Another Research This Year

Still haven’t found any idea. Last year I wrote about Metaevaluation. Actually I’ve been thinking about taking my participants in my Business English class to participate in my survey on trainees’ satisfaction with online learning. But that’s kinda similar to the evaluation performed by Evalapkin Division I suppose.

I have tried to read recent journals on this. I found one by team of researchers in Saudi Arabia, Norah Mansour Almusharraf and Shabir Hussain Khahro from Sultan University, Riyadh. Their study evaluated the level of postsecondary student satisfaction with online learning platforms and learning experiences during the novel coronavirus COVID-19 pandemic. I think I can replicate their research and make some necessary adjustment with my own context. What makes me interested is the items in their instruments. If I’m about to use it, I will do these adjustments:

  • changing students with participants
  • changing faculty and the school with Pusdiklat
  • removing counselor
  • changing academic advisor with Widyaiswara/trainer
  • removingGoogle Hangouts
  • changing Google Classroom with KLC

Of course first I need to get the author’s consent before starting my reasearch. And I just need to get more literatures relevant to the topic, as I want it to be rich with different perspectives as well. But gosh, these weeks have been like a surgeon drill for me, I barely have time to read. Assignments keep coming; in one day I can have 4 meetings to attend, since I’m engaged to too many teams at FETA: learning organization (LO) counterpart team, TPP LAN evaluator, action learning coach, PJJ program coordinators, and of course training facilitator.

Sometimes I feel like my head is about to blow up, but other times I just feel thankful that my organization gives me many chances to do experiential learnings. Doing many tasks really has good effects as I myself have the desire to absorb the knowledge from my activities. OK enough with this freewriting, I think I have an idea of what to write in my first Chapter, so I’ll see you guys later…..

Evaluasi oh Evaluasi…

Baru saja selesai mengikuti Rapat Persiapan untuk PJJ Business English 1 yang diselenggarakan minggu depan, dan seperti praktik biasanya di Pusdiklat kami yaitu dilakukan evaluasi PJJ serupa di angkatan sebelumnya sebelum rapat persiapan dimulai. Kelas minggu depan adalah Angakatan III untuk tahun 2021 ini, jadi yang dibacakan oleh Bid Evalapkin adalah untuk Angkatan II yang telah selesai seminggu yang lalu.

That’s why I’m writing this to get the things out of my chest, coz kalau saya share di group WA my fellow trainers will cause a painful discussion among us. Jadi secara garis besar sebenarnya tidak ada masalah di hasil evaluasi PJJ nya, 4,81 di rata2 persepsi/kenyataan. Yang menjadi masalah adalah satu kriteria tentang ketercukupan waktu penyelenggaraan Pelatihan Jarak Jauh dengan jumlah materi yang diberikan hanya mendapat nilai 4,17 (Baik), sedangkan yang lainnya semua nilainya di atas 4,7 (Amat Baik). Kabid Penyelenggaraan menanggapi hasil evaluasi itu dengan pertanyaan skeptis pada saya kenapa hal ini bisa terjadi, apa benar menurut peserta saya waktu PJJ 3 hari kurang lama. Apakah materi di PJJ ini terlalu banyak hingga peserta minta waktu diklat lebih lama? Apakah mereka tidak cukup waktu untuk praktik sehingga masih perlu tambahan waktu diklat? Duh saya auto baper ditanya beliau, apalagi sampai nambah dengan: kurikulumnya apa perlu ditinjau lagi?

OK sik yo Bapake…Saya merasa pertanyaan itu salah jika ditujukan ke saya, karena saya sudah mendisain PJJ itu dengan cermat bersama Renbangdik dengan mempertimbangkan faktor semacam cakupan materi, pengaturan sesi synchronous, asynchronous mandiri, serta asynchronous collaborative yang tepat, preventif terhadap Zoom fatigue, dan lain2. Saya serahkan kepada bidang Evalapkin untuk menjawab, bagaimana dengan hasil tersebut apakah sudah di probing saat evaluasi tatap muka untuk mendapatkan penjelasan lanjut dari para peserta. Lha yang berpendapat peserta, kok saya yang ditanya, seharusnya ya tanya peserta langsung kan…

Coz disain PJJ yang sama dengan peserta berbeda hasilnya tidak akan pernah sama. Di Angkatan I di bulan Januari, semua nilai saya aman, mendapat Sangat Baik semua. Selesai rapat saya langsung WApri ke rekan saya yang jago evaluasi, ibu Theresia Vera Y. Kata beliau …saya copa nih: perlu ditelusuri lagi, karena harus didapatkan data tentang MP mana yg kurang dan kurang waktunya seberapa banyak serta alasan kurang waktunya karena apa. Kalau tidak ada data probing, ya terpaksa data tersebut tidak dijadikan dasar pengambilan keputusan, kerugian di kita adalah adanya kemungkinan pengambilan keputusan yang salah. Tetapi belum tentu juga info waktu yg kurang itu tepat, karena ada banyak hal lain yg berpengaruh secara psikologis yang menyebabkan peserta menulis demikian sihhhh. Makanya kalo ada data tertulis begitu, kalo evaluasi tidak probing, fungsi mereka sebenarnya jadi kurang jalan. Yang harus diwaspadai juga sih, kalo orang indonesia kan suka gitu: ngasih nilai bagus tapi komplennya banyak 😅. Tapi kalo gak ada data lebih lanjut ya, terpaksa gak dianggep datanya. Kan kita gak bisa nerawang persepsi peserta😁 Bisa melihat kurikulum Angkatan lain untuk jadi acuan Bu. Sekali lagi, hasil evaluasi tidak lepas dari subjektivitas peserta yang kita gak tahu kondisi psikologisnya saat itu bagaimana.

So, benar kata bu Therez kuncinya di evaluasi tatap muka, tapi masalahnya evaluasi tatap muka biasanya waktunya sempit dan pertanyaannya kurang tertata dengan baik oleh yang melakukannya di hari terakhir diklat. Anyway, saya lega saja bisa ngobrol dengan bu Theres, memang sih menurut saya hasil evalap angkatan II itu cerminan evalap yg kerjanya gak tuntas dan hasil kerjanya gak baik. Kata bu Therez “Bu, kalo hasil evaluasi gaje, trus WI yg dicecar, jawabnya gini aja: kan yg dikumpulin data persepsi peserta, ya meneketehe dong. Kalo dari sisi penyusun kurikulum dan pengajar sih udah OK. Gitu Bu… gak tepat kalo kita disalahin atas data yg gaje” hehehee betul juga saran beliau.

Iya emang lagi agak sensi saya, kalau semua2 ditanyakan ke WI (karena saya Wali Program di sana) serasa gemes jika cukup nanya ke saya terus mereka langsung bisa buat kesimpulan bahkan keputusan. Parah, pengin cepet ngambil keputusan tapi gak berpikir panjang utk ngumpulin data dengan baik. Saya sensinya karena kalau masalah catatan waktu diklat perlu diperpanjang terkait Business English ini mah sudah lagu lama. Dulu kala BE diajar sama bule macam Stephen atau ms Julia, dengan durasi 5 hari untuk 4 MP, peserta mengatakan waktu diklat kurang lama. Herannya semua berkesimpulan krn peserta semua suka dengan pengajarnya. Giliran sekarang saya, WI internal Kemenkeu, yang mengajar 3 hari untuk 2 MP dapat catatan seperti itu, ngoreks2nya kok Did I do something wrong in class? Anything wrong with your curriculum design? ….Oh Bro please…come on…logikanya rek…kok nggak bisa mikir juga karena peserta juga suka sama pengajarnya, jadi 3 hari itu kurang buat mereka bersama saya, hehehee…Kan sesuai kata bu Theres, unsur subyektivitasnya tinggi …tanya saja ke peserta why…why…oh why to Mas Brooo…hahahaa…

Akhirnya bisa senyum lagi saya habis chat dengan beliau, tapi teteup tak tulis di sini ya…biar ada postingan untuk February. Thanks for reading, guys…

