Penyusunan Modul

MATA DIKLAT: BAHAN AJAR & REVIEW BAHAN AJAR

Fasilitator : Efi Dyah Indrawati

 

Cover Modul DTSS Penyusunan Modul

I. TIK / Kompetensi Dasar

  1. Menjelaskan modul sebagai bahan ajar
  2. Menjelaskan konsep dasar modul
  3. Menyebutkan pedoman penyusunan modul
  4. Mengembangkan modul
  5. Mereview modul

II. Ruang Lingkup Materi / Pokok Bahasan

A. Modul sebagai bahan ajar

B. Konsep dasar modul

C. Pedoman penyusunan modul

D. Pengembangan modul

E. Review modul

III. Evaluasi

  1. Pre tes (bersama dengan materi lain di awal Diklat)
  2. Tugas (dalam bentuk Portofolio)
  3. Post tes (bersama dengan materi lain di akhir Diklat)

IV. Daftar Pustaka

Diktat Penyusunan Soal, 2003. Pusat Penilaian Pendidikan Depdiknas.

Soetrisno & Azhari. 2006. Pengembangan Modul Diklat. Lembaga Administrasi Negara. Jakarta: LAN.

Pedoman Penyusunan Modul di Lingkungan Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Nomor PER-003/PP/2009.

Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 3 tahun 2011 tentang Juknis Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya.

Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 5 Tahun 2009 Tentang Pedoman Penulisan Modul Pendidikan dan Pelatihan.

URAIAN BAHAN AJAR :

A. MODUL SEBAGAI BAHAN AJAR

Dalam proses pembelajaran sangat diperlukan adanya bahan diklat sebagai media pembelajaran dan alat bantu pelatihan sehingga memudahkan bagi pembelajar untuk memahami suatu materi pelajaran, serta sebagai panduan bagi widyaiswara/pengajar dalam menyampaikan materi pelajaran. Bahan diklat adalah bahan yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai suatu klasifikasi profesional tertentu. Dengan demikian bahan diklat memiliki bentuk yang sangat beragam. Dalam istilah bahasa Inggris, bahan diklat diterjemahkan sebagai training resources, yaitu apa saja yang dapat digunakan dalam pelatihan (anything can be used for training). Pemilihan dan penyusunan bahan diklat merupakan bagian dari kegiatan pemilihan strategi pembelajaran di dalam diklat, yang dilakukan setelah analisa instruksional.

Sesuai dengan Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 1 Tahun 2006 bahan diklat meliputi :

  1.  Bahan ajar Diklat.
  2.  Silabus Mata Diklat dan Skenario Pembelajaran (SMD dan SP) atau juga disebut Rancang Bangun Pembelajaran Mata Diklat dan Rencana Pembelajaran (RBPMD dan RP), dahulu disebut GBPP dan SAP .
  3.  Bahan Tayang /Transparansi
  4.  Modul Diklat
  5.  Tes Hasil Belajar.

Jadi bahan ajar adalah bagian dari bahan diklat. National Center for Vocational Education Research Ltd / National Center for Competency Based Training yang diterjemahkan Kiranawati (2007), menyebutkan pengertian bahan ajar adalah sebagai berikut:

-     Bahan ajar merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan instruktur untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.

-     Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.

-     Bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak tertulis sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan peserta diklat untuk belajar.

Dari ketiga pengertian di atas, dapat kita rangkum bahwa bahan ajar merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan untuk perencanaan dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar baik tertulis maupun tidak tertulis, dan disusun secara sistematis yang membantu peserta diklat untuk belajar.

Bentuk bahan ajar bisa meliputi:

-       Bahan cetak seperti: handout, buku, modul, lembar kerja peserta diklat, brosur, leaflet, wallchart.

-       Audio Visual seperti: power point presentation, video/film, VCD, DVD

-       Audio seperti: radio, kaset, CD audio, piringan hitam, MP3 player

-       Visual: foto, gambar, model/alat peraga, maket dll

-       Multi Media: CD interaktif, aplikasi computer-based atau Internet-based, aplikasi e-learning dll

Selanjutnya dalam hal pengembangan bahan ajar, ada beberapa prinsip yang perlu dipertimbangkan. Prinsip Pengembangan bahan ajar menurut Bintek KTSP (2009) adalah sebagai berikut.

