Riwayatku Dulu…

Saya lahir di Malang pada 29 Juni 1972 di RS Mardi Waloejo: di suatu malam yang dingin ibu n bapak jalan kaki dr rumah di jl. WR Supratman  mau kontrol kehamilan, nggak taunya pas depan RS Lavalette ketuban ibu pecah n harus naik becak ke MW, dan ngga pake lama nongolah diriku ke dunia. “Kowe nggak kanten tenan nduk,” kata ibuku, “tapi ibu tahu kalo kowe mesti anak sing pinter. Insyallah dadi wong” Amiin, doa pertama ibuku sejak kulahir di dunia terucap. (Btw, lha iyalah buk, dadi wong, mosok dadi bedhes ha ha ha).

Aku tumbuh dan besar di Malang, kota yang dingin dan indah. Bersekolah di TK Aisiyah Bustanul Athfal di jl. Bengawan Solo. Semasa SD bersekolah di SD Taman Muda I Taman Siswa di Jalan WR. Supratman. Muridnya sedikit, sampai kelas 6 kami cuma bersebelas orang satu kelas, cowoknya cuma dua: Yono dan Riza (yang ini sepupu aku malah). Masih terbayang guru-guruku di sana: Pak Kus, bu Siti, bu Diah, bu Endang Woro,  pak Pri, pak Luluk, kayanya yang leading characters cuma mereka itu, makanya masih inget semua. Oya ada pak Ran dan bu Ran, penjaga sekolah yang punya kantin buat jajan kita. Masa SD adalah masa yang cepat berlalu : setiap hari senam SKJ, baru masuk kelas untuk belajar. Gituu terus sampai 6 tahun. Yang aku suka dari SD-ku yaitu perpustakaannya, aku langganan baca tiap hari di sana, dan kegiatan karawitan dan menarinya. Bekal tari dan karawitan ini yang membuat kita (aku dan kakak-adikku sekolah di sana jg) sering manggung tiap tahun di acara-acara 17-an atau arisan keluarga.

Sejak kecil aku dididik untuk mandiri dan cekatan oleh ortu. Harus bisa bantu2 bersihin rumah dan cuci baju – setrika meskipun sudah ada pembantu. Sejak umur 5 tahun sudah sering disuruh belanja di tukang sayur sama toko kelontong, mencuci piring dan memasak. Aku ingat pas umur 6 tahun aku sudah bisa ndadar telor, nggoreng tempe, dan bikin urap2 sendiri. Tanganku sudah sering ketusuk, kepotong pisau, keslumut kompor, walah namanya juga anak2 kerjanya kusruh dan kesusu, jadinya accident mulu. Tapi menginjak SMP keahlian masakku jadi sudah level intermediate lah, soalnya dua buku resep sudah aku praktekkan dalam 3 tahun, jadi hapal bumbu luar kepala dan bisa bereksperimen dengan makanan.

Oya, aku sekolah di SMPN 3 Malang di Jl. Dr. Cipto (Bina Taruna Adiloka coi ^_^). Masuk tahun 1985 dan lulus 1988. Jadi anak yang biasa-biasa saja selama sekolah di situ. Pergi sekolah naik sepeda onthel dari rumah di Jl. Kalimosodo (rumah sekarang) barengan rombongan temen2 yang dari Nahelop: ada Agnes, Tina Kurnia, Astuti, Monica Peni, Nanang, Fuji, yg lainnya udah lupa namanya. Aku ikut ekskul Bina Musika pas kelas 2 kalo gak salah, jadi bisa kenal anak@ dari kelas lain. Guru2-nya sudah pada ngga ingat: cuma bu Wahyu Biologi yang galak n suka batuk njegil, bu Nyoman yang gemuk dan suka ngasih aku permen sehabis bantuin dia jualan di koperasi, bu Ely yang cantik dan sempat ngasih les renang privat buat 3 murid saja termasuk aku he he. Temen2 SMP yang lain? Dulu yang well-noted adalah Rinto Yuwono, Evi Trisulo Dharmo, Arum Indriasasi, Ariyo, si kembar Candra Yanti dan Candra Yana, si kembar Elvina dan Afif, Adhika Putra, Aji Seto, Yessy Natalia, Rosida the musician, itu aja seingatku dari angkatanku. Oya, yang aku suka di SMP 3  adalah pelajaran ketrampilan: memasak dan menjahit untuk anak putri. Aku suka masak, jadi hobiku tersalurkan di pelajaran ini. Masa SMP aku sempat terjerumus radio komunikasi: alias suka nge-break sampe lupa waktu. Kadang dengan orang asing, dari Australia terutama (pacar udara dulu Mr. Leo P. Vreedenburg qqkkk): dengan bahasa Inggrisku yang kurasa not bad lah…Aku gabung RAPI lokal Malang dan Orari, kebetulan karena kakak pertamaku jadi pengurusnya. Bisa berhentinya karena nilai kelas 1 di semester kedua turun semua (meski nggak jelek2 amat sih, yang 9 jadi 8, yg 8 jadi 7, yang 7 jadi 6 ha ha…. aku jadi shock dan langsung taubatan nasuha he he he, takut ngga naik kelas).

