Don’t Stand So Close To Me

Ini bukan mau ngomongin lagunya the Police tentang a schoolgirl’s crush on her young teacher which leads to an affair, bukan deh. Banyak hal yang terjadi dalam hidup sehari-hari yang bikin saya mesti memaki orang “Knock it off. Stay away from me…”

Jauh-jauh sonoh!

Jauh-jauh sonoh!


1. Naik KRL PP buat kerja.
Semua tahu KRL di Jkt pada jam pulang dan pergi kantor selalu penuuh sesak. Cuma saya kadang kesal jika di gerbong wanita, ibu2nya mulutnya berisik banget. Sudah uyel2an, masih kepusingan sama suara rumpies mereka, hadeeh. Udah gitu ibu2 dan mbak2 cantik pada sulit bergeser ngasih kesempatan penumpang baru untuk masuk. Mbok yaoo…sudah bukan kereta sendiri, murah pulak, napa sih ngga mau sedikit toleran bahwa semua orang juga ingin lekas2 pulang? Makanya saya lebih sering masuk gerbong campuran, bapak2 lebih mau berbagi space dibanding ibuk2. problem di gerbong campuran adalah baunya bedaa dengan di gerbong wanita, SUPER NANO2!! Ahay…ada yang bau kemenyan (serius), bau rokok, bau pesing (pipis ngga cebok kali), baru kringet, bau ketek, dll susah nyebutinnya coz langsung terbayang penderitaanku sehari2. Saya kan pendek, pastilah deket sama ketek bapak2, terutama yang tangannya gelantungan ke atas. Saya pernah suatu ketika berada di antara dua bapak2 yang sedang ngobrolin kerjaan di kereta, ya ampuun berdua napasnya bau naga. Saya pasrah aja ketika masker tipis saya ngga bisa menahan serangan BM….mungkin mereka habis pesta rendang jengkol di kantorm hiks.

2. Beraktivitas di kampus.

Saya kebetulan mengajar Communication Skills, jadi saya tahu sedikit tentang proximity yang ideal untuk berkomunikasi dengan rekan kantor atau peserta/murid diklat saya. Jarak proxemic selalu saya jaga supaya tidak menimbulkan hil-hil yang mustahal. Saya alergic sama orang-orang yang mau deket2an secara fisik dengan saya, ogaah. Jarak intimate yang cuma dua genggam tangan dari kita cuma saya lakukan dengan misua or anak2 saya. Dengan kawan, murid, dan lainnya, saya jaga jarak personal, sosial, dan publik saya. Makanya ketika ada orang yang sok2 ndusel, saya dengan juteknya mengusir orang itu jauh2…nggak peduli itu laki atau perempuan. Btw, sy juga ‘geli-an’, penggeli banget dari gawan bayi, makanya kesenggol orang dikit aja bisa kayak kesetrum….’Senggol Bacok’ is my middle name kata teman saya. Ini beneran nggak saya buat-buat, kerian pol dah. Ada pengalaman lucu dengan mahasiswa D4 saya, karena dia lagi minta bimbingan editing essay dia, dia selalu mepet2 ke arah saya. Akhirnya dia saya suruh duduk di depan saya sambil papernya saya balik, tapi jadinya saya yang kepuyengan baca tulisan dia dari atas. Tanpa saya suruh, mahasiswa tadi balik ke samping saya sambil menunjuk2 pekerjaannya. Saya ngga tahan, lalu saya tanya dia “Is there any reason why you’re standing so close to me?” Eh dia jawab: “Why Miss? I’m sorry. I thought you’re just like my mom.” Gedubraxx…..oalah tolee….lihat mukamu deh…emangnya saya that old? Saya tahu dia sudah married kok, punya anak satu, mosok toh tega2nya ngatain bu Efi kayak ibuknya huhuhuu…. Tapi berhubung dia ganteng jadi saya maafkan😀😀 :D  Saya cuma balas dia saja. “Well…just give us some room…being this close is not appropriate in my view. Nobody believes that you’re my son”…

Well, ini juga alasan saya mengapa saya suka jengah sama mahasiswa2 sekarang yang masih suka ngajak salim saya setelah mengajar. Saya suka menolak dengan halus dengan pura2 masih sbuk nulis di agenda atau kartu mengajar, supaya mereka lekas2 pergi aja ketika class is dismissed. Mereka kan bukan anak kecil lagi, ngapain juga cium tangan bu dosen yg penggeli ini…sudah pasti lah di hus hus sana pus….diusir halus sama saya.

3. Beraktivitas di kantor.

Di kantor saya banyak pegawai pria dan wanita, naah yang suka bikin masalah itu dengan pegawai cowok. Dari saya masih bujangan sampai sudah anak empat begini, masih ada aja problem dengan pegawai laki yang ge-er- an. Satu contoh kemarin saja, punya kendala dengan seseorang. Dari awal kami bekerja sama,  he seemed nice and easy to work with, and we both have good initial impression. Sekitar the past three weeks, since we started working more closely together on a project from our training center, I have found myself feeling incredibly uncomfortable and uneasy around him. Catat ya, saya tuh  very rarely reacted to someone like this. Saya kan memang friendly and easy-going  but my intuition, for whatever reason, seems to be sounding the alarm untuk bapak satu ini. (karena dulu jg ada yg ge-er jg bbrp tahun lalu, tapi saya bisa lepas dr orang itu dengan status masih musuhan sampai sekarang. Salah sendiri sih…nggak liat2 orang kalo mau naksir2 centil) . Karena itu saya trust my intuition, this man honestly has not done anything that I can think of to warrant this feeling, dia speaking to me a bit too familiarly  and staring at me a little too often, misalnya pas lagi rapat, atau saat saya lagi baca2 koran di kursi tengah. Saya sih  continuing with business as usual and treating him like all my other colleagues, since we do have to work together terus. Cuman saya suka tersiksa kalo  end up alone with him in a conference room atau di lantai 5 ini. Kalo beliau mendekat, saya buru2 kabur ke kubikel saya sambil pasang headset, menghindari diajak ngobrol…coz pasti menjurus ke terlalu personal Why I get nervous when I have to interact with him? So far, keeping him at arms length and ensuring myself don’t end up alone with him sounds right to me. Makanya saya nulis cerita ini nih…buat saksi kapan2 kalo saya nggak ada minat kok ngeladenin bapak2 ganjen. That’s not my type!

Udah ah curcolnya…balik kerja lagi.

stay away!

stay away!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s