GENDER

Akhirnya nemu juga artikel tentang gender. Ternyata konsep gender yang kutahu selama ini itu salah. Makanya kita repost di sini ya artikelnya, it’s worth reading…sumbernya dari sbektiistiyanto.files.wordpress.com, (so many thanks ya Mas Bekti…).

GENDER

 

1. SEKS DAN GENDER

Sejak dua dasawarsa terakhir, diskursus tentang gender sudah mulai ramai dibicarakan orang. Berbagai peristiwa seputar dunia perempuan di berbagai penjuru dunia ini juga telah mendorong semakin berkembangnya perdebatan panjang tentang pemikiran gerakan feminisme yang berlandaskan pada analisis “hubungan gender”.

Berbagai kajian tentang perempuan digelar, di kampus-kampus, dalam berbagai seminar, tulisan-tulisan di media massa, diskusi-diskusi, berbagai penelitian dan sebagainya, yang hampir semuanya mempersoalkan tentang diskriminasi dan ketidakadilan yang menimpa kaum perempuan. Pusat-pusat studi wanita pun menjamur di berbagai universitas yang kesemuanya muncul karena dorongan kebutuhan akan konsep baru untuk memahami kondisi dan kedudukan perempuan dengan menggunakan perspektif yang baru.

Dimasukkannya konsep gender ke dalam studi wanita tersebut, menurut Sita van Bemmelen paling tidak memiliki dua alasan. Pertama, ketidakpuasan dengan gagasan statis tentang jenis kelamin. Perbedaan antara pria dan wanita hanya menunjuk pada sosok biologisnya dan karenanya tidak memadai untuk melukiskan keragaman arti pria dan wanita dalam pelabagi kebudayaan. Kedua, gender menyiratkan bahwa kategori pria dan wanita merupakan konstruksi sosial yang membentuk pria dan wanita. (dalam Ibrahim dan Suranto, 1998: xxvi)

Namun ironisnya, di tengah gegap gempitanya upaya kaum feminis memperjuangkan keadilan dan kesetaraan gender itu, masih banyak pandangan sinis, cibiran dan perlawanan yang datang tidak hanya dari kaum laki-laki, tetapi juga dari kaum perempuan sendiri. Masalah tersebut mungkin muncul dari ketakutan kaum laki-laki yang merasa terancam oleh kebangkitan perempuan atau mungkin juga muncul dari ketidaktahuan mereka, kaum laki-laki dan perempuan akan istilah gender itu sendiri dan apa hakekat dari perjuangan gender tersebut.

Bertolak dari fenomena tersebut maka konsep penting yang harus dipahami terlebih dahulu sebelum membicarakan masalah perempuan ini adalah perbedaan antara konsep seks (jenis kelamin) dengan konsep gender.  Pemahaman yang mendalam atas kedua konsep tersebut sangatlah penting karena kesamaan pengertian (mutual understanding) atas kedua kata kunci dalam pembahasan bab ini akan menghindarkan kita dari kemungkinan pemahaman-pemahaman yang keliru dan tumpang tindih antara masalah-masalah perempuan  yang muncul karena perbedaan akibat seks dan masalah-masalah perempuan yang muncul akibat hubungan gender, disamping itu juga untuk memudahkan pemahaman atas konsep gender yang merupakan kata dan konsep asing ke dalam konteks Indonesia.

  1. Pengertian

Selama lebih dari sepuluh tahun istilah gender meramaikan berbagai diskusi tentang masalah-masalah perempuan, selama itu pulalah istilah tersebut telah mendatangkan ketidakjelasan-ketidakjelasan dan kesalahpahaman tentang apa yang dimaksud dengan konsep gender dan apa kaitan konsep tersebut dengan usaha emansipasi wanita yang diperjuangkan kaum perempuan tidak hanya di Indonesia yang dipelopori ibu Kartini tetapi juga di pelbagai penjuru dunia lainnya.

Kekaburan makna  atas istilah gender ini telah mengakibatkan perjuangan gender menghadapi banyak perlawanan yang tidak saja datang dari kaum laki-laki yang merasa terancam “hegemoni kekuasaannya” tapi juga datang dari kaum perempuan sendiri yang tidak paham akan apa yang sesungguhnya dipermasalahkan oleh perjuangan gender itu.

Konsep gender pertama kali harus dibedakan dari konsep seks atau jenis kelamin secara biologis. Pengertian seks atau jenis kelamin secara biologis merupakan pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis, bersifat permanen (tidak dapat dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan), dibawa sejak lahir dan merupakan pemberian Tuhan; sebagai seorang laki-laki atau seorang perempuan.

Melalui penentuan jenis kelamin secara biologis ini maka dikatakan bahwa seseorang akan disebut berjenis kelamin laki-laki jika ia memiliki penis, jakun, kumis, janggut, dan memproduksi sperma . Sementara seseorang disebut berjenis kelamin perempuan jika ia mempunyai vagina dan rahim sebagai alat reproduksi, memiliki alat untuk menyusui (payudara) dan mengalami kehamilan dan proses melahirkan. Ciri-ciri secara biologis ini sama di semua tempat, di semua budaya dari waktu ke waktu dan tidak dapat dipertukarkan satu sama lain.

Berbeda dengan seks atau jenis kelamin yang diberikan oleh Tuhan dan sudah dimiliki seseorang ketika ia dilahirkan sehingga menjadi kodrat manusia, istilah gender yang diserap dari bahasa Inggris dan sampai saat ini belum ditemukan padanan katanya dalam Bahasa Indonesia, —kecuali oleh sebagian orang yang untuk mudahnya telah mengubah gender menjadi jender— merupakan rekayasa sosial, tidak bersifat universal dan memiliki identitas yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh faktor-faktor ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, agama, etnik, adat istiadat, golongan, juga faktor sejarah, waktu dan tempat serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. (Kompas, 3 September 1995)

Oleh karena gender merupakan suatu istilah yang dikonstruksi secara sosial dan kultural untuk jangka waktu yang lama, yang disosialisasikan secara turun temurun  maka pengertian yang baku tentang konsep gender ini pun belum ada sampai saat ini, sebab pembedaan laki-laki dan perempuan berlandaskan hubungan gender dimaknai secara berbeda dari satu tempat ke tempat lain, dari satu budaya ke budaya lain dan dari waktu ke waktu. Meskipun demikian upaya untuk mendefinisikan konsep gender tetap dilakukan dan salah satu definisi gender telah dikemukakan oleh Joan Scoot, seorang sejarahwan, sebagai  “a constitutive element of social relationships based on perceived differences between the sexes, and…a primary way of signifying relationships of power.” (1986:1067)

Sebagai contoh dari perwujudan konsep gender sebagai sifat yang melekat pada laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan budaya, misalnya jika dikatakan bahwa seorang laki-laki itu lebih kuat, gagah, keras, disiplin, lebih pintar, lebih cocok untuk bekerja di luar rumah dan  bahwa seorang perempuan itu lemah lembut, keibuan, halus, cantik, lebih cocok untuk bekerja di dalam rumah (mengurus anak, memasak dan membersihkan rumah) maka itulah gender dan itu bukanlah kodrat karena itu dibentuk oleh manusia.

Gender bisa dipertukarkan satu sama lain, gender bisa berubah dan berbeda dari waktu ke waktu, di suatu daerah dan  daerah yang lainnya. Oleh karena itulah, identifikasi seseorang dengan menggunakan perspektif gender tidaklah bersifat universal. Seseorang dengan jenis kelamin laki-laki mungkin saja bersifat keibuan dan lemah lembut sehingga dimungkinkan pula bagi dia untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan pekerjaan-pekerjaan lain yang selama ini dianggap sebagai pekerjaan kaum perempuan. Demikian juga sebaliknya seseorang dengan jenis kelamin perempuan bisa saja bertubuh kuat, besar pintar dan bisa mengerjakan perkerjaan-pekerjaan yang selama ini dianggap maskulin dan dianggap sebagai wilayah kekuasaan kaum laki-laki.

Disinilah kesalahan pemahaman akan konsep gender seringkali muncul, dimana orang sering memahami konsep gender yang merupakan rekayasa sosial budaya sebagai “kodrat”, sebagai sesuatu hal yang sudah melekat pada diri seseorang, tidak bisa diubah dan ditawar lagi. Padahal kodrat itu sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, antara lain berarti “sifat asli; sifat bawaan”. Dengan demikian gender yang dibentuk dan terbentuk sepanjang hidup seseorang oleh pranata-pranata sosial budaya yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi bukanlah bukanlah kodrat.

2. GENDER DAN SOSIALISASI

  1. Pengertian Sosialisasi

Kuatnya citra gender sebagai kodrat, yang melekat pada benak masyarakat, bukanlah merupakan akibat dari suatu proses sesaat melainkan telah melalui suatu proses dialektika, konstruksi sosial, yang dibentuk, diperkuat, disosialisasikan secara evolusional dalam jangka waktu yang lama, baik melalui ajaran-ajaran agama, negara, keluarga maupun budaya masyarakat, sehingga perlahan-lahan citra tersebut mempengaruhi masing-masing jenis kelamin, laki-laki dan perempuan secara biologis dan psikologis.

