Pembelajaran dengan Active Learning

with Mike Cantrell


Tulisan ini merupakan cuplikan pengalaman penulis ketika mengikuti Short Course on Curriculum Design and Assessment for Educational Innovation di Belanda pada 9 sampai dengan 27 Mei 2011. Sebagai seorang widyaiswara, setiap mengikuti suatu pelatihan penulis selalu mengamati metode mengajar yang dipakai oleh para pengajar yang berpotensi untuk penulis terapkan dalam diklat-diklat di unit kerja sendiri. Penulis sangat tertarik dengan metode Active Learning yang dipakai semua pengajar short course tersebut, baik dari Vrije Universiteit (VU University) di Amsterdam maupun dari Rijksacademie voor Financien en Economie  (NAFE) di Den Haag.

Active Learning sendiri sebenarnya bukan hal yang baru, bahkan Socrates sudah mengenalkan metode ini sejak dulu kala, dilanjutkan oleh seorang progressive educator yaitu John Dewey. Namun ketika masuk kelas kadang terlupakan oleh kita sebagai pengajar bahwa belajar merupakan proses aktif secara alamiah, di mana peserta harus membaca, berdiskusi, mendengarkan, menganalisa, berpikir, serta menulis. Kita sering terfokus dengan pemaparan (delivery) materisaja, padahal mendengarkan dan mencatat bagi peserta hanyalah level terbawah dari comprehension. Dr. Bernie Dodgemenyatakan:

Active learning puts the responsibility of organizing what is to be learned in the hands of the learners themselves, and ideally lends itself to a more diverse range of learning styles.

Jadi, dalam active learning, peserta didik bertanggung jawab lebih besar dalam proses belajar itu sendiri. Ini sejalan dengan pendapat Bonwell dan Eison (1991) yang memopulerkan active learning dalam pembelajaran sejak 1990an, yang berpendapat bahwa “the responsibility of the learning is on the learners themselves’. Ada lagi gagasan tentang active learning yang lebih spesifik disampaikan oleh Mel Silberman (1996), yang menyatakan bahwa dalam pembelajaran yang aktif, para pesertalah yang lebih banyak melakukan kegiatan dengan menggunakan nalar mereka, mempelajari teori, memecahkan masalah, serta menerapkan apa yang telah mereka pelajari. Tetapi prosesnya harus fast-paced, supportive, dan personally engaging. Karena itu untuk memudahkan belajar, selain menyimak dan melihat, peserta juga harus bertanya dan berdiskusi dengan peserta lain. Selain itu, masih menurut Silberman,

… Above all, learners need to ‘do it’–figure things out by themselves, come up with examples, try out skills, and do assignments that depend on the knowledge they already have or must acquire.

Seperti yang dialami penulis dan teman-teman short course di Belanda, kami semua lebih banyak menggali apa yang sudah kami ketahui dan miliki untuk memahami materi yang diberikan para pengajar di sana, persis seperti pendapat Silberman di atas. Karena itu dalam artikel ini, penulis akan berbagi aktivitas dan metode apa saja yang kami lakukan dalam short course tersebut yang masuk dalam kategori active learning serta kelebihan dari metode tersebut.

  1. Interactive lecture / Ceramah interaktif

Metode ceramah interaktif menggunakan kombinasi metode yang bervariasi karena ceramah dilakukan dengan tujuan sebagai pemicu terjadinya kegiatan yang partisipatif (curah pendapat, diskusi, pleno, penugasan, studi kasus, dll). Selain itu, ceramah melibatkan semua peserta dengan adanya tanggapan balik atau perbandingan pendapat dan pengalaman peserta. Media pendukung yang digunakan antara handouts, transparansi atau power point, tulisan-tulisan di kartu, kertas plano, dll. Hampir semua fasilitator dalam short course kami sangat interaktif dalam penyajian ceramahnya, selain itu penampilan mereka yang kasual serta pembawaan yang egaliter sangat mendukung penyampaian materi dengan metode ini.

2. Discussion / Diskusi

Metode ini bertujuan untuk tukar menukar gagasan, pemikiran, informasi / pengalaman diantara peserta, sehingga dicapai kesepakatan pokok-pokok pikiran (gagasan, kesimpulan) di kelas. Untuk mencapai kesepakatan tersebut, para peserta saling menyampaikan argumentasi untuk meyakinkan peserta lainnya, dan kesepakatan pikiran inilah yang kemudian ditulis sebagai hasil diskusi. Yang membuat diskusi menjadi penting menurut fasilitator Esmiralda dari CPDC  saat menyampaikan materinya di NAFE yaitu karena knowledge is everywhere out there, therefore sharing and discussing it are very important. Oleh karena itu, semua peserta harus bisa menyampaikan ide dan pendapatnya dalam diskusi.

