Implementasi Nilai-Nilai Kemenkeu di Mata Seorang Widyaiswara

Ini adalah tulisan saya yang saya buat dalam satu jam karena mendadak diminta panitia mengirimkan essay tentang  implementasi nilai-nilai Kemenkeu di unit masing-masing. Saya dijadikan kandidat pegawai teladan BPPK untuk hari Keuangan 2012. Lagi full ngajar dan nggak sempat research n reading buat nulis, ya sudah saya buat saja tulisan sekenanya. Buat saya tidak penting mau jd pegawai teladan atau tidak, dan sampai sekarang pun saya tidak tahu siapa pegawai teladan Kemenku tahun 2012 ini, my focus hingga saat ini adalah menyelesaikan diklat2 yang harus saya ajar sd Desember 2012. Lagipula saya tahu ada kandidat lain yang lebih tepat jadi pegawai teladan, my colleague ustad Muchtar Yahya. Just wanna share my writing here, that’s all.

Kementerian Keuangan Republik Indonesia

Pertama- tama saya menulis essay ini lebih terutama sebagai ajang saya untuk melihat dan refleksi diri sebagai salah seorang pendidik, seorang Widyaiswara, di lingkungan Kementerian Keuangan RI, jadi lebih dari sekedar tulisan tentang implementasi nilai-nilai Kemenkeu semata.

Saya telah menjadi widyaiswara semenjak tahun 2005, dan sebenarnya sejak saya mendapatkan penempatan pertama CPNS di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara  tahun 1999 telah berkecimpung di bidang pengajaran. Dalam sepanjang perjalanan karir saya ternyata kecintaan pada bidang yang saya geluti inilah membuat saya bisa  menikmati tugas yang saya emban sehari-hari. Sebagai seorang Widyaiswara, wewenang dan tugas pokok saya adalah mendidik, mengajar, dan melatih PNS pada di Kementerian Keuangan. Dan saya melihat tugas tersebut adalah amanah bagi saya.  Untuk melaksanakan amanah tersebut, saya harus memiliki dan menjaga empat kompetensi utama, yaitu kompetensi pengelolaan pembelajaran, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi substantif.

Kompetensi pengelolaan pembelajaran ialah kemampuan yang harus dimiliki widyaiswara dalam merencanakan, menyusun, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Jika dipadankan dengan tugas seorang guru, ini mirip dengan kemampuan pedagogis. Dengan kompetensi ini saya harus menyusun kurikulum pembelajaran (GBPP dan SAP), menyusun bahan ajar saya (modul, handout, bahan tayang, dll), mengajar dengan menerapkan teknik komunikasi efektif mengingat metode pembelajarannya melibatkan peserta dewasa, dan terakhir adalah mengevaluasi pembelajaran, termasuk di sini adalah membuat soal ujian, mengawasi pelaksanaan ujian, serta memeriksa hasil ujian.

Kompetensi kedua yaitu kepribadian, dimana saya harus menjadi teladan bagi peserta diklat dan lingkungan saya serta harus menunjukkan etos kerja saya sebagai widyaiswara yang professional.

Kompetensi ketiga yaitu kompetensi sosial, yaitu bagaimana saya melakukan hubungan dengan lingkungan kerja saya. Ini meliputi membina hubungan dan kerjasama dengan sesama widyaiswara dan dengan pengajar eksternal, serta menjalin hubungan dengan penyelenggara/pengelola lembaga Diklat serta instansi pemerintah lainnya.

Kompetensi terakhir yaitu kompetensi substantif, yaitu kemampuan di bidang keilmuan dan keterampilan dalam mata diklat yang saya ajarkan. Saya memiliki kompetensi di substansi Bahasa Inggris. Saya dituntut untuk selalu meningkatkan ilmu dan pengetahuan saya, dan di samping itu saya perlu untuk membuat karya tulis sebagai pengembangan diri saya dan juga sharing pengetahuan bagi khalayak umum.

