Trapped in a Comfort Zone?

pen

Well, that’s not very me. I’m that kinda person who enjoy challenges, as long as they are beneficial to me. Ya karena buat saya tanpa tantangan rasanya hidup ini monoton. Banyak yang bertanya kenapa sih saya mau bekerja di Pancoran, kenapa nggak di Bintaro yang dekat rumah saya. Well I admit working near my house is time saving for me, but it doesn’t guarantee kalau saya malah jadi rajin. Kecenderungan teman2 saya yang bekerja di kantor dekat rumah adalah malah sering nyaris telat dan suka ilang2an dari kantor karena urusan keluarga katanya. Bukan berarti saya mengatakan mengurus keluarga ngga boleh selama bekerja ya, karena bagaimana pun juga itu adalah kewajiban kita sebagai ortu. Tapi harusnya kita sudah memikirkan konsekuensi working mom yang mau tidak mau mendelegasikan tugas kita pada orang lain jika kita sedang bekerja. Ini juga bagi saya bisa dijadikan pendidikan sikap kemandirian pada anak. Saya sih kurang suka saja melihat teman yang masih antar jemput anak PP rumah-sekolah sampai si anak gede (sampai SMA sekalipun diantar-jemput ckckckk) sampai2 beliau itu rela nggak ikut diklat ini itu demi itu, atau menolak penugasan ke luar hanya gara2 ngga tau anak nanti pulang school gimana. Hellooow….hire a driver for you, ajari anak naik angkok, Gojek, Grab whatever. Ada teman yang pulang maksi ke rumah dan balik2 menjelang absen pulang sore karena anak minta dikeloni bobo siang atau nggak mau ditinggal balik kerja. Emang dipikire kantore embahe ya. Nyaman memang deket rumah, but you won’t go anywhere with such attitude.

Banyak trade-off yang harus saya lakukan for the privilege of working in my Pusdiklat. Misalnya saya yang hobby masak harus bangun minimal jam 3 pagi supaya bisa nyuci and memastikan semua sudah sarapan dan punya bekal maksi sebelum saya berangkat kerja jam 6 pagi. Kalau masih ada PR lemburan ya harus bangun jam 1 atau 2 malam biar kelar. Tapi karena saya enjoy melakukannya , tubuh ini seperti punya jam biologis yang gampang diatur dan tanpa pasang alarm pun saya bisa bangun sesuai rencana saya. Alhamdulillah ngga ada gangguan kesehatan yang berarti setelah lebih dari 10 tahun berpola hidup seperti ini. Yang penting sih tidur awal, paling telat jam 9 malam sudah harus pules.

Saya sangat menikmati perjalanan saya naik KRL dari Stasiun Pondok Ranji ke  Palmerah. Di KRL saya bisa melihat dan mengamati bermacam polah manusia, yang buat saya jadi pembelajaran tersendiri how to deal with people dari berbagai kalangan: pelajar, pedagang, supir taksi, karyawan, manajer, mbak2 sayur, sales, SPG, mbok2 bakul, guru, mahasiswa, anak-anak, sampai bencong pulak. Everyday has its own story. Dengan naik KRL saya masih bisa olah raga ngejar2 kereta, naik-turun tangga, dan  jalan jauh ke Manggala Wana Bhakti kalau tidak dapat taksi ke Pancoran. Sesekali saya naik Grab Bike atau Gojek kalau ingin cepat menembus kemacetan Semanggi, yang rasanya sensasional kalau meliuk-liuk di antara motor, mobil dan bus-bus besar, sambil melihat betapa kasihannya polisi kita yang tidak tahu mesti harus bagaimana lagi dengan keruwetan lalin Jakarta. I do enjoy those rituals, bahkan bersyukur saya diberi kesempatan sama Allah bisa mengalami many contrasting things in life in just one day. Bagaimana tidak, kan sampai kantor langsung nyes, adeem suejuk sampai jam pulang. Maksi tinggal buka bekal sambil Youtube-an atau telpon2 ortu di Malang dan anak2 di rumah. Maksi dan snack saya terjamin di kantor karena ada jatah dari katering diklat, cuma saya sudah jarang turun ke ruang makan karena takut ngga tahan godaan hahaa…

Saya suka di Pusdiklat saya karena work load nya gila2 an tetapi semua SDMnya OK dan sangat militan dalam bekerja, sehingga kita selalu unggul dalam capaian hasil kinerja kita. Beda sekali pengalaman saya dulu bekerja 6 tahun di kantor yang di Bintaro itu di mana rata2 pegawainya kurang mensyukuri pekerjaannya dengan rajin bekerja, terbukti sampai sekarang situasi bekerja di sana juga ngga banyak berubah, whereas they have the potentials to be a leading institution! Dulu malah dibilang aneh sendiri kalau lembur sendirian atau rajin sendiri, karena bad leadership juga menurut saya sih, ngga ada hukuman buat yang males2 itu dari atasannya.

Makanya saya tidak mau jadi alih jadi dosen seperti suami saya. Selain ngga suka lingkungan kerjanya, I think  I also have the freedom to choose. Jadi widyaiswara sih tugasnya sama saja seperti dosen, saya lebih memilih tetap di jabatan fungsional saya karena masih mengejar target sampai jadi WI Utama, sedangkan alih jadi dosen tetap di sana itu tidak ada kejelasan bagaimana nanti impassingnya. Ternyata benar yang menimpa  misua kemarin so tragic karena beliau yang sudah WI Madya angka kreditnya jadi terjun bebas hanya dinilai 200 aliat Lektor. Tapi karena itu adalah pilihan beliau, so he takes the consequences, harus segera lanjut kuliah S3 supaya bisa Lektor Kepala dan pulih tunjangannya seperti ketika jadi WI. Smangat Jo!! Kerjo kerjo kerjo, tak dukung 😀 😀 😀

Lagian enak loh rasanya kalau menikmati gaji dan tunjangan hasil bener kerja keras, fulfilling our stasifaction banget. Setiap rupiah adalah hasil tetesan keringat, tastes sweet as honey and bawa keberkahan buat keluarga. Alhamdulillah anak2ku semua so sweet, bagus di sekolah, nurut2, mandiri dan nggak terlalu manja. Mungkin ini berkah Allah juga kalau kita niat beribadah dalam bekerja, urusan keluarga juga dimudahkan olehNya. Always bless us Ya Allaah, aamiin…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s