Nulis dan Nulis Lagi…

Sebenarnya saya lagi blank karena ngga ada bahan buat ditulis. Tapi saya sudah terlanjur buat komitmen untuk menulis di blog ini minimal sekali sebulan, ya sudah saya ketak-ketik sedikit di laptop. Saya nggak tahu apakah karena factor U jadinya saya loyo begini. Maksudnya saya sudah kehabisan tenaga to pour down my ideas into a piece of writing karena sehari-hari waktu saya sudah tersita untuk mengajar dan pulang ke rumah setelah beres dengan urusan anak2 dan misua bawaannya kepingin tidur dan memaksimalkan istirahat. Ngetik begini hanya keisengan yang dipaksakan, saya harus selesai dalam 30 menit sebelum mengerjakan KTI saya yang sudah mendekati deadline pengiriman perbaikan proposal penelitian saya. OK dah here we go…

Yang mau saya tulis adalah pengakuan rasa bersalah saya pada suhu menulis saya bapak Masri Sareb Putra. Saya belajar penulisan popluer dari beliau sekitar 6 tahun lalu di Pusdiklat Keuangan Umum. Selesai pelatihan dengan beliau saya berjanji akan segera menerbitkan buku saya. Tapi sampai sekarang belum satu pun buku yang saya publish. Tapi peningkatan sih ada, maksudnya saya sudah mulai menulis di majalah instansi minimal 2 kali setahun, lalu saya sudah menulis modul sekitar 10 buah dalam rentang enam tahun setelah diklat dengan beliau. Sama menulis di blog ini tentunya hehee…

Saya masih ingat skali apa yang beliau sampaikan di kelas. Beliau membuka kelas dengan unik: menanyakan apakah kita tidak menulis karena tidak ada waktu? Beliau minta kita enlist kegiatan kita setiap hari apa saja sedetail2nya bersama alokasi waktunya. Kata beliau menulis cukup 15 menit setiap hari, tidak sulit bukan? Hehee sulit suhu, kalau pemalas macam saya pasti jawabannya iya sulit. Tetapi kata pak Masri, anda tidak akan terampil menulis jika tidak rajin berlatih; karena hebat luar biasa itu tidak ada, yang ada adalah karena kebiasaan. Beliau tidak merasa sebagai penulis hebat, tetapi beliau adalah contoh orang yang terampil karena disiplin dan rajin berlatih. Beliau sudah menerbitkan lebih dari 50 buku, karena dulu pernah bercita-cita akan menerbitkan buku setidaknya sejumlah usia beliau. Yuhuu…bravo suhu saya.

Pak Masri mengatakan teruslah berkanjang, istilah beliau untuk intensive practice. Menuliskan apa saja, yang penting ada content untuk disampaikan. Saya masih ingat sekali apa yang disampaikan beliau tentang tujuan seseorang menulis:

  1. membagi informasi
  2. memberikan persuasi
  3. mendidik
  4. menghibur
  5. bagian dari proses penyembuhan
  6. menyumbangkan ilmu
  7. sebagai warisan yang awet

Nah itu, saya maunya menerbitkan buku saya sebagai warisan yang awet. Maksudnya kan saya sudah puluhan tahun mengajar, buku ber-ISBN adalah curahan ilmu yang sudah saya gali dan kembangkan selama mengajar di kampus. Tapi kok ya…cuma saya kumpulin saja di folder, mau merangkai dan menarasikannya kok malas setengah mati. Buat saya menulis dan mengarang itu beda. Ngetik tulisan ini adalah mengarang buat saya…soalnya isinya cuma curcol saja hahaa…

Jadi mohon ampun ya pak Masri saya belum bisa memenuhi harapan bapak sebagai pengajar saya. Tapi saya takei it easy aja. Saya nggak mau stress gara2 belum kesampaian nerbitin buku. I’m a flexible writer. I have a plan but I don’t want to overwork myself. Biasalah anak Sastra kan rada nyeni dan nyentrik, susah diatur2 sama jadwal. Yang jelas saya masih memegang janji saya untuk menerbitkan buku ber-ISBN saya pak, and pastinya ada a little improvement in my writing skill, saya akan terus nulis di blog ini seperti janji saya.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s