Melalui proses sosialisasi, seseorang akan terwarnai cara berpikir dan kebiasaan-kebiasaan hidupnya. Dengan proses sosialisasi, seseorang “diharapkan” menjadi tahu bagaimana ia mesti bertingkah laku di tengah-tengah masyarakat dan lingkungan budayanya, sehingga bisa menjadi manusia masyarakat dan “beradab”.

Sosialisasi merupakan salah satu proses belajar kebudayaan dari anggota masyarakat dan hubungannya dengan sistem sosial. Sosialisasi menitikberatkan pada masalah individu dalam kelompok. Oleh karena itu proses sosialisasi melahirkan kedirian dan kepribadian seseorang. (Soelaeman, 1998:109)

Kedirian sebagai suatu produk sosialisasi, merupakan kesadarn terhadap diri sendiri dan memandang adanya pribadi orang lain di luar dirinya. Adapun asal mula timbulnya kedirian antara lain karena:

a)  Dalam proses sosialisasi seseorang mendapat bayangan dirinya, yaitu setelah memperhatikan cara orang lain memandang dan memperlakukan dirinya. Misalnya, apakah dirinya dianggap baik, buruk, pintar, cantik dan sebagainya.

b)  Dalam proses sosialisasi juga membentuk kedirian yang ideal. Orang yang bersangkutan mengetahui dengan pasti apa-apa yang harus dia lakukan agar memperoleh penghargaan dari orang lain.

Proses sosisalisasi sebenarnya berawal dari dalam keluarga. Gambaran diri seseorang merupakan pantulan perhatian yang diberikan keluarga kepada dirinya. Persepsinya tentang diri, tentang dunia dan masyarakat sekelilingnya secara langsung dipengaruhi oleh tindakan dan keyakinan keluarganya. Sehingga nilai-nilai yang dimiliki oleh seorang individu dan berbagai peran yang diharapkan dilakukan olehnya, smeua berawal dari dalam lingkungan sendiri.

Proses sosialisasi ini tidak berhenti sampai pada keluarga saja, tapi masih ada lembaga lain. Cohan (1983) mengatakan bahwa lembaga-lembaga sosialisasi yang terpenting ialah keluarga, sekolah, kelompok sebaya dan media massa.

Sosialisasi pada dasarnya menunjuk pada semua faktor dan proses yang membuat setiap manusia menjadi selaras dalam hidupnya di tengah-tengah orang lain. Sehingga meskipun proses sosialisasi yang dijalani setiap orang tidak selalu sama, namun secara umum sasaran sosialisasi itu sendiri hampir sama di berbagai tempat dan budaya, yaitu antara lain:

a)  Individu harus diberi ilmu pengetahuan (keterampilan) yang dibutuhkan bagi kehidupan kelak di masyarakat.

b)  Individu harus mampu berkomunikasi secara efektif dan mengembangkan kemampuannya.

c)  Pengendalian fungsi-fungsi organik yang dipelajari melalui latihan-latihan mawas diri yang tepat.

d)  Bertingkah laku selaras dengan norma atau tata nilai dan kepercayaan pokok yang ada pada lembaga atau kelompok khususnya dan masyarakat umumnya.

  1. Sosialisasi  Peran Gender

Pranata sosial yang kita masuki segabai individu, sejak kita memasuki keluarga pada saat lahir, melalui pendidikan, kultur pemuda, dan ke dalam dunia kerja dan kesenangan, perkawinan dan kita mulai membentuk keluarga sendiri, memberi pesan yang jelas kepada kita bagaimana orang “normal” berperilaku sesuai dengan gendernya.(Mosse, 1996:63)

Karena konstruksi sosial budaya gender, seorang laki-laki misalnya haruslah bersifat kuat, agresif, rasional, pintar, berani dan segala macam atribut kelelakian lain yang ditentukan oleh masyarakat tersebut, maka sejak seorang bayi laki-laki lahir, dia sudah langsung dibentuk untuk “menjadi’ seorang laki-laki, dan disesuaikan dengan atribut-atribut yang melekat pada dirinya itu. Demikian pula halnya dengan seorang perempuan yang karena dia lahir dengan jenis kelamin perempuan maka dia pun kemudian dibentuk untuk “menjadi” seorang perempuan sesuai dengan kriteria yang berlaku dalam suatu masyarakat dan budaya dimana dia lahir dan dibesarkan, misalnya bahwa karena dia dilahirkan sebagai seorang perempuan maka sudah menjadi “kodrat” pula bagi dia untuk menjadi sosok yang cantik, anggun, irrasional, emosional dan sebagainya.

Proses sosialisasi peran gender tersebut dilaksanakan melalui berbagai cara, dari mulai pembedaan pemilihan warna pakaian, accessories, permainan, perlakuan dan sebagainya yang kesemuanya diarahkan untuk mendukung dan memapankan proses pembentukan seseorang “menjadi” seorang laki-laki atau seorang perempuan sesuai dengan ketentuan sosial budaya setempat.

Pembedaan identitas berdasarkan gender  tersebut telah ada jauh sebelum seseorang itu lahir. Sehingga ketika pada akhirnya dia dilahirkan ke dunia ini, dia sudah langsung masuk ke dalam satu lingkungan yang menyambutnya dengan serangkaian tuntutan peran gender. Sehingga seseorang terpaksa menerima identitas gender yang sudah disiapkan untuknya dan menerimanya sebagai sesuatu hal yang benar, yang alami dan yang baik. Akibatnya jika terjadi penyimpangan terhadap peran gender yang sudah menjadi bagian dari landasan kultural masyarakat dimana dia hidup, maka masyarakat pun lantas menilai hal tersebut sebagai sesuatu yang negatif bahkan mungkin sebagai penentang terhadap budaya yang selama ini sudah mapan. Dan sampai sejauh ini yang sering menjadi korban adalah kaum perempuan.

Sebagai contoh dalam adat budaya Jawa di Indonesia, seorang budayawan terkemuka, Umar Kayam, mengungkapkan bahwa sebutan wanita sebagai kanca wingking (teman di belakang) merupakan pengembangan dialektika budaya adiluhung. Sosok budaya inilah yang berkembang di bawah ilham “halus – kasar” yang secara tegar menjelajahi semua sistem masyarakat Jawa. Sistem kekuasaan feodal aristokratik, demikian Kayam, telah menetapkan wanita untuk memiliki peran atau role menjadi “penjaga nilai-nilai halus-kasar dan adiluhung” di dalam rumah.(Kompas, 23 Oktober 1995)

Penjajahan kultural yang demikian panjang dan membuat perempuan lebih banyak menjadi korban itu terus dilestarikan. Tidak jarang, alasan-alasan kultural memberikan legitimasi sangat ampuh. Ia dicekokkan melalui pelbagai pranata sosial dan adat istiadat yang mendarahdaging dalam jantung kesadaran anggotanya. Rasionalisasi kultural inilah yang pada gilirannya membuat perempuan secara psikologis mengidap sesuatu yang oleh Collete Dowling disebut Cinderella Complex, suatu jaringan rasa takut yang begitu mencekam, sehingga kaum wanita merasa tidak berani dan tidak bisa memanfaatkan potensi otak dan daya kreativitasnya secara penuh. (Ibrahim dan Suranto, 1998:xxvi)

Sosialisasi yang jika kita cermati pengertiannya, yaitu merupakan sebuah proses yang membantu individu melalui belajar dan penyesuaian diri, bagaimana bertindak dan berpikir agar ia dapat berperan dan berfungsi baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. (Noor, 1997:102) telah juga dilakukan tidak hanya melalui lembaga keluarga dan lembaga adat, melainkan juga oleh lembaga negara dan lembaga pendidikan.

Pemapanan citra bahwa seorang perempuan itu lebih cocok berperan sebagai seorang ibu dengan segala macam tugas domestiknya yang selalu dikatakan sebagai “urusan perempuan”, seperti membersihkan rumah, mengurus suami dan anak, memasak, berdandan dan sebagainya. Sementara citra laki-laki, disosialisasikan secara lebih positif, dimana dikatakan bahwa laki-laki karena kelebihan yang dimilikinya maka lebih sesuai jika dibebani dengan “urusan-urusan laki-laki” pula dan lebih sering berhubungan dengan sektor publik, seperti mencari nafkah, dengan profesi yang lebih bervariasi daripada perempuan. Kesemua itu disosialisasikan sejak dari kelas satu Sekolah Dasar melalui buku-buku pelajaran di sekolah hingga Panca Dharma Wanita, yang menyatakan bahwa tugas utama seoarang perempuan adalah sebagai “pendamping” suami, dan itulah yang diyakini secara salah oleh sebagian orang sebagai “kodrat wanita.”

3. GENDER DAN STRATIFIKASI

Pembedaan laki-laki dan perempuan berlandaskan gender mungkin tidak akan mendatangkan masalah jika  pembedaan itu tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender inequalities) baik bagi kaum laki-laki maupun bagi kaum perempuan. Meski ketidakadilan itu lebih banyak dirasakan oleh kaum perempuan, sehingga bermunculanlah gerakan-gerakan perjuangan gender.

Ketidakadilan gender tersebut antara lain termanifestasi pada penempatan perempuan dalam stratifikasi sosial masyarakat, yang pada kelanjutannya telah menyebabkan kaum perempuan mengalami apa yang disebut dengan marginalisasi dan subordinasi.

