Feeling Blessed

Alhamdulillah memasuki bulan Juli 2020. Berarti akan memasuki bulan ke enam WFH. Sebenarnya tanggal 26 dan 29 Juni kemarin saya WFO ke kantor Pancoran, bergiliran dengan teman-teman widyaiswara lainnya. Tell you what, saya bener-bener cocok WFH daripada bekerja di kantor. Bayangkan waktu 2 jam PP Pondok Aren – Pancoran itu bisa buat menyelesaikan tugas tambahan lainnya, eman2 cuma buat melintasi lalu lintas yang sudah normal lagi semrawutnya, terutama di daerah Kebayoran Lama.

Saya merasa lebih produktif selama WFH. Semenjak Februari 2020 tiap hari paling tidak saya menjadwalkan belajar synchronous mandiri dari mana saja. Saya belajar dari Expert Insights Series-nya Telkom (dari Serie 1 dan sekarang sudah memasuki Serie 9, luar biasa Telkom Corpu ini, sangat inspiring), dari group Leaders in Next Adventure nya BI Corpu, dan tentunya dari Kemenkeu Learning Center kita yaa….Duh ini yang membanggakan saya adalah pegawai Kemenkeu memanfaatkan waktu WFH nya nomor 1 adalah belajar dari KLC 1 dan KLC2 serta sosial media BPPK  (IG dan Youtube). Itu hasil survey CTO ya…seneeng banget dengernya bikin tambah bersyukur saja pekerjaan kita sekarang benar2 dirasakan user kami. Selama ini saya merasa BPPK dianggap sebelah mata saja oleh unit eselon I lain, tetapi memang jika kita merasa pengembangan kompetensi pegawai adalah tugas semua unit di Kemenkeu, fungsi learning dan development harusnya tidak boleh disepelekan. Sekarang, ketika semua pegawai tidak bisa bekerja di kantor dan sebagian kehilangan rutinitas kerja kantoran, pelarian dalam bentuk belajar adalah bijaksana, and I’m so happy that Kemenkeu Corpu becomes their first choice.

Selain belajar tentunya saya bekerja siang malam menyiapkan sesi pembelajaran. Dimulai dari mengikuti serial rapat Analisis Kebutuhan Pembelajaran bersama setiap unit pengguna Pusdiklat KU tempat kerja saya. Meskipun sudah dibagi masing-masing Wali Program, mengikuti semua rapat AKP bersama BPPK, DJPPR, BKF, Setjen, DJKN dan Itjen adalah learning tersendiri buat saya yang sayang untuk dilewatkan. Kami semua belajar memahami kebutuhan strategis semua unit, memastikan solusi terbaik pemenuhan gap kompetensi maupun isu strategis unit-unit yang harus kami layani. It’s time consuming and tiring most of the times, tapi itu penting dilakukan agar pembelajaran yang dibuat pusdiklat kami impactful. Saat rapat AKP itulah saat yang tepat buat kami menjelaskan konsep pembelajaran 702010 atau pembelajaran terintegrasi.

Lalu saat penerjemahan hasil AKP menjadi Kerangka Acuan Pembelajaran (KAP) juga seru rapat-rapatnya. We really rely much on good communication skills. Tanpa listening dan diskusi yang baik, bakal kacau jadinya. Jadi teringat saya ditunjuk menjadi Coach E-Learning Pengembangan Pembelajaran Terintegrasi, Tim yang saya dampingi didn’t have intense communication. Kelompok juga terlalu lama dalam mencapai kemufakatan untuk memilih program yang akan dikembangkan, karena setiap anggota kelompok adalah strong personality, dan yang parahnya lagi ada 2 anggota senior itu belum paham Manajemen Pembelajaran. Akhirnya kelompok muda yang pintar malah pasif dan mengalah, dan hasil pekerjaan mereka  itu kurang memuaskan. Tetapi memang itulah dinamika realitas saat penyusuan program yang baru. Kita tidak tahu will that KAP really works jika belum dilakukan piloting atau pelatihan sudah diselenggarakan sebelumnya.

Saat pengembangan buat saya juga benar2 tiring dan time consuming. Buat saya yang udah lima tahun ini membuat konten e-learning saja a bit challenging, kebayang buat guru-guru sekolah saat ini yang terbiasa klasikal akan jadi berat tantangan ini buat mereka. Saya sekarang lagi mendesain model PJJ atau distance learning untuk Pelatihan Business English 1, 2, dan 3. Membuat session planningnya saja (SAP Acuan) udah kesekian kali saya rombak, ada saja yang mesti diubah atau ditambahkan. Saya harus pastikan peserta saya nanti benar2 belajar dalam session yang sudah saya arrange terutama di bagian asynchronous mandirinya , jadi jika saat group synchronous dengan Zoom kita tinggal membahas latihan mereka dan mendiskusikan masalah dalam praktik. Saya siapkan bahan-bahan belajar yang self-contained dan self-instructional buat peserta, membuat video2 yang menggantikan saya mengajar di kelas, membuatkan latihan-latihan dan studi kasus, mencarikan referensi dan link tambahan buat peserta, serta menyiapkan bahan penilaian. Ini yang membuat saya sering begadang sampai lupa tidur, but once you have something in mind, you just can’t stop working on it. Alhamdulillah mungkin karena saya happy jadi nggak ada tuh sakit kepala atau sakit badan gara2 ini.

