Gempa Besar di Jakarta 2010? Bener Ngga Sih?

Saya dapat sms dari teman yang mengingatkan bahwa akan ada gempa besar di Jakarta dalam waktu dekat ini. Buru-buru saya cari informasi untuk mengecek kebenarannya. Banyak yang udah saya baca. Di antaranya dari koran Republika, ada berita dari bahwa Pusat Penanggulangan Krisis (PPK) Departemen Kesehatan mengingatkan agar warga Jakarta siap-siap menghadapi gempa. “Jakarta masuk dalam garis gempa membentang dari Sinabang hingga Pelabuhan Ratu yang berpotensi gempa,” kata Kepala PPK Depkes, Rustam S Pakaya. Potensi gempa ini, menurut Rustam, akibat adanya pergerakan lempeng di bawah laut yang berinduk pada Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. “Terjadi erosi terus-menerus di bawah permukaan laut.” Wih, ngeri juga  nih. Memang

berdasarkan pantauan yang diperoleh PPK Depkes telah terjadi erosi di Pelabuhan Ratu setinggi 2.050 meter dan 600-700 meter di Pangandaran di bawah permukaan laut. “Kita harus waspada jika benturan di antara lempeng di bawah permukaan laut ini terjadi. Walaupun tidak bisa diperkirakan waktu tepatnya, pasti akan terjadi gempa,” kata Rustam. Yang terparah, kata dia, gempa diperkirakan bisa mencapai 8,5 skala richter dan menyebabkan tsunami.

Wah, 8,5SR juga dilaporkan vivanews beberapa waktu lalu. Berarti kita tetap harus waspada pada perkiraan gempa akibat pergerakan lempeng yang sedang terjadi saat ini.

Kalau dibaca lagi di Republika, Rustam mengatakan, yang penting bagi seluruh warga termasuk Jakarta adalah pathway (jalur untuk evakuasi ke tempat aman). “Bagaimanapun, saat gempa terjadi kita sudah tidak sempat berpikir lagi.  Pathway harus segera disosialisasikan ke masyarakat,” kata dia.

Saya cari lagi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),  dinyatakan bahwa Jakarta tidak mempunyai potensi pusat gempa.

“Jakarta dalam sejarah kegempaan Jawa tidak mempunyai episentrum gempa. Tetapi Jakarta terpengaruh oleh gempa yang terjadi di Jawa, seperti gempa Pangandaran,” kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI Dr Ir Hery Harjono dalam jumpa pers di Kantor LIPI, Jakarta, Selasa (6/10/2009).

Jadi, Jakarta bukan di episentrum gempa, tapi karena pergerakan lempeng bisa saja terjadi yang 8,5 SR itu. Apalagi saya ingat pernah baca dulu Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana pernah mengingatkan selepas kejadian gempa di Padang tahun lalu bahwa gempa besar pernah terjadi di Jakarta yaitu  pada 1699, 1780, 1883, dan 1903. (Makanya waktu itu pemerintah mengundang Professor Antony Saich dan Dr. Arnold Howitt, dua pakar manajemen gempa dari Harvard –memberi kuliah soal manajemen gempa  di Istana. Sepertinya pak BY and pemerintah mau membenahi manajemen bencana di negara kita ini.)

Saya cari-cari lagi, di detiknew malah ditulis pusat gempa ada di Ujung Kulon, Tasikmalaya. Wah, Banten kan dekat Jakarta ya. Katanya Potensi (gempa) di darat dan di laut terjadi di sebelah selatan Lampung, di Jawa Barat dan di Banten antara Selat Sunda. Kekuatannya sekitar 8 skala Richter (SR),” kata Direktur Teknologi Sumber Daya Mineral BPPT Yusuf Surachman, Kamis (3/9/2009).

Potensi seperti muncul karena tabrakan lempeng Indoaustralia dan lempeng Sumatera dan Jawa.

“Bagaimana mekanismenya? Ada subduksi lempeng oceanic menyusup ke dalam lempeng benua. Karena ada sistem terkunci maka ada potensi gempa seperti itu. Jadi lempeng Indoaustralia bergerak terus di selatan Jawa dan menekan hingga 7 cm pertahun,” jelasnya.

