Dosen Teladan? No Reken!

Favorite Teacher?

Favorite Teacher?

Lagi tersenyum melihat surat dari kampus yang isinya ucapan terima kasih karena telah mengajar di semester ini serta lembar evaluasi pengajar yang menyebutkan rata2 nilai evaluasi kita. Nilai saya masih bagus😀, yang menggelitik itu ya masih ada pemeringkatan bahwa Anda ranking sekian dari sekian pengajar yang mengajar di mata kuliah tersebut, kebetulan sih tahun ini dapat yang no.1 (catat: kebetulannnya di bold, coz ini peristiwa langka). Btw, hasil evaluasi itu 100% dari evaluasi tatap muka oleh mahasiswa. SO, this is surprising aja kok mahasiswa tahun ini bagus menilai saya, padahal saya lagi killer2nya tahun ini (gawan baby qiqiqik), pikiran saya cuma satu: sekre salah ngerekap kali😀😀😀 . Lagian, seumur2 jg baru kali ini dpt evaluasi di atas, biasanya jg mhsw pelit nilai saya coz I really put hard times for them during the semester, like always.

I never give a care about that ranking, truly I never care whether I’m the most favorite teacher or not, karena juga nggak ngaruh tuh ke honor saya ha ha ha. Saya jadi malah ingin nulis artikel ini tentang beberapa teman saya yang pernah jadi dosen favorit di kampus. Yang saya tahu mereka memang punya extra effort supaya jadi popular di mata mahasiswanya, mulai dari bagi pin BB atau nyuruh mahasiswa add mereka di FB, setiap minggu beli Silver Queen buat mahasiswa (bagus sih, cuma kalo keseringan kan bisa tekor dosennya, belum lagi seolah memperlakukan mahasiswa seperti anak-anak yang mau jadi aktif dengan iming-iming hadiah), gampang obral janji bakal memberi nilai dengan murah hati (kalau saya sih proporsional saja dengan aktivitas, UTS dan UAS mereka, kalo memang bagus ya berikan A plus, kalau mahasiswanya nggak maksimal mana bisa dikasih A, kan nanti nilai tidak memiliki daya beda antara mahasiswa satu dan lainnya?)

Buat saya jadi dosen itu yang penting bisa dijadikan role model mereka bahwa dosen benar-benar bisa dipercaya dalam melakukan penilaian. Di awal kuliah saya selalu telah membuat kesepakatan dengan mahasiswa supaya jangan terlambat hadir atau absen tanpa keterangan karena akan menjadi diskon bagi nilai akhir mereka. Juga terkait terlambat mengumpulkan tugas, nilai tugasnya adalah nol. Jadi ketika ada mahasiswa yang melanggar, saya dengan mudah menerapkan sanksi karena mau membuat mereka konsekuen dengan tindakan mereka. Jangan melemah dengan mahasiswa yang menghiba2, kita tidak salah atau kejam jika dari awal sudah membuat kesepakatan ini dengan mereka.

Dalam hal dosen bonus, ngga ada yang salah jika mereka melakukannya dengan criteria. Saya memberikan bonus 10 poin jika mahasiswa mengerjakan tugas mingguan dari awal sd akhir semester tanpa ada yang luput. Dari awal sudah saya terangkan kebijakan ini akan menjadi bantuan jika UTS atau UAS nanti jeblok, sedangkan tidak ada ketentuan tentang ujian remedial. Memang kenyataannya paling yang konsisten melakukannya tidak lebih dari 40% kelas, karena saya hanya sempat mengeceknya sekali dalam sebulan, jadi paling hanya 4x sd maksimal 6x selama mengajar satu semester. Tetapi mahasiswa seharusnya tetap terus mengerjakan meskipun tidak selalu saya periksa buku tugas mereka. Saya kesal juga dengan teman dosen favorit di kampus yang ngasih tugas paper ke mahasiswa yang nilai UTSnya jeblok di bawah 50, tetapi dengan mengumpulkan satu tugas paper langsung dikoreksi menjadi 78, buat saya itu ngawur dan korup. Masa nilai naik signifikan sekali hanya dengan satu makalah yang itupun tidak dia periksa? Bagi saya itu mengajari mahasiswa untuk menggampangkan penyelesaian masalah. Saya juga heran dengan mahasiswa sekarang, jika nilainya C saja sudah mengejar2 dosennya minta tugas untuk ngatrol nilai, jaman saya mana berani kita begitu, terima saja jika memang kita cuma di dapat C meskipun sudah mati2an belajar, itu namanya berani terima kenyataan jika kita masih belum memenuhi standar untuk dapat A. Kalau saya mending dapat C tetapi kita memiliki kompetensi yang memadai daripada nilai A tapi tidak mencerminkan kompetensi nyata yang dimiliki, pepesan kosong banget…