-       Mulai dari yang mudah untuk memahami yang sulit, dari yang kongkret untuk memahami yang abstrak.

-       Buatlah pengulangan sehingga akan memperkuat pemahaman ·

-       Umpan balik positif akan memberikan penguatan terhadap pemahaman peserta diklat

-       Motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan belajar

-       Mencapai tujuan pembelajaran dilakukan setahap demi setahap, akhirnya akan mencapai ketinggian atau level tertentu.

-       Mengetahui hasil yang telah dicapai akan mendorong peserta diklat untuk terus mencapai tujuan

Selain itu, dilanjutkan pula bahwa bahan ajar perlu memenuhi ketentuan:

-       Susunan tampilan, yaitu yang terstruktur dan menarik

-       Bahasa , yaitu yang mudah dipahami dan komunikatif

-       Menguji pemahaman, yaitu disertai pengukuran atau tes pemahaman

-       Kemudahan dibaca, yaitu terkait dengan huruf dan redaksional

-       Materi instruksional, yaitu yang sesuai tujuan pembelajaran

Dari penjabaran di atas, terlihat bahwa modul adalah bagian dari bahan diklat berupa bahan ajar, yang perlu disusun menurut ketentuan sebagai bahan ajar yang baik. Tentunya modul berbeda dengan bahan ajar lain, seperti catatan perkuliahan/diktat, artikel jurnal, makalah, maupun buku teks. Modul merupakan bahan belajar mandiri, yang memiliki perbedaan mendasar dengan buku teks. Perhatikan beberapa perbedaan antara buku teks dan modul di bawah ini:

Buku Teks Modul
-       komunikasi satu arah-       peserta diklat pasif-       metode ceramah-       struktur tidak jelas-       belajar diatur sendiri

-       tidak mengenai orang tertentu

-       sedikit menerapkan pengetahuan dan ketrampilan

-       latihan hanya ada di akhir teks, terkadang tidak ada tugas/latihan sama sekali

-       materi terbagi dalam Bab besar

-       tidak ada umpan balik

-     komunikasi dua arah-       peserta diklat terlibat aktif-       metode dialog-       struktur  jelas-       belajar dibimbing

-       bersahabat dan memberikan dorongan

-       menerapkan pengetahuan dan ketrampilan yang baru didapatkannya

-       materi terbagi dalam penggalan yang kecil

-       ada tugas dan terkait dalam teks

-       ada umpan balik

B. KONSEP DASAR MODUL

Adapun Modul Diklat adalah alat bantu diklat yang digunakan dalam proses belajar mengajar berupa buku pegangan bagi widyaiswara maupun peserta diklat yang disusun secara sistematik, mencakup tujuan dan uraian materi diklat, latihan dan evaluasi terhadap peserta mengenai materi diklat dimaksud. Modul dalam Peraturan Kepala LAN nomor 5 tahun 2009 diartikan sebagai unit terkecil dari sebuah mata diklat, yang dapat berdiri sendiri dan dipergunakan secara mandiri dalam proses pembelajaran. Modul dimaksudkan untuk:

  1. mengatasi keterbatasan waktu dan ruang peserta diklat
  2. memudahkan peserta diklat belajar mandiri sesuai kemampuan
  3. memungkinkan peserta diklat untuk mengukur atau mengevaluasi sendiri hasil belajarnya.

Modul sebagai sarana kegiatan belajar mengajar, minimal memiliki beberapa tujuan (menurut  Peraturan Kepala BPPK nomor PER-003/PP/2009) yaitu sebagai medium:

  1. referensi materi

Modul merupakan suatu paket pengajaran yang disusun secara sistematis, terarah, lengkap sesuai standar kompetensi dan kompetensi dasar

  1. referensi belajar

modul sebaiknya dapat digunakan untuk referensi belajar atau pengganti tatap muka antara widyaiswara/tenaga pengajar dan peserta diklat

  1. referensi lanjutan belajar

Pendalaman lanjutan terhadap suatu objek studi tertentu seharusnya juga disajikan di dalam modul dalam bentuk catatan kaki atau kepustakaan

  1. motivator

modul digunakan untuk memperjelas dan mempermudah penyajian pesan atau materi agar tidak terlalu bersifat verbal. Selain itu modul juga dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar bagi peserta diklat dan mengembangkan kemampuan dalam berinteraksi langsung dengan lingkungan.

