Learning Organization di Kementerian Keuangan RI

Featured

Kementerian Keuangan berusaha merespon tantangan dalam mengelola APBN di tengah kondisi yang penuh dengan ketidakpastian akibat dinamika perekonomian, iklim, dan sumber daya manusia, terlebih saat ini yaitu pandemi Covid-19. Kementerian Keuangan melalui skema Kemenkeu Corporate University (Kemenkeu Corpu) merupakan contoh organisasi yang menerapkan learning organization sebagai salah satu strategi untuk mewujudkan misi  menerapkan kebijakan fiskal yang responsif dan berkelanjutan yang didasari upaya pengelolaan Sumber Daya Manusia yang adaptif
sesuai kemajuan teknologi. Dengan adanya Learning Organization, maka setiap elemen organisasi di Kemenkeu memiliki tugas dan tanggung jawab untuk terus belajar sehingga dapat menangkap peluang yang ada untuk terus mengembangkan diri. Implementasi Learning Organization di lingkungan Kementerian Keuangan merupakan tanggung jawab bersama dari seluruh individu, tim dan unit organisasi di lingkungan Kementerian Keuangan.

Implementasi learning organization di Kementerian Keuangan mengacu pada sebuah pendekatan sistem yang terdiri dari 10 komponen sebagai penggerak LO.  Ke 10 komponen penyusun learning organization itu adalah strategic fit and management commitment, learning function organization, learning spaces, learning solutions, leader participation in learning process, learners, knowledge sharing culture, learning value chain, learners’ performance, dan feedback. Gambar berikut ini mengilustrasikan hubungan ke 10 komponen dimaksud dalam suatu kerangka IPO (input-process-output) sistem pembelajaran: 

Dinamika proses 10 komponen Learning Organization diawali dengan komponen pertama yaitu strategic fit and management commitment. Komponen ini merujuk pada strategi dan komitmen pimpinan untuk membangun budaya belajar sebagai elemen penting terwujudnya  learning organization. Pimpinan dengan kewenangan strategis dalam penentuan arah organisasi dan pengelolaan sumber daya diharapkan dapat menjadi inisiator upaya pembangunan budaya belajar karena pada level inilah dirumuskan kebijakan yang akan mengikat seluruh elemen organisasi. Komponen pertama ini memiliki 4 subkomponen, yakni visi, budaya, strategi, dan struktur.

Komponen kedua adalah learning function organization yang memastikan bahwa organisasi menjalankan fungsinya dengan baik terkait dengan aktivitas belajar di dalam organisasi. Komponen ini merupakan lanjutan dari komponen strategic fit and management commitment di mana setiap strategi dan komitmen pimpinan ditindaklanjuti dan dilaksanakan oleh organisasi, baik itu terkait pelaksanaan visi, implementasi strategi, pembangunan budaya belajar, dan penguatan struktur pendukung pembelajaran.

Komponen ketiga adalah learners yang meliputi tiga level learner atau pembelajar yaitu, level individu, kelompok/tim, dan organisasi. Ketiga level pembelajar, sebagai subkomponen learners, melakukan proses pembelajaran mulai dari menciptakan pengetahuan, memperolehnya, kemudian mentransfer pengetahuan tersebut sehingga terjadi perubahan perilaku yang merefleksikan pengetahuan dan insight baru yang diperoleh. Aktivitas belajar tersebut melibatkan sikap mental, motivasi, serta kebiasaan dalam belajar. Hasil belajar learners akan tercermin pada komponen learners’ performance.

Komponen keempat, knowledge management, menggambarkan proses belajar learners mulai dari identifikasi, dokumentasi, pengorganisasian, penyebarluasan, pemanfaatan, dan pemantauan atas bentuk-bentuk pengetahuan yang dibutuhkan oleh organisasi. Termasuk di dalam komponen ini adalah pemanfaatan portal Knowledge Management System (KMS) sebagai media penyimpanan aset intelektual yang diperoleh dari pengelolaan pengetahuan. Melalui media ini diharapkan setiap elemen organisasi memiliki kemudahan dan terbiasa melakukan aktivitas berbagi pengetahuan dan secara berkelanjutan meningkatkan manfaat dan nilai atas pengetahuan yang berhasil diciptakan. Komponen knowledge management memayungi aktivitas komponen learning value chain yang menggambarkan proses pengelolaan pembelajaran, baik pembelajaran yang dilakukan melalui pelatihan maupun pembelajaran non pelatihan. Komponen learning value chain memiliki keterkaitan erat komponen learning solutions dan learning spaces.

Untuk dapat melakukan aktivitas pembelajaran dengan baik, kepada learners diberikan dukungan dalam bentuk kesempatan dan sarana-prasarana penunjang belajar, yang menjadi komponen kelima dari LO. Komponen learning spaces yaitu dukungan belajar yang diberikan organisasi kepada learners dan menjadi salah satu wujud dari komitmen pimpinan di dalam penerapan learning organization. Selanjutnya, learners memanfaatkan kesempatan belajar yang diberikan tersebut melalui jalur pembelajaran dan jalur pembelajaran non pelatihan yang meliputi kegiatan belajar terstruktur,  belajar dari orang lain melalui kegiatan coaching, mentoring, pemberian feedback, dan partisipasi dalam community of practice, serta belajar dari pengalaman dengan melakukan praktek langsung (doing what we know). Rangkaian kegiatan  belajar tersebut tercakup di dalam komponen keenam yaitu learning solutions.

