Taking A Gift From Our Students

Akhir semester telah tiba. Seperti biasa, wall FB teman2 dosen saya pasti akan penuh dengan beragam selfie dengan para mahasiswanya. Hanya bisa geli campus gemas saja, karena beberapa dari mereka jor-joran pameran kado dari mahasiwanya. Saya cuma bisa mengelus dada saja, toh itu wall mereka.

Saya dari dulu tidak pernah mau upload foto2 dengan mahasiswa saya di FB meskipun mereka juga mengemail hasil foto kuliah terakhir kita. Buat apa juga, saya hanya selesai melakukan kewajiban saya sebagai pengajar mereka. Buat saya itu seperti kita nyumbang ke orang lalu kita pamer2kan ke seluruh dunia bahwa ini loh, kita sudah kasih sumbangan…riya sekali. I don’t know, I just want to do things the way it should be, I don’t want to be popular or spectacular at all. I don’t have to show everyone that I’ve made it to the end of the semester, that’s all. Biasa aja keleeess…saya mengajar dari 1995 dan sepertinya nggak lucu juga kalau saya baru selfie2 centil on FB di usia separuh baya gini, udahlah pasti amit2 bukan imut2😀😀😀 . Kalau mau narsis juga saya sudah punya blog ini or Path buat ajang saya, anti deh saya nampil di FB buat semester end celebration, that’s suits my ABG students aja deh.

 

Sama dengan menerima bingkisan atau kado dari mahasiswa, saya paling tidak bisa dan sangat tidak suka menerimanya. Memang sih saya punya beberapa kado dari mantan siswa saya, tapi catat itupun mereka berikan ketika mereka sudah bukan jadi mahasiswa saya, mereka sudah jadi teman saya. Akan lebih bermakna sekali buat saya jika mereka memberikan sesuatu ketika mereka masih mengingat kita sebagai orang yang pernah berbagi ilmu dengan mereka dahulu, dan itu invaluable sekali buat saya, meskipun hanya berupa gambar karikatur saya, sekotak coklat, bros keci, mug, atau kotak tisu saja. Gravatar saya ini, contohnya, adalah kreasi mantan saya, eh mantan mahasiswa saya hihihi…

 

Alasannya saya tidak mau kado mahasiswa sih simple aja, that’s against my value. There will always be implications behind accepting the gift. I never believe if the gift is intended as a thank you for some special situation, with no intent to influence me. Some, perhaps,you may say it is more gracious to accept the gift than insult someone attempting to express gratitude, but for me I just want to be professional. Saya yakin pasti akan ada possibility of a conflict of interest. I want to be as objective as possible in evaluating students and structuring my courses. Saya berprinsip menerima hadiah tersebut akan mengantar kepada ketidakadilan dan memutuskan sesuatu tidak dengan sebenarnya. Dari Abu Humaid as Sa’idi , Rasululloh SAW pernah bersabda: Hadiah pegawai termasuk ghulul (khianat) (HR. al Baihaqi dalam as Sunan as Shugro 3267 dan dishohihkan oleh syaikh Albani dalam shohihul Jaami’ 7021). Satu lagi, saya tidak mau dengan menerima hadiah, it might signal to other students that they should consider giving gifts as well, atau lebih parah lagi berpikiran bahwa semua dosen harus diberi hadiah saja supaya adil. Saya karena dari awal sudah memilih mengajar sebagai profesi dan ladang ibadah saya, maka yang lebih pantas bagi saya adalah sebaiknya tidak merima haidah agar ilmu mereka murni semata karena Alloh Ta’ala pula. Saya tidak melihat sesuatu yang lebih mudah dan menenangkan hati dari kehati-hatian Kata hadis Bukhori kan “Tinggalkan apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu” maka tanpa ragu lagi saya anggap menerima hadiah dari mahasiswa adalah haram buat saya.

 

So, saya sering mengecewakan mahasiswa saya dengan menolak kado mereka. Really I do not want to let them down karena mereka sudah menyiapkan jauh-jauh hari buat saya. I do appreciate their concern, but saya selalu berusaha menolak dengan halus. Pernah saya dengan cara pura-pura menerima, kemudian saya berikan lagi kepada ketua kelas sebagai hadiah saya buat dia saat itu juga dan dia tidak boleh menolaknya. Pernah juga cukup dengan mengatakan saja that’s so considerate and sweet of them to give me such a gift, but thanks anyway I don’t take any gifts from students. Tapi saya katakan saya hargai perhatian mereka, dan mereka tidak memaksa. Intinya saya tekankan meskipun kado itu is just a sincere appreciation out of their heart for me, saya lebih suka mereka mengenangnya dalam hati sebagai budi harus mereka balas kepada orang lain dengan kemauan untuk berbagi ilmu saya kepada siapa saja yang perlu dengan ilmu itu. Isn’t that so much sweeter? Saya cuman minta didoakan mereka saja supaya saya akan tetap sehat buat mengajar terus, and that’s more than any gift in the world.

