Gempa Besar di Jakarta 2010? Bener Ngga Sih?

Gempa Jakarta? Ah, masa...

Gempa Jakarta? Ah, masa…

Saya dapat sms dari teman yang mengingatkan bahwa akan ada gempa besar di Jakarta dalam waktu dekat ini. Buru-buru saya cari informasi untuk mengecek kebenarannya. Banyak yang udah saya baca. Di antaranya dari koran Republika, ada berita dari bahwa Pusat Penanggulangan Krisis (PPK) Departemen Kesehatan mengingatkan agar warga Jakarta siap-siap menghadapi gempa. “Jakarta masuk dalam garis gempa membentang dari Sinabang hingga Pelabuhan Ratu yang berpotensi gempa,” kata Kepala PPK Depkes, Rustam S Pakaya. Potensi gempa ini, menurut Rustam, akibat adanya pergerakan lempeng di bawah laut yang berinduk pada Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. “Terjadi erosi terus-menerus di bawah permukaan laut.” Wih, ngeri juga  nih. Memang berdasarkan pantauan yang diperoleh PPK Depkes telah terjadi erosi di Pelabuhan Ratu setinggi 2.050 meter dan 600-700 meter di Pangandaran di bawah permukaan laut. “Kita harus waspada jika benturan di antara lempeng di bawah permukaan laut ini terjadi. Walaupun tidak bisa diperkirakan waktu tepatnya, pasti akan terjadi gempa,” kata Rustam. Yang terparah, kata dia, gempa diperkirakan bisa mencapai 8,5 skala richter dan menyebabkan tsunami. Tapi, emang Jakarta bakalan gempa? Kayaknya mustahil gitu…

Baru dapat data 8,5SR juga dilaporkan vivanews beberapa waktu lalu. Berarti kita tetap harus waspada pada perkiraan gempa akibat pergerakan lempeng yang sedang terjadi saat ini.

Kalau dibaca lagi di Republika, Rustam mengatakan, yang penting bagi seluruh warga termasuk Jakarta adalah pathway (jalur untuk evakuasi ke tempat aman). “Bagaimanapun, saat gempa terjadi kita sudah tidak sempat berpikir lagi.  Pathway harus segera disosialisasikan ke masyarakat,” kata dia.

Saya cari lagi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),  dinyatakan bahwa Jakarta tidak mempunyai potensi pusat gempa.

“Jakarta dalam sejarah kegempaan Jawa tidak mempunyai episentrum gempa. Tetapi Jakarta terpengaruh oleh gempa yang terjadi di Jawa, seperti gempa Pangandaran,” kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI Dr Ir Hery Harjono dalam jumpa pers di Kantor LIPI, Jakarta, Selasa (6/10/2009).

Jadi, Jakarta bukan di episentrum gempa, tapi karena pergerakan lempeng bisa saja terjadi yang 8,5 SR itu. Apalagi saya ingat pernah baca dulu Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana pernah mengingatkan selepas kejadian gempa di Padang tahun lalu bahwa gempa besar pernah terjadi di Jakarta yaitu  pada 1699, 1780, 1883, dan 1903. (Makanya waktu itu pemerintah mengundang Professor Antony Saich dan Dr. Arnold Howitt, dua pakar manajemen gempa dari Harvard –memberi kuliah soal manajemen gempa  di Istana. Sepertinya pak BY and pemerintah mau membenahi manajemen bencana di negara kita ini.)

Saya cari-cari lagi, di detiknew malah ditulis pusat gempa ada di Ujung Kulon, Tasikmalaya. Wah, Banten kan dekat Jakarta ya. Katanya Potensi (gempa) di darat dan di laut terjadi di sebelah selatan Lampung, di Jawa Barat dan di Banten antara Selat Sunda. Kekuatannya sekitar 8 skala Richter (SR),” kata Direktur Teknologi Sumber Daya Mineral BPPT Yusuf Surachman, Kamis (3/9/2009).

Potensi seperti muncul karena tabrakan lempeng Indoaustralia dan lempeng Sumatera dan Jawa.

“Bagaimana mekanismenya? Ada subduksi lempeng oceanic menyusup ke dalam lempeng benua. Karena ada sistem terkunci maka ada potensi gempa seperti itu. Jadi lempeng Indoaustralia bergerak terus di selatan Jawa dan menekan hingga 7 cm pertahun,” jelasnya.

