Pembelajaran dengan Active Learning


Tulisan ini merupakan cuplikan pengalaman penulis ketika mengikuti Short Course on Curriculum Design and Assessment for Educational Innovation di Belanda pada 9 sampai dengan 27 Mei 2011. Sebagai seorang widyaiswara, setiap mengikuti suatu pelatihan penulis selalu mengamati metode mengajar yang dipakai oleh para pengajar yang berpotensi untuk penulis terapkan dalam diklat-diklat di unit kerja sendiri. Penulis sangat tertarik dengan metode Active Learning yang dipakai semua pengajar short course tersebut, baik dari Vrije Universiteit (VU University) di Amsterdam maupun dari Rijksacademie voor Financien en Economie  (NAFE) di Den Haag.

Active Learning sendiri sebenarnya bukan hal yang baru, bahkan Socrates sudah mengenalkan metode ini sejak dulu kala, dilanjutkan oleh seorang progressive educator yaitu John Dewey. Namun ketika masuk kelas kadang terlupakan oleh kita sebagai pengajar bahwa belajar merupakan proses aktif secara alamiah, di mana peserta harus membaca, berdiskusi, mendengarkan, menganalisa, berpikir, serta menulis. Kita sering terfokus dengan pemaparan (delivery) materi saja, padahal mendengarkan dan mencatat bagi peserta hanyalah level terbawah dari comprehension. Dr. Bernie Dodge menyatakan:

Active learning puts the responsibility of organizing what is to be learned in the hands of the learners themselves, and ideally lends itself to a more diverse range of learning styles.

Jadi, dalam active learning, peserta didik bertanggung jawab lebih besar dalam proses belajar itu sendiri. Ini sejalan dengan pendapat Bonwell dan Eison (1991) yang memopulerkan active learning dalam pembelajaran sejak 1990an, yang berpendapat bahwa “the responsibility of the learning is on the learners themselves’. Ada lagi gagasan tentang active learning yang lebih spesifik disampaikan oleh Mel Silberman (1996), yang menyatakan bahwa dalam pembelajaran yang aktif, para pesertalah yang lebih banyak melakukan kegiatan dengan menggunakan nalar mereka, mempelajari teori, memecahkan masalah, serta menerapkan apa yang telah mereka pelajari. Tetapi prosesnya harus fast-paced, supportive, dan personally engaging. Karena itu untuk memudahkan belajar, selain menyimak dan melihat, peserta juga harus bertanya dan berdiskusi dengan peserta lain. Selain itu, masih menurut Silberman,

… Above all, learners need to ‘do it’–figure things out by themselves, come up with examples, try out skills, and do assignments that depend on the knowledge they already have or must acquire.

Seperti yang dialami penulis dan teman-teman short course di Belanda, kami semua lebih banyak menggali apa yang sudah kami ketahui dan miliki untuk memahami materi yang diberikan para pengajar di sana, persis seperti pendapat Silberman di atas. Karena itu dalam artikel ini, penulis akan berbagi aktivitas dan metode apa saja yang kami lakukan dalam short course tersebut yang masuk dalam kategori active learning serta kelebihan dari metode tersebut.

  1. Interactive lecture / Ceramah interaktif

Metode ceramah interaktif menggunakan kombinasi metode yang bervariasi karena ceramah dilakukan dengan tujuan sebagai pemicu terjadinya kegiatan yang partisipatif (curah pendapat, diskusi, pleno, penugasan, studi kasus, dll). Selain itu, ceramah melibatkan semua peserta dengan adanya tanggapan balik atau perbandingan pendapat dan pengalaman peserta. Media pendukung yang digunakan antara handouts, transparansi atau power point, tulisan-tulisan di kartu, kertas plano, dll. Hampir semua fasilitator dalam short course kami sangat interaktif dalam penyajian ceramahnya, selain itu penampilan mereka yang kasual serta pembawaan yang egaliter sangat mendukung penyampaian materi dengan metode ini.