  1. Pengertian Stratifikasi

Bila ditinjau dari asal katanya, istilah stratifikasi berasal dari kata stratus yang artinya lapisan (berlapis-lapis). Sehingga dengan istilah stratifikasi diperoleh gambaran bahwa dalam tiap kelompok masyarakat selalu terdapat perbedaan kedudukan seseorang dari yang berkedudukan tinggi sampai yang berkedudukan rendah, berlapis-lapis dari atas ke bawah.

Pelapisan sosial dalam masyarakat tersebut terjadi karena adanya “sesuatu” yang dihargai dalam masyarakat tersebut. Misalnya, berupa pemilikian uang atau benda-benda ekonomis lainnya seperti mobil, rumah, benda-benda elektronik dan lain sebagainya. Pemilikan kekuasaan, ilmu pengetahuan, agama atau keturunan keluarga. Untuk selanjutnya masyarakat dinilai dan ditempatkan pada lapisan-lapisan tertentu berdasarkan tingkat kemampuannya dalam memiliki “sesuatu” yang dihargai tersebut.

Proses terjadinya pelapisan dalam masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya atau sengaja disusun untuk mencapai satu tujuan bersama, misalnya pembagian kekuasaan dan wewenang yang resmi dalam organisasi formal.

Disamping itu, pelapisan dalam masyarakat juga bisa bersifat tertutup, dimana didalamnya tidak memungkinkan pindahnya seseorang dari satu lapisan ke lapisan lain, baik gerak pindahnya ke atas maupun ke bawah. Misalnya, penempatan seseorang dalam lapisan tertentu yang diperoleh berdasarkan kelahiran. Contoh paling banyak terdapat pada masyarakat dengan sistem kasta, masyarakat feodal dan masyarakat rasial. Sementara pada masyarakat dengan sistem pelapisan terbuka, setiap orang mempunyai kesempatan untuk naik ke lapisan yang lebih tinggi tetapi juga  dimungkinkan untuk jatuh ke lapisan yang lebih rendah.

  1. Stratifikasi Perempuan Berlandaskan Perbedaan Gender

Jika kita mengaitkan masalah gender dengan stratifikasi maka mau tidak mau kita harus melihat kembali pada proses sosialisasi  yang telah mengawali pemapanan pembedaan laki-laki dan perempuan berdasarkan hubungan gender.

Selama ini telah disosialisasikan, ditanamkan  sedemikian rupa, ke dalam benak, ke dalam pribadi-pribadi seseorang, laki-laki dan perempaun, bahwa karena “kodrat”-nya seorang laki-laki berhak dan sudah seharusnya untuk mendapat kebebasan, mendapat kesempatan yang lebih luas daripada perempuan. Tuntutan nilai-nilai yang ditentukan oleh masyarakat telah mengharuskan seorang laki-laki untuk lebih pintar, lebih kaya, lebih berkuasa daripada seorang perempuan. Akibatnya segala perhatian dan perlakuan yang diberikan kepada masing-masing dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan tersebut pun disesuaikan dan diarahkan untuk memenuhi tuntutan tersebut. Kepada laki-laki diberikan prioritas dan kesempatan lebih luas untuk sekolah dan menuntut ilmu lebih tinggi daripada kesempatan yang diberikan kepada kaum perempuan. Kepada kaum laki-laki pula dibuka pintu selebar-lebarnya untuk bekerja di berbagai sektor publik dalam dunia pekerjaan yang dianggap maskulin, sementara perempuan lebih diarahkan untuk masuk ke sektor domestik dengan pekerjaan-pekerjaan yang selama ini memang dianggap sebagai “urusan” perempuan.

Bertolak dari kondisi tersebut maka akses perempuan terhadap “sesuatu” yang dihargai dalam masyarakat, yang menjadi sumber kelahiran pelapisan dalam masyarakat pun menjadi sangat rendah. Sehingga kaum perempuan dengan segala keterbatasan yang sudah ditentukan oleh masyarakat untuknya terpaksa menempati lapisan yang lebih rendah di masyarakat daripada kaum laki-laki.

Kondisi yang telah menempatkan kaum perempuan dalam posisi yang tidak menguntungkan di atas telah juga melahirkan pelbagai bentuk ketidakadilan gender (gender inequalities) yang termanifestasi antara lain dalam bentuk:

a)  Marginalisasi

Proses marginalisasi, yang merupakan proses pemiskinan terhadap perempuan, terjadi sejak di dalam rumah tangga dalam bentuk diskriminasi atas anggota keluarga laki-laki dengan anggota keluarga perempuan. Marginalisasi juga diperkuat oleh adat istiadat maupun tafsir keagamaan. Misalnya, banyak diantara suku-suku di Indonesia yang tidak memberi hak kepada kaum perempuan untuk mendapatkan waris sama sekali atau hanya mendapatkan separuh dari jumlah yang diperoleh kaum laki-laki.

Demikian juga dengan kesempatan dalam memperoleh pekerjaan, berbeda antara laki-laki dan perempuan, yang akibatnya juga melahirkan perbedaan jumlah pendapatan antara laki-laki dan perempuan.

Seorang perempuan yang bekerja sepanjang hari di dalam rumah, tidaklah dianggap “bekerja” karena pekerjaan yang dilakukannya, seberapapun banyaknya, dianggap tidak produktif secara ekonomis. Namun seandainya seorang perempuan “bekerja” pun (dalam arti di sektor publik) maka penghasilannya hanya dapat dikategorikan sebagai penghasilan tambahan saja sebagai penghasilan seorang suami tetap yang utama, sehingga dari segi nominal pun perempuan lebih sering mendapatkan jumlah yang lebih kecil daripada kaum laki-laki.

Mengenai marginalisasi perempuan ini, Ivan Illich mengungkapkan sebuah fakta sebagai berikut:

Selama bertahun-tahun ini, diskriminasi terhadap perempuan dalam pekerjaan-pekerjaan yang berupah, yang terkena pajak, dan yang dilaporkan atau dipantau secara resmi, kedalamannya tidak berubah namun volumenya makin bertambah. Kini 51 % perempuan di Amerika Serikat bekerja di luar rumah, sementara tahun 1880 hanya tercatat 5%. Jika pada tahun 1880 dalam keseluruhan tenaga kerja di Amerika hanya 15% yang perempuan sekarang mencapai 42%. Kini separuh dari semua perempuan yang sudah kawin punya penghasilan sendiri dari suatu pekerjaan luar rumah, sementara seabad silam hanya 5% yang memiliki pendapatan sendiri. Sekarang hukum membuka kesempatan pendidikan serta karier bagi perempuan, sedangkan pada tahun 1880 banyak yang tertutup baginya. Sekarang rata-rata perempuan menghabiskan 28 tahun sepanjang hidupnya untuk bekerja sementara tahun 1880 angka rata-rata yang tercatat hanya 5 tahun. Ini semua kelihatan seperti langkah-langkah penting ke arah kesetaraan ekonomis, tapi tunggu sampai Anda terapkan alat ukur yang tepat. Upah rata-rata tahunan perempuan yang bekerja penuh-waktu masih mandek pada rasio magis dibanding pendapatan laki-laki, yakni 3:5 —-59%, dengan kenaikan atau penurunan 3% — persis persentase seratus tahun silam. Kesempatan pendidikan, ketersediaan perlindungan hukum, retorika revolusioner — politis, teknologis, atau seksual —tak mengubah apa-apa sehubungan dengan rendahnya pendapatan perempuan dibanding laki-laki. (1998:16)

b.  Subordinasi

Pandangan berlandaskan gender juga ternyata bisa mengakibatkan subordinasi terhadap perempuan. Anggapan bahwa perempuan itu irrasional atau emosional berakibat munculnya sikap menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting.

Subordinasi karena gender tersebut terjadi dalam segala macam bentuk yang berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya.

Salah satu konsekuensi dari posisi subordinat perempuan ini adalah perkembangan keutamaan atas anak laki-laki. Seorang perempuan yang melahirkan bayi laki-laki akan lebih dihargai daripada seorang perempuan yang hanya melahirkan bayi perempuan. Demikian juga dengan bayi-bayi yang baru lahir tersebut. Kelahiran seorang bayi laki-laki akan disambut dengan kemeriahan yang lebih besar dibanding dengan kelahiran seorang bayi perempuan.

Subordinasi juga muncul dalam bentuk kekerasan yang menimpa kaum perempuan. Kekerasan yang menimpa kaum perempuan termanifestasi  dalam berbagai wujudnya, seperti perkosaan, pemukulan, pemotongan organ intim perempuan (penyunatan) dan pembuatan pornografi.

Hubungan subordinasi dengan kekerasan tersebut karena perempuan dilihat sebagai objek untuk dimiliki dan diperdagangkan oleh laki-laki, dan bukan sebagai individu dengan hak atas tubuh dan kehidupannya. (Mosse, 1996:76)

Anggapan bahwa perempuan itu lebih lemah atau ada di bawah kaum laki-laki juga sejalan dengan pendapat teori nature yang sudah ada sejak permulaan lahirnya filsafat di dunia Barat. Teori ini beranggapan bahwa sudah menjadi “kodrat” (sic!) wanita untuk menjadi lebih lemah dan karena itu tergantung kepada laki-laki dalam banyak hal untuk hidupnya. (Budiman, 1985: 6) Bahkan Aristoteles mengatakan bahwa wanita adalah laki-laki – yang – tidak lengakap. (Ibid.)