Lanjut sekolah di SMA 1 Malang, Mitreka Satata ho! Lulus tahun 1991. Oya, waktu kelas 1-I pernah psikotes dan disarankan ambil jurusan A4. Waktu itu daku merasa terhina, wong cita2ku jadi dokter kok, enak men nyaranin begitu, emang otakku ngga bisa apa masuk A1 atau A2? Akhirnya aku ambil A2, kelas Bigone, dengan teman2 Trisnie, Muji, Niska, Efi, Rini, Sri, Tut Wuri,  Tina, Dicky Irawan, Rudi Mardianto, Izrunizar, waduh lali sing liyane.  Ekskul ikut komputer dan Pioneer English Club (PCC). Singkat kata pelajaran kelas 2 dan 3 gampang saja dilalui. Terjadilah hal yang mengubah hidupku: EBTANAS, dan nilai matematika hancurr.  (Oya aku lupa, problem-ku sejak dari SD adalah setiap ujian akhir alias EBTA, kenapa aku selalu sakit. Waktu SD malah kena sakit mata, parraah deh. Nah pas SMP kena demam kalo gak salah. Pas SMA kena muntaber, ono2 ae…) Kata ibuku, “mosok calon dokter gak iso matematika?” Sediih deh. Tapi aku tetep keukeuh di UMPTN ambil jurusan kedokteran di pilihan 1 dan 2, dan pilihan ketiga ambil Sastra Inggris Unair. Dan hasilnya….ketrima di pilihan 3.

Jadilah aku mahasiswa FISIP Unair jurusan bahasa dan sastra Inggris. Mencoba enjoy saja, ternyata kuliah Inggris enak juga, yang penting gak ketemu lagi sama matematek dan kimia  lagi ha ha ha.  Sempat ngekos di Jl. Karang Menjangan cuma beberapa bulan, lalu pindah ke Asrama Putri Ekanita. Masa kuliah kurasa adalah masa yang paling menyenangkan, soalnya kita bener2 berlatih memanage diri sendiri: dari masalah uang sampai kegiatan sehari2. Ortuku ngga pernah kirim uang banyak, cuma seratus ribu per bulan (asrama cm bayar 75 rb waktu itu. Sisa uang 25rb hrs cukup sampai akhir bulan. Ortu nggak suka aku keseringan pulkam, mending nelpon aja di rumah kalo kangen, soalnya kalo aku balik Sby mesti mintak sangu lagi walaaah, nyusahin!). Karena aku anak yang hobby makan and nraktir teman (orang baek sih ha ha), serta buku2 untuk kuliah begitu banyaknya yg harus dimiliki maka aku harus  cari uang ekstra buat hobbyku itu. Mulailah aku terima order nerjemahin (bahasa Inggrisku jadi terasah dengan banyak orderan translate  ^_^), laris manis bak kacang goreng. Kadang aku bantu2 dosen jadi asisten penelitiannya, bagi2 kuesioner dan ngolah data, pernah juga jualan tiket nonton di British Council, jadi panitia seminar2, masakin anak2 ITS, apa aja deh asal ngga jadi ayam kampus. (Istilah ayam kampus popular thn 1992 gara2 tulisan temenku di majalah kampus tentang itu dan langsung rame di Jawa Pos). Oya di asrama aku jadi Bandar kelontong bersama teman seperjuanganku, mbak Erna dari Sastra Indonesia angkatan 90. Kami kulakan hampir tiap hari ke pasar Karmen, berangkat cuma bawa ransel trus pulangnya naik becak dengan berkardus-kardus sembako untuk anak asrama (Indomie,  Supermie, Chiki, Softex, Coklat, dll). Untuk menghemat biaya buku, aku berusaha nyatat bahan kuliah dari perpus tiap hari, karena aku ngga terlalu suka buku foto copy. Aku juga paling males kalo minjam buku dari kakak angkatan, mending beli sendiri, dan buatku buku itu barang pribadi yang ngga bisa dialihtangankan (maniak baca dari kecil sih, jadi pelit banget kalo urusan buku). Jaman itu belum biasa pakai komputer, kami ngetik pakai WS yang banyak pakai dot command itu. (Jadi nggak ada namanya Googling masa itu buat tugas kuliah yang seabrek-abrek tiap hari.). Herannya meskipun buanyak tugas kuliah, aku masih sempet aja cangkrukan sama anak2 FISP, main dan nonton musik sama teman2, ke twenty one kalo dapat free pass dari bulikku yang kerja di DJA, ikut klub drama Imagery, baksos FISIP, jurnalistik di majalah FISIP, Merpati Putih (tapi cuma sebulan), ama nonton telenovela sama anak2 Aspi Ekanita (harrus dong,kekinian kayak anak sekarang yg demen Korean drama haha). Dan yang pasti, aku bisa lulus dalam 8 semester dengan IPK di atas 3 lah…. What a blessing! Padahal UTS dan UAS juga susahnya minta ampyun, beberapa matkul dapat rantai karbon C, cuman karena di banyak matkul yang 3 SKS aku dapat A, terkatrol juga IPK aku (berkah jadi anak baik yang tidak menyusahkan ortu he he he).