2. Discussion / Diskusi

Metode ini bertujuan untuk tukar menukar gagasan, pemikiran, informasi / pengalaman diantara peserta, sehingga dicapai kesepakatan pokok-pokok pikiran (gagasan, kesimpulan) di kelas. Untuk mencapai kesepakatan tersebut, para peserta saling menyampaikan argumentasi untuk meyakinkan peserta lainnya, dan kesepakatan pikiran inilah yang kemudian ditulis sebagai hasil diskusi. Yang membuat diskusi menjadi penting menurut fasilitator Esmiralda dari CPDC  saat menyampaikan materinya di NAFE yaitu karena knowledge is everywhere out there, therefore sharing and discussing it are very important. Oleh karena itu, semua peserta harus bisa menyampaikan ide dan pendapatnya dalam diskusi.

3. Group discussion / diskusi kelompok

Sama seperti diskusi, diskusi kelompok adalah pembahasan suatu topik dengan cara tukar pikiran antara dua orang atau lebih, dalam kelompok-kelompok kecil, yang direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Metode ini dapat membangun suasana saling menghargai perbedaan pendapat dan juga meningkatkan partisipasi peserta yang masih belum banyak berbicara dalam diskusi yang lebih luas. Keunggulan penggunaan metode ini adalah peserta bisa mengembangkan kesamaan pendapat atau kesepakatan atau mencari suatu rumusan terbaik mengenai suatu topik. Setelah diskusi kelompok, proses dilanjutkan dengan diskusi pleno, yaitu diskusi umum yang merupakan lanjutan dari diskusi kelompok yang dimulai dengan pemaparan hasil diskusi kelompok. Kegiatan ini yang paling sering kami praktekkan dalam 3 minggu short course kami. Yang menarik adalah kami pernah diminta mempresentasikan hasil diskusi kami dalam bentuk Pecha Kucha. Pecha Kucha adalah presentasi  power point dengan hanya menggunakan 20 slides berisi gambar-gambar, masing-masing slide memakan waktu hanya 20 detik, jadi total waktu presentasi hanya 6 menit 40 detik untuk keseluruhan 20 slides.

4.    Games / Permainan

Games yang dipakai antara lain pemanasan (ice-breaker) atau penyegaran (energizer). Ice-breaker dipakai untuk memecah situasi kebekuan fikiran atau fisik peserta dan dimaksudkan untuk membangun suasana belajar yang dinamis, penuh semangat, dan antusiasme. Permainan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan (fun) serta serius tapi santai (sersan). Metode ini diarahkan agar tujuan belajar dapat dicapai secara efisien dan efektif dalam suasana gembira meskipun membahas hal-hal yang sulit atau berat, di waktu yang kritis misalnya sesudah jam makan siang. Menurut fasilitator Esther den Hartog, sebaiknya permainan digunakan sebagai bagian dari proses belajar, bukan hanya untuk mengisi waktu kosong atau sekedar bermain-main saja tanpa makna. Permainan sebaiknya dirancang menjadi aksi pengalaman oleh peserta, kemudian ditarik dalam proses refleksi untuk menjadi hikmah yang mendalam (prinsip, nilai, atau pelajaran-pelajaran). Wilayah perubahan yang dipengaruhi adalah ranah sikap-nilai. Esther den Hartog memberi contoh game Back to Back, dimana dua peserta duduk di lantai saling menempelkan punggung dan mengaitkan tangan dan diminta untuk berdiri secara serempak bersamaan. Pembelajaran yang dirasakan peserta yaitu untuk mencapai tujuan bersama diperlukan komunikasi yang baik, koordinasi, serta dukungan satu sama lain. Ada game lain yang kami lakukan selama short course, misalnya Helium Stick yang juga mengajarkan tentang pentingnya koordinasi dan rasa pantang menyerah dalam mencapai tujuan.