Dalam sebuah learning organization, setiap jalur pembelajaran dikelola secara sistematis melalui pendekatan komponen ketujuh yaitu Learning Value Chain untuk dapat menghasilkan kegiatan pembelajaran yang aplikatif, relevan, mudah diakses dan berdampak tinggi. Learning Value Chain dimulai dengan tahap perencanaan untuk menangkap kebutuhan pembelajaran, pengembangan desain pembelajaran, penyelenggaraan pembelajaran yang efektif, serta pelaksanaan evaluasi pembelajaran yang valid. Tahapan kegiatan LVC ini harus dapat diwujudkan di dalam proses menciptakan program atau kegiatan pembelajaran untuk memastikan program atau kegiatan pembelajaran yang dirancang tersebut sudah sejalan dengan tujuan strategis organisasi.

Keberhasilan belajar learners tercermin di dalam komponen kedelapan yaitu learners’ performance.  Sejalan dengan 3 level learners, learners’ performance juga mencakup 3 level performance, individual performance, team performance, dan organizational performance. Untuk dapat mencapai learners’ performance sangat dibutuhkan peran pimpinan pada komponen-komponen tersebut. Peran Pimpinan adalah komponen kesembilan dalam LO. Peran pimpinan, selain dibutuhkan untuk menjaga konsistensi keterkaitan kegiatan belajar dengan tujuan strategis organisasi, dibutuhkan juga sebagai figur yang menjadi role model belajar. Peran pimpinan juga penting untuk memastikan bahwa setiap komponen Learning Organization serta elemen organisasi mampu bekerja secara optimal. Peran pimpinan ini dijabarkan di dalam komponen leader participation in learning process dimana peran tersebut mencakup tapi tidak terrbatas pada leaders as role models; leaders as teachers; leaders as coaches, mentors, and counselors (CMC); dan kepemimpinan yang berpikiran maju (forward-thinking leadership).

Terakhir, untuk memastikan adanya peningkatan kualitas dalam implementasi Learning Organization, maka di setiap tahapan serta di akhir proses diperlukan adanya evaluasi secara berkala. Evaluasi dilakukan untuk mendapatkan gambaran adanya kesenjangan antara hasil implementasi Learning Organization dengan target yang diharapkan. Proses evaluasi juga dimaksudkan untuk mengidentifikasi peluang perbaikan yang sejalan dengan perubahan proses bisnis organisasi, perubahan kebijakan, serta dinamika eksternal organisasi. Feedback diberikan agar organisasi mendapatkan gambaran yang jelas atas kualitas implementasi learning organization berdasarkan review secara detail dan menyeluruh terhadap keseluruhan hasil evaluasi dan tindak lanjutnya. 


Semoga penjelasan tentang sepuluh komponen Learning Organization di Kemenkeu ini bermanfaat buat pembaca semua. Sampai bertemu di seri Corporate University lainnya….

Advertisement

Aku dan Scholarship

While multitasking working on KNS for PJJ Business English, I watched the live Youtube BrosiS – #23 “Understanding Assets and Property Better” by the KM Education and Training Center. There was a segment from one of the speakers who discussed tips on getting the AAS scholarship. So now I’m thinking myself about this scholarship because I decided not to look for a scholarship to continue my studies because I prefer to focus on working and taking care of my family.

When I was younger I thought I had to focus more on work to have a good career. I spent a lot of money to ensure that my babies and husband were taken care of so that my career won’t be disturbed. Cause I want both: career and family. Taking up a scholarship would likely pave the way for my career but I would be leaving my family behind for a few years abroad. So I decided that I would not take the scholarship but would continue my master’s studies when the children started to be more independent. And finally I was able to go back to college at 37 and graduate at 39.

I think getting a scholarship is easy for me. Especially because I work in education and my English is C1-C2 level. I was just wondering what would happen if I left the 11 classes I had to teach back then in the 2000s. In my mind at that time was how selfish I would be if I went abroad alone leaving duties and my husband and 3 children behind. The thought of taking them to live in a foreign country also gave me a headache, because we didn’t have enough savings for that. I also thought the country and family really needed me to just keep working instead of taking a break to study, though I could have gotten a new life experience and network abroad. But I have said goodbye for now to the thoughts of getting a scholarship, and tried to focus more on my other responsibilites.

But when my career was getting better and I could be in a position as a functional and decision maker, it turned out that the scholarship opportunity didn’t exist because of the age limit. Moreover, because I have a lot of money and savings, studying at my own expense feels easy.

This year I am 50 years old and a mother of four, two of them are college students. There will be no sponsors who want help an old candidate like me. Sometimes I think I want to take doctoral study but still not sure if I really need it? You know, my work experience has been so extraordinary, it teaches me many things that may not exist in the formal education. Also, keeping my job on track even enlarges my international networks, as I also took overseas courses and got assignments abroad, so I’ve got all I need actually.

And currently many of my juniors are graduates of S2 and S3 but they can’t make a decision. One because they are still on the lower rank and the second because they have little work experience. They look up to me to give supports and suggestions 24/7. We work in a team so we all need each other. That also makes me think even without S3 yet I can achieve our performance targets. What else you need?

Getting older, I’m thinking more about what I will take with me when I die. It’s definitely not my doctorate title, but my goodness as a mother, wife, employee, and human being.

.

How I Define “Independence”

Freedom, independence, kemerdekaan. To me, being independent means being free to do whatever I want, and that includes being free to express myself, to work, to learn, to improve and to experience everyday living. But this doesn’t mean that I can be so careless, or try to seize power over others.

What I am now is the result of the freedom that I’ve got from my faith, my parents, my country, and the people around me. In freedom there will always be an obligation to protect the freedom of others. So I can be bold and strong but I have to responsible for the peacefulness of others. Yes,independence always brings itself a huge responsibility.

