Komunikasi Interpersonal

Photo-transactional_model_of_communication

1. Definisi Komunikasi Interpersonal

Secara etimologis, komunikasi berasal dari bahasa latin cum (preposisi : dengan atau bersama dengan), dan (kata bilangan : satu), dari kedua kata tersebut terbentuk kata benda communio yang berarti kebersamaan, persatuan, persekutuan, gabungan, pergaulan, hubungan, dan kata kerja communicate yang berarti membagi sesuatu dengan seseorang, bercakap-cakap, bertukar pikiran, berhubungan, berteman, berpartisipasi atau memberitahukan.

Komunikasi interpersonal diartikan Mulyana (2000: 73) sebagai komunikasi antara orang-orang secara tatap-muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun non verbal. Ia menjelaskan bentuk khusus dari komunikasi antarpribadi adalah komunikasi diadik yang melibatkan hanya dua orang, seperti seorang atasan dengan bawahan. Komunikasi demikian menunjukkan pihak-pihak yang berkomunikasi berada dalam jarak yang dekat dan mereka saling mengirim dan menerima pesan baik verbal ataupun non-verbal secara simultan dan spontan.

2. Tujuan komunikasi interpersonal

Pada dasarnya setiap proses komunikasi bertujuan untuk menyampaikan pesan atau informasi. Tetapi tujuan suatu pesan disampaikan bisa bermacam-macam. DeVito (1992: 13-14), menyebutkan diantaranya untuk

- mempelajari secara lebih baik dunia luar, seperti berbagai objek, peristiwa dan orang lain.

- memelihara hubungan dan mengembangkan kedekatan atau keakraban.

- mempengaruhi sikap-sikap dan perilaku orang lain.

- menghibur diri atau bermain.

3. Komponen-komponen komunikasi

DeVito (1996; dalam Maulana, 1997: 26) menyatakan ada 8 (delapan) komponen dari proses komunikasi yang perlu dicermati setiap komunikator, yaitu: (1) Konteks (lingkungan) komunikasi, (2) Sumber-penerima, (3) Enkoding-dekoding (4) Kompetensi komunikasi, (5) Pesan dan saluran, (6) Umpan balik, (7) Gangguan, dan (8) Efek komunikasi.

Pertama: Konteks (lingkungan) merupakan sesuatu yang kompleks. Antara dimensi fisik, sosial-psikologis dan dimensi temporal saling mempengaruhi satu sama lain. Kita mesti memahami bahwa kenyamanan ruangan, peranan seseorang dan tafsir budaya serta hitungan waktu, merupakan contoh dari sekian banyak unsur lingkungan komunikasi. Komunikasi sering berubah-ubah, tidak pernah statis melainkan selalu dinamis.

Kedua: Komponen sumber-penerima menunjukkan bahwa keterlibatan seseorang dalam berkomunikasi bahwa ia adalah sumber yang juga penerima. Sebagai sumber dalam berkomunikasi menunjukkan bahwa Anda mengirim pesan. Anda mengirim pesan berarti Anda berbicara, menulis, memberikan isyarat tubuh atau tersenyum. Tetapi ingat, pada saat Anda mengirim pesan, Andapun menerima pesan. Anda menerima pesan berarti Anda menerima pesan Anda sendiri dengan mendengar diri sendiri dan merasakan gerakan atau isyarat tubuh Anda sendiri. Anda menerima pesan orang lain, berati Anda mendengarkan, melihat secara visual bahkan melalui merabanya atau menciumnya. Pada saat Anda berbicara dengan orang lain, Anda berusaha memAndangnya untuk memperoleh tanggapan: dukungan, pengertian, simpati, dan sebagainya; dan pada saat Anda menyerap isyarat-isyarat non-verbal, Anda menjalankan fungsdi penerima dalam berkomunikasi.