5.    Opening Question

Supaya peserta dapat belajar lebih efektif, mereka harus membuat koneksi antara apa yang sudah mereka ketahui (prior knowledge) dengan materi baru yang akan mereka dapatkan (new content). Maka kegiatan pembukaan di kelas harus memfasilitasi peserta untuk membuat koneksi tersebut. Opening Question adalah strategi yang menampilkan pertanyaan di power point, memberi beberapa menit bagi peserta untuk memikirkan jawabannya, lalu meminta beberapa peserta untuk menjawab.  Strategi ini sangat mudah, tidak butuh waktu terlalu lama, sesuai untuk kelas besar maupun kecil. Strategi ini juga bisa menjadi feedback bagi pengajar tentang apa yang sudah dan belum diketahui peserta tentang materi yang telah dan akan disajikan. Fasilitator Anja Swennen pernah membuka sesi pagi dengan menyakan kami “What is your opinion about signature pedagogy?” sebelum akhirnya menjelaskan pada kami tentang topik tersebut. Fasilitator Esther den Hartog juga  pernah berimprovisasi dengan model yang disebutnya “Reflection of Lesson Learned” dimana peserta memikirkan jawaban pertanyan dari fasilitator dalam hati sambil menutup mata, diiringi alunan musik intrumental  “Morning Glory” yang bernuansa yoga, sehingga membuat suasana terasa khidmat.

6.    Think-Pair-Share

Think-Pair-Share adalah strategi  active learning di level individual, berpasangan, maupun kelompok besar. Ada tiga langkah: pertama, pengajar menyiapkan pertanyaan dan meminta semua peserta untuk memikirkan/menuliskan jawabannya sendiri. Langkah kedua yaitu peserta berpasangan dengan peserta lain yang duduk di dekatnya dan saling menukar dan berbagi  jawaban mereka. Ketiga, pengajar memilih beberapa pasangan dan merangkum jawaban mereka untuk seluruh kelas. Jika digunakan di awal pembelajaran, strategi Think-Pair-Share dapat membantu peserta mengorganisasikan prior knowledge mereka dan mendapatkan banyak jawaban dari peserta lain dengan cara brainstorming. Jika digunakan di sesi akhir, maka akan berguna untuk merangkum apa yang telah mereka pelajari, menerapkannya di situasi yang berbeda, serta mengintegrasikan  pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki. Strategi ini bisa diterapkan pada kelompok kecil maupun besar dalam waktu beberapa menit saja, sehingga sangat ideal untuk kelas yang metode pembelajarannya menggunakan ceramah (lecture). Di sini fasilitator harus peka dan bisa mengklarifikasi jika ada kesalahan atau ketidaksepahaman.

7.    Focused Listing

Focuse Listing adalah strategi di mana peserta mengingat apa yang mereka ketahui tentang materi dengan membuat daftar gagasan yang terkait dengan topik tersebut. Untuk memulainya, pengajar meminta peserta mengambil secarik kertas dan mulai membuat list berdasarkan topik yang disajikan di power point (topik bisa tentang materi sebelumnya atau materi yang sedang dibahas saat ini). Pengajar berkeliling di kelas sambil mengawasi peserta membuat list, kemudian merangkum gagasan utamanya di akhir kegiatan ini. Peserta yang lain  secara acak diminta meyajikan isi daftar mereka sebelum materi dilanjutkan kembali. Pada prakteknya, focused listing  tidak membutuhkan banyak waktu. Cara ini efektif untuk membuat peserta terlibat dengan materi secara aktif, dan dapat menjadi feedback bagi pengajar tentang bagaimana materi selanjunya disajikan agar sesuai kebutuhan peserta. Trainer Wim Kouwenhoven dan pernah  berimprovisasi dengan meminta peserta menuliskan satu gagasan di selembar kertas tempel kuning, sehingga satu gagasan satu kertas (bukan dalam bentuk list), dan menamakan kegiatan  ini dengan Yellow Notes.

8. Brainstorming/ curah pendapat

Metode curah pendapat adalah suatu bentuk diskusi untuk menghimpun gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan dan pengalaman dari semua peserta. Berbeda dengan diskusi, dimana gagasan dari seseorang dapat ditanggapi (didukung, dilengkapi, dikurangi, atau tidak disepakati) oleh peserta lain, pada metode ini pendapat orang lain tidak untuk ditanggapi. Tujuan curah pendapat adalah untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat, informasi, pengalaman semua peserta yang sama atau berbeda. Hasilnya kemudian dijadikan peta informasi, peta pengalaman, atau peta gagasan (mind-map) untuk menjadi pembelajaran bersama.

