Where is Our Nationality?

Baru saja saya dapat pemberitahuan dari Panitia Peringatan 17 Agustus di kompleks perumahan saya. Yang mengejutkan adalah penarikan iuran sejumlah Rp.150.00,00 untuk semua aktivitas peringatan dalam satu hari, dan yang lebih mengagetkan adalah susunan acara yang sudah disepakati warga (saya kebetulan tidak bisa datang pada malam rapat itu karena sedang mengajar di LPMP Pasar Minggu). Acaranya yang membuat saya miris: lomba joget, suap-suapan pisang, panggung gembira, pokoknya menurut saya banyak unsur kekonyolan dan hura-hura. Masih mending jika ada lomba atau adu ketangkasan dan ketrampilan, misalnya pertandingan olahraga atau lomba menghias tumpeng, lha makan pisang??

Seperti inikah cara kita memperingati kemerdekaan bangsa yang diperjuangkan dengan darah dan harta para pejuang kita? Saya merasa akhir-akhir ini bangsa kita semakin jauh dari rasa kebangsaan. Saya pikir ada beberapa faktor penyebabnya:

1. Pendidikan

Pendidikan sejarah terutama tidak mengakar pada generasi muda kita. Banyak mahasiswa saya jika diminta menyebutkan lima belas saja nama pahlawan kemerdekaan kita, belum dapat sepuluh nama sudah meringis. Juga pendidikan ahlak, budi pekerti, maupun agama yang kurang membekas pada diri kita. Sebagai orang berbudi, tentu kita malu untuk melakukan hal yang tidak berguna, sia-sia, ataupun malah merendahkan martabat kita. Melakukan kekonyolan sama saja membuat kita kelihatan bodoh, bapak-ibu guru kita tentu tidak mengajarkan yang seperti itu kan?

2. Kepemimpinan Nasional

Bangsa kita memang sedang mengalami krisis kepemimpinan. Politik kita yang amburadul, ekonomi kita semakin mengarah ke liberalisme dan kapitalisme, banyak terjadi kekerasan dan pelanggaran hukum yang tidak dituntaskan dengan adil, dan terlebih lagi semakin dipaksanya kita untuk menerima nilai-nilai universal (karena alasan globalisasi) tetapi malah mengatasi nilai-nilai nasional kita. Dimana pemimpin kita?

3. Kepribadian dan Wawasan Nasional

Bangsa Indonesia dahulu terkenal dengan sifat-sifat yang luhur, salah satunya yaitu perikemanusiaan. Kita cinta segala yang memanusiakan bangsa kita. Tetapi belakangan ini rasa bangga dan cinta tanah air mulai meluntur. Satu hal lagi , secara verbal saja kita mengakui Ketuhanan YME, tetapi pada prakteknya kita takut melawan kemusyrikan, pembodohan, dan pelemahan. Where is our sense of pride as Indonesian?

Saya dalam mendidik anak tidak cuma membuali mereka dengan pelajaran sekolah yang kurang di-update dengan situasi sekarang. Misalnya saya katakan pada mereka bahwa tanah air kita luas dari Sabang sampai Merauke, tetapi setiap hari batas wilayah kita dicaplok oleh negara tetangga. Bumi kita kaya tetapi sumber mineral kita sebagian besar dikelola atau dikuasai asing. Jumlah penduduk kita banyak tetapi banyak juga yang tidak mengenyam pendidikan, menjadi pengangguran, atau mengalami gizi buruk. Apa yang saya tanamkan pada mereka membuat mereka (yang notabene masih kecil-kecil) jadi berpikir dan sedikit memunculkan rasa keprihatinan nasional mereka. Bagaimana Anda mendidik putra-putri Anda?

Ditulis untuk mengingatkan generasi kita betapa mundurnya kita belakangan ini.

2 thoughts on “Where is Our Nationality?

  1. Iya, Bu. Benar. I Agree with you. Saya juga terkadang prihatin dengan negara kita, masyarakat kita. Saya tidak habis pikir,betapa bobroknya bangsa kita sekarang. Yang korupsi tidak segera sadar, malah tambah diperbesar. Rakyat terkadang juga anarkis menghadapinya, tambah memperdalam keterpurukan ekonomi. Belum lagi dengan kebiasaan buruk yang terlalu lama dipupuk oleh masyarakat kita, IRI dan DENGKI melihat ada yang SENENG/BERHASIL.

