga jika ia bisa mengatakan posisi dan pekerjaannya. Semakin lama seseorang bekerja, tentunya identitas itu akan semakin melekat pula. Kondisi fisik manusia untuk bekerja ada batasannya, semakin tua seseorang, semakin menurun kondisi fisiknya, maka beriringan dengan hal itu produktivitas kerja pun akan menurun. Pada waktunya seseorang akan diminta untuk berhenti bekerja, yang awamnya dikenal dengan istilah pensiun. Masa pensiun ini dapat menimbulkan masalah karena tidak semua orang siap menghadapinya. Pensiun akan memutuskan seseorang dari aktivitas rutin yang telah dilakukan selama bertahun-tahun, selain itu akan memutuskan rantai sosial yang sudah terbina dengan rekan kerja, dan yang paling vital adalah menghilangkan identitas seseorang yang sudah melekat begitu lama (Warr dalam Offord, 1992). Tidak heran masa pensiun ini menimbulkan masalah psikologis baru bagi yang menjalaninya, karena banyak dari mereka yang tidak siap menghadapi masa ini. Ketidak–siapan menghadapi masa pensiun pada umumnya timbul karena adanya kekhawatiran tidak dapat memenuhi kebutuhan–kebutuhan tertentu. Perubahan yang diakibatkan oleh masa pensiun ini memerlukan penyesuaian diri. Atchley (1977) mengatakan bahwa proses penyesuaian diri yang paling sulit adalah pada masa pensiun. Bahkan penelitian yang dilakukan oleh Holmes dan Rahe (1967), mengungkapkan bahwa pensiun menempati rangking 10 besar untuk posisi stress. Dengan memasuki masa pensiun, seseorang akan kehilangan peran sosialnya di masyarakat, prestise, kekuasaan, kontak sosial, bahkan harga diri akan berubah juga karena kehilangan peran (Eyde, 1983). Bahkan akibat yang paling buruk pada pensiunan adalah bisa mengakibatkan depresi dan bunuh diri (Zimbardo, 1979). Sedangkan akibat pensiun secara fisiologis oleh Liem & Liem (1978) dikatakan bisa menyebabkan masalah penyakit terutama gastrointestinal, gangguan saraf, berkurangnya kepekaan. Ia menyebut penyakit di atas, dengan istilah retirement syndrome. Dampak pensiun bukan hanya bersifat negatif saja, namun juga terdapat dampak positifnya, yakni seseorang bisa terbebas dari rutinitas kerja. Ada perasaan puas karena sudah berhasil menyelesaikan tugas dan kewajibannya. Bahkan Perlmutter (1981) mengatakan bahwa sebagian besar kaum pension menunjukkan perasa puas, tetap merasa dirinya berguna dan dapat mempertahankan rasa identitasnya. Rasa depresi dan kecemasan yang timbul biasanya berada pada tingkat ringan dan sifatnya hanya sementara. Kalaupun depresi bertambah hal itu disebabkan oleh gangguan fisik dan bukan karena masa pensiun itu sendiri. Walaupun reaksi seseorang terhadap masa pensiun bisa berbeda-beda, tetapi dampak yang paling nyata dalam kehidupan sehari-hari adalah berkurangnya jumlah pendapatan keluarga. Di Indonesia, khususnya pensiunan Pegawai Negeri Sipil kondisi keuangan lebih menyedihkan. Data yang diperoleh dari Kompas, 2001 bahkan ada pensiunan golongan I yang menerima rapel kenaikan pensiunan dari bulan Januari sampai dengan Juli 2001 hanya sebesar Rp. 700,00 ( tujuh ratus rupiah saja). Artinya kenaikan yang diterimanya hanya sebesar Rp.100,00 ( seratus rupiah) per bulannya. Sebagai seorang kepala keluarga tentunya hal ini bisa menimbulkan stress kepada seluruh keluarga, dalam hal ini istri dan anak. Terlebih jika anak belum bekerja bahkan masih kuliah, sementara istripun tidak bekerja. Selama ini yang menjadi patokan untuk memasuki masa pensiun adalah faktor usia dimana pekerja dianggap mulai kurang produktif. Di negara barat, seseorang baru memasuki masa pensiun jika ia berusia 65 tahun. Ketika seseorang memasuki masa tersebut secara psikologis ia sudah masuk pada kategori dewasa akhir atau yang lebih dikenal dengan istilah manula. Artinya dari segi produktivitas kerja sudah menurun, dan dari tugas perkembangan pun mereka telah dipersiapkan untuk menikmati kehidupan mereka. Sementara di Indonesia situasinya berlainan, seseorang memasuki masa pensiun ketika ia berusia 55 tahun. Meskipun bagi golongan Pegawai Negeri Sipil tertentu batas usia tesebut di tambahkan, karena keahliannya. Usia 55 tahun secara psikologis masuk dalam kategori dewasa menengah, mereka masih cukup produktif dan belum dapat digolongkan orang manula. Pada masa ini seseorang masuk pada tahap reevaluasi diri. Pertanyaan seperti “Apakah saya sudah berhasil dalam hidup?”, “Apa yang akan saya lakukan dalam sisa hidup saya?”,akan muncul dalam pikiran orang dewasa menengah. Biasanya, seseorang pada masa ini akan berada pada puncak karir. Tetapi keadaan ini tidak akan berlangsung lama khususnya untuk orang di Indonesia karena sudah harus pensiun. Tidak dapat dipungkiri bahwa kekuatan fisik mereka mulai menurun, tapi mereka masih cukup produktif. Tidak heran jika hal ini bisa menimbulkan konsekuensi psikologis tertentu; disatu pihak mereka masih mampu bekerja tapi dipihak lain harus berhenti bekerja karena peraturan perusahaan. Ditinjau dari sudut pandang psikologis, pensiun menyebabkan seseorang

