I Haven’t Made It

Just my self reflection.

DSCN8406

I haven’t made it: setting a good example for my kids. Well I’ve tried my best, I think, to live my life as a good moslem. Although it’s not easy to make it as there are always temptations and tests to my patience. Yes, but I know, I must try and try to modeling the kind of behavior that we want our kids to adopt. Kids now are very smart: they pay attention to everything I say and do, and they imitate my words and actions. I always try to keep in mind how easily they are influenced by what I said and do. So I tried hard to shush my lips everytime I have negative emotions, to control lashing out. Take a deep breath, istighfar, and be cool….
Also, I try to be more dependable now. When I say “I promised that we’d going to the BXC after you cleaned up your room..” so I’ll say “Let’s go!” when they really did it, never let other works come first. But once they can’t make it, I have to enforce consequences , be consistent with my own rule. To me, inshaallah is a hundred percent certainty, not less than 50 percent possibility.
It really takes times…a long process to be a better parents. Being an awesome mom is an ongoing process. There’s always room to learn and grow!

Mengapa Ibu Jadi PNS?

Pertanyaan ini diajukan anak ketiga saya, Daffa, tadi pagilogo_rosc. Saya jawab alasan utama adalah mewujudkan keinginan yangti dan yangkung yang ingin anak-anaknya jadi PNS. Tapi saya lanjutkan lagi bahwa dulu ibumu ini cita-citanya hanya supaya mandiri dan berpenghasilan sendiri sehingga bisa membantu orangtua dan keluarga. Jadilah makanya masa muda saya penuh pengalaman bekerja di sana sini karena saya mau mencoba pekerjaan apa saja yang sesuai latar belakang maupun menggunakan ilmu yang saya pelajari di kampus: jadi translator, teacher, secretary even sales person :D. Saya haus menimba pengalaman bekerja di berbagai tempat karena merasa bahwa saya ini minim pengalaman, tapi ingin jadi orang berguna. Lha pas saya keterima jadi PNS tahun 1999 itu, kok rasanya pas ya bisa mencoba bekerja di instansi pemerintah, Departemen Keuangan pulak. Sebelumnya saya pernah kerja di Perum Jasa Tirta, di bawah Departemen Pekerjaan Umum, tapi saya kurang sreg dengan pekerjaannya yang mirip-mirip sekretaris itu.

Mengawali karir di Badan Pendidikan dan Latihan Keuangan dengan penempatan di Kampus STAN di Jurangmangu membuat saya bersyukur mendapatkan pekerjaan yang sesuai idaman ortu, tugas di bidang pendidikan, serta gaji dan karir yang pasti. Dan saya berjanji pada diri sendiri I will do my best to serve this ministry and my country. Jadi ya, kalau mau dirangkum, jadi PNS buat saya supaya

  • dapat penghasilan yang layak (yang ternyata sangaaat layak kalau sudah di level saya saat ini)
  • dapat kepuasan batin karena memenuhi harapan ortu
  • dapat memberi pengabdian kepada NKRI (serius mode)
  • mengasah kemampuan dan ilmu saya terus-menerus dan menyalurkan segenap kemampuan (bahasaku rek!)

Semakin lama di kementerian ini membuat saya semakin yakin bahwa jika menginginkan better Indonesia, you’ve got to be in the system, be a government official.Saya juga sudah membandingkan dengan negara-negara maju macam Jepang, Korea, serta beberapa negara Eropa, mereka maju karena government officers-nya hebat. Malah Belgium yang unik lagi, negara seperti auto pilot saja tetap running well meskipun belum dapat prime minister saat saya visit ke sana. Prof. Ju-Ho Lee dari Korea juga mengatakan bahwa Korsel maju karena semua PNS bekerja terbaik untuk negaranya.