OVERVIEW DESAIN PEMBELAJARAN E-LEARNING


Desain pembelajaran , baik itu program pembelajaran kelas klasikal maupun kelas noklasikal (e-learning) merupakan bagian dari proses instructional system design (ISD) yang terdiri atas kegiatan Analyze, Design, Develop, Implement, dan Evaluate (ADDIE). Analyze atau analisis, berupa kegiatan analisis peserta pembelajaran, tujuan pembelajaran pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, dan seterusnya, yang bertujuan agar cakupan Desain belajar menjadi sistematis dan sistemik. Design atau desain, berupa kegiatan pengkajian hasil analisis AKP, dan pengambilan keputusan tentang materi, metode, media, alur kegiatan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan alokasi waktu tiap segmen pembelajaran. Develop atau pengembangan, adalah kegiatan menyusun dan mengujicoba bahan yang dihasilkan dari langkah desain sebelumnya (materi belajar, skenario pembelajaran, soal evaluasi hasil belajar, dll). Dalam develop juga dilakukan telaah atas hasil ujicoba pengembangan. Implement atau impelementasi, adalah tahap pelaksanaan pembelajaran pada situasi yang rill, baik dalam kelas klasikal maupun e-learning. Evaluate atau evaluasi merupakan kegiatan penentuan mutu belajar atau pembelajaran yang sedang atau telah dijalani.
Pelaksanaan Desain pembelajaran untuk program e-learning sama halnya dengan untuk program klasikal, dimana Desain dilakukan setelah dilakukan analisis kebutuhan organisasi maupun uraian jabatan dari unit pengguna. Desain memperhitungkan kesenjangan pengetahuan/keterampilan/kompetensi, kondisi calon peserta, sasaran atau tujuan umum pembelajaran, sifat materi, serta uraian pekerjaan dan keterampilan dalam e-learning. Dengan mempertimbangkan prinsip interaktif, sederhana, terorganisasi/teratur dan kemudahan akses, diharapkan Desain pembelajaran program e-learning di BPPK akan dapat berkontribusi dalam peningkatan kinerja organisasi unit pengguna. Di bawah ini adalah contoh praktik penerapan Desain pembelajaran e-learning di Pusdiklat Keuangan Umum:

Alur Desain pembelajaran e-learning di Pusdiklat Keuangan Umum

Pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang teori pendidikan dan pembelajaran, latar belakang peserta pembelajaran, tujuan pembelajaran pembelajaran, karakteristik materi pembelajaran, serta keunggulan dan kelemahan suatu metode pembelajaran, sangat diperlukan bagi seorang Desainer pembelajaran e-learning dalam menghasilkan suatu Desain program yang tepat. Karena itu beberapa konsep perlu ditelusuri ulang sebagai dasar pijakan pembahasan tentang Desain pembelajaran e-learning yaitu:
1. analisis tujuan (goal analysis)
2. penentuan seting belajar pembelajaran e-learning
3. perencanaan materi pembelajaran e-learning
4. penentuan strategi pembelajaran e-learning (termasuk gamification di dalamnya)
5. Penyusunan garis besar pembelajaran pembelajaran e-learning
6. Penyusunan skenario alur belajar

7. Pengembangan pembelajaran (materi dan evaluasi

ANALISIS TUJUAN

Tujuan pembelajaran dianalisis dalam kegiatan yang disebut analisis instruksional. Analisis instruksional adalah suatu prosedur yang diterapkan pada suatu tujuan instruksional, untuk menghasilkan identifikasi kemampuan-kemampuan turunan (subordinate skills) yang diperlukan bagi peserta belajar untuk mencapai tujuan instruksional (Dick & Carey, 2005). Dengan kata lain analisis instruksional adalah teknik penjabaran perilaku umum atau kompetensi umum yang di BPPK disebut dengan Standar Kompetensi menjadi perilaku atau kompetensi khusus (Kompetensi Dasar), di mana kompetensi berarti perubahan perilaku sebagai hasil dari belajar. Jadi, analisis intruksional merupakan tahapan proses keseluruhan seorang penyusun kurikulum dalam menentukan komponen dari tujuan instruksional melalui analisis tujuan (goal analysis) untuk mengidentifikasi keterampilan subordinate atau keterampilan turunannya (Dick and Carey 2005).
Analisis instruksional menurut Dick and Carey dipakai oleh para penyusun desain kurikulum atau pengajar untuk membantu mereka di dalam mengidentifikasi setiap tugas pokok yang harus dikuasai/dilaksanakan oleh peserta belajar dan sub tugas atau tugas dasar yang membantu peserta dalam menyelesaikan tugas pokok.
Langkah di BPPK yaitu kita melihat KAP yang ada (program pembaruan) atau hasil AKP untuk mengetahui tujuan kurikuler atau sasaran program pembelajaran (Broad Instructional Goal Statement), yaitu tujuan dari seluruh program pelatihan atau program pembelajaran.

Langkah-langkah AI menurut Dick and Carey yaitu

sulit diukur dalam waktu singkat. Tujuan pembelajaran yang berfokus pada afektif atau sikap mengajarkan seorang peserta memilih sikap tertentu dengan menunjukkan kecenderungan positif atau negatif terhadap objek, kejadian atau orang tertentu. Tujuan sikap barangkali tidak akan tercapai pada akhir program pelatihan sehingga sering menjadi sasaran tujuan jangka panjang dan sangat sulit menilainya dalam jangka pendek. Tujuan sikap terkadang menyertai tujuan kemampuan intelektual atau keterampilan psikomotorik, atau informasi verbal. Karena itu kesepakatan di BPPK untuk tujuan sikap afektif tetap menggunakan kata kerja operasional dari Taksonomi Bloom ranah kognitif, dengan pendekatan kombinasi cluster, hierarki, dan prosedural.
4) Keterampilan psikomotor
Karakteristik dari keterampilan psikomotor adalah peserta belajar harus melaksanakan gerakan otot dengan atau tanpa peralatan untuk mencapai hasil yang spesifik. Ketrampilan ini melibatkan mental dan fisik. Analisis hirarkis maupun analisis prosedural dapat dilakukan pada keterampilan intelektual dan psikomotorik.
Setelah didapatkan hasil analisis instruksional, maka bisa ditentukan pemilihan model pembelajaran e-learning. Variasi model pembelajaran e-learning ada 3 macam menurut Chaeruman (2013) yaitu:
1. Adjunct Model
Adalah proses pembelajaran tradisional plus. Artinya pembelajaran tradisional yang ditunjang dengan sistem penyampaian secara online sebagai pengayaan. Keberadaan sistem penyampaian secara online merupakan suatu tambahan. Contoh untuk menunjang pembelajaran di kelas, seorang pengajar menugaskan pesertanya untuk mencari informasi dari internet.
Menurut PER-2/PP/2018, dalam adjunt model E-learning merupakan pelengkap kegiatan pembelajaran. Peserta diberikan kebebasan untuk mempelajari E-leaming.

2. Mixed/Blended

yaitu sistem penyampaian secara online sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran secara keseluruhan. Artinya baik proses tatap muka maupun pembelajaran secara online merupakan satu kesatuan utuh. Berbeda dengan model adjunct yang hanya menempatkan sistem penyampaian online sebagai tambahan. Dalam model blended, tentu saja masalah relevansi topik pelajaran mana yang dapat dilakukan secara online dan mana yang dilakukan secara tatap muka (tradisional) menjadi faktor pertimbangan penting dalam penyesuaian dengan tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, karakteristik peserta belajar maupun kondisi yang ada.
Menurut PER-2/PP/2018, dalam mixed model E-learning merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan bersifat wajib untuk diikuti peserta dalam suatu kegiatan pembelajaran.

3. Fully Online
semua interaksi pembelajaran dan penyampaian bahan belajar terjadi secara online. Contoh, bahan belajar berupa video diunggah dan diterima via internet, atau pembelajaran ditautkan (linked) melalui hyperlink ke sumber lain yang berupa teks atau gambar. Ciri utama model ini adalah terjadinya pembelajaran kolaboratif secara online. Tidak ada tatap muka sama sekali.

Pemilihan model harus melihat kesesuaiannya dengan tujuan pembelajaran serta memperhitungkan resources yang dimiliki serta kelebihan dan kekurangan dari model-model e learning yang ada. Kelemahan pada online learning bisa diatasi oleh kelebihan pada pembelajaran tatap muka. Begitu pula sebaliknya, kelemahan pada tatap muka dapat diatasi oleh kelebihan online learning.
Menurut PER-2/PP/2018, dalam model online E-leaming merupakan pembelajaran mandiri yang keseluruhan kegiatan dan aktifitasnya dilakukan dengan memanfaatkan teknologi informasi.

SETING BELAJAR

Setelah menetapkan model pembelajaran, maka selanjutnya kita melihat seting belajar untuk mendapatkan metode dan media yang tepat sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Berikut ini adalah pembagian seting belajar menurut Uwes Chaeruman yang diadaptasi dari Staley (2007).