In my religion, independence is highly respected, especially as freedom for Muslims to carry out their religious obligations without any hindrance. My holy book, AL Qurán, sets certain limit in determining the rights and the limit based on Allah verses and the religious teachings and laws by our prophet, Muhammad PBUH. So in Islam, there are laws that control the wants and needs of the society so that they do not go beyond human norms. Justice is number one in Islam, so our freedom must provide protection to all people, not just for moslems only.

So, again to me, freedom is doing whatever I want as long as I keep obeying Quran and the sunnah as the main reference in my life. Peace!

Penipuan Jasa Sedot WC

Masih sangat gondok gara-gara habis manggil CV Jaya Abadi untuk beresin septictank saya yang mampet. Here is the story.

Hati-hati, cari penyedia yang recommended dari temen aja, jangan asal Google Search

Rumah baru saya ini baru ditempati dari 2019 dan tahun 2022 septictank mulai penuh. Kayanya septictank mulai gak sehat sehabis ada hujan deras yg bikin banjir bulan Juni lalu. Tandanya jika salah satu dari 3 WC dipakai maka 2 WC lainnya (beda lantai) ikut bunyi blubuk-blubuk. Akhirnya saya searching Google dan pilih salah satu yang melayani area Pondok Aren. Chatting sama petugas via WA chat, katanya bisa banget ngatasinya dan biayanya murah, 450rb saja. Kayaknya harga murah dan bersaing jadi trik biar memancing kita supaya deal pakai jasa mereka, apa lagi saat saya tawar dikasih korting 50rb. Emak-emak mana yang ngga tergiur korting meskipun cuma gocap doang..

Akhirnya datang juga mobil penyedot dengan 3 petugas ke rumah (yang itu pun 2 jam-an baru sampai rumah dari waktu dihubungi dengan WA tadi, padahal jelas2 bilang ibu first customer jadi mobil masih kosong, kami langsung OTW) Yang bikin saya curigazion itu Mas sedoter (sebut aja demikian) langsung buka lubang udara septic tank tanpa pakai masker, sarung tangan, cuma obeng kecil aja. Gak pakai seragam, cuma sendal jepitan, pokoknya dari sisi tampilan sudah gak meyakinkan. Habis buka lubang cuma bilang ini mah sudah jadi tanah liat bu, bukan tinja lagi. Kalau padat begini harus kuras WC blaa blaa blaa…sy gak dengerin wong lagi liatin rapat zoom juga. Cuman saya bilang ya coba dulu pak, belum diapa-apain juga, kerja dulu baru ngomong solusi lain (emang sih ketutup lumpur hitam…lha iyah lah itu kan lubang feses…kalau isinya air doang namanya empang keleus…). Mas coba dulu sedot berapa lama ngga bisa, ini belum 3 thn rumah ditempati, mana mungkin tanahnya liat seperti lempung padat kata saya. Gemes dia itu ngga ada bawa linggis kek cetok kek, cuma test pen, emangnya servis listrik apa? Trus bisa2nya bilang nggak bisa…Kerjo sik Mas…gelem dibayar ora?

Akhirnya dia ubek2 pakai obeng dan sedot2 lah selama 15 menitan karena saya ngomel2 maunya tunjukin saya kayak gimana sih elu bilang ngga bisa disedot itu, jangan gampang bilang gak bisa2 tanpa demonstrasi ke saya (dosen galak suka minta mahasiswa harus unjuk kerja dulu hihii baru boleh bilang gak bisa hihi). Sebenarnya saya lihat ada yang kesedot kok ketika lihat pipa dia seperti teraliri bundel-bundel gt di selang yang menuju tangki…tapi ya itu terus dia ngga lanjutin, sengaja dikecilin aliran sedotnya. Saya tanya kok berhenti? Itu nyedotnya kecil amat macam vacuum cleaner aja? Trus kok ada pasir yang keluar? Dia tetap bilang sudah gak bisa disedot lagi kok bu. Saya bener-bener cerewet banget, saya bilang kamu belum masukin pipanya jauh ke dalam lagi Mas, jangan2 situ nyedot pasir ubin keramik teras saya bukannya ke air septictank…pokoknya saya mbayanging bayar 400rb harus bisa kosong itu saluran WC kita. Lah petugas malah nerangin treatment khusus tanpa bongkar ubin yang biayanya 1,8 juta. Makin gemes saya, berasa bakal ditipu sama tukang sedot ini. Saya marahin kan tadi deal sama boss kamu dibersihin sampai bisa 400rb, kenapa pakai nambah biaya lagi? Seandainya dari awal saya diterangin opsi2 untuk mengatasi septictank mampet sih saya bakal berusaha memahami dan menilai jika harga yang diberikan wajar atau tidak. Siapa tahu nguras beneran bisa berjam-jam makanya ngga pantas kalo 400rb. Saya paham jadi shitbender tu ngga mudah, makanya komunikasikeun dengan jelas lah di awal buat kita yang awam gini. Saya tuh menghargai orang profesional, antara waktu pengerjaan dan biaya yg dia keluarkan juga harus sesuai…jangan asal mancing kasih harga murah tapi akhirnya baru dijelasin belakangan di TKP ini yang bikin kayak kita kena trap.