  1. evaluator

Modul digunakan oleh peserta diklat untuk mengukur atau mengevaluasi sendiri hasil belajarnya karena penggunaan modul memudahkan diklat belajar mandiri.

Modul yang baik disusun sesuai dengan kebutuhan belajar dalam sebuah proses pembelajaran. Ciri-ciri modul menurut Peraturan Kepala LAN nomor 5 tahun 2009 yaitu:

  1. dapat dipelajari oleh peserta secara mandiri, tanpa bantuan atau seminimum mungkin bantuan dari widyaiswara (self-instructional)
  2. mencakup deskripsi dan tujuan mata diklat, batasan-batasan, standar kompetensi yang harus dicapai, kompetensi dasar, indicator keberhasilan peserta, metode, rangkuman, latihan-latihan, yang secara keseluruhan ditulis dan dikemas dalam satu kesatuan yang utuh (self-contained)
  3. dapat dipelajari secara tuntas, tidak tergantung pada media lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan media lain (independent)
  4. memuat alat evaluasi pembelajarn untuk mengukur tingkat kecakapan peserta terhadap modul (self-assessed)
  5. memiliki sistematika penyusunan yang mudah dipahami dengan bahasa yang mudah dan lugas, sehingga dapat dipergunakan sesuai dengan tingkat pengetahuan peserta diklat (user friendly)

Ada beberapa prinsip dalam penulisan modul. Menurut Peraturan Kepala LAN nomor 5 tahun 2009, prinsip tersebut yaitu:

  1. memenuhi 5 (lima) criteria modul yang baik
  2. modul yang disusun harus mengacu pada kurikulum diklat dan digunakan dalam suatu program diklat
  3. disusun secara rasional atas dasar analisis, sesuai dengan tingkat kompetensi yang harus dicapai oleh peserta diklat setelah menguasai modul
  4. memuat indicator keberhasilan agar peserta diklat dapat mengetahui secara jelas hasil belajar menjadi tujuan pembelajaran
  5. isi modul harus merupakan bahan yang terkini (up to date), sesuai dengan tuntutan perkembangan
  6. memuat contoh-contoh dan latihan-latihan yang relevan sehingga peserta diklat dapat menerapkan di lingkungan kerjanya
  7. sumber pustaka yang dipergunakan minimal 5 (lima) referensi, baik dalam bentuk buku atau karya tulis ilmiah, yang tahun penerbitannya tidak lebih 10 tahun sebelum modul ditulis
  8. acuan dalam bentuk peraturan dan perundangan harus merujuk pada peraturan dan perundangan yang berlaku
  9. ditulis oleh perorangan atau tim yang ditugaskan oleh pimpinan instansi, dengan anggota tidak lebih dari 2 (dua) orang yang kompeten dalam bidang yang ditulis
  10. penulisan modul harus mengacu pada kaidah penulisan karya tulis ilmiah sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Kepala LAN nomor 9 tahun 2008, tentang Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah Bagi Widyaiswara.

 

 

C. PEDOMAN PENYUSUNAN MODUL

Pedoman penyusunan modul dan Format Modul Mata Diklat menurut Peraturan Kepala BPPK nomor PER 003/PP/2009 dapat dilihat pada lampiran bahan ajar ini.

D. PENGEMBANGAN MODUL DIKLAT

1. Proses Penyusunan Modul Diklat

Proses penyusunan modul diklat idealnya diawali dengan tahap kegiatan Identifikasi Kebutuhan Diklat (IKD) bagi kelompok pegawai atau jabatan tertentu yang akan melaksanakan tugas tertentu. Ini bisa dilakukan antara bidang Renbang Pusdiklat bersama dengan Widyaiswara. Hasil kegiatan IKD ini kemudian disusun suatu program diklat  dalam bentuk TOR dilanjutkan dengan penyusunan kurikulum dan silabus. Atas dasar kurikulum tersebut disusun Rancang Bangun Pembelajaran Mata Diklat (RBPMD) dan Rencana Pembelajaran (RP).