Daffa bertanya lagi, jadi ibu nggak malu kalau bilang jadi PNS karena disuruh yangti yangkung? Saya jawab tentu ngga ya say, justru ibu bangga karena jadi anak yang patuh dengan ortu dan ibu tidak mau jadi PNS asal-asalan karenanya, coz justru karena mau memenuhi harapan ortu maka kita tidak boleh setengah-setengah, kalau mau membahagiakan ortu harus totalitas, karena rido Allah SWT itu bersama ridho orang tua.

KAta Daffa, horreee…ibu hebaat, anak sholihah! Aamiin makasih ya nak. 🙂

I Send My Daughter to A Boarding School

Some of my friends and relatives think that I and my husband are so cold-hearted to send our dearest daughter Shofi to an Islamic boarding school in Jakarta. With accusing tone in their voice, they say that what my daughter experience in the dorm: being far away from our house, no Mommy to kiss her goodnight or to hug after school every day, all those experience they could never bear to happen to any 12-year-old children. But to us, we do it for one main reason: because it makes her happy.

Happy, are you kidding me? Definitely. Shofi said she doesn’t really like to hang around with ‘bad’ girls, and a boarding school is the place for selected, good girls. BTW, never imagine that her dormitory is disgusting, with lumpy mattresses, unhealthy food and harsh discipline. We have selected the best boarding school for her, with better facilities than what she had before in her elementary school. Her school gives all the facilities and opportunities for all students to engage with and experience age-appropriate activities like sports, marching band, and many more. OK, let me just elaborate with my further explanation:

PP-Darunnajah-30ds8dkllneqxvovvahm2o

First of all, I’m a full-time government officials, and I’m a dedicated worker. My educations and my skills are fully utilized in my job and I love it. I think I’m not meant to be a stay-at-home mom because sometimes I feel like I can’t handle all house works and child caring by myself. I’m yelling to my kids, especially to the rebellious Shofi, when things are getting out of my hands and that’s terrible, for both of us. So, being away for some years for us might give time to improve our mother-daughter relationship I hope.

Secondly, Shofi is a very sociable person, and she prefers to be with her own kind as she becomes a teenager. Sure it’s nice, as a parent, to be able to see our kids every day. But now, to be honest, our daughter is being not nearly as into us as we are into her, so we just let her be with her peers from the moment she wakes up, so we must be OK with that.So, it will be safe if she’s around those pious girls every time.

Third, there is the superior pastoral care, so it’s not the harsh and cruel discipline at all. Her matron, we called her Musyrifah, really emphasizes on Islamic manners, punctuality, Islamic dress code, mutual respect for fellow students and high respect for staff and parents, which I think I can’t provide perfectly well myself as a mom. And I see all girls there really love their Musyrifah and look up to her since she’s also a good role model for them. The teachers at her school there also nurture our daughter so well; I just can’t do it as I myself face abundant tasks as a government officer for my country. I think I leave my daughter with the right people.

Fourth, Shofi once said that she would love to study both secular subjects and Islamic studies , and her school provides both. So, sending her to her new school now is the best decision for us. And yes, her academic achievement there is satisfactorily, so I have no worries at all with her education. She’s also active in marching band, gymnastics team, art department, girl scouting, and many more…great experience in her young age.

And finally, Shofi is so happy that she can manage her own money, for I give her a sufficient allowance once in a month. To her it’s a freedom to control her budget and to make her own decisions. I hope that she will not not abuse it; I just hope that she can be very responsible with her money and spend it carefully and wisely. She was used to be frugal when she was in her elementary school…

So, these reasons are far more important than my shed tears…I think about her every day, every moment of my life although we are not always together, you know. A mom is a mom…but I must educate my kids the best way we can provide, so I will not going to regret sending her to Pesantren Darunnajjah. All I need to do is keep praying for her best in life, aamiin… We love you, shofi. 🙂 🙂 🙂 Be happy there as always, baby! 🙂

 

 

 