Brainstorming juga mirip seperti focused listing, dimana peserta diminta untuk mengingat apa saja yang mereka ketahui tentang suatu topik dengan cara menuliskan istilah-istilah maupun gagasan-gasan yang terkait dengan topik tersebut. Bedanya di sini, peserta diminta membuat hubungan antara prior knowledge dengan new possibilities. Caranya, pengajar menanyakan pada peserta tentang apa yang mereka ketahui tentang suatu topik melalui tayangan Power Point, selanjutnya peserta diminta memformulasikan secara sistematis hubungan antara gagasan tersebut. Brainstorming jika dipakai di awal pembelajaran akan berguna untuk menarik atensi peserta dan menyiapkan mereka dengan topik bahasan hari ini. Jika digunakan di akhir sesi maka akan menjadi rangkuman serta alat untuk membantu peserta menformulasikan koneksi antara apa yang mereka pelajari dengan real life.

9.    Note check

Note check  atau kadang disebut Note Sharing adalah strategi di mana pengajar meminta peserta untuk berpasangan dan berbagi catatan dengan teman di sampingnya, tujuannya untuk membandingkan catatan mereka dan mengetahui apakah ada persamaan informasi serta adakah kesalahan konsep. Peserta juga bisa bertanya atau memecahkan masalah dengan pengajar. Kegiatan ini hanya sebentar saja dilakukan. Problem dengan kegiatan ini adalah jika peserta
pesertanya ada yang kurang aktif, misalnya tidak mencatat atau hanya mengandalkan pasangannya untuk melaksanakan tugas karena kurang paham. Tetapi tujuan utama dari strategi ini adalah peserta saling mengisi dan memiliki collective understanding atas materi yang diberikan. Dengan cara ini, pengajar bisa membantu peserta untuk membuat catatan sekaligus memonitor apakah peserta diklat dapat menangkap key ideas dalam penyajian materi hari tersebut.

10. Minute Paper

Fasilitator Carmen Peters menyebut kegiatan ini dengan “Sheet Shower”. Di sini pengajar memberi pertanyaan pada peserta dalam slide PPT dan peserta harus menuliskan jawabannya, Ini bisa dilakukan kapan saja dalam proses pembelajaran, tetapi akan lebih berguna jika dilakukan di akhir sesi sebagai rangkuman materi hari ini. Peserta akan dipaksa menulis dengan bahasanya sendiri, dengan demikian dia akan menginternalisasi materi hari ini serta mengidentifikasi kesenjangan (gap) dalam pemahaman. Minute paper juga merupakan teknik classroom assessment untuk membantu pengajar mengetahui sejauh mana peserta memahami materi, apa saja yang mereka pahami, serta di bagian mana pengajar harus lebih banyak menerangkan lagi.

11.  Lower House Debate

Ini adalah versi student debate saja, dimana kelas diberi satu topik dan kelas dibagi menjadi 3 kelompok, pro, kontra dan juri. Peserta diberi salah satu posisi serta diminta mengumpulkan seluruh informasi yang mendukung pandangan mereka serta menjelaskannya pada pihak lain dan para juri. Prakteknya, setiap pihak diwakili oleh satu orang saja diberi kesempatan untuk menyampaikan proposisinya secara bergantian (kecuali juri), lalu rehat 5 menit untuk konsolidasi, dilanjutkan sanggahan setiap pihak, rehat lagi 5 menit, dan terakhir tanya jawab. Kami melakukannya satu kali di VU University dan satu kali di NAFE, semuanya sangat menyenangkan karena baru kali ini kami mempraktekkan verbal presentation dengan cara debat dan kami sadar bahwa untuk meyakinkan pihak lain itu ternyata tidak mudah.

12.  Reaction to a video

Ini adalah alternatif dalam metode ceramah, sebelum presentasi pengajar dimulai peserta menyaksikan suatu film pendek yang terkait dengan materi yang akan dibahas. Kegiatan ini bisa dipakai sebagai ice breaker atau juga sebagai pembuka sebelum peserta diberi pertanyaan yang harus dijawab dan dibahas di kelompoknya. Kami pernah menonton film Mr. Bean cheating in examination sebelum kami membahas topik evaluation and assessment, dan membuat kami semangat untuk melanjutkan mengikuti presentasi fasilitator.

