Presentasi Zen: Ngajar Diklat Pertama di 2015

Waah sudah hampir setahun nggak update blog ini😉 he he he… Kemarin hari Rabu 22 Januari 2015 mengajar diklat di Pusdiklat Keuangan Umum untuk yang pertama untuk Diklat Manajemen Diklat, kebagian mengajar Mata Pelajaran Penyelenggaraan Diklat. Kali ini peserta diklatnya spesial….Widyaiswara baru angkatan 2014. Sebenarnya diklat ini ditujukan untuk para pegawai yang akan bekerja di Badan Diklat…tapi spertinya menurut AJF di Setban sana WI dianggap pegawai baru yang harus diberi orientasi tentang fungsi-fungsi dan proses bisnis dalam pelaksanaan diklat. Sewaktu rapat persiapan penyelenggaraan saya sebagai Wali Program sudah mengatakan bahwa kami tidak akan mengubah kurikulum, kami hanya akan menambahkan konten dalam bahan ajar yang sesuai dengan calon peserta yaitu widyaiswara.
Agak bingung juga awalnya karena saya dapat 8 jamlat untuk memberikan materi Penyelenggaraan Diklat. Oya, lucunya calon peserta malah ada yang memang pengajar materi itu, jadi saya malah memanfaatkan beliau untuk sharing pengalaman beliau dalam melaksanakan tugas-tugas di Subbid Penyelenggaraan I. Balik lagi ke materi, bagi saya menceritakan bisnis proses di bidang Penyelenggaraan Diklat buat saya cukup hanya satu jamlat. Saya siapkan bahan ajar tentang itu selengkap mungkin. Nah, karena peserta saya semua adalah pengajar, maka saya tambahkan materi tentang manajemen kelas. (Nanti akan saya share bahan mengajar saya itu lain waktu.) Isinya ada tentang building rapport, handling questions, pendekatan mengajar, serta tips menggunakan Presentasi Zen. Nah sharing tentang Presentasi Zen ini yang saya beri porsi yang lebih banyak dengan harapan agar bermanfaat buat mereka dalam mengajar. Presentasi Zen itu saya pelajari kilat saja dalam 5 hari dengan membaca bukunya (yang mau e-booknya sila email saya) dan ketika saya menyajikan materi di kelas dengan menggunakan slide Presentasi Zen. Oya, peserta saya sangat antusias dengan materi terakhir ini, dan di sesi praktek mereka membuat bahan tayangan mengenai penyelenggaraan diklat dalam 5 kelompok dengan gaya Zen serta mempresentasikannya dengan style Zen.

courtesy of fastcodesign.com

courtesy of fastcodesign.com


Apa itu Presentasi Zen? Itu sebenranya presentasi powerpoint juga tapi dengan spesial tips dari Garr Reynold, pakar desain slide presentasi kelas dunia. Seorang Profesor Manajemen dan Desain di Kansai Gaidai University, beristrikan orang Jepang. Rupanya dia terinspirasi banyak dengan filosofi Jepang, dan contoh-contoh dia banyak mengambil dari budaya Jepang. Ada banyak pengertian tentang Zen, namun secara singkat Zen itu adalah filosofi tentang kesederhanaan (simplicity) dan fokus (focus). Zen mengajarkan tentang fokus pada kesederhanaan, yaitu berfokus pada hal-hal yang penting dan meninggalkan hal-hal yang tidak penting.

Bagaimana cara agar bisa membuat presentasi yang professional seperti Presentasi Zen? Tahap persiapan pertama adalah be creative: think out of box, tinggalkan zona nyaman dengan kebiasaan membuat slide presentasi seperti yang sering kita buat. Untuk itu kita perlu berpikir seperti seorang beginner, yang mau belajar apa saja dan tentunya kita perlu melepaskan diri dari batasan-batasan yang mebuat kita kurang kreatif. Kedua, keep as simple as possible. Menurut Garr Reynolds, less itu sebenarnya more: sedikit itu malah berarti lebih. Oleh karena itu, prinsip ketiga adalah, jangan pikirkan apa yang bisa ditambahkan dalam setiap slide, tapi pikirkan apa yang bisa dikurangi.Think to “subtract”, not to”add” Sehingga, prinsip berikutnya, jadikan dalam setiap slide hanya ada satu esensi yang bermakna. Jangan buat desain slide presentasi bak mendekorasi ruang pesta ulang tahun karena desain tidak sama dengan dekorasi .
Untuk mencapai kebermaknaan, disamping pemilihan kata yang sedikit sensasional, juga harus ditunjang dengan visual yang relevan karena slide presentasi harusnya lebih visual daripada hanya sekedar kumpulan kata-kata belaka. Ketika menggunakan visual khususnya gambar dalam setiap slide, perhatikan ruang kosong. Sisakan ruang kosong, jangan isi semua ruang kosong dengan teks, gambar, grafik, animasi yang tidak perlu. Nah, dalam perencanaan sebaiknya kita planning analog dulu, jangan langsung going digital pakai komputer supaya proses kreatif tidak terganggu. Kita bisa pakai brainstorm, clustering, lalu membuat storyboard . Why? Coz nanti slide pertama sampai slide terakhir kita akan seperti bercerita yang mengalir mulai dari pendahuluan, permasalahan, klimaks sampai resolusi dan kesimpulan. Terakhir, dalam Zen delivery ada tips yang saya singkat dengan SUCCESS: simple, unexpectedness, concreteness, credibility, emotion, dan story. Untuk lebih jelasnya ceritanya lain kali saja yah…saya lagi too excited karena mengajar kemarin sukses buat saya, meskipun ada sedikit kekurangan: saya mengajarnya suka keracunan bahasa, campur aduk bahasa Jawa, Indonseia, Inggris hahaha…sama suka nyuruh peserta cepet2 karena takut wakktunya molor dari jadwal. Saya nggak takut or grogi jika diminta mengajar materi ini lagi😀

buku keren

buku keren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s