Oya saya akhir-akhir ini juga sibuk dengan menjadi tutor di kelas-kelas e-learning KLC. Yang terakhir kemarin adalah Angkatan 3 EL Manajemen Pembelajaran E-Learning, pesertanya sekarang sudah mencapai 1106 peserta nih. (Rating nya dapat 4,88 so far, dengan 500an comment berisi kepuasan peserta. Alhamdulillah) Menjadi tutor di situ saya memimpin sesi diskusi synchronous dalam mata pelajaran Perencanaan dan Ujicoba E-Learning. Nggak ada kendala berarti kecuali terkadang koneksi inet yang nggak stabil membuat suara saya beberapa kali hilang kata peserta. Kendala lain mungkin beberapa peserta yang pasif saat diskusi di breakout rooms, tapi buat saya tipikal pembelajar memang ada yang lebih suka mendengarkan orang lain diskusi ketimbang dia sendiri yang ikutan ngomong, so I’m just OK with that. Asal diam menyimak sih okay, kalo hide video lalu ngacir pergi ya kurang diajar itu hehehee…

Tugas evaluasi saya tetap jalan semasa WFH ini. Saya tetap jadi validator bank soal, memeriksa tugas peserta e-learning, memeriksa ujian, action learning project peserta dan juga masih menjadi Tim Penilai Pusat (TPP) Dupak Widyaiswara. It’s all fine by me, asalkan saya jangan diburu2 ditagih2 nilai saya normally kelar kerjaan itu dalam hitungan jam atau beberapa hari.

Saya lagi belajar menjadi Mentor Tidak Tetap di Manajemen Talenta BPPK tahun ini. Selama ini saya menjadi mentor bagi alumni pelatihan saya, nah sekarang ini lebih resmi dan terstruktur serta untuk mendukung talent pool bagi calon leaders di BPPK. Saya hanya menawarkan skill curriculum design saya serta English communication skill saya. Saat ini sudah dapat 5 mentee. This is really a good experience to me for my professional development. Dan lagi ini membuat ilmu saya sebagai asesor hard skill competency tidak mubazir, sangat relevan untuk digunakan dalam mentoring ini.

Apalagi ya yang buat saya so thankful? Oya saya masih keep up with my international buddies. Saya masih rajin mengikuti GDLN Sharings, STI IMF (ini sekarang malah enak nggak perlu datang ke Singapore lagi), dengan TEFLIN, BBC, dengan India, Srilanka, dsb. Really the internet makes everything possible. And saya juga reconnect dengan alumni Unair dan SD Taman Muda 1 saya sodaraa…this sure brings back all the good memories when we were students. Jadi bisa ngakak ngetawaian kelucuan atau kebegoan masa muda hahahaa…So happy to recall the hardships we had in the past are paid off now with our positions and roles in society. Hidup kita ternyata bermanfaat buat orang lain.

Jadi kalau masih aja ada yang sambat WFH bikin depresi ya itu masalah manajemen waktu anda ya sodara…Saya WFH gini sudah terbit lagi buku ke-5 saya tentang Panduan Komunikasi untuk ASN pas di hari ultah saya tanggal 29Juni 2020 lalu.  Sik tak pamerin dulu ya ehehee…

WhatsApp Image 2020-06-23 at 05.53.12

Yang mau buku gratis silakan komen di bawah nanti saya kirim ke rumah. BTW saya juga belajar buat yutup Channel untuk latihan editing aja, supaya ilmu dari Pelatihan Penyusunan Bahan Pembelajaran Berbasis Multimedia saya nggak hilang. Coba like and subscribe ya guys…hihihii kayak real youtuber aja. Tuh melas baru 6 aja subscribernya, etapi saya bikin yutub buat aktualisasi diri ya gaes, saya ini tipe orang yang nggak nyari followers atau subcribers. I’m too busy creating new teachers and leaders, so itu bener2 useful buat yang mau belajar aja. Are you among those people?

Youtube Efi

Pokoknya asal kita buat penjadwalan kegiatan kita, bakalan banyak deh yang akan kita hasilkan. Jadi mau bertambah rasa syukurnya, buat saya cukup rencanakan apa yang akan dilakukan. Saya alhamdulillah ketika berhasil menyelesaikan 1 task, hormon bahagia saya nambah. Hasilnya saya lebih sehat, mungkin saya nanti ceritakan di tulisan lain saja how that could have a change in my physical health. I do have a miracle happening, penasaran kaan? Tunggu ya…

Work with Your Heart!

The TPP LAN meeting I just attended really gives me a pain in my heart. Saya lebih suka jadi asesor daripada jadi penilai pusat, coz saya ngga bisa menilai dengan fair karena aturan yang menurut saya perlu dikaji lagi. Kalau asesor kan menyusun instrument sendiri sesuai dengan elemen kompetensi dan kriteria unjuk kerjanya, jadi akan lebih puas meneliti bukti yang VATM. Lha kalau Perka LAN ini diterbitkannya aja udah 2015 lalu dan masih dipakai untuk menilai angka kredit Widyaiswara tahun 2020 ini, masa pandemi pulak omigosh…just can’t believe my logic harus dikalahkan dengan aturan yang obsolete.

Kalau bunyi aturan LAN sendiri yang crystal clear artinya, yo wis saya ngalah dulu, meskipun pasti saya beri catatan di Berita Acara saya untuk pertimbangan revisi aturan ke depan. Lha kalau aturan yang masih diinterpretasi sendiri dan diatur lebih lanjut oleh internal BPPK kok saya banyak ngenesnya karena instansi saya kok malah mempersulit widyaiswara sepertinya. Sampai saya jadi nggak bisa berpikir positif bahwa itu untuk quality control, tapi malah kelihatan seperti tidak ada trust pada pengajar internal mereka.