13. Final Question

Final question adalah strategi mengakhiri ceramah dengan memberi tugas peserta untuk membuat pertanyaan di akhir sesi. Strategi ini mendorong peserta diklat untuk memikirkan materi hari itu secara mendalam dan mencoba menggali apakah ada hal lain yang belum dipahami peserta. Ada trainer yang menanyakan secara random di kelas dan langsung dijawab hari tersebut, ada juga trainer yang meminta peserta untuk menuliskan pertanyaannya di kertas dan dikumpulkan untuk dibahas di pertemuan selanjutnya. Bahkan ada trainer yang meminta agar pertanyaan di email saja atau dimasukkan ke Learning Moodle. Final question sangat berguna untuk mengetahui sejauh mana peserta peserta memahami materi hari tersebut.

Memang belum seluruh metode yang dapat penulis sajikan di sini karena keterbatasan ruang. Namun setidaknya penulis berharap  tulisan ini bisa menginspirasi pembaca, khususnya pengajar dan widyaiswara, untuk diterapkan dalam praktek mengajar dalam diklat. Selamat mencoba.

dimuat dalam majalah  Forum Keuangan Vo. I/03/September 2011

Referensi

Bonwell, C.; Eison, J. (1991). Active Learning: Creating Excitement in the Classroom AEHE-ERIC Higher Education Report No. 1. Washington, D.C.: Jossey-Bass.

Bernie Dodge, Bernie. 2002. Active Learning on the Web. San Diego State University: Department of Educational Technology, diakses dari http://edweb.sdsu.edu/people/bdodge/Active/ActiveLearning.html)

Silberman, M. 1996. Active Learning: 101 Strategies to Teach Any Subject. Boston: Allyn and Bacon.

Keluyuran Belanda

Bulan Juni 2011 saya dapat beasiswa NESO untuk mengikuti Short Course on Curriculum Design and Assessment for Educational Innovation di Netherlands. I was so excited to go, karena training tersebut sangat terkait dengan tupoksi sehari-hari sebagai sebagai widyaiswara. Misi khusus saya sendiri lebih fokus untuk melihat praktek teaching di sana serta bagaimana menyusun kurikulum serta evaluasinya, dan yang tidak lupa satu lagi yaitu jalan-jalan di seluruh Belanda serta negara-negara di dekatnya.  Untuk cerita materi diklat mungkin di tulisan lain saja, di sini mau bagi-bagi foto keluyuranku selama 3 minggu di sana. Btw, saya keluyurannya setelah jam belajar sama sabtu-minggu, jadi belajar jalan…backpackeran jg jalan ^_^…

Sedikit tentang cuaca di sana, saya datang pas summer, tapi kok suhunya ya dingiin banget (rata-rata 13 sd 18 derajat Celcius), jadinya salah kostum sekali. Sudah terlanjur bawa baju dan jaket yang tipis-tipis, ternyata di sana jarang sinar matahari, sering mendung, kadang hujan, jadi kalau paket jaket mesti dobel 2, kalau orang Belandanya sendiri sih sudah biasa suhu lebih dingin, jadi bajunya nggak tebel2 amat. Temen2 saya banyak yang bibirnya pecah2 berdarah saking dinginnya, makanya kami semua pakai body cream dan lipbalm terus. Oya, foto berikutnya:

Itu gambar di depan kampus VU Amsterdam, tempat kami menunggu Metro no 51. Tampak di belakangnya itu kantor CIS yang menjadi organizer training kami.

Oya, saya mencoba Canal Cruise di Belanda, mengunjungi Madame Tussaud Museum, Volendam, Keukenhof, dan banyak tempat lainnya. Nih foto-fotonya;

Canal Cruise di Belanda

Joy Ride along the Canal

Enjoy the view along the canal

with Jon Bon Jovi

Keukenhof

 

Beautiful Tulips

Saya juga pergi ke Belgia dan Perancis. to be cont

My Birthday Card for You

Dear Love,

And, for all these things & much, much more, I love you.
I’m so, so happy that I get to share your birthdays with you.
I hope that I make your birthdays as special as you make mine.
The day I saw you I knew in my heart you were the one for me.
You are my brightest light, the one who makes my life
full of beautiful things each day.
The footprints of an angel are love,
and where there is love, miraculous things can happen.
I thank God for sending you to my life,
you are the biggest blessing.