Empat kuadran seting belajar tersebut diadaptasi Uwes C. dari Noord dalam Staley 2007) seperti digambarkan dalam diagram di atas, dijelaskan sebagai berikut:
A. Sinkronous langsung (live synchronous); suatu kondisi di mana belajar terjadi pada waktu dan tempat bersamaan. Dimensi tempat dan waktu terjadi pada saat bersamaan. Seting belajar seperti ini terjadi dalam pembelajaran konvensional, dimana antara peserta belajar dengan guru/dosen/tutor berada pada tempat yang sama dan waktu yang sama, belajar didalam kelas. Contoh metode pembelajaran yang terjadi dalam konteks ini adalah ceramah, diskusi kelompok, praktek laboratorium, karyawisata, dan lainlain. Pada pembelajaran e-learning tentu tidak memakai seting ini (kecuali untuk program blended learning), melainkan seting di kuadran berikutnya yaitu sinkronous maya.
B. Sinkronous Maya (virtual synchronous); suatu kondisi dimana belajar terjadi pada waktu bersamaan (real time) di tempat yang berbeda-beda satu sama lain. Dalam konteks ini, belajar terjadi dalam dimensi waktu yang sama, tapi dimensi ruang/ tempat yang berbeda-beda satu sama lain. Contoh metode pembelajaran yang terjadi dalam konteks ini adalah presentasi, diskusi, demonstrasi, tutorial dan lain-lain menggunakan teknologi dan tool komunikasi seperti telewicara: video-conference, audio-conference, atau mungkin chatting (text-based conference).
C. Asinkronous Mandiri (Self-paced Asynchronous); suatu kondisi dimana belajar terjadi secara mandiri, kapan saja di mana saja sesuai dengan kondisi dan kecepatan belajarnya masing-masing. Dalam konteks ini, belajar terjadi tanpa terikat dengan waktu dan tempat. Sifatnya lebih terbuka dan luwes melalui metode belajar mandiri. Agar terjadi belajar mandiri, peserta belajar difasilitasi dengan bahan ajar digital yang dikenal dengan istilah learning object dalam beragam format media baik yang berbasis teks, audio, video, animasi, simulasi, permainan ataupun kombinasi dari semua itu (hypermedia).
D. Asinkronous Kolaboratif (Colaborative Asynchronous); suatu kondisi dimana belajar terjadi kapan saja dan di mana saja melalui kolaborasi antara dua orang atau lebih. Contoh metode pembelajaran yang terjadi dalam konteks ini adalah metode diskusi, tutorial dan tanya jawab melalui forum diskusi online, metode pemecahan masalah dan pembelajaran kolaboratif melalui penugasan online (online assignment).
Strategi Pembelajaran dalam Kuadran Seting Belajar
Jika kita kombinasikan antara klasifikasi strategi pembelajaran menurut Smaldino dkk. dan seting belajar menurut Noord, maka dapat dicontohkan seperti dalam tabel di bawah ini (Chaeruman 2013):

StrategiSeting Belajar
PembelajaranSinkronousSinkronousAsinkronousAsinkronous
langsung (liveMaya (virtualMandiriKolaboratif
Drill & PraktikDrill & Praktik di kelas, lapangan, atau real worldDrill & Praktik melalui game virtual onlineDrill & Praktik melalui game simulatorPenugasanuntukmempraktikkansesuatu
TutorialTutoriallangsungindividualmaupunkelompokTutorial via videoconference atau audio conferenceTutorial melalui forum diskusi, e-mail, mailist
DiskusiDiskusi dalam kelasTutorial conference , audioconference, atau chatting
Permainan & SimulasiPermainan & Simulasi di real worldPermainan & Simulasi secara virtual dan onlineGame dan simulator online dan offline (CD multimedia)
PemecahanMasalahDiskusi studi kasus dalam kelasDiskusi dan tanya jawab melalui video conferencePenugasanuntukmemecahkan suatu kasus,
masalah baik individu atau kelompok
PembelajaranKooperatifPenugasanuntukmengerjakan suatu project tertentu

MATERI / KONTEN PEMBELAJARAN
Namun sebelum dilakukan pengembangan materi, perlu diingat dalam desain materi e-learning harus memegang prinsip-prinsip kesiapan dan motivasi, penggunaan alat pemusat perhatian, partisipasi aktif peserta, perulangan, dan umpan balik sperti dijelaskan di bawah ini.

Prinsip penyiapan bahan pembelajaran menurut Richard E. Mayer.
1. Kesiapan dan motivasi (Readiness and motivation)
Kita perlu tahu kesiapan peserta pembelajaran e-learning sesuai dengan tujuan pembelajaran yang kita tetapkan. Karena itu perlu disiapkan tes prasyarat, tes diagnostik, dan tes awal. Jadi pegawai bisa saja ditugaskan unit untuk mengikuti pembelajaran e-learning, tetapi puspembelajaran perlu lagi memastikan jika pengetahuan, keterampilan dan sikap prasyarat sudah dimiliki calon peserta. Jika suatu kompetensi belum terpenuhi, perlu disiapkan juga materi pembekalan atau matrikulasi. Terkait motivasi pendorong untuk melakukan melakukan kegiatan belajar e-learning, teknik motivasi antara lain dengan menunjukkan kegunaan dan pentingnya materi yang akan dipelajari, kerugiannya jika tidak mempelajari, manfaat atau relevansinya untuk kegiatan belajar di waktu sekarang, yang akan datang dan untuk pelaksanaan tugas di unit masing-masing. Motivasi juga dapat ditingkatkan dengan pemberian hadiah dan hukuman (reward and punishment) yang dilakukan dengan gamification.

2. Penggunaan alat pemusat perhatian (Attention directing devices)
Prinsip kedua penggunaan alat pemusat perhatian agar hasil belajar akan meningkat. Mengingat ini bentuk pembelajaran e-learning, di mana perhatian peserta sifatnya sukar dikendalikan dalam waktu lama. Dengan prinsip ini maka desainer pembelajaran e-learning akan semakin teliti dalam menentukan strategi pembelajaran. Misalnya pilihan media seperti gambar, ilustrasi, bagan warna warni, audio, video, alat peraga, penegas visual, penegas verbal, kecerahan, dsb. Teknik yang dapat digunakan untuk mengendalikan perhatian misalnya games, humor, kejutan selama pembelajaran dll.

3. Partisipasi aktif Peserta (Learner’s active participation)
Prinsip ketiga adalah partisipasi aktif Peserta. Jika peserta aktif berpartisipasi dan interaktif, hasil belajar akan meningkat. Aktifitas peserta meliputi aktifitas mental (memikirkan jawaban, merenungkan, membayangkan, merasakan) dan aktifitas fisik (melakukan latihan, menjawab pertanyaan, mengarang, menulis, mengerjakan tugas, dsb.

4. Perulangan (Repetion)
Prinsip keempat adalah perulangan. Jika penyampaian pesan pembelajaran diulang-ulang, maka hasil belajar akan lebih baik karena retensi pengetahuan semakin tinggi. Perulangan dapat pula dilakukan dengan memberikan tinjauan selintas pada saat memulai materi dan ringkasan atau kesimpulan pada akhir materi. Perlu juga disiapkan narasi berisi perulangan misalnya menggunakan kata-kata isyarat tertentu seperti “Sekali lagi saya ulangi”, “dengan kata lain”, “singkat kata”, atau “singkatnya”, dsb.Umpan balik

5. (Feedback)
Prinsip kelima adalah umpan balik agar peserta tahu kemajuan belajarnya. Jika salah diberikan pembetulan (corrective feedback) dan jika betul diberi konfirmasi atau penguatan (confirmative feedback). Secara teknis, umpan balik diberikan dalam bentuk kunci jawaban yang benar.

Prinsip bahan pembelajaran juga sudah diatur dalam ketentuan internal yang berlaku di Kemenkeu. Menurut PER-2/PP/2019, dalam penyiapan dan pcngembangan materi E-leaming kita harus memperhatikan faktor-faktor berikut ini:
a. Materi fokus pada peserta, relevan dengan kebutuhan, peran dan tanggung jawab peserla pada tugas dan fungsinya dalam organisasi.
b. Pembagian materi, sebaiknya dibagi menjadi beberapa bagian untuk memfasilitasi asimilasi dari pengetahuan baru dan memungkinkan fleksibilitas dalam waktu belajar.
c. Materi mendorong kelerlibatan peserta, perlu didesain secara kreatif agar dapat mendorong keterlibatan dan motivasi peserta clalam proses pembelajaran.
d. Personalisasi, sesuai dengan minal dan kebutuhan peserta (untuk self-paced E-learning (Mandiri)) atau pengajar dan fasililator mampu mengikuti perkembangan pembelajaran peserta (untuk instructor-led atau E-learning Fasilitasi).

