TOEFL iBT Listening Skills

DTU TOEFL iBT Preparation

The Listening section of the TOEFL, which lasts about 40-60 minutes, measures your ability to understand the English spoken in academic settings in North America. There are 6-9 listening tasks, which  include the following:

  • A minimum of 2 questions between two people – such as two students or a student and a professor, a librarian, a counsellor, etc; followed by questions
  • A minimum of 2 lectures, followed by questions
  • A minimum of 2 lectures, with student comments and questions interspersed, followed by questions

You will need headphones for this portion of the test and you can adjust the volume during the test. You may also take notes at any time and use your notes to help you answer the questions. Your notes will be destroyed before you leave the exam room.

Each question in the TOEFL iBT Listening section must be answered before you can go on to the next question. You are not permitted to go back to previous questions once you have left a question.

TYPES OF TOEFL LISTENING QUESTIONS
TOEFL iBT listening questions fall into three different categories:

  • basic comprehension questions
  • pragmatic understanding questions
  • connecting information question

There are 6-7 different types of questions, as shown below:

  • identifying the main idea
  • determining the purpose
  • understanding detail
  • determining attitude
  • understanding implication
  • making inferences
  • connecting content

LISTENING TOPICS
Most of the academic lectures featured in the TOEFL listening section are at a first-year university level. Though the topics can cover a wide range of subjects, the typically fall into four major categories: arts, life science, physical science, and social science.

Arts lectures may include architecture, music, literature, photography, urban planning, crafts, and industrial design.

Life science could include public health, animal communication, conservation biochemistry, medicine, bacteria, nutrition, and animal behavior.

Physical science could include climate, geography, landforms, environment, pollution, astronomy, optics, physics, technology, mathematics, and computer science

Social science lectures could include anthropology, linguistics, education, history, business, psychology, and mass communication.

LISTENING STRATEGIES
To improve your listening skills, tune in to the radio and television news, interviews, and discussions. Listen to various academic talks, lectures, and educational documentaries.

Begin a systematic vocabulary improvement program to expand your vocabulary. Books such as Barron’s Essential Words for the TOEFL and Longman’s North Star series, Building Skills for the TOEFL iBT are particularly helpful.

One of the best TOEFL resources for improving your listening skills is Longman’s Learn to Listen, Listen to Learn by Roni S. Lebauer. By working through this book and tape set, you will pick up some valuable strategies for the TOEFL iBT test and for life.

main book for iBT Preparation @ Pusdiklat KU

In addition, most TOEFL guidebooks include audio CDs, which provide practice in listening exercises. However, if you are weak in this area, you may wish to select a guidebook which includes several CDs and plenty of listening practice. For example, Barron’s TOEFL iBT guidebook comes with 10 CDs, for a reasonable price, and provides great value for the student.

2nd book for iBT Preparation @ Pusdiklat KU

Happy preparing for your TOEFL iBT! 🙂

Penyusunan Modul

MATA DIKLAT: BAHAN AJAR & REVIEW BAHAN AJAR

Fasilitator : Efi Dyah Indrawati

 

Cover Modul DTSS Penyusunan Modul

I. TIK / Kompetensi Dasar

  1. Menjelaskan modul sebagai bahan ajar
  2. Menjelaskan konsep dasar modul
  3. Menyebutkan pedoman penyusunan modul
  4. Mengembangkan modul
  5. Mereview modul

II. Ruang Lingkup Materi / Pokok Bahasan

A. Modul sebagai bahan ajar

B. Konsep dasar modul

C. Pedoman penyusunan modul

D. Pengembangan modul

E. Review modul

III. Evaluasi

  1. Pre tes (bersama dengan materi lain di awal Diklat)
  2. Tugas (dalam bentuk Portofolio)
  3. Post tes (bersama dengan materi lain di akhir Diklat)

IV. Daftar Pustaka

Diktat Penyusunan Soal, 2003. Pusat Penilaian Pendidikan Depdiknas.

Soetrisno & Azhari. 2006. Pengembangan Modul Diklat. Lembaga Administrasi Negara. Jakarta: LAN.

Pedoman Penyusunan Modul di Lingkungan Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Nomor PER-003/PP/2009.

Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 3 tahun 2011 tentang Juknis Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya.

Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 5 Tahun 2009 Tentang Pedoman Penulisan Modul Pendidikan dan Pelatihan.

URAIAN BAHAN AJAR :

A. MODUL SEBAGAI BAHAN AJAR

Dalam proses pembelajaran sangat diperlukan adanya bahan diklat sebagai media pembelajaran dan alat bantu pelatihan sehingga memudahkan bagi pembelajar untuk memahami suatu materi pelajaran, serta sebagai panduan bagi widyaiswara/pengajar dalam menyampaikan materi pelajaran. Bahan diklat adalah bahan yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai suatu klasifikasi profesional tertentu. Dengan demikian bahan diklat memiliki bentuk yang sangat beragam. Dalam istilah bahasa Inggris, bahan diklat diterjemahkan sebagai training resources, yaitu apa saja yang dapat digunakan dalam pelatihan (anything can be used for training). Pemilihan dan penyusunan bahan diklat merupakan bagian dari kegiatan pemilihan strategi pembelajaran di dalam diklat, yang dilakukan setelah analisa instruksional.

Sesuai dengan Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 1 Tahun 2006 bahan diklat meliputi :

  1.  Bahan ajar Diklat.
  2.  Silabus Mata Diklat dan Skenario Pembelajaran (SMD dan SP) atau juga disebut Rancang Bangun Pembelajaran Mata Diklat dan Rencana Pembelajaran (RBPMD dan RP), dahulu disebut GBPP dan SAP .
  3.  Bahan Tayang /Transparansi
  4.  Modul Diklat
  5.  Tes Hasil Belajar.

Jadi bahan ajar adalah bagian dari bahan diklat. National Center for Vocational Education Research Ltd / National Center for Competency Based Training yang diterjemahkan Kiranawati (2007), menyebutkan pengertian bahan ajar adalah sebagai berikut:

–     Bahan ajar merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan instruktur untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.

–     Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.

–     Bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak tertulis sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan peserta diklat untuk belajar.

Dari ketiga pengertian di atas, dapat kita rangkum bahwa bahan ajar merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan untuk perencanaan dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar baik tertulis maupun tidak tertulis, dan disusun secara sistematis yang membantu peserta diklat untuk belajar.

Bentuk bahan ajar bisa meliputi:

–       Bahan cetak seperti: handout, buku, modul, lembar kerja peserta diklat, brosur, leaflet, wallchart.

–       Audio Visual seperti: power point presentation, video/film, VCD, DVD

–       Audio seperti: radio, kaset, CD audio, piringan hitam, MP3 player

–       Visual: foto, gambar, model/alat peraga, maket dll

–       Multi Media: CD interaktif, aplikasi computer-based atau Internet-based, aplikasi e-learning dll

Selanjutnya dalam hal pengembangan bahan ajar, ada beberapa prinsip yang perlu dipertimbangkan. Prinsip Pengembangan bahan ajar menurut Bintek KTSP (2009) adalah sebagai berikut.

–       Mulai dari yang mudah untuk memahami yang sulit, dari yang kongkret untuk memahami yang abstrak.

–       Buatlah pengulangan sehingga akan memperkuat pemahaman ·

–       Umpan balik positif akan memberikan penguatan terhadap pemahaman peserta diklat

–       Motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan belajar

–       Mencapai tujuan pembelajaran dilakukan setahap demi setahap, akhirnya akan mencapai ketinggian atau level tertentu.