You are the great love of my life.

Happy Birthday, Honeybunch!!! It’s your ‘dirty forty’, yeah!!!

All my love,

Your Jo.

Outbound Pusdiklat Keuangan Umum 2011

Last February, our training center had an outbound program in Taman Hutan Rakyat Dago Pakar, Bandung. The program was particularly effective to build our interpersonal relationships, trust and bonding, communication of shared vision and goals, motivation, behaviour modification in response to change, and personal effectiveness. That’s not because of the facilitators from BANDIT team, but just because our employees have already got a solid teamwork spirit from the beginning.

By the way, there are just so many advantages of outbound activities. Outbound trainings can enhance:

1. TEAMBUILDING/TEAMWORK
We can make successful teams while focusing on problem-solving, communication, trust-building, change and conflict resolution.

2. LEADERSHIP DEVELOPMENT
We can identify and develop traits that can be successfully employed in situations such as thinking of strategy, goal setting, planning, resource allocation, empowerment, and decision-making.

3. CONFLICT RESOLUTION
We can improve interpersonal skills, remove communication blocks, build abilities to express and resolve differences in an unstressed manner.

Viva PusdiklatKU!

4. PERSONAL AND PROFESSIONAL EFFECTIVENESS
We can improve self image through emphasis on personal and group achievements, encouragement to stretch beyond perceived limits, and gain a renewed sense of purpose and commitment.

5. INTERPERSONAL SKILLS
We can develop abilities to relate meaningfully and with confidence in group and individual situations, as well as working towards enhancing group dynamics.

6. COMMUNICATION SKILLS
We build effective communication skills that enables enhanced performance and productivity.

7. INDUCTION/ORIENTATION FOR TRAINEES
Some of us are trainers, widyaiswara. The program really reduces lead time in creating productive, effective employees and enables faster integration of pusdiklat culture, values, and expectations.

8. PARTNERSHIPS/ALLIANCES
We can create more effective partner relationships through shared experiences and goals and trust-building.

As I am a team building trainer, I’ve got so many insights from the outbound activities. I will apply some of the BANDIT’s strategies into my teaching…^_^

Robert Frost

           

The Road Not Taken
Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;

Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.[

Rainbow

My heart leaps up when I behold

A Rainbow in the sky:

So was it when my life began;

So is it now I am a man;

So be it when I shall grow old,

Or let me die!

The Child is father of the man;

And I could wish my days to be

Bound each to each by natural piety.

 

Williams Wordsworth

MASTER OF CEREMONY

Ini adalah bahan ajar saya ketika harus mengajar materi tentang MC pada DTSD Pengelolaan Diklat yang lalu. Bahan saya ambil dari internet, hanya sedikit dari pengalaman praktek dan training public speaking saya dulu bersama ibu Magdalena Daluas dari TVRI. Selamat menyimak.

Master Of Ceremony (MC)


MC adalah seorang yang akan memimpin suatu rentetan acara secara teratur dan rapih. Kemampuannya akan sangat menentukan apakah sebuah acara akan berlangsung lancar atau tersendat-sendat. Karena itu, seorang MC harus benar-benar menguasai seluruh aspek yang akan mempengaruhi kelancaran pada saat itu. Ia adalah benar-benar seorang sutradara pada sebuah acara.Syarat-syarat menjadi seorang MC atau Pembawa Acara :

• Memiliki intelegensi tinggi.

• Berkepribadian dan mempunyai sifat yang baik.

• Berpenampilan atraktif dan simpatik (santun dan menarik).

• Memiliki jiwa pemimpin.

• Berbahasa dengan baik.

• Berbicara komunikatif.

• Sabar.

• Cekatan.

• Mempunyai naluri antisipasi yang baik.