Menciptakan Kesulitan Hidup Untuk Anak

pain
Judul saya agak serem ya? Ya inilah salah satu cara agar anak milenial masa kini bisa menjadi generasi yang tangguh. Anak-anak saya sekarang menghadapi tantangan yang berbeda dengan saya yang sudah kenyang makan asam garam hidup sejak jaman ORBA dulu. Jika dulu kita mainnya Bentengan, Gobak Sodor, Petak Umpet, dan sejenisnya yang minim peralatan tapi fun dan penuh team work, anak sekarang sudah mainan smarphone, tablet, dan game online, yang bisa dia lakukan sejak dari dia bangun tidur sampai tidur lagi di malam hari. Jika anak sekarang kurang selera makan, tinggal pesan delivery yang dekat rumah; sedang jaman saya dulu jika tidak selera makan ya dibiarkan kelaparan kalau tidak mau memasak sendiri, warung juga masih jarang waktu itu, dan beli makanan luar adalah sesuatu yang mahal saat itu. Dulu saya pernah ditugasi ibu saya menimba air dan mencuci pakaian sendiri. Anak-anak saya sekarang cuma pandai memasukkan semua baju kotor ke mesin cuci front loading, nanti yang menjemur dan menyetrika adalah si mbak.
Tapi memang jadinya beda kualitas anak yang dihasilkan di tiap generasi. Saya dulu merasa baligh di usia 10 tahun, masih kelas 5 SD itu (ngga cuma diukur dari sudah haid saja tapi dari sisi psikologis saya sudah yakin matang, penuh perhitungan, hati-hati, dan bisa mengambil keputusan sendiri), lha anak saya yang pertama sudah usia 13 tahun, sudah SMP, tetapi saya lihat belum baligh: manja ngga ketulungan, belum mandiri, belum bisa berinisiatif, dan masih banyak suka salah perhitungan. Ini juga terjadi dengan mahasiswa saya sekarang. Sudah kuliah tapi menurut saya mereka nggak sekualitas angkatan saya jaman dulu. I mean ketika saya memberi tugas dan kepercayaan, mereka gampang sekali mengeluh, dan sering tidak bisa menyelesaikan masalah dengan tuntas. Saya rasa ini karena mereka dibesarkan dalam jaman yang serba mudah, dan setiap kesulitan yang dihadapi selalu mengandalkan orang tuanya untuk maju membantunya.
Saya menulis ini karena ingin menghimbau saja pada orang tua: don’t make things too easy for our children. Ciptakan sedikit kesulitan hidup agar anak-anak kita jadi tangguh. Yang sering saya lakukan contohnya ketika anak saya ada permintaan, biasanya saya tidak selalu langsung memberinya. Suatu ketika Shofi, anak kedua saya, minta crayon Caran D’Ache baru karena crayon dia tinggal sedikit. Meskipun ada uang, saya katakan bahwa saya tidak akan membelikan lagi jika yang lama masih ada meskipun tinggal sepertiganya, dia harus menghabiskan crayon itu dulu. (harganya saja waktu itu memang sudah lumayan, 40 warna itu 750rb rupiah). Suatu ketika crayon Shofi itu hilang entah kemana, yang jelas tidak ada ketika dicari seantero rumah. Saya memarahi Shofi dan mengatakan bahwa dia harus mencari sampai ketemu dan saya katakan kalau sampai setahun tidak ketemu, baru saya pikirkan lagi akan membeli lagi atau tidak. Setahun tanpa crayon kesayangan Shofi itu adalah siksaan buat dia karena tidak bisa mengikuti lomba-lomba dengan maksimal. Shofi terpaksa meminjam crayon Titi punya kakaknya jika harus ikut lomba, dan tentu saja hasilnya tidak sebagus jika memakai crayon mahal. (even untuk krayon 50rban satu pak saya tidak mau membelikan Shofi supaya dia menyadari konsekuensi