–       Mengetahui hasil yang telah dicapai akan mendorong peserta diklat untuk terus mencapai tujuan

Selain itu, dilanjutkan pula bahwa bahan ajar perlu memenuhi ketentuan:

–       Susunan tampilan, yaitu yang terstruktur dan menarik

–       Bahasa , yaitu yang mudah dipahami dan komunikatif

–       Menguji pemahaman, yaitu disertai pengukuran atau tes pemahaman

–       Kemudahan dibaca, yaitu terkait dengan huruf dan redaksional

–       Materi instruksional, yaitu yang sesuai tujuan pembelajaran

Dari penjabaran di atas, terlihat bahwa modul adalah bagian dari bahan diklat berupa bahan ajar, yang perlu disusun menurut ketentuan sebagai bahan ajar yang baik. Tentunya modul berbeda dengan bahan ajar lain, seperti catatan perkuliahan/diktat, artikel jurnal, makalah, maupun buku teks. Modul merupakan bahan belajar mandiri, yang memiliki perbedaan mendasar dengan buku teks. Perhatikan beberapa perbedaan antara buku teks dan modul di bawah ini:

Buku Teks Modul
–       komunikasi satu arah-       peserta diklat pasif-       metode ceramah-       struktur tidak jelas-       belajar diatur sendiri

–       tidak mengenai orang tertentu

–       sedikit menerapkan pengetahuan dan ketrampilan

–       latihan hanya ada di akhir teks, terkadang tidak ada tugas/latihan sama sekali

–       materi terbagi dalam Bab besar

–       tidak ada umpan balik

–     komunikasi dua arah-       peserta diklat terlibat aktif-       metode dialog-       struktur  jelas-       belajar dibimbing

–       bersahabat dan memberikan dorongan

–       menerapkan pengetahuan dan ketrampilan yang baru didapatkannya

–       materi terbagi dalam penggalan yang kecil

–       ada tugas dan terkait dalam teks

–       ada umpan balik

B. KONSEP DASAR MODUL

Adapun Modul Diklat adalah alat bantu diklat yang digunakan dalam proses belajar mengajar berupa buku pegangan bagi widyaiswara maupun peserta diklat yang disusun secara sistematik, mencakup tujuan dan uraian materi diklat, latihan dan evaluasi terhadap peserta mengenai materi diklat dimaksud. Modul dalam Peraturan Kepala LAN nomor 5 tahun 2009 diartikan sebagai unit terkecil dari sebuah mata diklat, yang dapat berdiri sendiri dan dipergunakan secara mandiri dalam proses pembelajaran. Modul dimaksudkan untuk:

  1. mengatasi keterbatasan waktu dan ruang peserta diklat
  2. memudahkan peserta diklat belajar mandiri sesuai kemampuan
  3. memungkinkan peserta diklat untuk mengukur atau mengevaluasi sendiri hasil belajarnya.

Modul sebagai sarana kegiatan belajar mengajar, minimal memiliki beberapa tujuan (menurut  Peraturan Kepala BPPK nomor PER-003/PP/2009) yaitu sebagai medium:

  1. referensi materi

Modul merupakan suatu paket pengajaran yang disusun secara sistematis, terarah, lengkap sesuai standar kompetensi dan kompetensi dasar

  1. referensi belajar

modul sebaiknya dapat digunakan untuk referensi belajar atau pengganti tatap muka antara widyaiswara/tenaga pengajar dan peserta diklat

  1. referensi lanjutan belajar

Pendalaman lanjutan terhadap suatu objek studi tertentu seharusnya juga disajikan di dalam modul dalam bentuk catatan kaki atau kepustakaan

  1. motivator

modul digunakan untuk memperjelas dan mempermudah penyajian pesan atau materi agar tidak terlalu bersifat verbal. Selain itu modul juga dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar bagi peserta diklat dan mengembangkan kemampuan dalam berinteraksi langsung dengan lingkungan.

  1. evaluator

Modul digunakan oleh peserta diklat untuk mengukur atau mengevaluasi sendiri hasil belajarnya karena penggunaan modul memudahkan diklat belajar mandiri.

Modul yang baik disusun sesuai dengan kebutuhan belajar dalam sebuah proses pembelajaran. Ciri-ciri modul menurut Peraturan Kepala LAN nomor 5 tahun 2009 yaitu:

  1. dapat dipelajari oleh peserta secara mandiri, tanpa bantuan atau seminimum mungkin bantuan dari widyaiswara (self-instructional)
  2. mencakup deskripsi dan tujuan mata diklat, batasan-batasan, standar kompetensi yang harus dicapai, kompetensi dasar, indicator keberhasilan peserta, metode, rangkuman, latihan-latihan, yang secara keseluruhan ditulis dan dikemas dalam satu kesatuan yang utuh (self-contained)
  3. dapat dipelajari secara tuntas, tidak tergantung pada media lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan media lain (independent)
  4. memuat alat evaluasi pembelajarn untuk mengukur tingkat kecakapan peserta terhadap modul (self-assessed)
  5. memiliki sistematika penyusunan yang mudah dipahami dengan bahasa yang mudah dan lugas, sehingga dapat dipergunakan sesuai dengan tingkat pengetahuan peserta diklat (user friendly)

Ada beberapa prinsip dalam penulisan modul. Menurut Peraturan Kepala LAN nomor 5 tahun 2009, prinsip tersebut yaitu:

  1. memenuhi 5 (lima) criteria modul yang baik
  2. modul yang disusun harus mengacu pada kurikulum diklat dan digunakan dalam suatu program diklat
  3. disusun secara rasional atas dasar analisis, sesuai dengan tingkat kompetensi yang harus dicapai oleh peserta diklat setelah menguasai modul
  4. memuat indicator keberhasilan agar peserta diklat dapat mengetahui secara jelas hasil belajar menjadi tujuan pembelajaran
  5. isi modul harus merupakan bahan yang terkini (up to date), sesuai dengan tuntutan perkembangan
  6. memuat contoh-contoh dan latihan-latihan yang relevan sehingga peserta diklat dapat menerapkan di lingkungan kerjanya
  7. sumber pustaka yang dipergunakan minimal 5 (lima) referensi, baik dalam bentuk buku atau karya tulis ilmiah, yang tahun penerbitannya tidak lebih 10 tahun sebelum modul ditulis
  8. acuan dalam bentuk peraturan dan perundangan harus merujuk pada peraturan dan perundangan yang berlaku
  9. ditulis oleh perorangan atau tim yang ditugaskan oleh pimpinan instansi, dengan anggota tidak lebih dari 2 (dua) orang yang kompeten dalam bidang yang ditulis
  10. penulisan modul harus mengacu pada kaidah penulisan karya tulis ilmiah sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Kepala LAN nomor 9 tahun 2008, tentang Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah Bagi Widyaiswara.

 

 

C. PEDOMAN PENYUSUNAN MODUL

Pedoman penyusunan modul dan Format Modul Mata Diklat menurut Peraturan Kepala BPPK nomor PER 003/PP/2009 dapat dilihat pada lampiran bahan ajar ini.

D. PENGEMBANGAN MODUL DIKLAT

1. Proses Penyusunan Modul Diklat

Proses penyusunan modul diklat idealnya diawali dengan tahap kegiatan Identifikasi Kebutuhan Diklat (IKD) bagi kelompok pegawai atau jabatan tertentu yang akan melaksanakan tugas tertentu. Ini bisa dilakukan antara bidang Renbang Pusdiklat bersama dengan Widyaiswara. Hasil kegiatan IKD ini kemudian disusun suatu program diklat  dalam bentuk TOR dilanjutkan dengan penyusunan kurikulum dan silabus. Atas dasar kurikulum tersebut disusun Rancang Bangun Pembelajaran Mata Diklat (RBPMD) dan Rencana Pembelajaran (RP).

Pada Pusdiklat Keuangan Umum, pelaksanaan penyusunan modul mata diklat meliputi kegiatan sebagai berikut:

  1.  Penyusunan rencana kerja tahunan oleh Widyaiswara
  2.  Pengisian formulir usulan penulisan modul
  3.  Penyusunan TOR, GBPP, SAP
  4.  Penyusunan modul diklat draft I
  5.  Pelaksanaan pelatihan dan uji coba modul diklat (biasanya dipakai dahulu sebagai bahan ajar. Langkah ini tidak selalu memungkinkan untuk dilaksanakan)
  6.  Perbaikan modul diklat menjadi draft II
  7.  Pembahasan dalam suatu pertemuan yang komprehensif (seminar) dengan para ahli atau nara sumber
  8.  Perbaikan/penyempurnaan
  9.  Pengesahan dan penerbitan modul oleh Pusdiklat Keuangan Umum

Alur di bawah ini memperlihatkan tahapan proses penyusunan modul mata diklat pada Pusdiklat Keuangan Umum BPPK :

IKD –>Penetapan Program –> TOR/Kurik à Penyusunan Modul Draft I –> Uji coba modul –> Penyusunan Modul Draft II –> Seminar/Pembahasan –> Perbaikan –> Pencetakan & Penerbitan –> Monev

 2.     Rencana Pengembangan Modul

Selama mengumpulkan bahan dan referensi untuk penulisan modul, penulis modul perlu terus mengacu pada kurikulum diklat yang telah ada. Di tahap awal perencanaan pengembangan modul, perlu dipikirkan konsep penyajian materi modul agar mudah dipahami oleh peserta diklat secara mandiri. Karena itu diperlukan suatu peta konsep di awal modul. Peta konsep adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep dan proposisi materi diklat yang memudahkan peserta memahai dan mengingat isi materi. Ketentuan tentang  Peta Konsep dapat dilihat pada Peraturan KaBPPK nomor PER 003/PP/2009.