Demikianlah pendikotomian laki-laki dan perempuan berdasarkan hubungan gender  nyata sekali telah mendatangkan ketidakadilan gender bagi perempuan yang termanifestasi dalam berbagai  wujud dan bentuknya. Karena diskriminasi gender perempuan diharuskan untuk patuh pada “kodrat” –nya yang telah ditentukan oleh masyarakat untuknya. Karena diskriminasi pula perempuan harus menerima stereotype yang dilekatkan pada dirinya yaitu bahwa perempuan itu irrasional, lemah, emosional dan sebagainya sehingga kedudukannya pun selalu subordinat terhadap laki-laki, tidak dianggap penting bahkan tidak dianggap sejajar dengan laki-laki, sehingga perempuan diasumsikan harus selalu menggantungkan diri dan hidupnya kepada laki-laki.

Bertolak dari kondisi demikianlah maka jika dulu Karl Marx memperjuangkan kesamaan kelas, kini  kaum feminis menggemakan perjuangannya, untuk memperoleh kesetaraan gender. Untuk memperoleh kedudukan dan hak yang sama dengan laki-laki.

DAFTAR   PUSTAKA

Budiman, Arief, Pembagian Kerja Secara Seksual, Sebuah Pembahasan Sosiologis tentang Peran Wanita di dalam Masyarakat. Jakarta, Gramedia,1985

Fakih, Mansour, DR. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997

Ibrahim, Idi Subandy dan Hanif Suranto, (ed). Wanita dan Media. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1998

Illich, Ivan. Matinya Gender. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998

Mosse, Julia Cleves. Gender dan Pembangunan. Yogyakarta: Rifka Annisa Women’s Crisis Center dan Pustaka Pelajar, 1996

Munir, Lily Zakiyah, (ed). Memposisikan Kodrat. Bandung: Mizan, 1999

Noor, H. M. Arifin, Drs. Ilmu Sosial Dasar. Bandung: Pustaka Setia, 1997

Saptari, Ratna dan Brigitte Holzner. Perempuan Kerja dan Perubahan Sosial. Sebuah Pengantar Studi Perempuan. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1997

Soelaeman, M. Munandar. Ir. MS. Ilmu Sosial Dasar, Teori dan Konsep Ilmu Sosial. Bandung: Refika Aditama, 1998

Paris Tenan

Kenapa saya kasih judul Paris Tenan? Soalnya ini cerita impian yang jadi tenanan (kenyataan).

Saya ngga punya visa Schengen (nggak sempat ngurus karena sudah mepet dengan jadwal berangkat ke Belanda), tapi ngidam banget ingin ke sana. Sewaktu kunjungan ke Kedutaan RI di Den Haag, saya nanya langsung ke Pak Dubes apa dimungkinkan kita ke ke Perancis, Inggris, atau Jerman hanya dengan membawa paspor biru kita saja. Jawaban beliau tegas2 TIDAK, tanpa visa Schengen jangan coba-coba deh, ngrepotin Kedutaan juga kalau ketangkap petugas imigrasi sana. Alamaak, sudah nambah sangu 800 Euro buat keliling Eropa, terganjal visa entu, masak duitku harus mubazir sih? Tapi berhubung saya orang nekat, ditambah juga ada seorang teman cewek yang stengah gila (ha ha sorry Thenk) tapi punya teman yang domisili di Paris dan satu cowok nekat pula (pernah punya pengalaman ketangkep petugas imigrasi Korea krn ngga punya visa, ngandalin visa Japanese student he he), so nekatlah kita bertiga di Sabtu subuh buta menuju Paris naik kereta dulu dari Schipol ke Brussel lalu ganti Thalys menuju Paris. Deg2an campur seneng ketika bisa menginjakkan kaki di stasiun Gare du Nord di Paris, habis di mana2 ada polisi  dan PM sliweran, tetapi berhubung kita pasang gaya cuek dan tidak mencurigakan, selamatlah kita keluar dari stasiun. Horeee!!!

Efi n Thalys

Waktu kita tidak banyak, tapi setidaknya kita bisa ke Eifel Tower, Notre Dame de Paris, Arc de Triomphe, Champs Elysees, Jardins de Luxembourg, Louvre museum meskipun cuma sebentar.

Eloknya jalan2 di Paris. Mana orang2nya cakep2, ngga ada yang jelek. Cuman ngga tahu ya, banyak banget PDA di sini (public  display of  affection alias orang pamer pacaran di mana2 ngga kenal umur. Yang tua2 juga masih romantis dengan pasangannya, agak susah ngambil foto di area publik coz pasti deh ada yg lagi ciuman ikut kejepret (jijay!!). Pas lihat2 hasil memoto, ada sekita 25an gambar mesti kita umpetin, lha wong kita nggak sengaja motoin mereka kok, wkkk. Oya, kita jadi terbawa ritme orang Paris, banyak jalan kaki, sampai kadang2 spatu boots dilepas dan nyeker sepanjang jalan. Btw, kalo jalan kaki harap hati2, di Paris meskipun katanya kota mode sedunia dan tempat orang berselera tinggi, ternyata jalanannya nggak elit alias banyak ranjau darat, tahi anjing dimana-mana. Sueer bau banget, katanya sih Paris tempat para penyayang binatang, jadi kalo doggy mau pis dan pup dibiarin aja di jalanan, nanti jg ada petugas kebersihan yang khusus membersihkan tai2 itu (sorry nih ngomong kotor deh). Lain banget pas saya ke Jepang, cewek2 cantik bertas Channel, Gucci, Hermes, LV yang gendong2 anjing itu ternyata menyimpan e-ok piaraannya dalam tas mereka jika mereka berhajat di jalan. Betapa mahalnya wadah eok doggy di Jepun :D

Paris is LV

Kita juga menyusuri Champs-Élysées   yang katanya adalah jalanan terindah di dunia (menurutku sih nggak indah2 amat, tapi setuju kalau disebut jalanan termahal di dunia, coz butik2, cafe2 dan resto2 termahal ada di sini.) Jalanannya sih elegan, lebar dan nyaman buat pejalan kaki, dengan pohon2 chesnut berjejeran.  Kita bisa jalan dari Place de la Concorde  ke Arc de Triomphe. Yang unik waktu liat antrian untuk beli di Louis Vuitton House, pelanggan baru bisa masuk ke toko jika pelanggan di dalam (dibatasi beberapa orang saja) sudah keluar, security guard nya necis tapi sangar2 deh.

Malamnya kita menginap di rumah Teh Rini di Croissy-sur-Seine, rumahnya besar , kamarnya banyak , ada 3 anjing lagi (lucu2 sih tp hi hi gelii). Yang bikin endah itu suaminya, Devan, a Malaysian engineer, jago banget masak. Pas kita dah rapi n wangi sehabis mandi n sholat, dipanggil mereka dinner di kebun, BBQ lamb n chicken plus nasi dan sambal dabu2, sedaapnya hidup. Kata Devan dia juga mw celebrate anniversary  mereka, makanya mereka juga undang a Singaporean couple untuk dinner bersama. Indahnya dinner di Paris, menikmati angin dingin tepian sungai Seine, it’s the night I won’t forget for the rest of my life, thanks Devan n Teh Rini.

Seine River

Pagi harinya masih dimanjakan dengan nasi goreng bikinan kang Devan, sadaap abiz.

Sehabis sarapan kita bergegas menuju istana Versailles sebelum balik ke stasiun untuk pulang ke Amsterdam.

Istana lagi renovasi, tapi nggak mengurangi jumlah turis yang berkunjung. Gara2 agak kelamaan fota-foto di depan istana Versailles, jadinya kita kebat-kebit nguber kereta  ke Gare du Nord. Tiket Thalys pulang kita itu tiket promo, kalo kita nggak nongol on time, wassalam hangus uang kita. Terjadilah kejar2an mirip banget adegan di Bourne Trilogy itu, ngga sempet mandek buat tarik napas. Kita bertiga lari sekitar 8 menitan, temen yang cowok  duluan karena kelamaan nungguin kita. Pas kita nyampai di platform Thalys yang ke Amsterdam, kita langsung aja masuk di sembarang gerbong, yang penting masuk KA dulu. Sambil masih setengah lari kita menuju gerbong kita yang ngga taunya masih jauh di ujung depan, pas nemu seat kita tiba2 terdengar “Priiit!” dan KA bergerak. Nyariiis…kita langsung duduk sembari napas sengal2 dan ngik2 persis orang asma, sampe2 mau ngomong saja nggak bisa coz napas dah hampir putus ha ha…jadi tontonan bule2 di sekitar kita: berdua kok aneh kaya copet mau ketangkep wkkk.

All in all, capek, pegel dan njarem kita terbayar dengan pengalaman indah di Paris. Ngga rugi ngerogoh kocek sendiri buat keluyuran ke sini.

Mimpiku ke Paris dadi kelaksanan tenan.

Paris, I shall be back!

More on Business Letters (Business Letters Part 2)


Hello again! In our last meeting, we learned about some common phrases in standard business letter and certain guidelines for a business letter. This time we are going to learn more about it.

