Nulis apa ya hari ini?

Saya sudah lama berangan-angan untuk kembali aktif menulis, seperti 17 tahun yang lalu. Itu semasa SD, saya jago ngarang, selalu dapat 9 atau 10 di pelajaran Bahasa Indonesia. Saya sering menulis cerpen setiap hari waktu itu.. That’s because I read a lot everday: dari majalah Bobo, Hai, Ananda, Kawanku, Femina, Penjebar Semangat,Jayabaya, Kuntjung, Kompas (Ibu saya maniak baca juga, biaya langganan majalah & koran melebihi uang langganan katering rumah…^_^). Sayang waktu SMP & SMA aktivitas menulis berkurang, karena waktu itu tersita buat kegiatan belajar di sekolah. Pas kuliah S1 sempat ikutan nulis di majalah FISIP, tapi paling cuma 2 semester saja aktifnya. Sekarang, sudah jadi PNS & ibu rumah tangga, masih ada keinginan untuk kembali menulis dengan teratur, tapi ya itu…susah sekali dapat idenya, atau jika sudah ada ide, susah sekali menuangkannya. Writing is a matter of continuous practice, indeed.

Nah, tadi baru dapat ide. Temen saya si James tengil Vallence barusan bilang “Moslems are fatalist”, and I have a slight disagreement with that statement. Memang benar kami percaya bahwa semua yang kita alami itu sudah ditakdirkan yang Kuasa, tapi bukan berarti kita orang muslim tidak melakukan ikhtiar loh..but tetap I realize that our fates are determined for us. Bayangin, when you are in some situation or event beyond your control, it’s the will of Allah. Dan itu bukanlah hal yang aneh jika kita adalah orang yang punya nilai spiritual, bukan seperti si James yang maunya semua hal harus bisa dinalar pakai logika. Selama saya hidup hingga saat ini, kita tidak bisa hanya mengandalkan rasio kita, karena tidak semua hal dalam hidup ini dapat kita jawab atau jelaskan dengan akal kita. I believe if we have a  happy resignation to the inevitable, you can settle your nerves better than a thousand sedatives could have achieved.

Jika mengikuti berita-berita di koran, betapa banyak kejahiliyahan dimana-mana oleh manusia. Saya semakin yakin jika all those neurotics, the insane, the drunks, the evil adalah the product of the hurried and harassed lives we live in in our so-called civilization. Lebih sedihnya, di Indonesia yang penduduknya (katanya) religius, apalagi paling banyak muslimnya, tetapi nilai islami tidak mewarnai hidup mereka. Yang sholat banyak, yang puasa banyak, bapak-ibu hajinya banyak…tapi banyak yang tidak menutup aurat, malas bersedekah, sedikit yang berzakat , hobby bohong, nggosip, ngutil n nilep di kantor, ugal-ugalan di jalan raya, buang sampah sembarangan, pergaulan bebas, aduh…sedih banget menyebutkannya habis masih buanyak lagi. So, how can we live in the middle of the jungle of jahiliyah jika tidak diimbangi dengan kepasrahan pada Allah SWT, we’ll be in lost.

I made mistakes, alhamdulillah mungkin karena doa orangtuajuga saya masih diselamatkannya, tidak sampai tersesat arus jaman. Pernah dulu saya dalam satu masalah, tapi ada pertolongan Allah dengan cara yang tidak terduga. I felt the power of Allah as I had never felt before. I realized then that I alone was responsible for all my troubles. I knew that Allah with His love was there to help me. From that day to this, my life has been free from worry. Saya tetapkan prioritas: pray consistently and confidently. The five-times pray, dhuha and tahajud are a must. Pray is the answer to your problem. It’s a means of communication with God. I can know with certainty that Allah is listening to me. I feel free to send my message to Allah. I can just say something I want to share with Allah: my day, my job, my husband, my kids, my troubles, anything. I can tell Him that things are going rough and I need reinforcements. I can thank Allah for the things He has done to me. I can tell Him I am baffled, bewildered, discouraged, frustrated, or that I am the happiest person in the world. Well, I emphasized to James that without our contact with God, we are nothing. Still, that hasn’t convinced him. Jelas, wong dia nggak punya sense of spirituality sih…ntar kalo masuk neraka baru nyahok deh.

Tuh kan, ternyata menulis itu susah. Jadinya melantur kemana-mana. It does need a lot of practice in writing to make you a great author, tul ngga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s