Pengorganisasian pembuatan peta konsep sebaiknya melewati proses mindmapping atau brainstorming agar dapat memilah maupun mendeteksi materi apa yang bisa disajikan dalam modul. Dalam prakteknya bisa menggunakan aplikasi mindmapping yang banyak kita temukan di Internet. Untuk menunjukkan alur pembelajaran materi, bisa digunakan smart art pada microsot office.

3.     Pengembangan Isi/Materi Modul

Terdapat dua cara dalam mengembangkan materi modul:

Pertama yaitu dengan Pendekatan Logis. Di sini ada dua metode yaitu deduktif dan induktif. Jika menggunakan metode deduktif, penulisan modul dimulai dari umum ke khusus atau dimulai dari hal abstrak ke konkret, sedangkan metode deduktif penulisan modul dimulai dari hal umum ke hal khusus.

Cara kedua yaitu dengan Pendekatan Masalah (Studi Kasus). Materi modul yang disusun dengan pendekatan masalah dimulai dengan permasalahan yang nyata (studi kasus). Pendekatan masalah membantu peserta diklat dalam menganalisis, mendiagnosis, dan mencari alternatif solusi.

4.     Pengembangan Evaluasi dalam modul

Modul perlu memuat contoh-contoh dan latihan-latihan yang relevan sehingga peserta diklat dapat menerapkan di lingkungan kerjanya. Pembuatan bahan latihan termasuk bagian dari evaluasi dalam modul untuk mengukur tingkat pemahaman dan keberhasilan belajar peserta diklat.

Yang menjadi perhatian utama kita seharusnya adalah bagaimana soal latihan, tes formatif maupun tes sumatif itu adalah soal yang berkualitas? Berikut ini adalah syarat-syarat agar soal berkualitas menurut Puspendik Diknas:

a.     DIRANCANG DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH

  • Tentukan materi-materi yang hendak dibuat soal
  • Tentukan jumlah soal yang hendak disusun
  • Tentukan bentuk soal
  • Tentukan waktu tes (kapan & berapa lama)
  • Rumuskan indikator dari materi yang dipilih
  • b.    DIRUMUSKAN SOALNYA DENGAN BAIK
  • Sesuai/tidak menyimpang dari indikator
  • Atas dasar konsep ilmu yang benar
  • Mengikuti kaidah-kaidah penulisan soal
  • Menggunakan kalimat yang singkat, jelas, tegas
  • Menggunakan pengecoh yang homogen/logis
  • c.     DITELAAH/DIREVISI OLEH ORANG LAIN YANG MENGUASAI:
  • Materi yang diujikan
  • Konstruksi tes
  • Bahasa Indonesia
  • 4. DIANALISIS  Diperoleh infomasi tentang soal yang berkualitas/kurang berkualitas.

Bentuk soal latihan pada modul bisa bermacan-macam, tergantung dari tujuan pembelajaran atau standar kompetensi yang ingin dicapai. Tentunya kita tidak boleh mengesampingkan tentang kesesuaian antara taksonomi Bloom dengan jenis pengukuran dan evaluasi yang diberikan. Umumnya modul menggunakan bentuk soal pilihan ganda, benar/salah, menjodohkan, jawaban singkat dan uraian.  Berikut ini deskripsi mengenai bentuk-bentuk tes tersebut:

SOAL PILIHAN GANDA :

  • Pokok soal bisa dalam bentuk pertanyaan maupun pernyataan yang belum lengkap
  • Disediakan pilihan jawaban : ada 1 kunci jawaban dan 3 pengecoh
  • Keunggulan soal PG:

1) Penskoranmudah, cepat, obyektif

2) Mencakup ruang lingkup bahan/materi pokok bahasan yang luas   

3) Tepat untuk peserta ujian yang banyak

  • Kelemahan soal PG:

1) Penulisan soal lama

2) Sulit membuat pengecoh yang homogen dan berfungsi

3) Ada peluang menebak

4) Kurang berfungsi untuk meningkatkan daya nalar peserta

  • Penulisan soal PG harus berlandaskan kisi-kisi atau rumusan indikator dan mengikuti kaidah penulisan soal bentuk PG

 

Kaidah penulisan soal PG yaitu:

  1. Soal harus sesuai dengan indikator yang terdapat pada kisi-kisi.
  2. Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas.
  3. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja.
  4. Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar.
  5. pokok soal jangan menggunakan pernyataan yang bersifat negatif ganda.
  6. Pilihan jawaban harus homogen dan atau logis ditinjau dari segi materi.
  7. Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama.
  8. Pilihan jawaban jangan menggunakan pernyataan yang berbunyi ”semua pilihan jawaban di atas salah” atau ”semua pilihan jawaban di atas benar”.
  9. Pilihan jawaban yang berbentuk angka harus disusun berdasarkan urutan besar-kecilnya. Pengurutan tersebut dimaksudkan untuk memudahkan siswa melihat pilihan jawaban.
  10. Pilihan jawaban jangan mengulang kata/frase yang sama yang bukan merupakan satu kesatuan. Bila memungkinkan, letakkan kata tersebut pada pokok soal.
  11. Gambar/grafik/tabel/diagram dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi.
  12. Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar atau yang paling benar.
  13. Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya.

SOAL BENAR-SALAH

Kaidah penulisan soal benar-salah adalah sebagai berikut:

  1. Atur pernyataan Soal sesuai dengan indikator.
  2. Rumusan soal jelas, tegas, tidak mengandung pendapat yang masih dapat dibedakan (100% B/S)
  3. Hindarkan penggunaan kata : selalu, umumnya, kadang-kadang, sering kali, tidak pernah/sejenisnya.
  4. Hindarkan rumusan soal negatif ganda.
  5. Hindarkan mengutip kalimat langsung dari buku.
  6. Rumusan soal jangan terlalu panjang dan harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik/komunikatif.
  7. Atur pernyataan benar dan salah secara acak.
  8. Rumusan soal mengandung satu hal/permasalahan saja.
  9. Perintah mengerjakan soal :

Silanglah B bila pernyataan BENAR

Silanglah S bila pernyataan SALAH

Perhatikan contoh soal B/S yang bermasalah berikut ini:

B-S  1. Salah satu dasar hukum pelaksanaan APBN adalah ICW.

B-S  2. Penyusunan APBN melibatkan Bank Indonesia.

B-S  3. Yang dimaksud dengan UUD 1945 terdiri dari pembukaan dan batang tubuh saja.

B-S  4. Batas usia pensiun adalah 56 tahun.

B-S  5. Tukar menukar barang bergerak harus ijin menteri keuangan bila diperlukan.

B-S  6. Pemilu di Indonesia diikuti beberapa partai politik.

B-S  7 Sehabis membaca koran pagi sebaiknya memeriksa email.

B-S  8. Surat “segera” harus dikirim secepat mungkin dan paling lambat dalam waktu 24 jam.

B-S  9. Salah satu ciri budaya pribadi orang Indonesia adalah kebersamaan. Setelah diuji oleh kenyataan dewasa ini ternyata sifat demikian tidak mempunyai sisi negatif.

B-S  10. Kalau pelayanan Anda dikeluhkan oleh orang lain, sedangkan Anda sudah berusaha sekuat tenaga memberikan pelayanan yang terbaik, maka sikap Anda sebaiknya cuek saja.

SOAL ISIAN / JAWABAN SINGKAT

Kaidah penulisan soal isian/jawaban singkat dalah berikut ini.

  1. Soal sesuai dengan indikator.
  2. Rumusan soal harus jelas dan mudah dimengerti. (terarah)
  3. Rumusan soal hanya menutup satu jawaban yang dapat dijawab dengan singkat/pasti/satu kata/satu frase
  4. Hindarkan pertanyaan/rumusan soal yang merupakan kutipan langsung dari buku.

SOAL URAIAN

Kaidah penulisan soal uraian yaitu:

  1. ditulis jelas permasalahan dan tugasnya.
  2. Dibuatkan pedoman skoring agar objektif dalam penilaian

Untuk uraian objektif (menuntut sehimpunan jawaban menurut pengertian , teori dan konsep tertentu) bisa langsung dengan penentuan skor 0 jika salah atau 1 jika benar. Jika uraian non-objektif, perlu dibuatkan skala atau checklist tertentu unutk memudahkan penilaian.