Adapun materi atau konten e-learning yang diperlukan dalam program pembelajaran e-learning setidaknya terdiri dari:
• bahan ajar dan PPT pengajar
• gambar dan grafis
• multimedia
• lesson plans
• learning guide
• evaluation

Penyusunan materi multimedia sebaiknya mempertimbangkan standar proses pembelajaran e-learning menurut Chaeruman (2013) diadaptasi dari Horton yaitu tahapan mempelajari (learning); tahapan mendalami (deepening); tahapan menerapkan (applying); dan menjajaki penguasaan (measuring).
Hubungan tahapan belajar, strategi dan setting belajar dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tahapan BelajarStrategi dan Seting Belajar
1. Mempelajari (learning);Dapat dicapai melalui strategi presentasi dan demonstrasi yang dapat dipelajari secara mandiri dalam seting asinkronous mandiri dengan cara mempelajari bahan ajar yang dikemas secara digital dalam berbagai jenis dan format media sehingga dapat dipelajari kapan saja dan di mana saja
2. Mendalami (deepening);Dapat dicapai melalui strategi demonstrasi, drill & practice dan tutorial baik dalam seting belajar sinkronous langsung (demonstrasi dan praktek langsung), asinkronous mandiri (mempelajari video tutorial atau drill & prcatice online).
3. Menerapkan (applying);Dapat dicapai melalui strategi pemecahan masalah dan pembelajaran kolaboratif yang terjadi dalam seting
belajar sinkronous langsung maupun sinkronous kolaboratif (melalui penugasan).
4. Mengukur penguasaan (measuring)Dapat dicapai melalui strategi evaluasi hasil belajar yang dapat terjadi dalam seting belajar sinkronous langsung (seperti performance assessment maupun pencl on paper test didalam kelas) dan terjadi dalam seting belajar asinkronous mandiri (seperti mengerjakan test secara online).

STRATEGI PEMBELAJARAN
Strategi pembelajaran menurut Smaldino dkk. ada dua kategori, yaitu strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa (learner centered) dan strategi pembelajaran yang berpusat pada guru atau teacher-centered (Smaldino, et al., 2008). Menurut Uwes Chaeruman (2013) diadaptasi dari Khan (2005) dan Staley (2007), strategi teacher-centered untuk program e-learning meliputi presentasi, demonstrasi, tutorial, serta drill dan praktik, sedangkan strategi learner-centered meliputi diskusi, permainan dan simulasi, pemecahan masalah dan pembelajaran kolaboratif.

Berikut adalah sekumpulan metode maupun teknik yang digunakan pada proses pembelajaran baik klasikal maupun dengan online learning.

  1. Ceramah: Fasilitator mengalihkan informasi kepada peserta pembelajaran dengan cara lisan/verbal. Informasi yang dialihkan dapat berupa fakta-fakta, atau prinsip-prinsip.
  2. Debat: Metode penyampaian pandangan atau pendapat yang mengenai suatu topik yang bersifat konvensional. Metode ini dimaksudkan untuk melatih peserta pembelajaran berargumentasi dan mempertahankan argumentasinya.
  3. Demonstrasi: Suatu penyajian yang dipersiapkan secara teliti untuk mempertontonkan suatu tindakan atau prosedur yang digunakan. Metode ini disertai penjelasan, ilustrasi, pernyataan lisan, atau peragaan secara visual yang tepat.
  4. Discovery Learning: Metode pembelajaran dimana peserta pembelajaran tidak diberikan materi pembelajaran dalam bentuk final tetapi materi diberikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga peserta diharapkan mengorganisasikannya sendiri dalam pikirannya menjadi suatu bentuk akhir. Discovery Learning mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan Problem Solving, tetapi lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Masalah yang diperhadapkan kepada peserta pembelajaran semacam masalah yang direkayasa oleh fasilitator, sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan hasil rekayasa.
  5. Diskusi: Metode pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta pembelajaran untuk berinteraksi antar sesama peserta atau antara peserta pembelajaran dengan fasilitator untuk menganalisa, menggali, atau membahas suatu topik tertentu.
  6. Eksperimen: Cara penyajian materi pembelajaran dimana peserta pembelajaran secara aktif mengalami dan membuktikan sendiri tentang apa yang sedang dipelajarinya, kemudian menarik kesimpulan tentang suatu objek atau proses.
  7. Forum: Metode dengan bentuk sidang umum dimana setiap orang memiliki kesempatan berbicara untuk mengemukakan pendapatnya masing-masing mengenai suatu topik yang telah ditentukan pembahasannya.
  8. Inquiry: Merupakan suatu strategi pembelajaranyang menyiasati agar peserta pembelajaran aktif mencari dan menemukan fakta, prinsip, dan konsep yang mereka butuhkan.Ada 3 jenis metode inquiry: o> Guided inquiry = Fasilitator membuat rumusan permasalahan dan pedoman (berupa pertanyaan-pertanyaan yang membimbing), serta memberikan bimbingan atau petunjuk yang cukup luas kepada peserta pembelajaran. o> Modified free inquiry = Fasilitator memberikan masalah saja, kemudian peserta pembelajaran memecahkan masalah melalui pengamatan dan eksplorasi sesuai prosedur penelitian untuk memperoleh jawaban. o> Free inquiry = Dilakukan setelah peserta pembelajaran mempelajari dan mengerti bagaimana memecahkan suatu masalah, serta telah memperoleh pengetahuan yang cukup mengenai bidang studi tertentu. Peserta pembelajaran menemukan dan merumuskan masalah yang harus dipecahkan kemudian melakukan penelitian untuk memperolah jawaban.
  9. Kerja Kelompok: Format belajar mengajar yang menitikberatkan kepada interaksi antar anggota dalam kelompok dalam menyelesaikan tugas secara bersama-sama.
  10. Peer Teaching: adalah teknik pembelajaran dimana peserta pembelajaran saling menyampaikan materi kepada rekan pembelajaran lainnya.• Peserta dibagi dalam kelompok, kemudian masing-masing peserta diberi topik untuk diajarkan kepada peserta lain. Selanjutnya tiap peserta tampil dalam kelompok mengimplementasikan hasil rancangan pembelajarannya. Fasilitator bertugas mengamati interaksi dalam tiap kelompok dan memberikan umpan balik.
  11. Tanya Jawab: Suatu teknik untuk memberi motivasi pada peserta pembelajaran agar bangkit pemikirannya sehingga tumbuh pengetahuan baru dalam diri peserta pembelajaran. Dilakukan dengan cara: fasilitator mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan peserta merespon secara lisan.
  12. Curah Pendapat / Brainstorming:Suatu bentuk diskusi dalam rangka menghimpun gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan, pengalaman, dari semua peserta. Pendapat dari masing-masing peserta tidak untuk ditanggapi tetapi dikompilasi sehingga didapat kumpulan pendapat, informasi, dan pengalaman dari semua peserta yang selanjutnya dijadikan peta informasi, peta pengalaman, atau peta gagasan (mind-map) untuk pembelajaran bersama.
  13. Bermain peran / Role Play: Metode untuk ‘menghadirkan’ peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu ‘pertunjukan peran’ di dalam kelas/pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian terhadapnya. • Metode ini lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam ‘pertunjukan’, dan bukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran.
  14. Simulasi: • Metode praktek yang sifatnya untuk mengembangkan keterampilan peserta belajar (keterampilan mental maupun fisik/teknis). • Metode ini memindahkan suatu situasi yang nyata ke dalam kegiatan atau ruang belajar karena adanya kesulitan untuk melakukan praktek di dalam situasi yang sesungguhnya. •Contoh: simulasi penerbangan.
  15. Praktik Lapangan: Bertujuan untuk melatih dan meningkatkan kemampuan peserta dalam mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya. Kegiatan ini dilakukan di ‘lapangan’, yang bisa berarti di tempat kegiatan sesungguhnya dilaksanakan, tapi pada pembelajaran online bisa dibuat dengan teknologi virtual reality.
  16. Permainan/Game: Populer dengan berbagai sebutan antara lain pemanasan (ice-breaker) atau penyegaran (energizer). Dimaksudkan untuk membangun suasana belajar yang dinamis, penuh semangat, dan antusias melalui suasanabelajar yang serius tapi santai. Digunakan sebagai bagian dari proses belajar, bukan hanya untuk mengisi waktu kosong atau sekedar permainan. Sebaiknya dirancang menjadi suatu ‘aksi’ atau kejadian yang dialami sendiri oleh peserta, kemudian ditarik dalam proses refleksi untuk menjadi hikmah yang mendalam (prinsip, nilai, atau pelajaran-pelajaran).
  17. Tim Ahli – Jigsaw: Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.• Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda untuk dibahas.• Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab yang menjadi bagia mereka.• Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai, dan anggota lainnya mendengarkan. Bila perlu anggota tim dapat memberikan pedapat untuk memperjelas materi yang dipelajarinya.• Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi dari timnya masing-masing. • Fasilitator bersama peserta memberi tanggapan dan evaluasi terhadap presentasi dari tiap-tiap tim.• Penutup dengan mengambil kesimpulan.