FYI ini kejadian pas paksu ngga ada di rumah, lagi tugas di luar, jadi saya juga langsung telpon beliau dan seperti dugaan saya beliau juga ngga mau ada biaya nambah. Kalau dari penjelasan mas2 sedoter itu yang saya pahami dia cuma bakal ngeblender lempung dan ngeblow lebih kenceng lagi, nah seharusnya ngga 1,8 juta dong…dan paksu said ngga usah ditawar, batal aja, mending konsul renovator rumah dulu, ya saya nurut. Mas petugas CV bilang ibu kalau panggil kami lagi nanti juga kena 400rb lagi bu kalau dilanjutin di lain hari, makin digituin saya makin kesal lah…ngga usah nakuti2in Mas…sy jg bisa panggil CV lain, ngga harus ke CV mu lagi. Kamu juga ngga ada garansi kalau kamu kerjain yang 1,8 jt itu WC saya ke depan gak bakal cepet mampet lagi. Saya berlama2 ngga keluarin uang, saya telpon2 boss CV dia nggak direspons2 juga. Saya bilang ke Mas sedoter, bilang bos kamu saya sudah chat ya jika kita batal, kalau saya telpon nggak diangkat berarti mas juga ngga saya bayar, wong septictank saya belum tuntas. Akhirnya mereka pada japri2 dan coba telpon si boss. Pas bisa terhub dengan si boss, sama juga penjelasannya dengan anak buahnya, yah namanya udah sekongkolan. Pakai pura2 susah sinyal lagi, audio ibu kurang jelas. Saya sampai teriak2 juga kan bapak gak jelasin sejelas2nya opsi2 yang bakal saya hadapi nanti, kalau cuma nyuruh mobil datang untuk ngecek doang ngga pantes matok 400rb. kata dia sudah sesuai bu kan kami mau sedot WC bukan sedot tanah, kalau masalah seperti ibu biayanya bisa di atas 2 jutaan…ah kampret beneran nih modus dia mau jualan jasa mahal pakai model mbujuki disik…anti banget saya….

Long story short (habis waktu lama karena saya tinggalin dia zoom lagi), akhire saya bayar juga si mas2 sedoter 400rb krn akhirnya mereka pakai jurus memelas , katanya mereka juga yang kena potong dari CV, karena tahunya mereka sudah ke TKP memenuhi order. Saya bilang, ordermu kan ngga kelar Mas? Kerjaanmu ngga ada kan? Trus mana hitam di atas putih kita sepakat jasa ini? Kata mereka bukan karena tidak mau menyelesaikan tapi memang harus pakai biaya lebih. Kami tahunya dapat order dari CV bu, kami cuma petugas lapangan, blaa blaa blaa. Karena saya gak tegaan, saya bayar juga setelahnya, masih sambil ngancam kata saya kalau 3-7 hari mampet lagi ngga berkah rejekimu Mas…(teteup ngga ikhlas hahaaa). Saya doain semua jasa yang main curang macam gini biar diberikan hikmah agar taubatan nasuha ya…dengan cara diazab dulu di dunia. Yang merasa pernah dicurangi tukang sedot WC bilang aamiin….

Cuma sayang harusnya kalau saya tadi lebih ngotot lagi ngga mau bayar, sebenarnya bisa aja. Caranya panggil security perumahan, pasti saya dibelain, itu kata paksu pas sorenya beliau pulang. Iya ya? Ngga kepikiran blas tadi….yo wis lah….jadi pengalaman tersendiri buat saya.

Thank You, Book Creator!

I have just renewed my Book Creator Certification and this time I can proudly show off my certificate on my socmed status. I think the point is that it’s important to tell the world that even a not-very-tech-savvy person like me can create cool books. Also, I have become more creative in class preparation and can also teach more interactively. Book Creator is also very supportive of my students collaboration so that their asynchronous learning is very focused and effective.

Sudah sah ya, yang tahun lalu kan cuma dapat badge doang. 😍

Í teach adult learners and you know that some trainees can be too cool to train. Sometimes they think that they know more than their trainers (yes, sometimes that’s true). With Book Creator, I can just put anything relevant for my trainees into my book, so they can just go to the additional link if they really want to explore more about the topic. What I find more interesting is that now my trainess are willing to read and prepare before coming to our Zoom session as the book that I provide for them for the independent reading is so captivating.

So, last March I had to teach specialized English for Customs and Excise (DJBC) officers in my Ministry of Finance RI. The training took 7 days and the participants are DJBC officers from different offices across Indonesia. The aim is to equip the trainees with speaking abilities and business correspondence in their customs and excise context. For speaking class, the objectives are to explain basic speaking strategies; to implemet active listening; to conduct business conversations in the context of customs and excise, to host a meeting with representatives of foreign countries; to use English to explain customs and excise procedures (explaining customs procedures); and to simulate interviewing and interrogating passengers. For writing class, the objectives are to explain basic writing strategies, to write business correspondence in English and to prepare hosting/MC script for international evets. I only had one week to prepare the training materials, and Book Creator is my savior.

I was able to prepare two training books (Speaking and Writing) within short times by embedding my teaching materials with all sources that I have for the class. I put listening audios, relevant articles, youtube videos, PPT slides, and assignment for the asynchronous times.

It turned out that the books were quite sucessful to help my participants to learn the materials before the Zoom session and to use during classroom interactions and collaborations. Based on the training evaluation result, the score for the training material (Bahan Ajar) are 4,83 on Batch 1 and 4,87 on Batch 2c, which are quite satisfactory. That means my participants found out that the books were very useful during the training.

EFCO Batch 2
EFCO Batch 1

So I just want to say that I am so thankful to Book Creator for making EFCO teaching quite successful. Epub books are easy to make and to use. My participants can learn the materials anywhere using their mobile phones. I can also use the books as visual aids during the synchronous sessions. I am sure going to share this with my fellow trainers at Ministry of Finance!

Trade Off

When I was a child, I and my friends used to play with stones, clay, rubber bands, or twigs, not some “smart” toys or gadgets like nowadays. Smart or not, we can learn a lot from something as basic as rubber band for example. In fact, I learned an incredible lesson that would stick with me for the rest of my life when I was just in elementary school—although I didn’t realize it at that time.