5.     Pembuatan Rangkuman

Setelah kegiatan belajar diuraikan dan diberikan contoh dan diukur dalam latihan serta tes, penulis modul harus membuat rangkuman di akhir kegiatan belajar. Tujuan merangkum adalah memberikan basic ideas tentang apa yang sudah kita tulis di setiap kegiatan belajar dalam modul kita. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

  1. Baca ulang kegiatan belajar untuk mendapatkan inti bahasan dalam kegiatan belajar tersebut.
  2. Tulis ulang inti bahasan dengan kalimat yang lain (paraphrase). Paraphrase artinyakita menulis ulang gagasan utama tadi tanpa melihat lagi KB yang baru diuraikan, dengan kalimat baru dan kata-kata yang lain namun memiliki maksud yang sama.
  3. Jangan masukkan contoh-contoh dalam rangkuman.
  4. Beri kesimpulan, kadang bisa kita masukkan final thoughts atau komentar kita sebagai penulis modul (rangkuman modul yang bagus berisi summary/ringkasan dan response/tanggapan, karena seolah seperti penuturan pengajar langsung dengan peserta diklat).
  5. Rangkuman bisa ditulis dalam beberapa paragaf.

Paragraf pertama memberikan  overview keseluruhan kegiatan belajar. Paragraf terakhir menyajikan inti ringkasan yang lebih singkat lagi (very brief summary).

  1. Edit sekali lagi dan pastikan rangkuman tidak terlalu panjang. (Tidak ada rangkuman yang lebih panjang dari isi modul dan uraian yang dibahasnya.)

 6.     Penulisan kutipan dan daftar pustaka

Cara pengutipan dan penulisan daftar pustaka dapat dilihat pada lampiran bahan ajar ini.

E. REVIEW MODUL

 

Review modul adalah praktek untuk melakukan telaah mengenai suatu modul. Dalam prosedur penyusunan modul, telaah dan penilaian modul dilakukan oleh Tim yang ditunjuk oleh Kepala Pusdiklat atau pejabat berwenang. Penilai modul bisa berasal dari internal maupun eksternal BPPK, mereka adalah ahli yang menguasai substansi materi modul. Apabila dipandang perlu, pejabat berwenang bisa mengangkat ahli bahasa setelah modul selesai dinilai oleh ahli materi. Pada praktek di Pusdiklat Keuangan Umum, penilai sekaligus pembahas dan narasumber dalam seminar modul selain subject matter expert (SME) juga dari Pusat Bahasa atau Pusat Penilaian Pendidikan dari Diknas. Tugas penilai selain melakukan penilaian terhadap modul sesuai dengan format penilaian yang dimiliki BPPK yaitu memberikan rekomendasi kepada Kepala Pusdiklat/direktur STAN atas modul yang ditelaah dan dinilai.

Form penilaian modul bisa dilihat pada lampiran bahan ajar ini.

F. Lain-lain: Ketentuan administrasi penyusunan modul

1.  Tim Penyusun Modul Diklat bekerja berdasarkan Surat Perintah Tugas yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang serta kebutuhan dalam penyelenggaraan pelatihan.

2.  Hak Cipta dari setiap modul diklat yang telah disusun dan diterbitkan akan menjadi milik penyusun modul diklat dan Pusdiklat.

3.  Masing-masing anggota tim penyusun modul mata diklat memperoleh angka kredit yang sama sesuai dengan tingkatan modul diklat yang telah disusun dan penyusun maksimum 2 (dua) orang.

 

Besarnya angka kredit yang diperoleh dalam penyusunan modul mata diklat  menurut Peraturan Kepala LAN nomor 3 tahun 2011 adalah sebagai berikut:

Kegiatan WI Pertama WI Muda WI Madya WI Utama
Menyusun modul diklat sesuai spesialisasinya pada:
Diklat Prajabatan:-   Gol. I dan II-   Gol. IIIDiklat Struktural:-   Diklatpim Tk. IV

–   Diklatpim Tk. III

–   Diklatpim Tk. II

–   Diklatpim Tk. I

Diklat Pembentukan Jabatan Fungsional

Diklat Fungsional Penjenjangan:

–   Tk. Dasar

–   Tk. Lanjutan

–   Tk. Menengah

–   Tk. Tinggi

Diklat Teknis

0,600,600,961,44

1,92

1,92

0,96

0,60

0,96

1,44

1,92

0,60

0,600,601,201,44

1,92

1,92

1,20

0,60

1,20

1,44

1,92

0,60

0,600,601,201,80

1,92

1,92

1,20

0,60

1,20

1,80

1,92

0,60

0,600,601,201,80

2,40

2,40

1,20

0,60

1,20

1,80

2,40

0,60

 

PENUTUP

Dengan adanya DTSS Penyusunan Modul ini maka diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran dan sarana mempermudah penyusunan modul mata diklat bagi para widyaiswara dan pegawai khususnya di lingkungan BPPK Kementerian Keuangan.

Semakin banyak modul mata diklat yang disusun diharapkan akan semakin memperlancar pembelajaran serta semakin berkualitas peserta diklat dan para widyaiswaranya. Disamping itu diharapkan peningkatan karier para widyaiswara akan semakin cepat karena adanya angka kredit dari penyusunan modul. Above all, kunci utama menulis berada pada seringnya kita mempraktekkan menulis itu sendiri, apa pun bentuknya. Pengetahuan tanpa aplikasi akan menjadi kurang bermakna, karena itu: keep on writing! 🙂 🙂 🙂

Pengantar Evaluasi Diklat

Secara umum evaluasi adalah suatu proses sistematik untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan efisiensi suatu program. Dalam konteks evaluasi di lingkungan diklat, terdapat tiga istilah yang memiliki arti berbeda karena tingkat penggunaan yang berbeda, yaitu istilah pengukuran (measurement), penilaian (evaluation) dan pengambilan keputusan (decision making). Ketiga istilah ini berkaitan erat dan merupakan suatu rangkaian aktivitas dalam evaluasi dalam dunia kediklatan.

Pengukuran adalah suatu prosedur untuk mendapatkan informasi atau data secara kuantitatif, dengan pemberian angka kepada suatu sifat atau karakteristik tertentu kepada seseorang berdasarkan aturan tertentu. Hasil pengukuran berupa data kuantitatif dalam bentuk angka- angka (skor). Oleh karena itu, dalam pengukuran dibutuhkan adanya alat ukur (instrumen) yang digunakan untuk mengumpulkan data. Sifat dari pengukuran adalah obyektif. Pengukuran tidak membuahkan nilai atau baik buruknya sesuatu, tetapi hasil pengukuran dapat dipakai untuk penilaian atau evaluasi.

Penilaian adalah kegiatan untuk mengetahui apakah suatu program telah berhasil dan efisien. Penilaian bersifat kualitatif untuk menentukan apakah sesuatu (seseorang) tergolong kategori baik atau kurang, tepat atau tidak tepat, dan kualitas lainnya. Penilaian pada dasarnya adalah pemberian pertimbangan (judgement) terhadap skor atau angka-angka yang diperoleh melalui pengukuran. Dengan demikian dalam pertimbangan memuat faktor-faktor yang bersifat subyektif dalam kadar tertentu (relatif).

Pengambilan keputusan (kebijakan) adalah tindakan yang diambil oleh seseorang atau lembaga berdasarkan data (informasi) yang telah diperoleh dengan memasukkan berbagai pertimbangan.

Dari pengertian tersebut, jelas terlihat adanya tingkatan yang berbeda. Pengukuran tidak membuahkan nilai atau baik buruknya sesuatu, tetapi hasil pengukuran dapat dipakai untuk membuat penilaian. Penilaian memerlukan data yang baik mutunya dan salah satu sumbernya adalah hasil pengukuran. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa penilaian tetap dilakukan meskipun tanpa didahului oleh pengkuran. Demikian pula halnya dengan pengambilan keputusan. Keputusan yang baik memerlukan hasil penilaian yang baik.

Dalam perspektif critical event models, evaluasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari seluruh tahapan siklus diklat. Pada konteks ini evaluasi dilakukan terhadap setiap tahapan mulai dari analisis kebutuhan diklat, pelaksanaan diklat sampai dengan setelah selesai pelaksanaan atau pasca diklat.

Model Evaluasi

  1. 1.    Model CIPP

Model CIPP dikembangkan oleh Daniel Stufflebeam’s, merupakan model untuk menyediakan informasi bagi pembuat keputusan, jadi tujuan evaluasi ini adalah untuk membuat keputusan. Komponen model evaluasi ini adalah context, input, process dan product. Context (konteks) berfokus pada pendekatan sistem dan tujuan, kondisi aktual, masalah-masalah dan peluang yang melayani pembuatan keputusan berjalan, berupa diagnostik yakni menemukan kesenjangan antara tujuan dengan dampak ingin dicapai.

Input (masukan) berfokus pada kemampuan sistem, strategi pencapaian tujuan, implementasi disain dan cost-benefit dari rancangan yang melayani pembuatan keputusan tentang perumusan tujuan-tujuan operasional.