• Memiliki spontanitas yang baik.

• Memiliki rasa humor yang tinggi.

• Berpengetahuan umum luas.

Menjadi seorang Pembawa Acara/Master Of Ceremony/ Public Speaker, tidak cukup hanya dengan modal suara bagus. Namun ada banyak penunjang yang perlu juga diperhatikan serius. Di bawah ini saya coba akan memberikan Tips yang barangkali bisa membantu anda untuk belajar menjadi seorang Pembawa Acara.

Untuk menjadi seorang Pembawa Acara, selain modal suara yang enak didengar, harus juga memiliki kepribadian & intelektual. Artinya Pembawa Acara harus memiliki pengetahuan luas, kaya akan perbendaharaan kata Seorang pembawa acarapun seorang seniman kata-kata, memiliki kemampuan bahasa yang memadai, kepribadian yang excellent, artinya dia harus luwes, percaya diri, berjiwa besar, memiliki sense of humor, disiplin, memiliki sikap yang benar, memahami etika, berpenampilan bersih, wajar, sopan dan menarik.Seorang Pembawa Acara akan menjadi pusat perhatian seperti layaknya artis yang tampil di panggung. Untuk itu tampil menarik & enak dilihat adalah suatu keharusan. Berikut tips yang diambil dari lusypascha.multiply.com

Persiapan yang bisa dilakukan saat menjadi Pembawa Acara adalah :

1. Rileks…Pastikan kondisi tubuh & suara fit, segar dan normalAtasi rasa gugup dengan menarik nafas panjang dan dalam, menggerakkan badan sedikit untuk sekedar melemaskan otot yang kaku, berdiri tegap lalu tersenyumlah

2. Know The Room (Kenalilah ruangan tempat anda akan menjadi Pembawa Acara)

3. Know The Audience (Kenali karakteristik tamu dan pandang mereka sebagai sahabat

4. Know The Material (Kuasai bahan/ acara yang akan dibawakan)Baca literature yang diperlukan untuk menunjang pengetahuan anda, karena semakin banyak yang anda ketahui tentang acara yang anda bawakan, pasti semakin Percaya Diri

5. Susun pointer untuk membantu mengingat apa yang akan diucapkan

6. Jangan terlalu sering mengucapkan kata (meminta) maaf pada audience

7. Jangan tinggalkan daftar acara atau rundown acara (meskipun sudah ada stage manager)

8. Pakaialah pakaian yang serasi/cocok dengan acara, jangan sampai saltum atau salah kostum. (Buatlah sedikit saja berbeda dengan tambahan assesories atau pernak-pernik jika harus memakai seragam yang sama dengan tamu atau panitia. Ingat Pembawa Acara adalah pusat perhatian)

9. Pakailah Make Up (meskipun anda laki-laki pakailah sedikit riasan wajah agar wajah tidak mengkilap atau berwarna gelap)

10. Lakukan gerakan tangan seperlunya saat sudah berada di atas pentas. Jangan sampai berlebihan apalagi untuk menutupi kegugupan. Karena gerakan tubuh yang berlebihan hanya akan mengacaukan penampilan anda

11. Jaga mulut & tenggorokan selalu basah, untuk itu siapkan air putih yang siap diminum jika dibutuhkan

12. Jangan makan & minum yang akan mengganggu organ tubuh anda, minimal satu jam sebelum tampil misalnya soda, makanan berlemak (yang bisa membuat mual), makanan pedas atau asam

13. Tampillah Percaya Diri dan Be Yourself

Teknik Vocal :

1. Intonasi (intonation) : Pakailan intonasi atau nada suara, irama bicara atau alunan nada dalam melafalkan kalimat

2. Aksentuasi (accentuation) atau logat. Lakukan stressing pada kalimat tertentu yang dianggap penting, Hindari logat kedaerahan yang medhok apabila menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing.

3. Kecepatan (speed) bicara. Jangan bicara terlalu cepat atau terlalu lambat

4. Artikulasi (articulation) Yaitu kejelasan  pengucapan kalimat, pelafalan kata

5. Infleksi. Lagu kalimat, perubahan nada suara, hindari pengucapan yang sama bagian setiap kata (redundancy). Inflesi naik menunjukkan adanya lanjutan kalimat atau menurun untuk menunjukkan akhir kalimat.