Pada Pusdiklat Keuangan Umum, pelaksanaan penyusunan modul mata diklat meliputi kegiatan sebagai berikut:

  1.  Penyusunan rencana kerja tahunan oleh Widyaiswara
  2.  Pengisian formulir usulan penulisan modul
  3.  Penyusunan TOR, GBPP, SAP
  4.  Penyusunan modul diklat draft I
  5.  Pelaksanaan pelatihan dan uji coba modul diklat (biasanya dipakai dahulu sebagai bahan ajar. Langkah ini tidak selalu memungkinkan untuk dilaksanakan)
  6.  Perbaikan modul diklat menjadi draft II
  7.  Pembahasan dalam suatu pertemuan yang komprehensif (seminar) dengan para ahli atau nara sumber
  8.  Perbaikan/penyempurnaan
  9.  Pengesahan dan penerbitan modul oleh Pusdiklat Keuangan Umum

Alur di bawah ini memperlihatkan tahapan proses penyusunan modul mata diklat pada Pusdiklat Keuangan Umum BPPK :

IKD –>Penetapan Program –> TOR/Kurik à Penyusunan Modul Draft I –> Uji coba modul –> Penyusunan Modul Draft II –> Seminar/Pembahasan –> Perbaikan –> Pencetakan & Penerbitan –> Monev

 2.     Rencana Pengembangan Modul

Selama mengumpulkan bahan dan referensi untuk penulisan modul, penulis modul perlu terus mengacu pada kurikulum diklat yang telah ada. Di tahap awal perencanaan pengembangan modul, perlu dipikirkan konsep penyajian materi modul agar mudah dipahami oleh peserta diklat secara mandiri. Karena itu diperlukan suatu peta konsep di awal modul. Peta konsep adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep dan proposisi materi diklat yang memudahkan peserta memahai dan mengingat isi materi. Ketentuan tentang  Peta Konsep dapat dilihat pada Peraturan KaBPPK nomor PER 003/PP/2009.

Pengorganisasian pembuatan peta konsep sebaiknya melewati proses mindmapping atau brainstorming agar dapat memilah maupun mendeteksi materi apa yang bisa disajikan dalam modul. Dalam prakteknya bisa menggunakan aplikasi mindmapping yang banyak kita temukan di Internet. Untuk menunjukkan alur pembelajaran materi, bisa digunakan smart art pada microsot office.

3.     Pengembangan Isi/Materi Modul

Terdapat dua cara dalam mengembangkan materi modul:

Pertama yaitu dengan Pendekatan Logis. Di sini ada dua metode yaitu deduktif dan induktif. Jika menggunakan metode deduktif, penulisan modul dimulai dari umum ke khusus atau dimulai dari hal abstrak ke konkret, sedangkan metode deduktif penulisan modul dimulai dari hal umum ke hal khusus.

Cara kedua yaitu dengan Pendekatan Masalah (Studi Kasus). Materi modul yang disusun dengan pendekatan masalah dimulai dengan permasalahan yang nyata (studi kasus). Pendekatan masalah membantu peserta diklat dalam menganalisis, mendiagnosis, dan mencari alternatif solusi.

4.     Pengembangan Evaluasi dalam modul

Modul perlu memuat contoh-contoh dan latihan-latihan yang relevan sehingga peserta diklat dapat menerapkan di lingkungan kerjanya. Pembuatan bahan latihan termasuk bagian dari evaluasi dalam modul untuk mengukur tingkat pemahaman dan keberhasilan belajar peserta diklat.

Yang menjadi perhatian utama kita seharusnya adalah bagaimana soal latihan, tes formatif maupun tes sumatif itu adalah soal yang berkualitas? Berikut ini adalah syarat-syarat agar soal berkualitas menurut Puspendik Diknas:

a.     DIRANCANG DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH

  • Tentukan materi-materi yang hendak dibuat soal
  • Tentukan jumlah soal yang hendak disusun
  • Tentukan bentuk soal
  • Tentukan waktu tes (kapan & berapa lama)
  • Rumuskan indikator dari materi yang dipilih
  • b.    DIRUMUSKAN SOALNYA DENGAN BAIK
  • Sesuai/tidak menyimpang dari indikator
  • Atas dasar konsep ilmu yang benar
  • Mengikuti kaidah-kaidah penulisan soal
  • Menggunakan kalimat yang singkat, jelas, tegas
  • Menggunakan pengecoh yang homogen/logis
  • c.     DITELAAH/DIREVISI OLEH ORANG LAIN YANG MENGUASAI:
  • Materi yang diujikan
  • Konstruksi tes
  • Bahasa Indonesia
  • 4. DIANALISIS  Diperoleh infomasi tentang soal yang berkualitas/kurang berkualitas.