Apalagi, saat ini lempeng itu sudah memasuki periode matang. “Pergerakan centimeter pertahun saja sudah tertekan, sekarang saja banyak terjadi gempa meski berkekuatan kecil menyebar di seluruh Indonesia, kondisi ini sama dengan 1 abad lalu, sekitar tahun 1800-an,” tutupnya.

Ih, ngeri ah. Kalau gitu siap-siap antisipasinya saja ya. Saya ada artikel dari Depkominfo tahun 2009 lalu: langsung copas aja.

GEMPA BUMI DAN ANTISIPASI KITA

Untuk kesekian kalinya, bumi Pertiwi dilanda bencana gempa bumi. Kali ini gempa mengguncang kota Padang dan kota-kota sekitarnya di Provinsi Sumatera Barat. Ratusan warga meninggal dunia, ribuan luka-luka, sementara kerusakan harta-benda akibat bencana ini tak terhitung nilainya. Belum lagi trauma kejiwaan, kesedihan dan nestapa warga yang kehilangan anggota keluarga, sanak saudara, serta rumah yang selama ini mereka tinggali.

Seperti saat terjadi gempa-gempa bumi sebelumnya, banyak di antara kita yang terkejut, prihatin, sekaligus menyesali banyaknya korban yang meninggal dunia. Bagaimanapun, bencana gempa yang terjadi berturut-turut di berbagai wilayah, dengan korban harta dan jiwa yang cukup besar, membuat bangsa ini selalu dirundung duka. Namun sayang, semua keprihatinan itu belum mampu mengubah sikap dan perilaku masyarakat secara mendasar dalam menghadapi gempa bumi. Kita baru mampu melakukan tindakan kuratif atau penanggulangan dampak setelah gempa melanda, sementara tindakan preventif-antisipatif belum diterapkan secara sungguh-sungguh dalam kehidupan sehari-hari.

Harus diakui, reaksi masyarakat terhadap dampak bencana gempa bumi sangat positif. Hanya berselang satu hari setelah gempa terjadi, sumbangan dalam bentuk uang, makanan, pakaian maupun barang dari berbagai pihak terus mengalir ke Sumatera Barat. Hal tersebut menunjukkan bukti bahwa masyarakat sangat peduli untuk membantu meringankan beban mereka yang sedang menderita. Hanya saja, tindakan itu belum diimbangi dengan kesadaran bahwa kekuatan gempa bumi tidak bisa dilawan oleh manusia, sehingga diperlukan sikap mengalah untuk menang. Mengalah dalam arti mempersiapkan kondisi yang kondusif bagi berlangsungnya gempa bumi, bukan sebaliknya melawannya dengan tindakan yang tidak selaras dengan sifat-sifat gempa bumi.

Sebagai negara yang sebagian besar wilayahnya berada di dalam ring of fire atau lingkar gunung api dunia dan berada persis di patahan lempeng bumi yakni lempeng Australia dan Eurasia—dimana keduanya merupakan faktor utama pencetus gempa bumi—sepantasnyalah bangsa Indonesia menganggap bahwa terjadinya gempa bumi merupakan sebuah keniscayaan. Seyogyanya pula bangsa Indonesia membangun bangunan yang tahan gempa, sehingga saat bencana yang sama terjadi lagi, jumlah korban bisa diminimalisasi. Namun kenyataan menunjukkan, di sejumlah daerah yang jelas-jelas termasuk wilayah rawan gempa, masyarakat justru mendirikan bangunan yang tidak tahan guncangan. Konstruksi beton yang masif dan kaku menjadi pilihan, karena dipandang lebih murah, kuat dan sesuai dengan tren desain modern. Namun diakui maupun tidak, tren membuat bangunan beton—apalagi persyaratan teknisnya tidak diterapkan secara baik—adalah salah satu bentuk perlawanan terhadap sifat-sifat gempa yang lebih selaras dengan tipe bangunan yang elastis dan dinamis.

Berbagai gempa bumi berskala di atas 6 Skala Richter (SR) seperti yang terjadi di Aceh dan Nias, Bengkulu, Pangandaran, Tasikmalaya, semua membawa korban yang cukup besar. Bahkan gempa Yogyakarta yang ‘hanya’ 5,9 SR pun menelan korban jiwa sampai ribuan orang. Kebanyakan korban meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan tempat tinggal yang menurut para pakar sebagian besar berkonstruksi beton non standar atau beton sederhana.