 

Tapi ada dua kejadian tentang urusan kado2an ini yang tidak akan pernah saya lupakan. Sekitar tahun 2004 ada kelas mahasiswa pajak yang sebagian besar dari Indonesia bagian timur. Di akhir kuliah, salah seorang dari mereka memaksa saya menerima kado dia meskipun saya menolaknya. Dia ngotot mengatakan itu bukan kado bu, tapi oleh-oleh dari ibunya di Kalimantan dan kata ibunya salam buat saya, lalu dia segera lari pergi tanpa mempedulikan teriakan saya untuk kembali. Dia anak yang paling pintar di kelas saya, mungkin dia merasa concern dengan teman2nya yang dari Papua yang dalam daftar saya akan saya berikan D karena malas dan juga memang nggak bisa di matkul saya. Saya cukup gemas waktu itu, saya buka kadonya, isinya kain songket halus (sampai sekarang masih ada di rumah saya, nggak akan saya pakai seumur hidup). Saya cukup kagum juga dengan keberanian dia, tapi saya diskon nilai dia dari semula A menjadi B karena mencoba menyuap gurunya, sebagai gantinya temannya yang dua orang itu tidak jadi saya beri D, saya beri nilai 56 alias C dan mereka berdua lulus. Saya merasa gagal mengubah attitude mahasiswa saya bahwa kita harus sportif dan berani menerima penilaian obyektif dari dosen. Nilai itu cuma sebuah angka di atas secarik kertas, tapi dia tidak menunjukkan jati diri murid itu sebenarnya. (Saya juga heran, mengapa mahasiswa sekarang lebih penting dapat nilai bagus daripada dapat kuliah yang bagus. Mereka kurang menghargai proses…)

 

Dan yang terakhir adalah hari Rabu minggu lalu, 11 Feruari 2015 di akhir kelas sang ketua kelas memberikan bingkisan dengan kertas kado warna biru. Saya tanya apa itu, mereka bilang it’s a token from our heart to show their deepest thank you for teaching them. Saya terangkan bahwa I just can’t take any gift from my students since it’s against my norms. I kindly told them no thank you, but they insisted. I insisted no thank you again, and they re-insisted. Really, the student put me in an awkward position of being an authoritarian person who cannot participate in typical activities (maksudnya accepting small favors or gifts). I told them that it should be clear that I’m a teacher, but a teacher can still be warm and approachable, and they can still be my friends forever, even after the semester is over.

 

It was such a mixed feeling inside. Too me, balancing act between me feeling uncomfortable accepting the gift and making the giver feel uncomfortable rejecting the gift is very, very difficult. Saat itu yang terlihat di mata saya adalah betapa lugu dan tidak merasa bersalah mereka hingga sampai empat kali mereka bolak-balik memaksa saya menerima kado mereka. Langsung terbayanglah anak2 saya (Faishal, Shofi, Daffa, Afia) dengan wajah lucu mereka meminta guru mereka menerima kado dan bu guru tidak mau karena takut dosa. Seketika mata saya memerah dan berhamburanlah airmata saya tanpa bisa saya hentikan. Saya kehabisan kata-kata untuk menjelaskan mereka, bahwa sebenarnya saya sayang mereka tetapi saya hanya ingin berhati-hati saja dalam menyikapi hadiah. Mereka akhirnya berhenti memaksa begitu melihat saya menangis. It was a mixed feeling inside, antara gemas, sedih, marah, tidak berdaya, dan kasihan campur baur jadi satu. Lugu mereka itu keterlaluan buat saya kalau sampai tidak bisa membedakan mana itu ungkapan sayang atau mama itu gratifikasi (udah dapat kuliah Anti Korupsi belom sih?)….Dalam hati saya berdoa, semoga mahasiswa saya sadar bahwa yang mereka lakukan itu tidak bisa diterapkan ke semua dosen, bahwa masih ada dosen yang tidak bisa mereka beri hadiah dan begitu tulus mengajar mereka hanya demi mencari ridha Allah semata. Well, turning down a gift is often seen as rude, but I just cant take a “collective gift”, dan again…saya rela dianggap dosen nggak asik dan jaim daripada saya harus mengorbankan value saya. I hope someday they will understand me.

enjoy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s