3. Group discussion / diskusi kelompok

Sama seperti diskusi, diskusi kelompok adalah pembahasan suatu topik dengan cara tukar pikiran antara dua orang atau lebih, dalam kelompok-kelompok kecil, yang direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Metode ini dapat membangun suasana saling menghargai perbedaan pendapat dan juga meningkatkan partisipasi peserta yang masih belum banyak berbicara dalam diskusi yang lebih luas. Keunggulan penggunaan metode ini adalah peserta bisa mengembangkan kesamaan pendapat atau kesepakatan atau mencari suatu rumusan terbaik mengenai suatu topik. Setelah diskusi kelompok, proses dilanjutkan dengan diskusi pleno, yaitu diskusi umum yang merupakan lanjutan dari diskusi kelompok yang dimulai dengan pemaparan hasil diskusi kelompok. Kegiatan ini yang paling sering kami praktekkan dalam 3 minggu short course kami. Yang menarik adalah kami pernah diminta mempresentasikan hasil diskusi kami dalam bentuk Pecha Kucha. Pecha Kucha adalah presentasi  power point dengan hanya menggunakan 20 slides berisi gambar-gambar, masing-masing slide memakan waktu hanya 20 detik, jadi total waktu presentasi hanya 6 menit 40 detik untuk keseluruhan 20 slides.

4.    Games / Permainan

Games yang dipakai antara lain pemanasan (ice-breaker) atau penyegaran (energizer). Ice-breaker dipakai untuk memecah situasi kebekuan fikiran atau fisik peserta dan dimaksudkan untuk membangun suasana belajar yang dinamis, penuh semangat, dan antusiasme. Permainan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan (fun) serta serius tapi santai (sersan). Metode ini diarahkan agar tujuan belajar dapat dicapai secara efisien dan efektif dalam suasana gembira meskipun membahas hal-hal yang sulit atau berat, di waktu yang kritis misalnya sesudah jam makan siang. Menurut fasilitator Esther den Hartog, sebaiknya permainan digunakan sebagai bagian dari proses belajar, bukan hanya untuk mengisi waktu kosong atau sekedar bermain-main saja tanpa makna. Permainan sebaiknya dirancang menjadi aksi pengalaman oleh peserta, kemudian ditarik dalam proses refleksi untuk menjadi hikmah yang mendalam (prinsip, nilai, atau pelajaran-pelajaran). Wilayah perubahan yang dipengaruhi adalah ranah sikap-nilai. Esther den Hartog memberi contoh game Back to Back, dimana dua peserta duduk di lantai saling menempelkan punggung dan mengaitkan tangan dan diminta untuk berdiri secara serempak bersamaan. Pembelajaran yang dirasakan peserta yaitu untuk mencapai tujuan bersama diperlukan komunikasi yang baik, koordinasi, serta dukungan satu sama lain. Ada game lain yang kami lakukan selama short course, misalnya Helium Stick yang juga mengajarkan tentang pentingnya koordinasi dan rasa pantang menyerah dalam mencapai tujuan.

5.    Opening Question

Supaya peserta dapat belajar lebih efektif, mereka harus membuat koneksi antara apa yang sudah mereka ketahui (prior knowledge) dengan materi baru yang akan mereka dapatkan (new content). Maka kegiatan pembukaan di kelas harus memfasilitasi peserta untuk membuat koneksi tersebut. Opening Question adalah strategi yang menampilkan pertanyaan di power point, memberi beberapa menit bagi peserta untuk memikirkan jawabannya, lalu meminta beberapa peserta untuk menjawab.  Strategi ini sangat mudah, tidak butuh waktu terlalu lama, sesuai untuk kelas besar maupun kecil. Strategi ini juga bisa menjadi feedback bagi pengajar tentang apa yang sudah dan belum diketahui peserta tentang materi yang telah dan akan disajikan. Fasilitator Anja Swennen pernah membuka sesi pagi dengan menyakan kami “What is your opinion about signature pedagogy?” sebelum akhirnya menjelaskan pada kami tentang topik tersebut. Fasilitator Esther den Hartog juga  pernah berimprovisasi dengan model yang disebutnya “Reflection of Lesson Learned” dimana peserta memikirkan jawaban pertanyan dari fasilitator dalam hati sambil menutup mata, diiringi alunan musik intrumental  “Morning Glory” yang bernuansa yoga, sehingga membuat suasana terasa khidmat.