We all know that the correspondence that comes out of a government office is the public face that an organization presents to its users and to other organizations. Since we want to present the best possible face to other bodies and to people with whom we deal with, it is important to ensure that our office correspondence is of a high quality. We can achieve this high quality by keeping three things: the layout (or formatting), the logical sequence of ideas, and reader-friendly language. This article will deal with the first aspect: the layout. The information is organized in the order in which we should write a business letter. After that, we will learn more about the format and font in business letters.

As we know that different organizations have different format requirements for their professional communication, and so does our Ministry of Finance (MOF). The Regulation of the Minister of Finance No.151/PMK.01/2010 is the guidance for MOF official documents and correspondence in Indonesian language. The examples provided here in this article contain common elements for the basic business letter (genre expectations). The examples here, which were taken from some units in MOF, are merely guides for correspondence in English.

So, here we go now first with the parts of business letters. These, starting from the top, are as follows:

Reference number

This is the file number for the letter. Our Ministry of Finance has certain guidance for external correspondence stated in the Regulation of the Minister of Finance No.151/PMK.01/2010 concerning general guidelines for Pedoman Tata Naskah Dinas Kementerian Keuangan.

Sender’s Address

The sender’s address is usually included in letterhead. In our Ministry of Finance, all formal letters use letterhead. But if we are not using letterhead, we can include the sender’s address at the top of the letter one line above the date. It is not necessary to write the sender’s name or title here, as it is included in the letter’s closing. Sender’s address only includes the street address, city, and zip code.

Date

The date line is used to indicate the date the letter was written. Usually we use the American date format for English business letters. (The US-based convention for formatting a date puts the month before the day, for example: June 11, 2012.) Write out the month, day and year two lines from the top of the page. Depending which format we are using for our letter, either left justify the date or tab to the center point and type the date.

Inside Address

The inside address is the recipient’s address. It is always best to write to a specific individual at the institution or unit to which we are writing. If we do not have the person’s name, do some research by calling the institution or speaking with employees from that unit. Include a personal title such as Ms., Mrs., Mr., or Dr. Follow a woman’s preference in being addressed as Miss, Mrs., or Ms. If we are unsure of a woman’s preference in being addressed, use Ms. If there is a possibility that the person to whom we are writing is a Dr. or has some other title, use that title. Usually, people will not mind being addressed by a higher title than they actually possess. To write the address, use the MOF format. For international addresses, type the name of the country in all-capital letters on the last line. The inside address begins one line below the sender’s address or one line below the date. It should be left justified, no matter which format we are using.

Salutation

Use the same name as the inside address, including the personal title. If we know the person and typically address them by their first name, it is acceptable to use only the first name in the salutation (for example: Dear Misail:). In all other cases, however, use the personal title and full name followed by a colon. Leave one line blank after the salutation.

If we don’t know a reader’s gender, use a nonsexist salutation, such as “To Whom It May Concern.” It is also acceptable to use the full name in a salutation if we cannot determine gender. For example, we might write Dear Dr. Eka Setya: if we were unsure of Eka’s gender.

A Subject Heading

This subject heading is optional in English correspondence.

Body

For block and modified block formats, single space and left justify each paragraph within the body of the letter. Leave a blank line between each paragraph. When we write a business letter, we must be careful to remember that conciseness is very important. In the first paragraph, consider a friendly opening and then a statement of the main point. The next paragraph should begin justifying the importance of the main point. In the next few paragraphs, continue justification with background information and supporting details. The closing paragraph should restate the purpose of the letter and, in some cases, request some type of action.

Closing

The closing begins at the same horizontal point as our date and one line after the last body paragraph. We should remember to capitalize the first word only (for example: Thank you) and leave four lines between the closing and the sender’s name for a signature. If a colon follows the salutation, a comma should follow the closing; otherwise, there is no punctuation after the closing.

Sender’s Signature

This is the part that must not be forgotten in any business correspondence, along with the official stamp.

Enclosures

If we have enclosed any documents along with the letter, such as a resume, we indicate this simply by typing Enclosures one line below the closing (this will be different from the Regulation of the Minister of Finance No.151/PMK.01/2010). As an option, we may list the name of each document we are including in the envelope. For instance, if we have included many documents and need to ensure that the recipient is aware of each document, it may be a good idea to list the names.

The following is one example that illustrates the layout of business letter:

INDONESIAN MINISTRY OF FINANCE

Finance Education and Training Agency

General Finance Affairs Training Center

Jl. Pancoran Timur II No. 1  Jakarta 12780

Our Ref: S-…/PP.7/2012

Mr. Joseph Powell

Director

ELT International

1000 KR Crescent

Singapore 119260

Dear Mr. Powell:

Re: Second Meeting of Curriculum Development for ESP Customs

I invite you or your delegate to attend the above meeting.

This is a follow-up meeting to the first we had earlier last month in Tangerang. The details of the next meeting are as follows.

Time               :   10.00 am to 1.00 pm

Date               :   February 20, 2012

Venue            :  1st floor Meeting Room

PKU Main Building

Jl. Pancoran Timur II No. 1 Jakarta

What we hope to do at this meeting is to discuss further the draft of the curriculum for ESP Customs training developed by our widyaiswara (trainer) and ways of implementing some decisions that we reached at the earlier meeting.

Please let me know whether you are coming to the meeting or sending a delegate in your place.

Yours sincerely,

(signed)

Ilhan Lasahido

Head of Planning and Development Division

Direct Line: 021-7996109

Encl: Draft of Curriculum.

We have seen the parts of business letters; now let us move on with other related things to formatting. When writing business letters, we must pay special attention to the format and font used. Here are the details.

Block Format

The most commonly used format is known as block format. Using this format, the entire letter is made justified and single spaced except for a double space between paragraphs.

Modified Block

Another widely utilized format is known as modified block format. In this type, the body of the letter and the sender’s and recipient’s addresses are left justified and single-spaced. However, for the date and closing, tab to the center point and begin to type.

Semi-Block

The final style is semi-block. It is much like the modified block style except that each paragraph is indented instead of left justified.

Most of our computers are equipped with Microsoft Office 2007, it don’t take much of the guesswork out of formatting business letters.

Font

Another important factor in the readability of a letter is the font. The generally and internationally accepted font is Times New Roman, size 12, although other fonts such as Arial may be used, like in The Regulation of the Minister of Finance No.151/PMK.01/2010, which necessitates us to use Arial size 7, 9, 11, and 13 (with computer) or Pica (with typewriter). When choosing a font, always consider our audience. If we are writing to a conservative organization or company, we may want to use Times New Roman. However, if we are writing to a more liberal organization/company and less formal, we can stick to our own regulation.

Now look at the following sample to see the format of the letter:

Jakarta, February 20, 2012

To Whom It May Concern:

I am pleased to write for Anissa Kurniasari, who has applied to your university to take a master degree. She has worked under my supervision for one and a half years.

In October 2010, she started working as a government employee of Finance Education and Training Agency, Ministry of Finance (BPPK).  In BPPK, she works as a staff in Training Implementation Division at General Finance Affairs Training Center in Jakarta.

I pressure that she is an excellent government employee. She also has excellent written and verbal communication skills. In addition, she is a well organized and responsible person. She has great leadership qualities. She is able to work, both independently and as part of a team.

As a staff in Training Implementation Division, Kurniasari is responsible for putting the training programs into effect according to the procedure and the definite plan. She astutely organizes training implementation, starting from preparing training implementation until the training take place. She carefully manages practical administrative arrangements, diligently prepares the facilities and classrooms, meticulously monitors teaching delivery in classrooms by trainers, and provides the first report to her supervisor regarding the progress in training implementation. In addition, she establishes rapport with participants by encouraging informal conversation and listening to their needs, comments and feedback.  As one of the most dedicated employees, she is able to meet even the most demanding challenge during training implementation and always on time providing responses. She is also able to organize her colleagues and get them to perform the scheduled task on time. She has so many superb ideas for improvement of training programs.

Her intelligent, willingness, and ability to learn and perseverance will serve her well serve her well in post graduate study. For this reason I would like to consider that her studying a higher education will benefit to our institution, and will be to the advantages of the many as well. I encourage you to look favorably up application.

Yours truly,

Hercarmina

Head of Training Implementation Division

The above letter uses Arial size 11, and the format is block type, i.e. justified  (well if you don’t see it justified, it’s because I can’t adjust it in WordPress) and single spaced yet double-spaced between paragraphs.

That is all for now. In the next edition, we will continue with the other two aspects of high-quality correspondence. See you later!

References

Grammar Check. 2011. Tips for Writing a Basic Business Letter. Diakses 20 Desember 2011 dari http://www.grammarcheck.me/2011/04/tips-for-writing-a-basic-business-letter/

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 15/PMK.01/2010 tentang Pedoman Tata Naskah Dinas Kementerian Keuangan.

Stern, George. 2003. Learner’s Companion Series Writing in English: An Invaluable Guide to Effective Writing. Singapore: Learners Publishing Pte. Ltd.

