Tentang Beasiswa

Saya baru saja selesai tugas konsinyering di gedung PHRD milik Pusdiklat Pengembangan PSDM Kemenkeu. Di sana saya melihat beberapa pengumuman terkait pre-departure training buat para pegawai yang mendapatkan beasiswa S2 dan S3 ke luar negeri. Saya melihat beberapa nama yang sudah saya kenal, karena mereka adalah mantan mahasiswa saya, sebagian lagi adalah peserta diklat yang pernah saya ajar. Makanya jadi ingin curcol lagi unek-unek di kepala.

Beasiswa oh beasiswa

Beasiswa oh beasiswa

It’s good to give us a chance for enhancement in our education. Beasiswa memang sangat dibutuhkan PNS untuk pengembangan diri dan karir mereka. Cuma yang agak mengganjal di tempat kami adalah seleksinya yang untuk ukuran saya kurang masuk akal. Kalau masih di persyaratan administrasi sih sepertinya gampang atau wajar aja, skor TOEFL PBT minimal 450, skor TPA minimal 565, dan skor tes psikologi minimal B. Yang kurang masuk akal adalah soal untuk tes seleksinya itu lho, alamaak kok sepertinya mengerikan buat seumuran saya yang sudah agak uzur ini (wekekek). Soal TPA nya terlalu amat sangat sulit buat mereka yang sudah kelamaan bekerja di unit masing-masing (Saya kan bisa ngintip sekilas ketika sedang memvalidasi soal-soal bahasa Inggris milik Unit Test PPSDM, jadi tau beginian meskipun belum pernah ikutan tes untuk beasiswa SPIRIT itu). Seandainya saya ikutan tes beasiswa SPIRIT, saya yakin bisa nggak tembus dengan sukses ha ha ha.

Saya hanya membayangkan betapa banyak sekali ketidakadilan buat mereka yang sebenarnya pekerja keras dan ujung tombak di unit masing-masing dan sudah memendam keinginan lamaaaa untuk bisa melanjutkan pendidikan lagi. Saya tahu beberapa teman seperti Mr Rusmaya, Mr Unggul, dll, they just deserve it untuk advancement mereka. Tetapi sekali lagi karena workload mereka yang luar biasa maka mereka selalu tidak akan pernah punya waktu melakukan latihan persiapan atau sejenisnya, dan akhirnya dikalahkan oleh applicants muda yang baru lulus S1 atau D-IV nya dua atau tiga tahun lalu. Miris sekali, para senior yang saya rasa otaknya juga moncer dikalahkan pelaksana2 baru yang they even haven’t given any significant contribution to their units (ya mungkin bisa besar kontribusi nantiii kalo mereka sudah punya jabatan). Ketika saya runut2 lagi, memang pendapat saya ini terbukti kok. Dari 10 orang yang saya kenal yang telah selesai S2 luar negeri, yang 9 orang adalah pelaksana yang masih kinyis-kinyis, tanpa jabatan di unitnya serta masih bujangan alias single, yang memang waktunya turah-turah buat persiapan yang cukup untuk tes beasiswa mereka dulu. Mereka kembali menjadi pelaksana biasa sekembalinya belajar di LN tanpa langsung bisa memberikan sumbangsih banyak buat unit karena meskipun mereka bisa menjadi think tank di unit tetapi tidak ada artinya karena mereka bukan decision maker or even the policy maker.

Yang saya komentari ini cuma yang terjadi di tempat saya bekerja di MOF. Kalau dari lembaga pemberi beasiswa dari luar Kementerian saya, misalnya Bappenas dan Dikti, soalnya nggak susah-susah amat kaya kami punya. Mereka seperti memberi kesempatan seluasnya untuk ikutan tes beasiswa, karena nantinya masih ada tahapan seleksi lagi yang lebih menentukan yaitu wawancara. Makanya saya nggak habis pikir di tempat kami itu kok yang masih unyu-unyu itu bisa lolos di wawancara ya..apa karena IPK tinggi, rencana penelitian mereka yang sangat bagus, kelengkapan dokumennya oke, dapat surat rekomendasi yang sangat excellent, atau factor X yah yang bisa memuluskan mereka? Karena dari sisi pengalaman profesi pastinya minim, padahal kalo pemberi beasiswa dari luar negeri juga lebih mengutamakan ini ditambah pengalaman kerja sukarela pula. Saya pas diwawancara NESO untuk beasiswa short course ke Belanda berhasil mengalahkan pelamar muda karena saya menang pengalaman dan rencana ke depan saya dianggap mereka lebih strategis dan applicable. Ini artinya pihak NESO menghargai pengalaman kerja serta karya nyata yang bisa kita sumbangkan ke kementerian.

Yang membuatku gundah gulana (aih lebaynaa) itu di mana keadilan buat mereka yang sudah belasan bahkan puluhan tahun bekerja untuk unit tetapi selalu kalah di seleksi beasiswa hanya karena kurang persiapan latihan untuk seleksi saja? Waktunya habis buat pekerjaan, di rumah juga habis buat ngurus keluarga. Mereka itu bahkan untuk diklat di BPPK saja peluangnya keciil pula. Kalau saya dulu memang sengaja kuliah S2 dengan biaya sendiri karena saya pengen jurusan Magister di English Education tapi males nyari grant dari luar, kalo beasiswa dari internal kan kami diminta nyari yang Economics, Finance, Accounting dan sebangsanya yang saya sendiri ngga minat. Plus, saya lagi cinta2nya ngajar di Pusdiklat, setahun 700 JP bo! Saya masih punya pilihan karena mampu membiayai sendiri, didukung misua dan anak2 dan pas ada kampus Pascasarjana bagus yang dekat kantor pulak, sehingga bisa ngatur agar tidak mengajar di hari Jumat tapi masih bisa wira-wiri ke kantor. Lha bagaimana dengan pegawai lain yang resourcesnya terbatas dan satu-satunya harapan adalah beasiswa dari tempat dia bekerja?

Ngomongin begini jadinya kepengin lanjut S3 dengan beasiswa, tapi kayaknya mesti ikutan ADS saja alias nyari di luar, semoga masih ada peluang untukku (…aamiin ya Allah…). KAlau untuk lanjut S3 biaya sendiri sih tabungan sudah lebih dari cukup, tapi…mending dibeliin rumah lagi kali ha ha ha….Saya kepengen memperbesar hutang ke pemerintah aja ah supaya bisa jadi PNS yang lebih rajiiin bekerja. Amiiin 100X.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s