akan mempertanyakan kembali “Siapa diriku?”. Hal ini dikenal dengan istilah konsep diri, atau self concept. Menurut Sullivan dalam Wrightsman ( 1993) konsep diri adalah bagaimana kita melihat diri kita sebagaimana orang lain melihat kita. Prinsipnya adalah penilaian yang direfleksikan kembali atau reflected appraisal. Konsep diri merupakan hal yang penting artinya dalam kehidupan seseorang, karena konsep diri menentukan bagaimana seseorang bertindak dalam berbagai situasi. Jika kita memahami konsep diri seseorang kita akan mampu memahami tindakan dan juga dapat meramalkan tingkah lakunya dikemudian hari. Konsep diri berkatian dengan dengan kesehatan mental seseorang (Biren, 1980). Dengan kata lain jika konsep diri seseorang positif maka hal ini akan mempengaruhi kesehatan mentalnya juga. Hurlock (1978) mengatakan bahwa seseorang yang mempunyai konsep diri positif adalah jika ia berhasil mengembangkan sifat-sifat percaya diri, harga diri dan mampu melihat dirinya secara realistik. Dengan adanya sifat–sifat seperti ini orang tersebut akan mampu berhubungan dengan orang lain secara akurat dan hal ini akan mengarah pada penyesuaian diri yang baik di lingkungan sosial. Orang yang mempunyai konsep diri negatif sebaliknya akan merasa rendah diri, inadekuat, kurang percaya diri. Diprediksi bahwa orang yang mempunyai konsep diri negatif akan mengalami hambatan dalam proses penyesuaian dirinya di lingkungan baru. Masa pensiun bisa mempengaruhi konsep diri, karena pensiun menyebabkan seseorang kehilangan peran (role), identitas dalam masyarakat yang dapat mempengaruhi harga diri mereka (Turner, 1961). Pensiun akan menyebabkan seseorang kehilangan perannya dalam masyarakat yang selanjutnya mempengaruhi statusnya dan pada akhirnya bisa mempengaruhi konsep diri menjadi negatif. Akibat psikologis dari hal ini adalah nantinya akan mempengaruhi kesehatan mental seseorang, dan juga proses penyesuaian dirinya. Intervensi dalam menghadapi masa pensiun penting dilakukan oleh perusahaan. Sebagian besar perusahaan memang sudah membuat program pensiun untuk menghadapi masalah keuangan, tapi belum banyak yang tertarik untuk melakukan intervensi untuk menghadapi konflik psikologis yang dihadapi para pensiunan. Mengingat usia pensiunan di Indonesia masih dalam tahap dewasa menengah, yang secara psikologis masih dapat dikatakan produktif, tentunya dampak dari proses pensiun ini bisa menimbulkan efek psikologis yang lebih berat.

Saudara-saudara sekalian,

Setiap orang tentunya membutuhkan perencanaan keuangan. Mengapa? Karena setiap orang pasti pernah menghadapi masalah keuangan, entah itu kekurangan uang, atau justru kelebihan uang. Perencanaan keuangan juga menghadirkan berbagai manfaat berikut: memungkinkan kita mengelola pengeluaran dengan bijak, sehingga menghindari terjadinya defisit; mengakumulasikan kekayaan secara konsisten; memaksimumkan produktivitas uang; mengelola risiko finansial; meningkatkan standar kehidupan; dan menghadapi masa pensiun. Suka atau tidak pensiun itu pasti datang (jika kita memiliki usia yang panjang). Oleh karena itu diperlukan perencanaan keuangan yang baik untuk menghadapi masa pensiun agar terhindar dari masalah keuangan.

