Charity Begins at Home

Saya belajar kebaikan hati dari kedua orang tua saya. Saya melihat, mengamati dan ikut merasakan semua kebaikan hati yang dilakukan dan dicontohkan Bapak dan Ibu saya. Mereka berdua benar-benar panutan hidup yang patut diteladani kami, anak-anak mereka.

Kebaikan hati itu tidak bisa dipalsukan

Kebaikan hati itu tidak bisa dipalsukan

Saya rasa kebaikan hati itu tidak bisa dipalsukan. Itu benar-benar tulus dari dalam hati mereka. Misalnya teladan untuk selalu berbagi, berinfaq, bershodaqoh, mereka tidak hanya memberikan wejangannya saja, tetapi benar-benar dipraktekkan dalam keseharian kami. Ibu kami jika memasak yang agak special, selalu menyuruh kami untuk membagi barang sepiring – dua piring ke tetangga kiri kanan kami. Lalu, setiap ada rapat atau pertemuan di kantor , mereka selalu membawa pulang nasi box atau snack mereka ke rumah. Suatu ketika saya tanya, apakah mereka tidak lapar di sana, kok repot-repot dibawa pulang makanannya? Jawabannya mereka sih sebenarnya lapar, tapi lebih memilih melihat kami kegirangan di rumah dengan buah tangan dari kantor, jadi tahan dan rela menunda lapar agar bisa makan bersama di rumah. Sampai sekarang Bapak dan Ibu masih melakukan itu, jika habis dari pertemuan haji, klub lansia, bahkan kondangan pun, ada saja yang mereka bawa pulang. Kali ini rela tidak makan di tempat buat oleh-oleh cucu mereka. Saya sampai pernah bilang “Sudahlah Yangkung, Yangti, nggak usah bawa-bawa pulang kotakan makanannya, mbok ya didhahar saja di sana…di rumah juga sudah banyak makanan ini…” Jawabannya enteng saja: Ini adalah berkah, jadi bagusnya dibagi dengan yang di rumah agar semua mendapat keberkahan juga”. See?

Apakah orang tua saya pelit karena tidak mau keluar uang untuk beli makanan? Bukan sekali. Jika untuk urusan keluar uang, Bapak Ibu saya juga tidak ada yang menandingi kedermawanannya. Untuk urusan infaq masjid, sudah ada alokasinya tiap hari. Di ruang tamu kami, ada baskom besar berisi uang koin untuk memberi pengemis atau pengamen tiap hari. Jika ada urunan-urunan di kantor, di RT/RW/Kelurahan, mereka yang pertama kali mengeluarkan tanpa banyak bawel. Belum lagi jika ada kerabat yang ditimpa kemalangan atau sedang punya hajatan, nggak pakai diminta pun mereka sudah mengangsurkan uangnya. Urusan mentraktir kami, anak-anak mereka, Bapak Ibu juga juaranya. Kalau lagi ingin makan enak, kami tinggal dikomandoi untuk berangkat membeli dan mereka menjadi boss traktirannya. Sepertinya uang gampang sekali mengalir di tangan mereka, dan tidak ada habis-habisnya. Kata beberapa saudara: Enak banget Bapak Ibumu itu, dua-duanya kerja, dua-duanya pensiunan. Ah, kata saya mah bukan karena mereka punya uang (berapa sih gaji guru?), tetapi karena mereka terbiasa berbuat kebaikan dari sejak dulu. Ada Tante saya kerja di DJA Kemenkeu, satunya lagi di Pemda, tapi tidak sedermawan Ibu saya, jadi nggak ada kaitannya tuh uang yang dimiliki dengan soal mau berbagi.

Saya ingat beberapa bulan lalu, saya mendapat kiriman uang dari Ibu ketika beliau tahu saya sedang mencicil uang untuk membeli rumah di Pondok Bambu. Saya beli rumah itu hanya untuk membantu kerabat yang sedang BU, saya sendiri sudah cukup punya 2 rumah saja di Jakarta ini. Waktu dapat transferan Ibu, saya langsung telpon beliau, kenapa kirim banyak sekali, apa Ibu tabungannya masih ada? Kata beliau, mereka ingin meringankan beban kami biar cepat lunas. Rupanya mereka bisa ya memperkirakan uang tabungan kami jika kami membeli rumah 800jt itu tanpa meminjam bank. Kata Ibu saya, supaya kamu nggak jual Avanza saja kalau kepepet, kasihan anak-anak saya jika tidak ada mobil buat jalan-jalan hari Minggu. Saya sampai nangis mendengarnya, sampai segitu mereka mengkhawatirkan kami, bahkan ketika kami sudah dewasa dan punya anak sendiri pun mereka masih menganggap kami seperti masih menjadi tanggungan mereka. Saya berjanji dalam hati, jika urusan rumah ini sudah kelar, saya akan ganti uang mereka (kini tinggal 150jt lagi lunasnya, yeay!), meskipun mereka biasanya tidak mau menerimanya. Mereka selalu punya urun sumbang ketika kami, anak-anaknya membuat rumah atau merenovasi rumah, dan tidak pernah mau diganti. So, my parents do walk the talk. Nggak Cuma bisa menyarankan orang untuk beramal, tapi mereka berdua tuh raja-nya beramal buat kami.