Process (proses) memiliki fokus lain, yaitu menyediakan informasi untuk day-to-day decision making untuk melaksanakan program, mambuat catatan atau “record”, atau merekam pelaksanaan program dan mendeteksi atau pun meramalkan pelaksanaan program.

Product (produk) berfokus pada mengukur pencapain tujuan selama proses dan pada akhir program.

  1. 2.    Model Empat Level

Merupakan model evaluasi pelatihan yang dikembangkan pertama kali oleh Donald L. Kirkpatrick dengan menggunakan empat level dalam membuat kategori hasil pelatihan. Empat level tersebut adalah level reaksi (reactions), pembelajaran (learning), perilaku (behavior) dan hasil (results). Keempat level dapat dirinci sebagai berikut :

Level 1: Reactions

Tahap evaluasi pertama yang dilakukan segera setelah pelatihan selesai diberikan. Umumnya ditujukan untuk mengukur tingkat kepuasan peserta terhadap pelaksanaan pelatihan. Paling sederhana

dan mudah dilakukan dengan menggunakan check list. Beberapa hal yang penting untuk dievaluasi adalah:

Isi pelatihan : seberapa jauh isi pelatihan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan, baik dari segi keragaman maupun kedalaman topik yang dibahas. Kualitas materi : seberapa baik kualitas materi yang dibagikan, presentasi audio dan visual yang disajikan, dan peralatan lain yang digunakan selama pelatihan. Kualitas materi yang baik menimbulkan kesan bahwa peserta mengikuti pelatihan yang bergengsi dan bukan pelatihan “asal-asalan” saja.

Metode pelatihan : seberapa sesuai metode pelatihan yang digunakan dengan topik yang dibahas. Contoh, Diklat TOEFL Preparation harusnya lebih banyak dilakukan dalam metode simulasi, latihan praktek dengan komputer dibanding ceramah saja.

Logistik : seberapa layak akomodasi dan konsumsi yang diberikan serta fasilitas pelatihan lainnya. Walaupun kelihatan sepele, akomodasi dan konsumsi dapat mempengaruhi konsentrasi. Instruktur/fasilitator : seberapa fasih mereka memberikan pelatihan. Hal ini bergantung dari kedalaman pemahamannya terhadap materi pelatihan, kemampuan melakukan presentasi materi dan kemampuan mengelola situasi selama pelatihan.

Level 2: Learning

Tahap evaluasi ini pun relatif mudah dilakukan, yang biasanya pada jam terakhir pelatihan. Tujuannya mengukur tingkat pemahaman peserta atas materi pelatihan. Jika seorang peserta pelatihan tidak dapat memahami materi pelatihan, bagaimana mungkin ia dapat mengaplikasikan perubahan dalam kinerjanya? Beberapa metode di

antaranya memberikan tes tertulis atau studi kasus pada peserta pelatihan. Simulasi pun dapat dilakukan, misalnya dengan role play. Paling sederhana adalah meminta peserta melakukan refleksi atau presentasi berupa rangkuman atas apa yang telah dipelajarinya.

Level 3: Behavior / Application

Tahap evaluasi ini ditujukan untuk mengukur implementasi peserta pelatihan di pekerjaan sehari-hari. Informasi yang dibutuhkan adalah: Tugas yang dikerjakan : proyek atau kegiatan rutin yang dilakukan sebagai bukti konkrit dari implementasi peningkatan kemampuan peserta setelah mengikuti pelatihan. Contohnya, peserta yang telah mengikuti pelatihan negosiasi dapat menyebutkan proyek

tender yang berhasil dimenangkannya.

Tim yang terlibat : pihak-pihak yang mendukung kesuksesan dari tugas tersebut. Informasi ini perlu diketahui untuk menilai seberapa besar peran peserta dalam kesuksesan tersebut.

Waktu penerapan : kapan dan berapa lama implementasi tersebut dilakukan. Jika peserta terlibat dalam proyek, maka ada batasan waktu tertentu. Berbeda dengan pengerjaan tugas rutin.

Jika implementasi tidak sesuai dengan harapan, analisis lebih lanjut perlu dilakukan. Misalnya, adakah kesempatan bagi peserta untuk melakukan implementasi? Faktor apa saja yang mendukung implementasi terjadi? Lalu faktor apa yang menghambat dan perlu diatasi? Faktor yang mendukung di antaranya adalah infrastruktur yang memadai, atasan yang terbuka, tim kerja yang solid, dll. Sementara faktor yang menghambat adalah waktu yang sempit, dana yang terbatas, resistensi terhadap perubahan, dll. Jangan sampai ditemukan kemalasan peserta sendiri sebagai faktor penghambat.

Level 4: Results / Impact

Tahap ini ditujukan untuk mengukur dampak pelatihan terhadap kelompok kerja atau organisasi secara keseluruhan. Data historis (awal) harus tersedia untuk melakukan evaluasi tahap ini. Beberapa aspek yang diukur antara lain:

o Tangible, mencakup: (1) hasil kerja, seperti produktivitas, frekuensi, kecepatan, keuntungan, % penyelesaian, (2) kualitas seperti deviasi, kecelakaan, komplain, produk gagal, (3) biaya, seperti biaya operasional, pengeluaran mendadak, (4) waktu, seperti efisiensi, lembur.

o Intangible, mencakup: (1) kebiasaan kerja, seperti absensi, kelalaian, tepat waktu, (2) iklim kerja, seperti komitmen, pengunduran diri, kerja sama, (3) keterampilan, seperti pengetahuan, pemahaman, aplikasi, (4) kepuasan, seperti kepuasan kerja, kepuasan pelanggan, (5) inisiatif, seperti saran, penetapan tujuan, rencana strategis.

  1. 3.    Model ROI (Return On Investment)

Model ROI yang dikembangkan oleh Jack Phillips merupakan level evaluasi terakhir untuk melihat cost-benefit setelah pelatihan dilaksanakan. Kegunaan model ini agar pihak manajemen melihat pelatihan bukan sesuatu yang mahal dan hanya merugikan pihak keuangan, akan tetapi pelatihan merupakan suatu investasi, sehingga dapat dilihat dengan menggunakan hitungan yang akurat keuntungan yang dapat diperoleh setelah melaksanakan pelatihan. Hal ini tentunya dapat memberikan gambaran lebih luas, apabila ternyata dari hasil yang diperoleh ditemukan bahwa pelatihan tersebut tidak memberikan keuntungan baik bagi peserta maupun bagi lembaga. Model evaluasi ini merupakan tambahan dari model evaluasi Kirkpatrick yaitu adanya level ROI (level 5), pada level ini ingin melihat keberhasilan dari suatu program pelatihan dengan melihat dari CostBenefit-nya, sehingga memerlukan data yang tidak sedikit dan harus akurat untuk menunjang hasil dari evaluasi pelatihan yang valid.

Tahap ROI paling sulit dilakukan. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi nilai balik modal dari pelaksanaan pelatihan. Dibutuhkan waktu, biaya dan analisis data yang akurat untuk keberhasilan evaluasi ini. Salah satu cara adalah mengisolasi pengaruh pelatihan, ada tiga strategi yang dengan mudah diperhitungkan yaitu :

a. Perbandingan antara kelompok peserta dan kelompok bukan peserta. Kinerja antara kelompok peserta pelatihan dapat diperbandingkan dengan kelompok lain yang setara dan belum mendapatkan pelatihan. Contohnya, cara menjawab telepon yang masuk dari kelompok resepsionis peserta pelatihan Sopan Santun Bertelepon dibandingkan dengan kelompok yang belum mendapatkan pelatihan. Secara kualitatif, cara menjawab yang lebih baik dapat disimpulkan disebabkan oleh pelatihan tersebut.

b. Perbandingan antara sebelum dan sesudah pelatihan. Kinerja antara sebelum dan sesudah pelatihan dari kelompok yang sama diperbandingkan. Contohnya, penjualan retail sebelum pelatihan direct selling dibandingkan dengan penjualan setelah pelatihan.

Tentu saja analisis yang dilakukan juga perlu memperhatikan tren kenaikan atau penurunan tanpa adanya pelatihan. c. Estimasi peserta terhadap presentase pengaruh pelatihan. Inilah perhitungan yang paling mudah dilakukan. Peserta pelatihan diminta untuk mengungkapkan berapa persentase pengaruh pelatihan terhadap perbaikan kinerjanya. Contohnya, peserta pelatihan Interconnecting Network Device melaporkan bahwa 70% keberhasilan mengerjakan proyek Wireless Connection disebabkan oleh aplikasi pelatihan. Sisanya, 30% lainnya oleh faktor-faktor lain, seperti proses belajar sendiri, umpan balik atasan, dll.

