Anggaran Tradisional dan Anggaran Visioner

Ini sebenarnya tulisan suami saya, aslinya cuman 1  halaman A4 saja. Pas saya baca, jidat langsung mengkerut: nggak mudeng coz ngga komunikatif bahasanya ha ha ha. Dengan bekal Academic Writing, saya edit sana-sini dan jadilah dia artikel sepanjang 2 halaman dan lumayan dimengerti lah daripada sebelumnya.  Selamat menyimak ^_^

Keep your budget, mate!

Bagi kebanyakan kita (pegawai Pemerintah), tanggal muda adalah saat yang paling  dinantikan. Saat gajian memang dapat membuat orang bahagia: Anda dapat membeli lebih banyak keperluan sehari-hari, segera membayar kewajiban anda, mengubah penampilan, dan lain sebagainya. Namun mungkin saja Anda tidak terlalu bahagia dengan tanggal muda jika Anda termasuk kelompok mereka yang bergaji sepuluh koma; artinya setelah tanggal 10 anda benar-benar koma.

Tapi kita mungkin pernah melihat  seorang pegawai negeri yang tidak terpengaruh dengan datangnya hari gajian atau tidak. Kita katakan orang tersebut dalam keadaan bebas finansial, artinya setiap keinginannya dapat terpenuhi kapanpun dia mau tanpa tergantung dengan tanggal gajian. Di dalam praktek, kita semua memiliki kebebasan dalam mengelola uang yang ada. Namun, keputusan finansial yang dibuat harus tepat dan bijak,  jangan sampai seperti pepatah: besar pasak dari pada tiang.

John Maynard Keynes menggambarkan tiga motivasi orang dalam memegang uang: sebagai transaksi, berjaga-jaga dan spekulasi. Kita bisa saja menghabiskan semua pendapatan, sampai tidak ada sisa yang disimpan. Namun seyogyanya kita dapat mengelola pendapatan dengan bijak sehingga selalu ada saldo kas positif setiap akhir bulan, juga agar pendapatan yang ada tidak digunakan hanya untuk pemenuhan kebutuhan dan  pembelian barang saja (konsumsi).

Banyak orang yang sadar akan pentingnya pengelolaan anggaran, namun sulit untuk melakukannya. Alasannya sederhana saja: gaji atau pendapatan yang diterima kecil. Padahal perlu kita ketahui bahwa anggapan besar-kecilnya pendapatan sebenarnya adalah relatif. Bukankah kita mengenal konsep efektivitas selain efisiensi? Segala pengeluaran yang akan kita lakukan perlu dikaji apakah sudah dalam  perencanaan sebelumnya, dan  kita perlu selalu bertanya tepatkah keputusan yang kita lakukan terhadap pendapatan kita sendiri dan adakah alternatif  pendapatan lain ?

Mereka yang berpenghasilan besarpun bisa saja tidak melakukan pengelolaan dalam anggarannya. Umumnya mereka malas, karena kapanpun mereka dapat mengeluarkan uang tanpa kesulitan. Mereka berpendapat, nanti juga akan mendapat tambahan penghasilan berupa honor atau bonus selain gaji bulanan, jadi buat apa repot melakukan perencanaan dan sebagainya. Anggapan tersebut menurut penulis sebenarnya keliru, karena pendapatan besar dengan skema pengeluaran besar sebetulnya tidak ada bedanya dengan pendapatan kecil. Mari kita simak dua tipe pengelolaan anggaran berikut ini:

Anggaran Tradisional

Kita melihat pengelolaaan anggaran dengan prinsip sederhana, yaitu besarnya  pengeluaran selalu kita sesuaikan dengan besarnya pendapatan. Kata berapa dan ke mana menjadi kata kunci di sini. Dengan demikian kita berasumsi bahwa pendapatan kita adalah relatif tetap. Strateginya adalah bagaimana  kita secara cermat mengelola pengeluaran. Metode penganggaran seperti ini kita kelompokkan sebagai anggaran tradisional, karena hanya mencakup berapa besar pendapatan kita dan ke mana saja kita keluarkan. Umumnya mereka yang memakai pola ini tidak efektif karena mereka cenderung menghabiskan pendapatannya untuk konsumsi. Kalaupun ada sisa, biasanya akan habis juga untuk keperluan lain yang mendesak.