Bentuk soal latihan pada modul bisa bermacan-macam, tergantung dari tujuan pembelajaran atau standar kompetensi yang ingin dicapai. Tentunya kita tidak boleh mengesampingkan tentang kesesuaian antara taksonomi Bloom dengan jenis pengukuran dan evaluasi yang diberikan. Umumnya modul menggunakan bentuk soal pilihan ganda, benar/salah, menjodohkan, jawaban singkat dan uraian.  Berikut ini deskripsi mengenai bentuk-bentuk tes tersebut:

SOAL PILIHAN GANDA :

  • Pokok soal bisa dalam bentuk pertanyaan maupun pernyataan yang belum lengkap
  • Disediakan pilihan jawaban : ada 1 kunci jawaban dan 3 pengecoh
  • Keunggulan soal PG:

1) Penskoranmudah, cepat, obyektif

2) Mencakup ruang lingkup bahan/materi pokok bahasan yang luas   

3) Tepat untuk peserta ujian yang banyak

  • Kelemahan soal PG:

1) Penulisan soal lama

2) Sulit membuat pengecoh yang homogen dan berfungsi

3) Ada peluang menebak

4) Kurang berfungsi untuk meningkatkan daya nalar peserta

  • Penulisan soal PG harus berlandaskan kisi-kisi atau rumusan indikator dan mengikuti kaidah penulisan soal bentuk PG

 

Kaidah penulisan soal PG yaitu:

  1. Soal harus sesuai dengan indikator yang terdapat pada kisi-kisi.
  2. Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas.
  3. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja.
  4. Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar.
  5. pokok soal jangan menggunakan pernyataan yang bersifat negatif ganda.
  6. Pilihan jawaban harus homogen dan atau logis ditinjau dari segi materi.
  7. Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama.
  8. Pilihan jawaban jangan menggunakan pernyataan yang berbunyi ”semua pilihan jawaban di atas salah” atau ”semua pilihan jawaban di atas benar”.
  9. Pilihan jawaban yang berbentuk angka harus disusun berdasarkan urutan besar-kecilnya. Pengurutan tersebut dimaksudkan untuk memudahkan siswa melihat pilihan jawaban.
  10. Pilihan jawaban jangan mengulang kata/frase yang sama yang bukan merupakan satu kesatuan. Bila memungkinkan, letakkan kata tersebut pada pokok soal.
  11. Gambar/grafik/tabel/diagram dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi.
  12. Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar atau yang paling benar.
  13. Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya.

SOAL BENAR-SALAH

Kaidah penulisan soal benar-salah adalah sebagai berikut:

  1. Atur pernyataan Soal sesuai dengan indikator.
  2. Rumusan soal jelas, tegas, tidak mengandung pendapat yang masih dapat dibedakan (100% B/S)
  3. Hindarkan penggunaan kata : selalu, umumnya, kadang-kadang, sering kali, tidak pernah/sejenisnya.
  4. Hindarkan rumusan soal negatif ganda.
  5. Hindarkan mengutip kalimat langsung dari buku.
  6. Rumusan soal jangan terlalu panjang dan harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik/komunikatif.
  7. Atur pernyataan benar dan salah secara acak.
  8. Rumusan soal mengandung satu hal/permasalahan saja.
  9. Perintah mengerjakan soal :

Silanglah B bila pernyataan BENAR

Silanglah S bila pernyataan SALAH

Perhatikan contoh soal B/S yang bermasalah berikut ini:

B-S  1. Salah satu dasar hukum pelaksanaan APBN adalah ICW.

B-S  2. Penyusunan APBN melibatkan Bank Indonesia.