menghilangkan barang yang penting untuknya) Saya ingat dalam setahun itu Shofi paling maksimal hanya meraih juara dua, dan itupun untuk lomba-lomba yang tidak ada hadiah trophy nya, Cuma dapat uang tunai atau hadiah perlatan sekolah saja, wah benar-benar siksaan berat untuk dia masa itu. Dia harus melihat teman-teman yang lain yang jadi juara karena crayonnya lebih bagus. (meski pakai teknik menggambar, kalau crayonnya kurang bagus juga hasilnya kalah jauh dengan mereka yang memakai crayon bagus). Tepat setahun kemudian, karena saya tidak tega juga melihat Shofi jadi seperti tereliminasi dari dunia kompetisi gambar, baru saya belikan Caran Dache baru, hiks harganya waktu itu sudah sejuta rupiah pulak. Tetapi setelah itu, Shofi jadi lebih rapi dan teliti untuk menyimpan peralatan menggambar dia, dan tentunya yang membahagiakan yaitu dia sudah bisa nambah koleksi piala di rumah. Tapi ada yang lucu deh, setelah sekitar dua bulanan pakai crayon baru, eh crayon yang lama ketemu, ada di sela tumpukan buku lama, masih rapi dimasukkan dalam ransel plastic Bobo. Keki juga saya, Shofi keturutan juga punya dua kotak crayon mahal! 
Pelajaran yang mau saya berikan pada Shofi yaitu dia tidak bisa mendapatkan sesuatu dengan seketika dan terlalu mudah, karena nanti juga di kehidupan sebenarnya kelak dia besar nanti dia harus berjuang dengan segala daya dia sendiri untuk mewujudkan keinginannya.
Contoh lain yaitu saya tanamkan anak-anak untuk menabung dan mengelola uang dengan cermat. Mereka selain menabung di sekolah, harus menitipkan uang angpao lebaran mereka ke saya. Saya selalu ceritakan berapa saldo mereka di saya, uang dapat diambil jika ada keperluan penting saja. Ini juga agar anak saya tidak boros dengan menghamburkan uang untuk beli jajanan gak perlu atau mainan kesayangan saja. Jadi jika anak-anak ingin main di Fun World, mereka harus menyisihkan uang harian mereka untuk mengisi kartu game mereka di akhir pekan (kami pergi ke dunia main anak dua kali dalam sebulan). Uang anak-anak di saya makin banyak saja, kadang-kadang bisa saya pinjam dulu ketika lagi nggak sempat ke atm ambil uang he he he … tapi saya ganti kok nantinya.
Yang saya suka adalah anak-anak jadi menghargai uang koin receh, bahkan receh pun mereka kumpulkan untuk nanti ditukar di Indomaret dengan uang kertas. Mereka juga jadi rajin membantu beres-beres rumah, terutama untuk mengumpulkan Koran dan majalah bekas untuk diberikan ke pengepul kertas dekat rumah (bisa dapat seratus-dua ratus ribu an lah untuk tumpukan dua bulan). Kagum juga saya dengan ke-PD-an anak saya, nggak gengsi atau malu melakukannya, katanya kan kita tidak mencuri, ngapain malu :D.
Ada juga sih saya mendengar kerabat saya ngomongin, itu suami istri tegaan sama anak. Dua-duanya PNS gol IV tapi pelit sama anak. Saya sih cuek saja, kan saya punya tujuan ketika memberikan kesulitan hidup buat anak saya. Dengan saya berikan beberapa kesulitan, anak-anak kami jadi lebih kreatif, solutif, dan percaya diri.
Jadi semua terserah kepada orang tua sih, mau tidak menciptakan sedikit kesulitan hidup buat anak? Anak-anak saya sih tetap manja luar biasa khas anak kota yang banyak mau ini dan itu, tapi setidaknya mereka lebih ‘dewasa’ sedikit dibandingkan teman-teman sebayanya di kompleks perumahan saya.  