Referensi
Peraturan Kepala BPPK Nomor PER-2/PP/2019 tentang Pedoman E-Learning di KementerianKeuangan
Chaeruman, Uwes. 2013. Merancang Model Blended Learning. Diakses dari
https://www.researchgate.net/publication/332497331 Pengembangan M odel Desain Sistem Pembela.jaran Blended
Indrawati, Efi Dyah dan Mila Mumpuni. 2016. Modul Analisa Instruksional. Jakarta: Pusdiklat Keuangan Umum.

Learning Agility: Sudahkah Anda Miliki?

Abstraksi

Di masa yang penuh ketidakpastian seperti pandemi Covid-19 saat ini diperlukan suatu learning agility. Learning agility dapat diidentifikasi dengan speed dan flexibility (DeRue) dan ditambahkan lagi dua komponennya oleh Burke yaitu experimenting, performance risk-taking, interpersonal risk-taking, collaborating, information gathering, feedback seeking, reflecting. Organisasi perlu memberikan kesempatan bagi pegawai agar menjadi agile learners melalui para pimpinan dengan mengubah budaya yang pro status quo serta memberikan tantangan-tantangan baru bagi pegawai.

Kata kunci:  learning agility, agile learners, speed, flexibility, experimenting, performance risk-taking, interpersonal risk-taking, collaborating, information gathering, feedback seeking, reflecting 

Dalam menjalani WFH di masa pandemi Covid-19 ini, seringkali kita menghadapi situasi dan tantangan baru dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, tetapi lalu kita mencari tahu jalan keluarnya sendiri. Kita benar-benar belum pernah melakukan pekerjaan itu sebelumnya, sehingga peluang suksesnya hanya 50:50. Dalam keadaan itu, sebenarnya learning agility telah terjadi.

Apakah learning agility itu? Peneliti Scott DeRue dari University of Michigan mengembangkan model yang mengidentifikasi kecepatan (speed) dan fleksibilitas (flexibility) sebagai dua faktor terpenting yang menentukan learning agility. Learning agility adalah ketangkasan belajar, tentang kemampuan untuk mencerna sejumlah besar informasi dengan cepat (speed) dan mencari tahu mana yang paling penting. DeRue juga mengatakan seseorang harus dapat mengubah kerangka kerjanya (fleksibilitas) yang membantunya untuk memahami bagaimana hal-hal yang berbeda saling terkait atau terhubung. Dengan kata lain, fleksibilitas adalah kemampuan untuk mengubah framework yang diperlukan untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi.

DeRue juga membuat perbedaan antara learning agility dan learning ability atau kemampuan belajar. “Kemampuan” berarti kemampuan kognitif atau “kecerdasan.” Kemampuan itu penting, tetapi menjadi lebih pintar belum tentu lebih baik. Manakala menghadapi situasi yang asing, tidak tahu apa yang harus dilakukan lalu kemudian berusaha mencari tahu, kelincahan dan ketangkasan semacam inilah yang lebih penting.

DeRue menambahkan ada komponen kognitif dan behavioral untuk learning agility. Komponen kognitif adalah ‘the hard wiring” alias yang sulit atau tidak mungkin berubah. Sedangkan komponen behavioral atau perilaku dapat dipelajari, karena jika seseorang melakukan hal-hal yang ditunjukkan dengan perilaku, maka dia telah menunjukkan sebagian dari learning agility.

Peneliti lainnnya yaitu Dr. Warner Burke dari Columbia University menemukan sembilan dimensi dari learning agility, yaitu flexibility (terbuka pada ide dan solusi baru), speed (bertindak cepat), experimenting (mencoba perilaku-perilaku baru), performance risk-taking (mengambil tantangan-tantangan baru), interpersonal risk-taking (mendiskusikan perbedaan pendapat), collaborating (bekerja sama) , information gathering, (mengumpulkan informasi)  feedback seeking (mencari umpan balik) serta reflecting (melakukan refleksi). Burke juga mengembangkan tes untuk mengukur learning agility, dan instrumentnya valid dan reliabel dibuktikan dengan banyaknya penelitian yang menggunakannya selama ini.

 Supaya bisa mengambil keputusan yang tepat di saat mengalami unfamiliar situasions seperti masa pandemi Covid-19 ini, kita perlu menjadi seorang agile learner. Memang tidak semua orang terlahir menjadi agile learner, tetapi learning agility bisa dipelajari dengan sebelumnya kita melakukan asesmen untuk mengetahui di area mana yang perlu ditingkatkan kompetensinya. Saat ini sudah banyak L&D vendor yang bisa melakukan pengukuran learning agility dengan menggunakan instrumen yang handal.

Tiga dimensi utama dalam learning agility  yang sangat membutuhkan keterbukaan terhadap membuat kesalahan adalah information gathering, feedback seeking dan reflecting. Kita sering merasa malu dan tabu menceritakan kesalahan yang kita buat, sudah alamiah jika pegawai akan defensif jika ada perencanaan yang gagal atau sesuatu tidak dapat diimplementasikan. Faktanya, jarang orang bisa menyelesaikan tugas yang pertama kali dilakukan dengan sangat sempurna. Kalau seorang bertipe agile learner, dia malah bersorak jika diberikan tantangan baru, merasa nyaman dengan risiko termasuk juga kemungkinan untuk membuat kesalahan. Agile learner gagal sebentar saja, karena dia belajar cepat untuk melakukan yang lebih baik ke depannya. Oleh karena itu agile learner perlu didukung lingkungan yang juga mengangggap kesalahan adalah learning opportunities, suatu peluang belajar, bukan yang mendiskreditkan dan menyalahkan pembuat kesalahan. Lingkungan yang kondusif itu akan memberikan social recognition bagi pegawai yang mau belajar dari kesalahan, karena risk-taking yang berubah menjadi learning itu justru diapresiasi.

Tentunya ada perubahan budaya yang dibutuhkan. Agile learner sangat berani menantang status-quo, dia mengambil risiko interpersonal untuk memiliki pendapat yang berbeda dengan lainnya. Dengan orang berbeda pendapat mereka tidak akan serta merta menerimanya, tetapi dievaluasi, dicari inkonsistensinya, ditanyakan masalahnya serta dimintakan sarannya sampai dia sepenuhnya paham dengan suatu pandangan tertentu. Orang tipe pemberontak begini tidak mudah ditemukan di tiap unit organisasi karena pegawai pasti memikirkan posisi dan status dia jika harus berseberangan pendapat dengan orang lain terutama atasan. Tidak ada satu orang pun yang mau menentang atasan.  Pimpinan bisa bermain cantik dengan cara mengubah budaya di tempat kerja dengan secara aktif men-challenge tim kerja untuk bertanya, berbagi ide dan saran serta menawarkan alternatif-alternatif solusi. Ketika pegawai menyuarakan pendapatnya, mengusulkan solusi bahkan akhirnya membuat tim menjadi sukses dalam pelaksanaan tugas, berilah penghargaan. Ini akan menjadi dorongan supaya mereka akan berperilaku agile lagi di masa mendatang.