Apalagi, saat ini lempeng itu sudah memasuki periode matang. “Pergerakan centimeter pertahun saja sudah tertekan, sekarang saja banyak terjadi gempa meski berkekuatan kecil menyebar di seluruh Indonesia, kondisi ini sama dengan 1 abad lalu, sekitar tahun 1800-an,” tutupnya.

Ih, ngeri ah. Kalau gitu siap-siap antisipasinya saja ya. Saya ada artikel dari Depkominfo tahun 2009 lalu: langsung copas aja.

GEMPA BUMI DAN ANTISIPASI KITA

Untuk kesekian kalinya, bumi Pertiwi dilanda bencana gempa bumi. Kali ini gempa mengguncang kota Padang dan kota-kota sekitarnya di Provinsi Sumatera Barat. Ratusan warga meninggal dunia, ribuan luka-luka, sementara kerusakan harta-benda akibat bencana ini tak terhitung nilainya. Belum lagi trauma kejiwaan, kesedihan dan nestapa warga yang kehilangan anggota keluarga, sanak saudara, serta rumah yang selama ini mereka tinggali.

Seperti saat terjadi gempa-gempa bumi sebelumnya, banyak di antara kita yang terkejut, prihatin, sekaligus menyesali banyaknya korban yang meninggal dunia. Bagaimanapun, bencana gempa yang terjadi berturut-turut di berbagai wilayah, dengan korban harta dan jiwa yang cukup besar, membuat bangsa ini selalu dirundung duka. Namun sayang, semua keprihatinan itu belum mampu mengubah sikap dan perilaku masyarakat secara mendasar dalam menghadapi gempa bumi. Kita baru mampu melakukan tindakan kuratif atau penanggulangan dampak setelah gempa melanda, sementara tindakan preventif-antisipatif belum diterapkan secara sungguh-sungguh dalam kehidupan sehari-hari.

Harus diakui, reaksi masyarakat terhadap dampak bencana gempa bumi sangat positif. Hanya berselang satu hari setelah gempa terjadi, sumbangan dalam bentuk uang, makanan, pakaian maupun barang dari berbagai pihak terus mengalir ke Sumatera Barat. Hal tersebut menunjukkan bukti bahwa masyarakat sangat peduli untuk membantu meringankan beban mereka yang sedang menderita. Hanya saja, tindakan itu belum diimbangi dengan kesadaran bahwa kekuatan gempa bumi tidak bisa dilawan oleh manusia, sehingga diperlukan sikap mengalah untuk menang. Mengalah dalam arti mempersiapkan kondisi yang kondusif bagi berlangsungnya gempa bumi, bukan sebaliknya melawannya dengan tindakan yang tidak selaras dengan sifat-sifat gempa bumi.

Sebagai negara yang sebagian besar wilayahnya berada di dalam ring of fire atau lingkar gunung api dunia dan berada persis di patahan lempeng bumi yakni lempeng Australia dan Eurasia—dimana keduanya merupakan faktor utama pencetus gempa bumi—sepantasnyalah bangsa Indonesia menganggap bahwa terjadinya gempa bumi merupakan sebuah keniscayaan. Seyogyanya pula bangsa Indonesia membangun bangunan yang tahan gempa, sehingga saat bencana yang sama terjadi lagi, jumlah korban bisa diminimalisasi. Namun kenyataan menunjukkan, di sejumlah daerah yang jelas-jelas termasuk wilayah rawan gempa, masyarakat justru mendirikan bangunan yang tidak tahan guncangan. Konstruksi beton yang masif dan kaku menjadi pilihan, karena dipandang lebih murah, kuat dan sesuai dengan tren desain modern. Namun diakui maupun tidak, tren membuat bangunan beton—apalagi persyaratan teknisnya tidak diterapkan secara baik—adalah salah satu bentuk perlawanan terhadap sifat-sifat gempa yang lebih selaras dengan tipe bangunan yang elastis dan dinamis.

Berbagai gempa bumi berskala di atas 6 Skala Richter (SR) seperti yang terjadi di Aceh dan Nias, Bengkulu, Pangandaran, Tasikmalaya, semua membawa korban yang cukup besar. Bahkan gempa Yogyakarta yang ‘hanya’ 5,9 SR pun menelan korban jiwa sampai ribuan orang. Kebanyakan korban meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan tempat tinggal yang menurut para pakar sebagian besar berkonstruksi beton non standar atau beton sederhana.