6.    Think-Pair-Share

Think-Pair-Share adalah strategi  active learning di level individual, berpasangan, maupun kelompok besar. Ada tiga langkah: pertama, pengajar menyiapkan pertanyaan dan meminta semua peserta untuk memikirkan/menuliskan jawabannya sendiri. Langkah kedua yaitu peserta berpasangan dengan peserta lain yang duduk di dekatnya dan saling menukar dan berbagi  jawaban mereka. Ketiga, pengajar memilih beberapa pasangan dan merangkum jawaban mereka untuk seluruh kelas. Jika digunakan di awal pembelajaran, strategi Think-Pair-Share dapat membantu peserta mengorganisasikan prior knowledge mereka dan mendapatkan banyak jawaban dari peserta lain dengan cara brainstorming. Jika digunakan di sesi akhir, maka akan berguna untuk merangkum apa yang telah mereka pelajari, menerapkannya di situasi yang berbeda, serta mengintegrasikan  pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki. Strategi ini bisa diterapkan pada kelompok kecil maupun besar dalam waktu beberapa menit saja, sehingga sangat ideal untuk kelas yang metode pembelajarannya menggunakan ceramah (lecture).Di sini fasilitator harus peka dan bisa mengklarifikasi jika ada kesalahan atau ketidaksepahaman.

7.    Focused Listing

Focuse Listing adalah strategi di mana peserta mengingat apa yang mereka ketahui tentang materi dengan membuat daftar gagasan yang terkait dengan topik tersebut. Untuk memulainya, pengajar meminta peserta mengambil secarik kertas dan mulai membuat list berdasarkan topik yang disajikan di power point (topik bisa tentang materi sebelumnya atau materi yang sedang dibahas saat ini). Pengajar berkeliling di kelas sambil mengawasi peserta membuat list, kemudian merangkum gagasan utamanya di akhir kegiatan ini. Peserta yang lain  secara acak diminta meyajikan isi daftar mereka sebelum materi dilanjutkan kembali. Pada prakteknya, focused listing  tidak membutuhkan banyak waktu. Cara ini efektif untuk membuat peserta terlibat dengan materi secara aktif, dan dapat menjadi feedback bagi pengajar tentang bagaimana materi selanjunya disajikan agar sesuai kebutuhan peserta. Trainer Wim Kouwenhoven dan pernah  berimprovisasi dengan meminta peserta menuliskan satu gagasan di selembar kertas tempel kuning, sehingga satu gagasan satu kertas (bukan dalam bentuk list), dan menamakan kegiatan  ini dengan Yellow Notes.

8. Brainstorming/ curah pendapat

Metode curah pendapat adalah suatu bentuk diskusi untuk menghimpun gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan dan pengalaman dari semua peserta. Berbeda dengan diskusi, dimana gagasan dari seseorang dapat ditanggapi (didukung, dilengkapi, dikurangi, atau tidak disepakati) oleh peserta lain, pada metode ini pendapat orang lain tidak untuk ditanggapi. Tujuan curah pendapat adalah untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat, informasi, pengalaman semua peserta yang sama atau berbeda. Hasilnya kemudian dijadikan peta informasi, peta pengalaman, atau peta gagasan (mind-map) untuk menjadi pembelajaran bersama.

Brainstorming juga mirip seperti focused listing, dimana peserta diminta untuk mengingat apa saja yang mereka ketahui tentang suatu topik dengan cara menuliskan istilah-istilah maupun gagasan-gasan yang terkait dengan topik tersebut. Bedanya di sini, peserta diminta membuat hubungan antara prior knowledge dengannew possibilities. Caranya, pengajar menanyakan pada peserta tentang apa yang mereka ketahui tentang suatu topik melalui tayangan Power Point, selanjutnya peserta diminta memformulasikan secara sistematis hubungan antara gagasan tersebut. Brainstorming jika dipakai di awal pembelajaran akan berguna untuk menarik atensi peserta dan menyiapkan mereka dengan topik bahasan hari ini. Jika digunakan di akhir sesi maka akan menjadi rangkuman serta alat untuk membantu peserta menformulasikan koneksi antara apa yang mereka pelajari dengan real life.