    Saya terkadang IRI ketika melihat bangsa lain bisa memiliki cara pemikiran yang jauh lebih baik daripada kita. Negara lain telah memikirkan teknologi, tetapi kita masih jalan di tempat, memikirkan perut, tidur, perut, tidur dapet komisi. Ya Allah, sedang apa mereka yang duduk di pemerintahan sana? Banyak sekali pengalaman yang saya lihat di luar sana, bahkan sempat terekam ketika saya memasuki usia pancaroba. Saya yang hanyalah seorang anak dari Desa, sangat terheran-heran ketika telah menapaki jalan-jalan kedewasaan. Masyarakat bukanlah rakyat Indonesia yang dulu aku kenal. Yang bisa susah bersama, senang bersama. Saling menutupi kekurangan dengan tiap kelebihan masing-masing. Sekarang, TIDAK LAGI.

    Yang kaya menutup diri, tidak peduli dengan sekitarnya. Yang miskin nggak merasa dia miskin, bisanya hanya menggantungkan orang lain, dan malas bekerja, ketika melihat si Kaya yang ada hanya MI REBUS (Mikirin Rencana Busuk). Begitu juga di dunia kerja, Yang Pejabat bisanya nyuruh aja, Gila Hormat, Tahunya komisi, tunjangan, KEWAJIBAN kan ada bawahan atau bahkan sudah lupa Tuh. Tak ayal bawahan yang keteteran nggak karuan. Mereka yang banting tulang, tapi tak diberikan sebuah penghargaan, bahkan kadang teguran,cacian ketika salah. Hal ini yang menyebabkan seorang yang benar-benar Nasionalis (Menomorduakan Take Home Pay, Mengutamakan tanggungjawab kerja) menjadi terbunuh rasa Nasionalis.

    Orang Jawa bilang Nglokro. Sebenarnya dia berusaha gigih untuk setiap pekerjaannya, lembur, Sabtu Minggu masuk kerja. Yang lain enak tidur, dia lembur. Di hatinya ada uang lembur Alhamdulillah, gak ada ya demi negara. Tapi apa yang terjadi mentang-mentang dia ada pada pangkat yang masih rendah, diinjak, disalahkan, dicaci. Itulah yang membunuh rasa Nasionalismenya, Membuat dia beralih pandang, Uang dan materi dengan background keputusasaan dan ketidak percayaan lagi akan keadilan menjadikan dia seorang yang malas dan semua berasaskan UUD (Ujung-Ujungnya Duit).

    Betapa kasihan….. Hormat, Penghargaan hanya milik Pejabat dan Para Penggede (Kalau yang bener2 Penggede karena usaha nggak Masalah, Kalo yang karena Penjilat?). Sedangkan Kejelekan, Cacian, Hinaan dan Kesalahan milik Orang Kecil, Pegawai Bergolongan Pangkat Rendah, Rakyat Miskin (Kalau yang Pangkatnya rendah karena malas bekerja, asal-asalan, kabur-kaburan tanpa alasan nggak masalah, tapi bagaimana kalo yang begitu orangnya Nasionalis, pekerja keras, tapi nggak pernah nampak pamornya karena ia hanyalah seorang sendal, bukan topi yang selalu nampak di atas kepala).

    Percayalah Bahwa Keadilan Sejati Hanyalah Milik Allah,
    Tidak Di dunia Ini. Aku Benci Penjilat, Aku Benci Malas, Aku Benci Koruptor, Aku Benci Pembual.

    Hidup Indonesia, Jaya Selalu Indonesia.
    Viva Departemen Keuangan dengan Direktorat Jenderal 2 di bawahnya.

    Komentar dari Seorang Yang Sekarang Sendal di Lingkup DEPKEU.

    • You’ve got the point, guy! Please jangan nglokro kalau sudah tahu Yang di Atas Maha Adil, tetaplah berdedikasi tinggi pada negara dan bangsa melalui tupoksi Anda. I’ve been there, too for 7 years as PELAKSANA: kerja giat, salah dimarahi, jika bagus Boss yang dipuji. Saya tetap bertahan, maintain good relationship with everyone but never give up my idealism. Dan sekarang saya menuai buah kesabaran saya, setiap saat saya butuh kemudahan dalam hidup, studi & karir saya, jalan terbuka luas. Hidup tidak selamanya jadi sandal jepit, roda terus berputar (suatu saat jika Anda sudah di atas , jangan terlena karena akan diputar lagi ke bawah). DEPKEU sangat membutuhkan orang-orang seperti Anda!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s