Bandingkan dengan gempa berkekuatan 7,1 SR yang terjadi di Ishikawa Jepang pada 2007, yang hanya menewaskan sekitar sepuluh orang. Bahkan gempa ini hanya merubuhkan puluhan rumah saja. Hal tersebut bukan semata-mata karena kuat-lemahnya guncangan, akan tetapi lebih terkait dengan bagaimana perilaku masyarakat setempat dalam mendirikan bangunan yang selaras dengan tabiat gempa bumi.

Kendati sebagian besar penduduk Indonesia sadar bahwa mereka tinggal di daerah rawan gempa, akan tetapi jumlah warga yang secara khusus mendesain tempat tinggal yang tahan guncangan dapat dihitung dengan jari. Ironisnya, rumah-rumah tradisional yang sejatinya didesain oleh nenek-moyang agar tahan guncangan, justru menghilang dari khazanah arsitektur Indonesia. Blunder ini pada akhirnya membawa petaka, banyak rumah beton yang rubuh manakala diguncang gempa berkekuatan besar.

Fakta tersebut sesungguhnya dapat difahami, karena rumah beton—kendati lebih kuat—namun fleksibilitasnya di tengah guncangan sangat rendah. Apalagi rumah beton yang desainnya tidak memenuhi standar, misalnya tidak disertai blok-blok beton cor bertulang besi sebagai penunjangnya, kemampuannya menahan daya tarik dan daya tekan sangat rendah. Kita bisa melihat, hampir 80% rumah yang rubuh saat gempa di Padang Yogyakarta beberapa waktu lalu adalah rumah beton, sementara sebagian besar rumah-rumah tradisional dari kayu masih berdiri, kendati ada kerusakan pada atap dan dinding-dindingnya.

Probabilitas terjadinya gempa bumi di Indonesia masih sangat besar, dan jangan lupa, tidak seorangpun dapat meramalkan kapan gempa tersebut akan terjadi. Maka sangat naif jika bangsa Indonesia terus mendirikan bangunan yang tidak tahan gempa, khususnya rumah-rumah beton alakadarnya, sebagaimana yang dilakukan sebagian besar masyarakat saat ini. Tindakan tersebut sama saja dengan mengabaikan keselamatan diri sendiri.

Sekali lagi, kita tidak bisa melawan kekuatan gempa bumi. Sebaliknya, kita seharusnya bersahabat dengan gempa. Salah satu cara yang paling rasional adalah dengan membangun rumah tahan gempa. Soal desain, kita memiliki puluhan jenis rumah tradisional yang sebagian besar tahan gempa. Tinggal bagaimana menyesuaikan desain tersebut dengan kebutuhan dan mode masa kini.

Nah, saya mau share tips-tips menghadapi  gempa dari Nuansa  Cinta Untuk Semua :

1. Jika rumah anda terletak di daerah rawan gempa, perkokoh bangunannya.

2. Jika sedang berada di daerah pantai, kenali tanda-tanda terjadinya tsunami.

3. Atur perabotan rumah sedemikian rupa, untuk menghindari benda-benda itu jatuh, roboh atau bergeser jika terjadi gempa.

4. Persiapkan jalan darurat yang bisa dilalui jika terjadi gempa.

5. Persiapkan lampu senter dan obat-obatan luka beserta verban.

6. Catat nomor telepon penting yang dapat dihubungi bila terjadi gempa.

7. Simpan bahan mudah terbakar pada tempat yang tidak gampang pecah agar terhindar dari kebakaran.

8. Matikan air, gas dan listrik bila tidak digunakan.

9. Atur benda berat pada posisi aman. Sebaiknya benda-benda berat diletakkan di bawah.

10. Cek kestabilan benda  yang tergantung agar tidak jatuh pada saat gempa.

11. Simpan dokumen penting dengan baik, seperti  ijasah, akte kelahiran, sertifikat rumah/tanah,    dan lakukan laminating, sehingga tidak rusak.

Kita memang sangat tidak mengharapkan gempa itu datang. Tapi, dengan inisiatif untuk antisipasi, InsyaAllah perasaan kita akan menjadi lebih tenang. Semoga dengan tips tadi kita bisa menjadi lebih waspada ketika gempa itu datang. InsyaAllah…

Satu lagi ya, banyak-banyak tobat deh. Ajal bisa datang kapan saja, buru-buru minta ampun sama Allah dan minta tolong diselamatkan diri kita, keluarga, teman, dan kerabat dari bencana. Amin ya Allah.