Kata  pensiun menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian orang. Alasannya, mereka khawatir tidak bisa lagi hidup layak seperti saat mereka masih produktif bekerja. Kekhawatiran itu sebenarnya bisa ditepis dengan cara merencanakan pensiun sejak sekarang. Bahkan, hampir seluruh perencana keuangan (financial planner) menyarankan agar hal itu dilakukan sedini mungkin, sejak usia masih muda. Sayang, kebanyakan masyarakat baru menyadari pentingnya perencanaan pensiun ketika masa itu sudah dekat.

Fakta yang ada, banyak diantara kita utamanya pegawai yang masih muda dengan kisaran usia 20 tahunan hingga awal 30 tahunan lupa bahkan tidak memikirkan masalah pensiun sama sekali karena berpikir  bahwa pensiun masih jauh dan pegawai negeri dapat uang pensiun selama hidupnya, lebih baik memikirkan kebutuhan finansial lain seperti  memiliki rumah, membeli makanan dan perlengkapan anak. Sebagai konsekuensi atas prioritas kebutuhan maka kebutuhan jangka pendeklah yang ‘wajib’ diperhatikan dan dilakukan terlebih dahulu, kebutuhan pensiun ‘nyaris’ dilupakan.

Tentu, siapa pun ingin agar saat pensiun bisa hidup memadai dan kualitas hidup tidak menurun. Kami berharap dengan adanya seminar ini para pegawai yang akan memasuki masa purnabhakti mampu mengenali pola pengaturan keuangan dan mengatur kembali kondisi keuangannya menjelang pensiun, menyiapkan sumber penghasilan pasif di masa pensiun, mengatur alokasi uang pensiun yang diterimanya dengan optimal, serta mengenali aspek keuangan berwirausaha.

Saudara-saudara sekalian,

Pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya, khususnya kepada Ibu Rieny Hassan dan Bapak Ahmad Gozali yang telah bersedia menjadi pembicara pada seminar ini, juga kepada Bapak Muhtar Yahya yang bertindak sebagai moderator.

Kepada para peserta seminar, selamat berseminar, semoga bermanfaat baik untuk saudara maupun intitusi saudara.

Selanjutnya, dengan mengucapkan Bismillahirrohmannirrohim, Seminar Persiapan Pensiun “Perspektif Psikologis Dan Perencanaan Keuangan”, saya nyatakan resmi dibuka.

Sekian, terimakasih.

Wassalamu’alaikum WarohmatuLohi wabarokatuh

Kepala BPPK

Kamil S.

***

Seminar Pusdiklat Keuangan Umum
Seminar Pusdiklat Keuangan Umum

Keynote Speech

KEPALA PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN UMUM

PADA

SEMINAR ‘PERENCANAAN KEUANGAN KELUARGA

23 DESEMBER 2013

  1. Yth. Pembicara Seminar: Ibu Ligwina  Hananto
  2. Yth Para Pejabat Struktural dan Fungsional di lingkungan Kemenkeu
  3. Yth Para undangan dan peserta seminar yang berbahagia

Assalamu’alaikum Warohmatullohi wa barokatuh

Salam sejahtera untuk kita semua

Saudara-saudara sekalian,

Pada pagi hari berbahagia ini, kita akan melaksanakan seminar sehari tentang Perencanaan Keuangan Keluarga .

Seminar  ini terselenggara atas kerja sama antara Pusdiklat Keuangan Umum – BPPK dan QM Financial.

Saudara-saudara sekalian,

Pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ligwina Hananto yang telah bersedia menjadi pembicara pada seminar ini, juga kepada Bapak Muhtar Yahya yang bertindak sebagai moderator.

Saudara-saudara sekalian,

Saat ini kualitas pemahaman masyarakat Indonesia mengenai perencaan keuangan belum terlalu tinggi. Ini bisa dilihat dari banyaknya kasus investasi bodong karena ketidakpahaman tentang cara berinvestasi yang aman dan mebedakan produk legal dan illegal. Masyarakat yang paham akan soal keuangan akan memiliki kebisaan menabung dan investasi, serta lebih bijaksana dalam berkonsumsi dan berhutang.

PNS di Kementerian Keuangan dikategorikan kepada kelas menengah karena mereka memiliki pendidikan relatif tinggi dan memiliki penghasilan tetap, sehingga mudah memahami soal manajemen keuangan dan mempunyai kepentingan untuk mengelola keuangan secara sehat.  PNS sebagai kelas menengah diharapkan menjadi mesin penggerak ekonomi dan pendorong edukasi pengelolaan keuangan ke masyarakat.