The Writing Lab & the OWL at Purdue and Purdue University. 2011. Writing the Basic Business Letter. Diakses 20 Desember 2011 dari  http://owl.english.purdue.edu/owl/resource/653/01/

Business Letters (Part 1): The Language of Basic Business Letters

Business letter writing is a very common practice in our organization, but only some units in the MOF write business letters in English. We use business letters to convey any number of non-personal purposes, such as negotiations, contract agreements, questions regarding certain things or to arrange meetings. Sometimes we also need to write them to promote our unit, share updated information or just communicate with users and other units. We should know that the basics of good business in English are very easy to learn, provided you follow a few simple tips. This article will provide some phrases that are commonly found in any standard business letter. The phrases are used as a kind of frame and introduction to the content of business letters. At the end of this article, we can also learn some tips on the guidelines for business letters. Once we understand these basics, we can use this guide to various types of business letters for our organization needs. The Start

If we do not know who we are writing to, use:

Dear Sir or Madam,

or we address the letter to the position that we contact to;

Dear Personnel Director,

Dear Head of HR Department,

Dear the Director of STAN,

If you know the addressee and have a formal relationship with, use the complete name or the family name:

Dear Dr. Pangaribuan,

Dear Mr. Indra Raharja

Dear Ms. Feni iranawati,

It’s very important to use Ms for women unless asked you are asked to use Mrs or Miss.

If the addressee is a close business contact or friend, we can use his or her first name:

Dear Frank,

Dear Stefhanie,

The Reference

With reference to your advertisement in the Times / your letter of 23 rd March / your phone call today, …

Thank you for your letter of March 5th .

The Reason for Writing

I am writing to inquire about
/ apologize for
/ confirm

Requesting

Could you possibly…?

I would be grateful if you could …

Agreeing to Requests

I would be delighted to

Giving Bad News

Unfortunately

I am afraid that

Enclosing Documents

I am enclosing

Please find enclosed

Enclosed you will find

Closing Remarks

Thank you for your help.

Please contact us again if we can help in any way /there are any problems /you have any questions.

Reference to Future Contact

I look forward to …
hearing from you soon / meeting you next Tuesday / seeing you next Thursday.

The Finish

Yours faithfully, (If you don’t know the name of the person you’re writing to)

Yours sincerely, (If you know the name of the person you’re writing to)

Best wishes,

Best regards, (If the person is a close business contact or friend)

Ok now we have read some phrases in a formal business letter. The next is a sample letter using some of these forms:

Pusdiklat Keuangan Umum

Jalan Pancoran Timur II No. 1 Jakarta 12770

Tel:
021-7996109 Fax:
021-7996109

Website: www.depkeu.go.id/webku

August 29, 2011

Jason Flintstone

Education Manager

TOEFL Specialists Inc.

Jalan Proklamasi 17 Bandung

Dear Mr. Flintstone:

With reference to our telephone conversation today, I am writing to confirm your request for our Handbooks for DTU TOEFL (iBT) Preparation.

The books will be delivered within two days via TIKI and should arrive at your institution in about three days.

Please contact us again if we can help in any way.

Yours sincerely,

Ilhan Lasahido

Head of Planning and Development Division

 

Here’s How:

• Use block style – do not indent paragraphs.

• Include address of the person you are writing to at the top of the letter, below your company address.

• After the address, double space and include date

• Double space (or as much as you need to put the body of the letter in the center) and include the salutation.

• Include Mr. for men or Ms for women, unless the recipient has a title such as Dr.

• State a reference reason for your letter (i.e. ‘With reference to our telephone conversation…’

• Give the reason for writing (i.e. ‘I am writing to you to confirm our order…’)

• Make any request you may have (i.e. ‘I would be grateful if you could include a brochure…’

• If there is to be further contact, refer to this contact (i.e. ‘I look forward to meeting you at…’)

• Close the letter with a thank you (i.e. ‘Thank you for your prompt help…’)

• Finish the letter with a salutation (i.e. ‘Yours sincerely,’)

• Include 4 spaces and type your full name and title

• sign the letter between the salutation and the typed name and title

Tips:

• Keep the letter brief and to the point

• Do not use shortened verb forms – write them out (i.e. ‘don’t instead of do not’)

•  Always keep a copy of correspondence for future reference

That’s all for now. In the next edition, we are going to learn the parts of business letters and some examples of them. See you later.

Pembelajaran dengan Active Learning


Tulisan ini merupakan cuplikan pengalaman penulis ketika mengikuti Short Course on Curriculum Design and Assessment for Educational Innovation di Belanda pada 9 sampai dengan 27 Mei 2011. Sebagai seorang widyaiswara, setiap mengikuti suatu pelatihan penulis selalu mengamati metode mengajar yang dipakai oleh para pengajar yang berpotensi untuk penulis terapkan dalam diklat-diklat di unit kerja sendiri. Penulis sangat tertarik dengan metode Active Learning yang dipakai semua pengajar short course tersebut, baik dari Vrije Universiteit (VU University) di Amsterdam maupun dari Rijksacademie voor Financien en Economie  (NAFE) di Den Haag.

Active Learning sendiri sebenarnya bukan hal yang baru, bahkan Socrates sudah mengenalkan metode ini sejak dulu kala, dilanjutkan oleh seorang progressive educator yaitu John Dewey. Namun ketika masuk kelas kadang terlupakan oleh kita sebagai pengajar bahwa belajar merupakan proses aktif secara alamiah, di mana peserta harus membaca, berdiskusi, mendengarkan, menganalisa, berpikir, serta menulis. Kita sering terfokus dengan pemaparan (delivery) materi saja, padahal mendengarkan dan mencatat bagi peserta hanyalah level terbawah dari comprehension. Dr. Bernie Dodge menyatakan:

Active learning puts the responsibility of organizing what is to be learned in the hands of the learners themselves, and ideally lends itself to a more diverse range of learning styles.

Jadi, dalam active learning, peserta didik bertanggung jawab lebih besar dalam proses belajar itu sendiri. Ini sejalan dengan pendapat Bonwell dan Eison (1991) yang memopulerkan active learning dalam pembelajaran sejak 1990an, yang berpendapat bahwa “the responsibility of the learning is on the learners themselves’. Ada lagi gagasan tentang active learning yang lebih spesifik disampaikan oleh Mel Silberman (1996), yang menyatakan bahwa dalam pembelajaran yang aktif, para pesertalah yang lebih banyak melakukan kegiatan dengan menggunakan nalar mereka, mempelajari teori, memecahkan masalah, serta menerapkan apa yang telah mereka pelajari. Tetapi prosesnya harus fast-paced, supportive, dan personally engaging. Karena itu untuk memudahkan belajar, selain menyimak dan melihat, peserta juga harus bertanya dan berdiskusi dengan peserta lain. Selain itu, masih menurut Silberman,

… Above all, learners need to ‘do it’–figure things out by themselves, come up with examples, try out skills, and do assignments that depend on the knowledge they already have or must acquire.

Seperti yang dialami penulis dan teman-teman short course di Belanda, kami semua lebih banyak menggali apa yang sudah kami ketahui dan miliki untuk memahami materi yang diberikan para pengajar di sana, persis seperti pendapat Silberman di atas. Karena itu dalam artikel ini, penulis akan berbagi aktivitas dan metode apa saja yang kami lakukan dalam short course tersebut yang masuk dalam kategori active learning serta kelebihan dari metode tersebut.

  1. Interactive lecture / Ceramah interaktif

Metode ceramah interaktif menggunakan kombinasi metode yang bervariasi karena ceramah dilakukan dengan tujuan sebagai pemicu terjadinya kegiatan yang partisipatif (curah pendapat, diskusi, pleno, penugasan, studi kasus, dll). Selain itu, ceramah melibatkan semua peserta dengan adanya tanggapan balik atau perbandingan pendapat dan pengalaman peserta. Media pendukung yang digunakan antara handouts, transparansi atau power point, tulisan-tulisan di kartu, kertas plano, dll. Hampir semua fasilitator dalam short course kami sangat interaktif dalam penyajian ceramahnya, selain itu penampilan mereka yang kasual serta pembawaan yang egaliter sangat mendukung penyampaian materi dengan metode ini.

2. Discussion / Diskusi

Metode ini bertujuan untuk tukar menukar gagasan, pemikiran, informasi / pengalaman diantara peserta, sehingga dicapai kesepakatan pokok-pokok pikiran (gagasan, kesimpulan) di kelas. Untuk mencapai kesepakatan tersebut, para peserta saling menyampaikan argumentasi untuk meyakinkan peserta lainnya, dan kesepakatan pikiran inilah yang kemudian ditulis sebagai hasil diskusi. Yang membuat diskusi menjadi penting menurut fasilitator Esmiralda dari CPDC  saat menyampaikan materinya di NAFE yaitu karena knowledge is everywhere out there, therefore sharing and discussing it are very important. Oleh karena itu, semua peserta harus bisa menyampaikan ide dan pendapatnya dalam diskusi.

3. Group discussion / diskusi kelompok

Sama seperti diskusi, diskusi kelompok adalah pembahasan suatu topik dengan cara tukar pikiran antara dua orang atau lebih, dalam kelompok-kelompok kecil, yang direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Metode ini dapat membangun suasana saling menghargai perbedaan pendapat dan juga meningkatkan partisipasi peserta yang masih belum banyak berbicara dalam diskusi yang lebih luas. Keunggulan penggunaan metode ini adalah peserta bisa mengembangkan kesamaan pendapat atau kesepakatan atau mencari suatu rumusan terbaik mengenai suatu topik. Setelah diskusi kelompok, proses dilanjutkan dengan diskusi pleno, yaitu diskusi umum yang merupakan lanjutan dari diskusi kelompok yang dimulai dengan pemaparan hasil diskusi kelompok. Kegiatan ini yang paling sering kami praktekkan dalam 3 minggu short course kami. Yang menarik adalah kami pernah diminta mempresentasikan hasil diskusi kami dalam bentuk Pecha Kucha. Pecha Kucha adalah presentasi  power point dengan hanya menggunakan 20 slides berisi gambar-gambar, masing-masing slide memakan waktu hanya 20 detik, jadi total waktu presentasi hanya 6 menit 40 detik untuk keseluruhan 20 slides.