Alay…

My students say this word very often during my classes, especially to comment on their friend’s statement or answer. When I asked them “What is alay?” they smiled and said “It’s anak lebay, ma’am…”.. Then they tried to describe the term, still it’s not very satisfying to me.

Kalau dari penjelasan mereka, yang langsung terbayang di kepala kira2 alay kaya gini:

 

Saya coba googling…nemu satu artikel lucu dari http://yudhim.blogspot.com/2008/11/ciri-ciri-alay.html.

Yudhi ngasih ciri-ciri orang alay berikut kategori level keparahannya. Saya kasih tambahan gambar aja biar lebih jelazz…

Gambar pertama kira2 kaya gini ya….coba simak persamaannya, and cocokkan sama deskripsinya Yudhi.

 

Hihi…nah simak ceritanya si Yudhi ya…
————————————-
A) ALAY TINGKAT PALING RENDAH:
1. Nulis kata disingkat, seperti “lagi apa?” gi pha?? atau bosen banget jadi “bsen bgd nh”
2. Memakai simbol tambahan. “p@ k@bar L0e??” atau “~hha..~ y nh.. lg bosen~”
3. Menggunakan huruf Z dibelakang kata. “mlz bgtz!” atau “gurunya malezin yh”
4. Comment orang dengan minta balasan kaya “repp iah!” / “blz dum” / “reply dsini iiaaa”
5. Layoutnya yang super rame bahkan berfotmat gif (gerak) dengan warna ngejrenk pinkk fontnya yang anehlah.
B) ALAY TINGKAT RENDAH
1. Aboutme panjaaaang banget dengan gambar dari myspace yang gajelas pake isi gr-gr an kaya “aq tuh…. cntik…. lucu…. punya cowo ganteng…” zzz dan sebagainyalah lo tau kan
2. Penggantian kata! gue / gw / gua = w, lo / lu = lw / loe. dong = dumzz / dwunhh
3. Foto serba diediiiiit abis apalagi yang editnya emo emo pake tulisan gothic gitu
4. Mediabox dipenuhin dengan gambarrrrrr
C) ALAY  TINGKAT SEDANG
1. Mamerin kebisaan di shotout, misalnya “eh w kan menang track motor lohh..” atau “eh w les nyetir dong..” dan yang lebih oon nya “eh w makin oke dan top ya tiap hari” (halah)


2. Rusuhin comment foto. misalnya cuma dicomment “cantik deh/ganteng deh” balesnya “emg gw gnteng gtuu… y krna trlahir dh ganteng kli ya?? hha. dan kyanya……….blabalabla”
3. Nickname digabung sama nama org yang disuka dengan cara ga jelas. misalnya (kalo namanya sama maaf ya) “delita saiianks si luthuu..” atau “delita cinta dya” gitulah ya aezzz…
4. Bikin album yang isinya artis favorit mereka. contoh “kangen band khuzuz loh!!” apalagi albumnya pake dikunci, yah capedeh!!

He he ….pecinta Kangen band?? yo ngga opo2 sih….hak asasi mereka kok hi hi hi…atau band2 metal kalee….

D) ALAY TINGKAT PARAH!

1. Barang abal yang dipamerin ketemen terus dia ngaku beli di singapore. amrik . dan sbgainya. “eh liat nih gue beli gelang dijerman gituloh asli kalo ga salah sih dirupiahin 500 ribu ya.” padahal dia beli di itc aja!! yang 10 ribu 5 hahaha.
2. Tulisan gede-kecil. “aLoW kLiAnZ hArUz ADd GwE YaH!!” atau dengan angggka “K4Ng3nZ dWEcChh” NNNNNZZZZZ
3. Minta di add di shotout, “j9n lupa ett ghw”
4. Gaya dengan bibir monyong, telunjuk nempel bibir, gaya tangan dengan oke dipinggir kepala dan foto dari atas
5.Nge post bulbo cuma buat kasih tau dia lagi online & minta comment
- – - – - – - – - – - – - – - – - – - -
Hahahay…sampai ngikik baca posting Yudi, ada2 aja.