Untuk menjadi agile learner sejati, pegawai perlu dibuat merasa nyaman dengan situasi yang kurang familiar buat dia. Mereka harus merasa OK dengan merasa tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam situasi itu. Mereka harus merasa tenang, percaya diri dan mampu berpikir logis dalam memecahkan masalah. Harus ada pergeseran pemikiran bahwa ketidakpastian itu menggembirakan, bukan hal yang menakutkan. Cara terbaiknya adalah membiarkan pegawai mendalami pekerjaan yang belum pernah dia kerjakan sebelumnya, ceburkan dia di lautan dalam nan ganas dan biarkan mereka mencari tahu sendiri bagaimana cara supaya tetap terapung di permukaan laut. Contoh implementasinya misalnya diikutkan di pelatihan ataupun proyek yang terintegrasi dengan job shadowing, job rotation, serta penugasan sementara. Biarkan pegawai itu menangani tantangan baru tersebut selama beberapa waktu. Setelah itu berikan jaket penyelamat, misalnya mentoring, kursus online yang bisa diikuti, atau bantuan praktisi dll sehingga mereka bisa mengembangkan lagi pendekatan yang sistematis, rasional dan logis dalam pemecahan masalah mereka. Dengan cara ini , pegawai mendapatkan keterampilan menangani uncertainty secara nyata.

Adanya delayering di lingkungan Kementerian Keuangan bisa dipastikan membuat pegawai yang terkena pemangkasan jabatan harus menghadapi perubahan dalam karirnya dan learning agility sangat berperan menentukan seberapa cepat dan kuat mereka menghadapi tantangan baru. Jika pegawai yang beralih jabatan melakukan fast learning dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis, mengembangkan berbagai solusi dengan bereksperimen, selalu bekerja sama, tetap produktif dan selalu mawas diri , serta siap mendapatkan masukan dari orang lain, mereka akan selalu tetap kompeten di tugas yang diembannya.

Contoh lain yang bisa kita rasakan dengan adanya learning agility di BPPK yaitu semakin banyaknya kelas e-learning dan kelas PJJ yang diluncurkan di Kemenkeu Learning Center maupun konten knowledge capture di segala media sosial milik BPPK. Semua pihak baik struktural maupun fungsional bahu-membahu menyediakan layanan belajar online sebagai solusi kondisi pandemi Covid-19 yang menyebabkan peserta tidak lagi bisa belajar melalui bentuk klasikal. Semua layanan tersebut tentu melibatkan experimenting, performance risk-taking, interpersonal risk-taking, collaborating, information gathering, feedback seeking, serta reflecting baik dari sisi perencanaan, disain dan pengembangan, implementasi dan evaluasi pelaksanaannya. Secara umum ada learning agility di BPPK dan di Kementerian Keuangan tentunya, karena sebagian besar pegawai memanfaatkan waktu WFH-nya untuk belajar, menambah pengetahuannya, melakukan tugas-tugasnya serta melakukan pengembangan diri lainnya meskipun tanpa harus meninggalkan rumah. Apakah ada learning agility di setiap diri pegawai Kementerian Keuangan? Ini yang perlu evaluasi mandiri.

Jika masih ada pegawai yang masih mengaku tidak kompeten dalam tugasnya, tidak bisa berkembang, tidak mampu beradaptasi, serta tidak mau berubah proses kerjanya maupun penguasaan teknologinya, bisa dipastikan dia belum punya learning agility. Learning agility adalah kunci mengatasi ketidakkompetenan pegawai, supaya pegawai punya kemampuan untuk memproses dengan cepat dan  menyatukan potongan informasi yang beragam dari masalah yang dihadapinya lalu mencari jalan keluarnya segera. Organisasi dan para pimpinan harus punya andil dalam memunculkan pegawai yang memiliki learning agility, misalnya dengan memberikan penugasan yang menantang. Selain itu secara individual kita perlu mengases diri kita sejauh mana kita memiliki learning agility itu, karena jika tidak mau punya learning agility, maka benar apa yang diprediksikan oleh penulis Amerika Alvin Toffler pada tahun 1970 yang mengatakan bahwa “the illiterate of the 21st century and beyond will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn”.

Referensi

Hallenbeck, George (2016). Learning Agility: Unlock the Lessons of Experience. Amazon: Center For Creative Leadership.

Dimuat di Majalah Media Edukasi Keuangan Edisi 58/2020

Language Functions

Definition of Language Function

We use language in order to fulfill our purpose in communication, such as for apologizing, expressing a wish or asking permission.  Each purpose can be known as a language function. Savignon describes a language function as “the use to which language is put, the purpose of an utterance rather than the particular grammatical form an utterance takes” (Savignon, 1983). So in other words, a language function explains why someone says something. For example, as an English tutor I give instructions most of the times. Giving Instructions” is the language function. Language functions then require certain grammar. To use my example, giving instructions requires the use of the imperative. Read the following examples

Open your book.

Read the power point slides.

Do the exercise on page 7.

There is a wide range of language functions. In business conversation, the common language functions are expressed in formal register. Look at the examples below.

Informal: I want to say sorry about the problem.

Formal : We apologize for the inconvenience.

If we look at those examples, you see that the purpose of the expression to apologize, as can be seen from the words “to say sorry” and “apologize”.

Language Functions Practice

  1. Watch the video  from https://www.youtube.com/watch?v=Tw2r9DkL5co and do the role play along with the video.
  2.  After watching the video, read the following tables carefully.
  3.  Write down the examples given on the video on the right column. You can fill in the column from what you heard just now from the video, or from your own examples.
  4. Search more videos on language functions and try to complete the tables with more examples. We will discuss the answer in our synchronous session of Business English with Ms. Efi.
No.FunctionsExampleWrite another /other example(s)
1GreetingsGood morning.   
2Introducing yourself politelyI am John Big.   
3Offering helpHow can I help you?   
4Asking people to waitCould you hold on for a second?  
5Asking for and giving information    
6Checking/ Clarifying/ What to say when you don’t understand    
7Dictating and taking dictation     
8Getting down to business smoothly and politely   
9Giving polite negative answers    
10Giving bad news    
11Making and replying to requests    
12Making and dealing with complaints    
13Making arrangements (fixing meetings etc)   
14Making friendly small talk    
15Placing an order    
16Talking about written sources (documents, web pages etc)     
17Taking a message    
18Ending conversation smoothly and politely   
19Verb forms (different tenses, gerunds, infinitive forms, etc) Simple Present:Simple Past:Simple Future:Present Perfect:Gerund:

That’s all for now. Keep in mind guys, a language function explains why someone says something. So keep listening actively to what your speaking partner is saying and respond accordingly. That will lead you to an effective communication.

Active Learning Strategies that I Use after the Covid-19 Pandemic

Active learning is any learning activity in which the learner participates or interacts with the learning process, instead of passively taking in the information. It was a lot easier to engage my trainees in an active learning session before Covid-19 pandemic, as mostly our sessions are face-to-face one. I use flipped classroom for PKN STAN students, and in Pusdiklat Keuangan Umum I mostly use drills, discussion, case studies, simulation, even role play for the sessions. But since the beginning of 2020, I must use Zoom to deliver trainings. So I’ve got to be more selective in the strategies to use. So, how can I maintain the active learning sessions via Zoom? Here are my experience.

  1. Building rapport from the very beginning. I do it by smiling and making eye contact with the participants (that means I do that to the camera :D). This is so simple and easy, but I think a lot of teachers and presenters fail to do it. If you can make a genuine smile from the very start, you make your participants and audience feel welcomed , you show them that you are a passionate person to help them with their learning.
  2. Strong opening. There are many ways, such as with a joke, a question, a cartoon. a story, a pantun, or surprising facts. It will sure make the participants absorbed to you material from the start, and I normally engage some participants with the opening I make (like asking for their response, mentioning their names in the story, etc).
  3. Simple explanation. KISS. I just share the core messages and then leave the participants to discuss further with partner/peer or with small group.
  4. Ice breaking, especially every 1 hour. Just simple instructions for performing something together, like stand up and claps your hand twice or four times etc., stretching, or just karaoke together. Will change the class mood into a better one.
  5. When I need to get a brainstorming, polling, survey, or voting, I will just use mentimeter.com. or sli.do So much time saving and really fun.
  6. For practice exercise, especially with the theory, I just use Quizizz.com (you can use Kahoot for alternate app). Actually I’ve been using this for almost 4 years already, and nowadays it’s pretty much often to use this to save my time grading my trainees’ understanding.
  7. Using Google Slides for alternate quiz. I just need to open Google Drive and open the file I want to assign, then make a copy of the file, rename It, and save it. After that I can modify the copy – delete slides, add slides, and add in More Directions. Then open Google Classroom, click the Classwork Tab, and click Create and then Assignment. As simple as that.
  8. I usually ask my students and trainees to make a summary of lesson learnt. I show them how I do it using mindmaster.com or mindmeister.com.
  9. These days I have been giving freedom to my participants to make daily learning refelction in any forms they like: voice note, infographic, word file, video, anything. It’s fun to get their learning journals in many variations.
  10. Make a collaborative work using padlet.com. This is super fun really. I once make my trainees write their wishes and hopes for the training they are taking, and other people can comment and like their postings. This really engaging and bonding.