C. TahapanEvaluasi

 

Tahap1 : Persiapan Evaluasi

Pada langkah ini terdapat tiga kegiatan pokok yang berkaitan dengan pelaksanaan evaluasi yaitu : menentukan tujuan atau maksud evaluasi, merumuskan informasi yang akan dicari atau memfokuskan evaluasi dan menentukan cara pengumpulan data.

Beberapa kriteria yang digunakan dalam merumuskan tujuan evaluasi adalah: (1) kejelasan, (2) keterukuran, (3) kegunaan dan kemanfaatan, (4) relevansi dan kesesuaian atau compatibility. Jadi tujuan evaluasi harus jelas, terukur, berguna, relevan dan sesuai dengan kebutuhan pengembangan program diklat.

Dalam merumuskan informasi atau memfokuskan evaluasi harus berdasarkan kepada tujuan evaluasi. Terdapat beberapa metode dalam merumuskan pertanyaan evaluasi yaitu: (1) menganalisis objek, (2) menggunakan kerangka teoritis, (3) memanfaatkan keahlian dan pengalaman dari luar, (4) berinteraksi dengan audiens kunci.

Menentukan cara pengumpulan data, misalnya survei atau yang lain, ditentukan pula pendekatan dalam pengumpulan data. Terdapat beberapa prosedur pengumpulan data dengan pendekatan kuantitatif, misalnya observasi, tes, survei atau lainnya.

 

Tahap 2 : Mengembangkan Instrumen

Setelah metode pengumpulan data ditentukan, selanjutnya ditentukan pula bentuk instrumen yang akan digunakan serta kepada siapa instrumen tersebut ditujukan (respondennya). Terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh instrumen evaluasi sebagai berikut: (1) validitas adalah keabsahan instrumen dalam mengukur apa yang seharusnya diukur, (2) reliabilitas adalah ketetapan hasil yang diperoleh, misalnya bila melakukan pengukuran dengan orang yang sama dalam waktu yang berlainan atau orang yang lain dalam waktu yang sama, (3) objektivitas adalah upaya penerjemahan hasil pengukuran dalam bilangan atau pemberian skor tidak terpengaruh oleh siapa yang melakukan, (4) standarisasi untuk memastikan evaluator mempunyai persepsi yang sama dalam mengukur karena adanya petunjuk khusus pengisian data, (5) relevansi adalah kepatuhan untuk mengembangkan berbagai pertanyaan agar sesuai dengan maksud instrumen, (6) mudah digunakan.

 

Tahap 3 : Mengumpulkan Data

Dalam melakukan pengumpulan data ini dilakukan dengan berbeda-beda pada masing-masing level. Pada level reaksi data yangg dikumpulkan berupa data kuantitatif dengan menggunakan metode survei. Kemudian pada level pembelajaran data yang dikumpulkan berupa data kuantitatif dengan menggunakan tes. Selanjutnya pada level perilaku, data yang dikumpulkan melalui observasi atau dapat juga dengan rencana aksi (action plan), yaitu rencana tahapan tindakan yang akan dilakukan oleh

peserta pelatihan dalam mengimplementasikan hasil pelatihan yang telah diikuti. Dalam hal ini para peserta harus mempunyai suatu sasaran peningkatan kinerja/kompetensi yang bersangkutan dalam unit kerja masing-masing yang kemudian diukur dengan mengunakan patokan kinerja/kompetensi yang bersangkutan. Kemudian yang terakhir, yaitu pada level hasil atau dampak, pada data yang dikumpulkan dapat melalui atasan, peserta pelatihan, bawahan atau rekan kerja (client).

 

Tahap 4 : Mengolah dan Menganalisis Data

Setelah data yang diperlukan sudah terkumpul, maka langkah berikutnya adalah mengolah dan menganalisis data. Dalam menganalisis data dan menafsirkannya (menginterpretasikan) harus berdasarkan hasil data yang telah berhasil didapatkan. Kemudian menyajikannya dalam bentuk yang mudah dipahami dan komunikatif.

Tahap 5 : Menyusun Laporan

Melaporkan merupakan langkah terakhir kegiatan evaluasi pelatihan. Laporan disusun dengan format yang telah disepakati oleh tim. Langkah terakhir evaluasi ini erat kaitannya dengan tujuan diadakannya evaluasi. Langkah-langkah tersebut dapat dengan digunakan untuk menjawab sejauh mana evaluasi pelatihan yang akan dilakukan dan bagaimana pelaksanaan proses pelatihan dari awal hingga akhir sehingga memberikan hasil untuk improvisasi pada pelatihan-pelatihan selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Diklat Propinsi Jawa Timur. Monitoring dan Evaluasi Pendidikan dan Pelatihan (Modul Management of Training). Badan Pendidikan dan Pelatihan Propinsi Jawa Timur, Surabaya, 2002.

Chung, KSD. Jurus Jitu Evaluasi Pelatihan (http://www.portalhr.com/kolom/2id93.html), diakses 12 Desember 2008.

Irawanto, DW. Paradigma Baru Evaluasi Efektivitas Pelatihan (http://www.portalhr.com/kolom/2id185.html), diakses 12 Desember 2008.

Kirkpatrick, DL. Seven Keys to Unlock the Four Levels of Evaluations (http://www.scribd.com), diakses 12 Desember 2008.

Lembaga Administrasi Negara RI. Metode Pengukuran dan Instrumen Penelitian (Bahan Ajar Diklat Kewidyaiswaraan Berjenjang Tingkat Madya). Lembaga Administrasi Negara RI, Jakarta, 2003.

McGivern, MH and Bernthal, P. Measuring Training Impact (http://www.scribd.com), diakses 12 Desember 2008.

What Makes Good Music?

Buat My Favorite Band yang Lagi Ultah

Apa musik favorit kalian? Ada yang bilang soal musik itu soal selera, jadi memang taste di musik berbeda-beda tiap orang. Ada yang suka karena lagi ngetrend, karena liriknya ok, karena penyanyi atau band-nya cakep, karena asik buat goyang kaki dan jingkrak2 dan masih berjuta beda alasan lainnya. Buat saya, good music nggak harus mengikuti jaman, yang sekarang ini lagi in… K-Pop, it’s not good music to me. Apalagi techno music, I hate it. Saya bukan pemusik, hanya pecinta saja, tapi saya punya kriteria sendiri buat good music:

1. good tune

Kalau nadanya terlalu aneh juga nggak enak di telinga, tapi kalau terlalu datar-datar saja ya kurang nyeni. Harus ada harmoni dari notasi nada, harmony of sounds, yand sesuai dengan jenis lagunya.

2. good rhythm

Rasanya seperti magic mendengarkan semua instrumen musik coming together in synchronization. Namanya juga musik, an artful combination of sounds, maka rhythm is everything. Rythm yang bagus itu an aesthetic construction, makanya paling penting buat good music.

3. expression

Musik dan lagu harus bisa mengekspresikan sesuatu, misalnya kesedihan, kegembiraan, kemarahan, semangat, dan lain-lain. Bahasa kerennya pouring your heart and soul into your music sehingga kita bisa berimajinasi bersama musik, letting it take you to a journey.

4. good lyrics

Buat saya lirik yang bagus untuk sing along juga mendukung buat good music. Lirik bagus nggak selalu harus yang puitis, tapi harus yang mengena sesuai dengan tema lagunya.

Saya punya banyak group favorit, nah yang kebetulan yang mau ultah adalah band NAIF (jreeeng….gubraks!). Ha ha, temen anakku sampai bilang, “Tante2 kok suka Naif”….

Penampilan awal, norak abiz ha ha

Tanggal 22 Oktober kalau nggak salah adalah ultahnya, jadi tinggal beberapa hari lagi. Saya pertama kali dengar lagu pertama nya Mobil Balap pas sudah lulus kuliah n kerja, 1996 kalau tidak salah. Waktu itu kakakku sempat ngetawain, video klip nya aneh (nonton di RCTI), tapi aku ngotot musiknya unik kayak asli lagu tahun 70-an. Yang norak abiz dan retro-like gitu yang saya demen. Nah pas sudah kerja di STAN thn 1999, dengar lagunya lagi dari komputer teman, langsung deh saya copy semua mp3-nya ha ha, gratisan. Pas saya dengarkan semua lagunya, langsung saya proklamasikan bahwa inilah satu-satunya band nasional yang say suka. Dulu sempat suka sama Krakatau, tapi pas dengar album2 berikutnya sudah nggak punya taste lagi sama mereka. Beda dengan Naif, di setiap albumnya, selalu ada lagu2 yang jadi my favorite tune.

