Strange? It’s O.K.

IMG000042I got this article from a friend. It’s so enlightening, that’s why I need to publish it here. This also a relief for some people who are categorized as the ‘strange’ one in this crazy world. Check this out:

ANEH MEMBAWA NIKMAT
by  ZAINUDDIN DJAFAR

“Dunia memang aneh”, Guman Pak Ustadz

“Apanya yang aneh Pak?” Tanya Penulis yang fakir ini.

“Tidakkah antum (kamu/anda) perhatikan di sekeliling antum, bahwa
dunia menjadi terbolak-balik, tuntunan jadi tontonan, tontonan jadi
tuntunan, sesuatu yang wajar dan seharusnya dipergunjingkan,
sementara perilaku menyimpang dan kurang ajar malah menjadi
pemandangan biasa”

“Coba antum rasakan sendiri, nanti Maghrib, antum ke masjid, kenakan
pakaian yang paling bagus yang antum miliki, pakai minyak wangi,
pakai sorban, lalu antum berjalan kemari, nanti antum ceritakan apa
yang antum alami” Kata Pak Ustadz.

Tanpa banyak tanya, penulis melakukan apa yang diperintahkan Pak
Ustadz, menjelang maghrib, penulis bersiap dengan mengenakan pakaian
dan wewangian dan berjalan menunju masjid yang berjarak sekitar 800m
dari rumah.

Belum setengah perjalanan, penulis berpapasan dengan seorang ibu muda
yang sedang jalan-jalan sore sambil menyuapi anaknya”

“Aduh, tumben nih rapi banget, kayak pak ustadz. Mau ke mana, sih?”
Tanya ibu muda itu.

Sekilas pertanyaan tadi biasa saja, karena memang kami saling kenal,
tapi ketika dikaitkan dengan ucapan Pak Ustadz di atas, menjadi
sesuatu yang lain rasanya…

“Kenapa orang yang hendak pergi ke masjid dengan pakaian rapi dan
memang semestinya seperti itu dibilang “tumben”?

Kenapa justru orang yang jalan-jalan dan memberi makan anaknya di
tengah jalan, di tengah kumandang adzan maghrib menjadi biasa-biasa
saja?

Kenapa orang ke masjid dianggap aneh?

Orang yang pergi ke masjid akan terasa “aneh” ketika orang-orang lain
justru tengah asik nonton sinetron “Intan”.

Orang ke masjid akan terasa “aneh” ketika melalui kerumunan orang-
orang yang sedang ngobrol di pinggir jalan dengan suara lantang
seolah meningkahi suara panggilan adzan.

Orang ke masjid terasa “aneh” ketika orang lebih sibuk mencuci motor
dan mobilnya yang kotor karena kehujanan.

Ketika hal itu penulis ceritakan ke Pak Ustadz, beliau hanya
tersenyum, “Kamu akan banyak menjumpai “keanehan-keanehan” lain
di sekitarmu,” kata Pak Ustadz.

“Keanehan-keanehan” di sekitar kita?

Cobalah ketika kita datang ke kantor, kita lakukan shalat sunah
dhuha, pasti akan nampak “aneh” di tengah orang-orang yang sibuk
sarapan, baca koran dan mengobrol.

Cobalah kita shalat dhuhur atau Ashar tepat waktu, akan
terasa “aneh”, karena masjid masih kosong melompong, akan terasa aneh
di tengah-tengah sebuah lingkungan dan teman yang biasa shalat di
akhir waktu.

Cobalah berdzikir atau tadabur al Qur’an ba’da shalat, akan terasa
aneh di tengah-tengah orang yang tidur mendengkur setelah atau
sebelum shalat. Dan makin terasa aneh ketika lampu mushola/masjid
harus dimatikan agar tidurnya nyaman dan tidak silau. Orang yang mau
shalat malah serasa menumpang di tempat orang tidur, bukan malah
sebaliknya, yang tidur itu justru menumpang di tempat shalat. Aneh,
bukan?

Cobalah hari ini shalat Jum’at lebih awal, akan terasa aneh, karena
masjid masih kosong, dan baru akan terisi penuh manakala khutbah ke
dua menjelang selesai.

Cobalah anda kirim artikel atau tulisan yang berisi nasehat, akan
terasa aneh di tengah-tengah kiriman e-mail yang berisi humor,
plesetan, asal nimbrung, atau sekedar gue, elu, gue, elu, dan
test..test, test saja.