Back then at school, we would play Zero Point or rubber jumps during school breaks , and it was a lot of fun trying to beat friends and win as the highest jumper. We usually made the rubber chain together from used rubber bands from food wrappings, back then the only color was brown. One day, one of my friends, whose parenst just returned form HongKong, had a long, colorful rubber chain (I remember she had green, yellow, blue, red, and white ) that I wanted very badly, but she wouldn’t let us play with it. She just held onto it and liked to show it off. So I developed a strategy. Rather than convincing her to play with us with her new chain, which she wouldn’t, I offered her a trade. First I offered any rubber I had for one colored rubber. She wasn’t interested. Then I offered two for it. Then three. Then four. Then five. I think she was finally willing to make the trade when I reached ten. She was happy because she got ten rubbers per one color. I was happy because I’d given up several average rubbers for one beautifully colored rubber. I was willing to sacrify because I still got a bag of used rubber bands at home. I managed to get 5 different colors by sacrifying 50 rubbers.

Here’s the lesson learnt: Life has many intersections, opportunities to go up or down. At those points, we make choices. We can add something to our life, subtract it or exchange one thing for another. The most successful people know when to do with these things—when to trade off their dead-end career to take the risk of starting a new business; or when to add a positive new habit at the expense of an old one that wasn’t producing results.

In general, I believe that unsuccessful people make bad trade-offs, average people make few trade-offs and successful people make good trade-offs.

we don’t always get what we want, but we always get what we choose

I’ve made so many significant trade-offs in my life, and I’ve come to realize that I have to be willing to continue making them if I want to keep growing and striving to reach my potential. When I stop making them, I will arrive at a dead end in my personal growth. That will be the day that my best years are no longer ahead of me, and my potential is behind me.

It is important to remember that we don’t always get what we want, but we always get what we choose. So I think it’s better to look at the choices we have made in our life.  Have we made a kind of guidelines to help us decide what to strive for and what to give up in return? I want to share my own guidelines for trade offs, hopefully those will also guide everyone to more advancement in life.

  1. Begin with an end in mind. What outcome we want? Stay focus with one that we really desire, not something determined by too many people. So my goal is mostly related to a long term result needed for my own growth as a person.
  2. Make sure that we only choose things that add up. Sometimes we are tempted with wants, not needs. My basic consideration of need is something that add up, althought it’s not always what I like or want. Need to me is also driven by my religious faith, since I want to die as a good muslim.
  3. Don’t fear the consequences. It is essential to keep in mind that our trade off is based on our clear purpose in mind that we want to be better or to gain more.   My trade offs can be grouped into some important areas, such as work, health, family, friends, hobbies, and amal shalih. Although in some areas the consequences can be severe, if it is traded with the blessing of Allah SWT for my own sanity and peace of mind, I will happily face it.

Hope this can be useful for you all my faithful readers. This is also a self reminder in times I get distracted from my goal in life.

CURCOL

Yes, the background of this writing is I realize that I have been exhausted and bored (again!). Yup, once more time I’ve been feeling tired lately. But I realize that every choice I make has a trade off. I am busy doing office tasks but in return I get a very large salary and benefits. With a lot of money I can help family and friends, treat friends, shop without worry, take care of myself and much more. So this is just a self reminder to always be grateful that there are still many people whose conditions are worse than us.

Stay on the right track, Efi!

Speaking Confidently

I was asked by one of my students to become a speaker for their English Community session in April 2022. The topic is about confidence in public speaking, and actually they are more specifically interested in how to deliver a good public speaking. The session went well in my view, and due to the limited time there were few questions left in the Q & A but I managed to answer them via Zoom chat.

Tell you what, being confident is actually comes from a sense of pleasure and satisfaction from someoné’s own accomplishments. I began my presentation by telling my own life story as a shy, introverted child who had stammer problem and yet managed to become a trainer of a prestigious government institution, now experienced with thousands of training hours during my years of service. Alhough I don’t consider myself as a great public speaker, my personal accomplishments somehow makes me confident that my efforts these years validate that I am much better than before in terms of my communication skills.

Okay I just want to share what I presented to PKN STAN English Community. So basically I discussed several points:

  1. Before the event
  2. The event
  3. Closing the event

Before we speak for public, first we need to know what the event is (and the given topic as well) and who will be the audience. That means we need to research to make a good planning and preparation, so that we can present our message clearly to the specific audience and also we won’t over run our allocated time. Rehearse the practice to get the idea of how the delivery runs, especially with visual aids.We can be more confident and have more anticipation for potential problems in the real presentation.

For the event, I gave some tips for opening and some tips for 3V. I use my GLOSS method to get the audience hooked by our opening, it’s an acronym of:

1.Get Attention : we can use humor, a photo, caricature, surprising facts, etc. The point is we try to make interesting statement until the majority of the audience pay attention before we introduce ourselves and launch into our speech.

2.Link with the participant’s experience. When I share my personal story, I asked the audience to relate that with their own experience.  I once a shy, introverted child but turns out to be outspoken and more open when I grow up. The more the audience relates to us, the more likely they will remain engaged.

3.Output Mention. This is telling the audience what they will get after following our presentation. I normally try to relate that with their problem or opportunity so that they will remain engaged until the end of the presentation.

4.Structure. Just outline how the presentation is going to be delivered.

5.Stimulate. Show our energy and enthusiasm in speaking from the very start. Start the talk by asking the audience to imagine a scenario related to the topic of the presentation. We can also ask something like “What would you do in this situation?” This is mentally stimulating for them. Viewing the topic from their perspective can help the audience relate a lot better to our narrative.