Saya ambil satu contoh WI yang saya nilai yaitu ibu Mila Mumpuni. Kalo sobat tidak tahu, beliau itu adalah Widyaiswara Teladan Tingkat Nasional tahun 2018 kalau tidak salah. Beliau mengajukan AK 5,50 untuk penilaian Juni ini dengan rincian 2 KTI dalam bentuk buku prosiding serta mengikuti pelatihan dalam Badan. Semuanya harus dinilai nol juz because of unfair requirements, isn’t that cazy? Masalah beliau itu cuma tidak melampirkan Susuan Acara mempresentasikan KTI nya saja karena dalam dua buku prosiding itu tidak memuatnya. Sewaktu saya sampaikan bahwa aturan bukti berupa susunan acara itu perlu dikaji ulang, karena semua sudah tahu jika buku prosiding adalah kumpulan artikel ilmiah yang dipresentasikan peneliti dalam sebuah pertemuan ilmiah. Dari situ saja pastilah berkonotasi ada undangan buat penyaji dan ada rundown presentasinya, tidak mungkin ujug2 naskah bisa ada di sana. Terlepas dari penyaji hadir atau tidak saat hari konferensinya, itu di luar rencana. Jangan lantas usaha membuat tulisan ilmiah itu menjadi tidak bisa dinilai angka kreditnya. Yang pasti si penyaji tidak bisa mendapatkan angka kredit kegiatan penunjang sebagai penyaji pada seminar dan konferensi. Masuk akal nggak sih pemikiran saya? Misalnya buat pengandaian saja ada pengajar sudah mendapatkan ST untuk mengajar, maka dia pasti membuat bahan ajar dan bahan tayang. Pas hari H mengajar dia mendadak berhalangan, maka dia tidak akan mendapat angka kredit mengajar, tapi seharusnya sih bahan ajar dan bahan tayang dia bisa dinilai angkred karena dipakai oleh pengajar penggantinya. My point is just bersikaplah adil atas usaha seseorang, setiap tetes keringatnya harus kita hargai dengan bukti yang valid dan memadai, dengan kriteria yang masuk akal dan manusiawi. Saya kalau jadi asesor selalu njelimet dan teliti banget membuat instrumen penilaian saya agar adil tadi, dan di proses asesmen pun saya masih bisa melakukan upaya lebih untuk penggalian dan pembuktian kompetensi seseorang.

Teman saya bilang ibu Efi ini really speaking out her mind ya…apa2 yang ngga cocok langsung protes. Saya jawab saya ini bukan asal ceplas-ceplos, wong ada data memadai dan pengetahuan sendiri apakah kegiatan WI di Kemenkeu saya ini benar2 dilaksanakan atau tidak. Pasalnya itu bu Mila, untuk kegiatan mengikuti Pelatihan Menulis di Media Massa tidak bisa dinilai karena hanya melampirkan ST dari kepalai Balai, sedangkan aturan internal BPPK adalah WI mengikuti pelatihan harus menggunakan ST dari Sekretariat Badan. Ini juga saya protes karena kasus seperti ini tidak sekali saja terjadi tapi sudah banyak WI Kemenkeu yang menjadi korbannya termasuk saya beberapa waktu lalu. Dalih Setban sih sekarang mereka sudah cepat dalam penyusunan ST pelatihan, oke we admit it. Trus saya kejar bagaimana jika sebenarnya ST fisik ada di kantor beliau sedangkan sekarang pandemi dan beliau tidak bisa ambil itu ST untuk di scan tetapi beliau hanya ada file di Ka Balai saja on hand. Kepala Balai kan tidak asal membuat surat penugasan tanpa ada permintaan atau penawaran dari Setban? Jadi aturan internal itu yang harus dikaji ulang. Buat saya filosofi aturan bukti angkred itu dibuat untuk memastikan bahwa kegiatan benar2 dilaksanakan. Dan saya tahu persis beliau ikut di pelatihan itu karena penyelenggaranya adalah Pusdiklat saya. Saya juga elaborasi dengan demand yang pernah disampaikan kepala LAN bahwa sekarang kita beradaptasi menjadi ASN Corpu. So corpu itu mengharuskan budaya learning, di mana itu bisa tumbuh jika semua ASN bisa belajar kapan saja di mana saja dari mana saja. Jadi ke depan, meski tanpa ST, asalkan WI bisa menunjukkan sertifikat pelatihan dari lembaga yang kredibel seharusnya instansi menerbitkan SPMK. Ini untuk mengapresiasi energi, waktu atau biaya yang dikeluarkan seorang WI untuk belajar. Ini juga membuat instansi diuntungkan bahkan karena mereka tidak keluar biaya negara karena cost ditanggung sendiri oleh pegawai yang belajar mandiri itu. Saya sampai mencontohkan diri sendiri kalau saya sering ikut courses di Coursera dan LinkedIn karena sering tidak diberi kesempatan untuk diklat di luar badan. Sedangkan pelatihan di BPPK banyak yang tidak bisa memenuhi kebutuhan pengembangan kompetensi saya. Meskipun sertifikat saya sudah seabrek itu saya tidak pernah saya ajukan DUPAk coz saya tidak meminta ST apalagi SPMK. Tapi harusnya ini dibuatkan aturan LAN untuk mensupport budaya belajar bagi setiap ASN. Jadi, kemarin pelatihan beliau tetap saya kasih nilai 0,50 dan saya buat catatan di BA bahwa beliau sudah lengkap ST Kepala BDK Yogyakarta serta SPMK nya tetapi tidak ada ST Sekretariat Badan. Saya yang diminta jadi penilai, saya boleh dong pakai kewenangan saya hehee…kalau di LAN tetap mencoretnya, ya sudah…toh kezoliman itu bukan dari saya.

Teman-teman TPP lain jika menemui kasus yang sama seperti tadi tetap tidak mau menilai karena supaya konsisten dengan cara penilaian sebelumnya. Kalau saya tetap berdalih, jika praktik lama itu saya dapati salah ya harus kita benahi, saya ngga suka status quo kalau itu malah merugikan. Sampai saya jelaskan ya menjadi penilai, asesor, evaluator dan sejenisnya itu berat buat saya, karena pertanggungjawabannya dunia akhirat karena berpengaruh pada nasib seseorang. Jangan sampai salah menilai membuat rekan WI tidak jadi naik pangkat atau malah tragis lagi harus dibebastugaskan karena dianggap tidak berkinerja karena angkred tidak terpenuhi. Jangan pula ngasal menilai sih supaya juga tidak ada celah untuk penyelewengan, tapi ketentuan yang merugikan WI sih bukan wujud kehati2an tapi bentuk kurangnya penghargaan menurut saya.