Terus terang saya suka bukan karena tampang para personilnya, tapi lebih pada skill setiap personil. Semua personilnya bisa nyanyi, tp memang yang paling keren vokalnya tentu si David, meski kalau nyanyi suka bergaya konyol, tapi so entertaining. Emil main keybord dan bass-nya mantaps, Jarwo gitarnya yahud, dan Pepeng kreatif sekali di perkusinya.

Lagu2 Naif sudah jadi background music saya kalau lagi ngetik atau ngerjain tugas kantor  sampai sekarang  (12 tahun nih). Anak2ku tumbuh besar dengan lagu Naif (biar seleranya sama dengan emaknya :D), soalnya kalau weekend saya putarin dari PC, (kan nggak punya TV).

I only listen to good music. Jadi Naif saya putar bergantian dengan lagu2 Nirvana, Led Zeppelin, Mr. Big, dan classic rocks lain yang saya punya, yang dimasukin di satu folder “Daily Music”. Saya nggak tau video-klip mereka, so purely relying on the music. Mau tahu lagu2 Naif yang wajib saya putar selain Mobil Balap: Lagu Wanita, Dia Adalah Pusaka Sejuta Umat Manusia yang Ada Di Seluruh Dunia, Hidup itu Indah, Senang Bersamamu, Janji Setia, Curi-Curi Pandang, Di Mana Aku di Sini, Air dan Api, Piknik 72, Karena Kamu Cuma Satu, Aku Rela, Hai Monas, Uang, dan Apa Adanya.

Why is Listening Difficult for EFL Learners?

My trainees often complain about having problems in listening comprehension. It’s not because they have hearing problems, they just said that it’s difficult to understand listening passages in English. Well, this is a kind of mental block that all trainees should avoid, but I think I know why:

efidrew listening

1.     They are trying to understand every word

I said to them that they just can’t rely much on their bottom-up strategy in listening to an audio passage. Sometimes they have to use their top-down strategy to understand the gist of the listening: get the main idea and don’t be bothered by every single word they hear.

2.     They get left behind trying to work out what a previous word meant

Vocabulary is very important here. To save energy, they just need to guess the meaning from the context. I also provide my trainees with a vocabulary list for their pre-listening activities.

3.     They just don’t know the most important words

Again, doing vocabulary pre-teaching before each listening as a short term solution and working on the skill of guessing vocab from context can help. I also encourage my trainees to read a lot so as they can enhance their range of vovabulary.

4.     They don’t recognise the words that they know

This is because they are not able to distinguish between different sounds in English (e.g. /l/ and /r/ in “led” and “red” for many Asians), or conversely trying to listen for differences that do not exist, e.g. not knowing words like “there”, “their” and “they’re” are homophones. Other problems include word stress, sentence stress, and sound changes when words are spoken together in natural speech such as weak forms. Therefore teaching pronunciation is the most important part of listening comprehension skills building.

5.     They have problems with different accents

They find that European, British,  and Australian accents are hard to catch, but not American one. My suggestion is try to use news program on television to get them used to different accents, such as BBC World Service, CNN News, French Tv. etc. Frequently listen to them, just for ear training.

6.     They lack listening stamina/ they get tired

This is especially when English is not their first language:  listening to English for several hours causes their brain to reach saturation point and from then on nothing goes in until they escape to the toilet for 15 minutes.  This means they need some energizer in listening: I can play some games that involve speaking-listening, or just play some songs and they can sing along with it (so they are still learning anyway, in a fun way).

7.   They are distracted by background noise

Like it or not, trainees need to listen to authentic passage (for example conversation at public places), not only scripted, recorded audio in a quiet studio.

8. They can’t tell the difference between the different voices

This was the problem that took me longest to twig, but voices that are clearly distinct to a native speaker can be completely confusing for a non-native speaker like my trainees. So repetition is a must for me, and I said to my trainees that to build this ability is not an instant thing, it takes patience and a process to improve it. I also suggest them to watch drama or comedy movies to get them used to different voices.

Above all, the Great Wall wasn’t built in one day. So the key success in improving is just to keep on practicing intensively with whatever resources around us: the Internet, television, CD, DVD, and so on.

Good luck for your listening!

Anggaran Tradisional dan Anggaran Visioner

Ini sebenarnya tulisan suami saya, aslinya cuman 1  halaman A4 saja. Pas saya baca, jidat langsung mengkerut: nggak mudeng coz ngga komunikatif bahasanya ha ha ha. Dengan bekal Academic Writing, saya edit sana-sini dan jadilah dia artikel sepanjang 2 halaman dan lumayan dimengerti lah daripada sebelumnya.  Selamat menyimak ^_^

Keep your budget, mate!

Bagi kebanyakan kita (pegawai Pemerintah), tanggal muda adalah saat yang paling  dinantikan. Saat gajian memang dapat membuat orang bahagia: Anda dapat membeli lebih banyak keperluan sehari-hari, segera membayar kewajiban anda, mengubah penampilan, dan lain sebagainya. Namun mungkin saja Anda tidak terlalu bahagia dengan tanggal muda jika Anda termasuk kelompok mereka yang bergaji sepuluh koma; artinya setelah tanggal 10 anda benar-benar koma.

Tapi kita mungkin pernah melihat  seorang pegawai negeri yang tidak terpengaruh dengan datangnya hari gajian atau tidak. Kita katakan orang tersebut dalam keadaan bebas finansial, artinya setiap keinginannya dapat terpenuhi kapanpun dia mau tanpa tergantung dengan tanggal gajian. Di dalam praktek, kita semua memiliki kebebasan dalam mengelola uang yang ada. Namun, keputusan finansial yang dibuat harus tepat dan bijak,  jangan sampai seperti pepatah: besar pasak dari pada tiang.

John Maynard Keynes menggambarkan tiga motivasi orang dalam memegang uang: sebagai transaksi, berjaga-jaga dan spekulasi. Kita bisa saja menghabiskan semua pendapatan, sampai tidak ada sisa yang disimpan. Namun seyogyanya kita dapat mengelola pendapatan dengan bijak sehingga selalu ada saldo kas positif setiap akhir bulan, juga agar pendapatan yang ada tidak digunakan hanya untuk pemenuhan kebutuhan dan  pembelian barang saja (konsumsi).

Banyak orang yang sadar akan pentingnya pengelolaan anggaran, namun sulit untuk melakukannya. Alasannya sederhana saja: gaji atau pendapatan yang diterima kecil. Padahal perlu kita ketahui bahwa anggapan besar-kecilnya pendapatan sebenarnya adalah relatif. Bukankah kita mengenal konsep efektivitas selain efisiensi? Segala pengeluaran yang akan kita lakukan perlu dikaji apakah sudah dalam  perencanaan sebelumnya, dan  kita perlu selalu bertanya tepatkah keputusan yang kita lakukan terhadap pendapatan kita sendiri dan adakah alternatif  pendapatan lain ?

Mereka yang berpenghasilan besarpun bisa saja tidak melakukan pengelolaan dalam anggarannya. Umumnya mereka malas, karena kapanpun mereka dapat mengeluarkan uang tanpa kesulitan. Mereka berpendapat, nanti juga akan mendapat tambahan penghasilan berupa honor atau bonus selain gaji bulanan, jadi buat apa repot melakukan perencanaan dan sebagainya. Anggapan tersebut menurut penulis sebenarnya keliru, karena pendapatan besar dengan skema pengeluaran besar sebetulnya tidak ada bedanya dengan pendapatan kecil. Mari kita simak dua tipe pengelolaan anggaran berikut ini:

Anggaran Tradisional

Kita melihat pengelolaaan anggaran dengan prinsip sederhana, yaitu besarnya  pengeluaran selalu kita sesuaikan dengan besarnya pendapatan. Kata berapa dan ke mana menjadi kata kunci di sini. Dengan demikian kita berasumsi bahwa pendapatan kita adalah relatif tetap. Strateginya adalah bagaimana  kita secara cermat mengelola pengeluaran. Metode penganggaran seperti ini kita kelompokkan sebagai anggaran tradisional, karena hanya mencakup berapa besar pendapatan kita dan ke mana saja kita keluarkan. Umumnya mereka yang memakai pola ini tidak efektif karena mereka cenderung menghabiskan pendapatannya untuk konsumsi. Kalaupun ada sisa, biasanya akan habis juga untuk keperluan lain yang mendesak.