9.    Note check

Note check  atau kadang disebut Note Sharing adalah strategi di mana pengajar meminta peserta untuk berpasangan dan berbagi catatan dengan teman di sampingnya, tujuannya untuk membandingkan catatan mereka dan mengetahui apakah ada persamaan informasi serta adakah kesalahan konsep. Peserta juga bisa bertanya atau memecahkan masalah dengan pengajar. Kegiatan ini hanya sebentar saja dilakukan. Problem dengan kegiatan ini adalah jika peserta
pesertanya ada yang kurang aktif, misalnya tidak mencatat atau hanya mengandalkan pasangannya untuk melaksanakan tugas karena kurang paham. Tetapi tujuan utama dari strategi ini adalah peserta saling mengisi dan memiliki collective understanding atas materi yang diberikan. Dengan cara ini, pengajar bisa membantu peserta untuk membuat catatan sekaligus memonitor apakah peserta diklat dapat menangkap key ideas dalam penyajian materi hari tersebut.

10. Minute Paper

Fasilitator Carmen Peters menyebut kegiatan ini dengan “Sheet Shower”. Di sini pengajar memberi pertanyaan pada peserta dalam slide PPT dan peserta harus menuliskan jawabannya, Ini bisa dilakukan kapan saja dalam proses pembelajaran, tetapi akan lebih berguna jika dilakukan di akhir sesi sebagai rangkuman materi hari ini. Peserta akan dipaksa menulis dengan bahasanya sendiri, dengan demikian dia akan menginternalisasi materi hari ini serta mengidentifikasi kesenjangan (gap) dalam pemahaman. Minute paper juga merupakan teknik classroom assessment untuk membantu pengajar mengetahui sejauh mana peserta memahami materi, apa saja yang mereka pahami, serta di bagian mana pengajar harus lebih banyak menerangkan lagi.

11.  Lower House Debate

Ini adalah versi student debate saja, dimana kelas diberi satu topik dan kelas dibagi menjadi 3 kelompok, pro, kontra dan juri. Peserta diberi salah satu posisi serta diminta mengumpulkan seluruh informasi yang mendukung pandangan mereka serta menjelaskannya pada pihak lain dan para juri. Prakteknya, setiap pihak diwakili oleh satu orang saja diberi kesempatan untuk menyampaikan proposisinya secara bergantian (kecuali juri), lalu rehat 5 menit untuk konsolidasi, dilanjutkan sanggahan setiap pihak, rehat lagi 5 menit, dan terakhir tanya jawab. Kami melakukannya satu kali di VU University dan satu kali di NAFE, semuanya sangat menyenangkan karena baru kali ini kami mempraktekkan verbal presentation dengan cara debat dan kami sadar bahwa untuk meyakinkan pihak lain itu ternyata tidak mudah.

12.  Reaction to a video

Ini adalah alternatif dalam metode ceramah, sebelum presentasi pengajar dimulai peserta menyaksikan suatu film pendek yang terkait dengan materi yang akan dibahas. Kegiatan ini bisa dipakai sebagai ice breaker atau juga sebagai pembuka sebelum peserta diberi pertanyaan yang harus dijawab dan dibahas di kelompoknya. Kami pernah menonton film Mr. Bean cheating in examination sebelum kami membahas topik evaluation and assessment, dan membuat kami semangat untuk melanjutkan mengikuti presentasi fasilitator.

13. Final Question

Final question adalah strategi mengakhiri ceramah dengan memberi tugas peserta untuk membuat pertanyaan di akhir sesi. Strategi ini mendorong peserta diklat untuk memikirkan materi hari itu secara mendalam dan mencoba menggali apakah ada hal lain yang belum dipahami peserta. Ada trainer yang menanyakan secara random di kelas dan langsung dijawab hari tersebut, ada juga trainer yang meminta peserta untuk menuliskan pertanyaannya di kertas dan dikumpulkan untuk dibahas di pertemuan selanjutnya. Bahkan ada trainer yang meminta agar pertanyaan di email saja atau dimasukkan ke Learning Moodle. Final question sangat berguna untuk mengetahui sejauh mana peserta peserta memahami materi hari tersebut.

Memang belum seluruh metode yang dapat penulis sajikan di sini karena keterbatasan ruang. Namun setidaknya penulis berharap  tulisan ini bisa menginspirasi pembaca, khususnya pengajar dan widyaiswara, untuk diterapkan dalam praktek mengajar dalam diklat. Selamat mencoba.

dimuat dalam majalah  Forum Keuangan Vo. I/03/September 2011

Referensi

Bonwell, C.; Eison, J. (1991). Active Learning: Creating Excitement in the Classroom AEHE-ERIC Higher Education Report No. 1. Washington, D.C.: Jossey-Bass.

Bernie Dodge, Bernie. 2002. Active Learning on the Web. San Diego State University: Department of Educational Technology, diakses dari http://edweb.sdsu.edu/people/bdodge/Active/ActiveLearning.html)

Silberman, M. 1996. Active Learning: 101 Strategies to Teach Any Subject. Boston: Allyn and Bacon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s