Kerja itu pakai akal dan hati lah… Keluhuran budi ini yang menjadikan kita manusia yang baik. Saya berani speak out jika ada masalah yang mengganggu nurani saya. Saya harap teman-teman saya mau juga mengedepankan suara hati nya sebelum mengambil keputusan dan berani ambil peran untuk meluruskan. Semoga saja mereka yang ada di sidang TPP kemarin serta AJF BPPK merenung ulang dan memasukkan masukan saya untuk disampaikan ke LAN. Kita protes gini juga untuk kebaikan semua kok, biar WI happy dan semangat mengisi pembelajaran. WI happy, organisasi juga happy kaan?

I Have to Deal with This Anxiety

As the World Health Organization declared the COVID-19 outbreak a global pandemic, many of us, like it or not, have to quarantine in our homes for weeks. This has been the 4th week for me to do a Work From Home, and I’m getting this feeling (I don’t really show it to my family) of panic over information overload. Sometimes I can get myself calm, but some other times  I just can’t keep negative thoughts spiraling in my mind. I need to do things to get me able to manage my sanity. OK let’s just plan it.

1.) I have to keep saying in my mind “I can finally focus on my home and myself”

Actually, I have a lot of things that I always want to do, such finishing my crafts projects, cleaning and tidying up the whole house, exercising, etc. But what I can focus now are the unending daily chores and the long-avoided tasks from office. These make me feel trapped or stuck sometimes, but I know I have to slow down and focus on myself.

2.) I must stay close to the normal routine

I’ve tried to maintain the structure from the pre-quarantine days: wake up early, work for office from 8 to 5,  go to bed around the same time, eat meals, shower, and keep the five times prayer on time. I have to try my best sticking to my normal routine to keep me active and less likely to spiral, coz it will be easier to readjust to the outside world when it’s time to get back to work again.

3.) I must select the Coronavirus coverage

I have chosen only certain credible websites (who.int and covid19.go.id) for a limited amount of time each day (just maximum two chunks of 30 minutes each). Somehow this has been helping me to stay away from hoaxes around the pandemic.

4.) I must avoid a chaotic home.

With all the uncertainly happening outside, I need to keep the inside my house organized, predictable and clean. Coz a chaotic home can lead to a chaotic mind for sure. And for Muslims, cleanliness is half of faith. So far, my husband and the kids take turns to help me manage the house clean and tidy.

5) I must keep praying all times.

Jabir (R) reported Allah’s Messenger () as saying: There is a remedy for every malady, and when the remedy is applied to the disease, it is cured with the permission of Allah, the Exalted and Glorious. (Sahih Muslim 2204). I believe this so much, so please Allah save our family, aamiin.

6) I have to show more compassion and charity.

Somehow I realize that I am just much luckier than other people. I still get my monthly salary and have no worries with the financials. I think I need to be aware of the needs of others. After all I believe that charity is a way for protection against calamity, misfortune, and tragedy.

Allahumma inni a’uzubika minal baros, wal junuun wal juzzam, wa min sayyi’il-asqam

O Allah, I seek refuge in You from leprosy, madness, elephantiasis, and evil diseases.

I’m A Certified TOT Trainer…

efi TOT

I’m a Widyaiswara, or a corporate trainer in Ministry of Finance RI. Many people just know me as a lecturer or even a teacher. Well, they are not totally wrong, coz a corporate trainer is essentially  a teacher who works in a corporate setting, spending  days training employees on new skills, strategies and systems relevant to their business needs. I see myself more as an educator or instructor who works in a business setting. And to be a Widyaiswara like me you must really love helping people, cause our trainees are mostly demanding.

I got my certified professional trainer from LAN (National Administration) in 2005, that’s the beginning of my corporate trainer career. What people don’t really know is that I hold a CTT  (Certified Train the Trainers) license in 2012, you can only see that title on my business card actually 😀 ,  and since then I have conducted TOT trainings nation wide, as a teacher trainer . Assignments to train MOF staffs to become the next trainers keep coming to me, although I don’t really see myself as a very good role model (honestly 😀 ). But I really like to see others succeed and bring out the best in them to meet business needs. And most importantly, I love to learn many things all the time. As you know, business is so dynamic, it keeps changing,  which means the nature of my training will change as well.

I just wanna share you things that you’ll experience once you become a corporate trainer.

  1. Travel a lot and meet more people. Yup, cause business prefers in house trainings and that means you have to come to the locations that need your service. And if you can balance your time as a trainer and a traveler who can explore nice places, it’s so rewarding experience.
  2. Stand in front of many people and let them judge you. Yup, you must enjoy your public speaking, cause audiences will be judging you actually. I handle this by keeping in mind that what I’m delivering in class is something that helps my trainees reach and exceed their potentials, so I go easy with whatever reactions I got.
  3. Set aside your ego cause you are not always the expert. Sometimes your trainees are more senior than you are and even more knowlegeable. Just show no fear, have acceptance of yourself and everyone we work with. After all, we can always learn from anybody, including from our trainees…
  4. Feel awesome when someone gets it. Well, this won’t happen with everyone in our class, and it won’t happen with every class.  But when I realize that something I said is making some people change the way they look at something, and I can watch that change happen right in front of my eyes, it’s so awesome!
  5. Do something irrelevant probably. I call that an attempt to build rapport with my trainees, cause I don’t really like the rigid separation of trainer and trainees. So you need to occasionally drop the formality or throw in a joke. For sure you need to try and experiment many icebreakers and energizer methods in your class.
  6. Develop your consultation skills. That’s because you have to relate to a variety of people and be able to help them with the specific and so unique problems they have. I build my listening skills and now I can also ask deeper questions and to converse better with others.

Are there still more to those I mentioned? For sure yes. If you want to know more, let’s just talk more about it in my TOT classes. The only way to learn to be a trainer is to jump on in and see what happens . So, see ya!!

certified

 

My Saddest Year

This 2019 has always been my saddest year. The most heartbreaking year of my life.