MENGETAHUI DAN MENGEMBANGKAN POTENSI KECERDASAN ANAK SESUAI KARAKTER DAN GAYA BELAJAR ANAK

What's your learning style?
What’s your learning style?

Hari Sabtu, 14 Februari 2015 saya mengikuti seminar parenting yang kesekian kalinya di SMPIT Auliya Bintaro. Kali ini topiknya adalah mengenali gaya belajar anak agar bisa mengembangkan potensi kecerdasannya secara maksimal. Nara sumbernya adalah psikolog A-Genius dari Surabaya.
Psikolog mengawali paparannya dengan memberikan latar belakang tentang kejadian yang kita lihat dalam keseharian kita. Banyak anak menurun prestasi belajarnya di sekolah karena di rumah dipaksa belajar tidak sesuai dengan gayanya. Begitu juga sebaliknya, anak ternyata gampang belajar di rumah tetapi kesulitan saat mereka belajar di sekolah.

Kita sebagai orangtua atau guru tidak bisa memaksakan seorang anak harus belajar dengan suasana dan cara yang kita inginkan karena pada dasarnya masing-masing anak memiliki tipe atau gaya belajar sendiri-sendiri. Kemampuan anak dalam menangkap materi dan pelajaran tergantung dari gaya belajarnya. Anak akan mudah menguasai materi pelajaran dengan menggunakan cara belajar mereka masing-masing.
Menurut DePorter dan Hernacki (2002), gaya belajar adalah kombinasi dari menyerap, mengatur dan mengolah informasi. Ada tiga jenis gaya belajar berdasarkan modalitas yang digunakan individu dalam memroses informasi (perceptual modality).
Mari kita kenali lebih lanjut pengertian dan macam-macam gaya belajar.

VISUAL (Visual Learners)
Gaya Belajar Visual menitikberatkan pada ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham.
Gaya belajar seperti ini mengandalkan penglihatan atau melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya. Ada beberapa karakteristik khas bagi orang-orang yang menyukai gaya belajar visual ini:
– Kebutuhan melihat sesuatu (informasi / pelajaran) secara visual untuk mengetahuinya atau memahaminya
– Memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna
– Memiliki pemahaman yang cukup terhadap masalah artistic
– Memiliki kesulitan dalam berdialog secara langsung
– Tidak terlalu reaktif terhadap suara, jadi sulit mengikuti anjuran secara lisan sehingga seringkali salah menginterpretasikan kata atau ucapan

Ciri-ciri Gaya Belajar Visual ini yaitu:
1. Cenderung melihat sikap, gerakan, dan bibir guru yang sedang mengajar.
2. Bukan pendengar yang baik saat berkomunikasi.
3. Saat mendapat petunjuk untuk melalukan sesuatu biasanya akan melihat teman-teman lainya baru kemudian dia sendiri yang bertindak .
4. Tak suka bicara di depan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain. Terlihat pasif dalam kegiatan diskusi.
5. Kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan.
6. Lebih suka peragaan daripada penjelasan lisan.
7. Dapat duduk tenang ditengah situasi yang ribut dan ramai tanpa terganggu.

Psikolog mencontohkan di keseharian kita biasanya jika anak Visual meminta sesuatu pada kita, dia akan minta kita untuk menoleh dan menatap dia jika kita memberikan respons atau jawaban. Yang lucu, saya jadi terbuka mata jika suami saya itu ternyata tipe visual. Sepertinya saya harus banyak memberikan tampilan visual yang lebih baik jika ingin tetap disayang misua, hehehe…

AUDITORI (Auditory learners)
Gaya belajar auditori mengandalkan para pendengaran untuk memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan.
Artinya , mereka harus mendengar , baru kemudian mereka bisa mengingat dan memahami informasi itu.
Ada beberapa karakteristik yang khas bagi orang-orang yang menyukai gaya belajar auditori ini:
– Semua informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran
– Memiliki kesulitan untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung
– Memiliki kesulitan menulis ataupun membaca

