Menciptakan Kesulitan Hidup Untuk Anak

painJudul saya agak serem ya? Ya inilah salah satu cara agar anak masa kini bisa menjadi generasi yang tangguh. Anak-anak saya sekarang menghadapi tantangan yang berbeda dengan saya yang sudah kenyang makan asam garam hidup sejak jaman ORBA dulu. Jika dulu kita mainnya Bentengan, Gobak Sodor, Petak Umpet, dan sejenisnya yang minim peralatan tapi fun dan penuh team work, anak sekarang sudah mainan smarphone, tablet, dan game online, yang bisa dia lakukan sejak dari dia bangun tidur sampai tidur lagi di malam hari. Jika anak sekarang kurang selera makan, tinggal pesan delivery yang dekat rumah; sedang jaman saya dulu jika tidak selera makan ya dibiarkan kelaparan kalau tidak mau memasak sendiri, warung juga masih jarang waktu itu, dan beli makanan luar adalah sesuatu yang mahal saat itu. Dulu saya pernah ditugasi ibu saya menimba air dan mencuci pakaian sendiri. Anak-anak saya sekarang cuma pandai memasukkan semua baju kotor ke mesin cuci front loading, nanti yang menjemur dan menyetrika adalah si mbak.
Tapi memang jadinya beda kualitas anak yang dihasilkan di tiap generasi. Saya dulu merasa baligh di usia 10 tahun, masih kelas 5 SD itu (ngga cuma diukur dari sudah haid saja tapi dari sisi psikologis saya sudah yakin matang, penuh perhitungan, hati-hati, dan bisa mengambil keputusan sendiri), lha anak saya yang pertama sudah usia 13 tahun, sudah SMP, tetapi saya lihat belum baligh: manja ngga ketulungan, belum mandiri, belum bisa berinisiatif, dan masih banyak suka salah perhitungan. Ini juga terjadi dengan mahasiswa saya sekarang. Sudah kuliah tapi menurut saya mereka nggak sekualitas angkatan saya jaman dulu. I mean ketika saya memberi tugas dan kepercayaan, mereka gampang sekali mengeluh, dan sering tidak bisa menyelesaikan masalah dengan tuntas. Saya rasa ini karena mereka dibesarkan dalam jaman yang serba mudah, dan setiap kesulitan yang dihadapi selalu mengandalkan orang tuanya untuk maju membantunya.
Saya menulis ini karena ingin menghimbau saja pada orang tua: don’t make things too easy for our children. Ciptakan sedikit kesulitan hidup agar anak-anak kita jadi tangguh. Yang sering saya lakukan contohnya ketika anak saya ada permintaan, biasanya saya tidak selalu langsung memberinya. Suatu ketika Shofi, anak kedua saya, minta crayon Caran D’Ache baru karena crayon dia tinggal sedikit. Meskipun ada uang, saya katakan bahwa saya tidak akan membelikan lagi jika yang lama masih ada meskipun tinggal sepertiganya, dia harus menghabiskan crayon itu dulu. (harganya saja waktu itu memang sudah lumayan, 40 warna itu 750rb rupiah). Suatu ketika crayon Shofi itu hilang entah kemana, yang jelas tidak ada ketika dicari seantero rumah. Saya memarahi Shofi dan mengatakan bahwa dia harus mencari sampai ketemu dan saya katakan kalau sampai setahun tidak ketemu, baru saya pikirkan lagi akan membeli lagi atau tidak. Setahun tanpa crayon kesayangan Shofi itu adalah siksaan buat dia karena tidak bisa mengikuti lomba-lomba dengan maksimal. Shofi terpaksa meminjam crayon Titi punya kakaknya jika harus ikut lomba, dan tentu saja hasilnya tidak sebagus jika memakai crayon mahal. (even untuk krayon 50rban satu pak saya tidak mau membelikan Shofi supaya dia menyadari konsekuensi menghilangkan barang yang penting