Anggaran Visioner

Dalam hal ini kata kuncinya bukan hanya berapa dan ke mana tetapi ditambah dengan dari mana dan bagaimana. Pemakai tipe anggaran ini suka menggali sumber-sumber lain yang sah yang menambah penghasilan (dari mana). Mereka akan selalu berpikir apa yang akan saya lakukan untuk menambah penghasilan. Selain itu ia juga merasa dituntut untuk melakukan pengeluaran yang dapat menambah value aset (bagaimana). Mereka terpacu untuk berpikir dinamis dan jauh ke depan (visioner), tetapi tetap rasional dan realistis. Orang-orang dengan anggaran visioner semacam ini memilki tipikal suka belajar, inovatif, luwes dalam networking, pekerja keras dan bersemangat.

Setelah mengetahui dua tipe di atas, pertanyaannya adalah kita termasuk kelompok yang mana? Tidak ada kata terlambat untuk berbenah diri jika Anda termasuk model anggaran tradisional, dan jika Anda termasuk yang visioner, keep it up!

Mari berbenah

Membenahi tipe penganganggaran dan perencanaan keuangan Anda mutlak dilakukan bagi kelompok tradisional. Berikut tips yang penulis sarikan dari ceramah Ahmad Gozali (perencana keuangan dari Safir Senduk & Rekan) pada Seminar Persiapan Purna Bhakti Pusdiklat Keuangan Umum beberapa waktu lalu di BPPK.

1. Buang mindset bahwa gaji kita pas-pasan.

Berapapun penghasilan kita, akan selalu terasa pas dengan pengeluaran. Karena untuk pengeluaran biaya hidup misalnya, standarnya selalu mengikuti berapapun penghasilan kita, sehingga bagaimanapun akan terasa pas. Bersyukurlah jika pas-pasan, karena kekurangan itu jelas tidak enak, dan berlebihan juga akan menimbulkan masalah baru yang lebih besar.

2. Tentukan tujuan keuangan

Petakan apa saja yang Anda inginkan. Misalnya, kapan memiliki rumah sendiri, ke mana akan menyekolahkan anak, kapan akan pensiun, kapan dan ke mana akan liburan, dll tetapkan tujuan dengan detil, mencakup waktu dan kebutuhan dananya.

Misalnya: ingin membeli rumah di Bintaro yang harganya Rp 4 miliar lima tahun lagi. Dengan adanya tujuan ini, Anda bisa menghitung berapa dana yang harus disisihkan untuk ditabung atau diinvestasikan, dan setelahnya, berapa batas maksimal pengeluaran keluarga setiap bulan.

3. Sisihkan semua yang harus dikeluarkan di awal setelah menerima gaji.

Bayar semua cicilan di awal ketika menerima penghasilan, setelah itu, sisihkan dulu jumlah untuk ditabung. Tidak perlu banyak, yang penting konsisten setiap bulan. Sisanya, barulah dipakai untuk biaya hidup. Sisa inilah yang sebetulnya menjadi penghasilan bersih kita.

4. Pilihlah sumber penghasilan lain yang bisa Anda dapatkan serta investasi yang bisa dilakukan.

Anda bisa mencari pekerjaan tambahan, berbisnis, membeli logam mulia, properti, deposito berjangka, obligasi, saham, reksadana, unit link, dll. Sebelum berinvestasi pada satu instrumen investasi, Anda perlu mempelajari dan memahami biaya transaksi termasuk pajak yang perlu dibayar. Perhitungan imbal hasil (return) untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai adalah berdasarkan imbal hasil bersih setelah dikurangi biaya dan pajak.

Akhirnya, pilihan ada di tangan Anda, mau sepuluh koma atau bebas finansial? Saatnya Anda mereview style penganggaran Anda!

Kepustakaan

Sutikno, Mike R. Anggaran yang Visioner. Artikel pada majalah Bisnis Indonesia edisi 61, 10 Februari 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s