Lulus kuliah bingung cari kerja. Langsung aja sementara nunggu panggilan wawancara yang rata2 di luar Jawa itu aku bikin n jualan donat and pizza buat dijual di SMPN 5 sama SMP Petra (ebesku kan guru di sana). Cuma 2 bulan saja, padahal laris manis tapi harus setop karena ada kenalan nawarin kerja di asuransi BAJ, aku hayoo aja jadi pencari nasabah, itung2 cari pengalaman. Ternyata ngga susah loh memprospek calon, asal kita bisa njelasin program dengan clear serta manfaatnya, selalu ada polis yang kita jual. Dalam sebulan aku sudah ikut training KND di Surabaya, lagi2 bisa juga dapat nasabah di sana, modal kenalan sama yang punya kafe di Jembatan Merah Plaza.  Oya, bonus asuransiku jaman itu lumayan ya…bisa buat nyicil rumah di Vila Gunung Buring. Dengan gaji tetap di asuransi (minim sih, tapi  yang penting THPnya gede) aku buat kursus bahasa Inggris di rumah. Garasi kusulap jadi kelas, dengan 16 kursi. Awalnya hanya kasih privat ke seorang CSO BCA Malang, lama2 muridnya  jadi banyak, malah ada Pak Adi guru olahraga SMA 1 dan SMA 3 Malang pernah jd muridku. Oya, nama kursusanku itu DEC, Duta English Course (kalo dipikir2 sekarang, kurang komersil bgt ni nama itu😀 ). Aku jadi director sekaligus instructor-nya.   Aku juga modal patungan sama Ana Wijayanti, temen SMP 3 dan Unair, dia juga ikutan ngajar kursus. Dengan suntikan modal Ana, kelas nambah kursi n fasilitas lain. Aku berani menggratiskan buat anak2 panti asuhan di Gribig yang mengambil kelas General English, biar DEC kelihatan rame gitu😀. Kadang kakakku pakai juga buat ngasih les murid2 SD. Sementara itu kerjaan di BAJ masih jalan juga, tapi aku coba nglamar jadi trainer di Business Training Center Malang. Waktu itu BTC adalah tempat kursus dan kuliah yang paling ngetop dibanding SOB atau LP3I. Aku ngajar Fluency 1,2, 3 dan D1 Akuntansi, Sekretaris, juga Pariwisata dan Perhotelan. Lalu ada teman ibu ngajak aku kerja di Perum Jasa Tirta di dekat IKIP Malang, itu loh yg punyanya Ministry of Public Works.  Aku di tes wawancara dan komputer, untungnya aku sudah bisa pakai Word dan Excel (tahun 1995 masih jarang yang bisa komputer), diterimalah aku jadi honorer di PJT II dan kulepas pekerjaanku di BAJ. Aku masih tetap ngajar kursus di BTC sepulang kerja di Jasa Tirta, mengajar sampai jam 9 malam. Karena capek jadi pegawai di Unit Counterparting (kerjaan yang gak jelas: kadang nerjemahin, kadang input data rainfall, kadang ditaruh dengan konsultan JICA jadi sekretarisnya, kadang ngajarin bahasa Indonesia konsultan Swedia) lama-lama aku bosan dan keluar dari PJT II dan full time mengajar di BTC dan Wasantara International School of Hospitality (WISH). Suatu hari ibu bilang menyesal kenapa aku harus keluar dari sana, beliau senang lihat aku pakai baju KORPRI tiap tanggal 17 (biar honorer wajib ikut upacara). Oalah buk, yo wis aku ikutan tes CPNS Depkeu saja tahun 1998, dan mencoba peruntunganku. Lancar2 saja tesnya. Tes awal TPA, gampang. Tes kedua psikotes, repot minjem buku sana-sini buat belajar karena lom pernah psikotes buat cari kerja. Lolos. Tes ketiga kebugaran.: tes buta warna, olahraga sama marathon ngelilingin kantor Bea Cukai Malang. Lolos dengan indahnya. Tes keempat wawancara: dateng jam 6 pagi diwawancarai jam 6 sore  alias paling akhir. Tapi lolos juga dan akhirnya dipanggil untuk tes screening di Jakarta. Alhamdulillah, berkah anak manis dan penurut sama ortu selalu menyertaiku ya he he he.(So kids remember: raihlah restu orang tua sedari kecil, suatu saat dikasih kemudahan dalam hidup macam saia😀 …)