Anggaran Visioner

Dalam hal ini kata kuncinya bukan hanya berapa dan ke mana tetapi ditambah dengan dari mana dan bagaimana. Pemakai tipe anggaran ini suka menggali sumber-sumber lain yang sah yang menambah penghasilan (dari mana). Mereka akan selalu berpikir apa yang akan saya lakukan untuk menambah penghasilan. Selain itu ia juga merasa dituntut untuk melakukan pengeluaran yang dapat menambah value aset (bagaimana). Mereka terpacu untuk berpikir dinamis dan jauh ke depan (visioner), tetapi tetap rasional dan realistis. Orang-orang dengan anggaran visioner semacam ini memilki tipikal suka belajar, inovatif, luwes dalam networking, pekerja keras dan bersemangat.

Setelah mengetahui dua tipe di atas, pertanyaannya adalah kita termasuk kelompok yang mana? Tidak ada kata terlambat untuk berbenah diri jika Anda termasuk model anggaran tradisional, dan jika Anda termasuk yang visioner, keep it up!

Mari berbenah

Membenahi tipe penganganggaran dan perencanaan keuangan Anda mutlak dilakukan bagi kelompok tradisional. Berikut tips yang penulis sarikan dari ceramah Ahmad Gozali (perencana keuangan dari Safir Senduk & Rekan) pada Seminar Persiapan Purna Bhakti Pusdiklat Keuangan Umum beberapa waktu lalu di BPPK.

1. Buang mindset bahwa gaji kita pas-pasan.

Berapapun penghasilan kita, akan selalu terasa pas dengan pengeluaran. Karena untuk pengeluaran biaya hidup misalnya, standarnya selalu mengikuti berapapun penghasilan kita, sehingga bagaimanapun akan terasa pas. Bersyukurlah jika pas-pasan, karena kekurangan itu jelas tidak enak, dan berlebihan juga akan menimbulkan masalah baru yang lebih besar.

2. Tentukan tujuan keuangan

Petakan apa saja yang Anda inginkan. Misalnya, kapan memiliki rumah sendiri, ke mana akan menyekolahkan anak, kapan akan pensiun, kapan dan ke mana akan liburan, dll tetapkan tujuan dengan detil, mencakup waktu dan kebutuhan dananya.

Misalnya: ingin membeli rumah di Bintaro yang harganya Rp 4 miliar lima tahun lagi. Dengan adanya tujuan ini, Anda bisa menghitung berapa dana yang harus disisihkan untuk ditabung atau diinvestasikan, dan setelahnya, berapa batas maksimal pengeluaran keluarga setiap bulan.

3. Sisihkan semua yang harus dikeluarkan di awal setelah menerima gaji.

Bayar semua cicilan di awal ketika menerima penghasilan, setelah itu, sisihkan dulu jumlah untuk ditabung. Tidak perlu banyak, yang penting konsisten setiap bulan. Sisanya, barulah dipakai untuk biaya hidup. Sisa inilah yang sebetulnya menjadi penghasilan bersih kita.

4. Pilihlah sumber penghasilan lain yang bisa Anda dapatkan serta investasi yang bisa dilakukan.

Anda bisa mencari pekerjaan tambahan, berbisnis, membeli logam mulia, properti, deposito berjangka, obligasi, saham, reksadana, unit link, dll. Sebelum berinvestasi pada satu instrumen investasi, Anda perlu mempelajari dan memahami biaya transaksi termasuk pajak yang perlu dibayar. Perhitungan imbal hasil (return) untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai adalah berdasarkan imbal hasil bersih setelah dikurangi biaya dan pajak.

Akhirnya, pilihan ada di tangan Anda, mau sepuluh koma atau bebas finansial? Saatnya Anda mereview style penganggaran Anda!

Kepustakaan

Sutikno, Mike R. Anggaran yang Visioner. Artikel pada majalah Bisnis Indonesia edisi 61, 10 Februari 2008.

Visiting Belgium

I visited Belgium in 2011. I took a bus tour from Amsterdam, Holland. The Package includes visiting Antwerp, Bruges and Brussels.

Belgium 2011

Antwerp is famous with its diamonds. My tourist guide said that the city is home too to the second largest harbour in Europe. It has an array of 16th and 17th century architectural marvels. Artist Peter Paul Rubens also lived here. I visited Antwerp-Central railway station, which has a vast dome above the waiting room. I really admire the antique clock above the upper level, but I couldn’t take a picture because there were many people going here and there (why I felt too embarrassed to do it that time? Nyeseel deh sekarang) We just spent several minutes in Antwerp because it’s too early in the morning, and it’s just the second city in Belgium. Not much we can see there.

We moved on to Brussels. Brussels is the capital of  Belgium and has enormous diversity in terms of places of interest and things to do.  (My tour guide told me that Brussels has grown from a 10th-century fortress town founded by a descendant of King Charlemagne to more than one million inhabitants, wow!) I saw some sights from museums & monuments to parks & points of interest there. Here they are:

1. The Grand Place

The Grand Place, the central square of the city with its ornate baroque and gothic guild houses, is listed as a UNESCO World Heritage site, and one of the most beautiful squares in Europe. It’s also called Grote Mark in Dutch language. Built as a merchants market in the 13th century, it is the city center and the most important tourist destination in Belgium. I really enjoy Belgian hospitality at one of the many terrace cafes there. There are many events held in this place throughout the year.

2. Brussel Town Hall

It’s a Gothic building from the middle age, located in Grote Markt. The facade is decorated with numerous statues representing nobles, saints, and allegorical figures. The present sculptures are reproductions; the older ones are in the city museum in the “King’s House” across the Grand Place.

3. Broodhuis or Breadhouse.

It’s also famous as The Maison du Roi (The King’s House). This building is just a symbol of ducal power, but no king has ever lived there. I just took pictures in front of it.

4. Manneken Pis

Manneken Pis

I don’t know why this is a famous statue, it’s not so impressive to me. Just a statue of a little boy peeing in a fountain (they say it’s eternal pee, ha ha), but draws many people to take pictures there. It’s located on the corner of Rue de L’Etuve & Stroofstraat since 1619. Over time it has become a tradition for visiting heads of state to donate miniature versions of their national costume for the little naked boy, and the wardrobe of Mannekin Pis are kept at the Brussels museum (some say there are over 800 outfits).

5. Guildhalls

They used to be left neglected in poor condition after being destroyed on the revolution against symbol of Christianity. But in 19th century they are reconstructed and restored. I bought some souvenirs from one shop on the guildhall.

6. Atomium

Atomium 2011

Atomium was built for the 1958 World Fair, it represents a molecule’s nine atoms – magnified 165 billion times. It is also a symbol of the city, which provides a panoramic view of Brussels and its surroundings. The 9-spheres that make up the “atom” are linked by escalators, they host a museum and is also a venue for special events. But we don’t go inside the Atomium, we just take some pictures in front of it.

7. Cathedral of Saints Michel and Gudule

cathedral st .michael brussels belgium

This is a magnificent cathedral, dedicated to the male and female patron saints of Brussels, located near Central Station. I read the information board that it was completed by the end of the 15th century in the Brabant Gothic style, but was damaged by the French shelling of 1695. The white stone façade is from the year 1250 and the interior is so proportioned and stuffed with treasures, very beautiful! I went inside the church and there were not many people inside, just us tourists. My tour guide said that Belgian don’t believe in Church any more, I mean people don’t go to church now, they use it just for some ceremonial things like wedding or infant baptism, nothing else.

Bruges is beautiful. It’s s a town in Flanders, the northern part of Belgium. It is one of The UNESCO World Heritage Cities. I really enjoy walking around the cobblestone street, stroll through luxury shops, and eat Moules frites (try it, your trip in Belgium is not even complete without getting your fingers sticky with mussel juice. Moules frites  are mussels with chips or French fries, and the price is not very expensive. You eat the first mussel with your fingers and then scoop up the rest using the empty shell as a spoon. And what about the fries? Just dip those in mayonnaise, oh yummy!

Belgian chocolate
Belgium chocolate
My favorite Leonidas

My Belgium experience is mostly perfected by sampling the world-famous chocolate and visiting Comic Strip Museum in Brussels. There are so many chocolate shops in Belgium, such as Wittamer (family-owned chocolatier that’s been in business since 1910), Pierre Marcolini near the Grand Place, Neuhaus, Guylian, Jeff de Bruges, and many more. My favorite chocolate shops are also there: Godiva and Leonidas. They sell reasonable prices for my pocket, of course. I also try Belgium waffle, soo yummy! Now I believe that Belgian waffle is the best in the world.

Tintin memorabilia
Tintin’s cars

I revisited the comic strips of my youth: Tintin and Smurf. I don’t know that Herge is a Belgian, I thought he’s French. I saw many comic artworks in the Comic Strip Museum, and also other sketches and memorabilia.

Beautiful Belgium, beautiful memory. ^_^