In January 2019 my mom’s health dropped drastically (she’s been ill since 2017. You can read some story of her ailment here :

https://efidrew.wordpress.com/2017/08/10/moms-ill/

https://efidrew.wordpress.com/2017/08/15/love-you-to-the-moon-and-back/

January I was fully loaded with many teaching assignments but I managed to keep calling her every day, and tried my best to fly home whenever I have free time. I just cant teach while worrying about my mom’s condition. I was so lucky then I still have some chances to be with her and cherish her before she was hospitalized.

February 2019 is when my mom is turning weaker and weaker. Yet she just didn’t want to show her pain to us. That month was the last time she accompanied me to the airport, before that she took me to Bakso Bakar in Sawojajar and that was also the last time we dine out together. March is the starting of the darkness. My mom was sentenced to battle with cancer and was actively dying. I took office leave several times whenever I got bad news from my hometown. Going back and forth from Malang to Jakarta, trying to balance my life as a mom to my kids, a full-time trainer, and as a daughter who felt unprepared to live without a mother…it was so desperating. My most fear is always loosing my mom, cause I had no idea what the rest of the year looked like without her in this world as I always need her support, encouragement, and prayers for me. I spent days in hospital while she was on her terminal state, still hoping for a miracle to happen.

And Thursday 18 April 2019 came. That utmost grief…my mom took her last breath in Room 223 Paviliun Dahlia, RSSA General Hospital of Malang City. Read  here:

https://efidrew.wordpress.com/2019/04/25/a-sense-of-loss/

That day was the starting of my grieving days. Although I have accepted this destiny, time does not weaken the pain from the loss. Every single event that happens in my life, both hapiness or sadness, always reminds me of her, I have cried hundreds of times to any single moment, so cheesy I know.  But alhamdulillah, I don’t cry too long cause I still have my faith,. My faith and trust in Allah’s infinite wisdom really helps me endure these trials and keep me focused on the greater goal of salvation in the Hereafter. I keep on asking Allah for patience and the guide to always be in Islam way.

I am more clam now…although sad news keep coming from May to today, the last day of 2019.

My close friend got a sudden heart attack and passed away in May. In April one of my students got a car accident and passed away. My best friend from Unair caught her husband cheating and was on the verge of divorce. After Ied Mubarak, I have three former students passed away because of serious ilness. My son got bullied by his classmates and I’m still coping with building his confidence. My lecturer, Ms Santi Djonhar, passed away of a heart attack after Iedul Qurban, and I havent’ kept my promise to her to present our paper in TEFLIN.  My sister in law was hospitalised because of hemmoragic stroke and she hasn’t fully recovered yet. And Yesterday I got a news that my brother in law was diagnosed with a tumor in his heart, I cried hard for my sister.

I also feel sad with the news of environmental destruction and pollution in my country and other parts of the world, with Israeli’s demolitions to Palestine, with China’s cruelty to Uyghur moslems…oh my God these calamities are caused by us, human…

But this year also brings me some kind of betterment for my soul. I really realize now that our life is Allah’s hands and that we are all weak creatures ( that’s why dua is the part of my life. Especially after 5 times prayer and Tahajjud, really make myself  relax). I am fully aware that Allah gives me these to pass His tests. All resentments are from satan and I don’t want to be friend with them. I just feel thankful, alhamdulillah that Allah gives me strength and patience untill today.

I am still crying now, but more to thank Allah for giving me the chance to be a moslem. I am thankful cause Allah still gives me the chance to continue my mom’s good deeds,  which I hope these will benefit her in jannah.

La ilaaha ill-Allaah al-‘Azeem ul-Haleem, Laa ilaaha ill-Allaah Rabb il-‘arsh il-‘azeem, Laa ilaaha ill-Allaah Rabb is-samawaati wa Rabb il-ard wa Rabb il-‘arsh il-kareem.

Pancoran, December 30, 2019.

Turning Used Clothes into Grocery Bags

This has been the several times (again) cleaning up our closet. My gosh, I think it was just few months ago I donated a big bag of used clothes to ACT…now still I can find more clothes sitting in the closet, gathering dust. I still have some unwanted shirts, kids uniforms that don’t fit anymore, ampyuun…

I have to think harder now. Actually we have already applied purchasing sustainable clothing, trying to be more conscious about what and how much we are buying. But yeah…we make junks easier these days. So I have decided to think of a green solution: creating grocery bags out of those heap pile of used clothes at home.

Why shopping bags? As we know…. plastic shopping bags are typically used less than 30 minutes and only 1 or 2 percent are recycled. According to Piedmont Environmental Alliance, NC the average American adult uses approximately 288 bags a year and that’s in USA, ya catet. I think in Indonesia is even worse cause most malls, shops, and markets still provide plastic bags to shoppers.

I focus on cotton fabrics first, coz it’s easier to sew with hand. I dont have a sewing machine. So OK here are my supplies needed:
– heavy-weight cotton shirt or pants
– needle and straight pins
– scissors
– ruler and dinner plate (for shaping)

Here are how I make the bags from a shirt (sorry…complete pictures come later ya..)

1. Choose an old shirt and smooth it flat on a table on the floor. Use scissors to cut and remove the sleeves. You can keep the seam in place, or remove it (but you sew again with different color thread.

IMG20191126161050.jpg
2. Position a plate about halfway over the neck opening of the shirt. Trace the plate with a pencil to put markings to be your cutting line to create the opening for the bag. Cut along the traced line with the scissors.
3. Turn the shirt inside out and pin the bottom of the shirt (along the hem, of course) closed. Btw, you can shape the bottom edge with curve using dinner plate if you want to have round bottom.