Cobalah baca artikel atau tulisan yang berisi nasehat atau hadits,
atau ayat al Qur’an, pasti akan terasa aneh di tengah orang-orang
yang membaca artikel-artikel lelucon, lawakan yang tak lucu, berita
hot atau lainnya.

Dan masih banyak keanehan-keanehan lainnya, tapi sekali lagi jangan
takut menjadi orang “aneh” selama keanehan kita sesuai dengan
tuntunan syari’at dan tata nilai serta norma yang benar.

Jangan takut dibilang “tumben” ketika kita pergi ke masjid, dengan
pakaian rapi, karena itulah yang benar yang sesuai dengan al Qur’an
(Al A’raf:31)

Jangan takut dikatakan “sok alim” ketika kita lakukan shalat dhuha di
kantor, wong itu yang lebih baik kok, dari sekedar ngobrol ngalor-
ngidul tak karuan.

Jangan takut dikatakan “Sok Rajin” ketika kita shalat tepat pada
waktunya, karena memang shalat adalah kewajiban yang telah ditentukan
waktunya terhadap orang-orang beriman.

“Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di
waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian
apabila kamu Telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu
(sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang
ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (Annisaa:103)

Jangan takut untuk shalat Jum’at/shalat berjama’ah berada di shaf
terdepan, karena perintahnya pun bersegeralah. Karena di shaf
terdepan itu ada kemuliaan sehingga di jaman Nabi Salallahu’alaihi
wassalam para sahabat bisa bertengkar cuma gara-gara memperebutkan
berada di shaf depan.

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat
Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan
tinggalkanlah jual beli [1475]. Yang demikian itu lebih baik bagimu
jika kamu mengetahui”. (Al Jumu’ah:9)

Jangan takut kirim artikel berupa nasehat, hadits atau ayat-ayat al
Qur’an, karena itu adalah sebagian dari tanggung jawab kita untuk
saling menasehati, saling menyeru dalam kebenaran, dan seruan kepada
kebenaran adalah sebaik-baik perkataan;

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru
kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya
Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Fusshilat:33)

Jangan takut artikel kita tidak dibaca, karena memang demikianlah
Allah menciptakan ladang amal bagi kita. Kalau sekali kita
menyerukan, sekali kita kirim artikel, lantas semua orang mengikuti
apa yang kita serukan, lenyap donk ladang amal kita….

Kalau yang kirim e-mail humor saja, gue/elu saja, test-test saja bisa
kirim e-mail setiap hari, kenapa kita mesti risih dan harus berpikir
ratusan atau bahkan ribuan kali untuk saling memberi nasehat. Aneh
nggak, sih?

Jangan takut dikatain sok pinter, sok menggurui, atau sok tahu. Lha
wong itu yang disuruh kok, “sampaikan dariku walau satu ayat”
(potongan dari hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3461 dari
hadits Abdullah Ibn Umar).

Jangan takut baca e-mail dari siapapun, selama e-mail itu berisi
kebenaran dan bertujuan untuk kebaikan. Kita tidak harus baca e-mail
dari orang-orang terkenal, e-mail dari manajer atau dari siapapun
kalau isinya sekedar dan ala kadarnya saja, atau dari e-mail yang
isinya asal kirim saja. Mutiara akan tetap jadi mutiara terlepas dari
siapapun pengirimnya. Pun sampah tidak akan pernah menjadi emas,
meskipun berasal dari tempat yang mewah sekalipun.

Lakukan “keanehan-keanehan” yang dituntun manhaj dan syari’at yang
benar.

Kenakan jilbab dengan teguh dan sempurna, meskipun itu akan serasa
aneh ditengah orang-orang yang berbikini dan ber-you can see.

Jangan takut mengatakan perkataan yang benar (Al Qur’an & Hadist),
meskipun akan terasa aneh ditengah hingar bingarnya bacaan vulgar dan
tak bermoral.

Lagian kenapa kita harus takut disebut “orang aneh” atau “manusia
langka” jika memang keanehan-keanehan menurut pandangan mereka justru
yang akan menyelematkan kita?

Selamat jadi orang aneh yang bersyari’at dan bermanhaj yang benar…

Semoga bermanfaat.

I think you can also forward this message if you find it useful. No reward or gain for you, except that Allah will be ridho with your good deeds…amin.