Ketiga: Enkoding-Dekoding. Baik sebagai sumber ataupun sebagai penerima, seseorang mengawali proses komunikasi dengan mengemas pesan (pikiran atau suatu ide) yang dituangkan ke dalam gelombang suara (lembut, berapi-api, tegas, marah dan sebagainya) atau ke dalam selembar kertas. Kode-kode yang dihasilkan ini berlangsung melalui proses pengkodean (enkoding). Bagaimana suatu pesan terkodifikasi, amat tergantung pada keterampilan, sikap, pengetahuan dan sistem sosial budaya yang mempengaruhi. Artinya, keyakinan dan nilai-nilai yang dianut memiliki peranan dalam menentukan tingkat efektivitas sumber komunikasi. Proses kodifikasi (pengkodean) di pihak sumber komunikasi hingga pesan itu terkode, pada dasarnya mengandung unsur penafsiran subjektif atas simbol-simbol atau artifak yang dari perspektif sosial budaya bisa menimbulkan distorsi bahkan makna yang berlainan sama sekali. Distorsi atau noise atau gangguan seringkali semakin sulit diatasi karena terjadi oleh perbedaan persepsi yang dilandasi motivasi kebudayaan yang berbeda.

Sebelum suatu pesan itu disampaikan atau diterimakan, dalam berkomunikasi kita berusaha menghasilkan pesan simbol-simbol patut diterjemahkan lebih dahulu kedalam ragam kode atau simbol tertentu oleh si-penerima melalui mendengarkan atau membaca. Inilah pengkodean kembali (dekoding) dari pesan yang dikirim dan tentu saja tidak akan lepas dari adanya keterbatasan penafsiran pesan. Sepertihalnya kodifikasi pesan oleh sipengirim, pengkodean di pihak si-penerimapun dibatasi oleh keterampilan, sikap, pengetahuan dan sistem sosial budaya yang dianut. Suatu distorsi komunikasi akan terjadi di sini. Karena itu, jika si-pengirim harus terampil berbicara dan menulis, si-penerima pesan harus terampil mendengarkan dan membaca.

Keempat: Kompetensi Komunikasi; mengacu pada kemampuan Anda berkomunikasi secara efektif (dari Spitzberg dan Cupach, 1989). Kompetensi ini mencakup pengetahuan tentang peran lingkungan dalam mempengaruhi isi dan bentuk pesan komunikasi. Suatu topik pembicaraan dapat dipahami bahwa hal itu layak dikomunikasikan pada orang tertentu dalam lingkungan tertentu, tetapi hal itu pula tidak layak untuk orang dan lingkungan yang lain. Kompetensi komunikasi juga mencakup kemampuan tentang tatacara perilaku non-verbal seperti kedekatan, sentuhan fisik, dan suara keras. Masalah kompetensi komunikasi dapat mengungkapkan mengapa seseorang begitu mudah menyelesaikan studi, begitu cepat membina karir, begitu menyenangkan dalam berbicara, sedang yang lainnya tidak. Anda di sini dituntut dapat meningkatkan kompetensi komunikasi, sehingga menjadi banyak pilihan untuk Anda berperilaku.

Kelima: Pesan dan Saluran. Pesan sebenarnya merupakan produk fisik dari proses kodifikasi. Jika seseorang itu berbicara, maka pembicaraan itu adalah pesan. Jika seseorang itu menulis, maka tulisan itu adalah pesan. Bila kita melakukan suatu gerakan, maka gerakan itu adalah pesan. Pesan itu dipengaruhi oleh kode atau kelompok simbol yang digunakan untuk mentransfer makna atau isi dari pesan itu sendiri dan dipengaruhi oleh keputusan memilih dan menata kode dan isi tersebut. Menurut Sendjaja (1994) mengutip pendapat Reardon bahwa kendala utama dalam berkomunikasi seringkali lambang atau simbol yang sama mempunyai makna yang berbeda. Artinya, kekurangcermatan di dalam memilih kode atau mentransfer makna dan menata kode dan isi pesan, dapat menjadi sumber distorsi komunikasi. Karena itu komunikasi menurut mereka seharusnya dipertimbangkan sebagai aktivitas dimana tidak ada tindakan atau ungkapan yang diberi makna secara penuh, kecuali jika diinterpretasikan oleh partisipan yang terlibat.