Jika mengaitkan empat kompetensi di atas dengan nilai-nilai Kementerian Keuangan, yang meliputi integritas, profesionalisme, sinergi, pelayanan dan kesempurnaan, apakah saya sudah benar-benar melaksanakannya? Sejujurnya saya sendiri sulit menjawabnya, karena hanya mereka yang bekerja di lingkungan saya yang lebih bisa menilai saya. Saya lebih berpegang pada  patokan saya bahwa saya mengemban amanah yang harus saya dukung dengan empat kompetensi yang sudah saya jelaskan di atas. Dengan meyakini bahwa tugas adalah amanah, saya berusaha keras agar saya tidak berbuat sekena hati saya. Ketika menyiapkan suatu kurikulum, saya harus pastikan bahwa kompetensi tersebut yang dibutuhkan dalam diklat, sehingga benar-benar merupakan terjemahan dari need analysis yang dibuat cermat, dengan menurunkan knowledge, skill dan attitude apa saja yang harus dirinci di dalamnya. Dalam penyusunan bahan ajar, saya harus merujuk pada sumber keilmuan yang sahih dan akurat serta mengikuti perkembangan yang terjadi, sehingga updating bahan ajar bagi saya itu mutlak dan perlu. Jika kantor tidak terlalu mendukung saya dalam hal ini, saya akan mendapatkannya meskipun dengan biaya sendiri. Contohnya mendapatkan akses internet, perpustakaan, literatur terbaru, kesempatan diklat di luar badan, belajar sesuai spesialisi, dan lain sebagainya.

Dalam implementasi pembelajaran di kelas, sebisa mungkin saya menggunakan teknik komunikasi yang menarik dengan aktivitas yang bervariasi sesuai dengan tujuan pembelajaran. Untuk itu saya harus menguasai teknologi pembelajaran serta psikologi pembelajaran orang dewasa. Saya sering melakukan obervasi mandiri selama saya mengikuti pelatihan-pelatihan di luar dan sering mengadopsi teknik yang dipakai pengajar saya untuk diterapkan di kelas saya nanti. Prinsip saya adalah harus berani berinovasi, berkreasi dan percaya diri untuk mencobanya di kelas. Terkadang saya selipkan games di sela pengajaran untuk me-refresh peserta diklat dan saya sediakan hadiah-hadiah kecil yang saya beli dengan uang pribadi. Tidak ada yang lebih rewarding ketika peserta diklat memahami apa yang kita ajarkan, meningkat ketrampilannya, serta terhibur di kelas.

Dalam menyusun soal ujian, saya harus cermat mengembangkannnya agar sesuai dengan indicator keberhasilan, sehingga nilai ujian benar-benar mencerminkan ketrampilan dan pengetahuan yang didapat selama diklat. Proses evaluasi ini sangat menyita perhatian dan pikiran, karena itu saya perlu menyiapkannya jauh-jauh hari, sebisa mungkin diproses ketika kurikulum sudah selesai disusun. Menjaga kerahasiaan soal dan hasil ujian adalah mutlak, dan saya tidak memiliki kompromi untuk hal ini.

Untuk peningkatan kemampuan substantif saya, saya melanjutkan Studi S2 secara mandiri, karena jika saya mengikuti tugas belajar berarti saya akan meninggalkan tugas pokok saya sementara waktu. Dan itu sulit dilakukan mengingat unit kerja saya, Pusdiklat Keuangan Umum, memiliki ratusan diklat yang harus diselenggarakan tiap tahunnya dan sangat membutuhkan widyaiswara seperti kami yang jumlahnya masih belum memadai dengan beban kerja unit kami. Dengan pengetahuan substantif, saya juga perlu membaginya dengan media karya tulis. Karya tulis saya tidak selalu harus dipublikasikan di media cetak, tetapi bisa saya unggah saja di website dan blog pribadi saya. Ini juga berfungsi untuk menjaring networking dengan pengajar dan nara sumber yang bekerja sama dengan diklat-diklat di unit saya.

Konsekuensi dari tugas widyaiswara sudah saya terima sejak awal mula memilihnya menjadi jabatan saya. Konsekuensi utama ialah ketika waktu kita sehari-harinya lebih tersita untuk penyelenggaraan diklat (mengajar full time), maka sesi perencanaan dan evaluasi saya tentunya dilakukan di luar jam kerja. Saya katakan bahwa menjadi pendidik adalah pekerjaan 24 jam, setiap ada waktu luang, di situlah kita mengerjakan apa yang tidak bisa kita selesaikan di jam kerja kantor. Banyak pihak di luar saya yang juga akan terganggu kinerjanya jika saya tidak bisa menyelesaikan tugas saya tepat waktu, misalnya bidang Renbang Diklat dan bidang evaluasi Diklat, demikian hal nya dengan balai-balai diklat di daerah. Ketika ada penugasan di luar kota dan memakan waktu cukup lama, saya bawa juga PR dan tugas saya agar tidak menjadi kendala pihak lain dan beban tambahan sekembalinya saya dari tugas di daerah. Saya harus bisa membagi waktu saya antara pekerjaan widyaiswara dan keluarga agar keduanya tidak terabaikan, maka time management sangat penting buat saya. Dan saya menikmatinya, karena ada kepuasan tersendiri ketika kita berhasil dalam diklat-diklat kita dikarenakan persiapan yang baik.