During the event we must pay attention to our 3V: verbal (what we say) , vocal (how we sound), and visual (how we look). For the verbal, make sure that our words are well-chosen and strategic. Keep them few enough to be concise and convincing enough to be complete. If you have a cue card with you, make sure it’s not like reading because we must speak, talk to our audience. That’s why vocal is important: the intonation, articulation, the accentuation, and the pace. The tone of voice adds or takes away from what we are saying. We need to vary our tone and pitch. Make sure we pause and pace ourself to engage the audience. Let them hear the meaning of our words in the way we articulate them in our accentuation. And finally and most importantly, be audible. I am a bit allergic to people who speak with whispering style because it seems innapropriate and generally make others feel uncomfortable. I think whispering voice is just for private communication, not for public speaking.

For closing the event, I gave some common tips but somehow could be forgotten by Indonesian people actually.

•Thank the audience

•Re-emphasize key points

•Call to action

•Wish them well

Most of the time, the closing part is done abruptly or too quickly. Just thanking the audience is not going to give a strong finish to our presentation. And especially, Indonesian like to end with apologizing, which is to me this is a fatal mistake. Apologizing to me show that we are lack of preparation and that can damage the speaker’s credibility. That is a big mistake because we’ve just told our audience that they aren’t important enough to prepare for. Giving a summary of what you have presented is way better than apologizing. Don’t call attention to negatives, but call to appeal or enouragement to do better in the future, that’s more posive way to give a satisfactory ending to the presentation.

Let’s just say that the event is well organized, and I can see that the participants are already fluent speakers of English. Some of them are from the classes that I am teaching this semester. They sure got some credits for their extracurricular activities. Way to go, guys!.

Belajar Hand Sewing, Yuk!

Di antara rutinitas mengajar PJJ, menjadi peserta E-Learning, mengikuti rapat-rapat kantor, serta menyelesaikan KTI, perlu dong balancing life dengan sharing bersama teman-teman muda kita. Sempatin sebentar ngajarin tenage girls nona2 SMA cantik buat menyulam, berbagi pelajaran saya waktu SD dulu. Anak sekarang jarang yang mau pegang jarum, padahal karya seni bisa kita hasilkan hanya bermodalkan selembar kain, jarum sulam dan benang. Makanya senang banget dirikuh ketemu sesama penjahit amatir, karena kalau di Otang Crafters kan saya ngga ada apa2nya dibanding teman2 pro yang biasa mainan mesin jahit 😀 😀

Karena ngajarin di Zoom jadi ngga terlalu bisa memantau apakah kerjaan teman-teman rapih atau kurang. Baeqlah saya ceritakan dikit ya delapan jahitan dasar buat pemula. Ehehee kayak saya yang udah expert saja. Saya juga cumanya bisa 8 itu aja sih…tapi sudah banyak tas, baju dan sepatu yang saya touch up dengan teknik itu supaya jadi kereen dan ngga pasaran.

OK here we go, delapan teknik jahit atau sulam yang saya ajarin tadi (Kalau bisa sih sambil teman2 praktikan…video tutorial ntar coming soon saya buatin di Youtube juga ya….tadi saya ngga record Zoom saya coz laptop dah minim memorynya…)

1. Backstitch

Disebut juga Tusuk Tikam Jejak atau Tusuk Balik. Jika dilihat dari atas tusukan seperti jahitan mesin jahit, tapi jika dilihat dari bawah terilhat seperti jahitan rangkap. Caranya tarik jarum ke atas lalu tusuk ke kain membuat jahitan ke depan, dari bawah beri jarak jarum keluar lebih panjang, tarik ke atas dan tusuk jarum lagi ke ujung jahitan sebelumnya.

2. Split Stitch

Jahitan ini mirip backstitch karena seperti garis padat, namun teksturnya seperti kepang. Jadi jarum ditarik melalui kain menjadi satu jahitan lurus. Dengan jarum dan benang di bagian bawah, benang diangkat melalui bagian tengah jahitan yang baru saja dibuat. Kemudian dijahit ke depan dengan panjang yang sama dengan jahitan awal.

3. Stem Stitch

Disebut juga tusuk batang. Jenis tusuk ini sering dipakai buat hiasan. Selintas hasil jahitan nampak seperti tali tambang, makanya saya sering pakai buat sulaman batang bunga atau tanaman merambat. Cara melakukannya dengan tusukan mundur dari kiri ke kanan. Jadi buat jahitan lurus ke depan, terus bawa jarum ke bawah kain, lalu masukkan ke bagian tengah jahitan pertama dari sisi samping jahitan.

4. Satin Stitch

Ini sering dipakai buat menyulam disebut juga Tusuk Pipih. Kita seperti melekatkan benang ke kain sesuai gambar pola yang ingin kita sulam. Fungsinya sih untuk membuat benang menutupi permukaan ragam hias. Buat satu jahitan yang memanjang dari satu ujung ke ujung lainnya. Kemudian jarum diangkat lagi tepat di sebelah sisi berlawanan dari jahitan awal. Jahitan mesti berdekatan satu sama lain untuk mengisi pola dengan mulus. Yah mirip bordiran lah.

5. Running Stitch

Jahitan yang paling mudah nih, Tusuk Jelujur. Saking terlalu simpelnya cuma nusuk jelujurin horizontal saja semua orang juga bisa, termasuk semua anak saya. Harusnya tadi saya tulis di nomor satu ya, tapi baru teringat sekarang hehehe

6. Cross Stitch

Tusuk Silang ini digunakan untuk membuat hiasan jahit dengan bentuk silang. Pertama tusukkan jarum dari bagian bawah kain ke atas, lalu tusukkan kembali ke bawah dengan posisi serong ke kanan. Lakukan sampai ujung batas yang diinginkan. Lalu ulangi dengan langkah sebaliknya, yakni serong ke kiri atas sehingga membentuk pola silang dengan jahitan awal tadi.