Aku menapakkan kaki di Jakarta tahun 1999 bersama temanku Tanti yang ketrima di DJP. Kami harus laporan ke Setjen di Lapangan Banteng. (Kami naik KA bisnis Matarmaja dari Malang, masih kumus2 langsung ke sana ngga pake mandi hiahahaa…untung kita sebangsa mahluk cakep jadi nggak keliatan ndeso n joroknyanya😀). Trus numpang nginep di rumah sepupuku Mas Chandra (alm) di Cipinang Kebembem semalam, besoknya pulang lagi ke Malang. Aku siap balik sebulan lagi ke Jkt untuk mulai hidup baru sebagai PNS.

Penempatan sementara di Sekretariat Badan Diklat di Jl. Purnawarman Kebayoran Baru. Beberapa bulan kemudia dapat penempatan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara di Jurangmangu. Sempat ditaruh di bagian TU dan Keuangan, selebihnya aku di Perpustakaan STAN sambil mengajar bahasa Inggris di sana. Buseet, kadang sampai 11 kelas dalam satu semester jika mahasiswa lagi banyak. Aku juga mengajar di Sekolah tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STEI) di Parung Serab. Sempat juga cuma setahun di Institut Ilmu Enonomi Moechtar Thalib (ISMET). Ketika aku pindah tugas ke Balikpapan tahun 2004, terpikir untuk melamar menjadi Widyaiswara agar aku tidak perlu pindah2 tugas melulu. Setelah melalui tes yang panjang, akhirnya tahun 2005 dilantiklah aku jadi widyaiswara  Pusdiklat Keuangan Umum di Jakarta. Dan sampai sekarang masih mengajar di Jakarta, meskipun terkadang terbang juga ke balai2 diklat di daerah untuk mengajar di sana. Meskipun sudah jadi PNS, tapi masih kepingin jadi pengusaha. Sekarang tabungan dan investasi sudah lumayan, tapi hasrat berwirausaha kayanya nggak bakal hilang. Nih sekarang lagi planning buat usaha di bidang kuliner dan bikin yayasan pendidikan. Bekal buat pensiun nih. But PNS ngga akan saya lepas karena saya cinta jadi PNS, ingin terus berbakti pada nusa bangsa agama, seperti harapan ortu juga (ahay….daku anak shaliha deh😀 ).  Emm….aku juga masih menyimpan cita2 jadi professional writer someday, tapi sekarang mesti masih banyak membaca dulu biar pinter 😀 . Doain sukses ya…^_^

16 thoughts on “Riwayatku Dulu…

  1. seneng baca tulisan ibu. jadi tau lebih banyak tentang ibu. amiin ya bu. nanti kalo sudah sukses usahanya traktir-traktir ya bu. hehe.

    eh, saya pernah jadi siswa ibu di kelas General English🙂

  2. Mbak efi.. saya juga lulusan stan, mau tanya bagaimana agar bisa mengajar di stan ya? waktu pengalaman mbak dulu

    • Dear Fresgrad,
      saya dulu mengajar karena penempatan pertama saya sebagai CPNS adalah di STAN, jd otomatis saya harus membantu mengajar di sana. Kalau sekarang sih tinggal memasukkan lamaran dan CV lengkap ke Direktur STAN dan nanti akan diteruskan ke bidang akademis di STAN. Btw syarat dosen sini minimal lulusan S2 ya…

  3. aku dulu du BTC thn 1996-1997 perbankan, diajar ibu ini gak ya? stahuku guru bhasa inggrisnya mrs. brenda…..salam kenal, sy sekarang di cipadu jaya, larangan, tangerang

    • Mrs. Brenda was my colleague that year. Udah tua beliau, sy jaman itu masih ijo banget hehehe. Tp tahun itu saya masih ngajar Inggris di Perbankan. Wah, tetanggaan dong kita. Saya tinggal di Kompleks Nuansa Asri Cipadu. Salam kenal juga.🙂

  4. Wa’alaikum salaam. Kabaripun sae mas Herman. It’s been a while haven’t heard anything from you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s