So, saya bener nih nggak mau usil sama yang pernah juga dapat gelar Dosen Terbaik di kampus ini sebelum-sebelumnya, cuma please deh nggak usah bragging out mamerin ke semua orang bahwa dia yang ranking 1 di sini by pasang2 setatus di FB and Instagram, karena kita semua tahu kok kualitas masing2 dosen di sini, to me it’s just a rank. That doesn’t mean that they are the best teachers… Saya tahu ada di antara dosdan itu yang kemarin mbocorin soal ke mahasiswa agar nilai mereka bagus di UAS, yang kayak gini nggak bakalan dipakai ngajar lagi tahun depan di sini. Mau dapat recognition dari mahasiswa kok pakai cara super bodoh menurut saya. Kalau setiap tahun hanya kita melulu yang ditunjuk jadi dosko, itu pun sudah jadi bukti bahwa even kampus mengakui siapa yang lebih kompeten dan trustworthy untuk jadi coordinator. Jika suatu ketika ada mantan mahasiswa yang datang menemui kita, menginvite kita di groupnya, atau mengirimi kita sesuatu, itu adalah real acknowledgement dari murid kita karena masih menganggap kita teman atau guru mereka. Saya mending dipanggil Ms. Evil (bukan Ms. Efi nih hehee) saking killernya sama mahasiswa yang pemalas, pembohong, atau yang nggak sopan, karena saya bukan orang permisif sama kesalahan meskipun saya gaul juga dengan mahasiswa. Ada mahasiswa yang sering saya hukum dan didiskon nilainya karena sering telat ngga berani protes karena sadar dia sendiri yang cari masalah dengan dosennya. Teman saya itu gaul abis pake banget, saking gaulnya sampai2 mahasiswa ngelunjak, banyak minta kompensasi ini itu ke dosen, telat dibiarin, tidak bikin PR dibiarin, tiap mau ujian minta kisi-kisi (which a very stupid request, wong sudah ada GBPP), pokoknya naudzubillah deh. Belum lagi ada mantan dosdan yang cheating dengan punya affair dengan … idaman lain, dikiranya itu asik ya punya cem2an daun muda, lha ini kan merusak reputasi beliau sebagai teladan dwoonk… For me itu beban jika sdh pernah dapat dosen ranking 1, kita dituntut untuk berlaku selaiknya seorang teladan SELAMANYA.

Again, I don’t care for the “favorite” label. I work as my gratitude to God for giving me a chance to share my knowledge and expertise to students, and I will do my job with my own values. Jadi, mau di ranking paling bawah pun I don’t care deh, yang penting Allah ridha sama pekerjaan saya dan saya tidak melakukan hal-hal yang merusak reputasi saya maupun mahasiswa saya. Jadi, dosdan, ngga patheken. (Soeharto’s style).😀

Upload dikit nih old email dari one of my ex-student: saya tetap simpan suratnya yang bikin melting itu …so sweet sih, saya doakan kamu sukses selalu mbak…

How are you, Ma’am? I hope you still remember me: you gave me a nickname ‘Spike’ on iBT class in year 2007. (dah ingat lagi kan bu? kalo ngga clue-nya saya yang paling cantik di kelas, coz other trainees were male. Saya ikut PBT tahun 2003 juga, nah ingat kan? maksa). On one evening, I suddenly remembered you and wanted to write this for you:

The best teachers guide, inspire, encourage and provide us with a love of learning. Ah yes, you are one, Ms. Efi. You really built our brains when you taught our class in 2003 and 2007. I am now more proficient in English because you told me that the best student never stops the learning even when the program ends.  How fortunate I am to have had a  marvelous teachers  that pave our way toward a successful career. Salam dari Adelaide, I’m taking FIPPM in Flinders University.

Love,

A. B. M.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s