Jadi kalau dirangkum jadi gambar alay ya kaya gini deh:

Oma

This is to keep a memory of Oma, who passed away in December 2009. Oma is my mother-in-law. Is she perfect? Almost. Am I perfect? No. But we share a love for my husband, her son, that makes us both get along pretty nicely, until she left us for good.

My mother-in-law is a great survivor. Not only did she survive, but she prevailed. Married to Opa and soon moved to Jakarta was truly a challenge for a young woman from Padamaran, and that makes her learned to be a fighter. She raised eight kids with a passion and great patience: the two things I admire most from her.

Basing on my own experince, I just wanna share you some tips to get along with your mother in law:

1. Always remember that she gave birth to a son or daughter that you fell in love with and married. Somewhere along the way she did something very right. Even if she had little to do with how your husband or wife turned out, there was some influence that helped turn him/her into the person you love. Remember that next time she’s a shrew, or belittles you.

2) All mother-in-law loves her son, like she did to my husband. She cares about him and wants him to be happy. She recognized early on that I was the one who could not only make him happy 9 years ago, but still can today and forever. I also love him and want him to be happy. He is close to his family, and it would be the height of stupidity, not to mention cruelty, for me to try to alienate them.

3) Get your children to know their grandparents. Mostly a mother-in-law can be a terrific grandma to our kids, even if she was a lousy mother. There’s big difference there, so unless she treats our kids badly, give her a chance with them. I used to visit Oma with kids at least twice a month, and that makes my kids adore their grand-mother so much.

4) Try help another family member, like your brother-in-law or sister-in-law, who may need your help to make his/her life bearable. Otherwise you have a tendency to feed off each other’s unhappiness.

5) to be continued….

Nulis apa ya hari ini?

Saya sudah lama berangan-angan untuk kembali aktif menulis, seperti 17 tahun yang lalu. Itu semasa SD, saya jago ngarang, selalu dapat 9 atau 10 di pelajaran Bahasa Indonesia. Saya sering menulis cerpen setiap hari waktu itu.. That’s because I read a lot everday: dari majalah Bobo, Hai, Ananda, Kawanku, Femina, Penjebar Semangat,Jayabaya, Kuntjung, Kompas (Ibu saya maniak baca juga, biaya langganan majalah & koran melebihi uang langganan katering rumah…^_^). Sayang waktu SMP & SMA aktivitas menulis berkurang, karena waktu itu tersita buat kegiatan belajar di sekolah. Pas kuliah S1 sempat ikutan nulis di majalah FISIP, tapi paling cuma 2 semester saja aktifnya. Sekarang, sudah jadi PNS & ibu rumah tangga, masih ada keinginan untuk kembali menulis dengan teratur, tapi ya itu…susah sekali dapat idenya, atau jika sudah ada ide, susah sekali menuangkannya. Writing is a matter of continuous practice, indeed.

Nah, tadi baru dapat ide. Temen saya si James barusan bilang “Moslems are fatalist”, and I have a slight disagreement with that statement. Memang benar kami percaya bahwa semua yang kita alami itu sudah ditakdirkan yang Kuasa, tapi bukan berarti kita orang muslim tidak melakukan ikhtiar loh..but tetap I realize that our fates are determined for us. Bayangin, when you are in some situation or event beyond your control, it’s the will of Allah. Dan itu bukanlah hal yang aneh jika kita adalah orang yang punya nilai spiritual, bukan seperti si James yang maunya semua hal harus bisa dinalar pakai logika. Selama saya hidup hingga saat ini, kita tidak bisa hanya mengandalkan rasio kita, karena tidak semua hal dalam hidup ini dapat kita jawab atau jelaskan dengan akal kita. I believe if we have a  happy resignation to the inevitable, you can settle your nerves better than a thousand sedatives could have achieved.