Ciri-ciri Gaya Belajar Auditori yaitu:
1. Mampu mengingat dengan baik penjelasan guru di depan kelas, atau materi yang didiskusikan dalam kelompok/kelas
2. Pendengar ulung
3. Cenderung banyak omong 😀 😀 😀
4. Tidak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya
5. Kurang cakap dalam mengerjakan tugas mengarang/menulis
6. Senang berdiskusi dan berkomunikasi dengan orang lain
7. Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru di lingkungan sekitarnya, seperti hadirnya anak baru, adanya papan pengumuman di pojok kelas, dll

Wah, gaya auditori ini benar-benar Faishal banget. Karena tahu ini, saya nanti akan coba jadi lebih sabar buat menghadapi si sulung Faishal. Dia banyak ngomong, tapi jika harus mengerjakan tugas suka mau lekas-lekas selesai, dengan tulisannya yang kayak cakar ayam. Dia lemah di matematika. Sudah tiap hari di drill, tetap saja jika ketemu latihan baru, pelajaran yang lalu jadi hilang semua. Waktu kecil hafalan dia bagus sekali, sekarang mulai berkurang karena banyak pelajaran yang harus dia baca setiap hari. Itu pun saya harus sering bantu mengulanginya biar lebih paham. Sekarang saya tahu bahwa tipe auditori akan lebih efektif jika didampingi dalam belajar, jadi saya nggak bisa lepas Faishal belajar sendiri jika ingin memastikan dia paham materi yang harus dia kuasai.

KINESTETTIK (Kinesthetic Learners)
Gaya Belajar Kinestetik mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. Karakter pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. Hanya dengan memeganggnya saja, seseorang yang memiliki gaya belajar ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya.

Ciri-ciri Gaya Belajar Kinestetik yaitu:
1. Menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya, termasuk saat belajar
2. Sulit berdiam diri atau duduk manis, selalu ingin bergerak
3. Mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya aktif. Contoh saat guru menerangkan pelajaran, dia mendengarkan sambil tangannya asik menggambar atau mencoret-coret
4. Suka menggunakan obyek nyata sebagai alat bantu belajar
5. Sulit menguasai hal-hal abstrak seperti peta, symbol, dan lambang
6. Menyukai praktek langsung atau percobaan
7. Menyukai permainan dan aktivitas fisik

Nah, saya tersadar juga bahwa Shodi dan Daffa, si nomor 2 dan 3, adalah tipe kinestetik. Mereka lebih suka belajar dengan diberi contoh. Selain itu mereka dari kecil suka menghabiskan kertas (entah sudah berapa ribu rim ya…) buat corat-coret, menggambar maupun menulis cerita. Tembok rumah pun jadi saksi korban kekreatifan tangan anak berdua itu. Jadi ingat di rapor Shofi waktu kelas 3 sampai ditulisi pesan gurunya agar ananda Shofi mengurangi kegiatan menggambar ketika mengikuti pelajaran. Hehehe…gurunya perlu tahu bahwa anak meskipun sibuk corat-coret ternyata dia juga sedang menyimak pelajaran ya. Oya, ketika gadget tidak saya sediakan di rumah buat anak-anak, mereka tetap asyik aja karena selalu sibuk mencari aktivitasnya sendiri, entah itu memasak, bereksperimen, buat komik, bikin prakarya dan lain-lain. Ini juga buat uji kesabaran saya yang kadang suka uring-uringan karena rumah sering dibuat berantakan sama anak berdua itu.
So, benar seminar parenting ini sangat bermanfaat. Dengan mengetahui gaya belajar anak-anak maka kita akan mempunyai pegangan yang berguna untuk menerapkan lingkungan pembelajaran yang sesuai dengan karakter anak dan membuat belajar menjadi lebih menyenangkan untuk mereka. Karena itu, setelah acara seminar, saya menyempatkan meminta tes fingerprint untuk melihat lebih lanjut potensi dan kecenderungan belajar si sulung, Faishal. Biayanya satu juta rupiah. Buat saya nilai itu tidak seberapa buat menggali potensi buat masa depan anak.