IMG20191127081439
4. Then sew the bottom of shirt hem closed. Reinforce your tote bag by sewing over this seam a second time! Your bag is now done!
5. For variations, you can add pockets to the tote by using the cutaway sleeve scraps and fashioning them into pockets. For me I add boro stiches from scraps. It will make the bag more unique, like the one you see below.15748426319082435336464655631602.jpg

So happy with my DIY bags. Easy and simple…. From now on for my cotton shirts that just aren’t wearing anymore I won’t throw them away! Still have desire to make more bags with different fabrics, penasaran yang nagihin. 😀

By the way, for bags made of pants, I like to make it facing on the side, so I cut the inner folds on the thigh. To do it simply keep the pants folded with the zipper opening of the pant on one side. Mark a rectangle shape from the top edge – slightly diagonal extending to the crotch level and cut it out. Keep it together right sides to the inside and stitch the sides and the bottom edges. Kurleb like this (my final version). See the boro stiches? I think you cant see clearly the yellow threads, it look cool in real life 😀

15748185112986777524659773562224

You know, I have used my bags for daily shopping and many people are interested and complimented me, or…at least they keep staring at my unique stuff hahahaa…

Let me show you some other bags made of used pants. Here they are…

These are just a few samples of my re-purpose old clothing. Althoush I don’t have the high sewing skills, at least I spend time and other resources to turn our old clothing into something with a new purpose. I keep in mind that small changes in daily life speak loud, and recycling the clothing my family once loved is a big part of sustainable living. Go green, guys! Kurangi sampah pakaian dari rumah sendiri.

Dazzling Shofia

dazzling
For the past 15 years I have worked on my hobby: beads crafting but never have a gut to show it to public. August is the right time for me to do it, as I had to attend a national crafter gathering in Bandung. I must have a directory of my works if I want to feel more confident to be among professional crafters. So I instanly changed one of my IG accounts into a business one, named Dazzling Shofia. The name just sounds so catchy to me, as it’s a combination of my daughter names: Shofi and Afia. Dazzling? Well, jeweleries must be dazzling, ngono thok aee……
Dazzling Shofia makes my life happier. It just balances my life as a government officer and a passionate crafter. I have been figuring out I’d spend more hours of my life working than anything else I’d ever do, so why not include my passion? Most people who knows me see that I always put on my own handmade jeweleries (accessories to be precise 🙂 ) while teaching. This is just the right time to do it more seriously. I enjoy the satisfaction of teaching and also of promoting and supporting something I truly love: making beads crafts from Jakarta, the capitol of Indonesia, with materials from the richness of Indonesian natural stones. Isn’t that amazing? Mboiss pol!
Though my skills are just beginner, I’m happy that more friends appreciate my works. This really gives me more energy to work at my training center. You know, I’ve been in really bad moods lately, and that really affect my teaching. But since Dazzling Shofia got positive reviews of my friends (already got consumers, to 😀 ), I can get over my irritated mood so quickly. Sure…I really am in a variety of lights — as a mother, teacher, assessor, lecturer, home master-chef, crossword-puzzle wiz, crafter, doodler, etc. I really have less emotional dependence on any single one of these identity “labels.” Thus, if I face a professional setback like yesterday, I can easily weather it more steadily, and get back on my feet more quickly. Isn’t hobby amazing, guys? Wis iyo’o ae talah hahahaa…
Back to Dazzling Shofia. I have already made a lot of bracelets and necklaces so far to display on DS instagram (lousy pics I admit, someday I’ll learn photograpy hehee tenan rek). Most of my jeweleries are made of natural stones and gems, some are pearls and Svarowsky crystals. My favorites are always borneo chips, jadeite, amethyst, ruby, yellow agate, moss agate, and gold sandstones. I also do mending art. I mean I make new, artistic works from broken jeweleries by fixing, repairing, reshaping and adding other materials. This is not easy if you know that working with crimp beads is very hard especially for a beginner like me. But the satisfaction of giving longer-lasting and beautiful results are always rewarding.

One of my friends said “I’m so amazed by your skills. You’re such a total package!” Wow…that’s too much, dude. I should say Astaghfirullahdon’t be too proud, Efi. But I realize that I love many things in life. I’m just complex and just wanna learn many things — that’s what makes me human. And the more I realize my own complexity, the happier I will be. Ngono ae.

Okay…back to crimps again….and enjoy my dazzling happiness….