Saluran merupakan medium; lewat mana suatu pesan itu berjalan. Saluran dipilih oleh sumber komunikasi. Sumber komunikasi dalam organisasi biasanya ditetapkan menurut jaringan otoritas yang berlaku bertalian dengan pelaksanaan pekerjaan secara formal dalam organisasi itu. Sedangkan saluran informal biasanya biasanya digunakan untuk meneruskan pesan-pesan pribadi atau pesan-pesan sosial yang menyertai pesan-pesan yang disampaikan secara formal. Dalam memilih saluran atau medium untuk penyampaian pesan inipun tidak pernah luput dari kelemahan dan kekurangan yang ada yang menimbulkan suatu distorsi dalam komunikasi.

Keenam: Umpan Balik dan Maju. Suatu cara yang dapat dipertimbangkan untuk menghindari dan mengoreksi terjadinya distorsi disarankan untuk menggunakan komunikasi interpersonal; dan menghidupkan proses umpan balik secara efektif. Umpan balik merupakan pengecekan tentang sejauhmana sukses dicapai dalam mentransfer makna pesan sebagaiman dimaksudkan semula. Setelah si-penerima pesan melaksanakan pengkodean kembali, maka yang bersangkutan sesungguhnya telah berubah menjadi sumber. Maksudnya bahwa yang bersangkutan mempunyai tujuan tertentu, yakni untuk memberikan respon atas pesan yang diterima, dan ia harus melakukan penkodean sebuah pesan dan mengirimkannya melalui saluran tertentu kepada pihak yang semula bertindak sebagai pengirim. Umpan balik menentukan apakah suatu pesan telah benar-benar dipahami atau belum dan adakah suatu perbaikan patut dilakukan. Karena itu umpan balik harus dihidupkan!

Ketujuh: Gangguan; merupakan komponen yang mendistorsi pesan. Gangguan merintangi sumber dalam mengirim pesan dan merintangi penerima dalam menerima pesan. Gangguan ini dapat berupa fisik, psikologis dan semantik. Bukankah desingan suara mobil, pAndangan atau pikiran yang sempit dan penggunaan istilah yang menimbulkan arti yang berbeda-beda, merupakan contoh dari masing-masing jenis gangguan yang dapat mendistorsi pesan yang dimaksudkan dalam komunikasi.

Kedelapan: Efek Komunikasi. Pada setiap peristiwa komunikasi selalu mempunyai konsekuensi atau dampak atas satu atau lebih yang terlibat. Dampak itu berupa perolehan pengetahuan, sikap-sikap baru atau memperoleh cara-cara/gerakan baru sebagai refleksi psiko-motorik.

4. Makna komunikasi interpersonal

Keberartian komunikasi interpersonal bagi seorang PNS antara lain untuk:

-  membina fungsi social: pandai bergaul, memperoleh banyak teman, disukai atasan/bawahan,

-  ekspresi diri: mengutarakan pendapat, berpikir kritis

-  fungsi teurapetik: menyembuhkan penyakit psiko-somatis misalnya kecemasan, kegelisahan, rasa khawatir dll

-  alat hiburan


5. Tingkatan komunikasi

Dalam pengorganisasian pendapat, Pepper (1995: 14) menyatakan bahwa ada lima tingkatan:

Level 5: Technological level – the human-machine interface

Level 4: Intergroup level – the we-versus-them understanding

Level 3: Small-group level – the difficulties of group dynamics

Level 2: Dyadic level – making sense of someone else’s sense

Level 1: Individual level – making sense of the surroundings.