TEACHING READING

In my view, teaching reading is one of the best practices for EFL students, because it is a kind of an exercise of reason. As an expert said, it is an exercise dominated by the eyes and the brain, and provides huge advantage for EFL students (Harmer, 2004).

            In my context, I have experienced many activities dealing with reading practice. Mostly, the main objective is to understand a reading text or to get the important information from it. For this goal, I always convince my students that English text can be understood if they keep on reading it until the last sentence of the passage. For me, an English text can be comprehended even though there are new vocabulary and structures that my students have never seen before. They have to guess and predict the meaning the context and train their brain to digest the information on the passage. I usually make an illustration for them: they are just learning how to get to Blok M by car, and I told them the way to get there and that they just need to drive according to the instruction. Do not stop over if they find something strange or need to know (it’s the new vocabulary or structure), because the more often they did that, the longer it will be to get to the destination. To get the idea of what a text is about can be done in shorter time if they are skilled, or keep on reading for comprehension rapidly.

            After they get the idea of the text, I usually ask some questions to check whether they can extract the information on the passage. It can be a combination between open-ended questions and Yes/No questions. This activity can be a practice for speaking for my students.

            In other objective, I can also use reading as communicative task, i.e. activity to foster my students’ ability to communicate in English. For example, I give a text, and my students are asked to discuss it in small groups as the task assigned for them, such as:

          to get a clue in a case study,

          to rearrange the jumbled paragraphs into a good story

          to discuss their stand points after reading certain issue

          to discuss the moral value of a folk tale

          to find the suspect in a crime story, etc

 

The last objective and also the most important for me is to stimulate them to pronounce better while reading aloud (another exercise for speaking). It’s a good practice because I can monitor my students’ progress in speaking by doing this. I can know easily whether my students keep on improving or not. (I usually motivate them to practice reading aloud at home, read bedtime story, or recite a poem. It’s a good exercise for pronunciation, stresses, and intonation). Reading a text aloud can indicate our speaking proficiency.

 

So, teaching reading is also a kind of teaching skills to my students. I like teaching reading, because it will also encourage me to keep on improving. In reading, we will continue to find something new: it can be some difficulty, some new skills, or more information that can widen our horizon.

TOEFL 2007
TOEFL 2007

This photo was sent by my former student in 2007, saat ini mereka sudah banyak yang sudah selesai S2 nya di luar negeri. Sengaja upload karena ini kelas paling berkesan, pesertanya sedikit dan lucu2. Dalam diklat TOEFL iBT Preparation itu saya hanya memberikan tips2 dan strategi menjawab  soal TOEFL iBT listening dan kita banyak latihan soal saja. It was fun weeks belajar bersama mereka.

TEACHING THE LANGUAGE SYSTEM

Language system, anyone?
Language system, anyone?

Teaching the language system means that a teacher presents students with clear information about the language they are learning. It is a complex task, especially for me, because teacher must show students what the language means and how it is used, what the grammatical form of the new language is, and how it is said and written (Harmer, 2004).

In my experience, the best way to present language is in context. The challenge for teacher, in my view, is to provide good context for students that enable them to understand the language system. From my experience, the context for my students can be:

          physical surrounding: classroom, campus, our Ministry of Finance, etc

          student’s world: their lives, problems, hobbies, interests, etc

          global world:  recent news, trends, stories, lifestyles, etc.

 

For example, when I want to teach grammar, let say comparative sentence, I provide them a reading text taken from the Internet on recent topics that contains many sample usages of comparatives in a passage. The activities will be suited to the objective in the lesson plan. A good context can be motivating for students to learn  new language.

 

            Talking about the presentation of structural form, I do not really explain much on forms and pattern, since my students have got it in semester 1 (I teach Diploma IV or semester 7, so my students should know a lot about grammar). Rather, I use the lead-in model (in the hope that my students will be aware of the key concept) or elicitation (because it is more time saving and less frustrating for students don’t have to practice something they have already known). For me, elaborate explanation depends on whether there are corrections needed to be made. But sometimes, if they do not aware of certain mistake, I just repeat their sentence by using different intonation (like questioning), so as other students can think that it is an indication I doubt what a student said is correct.

            In short, a teacher should show students not only what language means but also how it is used, and the activity can vary depending on the topic and the context that the teacher planned before.

***