That’s all for now. Will post another articles for upcoming updates. Happy teaching, guys…

New Teaching

Menjelang akhir 2020 dan tinggal 1 kelas Orientasi CPNS saja untuk diajar, saya jadi semakin merasa bahwa gaji dan TKPKN saya ketinggian buat saya jika saya nggak terus update dan melakukan pengembangan diri. Sekarang murid dan trainee saya 60%nya adalah milenial, dan mau nggak mau saya harus ikuti cara belajar mereka jika saya masih ingin tetap jadi fasilitator. Ini jadi seperti flashback tahun 2005 ketika saya pertama kali jadi widyaiswara. Kami semua banyak yang sangat aspiring dan menggebu2 untuk jadi WI, kemudian kami diajarin oleh para WI senior LAN yang cara mengajarnya masih jadul (masak masih ada yang pakai OHP padahal kita semua waktu tes micro teachingnya saja sudah pakai PPT), bagaimana tidak nyesek. Kredibilitas para pengajar di mata kami jadi jeblok dan kami di kelas hanya duduk pasif saja untuk menghargai pengajar senior, sambil diam2 saling menertawakan. Kacau kan, peserta sibuk sms-an daripada menyimak pengajar. Saya tidak mau hal seperti itu terjadi sama saya, saya inginnya kalau punya kelas semua peserta saya akan engaging dengan skenario belajar yang saya berikan, termasuk memberikan masukan buat saya kalau misalnya ada hal yang bisa diberikan untuk perbaikan. Asal cara menyampaikannya santun, siapa sih yang malah nggak berterima kasih?

Saya banyak ikut webinar dan sesi diskusi dengan trainers di seluruh dunia akhir2 ini, just to investigate and probably to copy the way they handle their sessions. Apalagi jaman virtual class gini, kalau nggak sering ngikut bakal cepat ketinggalan. Tentunya yang dibutuhkan juga keberanian buat mencoba ya di kelas kita sendiri. Alhamdulillah sudah sering pakai Zoom & Google Meet dari tahun lalu, serta Kahoot dan Quizizz 3 tahun ini buat mengevaluasi dan games peserta, jadi gampang kalau pakai alternatif lain macam mentimeter, powerpoint (saya pakai I-Spring presenter jadi bisa macam2 jenis quiznya), Quizlet Live, dan Google slides. Tapi yang jelas, mainan macam begitu cuma buat selingan saja sih menurut saya, yang paling utama ya kita harus tetap update ilmu substantifnya.

Ini challenge utama buat saya. Karena saya yang sudah 15 tahun spesialisasi mengajar TOEFL, 5 tahun lalu dipaksa berhenti mengajar itu karena diklatnya sudah distop oleh pejabat di masa itu. Akhirnya saya banting steer mengajar manajemen kediklatan, mostly coz saya nggak bisa mengajar materi lainnya di Pusdiklat. Jadilah saya mengajar perencanaan diklat, kurikulum design, dan sejenisnya. Ada bagusnya sih saya jadi terus belajar tentang disain pembelajaran e-learning serta pembelajaran 702010, serta evaluasi pembelajaran. Pengetahuan tentang corporate university saya meningkat pesat juga, alhamdulillah. Bahasa Inggris saya nih yang agak mundur, karena saya hanya sesekali mengajar EFCO untuk pegawai Bea Cukai dan Business English saja. I’m just feeling like why is it soo slow for me to learn something new? Tanda-tanda penuaan nih 😀 😀

But I’ll never give, biarpun progress saya slow tapi tiap hari saya harus bisa nambah pengetahuan saya. I’ll keep on going no matter what. Saya harus bisa survive di era pengajaran baru ini, biar enak nelen keringat saya hehehee….biidznillah please Allah help me through all challenges I face, aamiin.

Reflection on My TOT Class

I’ve done with the class two weeks ago and now it’s time to unlearn and relearn. I’ve learnt that kelas TOT bisa dilakukan secara online, tentunya dengan desain pembelajaran yang sangat teliti sesuai dengan harapan DJKN sebagai user saya. Pelatihan saya sebenarnya tujuan utamanya adalah membekali peserta dengan keterampilan mengajar, tetapi sebagian peserta akan menjadi penyaji paper internasional. Jadi learning output-nya adalah kemampuan presentasi peserta dalam bahasa Inggris, sedangkan micro teaching akan menjadi learning outcome mereka, I mean jika peserta terus mengasah dan mencoba kemampuan mengajar mereka terus-menerus pasti mereka akan semakin PD dalam mengajar di kelas internasional mereka.

Tell you what, tidak semua peserta yang dikirim ke TOT kami itu benar ideal seperti yang disampaikan unit, karena entry behavior untuk TOT ini kan mereka harus sudah bisa menggunakan bahasa Inggris secara aktif, tetapi ternyata ada banyak juga peserta yang nggak fluent atau fluent tapi nggak akurat blas alias banyak mispronunciation dan salah grammar. Tapi gak masalalah saya ingatkan saja mereka untuk terus balancing their English input dan output tiap hari kalau mau improve their English.

Yang ingin saya highlight di sini adalah untuk skill semacam presentation itu setiap peserta harus praktik secara individual. Alhamdulillah saya dibantu Ms. Wina untuk memandu sesi praktik di breakout room, sehingga masing-masing peserta dapat kesempatan untuk praktik individual meskipun dalam kelas virtual, dan langsung mereka dapat immediate feedback untuk perbaikan. Jadi ingatlah untuk skenario pembelajaran skills tetap harus kita rencanakan praktif, baik itu mandiri, dalam small group, secara synchronous maupun asynchronous (tentunya yang langsung akan lebih baik).

Kemudian terkait asignment peserta, saya hanya meminta mereka membuat reflection journal setiap hari, apa pun itu bentuknya, dengan maksud tugas bisa diselesaikan sesuai kesukaan atau minat mereka dan memastikan ada production setiap hari dengan their English, baik written atau oral. Ini juga bagian dari rencana saya membuat mereka immersed in English selama PJJ TOT itu. Di hari pertama saya berikan pancingan dengan meminta mereka dengan menuliskan hopes dan membuat refleksi di padlet saya. Dan ternyata hanya 13 dari 16 peserta yang mau mengisi. Padlet seperti gambar di bawah ini guys, peserta bisa posting, comment dan like di padlet saya.

Ketika melihat shared drive untuk pengumpulan tugas harian, di Day 1 hanya 7 peserta yang submit, day 2 turun jadi 5 orang yang submit, Day 3 tinggal 3 orang. Yang konsisten kirim tugas dari hari 1 sd 5 hanya 1 orang saja, let’s say namanya Mr. Ang. Dia menggunakan audio untuk reflection-nya. Jadi intinya sih, hanya 1 peserta yang committed. Saya bukannya tidak mengingatkan, petugas MOT juga selalu mengingatkan peserta saya untuk submit ke drive tugas. Alasan utamanya adalah 50% peserta itu bukan belajar dari rumah, tetapi dobel tugas dengan WFO. This really makes me sad karena Day 1 saya menerangkan tentang building learning commitment. Kalau kita mau menjadi teacher atau trainer, komitmen untuk terus belajar dan make time for it itu penting. Padahal tugasnya hanya ceritakan apa yang bisa kita petik dari practice atau pelajaran hari ini, boleh pakai pointer saja, pakai paragraf, mindmap, voice note, bahkan kalau mau video TikTok pun saya OK, saya hanya minta refleksi singkat saja, dan apparently hanya works on 1 trainee saja. Sad. Making excuses is not OK guys kalau kalian ingin jadi pengajar yang sukses.