B-S  3. Yang dimaksud dengan UUD 1945 terdiri dari pembukaan dan batang tubuh saja.

B-S  4. Batas usia pensiun adalah 56 tahun.

B-S  5. Tukar menukar barang bergerak harus ijin menteri keuangan bila diperlukan.

B-S  6. Pemilu di Indonesia diikuti beberapa partai politik.

B-S  7 Sehabis membaca koran pagi sebaiknya memeriksa email.

B-S  8. Surat “segera” harus dikirim secepat mungkin dan paling lambat dalam waktu 24 jam.

B-S  9. Salah satu ciri budaya pribadi orang Indonesia adalah kebersamaan. Setelah diuji oleh kenyataan dewasa ini ternyata sifat demikian tidak mempunyai sisi negatif.

B-S  10. Kalau pelayanan Anda dikeluhkan oleh orang lain, sedangkan Anda sudah berusaha sekuat tenaga memberikan pelayanan yang terbaik, maka sikap Anda sebaiknya cuek saja.

SOAL ISIAN / JAWABAN SINGKAT

Kaidah penulisan soal isian/jawaban singkat dalah berikut ini.

  1. Soal sesuai dengan indikator.
  2. Rumusan soal harus jelas dan mudah dimengerti. (terarah)
  3. Rumusan soal hanya menutup satu jawaban yang dapat dijawab dengan singkat/pasti/satu kata/satu frase
  4. Hindarkan pertanyaan/rumusan soal yang merupakan kutipan langsung dari buku.

SOAL URAIAN

Kaidah penulisan soal uraian yaitu:

  1. ditulis jelas permasalahan dan tugasnya.
  2. Dibuatkan pedoman skoring agar objektif dalam penilaian

Untuk uraian objektif (menuntut sehimpunan jawaban menurut pengertian , teori dan konsep tertentu) bisa langsung dengan penentuan skor 0 jika salah atau 1 jika benar. Jika uraian non-objektif, perlu dibuatkan skala atau checklist tertentu unutk memudahkan penilaian.

5.     Pembuatan Rangkuman

Setelah kegiatan belajar diuraikan dan diberikan contoh dan diukur dalam latihan serta tes, penulis modul harus membuat rangkuman di akhir kegiatan belajar. Tujuan merangkum adalah memberikan basic ideas tentang apa yang sudah kita tulis di setiap kegiatan belajar dalam modul kita. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

  1. Baca ulang kegiatan belajar untuk mendapatkan inti bahasan dalam kegiatan belajar tersebut.
  2. Tulis ulang inti bahasan dengan kalimat yang lain (paraphrase). Paraphrase artinyakita menulis ulang gagasan utama tadi tanpa melihat lagi KB yang baru diuraikan, dengan kalimat baru dan kata-kata yang lain namun memiliki maksud yang sama.
  3. Jangan masukkan contoh-contoh dalam rangkuman.
  4. Beri kesimpulan, kadang bisa kita masukkan final thoughts atau komentar kita sebagai penulis modul (rangkuman modul yang bagus berisi summary/ringkasan dan response/tanggapan, karena seolah seperti penuturan pengajar langsung dengan peserta diklat).
  5. Rangkuman bisa ditulis dalam beberapa paragaf.

Paragraf pertama memberikan  overview keseluruhan kegiatan belajar. Paragraf terakhir menyajikan inti ringkasan yang lebih singkat lagi (very brief summary).

  1. Edit sekali lagi dan pastikan rangkuman tidak terlalu panjang. (Tidak ada rangkuman yang lebih panjang dari isi modul dan uraian yang dibahasnya.)

 6.     Penulisan kutipan dan daftar pustaka

Cara pengutipan dan penulisan daftar pustaka dapat dilihat pada lampiran bahan ajar ini.