Bagaimana supaya tetap professional meskipun tidak mendapatkan honor dari tugas rutin yang dikerjakan? Keep happy, itu saja kunci buat saya. Kita sudah mendapat gaji dan TKPN, meskipun grading widyaiswara menurut saya masih harus disesuaikan dengan beban tanggung jawabnya. Mengeluh saja tidak akan menyelesaikan kendala saya. Setiap hari kita semua memiliki deadlines yang harus diselesaikan, terus mengeluh bisa mengendurkan semangat diri sendiri maupun orang di sekitar kita. Seorang pendidik harus bisa menunjukkan dan berbagi kebahagiaan di hadapan semua orang, terutama peserta diklat. Selain itu stay thankful. Dan saya bersyukur Allah SWT memberikan saya kesehatan dan kekuatan, serta keluarga yang sangat memahami dan mendukung karir saya, teman-teman yang sangat kooperatif serta pihak-pihak yang banyak memberikan dukungan bagi pelaksanaan tugas saya.

Jika saya ditanya ide apakah yang bisa saya sarankan untuk implementasi nilai-nilai Kemenkeu di unit kerja kita, maka saya lebih focus pada bagaimana agar kita semua menjadi PNS yang happy dan thankful tadi. Semua ini terkait dengan menumbuhkan integritas dan motivasi pegawai, agar mereka berkinerja melebihi indicator yang sudah ada. Dan itu butuh kerjasama semua pihak di unit masing-masing.

Saran saya ada beberapa hal bisa dilakukan di unit saya:

1. Fasilitas

Saya mengacu kepada teori Maslow bahwa kita harus memenuhi kebutuhan di berbagai level untuk memotivasi orang ke level berikutnya. Maka selain rasa aman dan terjamin, pegawai perlu dibekali dengan fasilitas yang bisa mendukung pekerjaan, karena ketidaklengkapan di sini akan menghambat pegawai untuk menerapkan seluruh kemampuannya dalam tugas. Prinsip saya, underutilization adalah demotivation buat pegawai.

2. Reward yang rutin

Reward tidak selalu dalam bentuk moneter, karena tidak semua pegawai merasa puas dengan imbalan berwujud finansial. Reward bisa diberikan dalam bentuk penghargaan/pengakuan yang layak dengan criteria yang tepat (misalnya bukan karena jam kerja atau tidak pernah absen saja, ini bukan criteria yang tepat). Pegawai perlu diberitahu secara rutin/berkala akan kontribusinya pada unit (seperti Wall of Fames, sertifikat, atau cukup ucapan terima kasih), sehingga turut memotivasi pegawai lain untuk berkinerja yang baik. Bentuk reward lain bisa juga kesempatan untuk mengikuti outing, coaching, atau training bersama, ini lebih untuk menjalin rasa kekeluargaan dan kebersamaan pegawai.

3. Keteladanan

Semua individu adalah pemimpin, jadi semua pegawai dan terutama atasan harus mencontohkan perlilaku dan etos kerja yang baik kepada lingkungan. Maka seseorang harus bisa menularkan kebiasaan yang baik sekecil apa pun (jujur, rajin, cekatan, cermat, tidak menang sendiri, mau bekerja sama, saling menghargai, dll) , serta bisa mengakui jika melakukan kesalahan dan mengakui kelebihan dan kekuatan orang lain. Nilai-nilai Kemenkeu tidak hanya bisa dijadikan slogan saja bagi saya, tetapi ditunjukkan oleh perilaku keseharian yang bisa dijadikan teladan bagi semua. Karena kita di lingkungan birokrasi, seyogyanya memang dimulai dari atasan, tetapi kembali bahwa semua orang adalah pemimpin, maka kita tidak perlu saling menunggu.

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan kunci implementasi nilai-nilai Kemenkeu adalah bahwa  setiap pegawai melakukan apa yang seharusnya dilakukan (bahkan jika lebih baik dari seharusnya), sehingga akhirnya kita menjadi pegawai yang professional, bermartabat dan terhormat. Sebagai widyaiswara, saya perlu melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang pendidik, sebagai wujud dari amanah yang saya emban. Demikian halnya dengan semua individu di Kemenkeu. PNS Kemenkeu yang professional adalah amunisi untuk Reformasi Birokrasi kita, dan akan menjadi modal besar bagi pembangunan bangsa.

3 thoughts on “Implementasi Nilai-Nilai Kemenkeu di Mata Seorang Widyaiswara

  1. Keren bu postingannya. Keep posting. Kebutulan tahun ini saya alhamdulilah ktrima di widya iswara di kementria esdm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s