Craftalova Kopdarnas 2019…Surga Para Crafter se-Indonesia Raya

cfc3

Cuma satu kata buat menggambarkan perasaan habis ikutan CFC Kopdarnas 2 di Harris Hotel & Convention Bandung tanggal 13-14 September lalu :PUUAASSS!!!
Saya berangkat jumat sama Shofi dan Afia saja, coz dua anak cewek saya punya bakat seni dan mereka wajib ikut saya buat belajar dan menyaksikan langsung dari ahlinya di Bandung. Daan….bener juga tuh mereka berdua so have fun banget di sana, apalagi si kecil Afia ya Allah lucu banget selalu langsung menggambar apa yang dia lihat dengan iamjinasi anak 6 tahun yang buat saya masyaallah luar biasa jeniusnya tuh anak, takjub saya sama kreatifitasnya.
So balik lagi ke laptop. Setelah sekian lama stuck di hobby beads crafts saya, akhirnya jadi tercerahkan karena banyak inspirasi yang saya dapatkan di CFC 2. Trully, seniman emang once in a while butuh me time buat recharghe energy. Jadi ikutan gathering kemarin tuh bener-bener so insightful, so inspiring. Kerjaan widyaiswara saya yang bejibun sudah saya tuntaskan dulu di kantor sebelum berangkat ke Bandung. Jadi pas budal jemuwah, saya sudah mulai relaks and santai, dan bener…saya bisa kenalan dan sosialisasi dengan para crafter dari berbagai macam karya, mulai dari ecoprint, bag makers, shoe makers, digital printing, beads,leather arts, dan masih banyak lagi.Ketika melihat karya-karya mereka di bazaar, saya jadi punya imajinasi nanti bakalan mau ngapain dengan beads works saya. I’m so thankful to panitia ya, sukses menggelar acara sebesar itu.
Oya mau mention dulu dong siapa saja peserta CFC 2: OTang (komunitas saya), RCC, Deha, Meca, JbSC, Jtcc, Kriya Cantik Bekasi, RSC, Craftulistiwa, Sisterhood Nusantara, Buletin Craftlova, Bali Loves Handmade, Bogor Creative Crafters, Depok, Blitar Craftamania, Lampung, Jaric (Yogyakarta), Benik (Surabaya), Cirebon, Karfc, aduh apalagi yaa kok saya jadi lupa saking banyaknya.
Mumpung masih anget saya tulisin apa aja yang sudah saya pelajari di sana…
1. Ecoprint dan Teknik Boro bersama bu Pingkan dan mbak Yosefin
Bu Pingkan dan mbak Yosefin mengajari teknik boro dan ecoprint dengan teknik yang sederhana yaitu pounding alias diketuk2. Kita dibagikan daun2 dan bunga2 segar per meja bersama talenan dan ulekan kayu. Caranya kain ditaruh di atas talenan, tata bunga2 dan daun2 dengan motif suka-suka kita, asalnya posisinya jangan terlalu berdekatan. Lalu tutup dengan plastik lebar dan pukul-pukul dengan ulekan sampai tinta tanaman menempel semua di kain. Mukulnya halus tapi kuat biar semua bentuk tanaman terjiplak di kain. Setelah semua bentuk terjiplak, cukup diangin2kan hingga kering. Gampang banget dan lumayan bagus hasil saya buat pemula hehehee…Etapi saya juga lagi beruntung di table 37 saya duduk bersama pakar dari Bogor mbak Rina Shibori yang ngasih contoh duluan…asik banget kita kerja bareng2 sama mba Iin Muzdalifah (Depok), bu Poniati Fajri (Pekanbaru) dan satu lagi bu Dewi. Eh saya browsing2 ternyata ada yang lebih gampang lagi tuh bikin ecoprint, pakai dikukus dua jam…mending bikin begitu aja lain kali di rumah. Yang penting dapatin daun2 yang bagus, trus kalo bisa kain shiborinya yang bagus dan lebar, di Cipadu tempat saya mah banyak. Trus kalo sudah selesai naruh daun di kain,dilapisi plastik, digulung, dikukus and terakhir di fiksasi pakai air tawas atau air cuka biar ngga luntur. That will be my next project for sure.
Oya yang teknik boro itu nambal kain supaya pakaian masih bisa difungsikan lagi. Kain itu sampah nomor 2 di dunia setelah plastik lho, jadi dengan boro kita bisa extend usia baju dan jadi lebih go green dengan daur ulang bahan2 kain bekas di rumah. Pas lihat slides beliau yang baju di Jepang berusia lama yang pakai boro berulang2 sampai puluhan tahun, batinku lha kok kayak klambi gembel mbambung tah hahahaa… Etapi jangan salah, barang kreasi handmade dengan sulaman suka-suka itu malah bernilai seni tinggi loh. Kalau melihat contoh2 kreasi bu Pingkan dan mbak Yosefin yang berseni duh ckckckck…emang bagus sekalee. Stichingnya rapi, kombinasi warnanya keren, ada beberapa sulaman, kalo jelujuran juga bermotif atau setidaknya ada bentuk geometris…aduh emang trully work of art. Duh jadi nggak sabar mau gunting jins belel di rumah tak tembel2 biar kareen kayak contoh kemarin. #nextproject
Oya foto berikut ni pas Sisterhood Narsis Time kita gabung2 karya boro masing2 kita tadi per-sisterhood dibuat apa aja dalam given time 15 menit buat show time di panggung. Kocak juga ada panggung fashion dadakan dan edan2an kita hahahaa..
kopdarnas
2. Belajar digital printing bersama pak Paulus Widjaja
Diajarin nyetak sendiri pakai printer di kain kanvas atau polyster. Cukup punya printer Epson L1800(6warna) atau L1300(cuman 4 warna)dan tinta sublimasi bisa cetak di kain. Kertas pake kertas fotocopy kualitas terbaik, kalo beliau pake PaperOne box ijo…di kantor juga banyak (eh iki korupsi lak an hehee..pake bekasnya maksud ane). Gambar dan tulisan yang dibuat jangan lupa di mirorring dulu sebelum di print ya, kan nanti pas dipress (cukup pakai setrikaan biasa sekitar 8-10 detik aja) kebaca dengan benar. Seneng banget lihat hasilnya warnanya tajam, coz tinta sublimasi itu kata pak Paulus mudah tertransfer coz tintanya sensitif terhadap suhu. Sublimasi tuh tinta akan berubah menjadi bentuk gas apabila berada dibawah pengaruh suhu yang tinggi ya, inga2 pelajaran IPA… Wow that’ll be my next project. Saya ada printer Epson lawas kayaknya bisa diservisin dulu kalo mau buat latihan. #nextprojectbeneran
3. Boneka Etnik
Yang ini saya cuma megang2 dan lihat2 karya teman-teman yang ikutan workshop bikin boneka etnik atau yang dijual di bazaar. Saya sempat nyumpah2 gemes tuh saya punya kain tenun kayak gitu 2,5 meter sudah tak buang jauh2 karena kotor (waktu itu saya jadiin korden dapur di rumah lama). Padahal kalo dibuat boneka maca gitu bisa jadi ratusan boneka yah…nangiss. Boneka jahit tangan biasa, gampang ditiru kalo ada contohnya.Ini saya ambil gambar karya mbak Sufti dari WA group Otang, maap mbak tak comot fotomu…
boneka etnik
BTW di CFC 2 ada beberapa workshop yang diberikan di ruang2 khusus buat peserta yang berminat, macam buat batik
4. Gelang Beads Unik
Ada booth yang jualan gelang beadsnya gila2an harganya, paling murah 215 rebu 😮 …tapi swear emang bagus banget gelangnya full of charms dan batu2nya dikombinasi berbagai jenis. Saya sendiri jualan Dazzling Shofia (belum kucek lagi kemarin berapa lakunya) di booth Otang nggak berani mahal2 karena saya per gelang pakai satu jenis batu dan satu jenis asesories. Saya sama ratakan semua harganya per piece 40rb aja, gilaak murmer banget kan buat gelang dengan batu alami dan berasesories. Saya cuma pengen mejengin karya aja di sana cuma pengen tau ada yang minat ngga, coz gelang DS kayak kemarin itu kalo dijual di kantor 50rb aja udah jadi rebutan teman2 saya. Tapi what I’ve learnt kemarin di booth bapak itu dia cuek saja meskipun gelang dia cuma diilirik2 dan dipegang2 saja sama pengunjung tanpa ada yang beli..dia tetap senang memajangnya.But I think saya dan bapak itu harusnya majang jualan jangan di CFC coz pesertanya kan mostly bag makers dan penyuka fabrics ya…etapi kalo buat ngeramein sih oke2 sih. Saya jadi pengen buat gelang yang totally unik kayak di booth itu, jadi dia itu berani mix kombinasi beads dan charms, tapi warnanya ada yang gradasi maupun senada. Ada juga yang beading wirenya kontras, unik banget buat saya, boljug nih ditiru. Trus yang pakai crimping cuma di mix pakai Dalmatian jasper, crystal shadow, color crystals, chakra stones sama banyakin vermeil jump rings adodoh-eeii…cakep banget. Jadi dia itu banyakin asesories aja, malah batunya dikitan…tapi brani juga pasang harga mahal. KAlo penyuka batu mulia macam saya kan lebih suka banyak batunya daripada ornamennya. Well selera sih. Oya di booth lain saya nemu rose quarts beads cuma 20 rb, beli. Trus juga nemu bahan cincin cuma 5 rb seplastik, silver wire cuma 8rb, trus semacam charm bulet krawangan ngga tau deh namanya apa cuma 5rb pulak. Beli.Beli.Beli. Saya belanja banyak di booth itu, aduh lupa namanya pokoknya dia yang terima pesenan logo di kulit dan kayu. Kata SPGnya sih ngabisin stok aja makanya dia obral, duuh beruntungnya dakuh…blanja ngga sampe 70 rb dapat buanyaak macam bahan. My next project tentunya mau pakai itu semua buat bikin necklaces and bracelets lagi ya…kan WI kalo ngajar asesories harus gonta ganti dong hehee…
5. Macrame
Saya dapat doorprize karena menang tebak2an saat acara malam Sisterhood Narsis Time, hadiahnya Macrame yang super cute. Macrame itu anyaman tali yang simpul-simpul jadi terbentuk motif-motif tertentu, misalnya kotak-kotak, panah, dll. Pas saya amat2in gampang juga kayaknya bikinnya, mengingatkan jaman SD dulu aku pernah belajar buat gelang anyam2an sama kakak.Hadiah saya tuh cuma pakai single dan square knot aja tapi cantiik deh hasilnya. Ntar bakal saya pajang buat nggantungin daun plastik yang kubeli lebaran lalu…biar rumah agak hijau dikiit… 😀