4.    Games / Permainan

Games yang dipakai antara lain pemanasan (ice-breaker) atau penyegaran (energizer). Ice-breaker dipakai untuk memecah situasi kebekuan fikiran atau fisik peserta dan dimaksudkan untuk membangun suasana belajar yang dinamis, penuh semangat, dan antusiasme. Permainan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan (fun) serta serius tapi santai (sersan). Metode ini diarahkan agar tujuan belajar dapat dicapai secara efisien dan efektif dalam suasana gembira meskipun membahas hal-hal yang sulit atau berat, di waktu yang kritis misalnya sesudah jam makan siang. Menurut fasilitator Esther den Hartog, sebaiknya permainan digunakan sebagai bagian dari proses belajar, bukan hanya untuk mengisi waktu kosong atau sekedar bermain-main saja tanpa makna. Permainan sebaiknya dirancang menjadi aksi pengalaman oleh peserta, kemudian ditarik dalam proses refleksi untuk menjadi hikmah yang mendalam (prinsip, nilai, atau pelajaran-pelajaran). Wilayah perubahan yang dipengaruhi adalah ranah sikap-nilai. Esther den Hartog memberi contoh game Back to Back, dimana dua peserta duduk di lantai saling menempelkan punggung dan mengaitkan tangan dan diminta untuk berdiri secara serempak bersamaan. Pembelajaran yang dirasakan peserta yaitu untuk mencapai tujuan bersama diperlukan komunikasi yang baik, koordinasi, serta dukungan satu sama lain. Ada game lain yang kami lakukan selama short course, misalnya Helium Stick yang juga mengajarkan tentang pentingnya koordinasi dan rasa pantang menyerah dalam mencapai tujuan.

5.    Opening Question

Supaya peserta dapat belajar lebih efektif, mereka harus membuat koneksi antara apa yang sudah mereka ketahui (prior knowledge) dengan materi baru yang akan mereka dapatkan (new content). Maka kegiatan pembukaan di kelas harus memfasilitasi peserta untuk membuat koneksi tersebut. Opening Question adalah strategi yang menampilkan pertanyaan di power point, memberi beberapa menit bagi peserta untuk memikirkan jawabannya, lalu meminta beberapa peserta untuk menjawab.  Strategi ini sangat mudah, tidak butuh waktu terlalu lama, sesuai untuk kelas besar maupun kecil. Strategi ini juga bisa menjadi feedback bagi pengajar tentang apa yang sudah dan belum diketahui peserta tentang materi yang telah dan akan disajikan. Fasilitator Anja Swennen pernah membuka sesi pagi dengan menyakan kami “What is your opinion about signature pedagogy?” sebelum akhirnya menjelaskan pada kami tentang topik tersebut. Fasilitator Esther den Hartog juga  pernah berimprovisasi dengan model yang disebutnya “Reflection of Lesson Learned” dimana peserta memikirkan jawaban pertanyan dari fasilitator dalam hati sambil menutup mata, diiringi alunan musik intrumental  “Morning Glory” yang bernuansa yoga, sehingga membuat suasana terasa khidmat.

6.    Think-Pair-Share

Think-Pair-Share adalah strategi  active learning di level individual, berpasangan, maupun kelompok besar. Ada tiga langkah: pertama, pengajar menyiapkan pertanyaan dan meminta semua peserta untuk memikirkan/menuliskan jawabannya sendiri. Langkah kedua yaitu peserta berpasangan dengan peserta lain yang duduk di dekatnya dan saling menukar dan berbagi  jawaban mereka. Ketiga, pengajar memilih beberapa pasangan dan merangkum jawaban mereka untuk seluruh kelas. Jika digunakan di awal pembelajaran, strategi Think-Pair-Share dapat membantu peserta mengorganisasikan prior knowledge mereka dan mendapatkan banyak jawaban dari peserta lain dengan cara brainstorming. Jika digunakan di sesi akhir, maka akan berguna untuk merangkum apa yang telah mereka pelajari, menerapkannya di situasi yang berbeda, serta mengintegrasikan  pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki. Strategi ini bisa diterapkan pada kelompok kecil maupun besar dalam waktu beberapa menit saja, sehingga sangat ideal untuk kelas yang metode pembelajarannya menggunakan ceramah (lecture). Di sini fasilitator harus peka dan bisa mengklarifikasi jika ada kesalahan atau ketidaksepahaman.

7.    Focused Listing

Focuse Listing adalah strategi di mana peserta mengingat apa yang mereka ketahui tentang materi dengan membuat daftar gagasan yang terkait dengan topik tersebut. Untuk memulainya, pengajar meminta peserta mengambil secarik kertas dan mulai membuat list berdasarkan topik yang disajikan di power point (topik bisa tentang materi sebelumnya atau materi yang sedang dibahas saat ini). Pengajar berkeliling di kelas sambil mengawasi peserta membuat list, kemudian merangkum gagasan utamanya di akhir kegiatan ini. Peserta yang lain  secara acak diminta meyajikan isi daftar mereka sebelum materi dilanjutkan kembali. Pada prakteknya, focused listing  tidak membutuhkan banyak waktu. Cara ini efektif untuk membuat peserta terlibat dengan materi secara aktif, dan dapat menjadi feedback bagi pengajar tentang bagaimana materi selanjunya disajikan agar sesuai kebutuhan peserta. Trainer Wim Kouwenhoven dan pernah  berimprovisasi dengan meminta peserta menuliskan satu gagasan di selembar kertas tempel kuning, sehingga satu gagasan satu kertas (bukan dalam bentuk list), dan menamakan kegiatan  ini dengan Yellow Notes.

8. Brainstorming/ curah pendapat

Metode curah pendapat adalah suatu bentuk diskusi untuk menghimpun gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan dan pengalaman dari semua peserta. Berbeda dengan diskusi, dimana gagasan dari seseorang dapat ditanggapi (didukung, dilengkapi, dikurangi, atau tidak disepakati) oleh peserta lain, pada metode ini pendapat orang lain tidak untuk ditanggapi. Tujuan curah pendapat adalah untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat, informasi, pengalaman semua peserta yang sama atau berbeda. Hasilnya kemudian dijadikan peta informasi, peta pengalaman, atau peta gagasan (mind-map) untuk menjadi pembelajaran bersama.

Brainstorming juga mirip seperti focused listing, dimana peserta diminta untuk mengingat apa saja yang mereka ketahui tentang suatu topik dengan cara menuliskan istilah-istilah maupun gagasan-gasan yang terkait dengan topik tersebut. Bedanya di sini, peserta diminta membuat hubungan antara prior knowledge dengan new possibilities. Caranya, pengajar menanyakan pada peserta tentang apa yang mereka ketahui tentang suatu topik melalui tayangan Power Point, selanjutnya peserta diminta memformulasikan secara sistematis hubungan antara gagasan tersebut. Brainstorming jika dipakai di awal pembelajaran akan berguna untuk menarik atensi peserta dan menyiapkan mereka dengan topik bahasan hari ini. Jika digunakan di akhir sesi maka akan menjadi rangkuman serta alat untuk membantu peserta menformulasikan koneksi antara apa yang mereka pelajari dengan real life.

9.    Note check

Note check  atau kadang disebut Note Sharing adalah strategi di mana pengajar meminta peserta untuk berpasangan dan berbagi catatan dengan teman di sampingnya, tujuannya untuk membandingkan catatan mereka dan mengetahui apakah ada persamaan informasi serta adakah kesalahan konsep. Peserta juga bisa bertanya atau memecahkan masalah dengan pengajar. Kegiatan ini hanya sebentar saja dilakukan. Problem dengan kegiatan ini adalah jika peserta
pesertanya ada yang kurang aktif, misalnya tidak mencatat atau hanya mengandalkan pasangannya untuk melaksanakan tugas karena kurang paham. Tetapi tujuan utama dari strategi ini adalah peserta saling mengisi dan memiliki collective understanding atas materi yang diberikan. Dengan cara ini, pengajar bisa membantu peserta untuk membuat catatan sekaligus memonitor apakah peserta diklat dapat menangkap key ideas dalam penyajian materi hari tersebut.

10. Minute Paper

Fasilitator Carmen Peters menyebut kegiatan ini dengan “Sheet Shower”. Di sini pengajar memberi pertanyaan pada peserta dalam slide PPT dan peserta harus menuliskan jawabannya, Ini bisa dilakukan kapan saja dalam proses pembelajaran, tetapi akan lebih berguna jika dilakukan di akhir sesi sebagai rangkuman materi hari ini. Peserta akan dipaksa menulis dengan bahasanya sendiri, dengan demikian dia akan menginternalisasi materi hari ini serta mengidentifikasi kesenjangan (gap) dalam pemahaman. Minute paper juga merupakan teknik classroom assessment untuk membantu pengajar mengetahui sejauh mana peserta memahami materi, apa saja yang mereka pahami, serta di bagian mana pengajar harus lebih banyak menerangkan lagi.