 

Tingkat transaksi pertama dan bersifat fundamental adalah tingkat individual. Pada tingkatan ini individu berhubungan langsung dengan lingkungan dan dengan dirinya sendiri. Lingkungan membentuk persepsi individu tetapi juga pada saat yang sama persepsi itu diarahkan untuk membentuk lingkungan. Komunikasi tidak hanya berkaitan dengan adaptasi lingkungan tetapi juga dilakukan melalui dialog internal mengenai persepsi kemanusiaan, sikap-sikap, kompetensi, kemampuan, kelemahan dan kekuatan, kegagalan dan kesuksesan yang dialami. Organisasi dibangun tergantung pada kekuatan dan kegagalan, kemampuan adaptasi individu sebagaimana ia menguasai lingkungan yang tidak pasti. Tingkatan ini menjadi dasar bagi empat tingkat lainnya.

Tingkat transaksi kedua adalah tingkatan diadik. Pada tingkatan ini hal yang perlu diperhatikan adalah persoalan adaptasi timbal balik. Pada tingkatan ini individu dituntut untuk merespon lingkungan, yakni bahwa ia secara aktif membentuk lingkungan (pada tingkatan individu) sementara itu pula ia membentuk dan merespon atas pengaruh orang lain, misalnya dengan para pegawai, kepala bagian, kepala subagian dan pihak lain yang dilayani secara satu persatu. Tingkatan ini meruapakan hal yang luar biasa dari proses pengorganisasian. Organisasi tidak akan muncul tanpa kehadiran paling tidak dua orang manusia, karena itu diadik merupakan dasar dari suatu unit organisasi.

Tingkatan transaksi ketiga merupakan tingkat kelompok kecil. Kelompok kecil patut diyakini sebagai miniatur organisasi. Interaksi kelompok kecil mencakup persoalan peranan, kepemimpinan, pemikiran bersama, kekuasaan, penjenjangan dan konflik. Pada tingkatan ini transaksi meliputi berbagai hal seperti kelompok kerja, kepanitiaan, kesempatan pelatihan, dan rapat. Transaksi demikian dimaksudkan untuk perbaikan kerja mereka atau untuk mengembangkan cara-cara kerja yang dapat meningkatkan produktivitas, atau mutu dalam bekerja.

Tingkat transaksi keempat adalah tingkat antar kelompok. Tingkat ini menyangkut semua persoalan kelompok yang ada ditambah masalah yang dikaitkan dengan usaha mendorong kelompok membentuk pemahaman atau kesepakatan bersama. Kelompok (pegawai) pada bagian perencanaan semestinya mengkomunikasi masalah penyelenggaraan dan evaluasi, kelompok (pegawai) pada bagian keuangan semestinya mengkomunikasikan legalitas, dan seterusnya. Selain itu, tingkat transaksi ini mirip dengan komunikasi antar budaya yakni komunikasi orang-orang yang berbeda keyakinan, berbeda secara etnis dan latar belakang budaya.

Tingkat transaksi kelima adalah tingkat teknologi. Tingkat ini menyangkut masalah penggunaan teknologi dalam bekerja untuk kemudian muncul ketergantungan atas mainan teknologi itu. Teknologi dapat mencakup berbagai bentuk yang menjembatani komunikasi, misalnya dari telepon menjadi word processor, dan dari konferensi menjadi teleconference. Penggunaan teknologi memberikan pengaruh atas komunikasi antar manusia, seperti halnya atas interaksi tatap muka, iklim kerja, demokratisasi dalam bekerja dengan semakin banyaknya informasi yang tersedia dan terbuka untuk sekian banyak orang; dan bagaimana teknologi itu mempengaruhi pembuatan keputusan.

 

6. Masalah-masalah komunikasi interpersonal

 

Hambatan dalam komunikasi banyak terjadi karena berbagai factor:

 

Komunikator/Komunikan

Pesan

Media

-       kondisi fisik

-       kondisi psikologis

-       wawasan dan pengalaman

 

 

-       Pesan tidak jelas

-       bahasa sulit dimengerti

-       kalimat terlalu panjang

-       pesan terlalu sulit

-       salah memilih media

 

 

Banyak cara mengurangi atau mengatasi hambatan komunikasi, di antaranya sebagai berikut.