Jika mengikuti berita-berita di koran, betapa banyak kejahiliyahan dimana-mana oleh manusia. Saya semakin yakin jika all those neurotics, the insane, the drunks, the evil adalah the product of the hurried and harassed lives we live in in our so-called civilization. Lebih sedihnya, di Indonesia yang penduduknya (katanya) religius, apalagi paling banyak muslimnya, tetapi nilai islami tidak mewarnai hidup mereka. Yang sholat banyak, yang puasa banyak, bapak-ibu hajinya banyak…tapi banyak yang tidak menutup aurat, malas bersedekah, sedikit yang berzakat , hobby bohong, nggosip, ngutil n nilep di kantor, ugal-ugalan di jalan raya, buang sampah sembarangan, pergaulan bebas, aduh…sedih banget menyebutkannya habis masih buanyak lagi. So, how can we live in the middle of the jungle of jahiliyah jika tidak diimbangi dengan kepasrahan pada Allah SWT, we’ll be in lost.

I made mistakes, alhamdulillah mungkin karena doa orangtuajuga saya masih diselamatkannya, tidak sampai tersesat arus jaman. Pernah dulu saya dalam satu masalah, tapi ada pertolongan Allah dengan cara yang tidak terduga. I felt the power of Allah as I had never felt before. I realized then that I alone was responsible for all my troubles. I knew that Allah with His love was there to help me. From that day to this, my life has been free from worry. Saya tetapkan prioritas: pray consistently and confidently. The five-times pray, dhuha and tahajud is a must. Pray is the answer to your problem. It’s a means of communication with God. I can know with certainty that Allah is listening to me. I feel free to send my message to Allah. I can just say something I want to share with Allah: my day, my job, my husband, my kids, my troubles, anything. I can tell Him that things are going rough and I need reinforcements. I can thank Allah for the things He has done to me. I can tell Him I am baffled, bewildered, discouraged, frustrated, or that I am the happiest person in the world. Well, I emphasized to James that without our contact with God, we are nothing. Still, that hasn’t convinced him. Jelas, wong dia nggak punya sense of spirituality sih…

Tuh kan, ternyata menulis itu susah. Jadinya melantur kemana-mana. It does need a lot of practice in writing to make you a great author, tul ngga?

What makes me unique?

Being both spiritual and flexible is one of the aspects of my personality that makes me most unique. I am a moslem: I accept all the Quran says because I belive in Allah and I am faithful to prophet Muhammad. That’s why I can take life so calmly and never hurry to get into unnecessary tempers when things go wrong. I know that what is ordained is ordained; and no one but Allah can alter anything. (However, that doesn’t mean that in the face of problems or disaster, I sit down and do nothing).

In addition, I think that being flexible is very important too, as to minimize the doldrums of life. It’s very easy for people to get themselves into a rut of always doing and liking the same things, but a greater challenge is trying something different, as long as it is allowed by outr relious belief. There is much greater awakening of all the potential you have, when you try new things.

The job I hold trully puts flexibility to the test. I’m a Widyaiswara, a trainer of the Ministry of Finance of the Republic of Indonesia. I am faced with different situations and people everyday, since I teach several subjects to all official from all units of MOU all over Indonesia. I can teach public speaking and Pancasila in one day, and teach Teambuilding and Master of Ceremony another day. I can teach at Pancoran, Kebayoran, or Bintaro this week, but next week I may teach in Balikpapan. There are times that I must behave like a guru, and there are times I must act like an actress, even a comedian, a manager of classroom debates ….well, flexibility is important in my job.

I am somewhat a careful planner for my money, not an extravagant person who likes to do things big and bright. But sometimes I spend my sparetime at shopping malls or bookstores, I am a push-over for good clothes for teaching and books for my brain. I am an ordinary, person, really, but I enjoy formal gatherings with bosses, charity events, and a bustling city. In a sense, I’m sometimes a worldly person, but at the same time I still like simple things in life. There are times I am perfectly content just sitting at my porch, watching my kids playing, or running along the jogging track in my neighborhood. Those make me thank God for all good things in my life.

Being flexible allows me to branchout in many different situations that I am face with, and to enjoy the different paths I sometimes choose to follow (I was once an insurance agent, a singer, an amateur musician, a member of drama club, a journalist, a tour guide, and pizza-maker when I was younger…^_^). That is very important to me, because it makes me the individual that I am.

Here Kitty…..

I’ve never been a big fan of cat since my mom’s allergic to cats. I think cats smell terrible and their litter are disgusting. Cats are so lazy and don’t really care if there are people around or not. But once I discovered that cats are actually really nice and that my kids love them, so I converted. I became tolerable to cats.

Here are some positive things about cats:
They’re cuddly.