Tetapi akhir-akhir ini banyak fakta yang diungkapkan media bahwa perilaku kelas menengah di Indonesia masih mencemaskan. Ini bisa kita lihat dari beberapa temuan berikut ini:

1/ Indonesia berada di posisi terbawah kedua sebelum Pakistan dalam skor ranking literasi keuangan. Ini adalah hasil survei Visa Internasional financial literacy 2012 di 28 negara melibatkan 25,500 responden. Temuan pertama, mayoritas responden Indonesia memiliki simpanan untuk dana darurat kurang dari 3 kali pengeluaran bulanan, masih jauh dari jumlah ideal dana darurat yang direkomendasikan perencana keuangan, yaitu minimum 6 kali pengeluaran bulanan.

Temuan lain, responden Indonesia berdiskusi keuangan dengan anak mereka hanya 5 hari dalam setahun. Tentu saja jumlah waktu yang jauh sekali dari ideal.

2/ Perilaku kelas menengah di 6 kota utama: penghasilan 75% digunakan untuk konsumsi, hanya 25% yang ditabung dan investasi. Hasil riset terbaru oleh Center for Middle Class Consumer Studies.

Idealnya, minimum 30% penghasilan disisihkan untuk simpanan serta investasi, sisanya baru untuk konsumsi dan cicilan hutang.

3/ Kelas menengah hanya investasi di reksadana, kurang dari 10% asset, mayoritas simpanan ditempatkan di tabungan. Ini adalah hasil dari Mark Plus 2012 (‘Rising Middle Class in Indonesia)  dan Harian Kompas 2013 yang melihat kepemilikan produk keuangan.

Seharusnya, karena rendahnya tingkat keuntungan tabungan, jumlah asset di tabungan tidak boleh besar, hanya cukup untuk memenuhi dana darurat dan kebutuhan jangka pendek. Mayoritas asset sebaiknya ditempatkan dalam investasi dengan return tinggi, seperti reksadana, saham dan obligasi.

4/ Dalam mempersiapkan dana pendidikan, mayoritas kelas menengah menempatkan di tabungan (43.5%) dan kurang dari 1% yang memilih reksadana. Hasil survei Harian Kompas pada Mei 2013 melalui telpon ke 700 an responden di 12 kota besar menanyakan bagaimana menyiapkan dana pendidikan anak.

Ini bukan pilihan yang bijaksana. Tabungan hanya memberikan keuntungan 4-5% setahun, yang tidak cukup mengejar kenaikkan biaya pendidikan yang sekitar 10% setahun. Pilihan seharusnya adalah reksadana, karena memberikan keuntungan yang sepadan atau lebih tinggi dari inflasi biaya pendidikan (berdasarkan pengalaman historis), namun mayoritas responden justru tidak memilih reksadana.

Yang lebih mengejutkan, ketika ditanya lebih lanjut, apakah mereka merasa aman dan cukup dengan pilihan ini (memilih tabungan ketimbang instrumen yang lain seperti reksadana), mayoritas menjawab ‘Ya’. Jadi, mereka tidak tahu kalau mereka itu tidak tahu.

Saudara-saudara sekalian,

Mendengar empat fakta yang sudah disebutkan tadi, maka memang seharusnya kita sebagai kelas menengah menjadi prioritas dalam edukasi pengelolaan keuangan, tentunya dengan pendekatan yang lebih advanced, yaitu bukan lagi pengenalan produk melainkan lebih pada eksekusi atau implementasi rencana.  Oleh karena itu hari ini kita akan mendapatkan pencerahan lebih mendalam mengenai pentingnya pengelolaan keuangan baik perorangan dan keluarga serta bagaimana implementasinya. PNS yang kuat perencanaan keuangannya maka akan menciptakan masyarakat yang mampu hidup berdaya, bisa menggerakkan roda perekonomian, bisa mendorong konsumsi dan investasi, selalu membayar pajak, dan dapat membiayai anggaran negara. Keberhasilan kita merencanakan keuangan kita akan menentukan masa depan Indonesia.

Kepada para peserta seminar, selamat mengikuti seminar, semoga bermanfaat baik untuk saudara maupun intitusi saudara.

Selanjutnya, dengan ini  ‘Seminar Perencanaan Keuangan Keuangan” saya nyatakan resmi dibuka.

Sekian, terimakasih.

Wassalamu’alaikum WarohmatuLohi wabarokatuh

Kepala Pusat

Tony Rooswiyanto