11.  Lower House Debate

Ini adalah versi student debate saja, dimana kelas diberi satu topik dan kelas dibagi menjadi 3 kelompok, pro, kontra dan juri. Peserta diberi salah satu posisi serta diminta mengumpulkan seluruh informasi yang mendukung pandangan mereka serta menjelaskannya pada pihak lain dan para juri. Prakteknya, setiap pihak diwakili oleh satu orang saja diberi kesempatan untuk menyampaikan proposisinya secara bergantian (kecuali juri), lalu rehat 5 menit untuk konsolidasi, dilanjutkan sanggahan setiap pihak, rehat lagi 5 menit, dan terakhir tanya jawab. Kami melakukannya satu kali di VU University dan satu kali di NAFE, semuanya sangat menyenangkan karena baru kali ini kami mempraktekkan verbal presentation dengan cara debat dan kami sadar bahwa untuk meyakinkan pihak lain itu ternyata tidak mudah.

12.  Reaction to a video

Ini adalah alternatif dalam metode ceramah, sebelum presentasi pengajar dimulai peserta menyaksikan suatu film pendek yang terkait dengan materi yang akan dibahas. Kegiatan ini bisa dipakai sebagai ice breaker atau juga sebagai pembuka sebelum peserta diberi pertanyaan yang harus dijawab dan dibahas di kelompoknya. Kami pernah menonton film Mr. Bean cheating in examination sebelum kami membahas topik evaluation and assessment, dan membuat kami semangat untuk melanjutkan mengikuti presentasi fasilitator.

13. Final Question

Final question adalah strategi mengakhiri ceramah dengan memberi tugas peserta untuk membuat pertanyaan di akhir sesi. Strategi ini mendorong peserta diklat untuk memikirkan materi hari itu secara mendalam dan mencoba menggali apakah ada hal lain yang belum dipahami peserta. Ada trainer yang menanyakan secara random di kelas dan langsung dijawab hari tersebut, ada juga trainer yang meminta peserta untuk menuliskan pertanyaannya di kertas dan dikumpulkan untuk dibahas di pertemuan selanjutnya. Bahkan ada trainer yang meminta agar pertanyaan di email saja atau dimasukkan ke Learning Moodle. Final question sangat berguna untuk mengetahui sejauh mana peserta peserta memahami materi hari tersebut.

Memang belum seluruh metode yang dapat penulis sajikan di sini karena keterbatasan ruang. Namun setidaknya penulis berharap  tulisan ini bisa menginspirasi pembaca, khususnya pengajar dan widyaiswara, untuk diterapkan dalam praktek mengajar dalam diklat. Selamat mencoba.

dimuat dalam majalah  Forum Keuangan Vo. I/03/September 2011

Referensi

Bonwell, C.; Eison, J. (1991). Active Learning: Creating Excitement in the Classroom AEHE-ERIC Higher Education Report No. 1. Washington, D.C.: Jossey-Bass.

Bernie Dodge, Bernie. 2002. Active Learning on the Web. San Diego State University: Department of Educational Technology, diakses dari http://edweb.sdsu.edu/people/bdodge/Active/ActiveLearning.html)

Silberman, M. 1996. Active Learning: 101 Strategies to Teach Any Subject. Boston: Allyn and Bacon.

Keluyuran Belanda

Bulan Juni 2011 saya dapat beasiswa NESO untuk mengikuti Short Course on Curriculum Design and Assessment for Educational Innovation di Netherlands. I was so excited to go, karena training tersebut sangat terkait dengan tupoksi sehari-hari sebagai sebagai widyaiswara. Misi khusus saya sendiri lebih fokus untuk melihat praktek teaching di sana serta bagaimana menyusun kurikulum serta evaluasinya, dan yang tidak lupa satu lagi yaitu jalan-jalan di seluruh Belanda serta negara-negara di dekatnya.  Untuk cerita materi diklat mungkin di tulisan lain saja, di sini mau bagi-bagi foto keluyuranku selama 3 minggu di sana. Btw, saya keluyurannya setelah jam belajar sama sabtu-minggu, jadi belajar jalan…backpackeran jg jalan ^_^…

Sedikit tentang cuaca di sana, saya datang pas summer, tapi kok suhunya ya dingiin banget (rata-rata 13 sd 18 derajat Celcius), jadinya salah kostum sekali. Sudah terlanjur bawa baju dan jaket yang tipis-tipis, ternyata di sana jarang sinar matahari, sering mendung, kadang hujan, jadi kalau paket jaket mesti dobel 2, kalau orang Belandanya sendiri sih sudah biasa suhu lebih dingin, jadi bajunya nggak tebel2 amat. Temen2 saya banyak yang bibirnya pecah2 berdarah saking dinginnya, makanya kami semua pakai body cream dan lipbalm terus. Oya, foto berikutnya:

Itu gambar di depan kampus VU Amsterdam, tempat kami menunggu Metro no 51. Tampak di belakangnya itu kantor CIS yang menjadi organizer training kami.

Oya, saya mencoba Canal Cruise di Belanda sampai dua kali, mengunjungi Madame Tussaud Museum, nonton fans Ajax di stadium Bijlmer ArenA, melihat  desa tradisional Zaanse Schans, melihat perahu dan ikan segar di Volendam, mencium bunga Tulip di Keukenhof, dan masih banyak  lainnya sampai lupa apa aja ya, soalnya setiap hari jalaan mulu after class. Di The Hague saya sempat melihat The Binnenhof dan the Peace Palace (syanag lagi renovasi jadi ngga bisa masuk),  main ke pantai Scheveningen yang terkenal itu (ternyata masih jauh bagusan Parangtritis), sama putar2 keliling kota. Nih sebagian  foto-foto yang bisa ku upload aja, internetku lagi lemoot;

Canal Cruise di Belanda

Joy Ride along the Canal

Enjoy the view along the canal

with Jon Bon Jovi

Keukenhof

Beautiful Tulips

Saya juga pergi ke Belgia dua kali, mengunjungi kota Brussel dan Antwerp. Suasananya mirip Belanda juga, namanya juga sama-sama di Eropa. Banyak bangunan dan gedung tua yang sangat cantik, terutama di daerah Grote Markt.

My Birthday Card for You

Dear Love,

And, for all these things & much, much more, I love you.
I’m so, so happy that I get to share your birthdays with you.
I hope that I make your birthdays as special as you make mine.
The day I saw you I knew in my heart you were the one for me.
You are my brightest light, the one who makes my life
full of beautiful things each day.
The footprints of an angel are love,
and where there is love, miraculous things can happen.
I thank God for sending you to my life,
you are the biggest blessing.

You are the great love of my life.

Happy Birthday, Honeybunch!!! It’s your ‘dirty forty’, yeah!!!

All my love,

Your Jo.

Outbound Pusdiklat Keuangan Umum 2011

Last February, our training center had an outbound program in Taman Hutan Rakyat Dago Pakar, Bandung. The program was particularly effective to build our interpersonal relationships, trust and bonding, communication of shared vision and goals, motivation, behaviour modification in response to change, and personal effectiveness. That’s not because of the facilitators from BANDIT team, but just because our employees have already got a solid teamwork spirit from the beginning.

By the way, there are just so many advantages of outbound activities. Outbound trainings can enhance:

1. TEAMBUILDING/TEAMWORK
We can make successful teams while focusing on problem-solving, communication, trust-building, change and conflict resolution.

2. LEADERSHIP DEVELOPMENT
We can identify and develop traits that can be successfully employed in situations such as thinking of strategy, goal setting, planning, resource allocation, empowerment, and decision-making.

3. CONFLICT RESOLUTION
We can improve interpersonal skills, remove communication blocks, build abilities to express and resolve differences in an unstressed manner.

Viva PusdiklatKU!

4. PERSONAL AND PROFESSIONAL EFFECTIVENESS
We can improve self image through emphasis on personal and group achievements, encouragement to stretch beyond perceived limits, and gain a renewed sense of purpose and commitment.

5. INTERPERSONAL SKILLS
We can develop abilities to relate meaningfully and with confidence in group and individual situations, as well as working towards enhancing group dynamics.

6. COMMUNICATION SKILLS
We build effective communication skills that enables enhanced performance and productivity.

7. INDUCTION/ORIENTATION FOR TRAINEES
Some of us are trainers, widyaiswara. The program really reduces lead time in creating productive, effective employees and enables faster integration of pusdiklat culture, values, and expectations.

8. PARTNERSHIPS/ALLIANCES
We can create more effective partner relationships through shared experiences and goals and trust-building.

As I am a team building trainer, I’ve got so many insights from the outbound activities. I will apply some of the BANDIT’s strategies into my teaching…^_^

Robert Frost

           

The Road Not Taken
Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;

Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.[

Rainbow

My heart leaps up when I behold

A Rainbow in the sky:

So was it when my life began;

So is it now I am a man;

So be it when I shall grow old,

Or let me die!

The Child is father of the man;

And I could wish my days to be

Bound each to each by natural piety.

 

Williams Wordsworth