Cats are far more cuddly than dogs. Dogs would rather lick your face than give you a hug. Not all cats are cuddly, I know, but many are!

They’re quiet.

Quiet is relative.They may be whining, but for me it won’t be so disturbing compared to a dog’s bark. Cat miaows won’t hurt my ears.

They purrrrrr!

Nothing is more relaxing to me than the gentle rumbling of a contented kitty. When they purr, they let you know that they are happy, relaxed, and loved.

They are relatively low-maintenance

If you have an indoor cat , you don’t need to bother with flea and tick repellents and the like. If your cat eats basic dry food, you can leave for a weekend without worry as long as enough food and water are available.

They won’t bite your kids

I never worry when my kids are playing with cats. Though cats have claws and sharp teeth, they will never hurt your kids, at least that’s what I’ve experienced so far. And I have never heard a story of a cat bites its owner, but surely I know some dogs did it to their masters.

Although I’m tolerable to cats now, but I still think that I’m not a cat person.

Jangan Dibaca!

efi & indraTulisan dibuat tanggal 16 Juli lalu, tapi ngga berani di posting, takut ada yang baca (apalagi mahasiswaku, hi…). Tapi pas lagi browsing dan liat2 chatting anak2 muda yang lagi pacaran mesra di Internet, jadi gemes ama anak sekarang and kepikir kenapa saya nggak nulis something buat suami sendiri aja (kalo pacaran kan dosa tau, kalo buat suami kan gpp), masa kalah ama anak muda he..he…

 ###

This year we have been married for 9 years, and I thank God I have a successful and happy marriage. My colleague, who is about to marry soon in his ‘old’ age, asked me the tips in managing our marriage. Then, I try to recall what makes me happy of ours (well, I have to make it systematically since I’m accustomed to this style of writing ^_^):

1. Understanding
Whenever I am feeling down, of course I like to have a shoulder to cry on. My husband sometimes provides his shoulder for me, but other times he just says to me, “Pull yourself together; stop feeling so sorry for yourself.” Not romantic, huh? But I guess that’s because he knows very well when I need someone to listen to me or when I just don’t need his advice. By this way, he eventually teaches  me to be a stronger woman.
2. Kindness
There is no need for him to buy me a huge present every week, because to him, to be generally kind costs nothing. He shows me some consideration, rides me to campus n picks me up from work, gives me a cuddle in bed; tell me he loves me and what a great mum I am. There are so many little things he does for me that show his caring to me.
3. Honesty
He’s honest to me, no cheating on me as let’s face it he would not want me to be unfaithful to him, too. There is no relationship without trust; therefore he ensures that I’m in no doubt that he’s one hundred percent mine.
Those are the main three things that I say about my husband. Actually, I try to write him a love letter to show him how grateful I am with our marriage (the idea is not 100% my original he he he), here it is:
Dearest Jo,
Several people have asked me about the nine year itch, because they think that after nine years, married couples start to feel constrained by their bonds of marriage. I just laugh, and I can honestly say I haven’t thought that ours is so constraining. While some friends say that the more years the more fights they have in their marriage, we just make ours more worthwhile each day.
Well, we know it from the start.  We have the goal of being together forever, happily.  We know that after we pass on, if we have lived worthily, hopefully our spirits will be bonded together eternally in the hereafter as man and wife.  We know that true happiness comes from sharing life’s experiences together, and because we know these things, we strive to achieve that eternal happiness.
Over the last year, our lives have started to settle into a sort of beautiful rhythm.   I appreciate knowing that we have a routine. It’s not boring to me.
I love you now more than when we were first married.  While that first year was tough, it seems so much smaller now than it did even last year.  I feel so free with you, so happy.  I can share with you my deepest thoughts, my loveliest desires, and know that you will hold them safe in your heart.
Those who have not experienced the joy of being married can perhaps never know the safety, security, and peace that come from knowing that both parties are totally committed to each other, no matter what happens.  No matter how sick you are, no matter how frustrated I might become with work, no matter how naughty our kids are, we stick together and see each other through every tough situation.  I love you for that and hope each day that I can show you a little bit of that love.
It’s easy to find you sexy because you are.  While some may laugh and say that it’s because we’ve been together so long, you give me goosey sometimes…and I love it.
You are my darling.  My fresh, exquisite, handsome, lazy-n-sleepy husband and I am grateful each morning when I wake up next to you.  Nine years or ninety, your love is my treasure and I’ll never throw that away.
I love you, and happy anniversary.
July 16, 2009
Your Jo.
I don’t know, we are both just different, but the three things I mentioned above has made us a solid partner (and you see our nicknames’ identical…halah, apa hubungannya ya?). May Allah  always bless our love forever, amiin…