7. Chain Stitch

Tusuk Rantai ini juga cakep buat bikin bingkai sekita pola. Pertama jarum ditarik melalui kain kemudian dibawa ke bawah di samping tempat pertama kali diangkat. Jangan tarik utas benang seluruhnya sehingga terbentuk lingkaran. Lalu jarum harus dibawa melalui lingkaran itu dan ditarik. Untuk jahitan selanjutnya, jarum harus ditempatkan (atau dekat) di lubang yang baru saja dijahit, lalu tarik untuk membuat lingkaran tambahan.Terus saja prosesnya diulang untuk melanjutkan rantai.

8. Feston Stitch

Tusuk Feston adalah salah satu teknik jahit yang digunakan untuk menjahit bagian tepi bahan sebagai hiasan atau dekorasi. Seringnya untuk tepi taplak meja, selimut, baju bayi, ataupun kerajinan berbahan flanel/felt, bagusnya dengan warna benang yang kontras. Untuk mengawali, tusukkan benang dari bawah ke atas, lalu tusukkan lagi dari bawah ke atas pada lubang yang sama. Masukkan jarum pada jahitan dan tarik ke arah kanan. Tusukkan jarum dari atas ke bawah dengan jarak tertentu dari posisi jahitan awal, dan pastikan ujung jarum berada di atas benang sehingga benang akan terkait. Ulangi langkah ketiga hingga selesai. jadinya seperti pagar batang, ya.

Sebenarnya masih ada Tusuk Flanel, tapi itu mirip tusuk silang tapi mengerjakannya langsung menyilang satu per satu dengan lebar jahitan kecil.Jadi buat saya ini cuma variasi Cross Stitch tadi. Tusuk Flanel selain digunakan untuk membuat hiasan di kain juga untuk menyembunyikan tepian kain agar jahitan atau obrasan tepi kain tidak nampak dari luar. Mengelim begitu lah, you know what I mean buat yang bisa ngelim rok atau celana dhedhel hehehee….

Duh asik banget pokoknya kalau kita sudah menjahit, suka lupa waktu. Tadi kita cuma satu jam karena memaksimalkan jam ishoma, tapi jadinya Sholat Dhuhur telat dikerjakan jam 1 lebih dikit, that’s bad I admit. Jangan ditiru ya…OK foto hasil demo Zoom masih di hp, jadi ntar upload kalo ingat.. Tapi di sini saya share beberapa gambar yang saya pakai di PPT saya tadi, sumbernya sih dari searching inet aja hehehe. OK till we meet again. Ciao!

sumber https://www.youtube.com/watch?v=FbFIYbTgydI&t=1s
sumber https://diyways.com/10-basic-stitches-everyone-who-embroiders-should-know/

sumber https://crewelghoul.com/blog/basic-stitches-of-embroidery/

The Power of Kepepet

Ini kayak judul buku karangan enterprenur Jaya Setiabudi ya, kalau orang kepepet malah bisa jadi enterpreneur tangguh. Nggak ini cuma mau share pengalaman kepepet banyak di bulan Maret ini. Tapi alhamdulillah, sekarang tanggal 19 ya…sudah bisa agak plong dan mulai nulis lagi di sini.

Maret itu juga bulan peak season karena masih lanjut mengajar PJJ EFCO angkatan berikutnya, disambung mengajar Manajemen Pembelajaran untuk PKN STAN sama mengajar di PJJ Orientasi CPNS Kemenkeu. Kebayang kaan hectic nya kayak apa, mulai buat bahan ajar, bahan tayang, buat soal latihan dan ujian, koreksi tugas dan ujian, belum lagi jadi coach peserta, ketambahan deadline proposal Karya Tulis Ilmiah, memeriksa DUPAK WI karena saya masih dijadikan Anggota Tim Penilai Pusat…jadilah saya begadang terus hampir sepanjang malam. Akibatnya hobby ngemil malam kambuh lagi dan alhamdulillah sudah sukses naik 6 kg 🤣🤣🤣 ntar Romadhon dikurusin lagi #eh

Nah, ternyata saya bisa melewati tiga minggu gila di Maret ini dengan cukup baik hehehee….saya jalani saja sambil berdoa terus minta dikuatkan sama Allah. Habis gimana lagi, I love doing all of them. Nah itu lah manusia kalau diberi cobaan baru keluar potensinya. Sesibuk-sibuknya saya alhamdulillah anak2 terkontrol PJJ nya dan saya malah mulai naik omset di Kedai Berkah nya. Semoga makin laris ya nanti di bulan Romadhon, aamiin. Kapan2 saya ceritain tentang wirausaha saya ini ya guys..stay connected. 💙

Menjadi Narsum

Jika diingat-ingat, tahun 2021 lalu saya panen jadi narsum, berkah pandemi jadinya bisa banyak ngisi undangan secara online. Mulai dari narsum benchmarking, studi banding, reviewer, panelis diskusi, FGD, TEFL Hub, kajian akademis, talkshow, bimbingan teknis, Community of Practice, sampai LOKER (Learning Organization Knowledge Room). That sounds like I’m an expert, ya…padahal intinya sih sebenarnya hanya knowledge sharing buat saya. But now I just wanna reflect a bit dari pengalaman diundang di banyak acara itu.

Pertama, itu pertanda kamu dah mulai beranjak senior jeng, alias makin TUA dituakan. Ketika misalnya banyak penugasan mendadak, saya selalu didorong2 padahal saya tahu teman2 WI saya lainnya sih sebenarnya juga bisa. Tapi banyak lah alesan, misalnya Pak Itu atau Bu Ini kan masih WI Muda, kayaknya lebih pantes jika bu Efi aja karena sudah Madya, jadi lebih berpengalaman. OK saya terima itu, meski kadang saya protes karena Bu Onoh kan WI Utama kok ngga beliau aja sih ditugasin, kan seharusnya beliau juga lebih berpengalaman hehehe…this leads to reason number two.