untuknya) Saya ingat dalam setahun itu Shofi paling maksimal hanya meraih juara dua, dan itupun untuk lomba-lomba yang tidak ada hadiah trophy nya, Cuma dapat uang tunai atau hadiah perlatan sekolah saja, wah benar-benar siksaan berat untuk dia masa itu. Dia harus melihat teman-teman yang lain yang jadi juara karena crayonnya lebih bagus. (meski pakai teknik menggambar, kalau crayonnya kurang bagus juga hasilnya kalah jauh dengan mereka yang memakai crayon bagus). Tepat setahun kemudian, karena saya tidak tega juga melihat Shofi jadi seperti tereliminasi dari dunia kompetisi gambar, baru saya belikan Caran Dache baru, hiks harganya waktu itu sudah sejuta rupiah pulak. Tetapi setelah itu, Shofi jadi lebih rapi dan teliti untuk menyimpan peralatan menggambar dia, dan tentunya yang membahagiakan yaitu dia sudah bisa nambah koleksi piala di rumah. Tapi ada yang lucu deh, setelah sekitar dua bulanan pakai crayon baru, eh crayon yang lama ketemu, ada di sela tumpukan buku lama, masih rapi dimasukkan dalam ransel plastic Bobo. Keki juga saya, Shofi keturutan juga punya dua kotak crayon mahal! 
Pelajaran yang mau saya berikan pada Shofi yaitu dia tidak bisa mendapatkan sesuatu dengan seketika dan terlalu mudah, karena nanti juga di kehidupan sebenarnya kelak dia besar nanti dia harus berjuang dengan segala daya dia sendiri untuk mewujudkan keinginannya.
Contoh lain yaitu saya tanamkan anak-anak untuk menabung dan mengelola uang dengan cermat. Mereka selain menabung di sekolah, harus menitipkan uang angpao lebaran mereka ke saya. Saya selalu ceritakan berapa saldo mereka di saya, uang dapat diambil jika ada keperluan penting saja. Ini juga agar anak saya tidak boros dengan menghamburkan uang untuk beli jajanan gak perlu atau mainan kesayangan saja. Jadi jika anak-anak ingin main di Fun World, mereka harus menyisihkan uang harian mereka untuk mengisi kartu game mereka di akhir pekan (kami pergi ke dunia main anak dua kali dalam sebulan). Uang anak-anak di saya makin banyak saja, kadang-kadang bisa saya pinjam dulu ketika lagi nggak sempat ke atm ambil uang he he he … tapi saya ganti kok nantinya.
Yang saya suka adalah anak-anak jadi menghargai uang koin receh, bahkan receh pun mereka kumpulkan untuk nanti ditukar di Indomaret dengan uang kertas. Mereka juga jadi rajin membantu beres-beres rumah, terutama untuk mengumpulkan Koran dan majalah bekas untuk diberikan ke pengepul kertas dekat rumah (bisa dapat seratus-dua ratus ribu an lah untuk tumpukan dua bulan). Kagum juga saya dengan ke-PD-an anak saya, nggak gengsi atau malu melakukannya, katanya kan kita tidak mencuri, ngapain malu😀.
Ada juga sih saya mendengar kerabat saya ngomongin, itu suami istri tegaan sama anak. Dua-duanya PNS gol IV tapi pelit sama anak. Saya sih cuek saja, kan saya punya tujuan ketika memberikan kesulitan hidup buat anak saya. Dengan saya berikan beberapa kesulitan, anak-anak kami jadi lebih kreatif, solutif, dan percaya diri.
Jadi semua terserah kepada orang tua sih, mau tidak menciptakan sedikit kesulitan hidup buat anak? Anak-anak saya sih tetap manja luar biasa khas anak kota yang banyak mau ini dan itu, tapi setidaknya mereka lebih ‘dewasa’ sedikit dibandingkan teman-teman sebayanya di kompleks perumahan saya.  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s