Lebaran without Mudik

mudikTahun 2009 ini saya tidak pulkam, karena tahun kemarin sudah mudik. Saya termasuk golongan yang nggak fanatik sama mudik Lebaran, jika dihitung2 semenjak menikah 9 tahun lalu sd sekarang, saya baru 4x mudik. Mudik pertama itu tahun 2002, anak pertama baru usia 1 tahun dengan hasil dia diopname di RS Lavalette Malang karena diare dan ISPAnya kambuh. Semenjak itu saya janji nggak akan pulkam jika punya anak masih kecil. Mudik ke-2 yaitu tahun 2004, anak kedua masih umur 1 tahun tapi harus mudik juga karena selepas Lebaran saya harus nyusul suami  sekaligus pindah tugas baru ke Balikpapan. Alhamdulillah dia sehat2 saja (thank to ASI, too). Tahun 2005 saya pulkam pas acara pernikahan adik bungsu, sekalian nunggu panggilan pelantikan Widyaiswara saya di kampung halaman saya. Yang terjadi saat di bandara, anak pertama sakit sampai muntah-muntah, demam sampai 3 hari, adiknya juga kumat sakit giginya. Tahun kemaren, entah kenapa kami sekeluarga kepengen banget pulkam, jadi lsg saja beli tiket Gajayana PP untuk 4 orang. Tapi kami ngga berani sering keliling2 kota karena takut anak2 kecapekan dan sakit, terutama si kecil yang nomr 3 (wong tiket balik udah beli). So, mudik kemaren nggak banyak ceritanya deh.

Jadilah tahun ini kami tidak mudik ke Malang. Kalau dipikir2, mungkin ini yang terbaik buat kami. Anak2 masih bisa jalan2 ke Taman Mini atau Dufan jika bete di rumah mertua, terus yang jelas ongkos Lebaran juga lebih ngirit dibanding tahun lalu yang dihitung2 juga jadi lebih dari 2x gaji. Meski ngga mudik, Lebaran kan identik dengan pengeluaran ekstra: ZIS buat semua orang di rumah termasuk pembantu, THR pembantu 3 orang plus 1 orang ojek langganan kami, THR ortu, parsel lebaran, angpao ponakan2, uang jalan2, belum printil2 tak terduga lainnya mesti disiapkan. Alhamdulillah rejeki Lebaran ada saja meskipun kami PNS ngga dapat THR.

So, buat yang ngga mudik, nikmatilah Jakarta yang ngga macet (luar biasa deh…dari Pondok Aren ke Ponodk Bambu cuma 30 menit, coba kalau hari biasa…). Selamat menuntaskan semua amalan Ramadhan dengan sebaik2nya dan Selamat Idul Fitri 1430 H. Semoga Allah mengampuni dosa2 kita dan menerima segala ibadah dan amalan kita, amiiin…

Teaching at STAN (Again)

This semester, I got 4 classes to teach at STAN. I have already asked for a break at leat two semesters to focus on my thesis and office work at Pusdiklat Keuangan Umum; still, STAN put me in their list this semester. It’s such a big burden again for me, yet I’ll take that since I do love teaching. It is a legitimate skill like those in any other profession, so I have to be professional. I have to show everyone that I have the skills training, experience, compassion and commitment to make my students successful. Another reason is that I really love to facilitate and nurture the intellectual growth of my students, so that in turn, they are inspired to learn and motivated to achieve mastery of the subject that I teach.

So, my plan this semester, I have to ask a TA to help me handle my class in case I am not able to come to class. An assistant can also help me to improve my syllabus and evaluate my  teaching process in class. This will cost me extra money, but I doesn’t really matter. I gain enthusiasm by doing things the way I like it to be.

Teaching is by no means an easy task. But it is also fascinating challenge because it really isn’t about teaching at all.  It’s about learning — there’s another person involved in all of this. So, okay, I will teach four classes again this semester.

So,