Kedua, your experience and expertise win recognition. Karena memang sih ada teman WI Utama yang pengalamannya kurang karena sering menolak penugasan. Padahal for me, an assignment itu bakal jadi pengalaman yang sangat berharga. I learn by doing. Although I make mistakes while experiencing, that’s an insightful learning for me. Ngga kehitung juga saya salah di awal2 penugasan baru, tapi ketika saya dapat similar assignment ke depan, saya lebih pede dan tahu apa yang harus saya lakukan. Sifat bonek ini yang banyak memberikan pengalaman dan menguatkan skills and expertise saya.

Ketiga, they know that you are confident! Yes, ini masih ada kaitannya sama nomor dua tadi ya. Saya modalnya itu bonek, tapi orang lain suka melihat saya sebagai orang yang pede. Padahal ya ngga gitu banget sih, saya juga suka takut dan minderan, tapi ya mosok saya tunjukkan ke orang2 kalo saya jiper, no way!. Apalagi penugasan ini ada kaitannya dengan kompetensi substantif saya. Kalau saya sudah bismillah untuk memulai penugasan, sisanya saya hanya do my best and tawakkal aja. Don’t show your butterflies inside, fake it till you make it. Saya postive thinking saja setiap kali menjalani sesuatu pasti akan dapat new learning. Dan juga buat saya, belajar itu more about experiencing. Jadi, show must go on hehehee

Keempat, I’m a kinda giver. Kan ada nih orang yang tipenya taker, atau ada juga yang giver and taker, nah kalau saya emang suka giving. Jadi buat saya penugasan narsum itu ajang berbagi buat saya, semoga saya dapat berkah dari apa yang saya share. The more you share, sebenarnya the more you take in return, entah dari sumber mana pun. To be honest, saya sering ngga mikirin juga mau dapat honor apa kagak, karena that’s not what I’m after. Kalo kita ini a giver, yo wis mbuh kate dibayar yo syukur, ora yo rapopo hehee…Makanya suka terkaget2 kalo dapat transferan gede atau tiba2 pas pamit pulang disodoring amplop tebel, kita sudah lama ngga dapat honor2 macam gitu kalau di internal Kemenkeu, kan tunjangan kinerja kita sudah gede banget ya… Diterima dengan senang hati walhamdulillah, hehehee…

Narsum LOKER

BTW, foto asal upload aja ya, belum tentu cocok sama postingan ini coz randomly picked dari folder. Uadahan dulu yaa…

Ternyata Sudah Februari…

Perasaan barusan aja ganti tahun, kok tahu2 udah tanggal 8 Februari. Sudah selesai 1 Angkatan PJJ EFCO, minggu depan akan ada Angkatan berikutnya. Akhir Januari kita vaksin booster di Kantor Pusat DJBC. Seperti biasa kalau Kamis malam atau Minggu malam ngobrol2 dengan teman2 English teachers around the world…hidupku rasanya seperti roda berjalan…ngga ada jedanya. Malam ini sudah kelar ngisi laporan Alpha Kemenkeu, sama udah kelar koreksi ujian Listening & Speaking. Emang asiknya kerjaan gini malam2 ya, kalo pagi mah sudah rempong sama PJJ anak-anak, apalagi kak Daffa lagi PAS minggu ini. How tiring everyday is…mana badan lagi agak nggreges2 gini…kayaknya kurang istirahat nih.

Eh wait a sec…Januari kemarin kan aku dapat cuti ya…duh kok lupa. Ngene iki loh ya brutuuu…Tanggal 9 sd 16 januari jadinya kita bisa pulkam ke Malang. Alhamdulillah bisa tengok kampung halaman setelah 2 tahun ngga bisa pulang…rasanya haruuu luar biasa. Akhirnya bisa melihat makam Bapak dan Ibu, sedih jika ingat waktu ngga bisa pulang karena PPKM itu. Tapi di rumah itu serasa masih ada ortu ya…kayaknya Bapak Ibu belum berpulang gitu, kayak merasa mereka masih berada di antara kita, tapi lagi pergi jalan2 berdua seperti biasanya. Tapi cuti seminggu kok ya ngga berasa ya, tahu2 sudah mesti balik Jakarta. Padahal belom semua list kunjungan berhasil didatangi. Ohya emang kemarin kita juga lagi repot peringatan 1000 hari almarhumah ibu, jadi emang lagi banyak ndekem di rumah. Untung dapat kunjungan teman2 SD Taman Muda 1, ketemu lagi setelah 35 tahun ngga bersua.

Kita puas2in makan bakso dan tahu campur di Malang. Jalan2 paling cuma ke Coban Jahe sama Kafe Ketjeh sama MOG. Beli oleh2 juga cuma ke Pia Cap Mangkok sama Lai Lai, ngga ke Lancar Jaya. Udah sisanya cuma main di Kalimosodo 8 rumah adikku sama di Vila Gunung Buring rumah kakakku. Oh emang cuti kurang lama, biasanya pulkam kan 2 mingguan kalo Lebaran. Ini cuma seminggu, kepotong 2 harinya untuk di perjalanan naik KA Brawijaya. Iya kita ngga naik pesawat lagi, males PCR. Kalo nyepur kan cukup antigen aja, jadi ngga tekor buat ngeswab berenam.

Foto-foto di Malang kemarin mana ya? Sik yo tak cariin…

Udah wis sak nemunya aja…toh sdh banyak di IG dan FB. Ntar insyallah Juli sehabis Idul Qurban kita bakal pulkam lagi nih. Mba Sasa get married soon. 🧡💛💚

Ultah Dzimi di GG 8
Afia di MOG
Mudikers
Mudikers
Bani Imron Hadisusanto
Happy Fam