Sedihnya karena diingatkan Bidang Evaluasi bahwa saya sebagai Wali Program harusnya tidak membebani peserta dengan tugas yang berat. Pada Rapat Kelulusan saya tekankan bahwa tugas sudah saya buat seringan mungkin dan manageable untuk dikerjakan harian. Kenapa harian? Karena disain PJJ-nya kan ada 2 JP untuk learning journal setiap hari (setara 90 menit), jadi saya tidak terima jika peserta buat excuses karena ada alokasi 1,5 jam dari total JP per hari untuk belajar mandiri. Harus tiap hari karena English production itu tiap hari ya, bukan sesempatnya kita. Saya juga sudah jelaskan ini pada trainee di hari pertama, mereka harus make time for it, meski cuma 5 menit per hari. Gimana mau pede presentasi jika kurang baca, kurang nulis, kurang ngomong, itu semua kan latihan untuk building skills mereka. Mungkin cara saya menyampaikan kurang menggugah ya, just wondering…tapi memang unit pengguna juga kebangetan lah masa masih ngasih tugas ke pegawai yang sedang ST diklat…

Tetapi ada yang saya kagumi dari semua trainee saya yaitu mereka semua benar2 fast learner, mereka cepat belajar dari kesalahan shingga pada hari ujian mereka 90% saya bilang sukses. Ini sepertinya yang jadi fokus utama peserta saya, ujian kelar dan harus bisa tampil bagus. Saya sempat desperate di 1 hari terakhir sebelum ujian, materi simulasi. Semua trainee di Room saya sangat kacau, tidak bisa presentasi dalam 10 menit (alokasi ujian per peserta), mostly karena topiknya terlalu luas dan slide-nya terlalu banyak. Saya ajarin cara narrow down a topic, lalu membatasi jumlah slides maksimal 5 untuk ujian. Alhamdulillah works well tips saya di hari ujian. Saya kebetulan tidak menyuruh peserta saya membuat script seperti di Ruang sebelah, cukup cue cards atau outline karena saya maunya mereka presentasi, bukan seperti baca script. Hanya 1 peserta yang saya bolehkan membuat karena beliau punya problem di fluency. Saya sampai begadang karena harus proofread teks dia, dan alhamdulillah dia bisa belajar dari itu dan saat ujian jadi lancar dan beliau sama sekali tidak baca, hanya pre-memory aja dan sangat natural sekali presentasinya. Di Room saya bahkan ada 3 peserta yang bisa memanage dengan Q&A, yang tentunya akan menambah nilai presentasinya. Overall saya appreciate banget usaha semua trainee saya untuk latihan di kelas maupun mandiri, luar biasa kalian guys…

Kak Ros (my special partner) and I always make sure that the class run well

Ada yang belum tuntas di disain pembelajaran saya untuk TOT ini, yaitu bagaimana saya keep track on their social learning and learning at work. WAG saya masih jalan sih, tapi hanya sebatas peserta berkabar ringan, bukan melakukan collaborative work. Sepertinya saya harus mulai mengaktifkan sosmed saya ya, terutama IG supaya bisa reach out dan keep informed tentang trainee saya.

December 4, 2020.

Sunday morning. Gandi suddenly post a shocking news in our WAG. One of my trainees, Ms. Dian Fitriani, passed away. She got Covid 19 in November 12th, a week after our PJJ. She had been in critical condition for the last 4 days. My heart’s so broken. Kinda hard to believe that the Covid has taken one of my students… I remember she was the one got brilliant score in the examination day in my room. My deepest condolence for this great loss, Dian was such a bright and intelligent woman. Al Fatihah for her. I genuinely hope that all of us can pass this pandemic smoothly. Take precautions, guys. Please follow the protocol. Stay safe.

Meta oh Meta

I’ve been cramming with my research proposal for a week, gosh it’s really exhausting, especially tomorrow will be the deadline for submission. I chose a meta evaluation topic, coz I wanna know the extent of our evaluation performed by Evalapkin Pusdiklat KU; it’s like doing audits on the efficiency and effectiveness of one of our training program “Pelatihan Disain pembelajaran’, which I was the program coordinator in 2018 and 2019. We know that in a corporate university, all learning must be impactful. We have performed a post-evaluation using Kirkpatrick Level 1 – 4 in the past two years, somehow I still have a doubt whether we have done that correctly or whether FETA takes our recommendations about that specific training seriously. So, this study is mostly to fulfill my curiosity 😀 😀

It’s a bit hard to try a meta evaluation. I’ll be using the checklist by Daniel L. Stufflebeam, cause that seems easy to administer. According to Stufflebeam (2001), meta-evaluation is the process of delineating, obtaining, and applying descriptive information and judgmental information about an evaluation’s utility, feasibility, propriety, and accuracy and its systematic nature, competence, integrity/honesty, respectfulness, and social responsibility to guide the evaluation and publicly report its strengths and weaknesses. All I need to do is just using his meta-evaluation checklist to obtain the quantitative data for my analysis.

Well, I have prepared (translated) the tool already, but I’m not sure that the reviewer will find it a good one 😀 😀 … gosh, it’s so hard to study something that has never been done before even in our own country. My previous study was taken from The Commonwealth Secretariat (2016) and from Turkish researchers (2019), and of course they are completely different settings and findings. I haven’t found any from Indonesia, even in the formal education context. This reminds me of my previous mentor from Temple University Japan, Larry Purdy, who said this in 2010 when I joined his class ” It’s very rare for companies and corporation to conduct level 4 Kirkpatrick evaluation or to try ROTI (return on training investment) one, cause it demands much energy, money, and time”.. I wasn’t satisfied with his answer, that the next year in 2011, I asked this same question to my facilitators from Vrjie Universiteit in Holland, Mike Cantrell and Wim Kouwenhoven. They both said that they do meta-evaluation in certain period only, for example once in 5 to 10 years, depending on the program. And the result to some extent are not shown to public, but their stakeholders and sponsors only.

See, now I believe in their words… But there’s no point to give up. BTW, my topic is actually not selected to be continued with full research, other fellow trainers who got the chance to full research. So mine is just completed for proposal seminar purpose only, I don’t need to bother with data collection and analysis. It’s sad, but kinda relieved as I still have a lot of trainings to deliver this November and December. Now, gotta shift my focus to prepare the PPTs for my upcoming class. Semangaat!!

Refleksi buat Diri Sendiri

Waduh capek habis dicurhati teman. Dia cerita jika status mantan teman (baca: musuh lama) dia yang makin congkak di sosmednya dan seakan menyindir dia yang sudah tidak satu instansi dengannya. Saya cuma ketawa aja sambil bilang ngapain juga masih ngepoin IG orang yang kamu benci, duuh milenials ada2 aja receh gini buat bahan cerita ke saya. Cuman saya saranin wis lah, unfollow dan prei dari sosmed sementara waktu. PR kamu tuh banyak: matengin diri jadi akademisi, lebih banyakin ngajar dan nulis, at least kamu harus tunjukkan jika sudah lebih bagus segala2nya dari dia. Kalau kita real expert, nggak bakal tersinggung sama cibiran orang. Kata saya ya itu…

Tapi memang bener ya fenomena dinegara kita ini, banyak orang ngaku expert hanya karena degree, sertifikasi, jabatan fungsional atau jabatan struktural … merasa standar kompetensi nasional dia sudah mentok level 9. Kalau kata mas Romi Satria Wahono itu ‘penyakit penting yang harus segera diruqyah” hahahaa setuju Mas! … padahal sudah ga pernah baca textbooks terkini, sudah males nengok2 paper dan jurnal, kalo ngajar cuma baca slide itu pun udah nggak diupdate lagi… ketika didebat malah ngamuk ga jelas … nuntut mahasiswa punya kontribusi kayak dirinya, padahal juga ga terlalu paham makna contribution to knowledge kuwi opo….owalah Nyaah…

Republik ini keras dan kejam, kamu nggak bisa nggedabrus pamer sono sini saya sudah buat paper ini itu published di sana sini terindeks Scopus lah dll tapi nggak ada manfaatnya buat instansi , atau negara ini secara nyata saudara koeh. Jadi guru atau dosen juga nggak jaminan kalau kamu itu paling pinter. Pinter itu nggak cuma di mata mahasiwa mu yang bisa kamu kontrol dengan otoritasmu, tapi apa sumbangsih nyata dari mu buat masyarakat di sekitarmu juga.

Saya sudah mulai jadi senior (meh seket rek), tapi masih merasa bego setiap kalo belajar dan nemuin hal baru. Apalagi dalam pembelajaran daring gini, ilmu saya ngajar selama 25 tahun di kelas klasikal nggak banyak terpakai jika harus pakai online learning delivery. Kalau kita merasa keminter, kok kata saya kita sudah mulai mrotholi expertise kita. Auto kritik buat saya juga, jangan cepat ge-er kalau dipuji orang. Tetap kerja keras, ambil hikmah dari setiap hal baru yang dialami, selalu refleksi, coba lagi lebih baik. Semangat berjuang saudara-saudara akoeh!! 🙂 🙂 🙂