Kebaikan hati Bapak Ibu didukung oleh rasa menghargai pula. Bapak Ibu adalah contoh saling menghargai antara suami dan istri. Mereka dulu sama-sama PNS, keduanya punya kesibukan di tempat kerja masing-masing. Bapak selalu mengantar-jemput Ibu kerja (beda tempat kerja), juga mengantar ibu ke mana saja tanpa menolak dan merasa capek. Buat Bapak, keselamatan Ibu nomor 1, jadi harus diantar jika Ibu punya acara keluar rumah (so sweet kan?) Ibu saya meskipun bukan koki yang bagus (masih kalah sama saya hahaha) selalu menyiapkan kebutuhan dhahar Bapak. Tapi Bapak saya sekali-kali mau memasak buat kami, Bapak saya jago buat bihun goring sama nasi goring. Kadang geli juga lihat Bapak, beliau kan gagah perkasa tapi bisa juga masak. Saya diajarin marut kelapa yang benar juga sama Bapak. Dulu juga pernah diajak Bapak buat getuk lindri, tape singkong, dan kue apem sama Bapak(dari merendam beras, menumbuk dan mengayak pulak). Sama belajar masak sayur Lodeh juga dari Bapak, malah Ibu saya dulu nggak tau sayur Lodeh itu seperti apa. Ibu saya keturunan keluarga Ningrat moderat, dari muda selalu pegang buku dan jarang ke dapur karena sudah ada yang membantu di rumah Mbah, beda dengan Bapak yang anak petani, semua kerjaan bisa. Banyak kenangan masa kecil saya di dapur bersama Bapak. Mbubuti ayam dan memasak Kare, memasak kepala kambing, membuat sate, masak urap-urap (saya diajarin dari mengambil kelapa di pohon, mengupas, membelah batok, sampai memarutnya!), dan masih banyak lagi. Intinya, saya seperti diajari untuk saling ringan tangan membantu di rumah, tanpa peduli itu anak laki atau perempuan. Kakak pertama saya yang cowok itu dulu ditugasi mencuci baju dan mengepel rumah juga. Selain itu dia jadi satpam dan sopir adik-adiknya jika ada keperluan pakai motor atau mobil kita. Mas Yus itu juga paling jago buat bihun goring dan martabak, kayaknya semua anak Bapak Ibu harus bisa semua pekerjaan rumah. Mbak Lies, kakak kedua saya, itu juga bisa nyolder2 alat listrik rumah jika ada yang rusak. Saya karena gak paham kelistrikan biarpun sudah setengah mati diajarin Bapak, paling bisa botulin genteng, ngecat rumah, cuci mobil dll. So, kesetaraan gender itu mah sudah dari dulu ada di rumah kami.

Bapak Ibu benar-benar partner in everything. Bapak paling hobi benah-benah rumah juga bertukang sendiri jika ada yang rusak. Ketika Bapak sibuk ngobeng, memalu dll, Ibu menyiapkan teh manis dan gorengan buat Bapak. Ibu saya suka tanaman, Bapak suka bantu-bantu merapikan kebun dan bertanam. Kalau lagi panen singkong, manga, jambu, sirsak, mereka berdua yang mengeksekusinya. Nanti hasilnya dibagi-bagi lagi ke tetangga-tetangga kami. Bapak suka membantu Ibu mengoreksi jawaban murid, bahkan terlalu sering sampai menginputnya juga secara manual ke buku laporan. Oya, Bapak juga sering membantu mengisi raport siswa muridnya Ibu saya, karena Ibu selalu merajuk tulisan Bapak lebih bagus dari Ibu. Hadeeh, sampai yang ini saya suka gemas sama Ibu saya, masak urusan nasib muridnya juga masih dibantuin Bapak, manipulative banget hahahaaa. Tapi namanya cinta kali ya…Bapak saya mau saja dikerjain Ibu saya (Sorry ya Buk, qiqiqii…).

Balik lagi, tadi saya ngomongin apa ya? Oya tentang kebaikan hati. Terlalu banyak contoh kebaikan dari Bapak Ibu kami. Mereka rela berbagi waktu, tenaga dan uang buat semua saja. Bapak Ibu sedari muda aktif di organisasi. Bapak jadi pengurus RT/RW, AMPI, Golkar, Klub PBSI, Persatuan Bridge, Persatuan Catur, Pesaudaraan Haji dll. Ibu di PKK, Dharma Wanita, arisan, dll. Mereka juga aktif di MGMP, klub Pensiunan, kepengurusan Masjid, dll. Kalau ada undangan dari saudara, selalu hadir, bahkan menginap segala jika dibutuhkan. Apa sih intinya? Kalau bukan orang baik, mereka tentu tidak bakal mau meluangkan waktu buat urusan silaturahim ini. Kami diajari saling mengunjungi keluarga, tanpa harus menunggu Lebaran, baik yang di dalam kota maupun di luar kota. Juga berkunjung ke orang sakit, di penjara, maupun yang sedang bela sungkawa. Makanya hingga hari ini rumah kami selalu dikunjungi tamu. Ada saja tamu-tamu dan kerabat yang datang ke rumah kami tiap minggu, berkah silaturahim yang selalu dijaga orang tua kami. Kalau saya meniru mereka, sulit sekali karena di Jakarta ini waktu dan tenaga saya sehari-hari sudah habis buat kemacetan di jalan. Saya lebih fokuskan membangun kedekatan dengan anak-anak saya sendiri dengan sepupu-sepupunya di Jakarta.

Aduh jadi kangen Bapak Ibu nih. Sudah ya, saya mau Skype-an dulu sama mereka. Bye Now….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s