And there are still more that I learnt from that gathering…jadi semangat mau seriusin hobby crafting saya. Yang pasti, Dazzling Shofia juga bakal kumanage dengan lebih profesional lagi buat persiapan purnabhakti. Apa itu DS? Ntar kuceritain di postingan lain ya…you just wait. Yang pasti,, next CFC Gathering mau ikutan lagi ah…
cfc 2

Thank you OTang for giving me the chance to expand my horizon.
IMG-20190718-WA0017

Keto Day 91 (Supposedly)

Actually, I stopped my Keto diet on day 80 since I got a bad diarrhea. I felt so week for days and I just need to drink something sweet to recharge my body. I gained 58 kg that week of sickness. Now I’m 60 kg and still enjoying consuming some carbohydrate in my meal: things that I avoided for 3 months i.e. veggies. Yup, I really miss vegetables so much. I admit that I have increased my appetite since I’ve taken veggie and other forbidden food again. I’m fully aware that the carrots, the beans, the sprouts, the fresh juice, natural yogurt, and cold cereal: they all don’t suppress my hunger for long. But since I don’t eat sugary food, rice and bread, my weight is still constant 60 kg this week, quite amazing right? My only problem is that I’ve been having bloating again since my cheating day, but I’m OK with that.
Anyway, I still keep some of my ketogenic diet like cottage cheese, nuts, peanut butter, VCO oil, fish, and eggs. I sometimes do intermittent fasting, but not everyday like before. Probably that helps me a lot to keep my body weight. Today is supposed to be my KFLS 91, but I count today as a restart to 1 with my Keto diet. Gosh, it does need a warrior to stick with this diet. I’ll never feel sorry for breaking my KFLS, since I’ve been feeling a much better mood. A happier me. With my sexier body. 😀 😀 😀
lovemyshape

Keto-Fastosis Day 7

Yesterday, I started the second phase of my KF Program: Consolidation Phase, yippee! My fasting sugar was 78, so I dare myself to try longer fasting. The good thing for my first phase (induction) is that I loose 5 kg just in 5 days! “) “). Now in the second phase I can add non-starchy vegetables (like leafy greens: spinach, kangkung, broccoli, cabbage, cauliflower, Brussels sprouts, cucumber, chili, asparagus, kailan, pokcoy, etc). I love veggies and I’m soo happy I can eat them as much as I want. And the duration of my fasting is longer: 18-20 hours, no problem at all coz the veggies keep me full longer.
I feel that my metabolism is way much better now. I still have a kind of nausea sometimes in the evening, but that’s normal and natural reaction when my body switching from burning carbohydrate to burning fat fuel. Now I don’t really have panting breath, thanks to my quick slim down hehehee…
I’ve prepared for my lunch omelette, stir-fry beans and chicken liver, and green tea. For snacking I have Elle & Vire cream cheese and Kraft slice. Yummy!

elle vire

After Lunch:
I’ve checked my fasting blood sugar and it says 86. So sad…I’ve gotta back to the induction phase again. Bye bye chili and broccoli, I’ll see you again soon. Gottta workout more often to get it below 80 again. Fighting!!