Bandingkan dengan gempa berkekuatan 7,1 SR yang terjadi di Ishikawa Jepang pada 2007, yang hanya menewaskan sekitar sepuluh orang. Bahkan gempa ini hanya merubuhkan puluhan rumah saja. Hal tersebut bukan semata-mata karena kuat-lemahnya guncangan, akan tetapi lebih terkait dengan bagaimana perilaku masyarakat setempat dalam mendirikan bangunan yang selaras dengan tabiat gempa bumi.

Kendati sebagian besar penduduk Indonesia sadar bahwa mereka tinggal di daerah rawan gempa, akan tetapi jumlah warga yang secara khusus mendesain tempat tinggal yang tahan guncangan dapat dihitung dengan jari. Ironisnya, rumah-rumah tradisional yang sejatinya didesain oleh nenek-moyang agar tahan guncangan, justru menghilang dari khazanah arsitektur Indonesia. Blunder ini pada akhirnya membawa petaka, banyak rumah beton yang rubuh manakala diguncang gempa berkekuatan besar.

Fakta tersebut sesungguhnya dapat difahami, karena rumah beton—kendati lebih kuat—namun fleksibilitasnya di tengah guncangan sangat rendah. Apalagi rumah beton yang desainnya tidak memenuhi standar, misalnya tidak disertai blok-blok beton cor bertulang besi sebagai penunjangnya, kemampuannya menahan daya tarik dan daya tekan sangat rendah. Kita bisa melihat, hampir 80% rumah yang rubuh saat gempa di Padang Yogyakarta beberapa waktu lalu adalah rumah beton, sementara sebagian besar rumah-rumah tradisional dari kayu masih berdiri, kendati ada kerusakan pada atap dan dinding-dindingnya.

Probabilitas terjadinya gempa bumi di Indonesia masih sangat besar, dan jangan lupa, tidak seorangpun dapat meramalkan kapan gempa tersebut akan terjadi. Maka sangat naif jika bangsa Indonesia terus mendirikan bangunan yang tidak tahan gempa, khususnya rumah-rumah beton alakadarnya, sebagaimana yang dilakukan sebagian besar masyarakat saat ini. Tindakan tersebut sama saja dengan mengabaikan keselamatan diri sendiri.

Sekali lagi, kita tidak bisa melawan kekuatan gempa bumi. Sebaliknya, kita seharusnya bersahabat dengan gempa. Salah satu cara yang paling rasional adalah dengan membangun rumah tahan gempa. Soal desain, kita memiliki puluhan jenis rumah tradisional yang sebagian besar tahan gempa. Tinggal bagaimana menyesuaikan desain tersebut dengan kebutuhan dan mode masa kini.

Nah, saya mau share tips-tips menghadapi  gempa dari Nuansa  Cinta Untuk Semua :

1. Jika rumah anda terletak di daerah rawan gempa, perkokoh bangunannya.

2. Jika sedang berada di daerah pantai, kenali tanda-tanda terjadinya tsunami.

3. Atur perabotan rumah sedemikian rupa, untuk menghindari benda-benda itu jatuh, roboh atau bergeser jika terjadi gempa.

4. Persiapkan jalan darurat yang bisa dilalui jika terjadi gempa.

5. Persiapkan lampu senter dan obat-obatan luka beserta verban.

6. Catat nomor telepon penting yang dapat dihubungi bila terjadi gempa.

7. Simpan bahan mudah terbakar pada tempat yang tidak gampang pecah agar terhindar dari kebakaran.

8. Matikan air, gas dan listrik bila tidak digunakan.

9. Atur benda berat pada posisi aman. Sebaiknya benda-benda berat diletakkan di bawah.

10. Cek kestabilan benda  yang tergantung agar tidak jatuh pada saat gempa.

11. Simpan dokumen penting dengan baik, seperti  ijasah, akte kelahiran, sertifikat rumah/tanah,    dan lakukan laminating, sehingga tidak rusak.

Kita memang sangat tidak mengharapkan gempa itu datang. Tapi, dengan inisiatif untuk antisipasi, InsyaAllah perasaan kita akan menjadi lebih tenang. Semoga dengan tips tadi kita bisa menjadi lebih waspada ketika gempa itu datang. InsyaAllah…

Satu lagi ya, banyak-banyak tobat deh. Ajal bisa datang kapan saja, buru-buru minta ampun sama Allah dan minta tolong diselamatkan diri kita, keluarga, teman, dan kerabat dari bencana. Amin ya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s