E. REVIEW MODUL

 

Review modul adalah praktek untuk melakukan telaah mengenai suatu modul. Dalam prosedur penyusunan modul, telaah dan penilaian modul dilakukan oleh Tim yang ditunjuk oleh Kepala Pusdiklat atau pejabat berwenang. Penilai modul bisa berasal dari internal maupun eksternal BPPK, mereka adalah ahli yang menguasai substansi materi modul. Apabila dipandang perlu, pejabat berwenang bisa mengangkat ahli bahasa setelah modul selesai dinilai oleh ahli materi. Pada praktek di Pusdiklat Keuangan Umum, penilai sekaligus pembahas dan narasumber dalam seminar modul selain subject matter expert (SME) juga dari Pusat Bahasa atau Pusat Penilaian Pendidikan dari Diknas. Tugas penilai selain melakukan penilaian terhadap modul sesuai dengan format penilaian yang dimiliki BPPK yaitu memberikan rekomendasi kepada Kepala Pusdiklat/direktur STAN atas modul yang ditelaah dan dinilai.

Form penilaian modul bisa dilihat pada lampiran bahan ajar ini.

F. Lain-lain: Ketentuan administrasi penyusunan modul

1.  Tim Penyusun Modul Diklat bekerja berdasarkan Surat Perintah Tugas yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang serta kebutuhan dalam penyelenggaraan pelatihan.

2.  Hak Cipta dari setiap modul diklat yang telah disusun dan diterbitkan akan menjadi milik penyusun modul diklat dan Pusdiklat.

3.  Masing-masing anggota tim penyusun modul mata diklat memperoleh angka kredit yang sama sesuai dengan tingkatan modul diklat yang telah disusun dan penyusun maksimum 2 (dua) orang.

 

Besarnya angka kredit yang diperoleh dalam penyusunan modul mata diklat  menurut Peraturan Kepala LAN nomor 3 tahun 2011 adalah sebagai berikut:

Kegiatan WI Pertama WI Muda WI Madya WI Utama
Menyusun modul diklat sesuai spesialisasinya pada:
Diklat Prajabatan:-   Gol. I dan II-   Gol. IIIDiklat Struktural:-   Diklatpim Tk. IV

-   Diklatpim Tk. III

-   Diklatpim Tk. II

-   Diklatpim Tk. I

Diklat Pembentukan Jabatan Fungsional

Diklat Fungsional Penjenjangan:

-   Tk. Dasar

-   Tk. Lanjutan

-   Tk. Menengah

-   Tk. Tinggi

Diklat Teknis

0,600,600,961,44

1,92

1,92

0,96

0,60

0,96

1,44

1,92

0,60

0,600,601,201,44

1,92

1,92

1,20

0,60

1,20

1,44

1,92

0,60

0,600,601,201,80

1,92

1,92

1,20

0,60

1,20

1,80

1,92

0,60

0,600,601,201,80

2,40

2,40

1,20

0,60

1,20

1,80

2,40

0,60

 

PENUTUP

Dengan adanya DTSS Penyusunan Modul ini maka diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran dan sarana mempermudah penyusunan modul mata diklat bagi para widyaiswara dan pegawai khususnya di lingkungan BPPK Kementerian Keuangan.

Semakin banyak modul mata diklat yang disusun diharapkan akan semakin memperlancar pembelajaran serta semakin berkualitas peserta diklat dan para widyaiswaranya. Disamping itu diharapkan peningkatan karier para widyaiswara akan semakin cepat karena adanya angka kredit dari penyusunan modul. Above all, kunci utama menulis berada pada seringnya kita mempraktekkan menulis itu sendiri, apa pun bentuknya. Pengetahuan tanpa aplikasi akan menjadi kurang bermakna, karena itu: keep on writing! :) :) :)

7 thoughts on “Penyusunan Modul

  1. minta contoh surat pengesahan sebuah modul supaya secara sah dapat dipergunakan untuk penunjang angka kredit kenaikan pangkat yg tercantum dalak DUPAK
    sebelumnya terimakasih

  2. Salam kenal, kalau diperkenankan saya minta contoh surat pengesahan pembuatan modul supaya secara sah dapat diperhitungkan untuk menunjang angka kredit kenaikan pangkat yg tercantum dalak DUPAK. Matur nuwun

  3. Halo Bu.
    Saya guru SMP. Apakah surat pengesahannya sama dengan kami guru SMP ini…? Klo sama saya juga minta contoh surat pengesahannya
    Atas perhatiannya saya ucapkan banyak terima kasih.
    Salam.

    • Coba di cek emailnya ya bu (atau pak nih?). Mungkin pengesahannya nggak sama ya dengan di SMP, kan kami di Pusdiklat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s