  • Gunakan umpan balik

Komunikasi dua arah memungkinkan komunikator memperoleh masukan/isyarat verbal maupun non verbal dari penerima.

  • Gunakan komunikasi tatap muka

Untuk kebanyakan orang akan lebih mudah bertatap muka langsung karena komunikator/komunikan langsung mengerti apa yang dibicarakan.

  • Sensitif terhadap penerima

Setiap orang berbeda karena nilai, kebutuhan, sikap dan harapan masing-masing, oleh karena itu kepekaan terhadap komunikan sangat diperlukan.

  • Berhati-hati dalam berkata

Pilih atau gunakan kata-kata yang tepat ketika kita berkomunikasi. Terutama memberi saran atau komentar kepada orang lain dalam suatu rapat misalnya, perlu dipilih kata-kata yang tepat agar orang lain tidak merasa “diserang”.

  • Gunakan bahasa yang tepat

Bahasa yang tepat berarti sesuai dengan komunikan dan efektif. Hati-hati dalam penggunaan bahasa asing dan bahasa yang teknis, serta jangan menggunakan kalimat yang terlalu panjang.

  • .Kurangi pengulangan kata

Pengulangan yang tidak diperlukan akan dapat mengganggu perhatian penerima.

 

7. Komunikasi yang efektif

 

Jadi pertanyaan terakhir dari makalah ini adalah: bagaimana agar komunikasi menjadi efektif?

 

Beberapa masukan dari hasil diskusi peserta diklat antara lain:

 

Komunikator

Komunikan

-       buat pesan yang jelas

-       jaga kondisi fisik sehat

-       siapkan mental

-       kuasai permasalahan

-       miliki ketrampilan berbicara

-       pilih saluran yang sesuai

-       percaya diri

-       pengucapan jelas dan wajar

-

-       jaga kondisi fisik sehat

-       jaga suasana psikologis

-       gunakan empati

-       kuasai pesan

-       dengarkan dengan baik

-       pertajam persepsi

-       miliki ketrampilan bertanya

 

Adabeberapa hal pula yang harus diperhatikan agar orang dapat mendengarkan secara efektif menurut Agus M. Hardjana ( “ Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal ‘ dalam Modul PSDM ) :

1). Bermotivasi (being motivated), yaitu mempunyai dorongan dari dalam untuk mau mendengarkan dan berusaha mau mendengarkan dengan baik.

2). Mengadakan kontak mata (making eye contact), agar membantu kita untuk memusatkan perhatian, mengurangi kemungkinan terganggu oleh hal yang ada disekitar, dan mendorong pembicara berminat berbicara. Jika tidak mengadakan kontak mata, maka orang yang berbicara dengan kita akan menafsirkan bahwa kita tidak tertarik untuk berbicara dengannya, dan kemudian akan mengambil jarak dengan kita.

3). Menunjukkan minat (showing interest), yang diungkapkan dalam bahasa non verbal yaitu raut wajah, gerak mata, gerak-gerik, kecondongan tubuh dan jarak tempat duduk.

4). Menghindari tindakan-tindakan yang menggangu (avoiding distracting actions). Bentuk tindakan yang menggangu misalnya selalu melihat jam, memain-mainkan benda seperti pensil atau kertas. Tindakan-tindakan seperti ini membuat pembicara merasa bahwa kita bosan atau tidak tertarik pada isi pembicaraannya,

5). Tidak memotong pembicaraan (interupting), terutama sebelum pembicara menyelesaikan pembicaraannya.

6). Bersikap wajar (being natural), terutama tidak melebih-lebihkan bahasa tubuh. Bersikap berlebihan dapat mengurangi rasa percaya orang yang berbicara terhadap ketulusan pendengar untuk mendengarkan.

 Penutup

Akhirnya, komunikasi efektif adalah tercapainya penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan melalui media tertentu sesuai dengan yang dimaksudkan oleh komunikator. Oleh karena itu kita perlu memperhatikan prinsip komunikasi efektif baik dari sisi komunikator maupun dari komunikan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s