Teknik Performa  & Gesture:

1. Lakukan Eye Contact : Pandangi audience ke seluruh ruangan, padang tepat ke mata mereka, (bila memungkinkan dekati bila ada yang tidak interest dengan anda)

2. Lakukan gerakan tangan/isyarat/sikap yang alami, spontan (tidak dibuat-buat), tidak sepotong-sepotong, tidak ragu, serasi dengan kalimat yang diucapkan, gunakan penekanan pada point penting, tapi jangan berlebihan. But The Most important Gesture : TO SMILE

3. Gerakan Tubuh ini meliputi ekspresi wajah, gerakan tangan, kaki, lengan, bahu, mulut atau bibir, gerakan hidung, kepala, badan

4. Jangan melakukan gerakan yang monoton misalnya meremas-remas jari, menepuk tangan, dll

5. Jangan lakukan gerakan yang tidak bermakna aatau tidak mendukung pembicaraan, misalnya memegang kerah baju, mengelus atau menyibak rambut, memainkan microphone, garuk-garuk kepala, dll

6. Makin besar jumlah audience, makin besar & lambat gerakan tubuh yang bisa kita lakukan, tapi kalau audience jumlahnya kecil lakukan gerakan tubuh ala kadarnya saja.

7. Ucapkan setiap kalimat dengan senyum sehingga suara yang dihasilkan adalah Smilling Voice

8. Jangan sekali-kali anda membuat joke tapi anda sendiri tertawa terpingkal-pingkal

9. Jika melempar Joke lakukan sedikit pause untuk memberi kesempatan audience tertawa.

10. Jika dalam opening anda mengucapkan salam, beri jeda beberapa detik untuk memberi kesempatan audience menjawab

Saran :

1. Sebaiknya seorang Pembawa Acara / MC memiliki kemampuan menyusun acara yang sesuai dengan aturan protokoler, sehingga MC bisa memberi masukan pada penyelenggara acara, dan tidak sekedar menuruti keinginan penyelenggara yang belum tentu tepat.

2. Pembawa Acara / MC harus bisa berfikir dan bertindak cepat serta punya planning-planning cadangan, jika terjadi trouble yang tidak dikehendaki saat acara berlangsung. Sehingga acara tidak tampak kacau atau audience merasa bosan.

BODY LANGUAGE

  • Kontak Pandang (Eye Contact)

Seorang MC harus berani menatap mata audiensnya. Hal ini sangat penting  membangun kewibawaan MC dan menebarkan rasa percaya dirinya.Kontak pandang (eye contact) adalah sarana berkomunikasi yang sangat komunikatif. Kontak pandang yang dilakukan oleh MC akan memberikan kesan yang mendalam karena audiense merasa dihormati dan diperhatikan oleh sang MC.

  • sikap tubuhDuduk (jarang) : Tubuh tegak, bahu relaks, tangan diatas pangkuanBerdiri : Untuk wanita membentuk sudut 45° (salah satu kaki pose), tegak, dada tegap, bahu relaks dan untuk pria kaki sedikit terbuka.-Berjalan : Tubuh tegap, bahu relaks dan langkah mantap.

OLAH VOCAL

Oleh Muh. Abduh Abbas – JTVSenin, 01 Desember 2008
Dalam dunia penyiaran yang semakin berkembang dewasa ini, kemampuan vokal menjadi salah satu tumpuhan Presenter & MC untuk dapat menampilkan laku penyiarannya dengan baik. Lain perkataan , melalui kemampuan “ laku – vokal “ Presenter & MC dituntut untuk dapat menyampaikan informasi–informasi acara. Ia diharapkan untuk menampilkan gagasan–gagasan menjadi perwujudan yang nyata dengan bentuk penampilan yang diperhitungkan bagi penontonnya. Jika suara untuk melontarkan bahasa syiar itu tidak berfungsi sebagaimana mestinya maka isi acara yang terkandung tak akan dapat dikomunikasikan kepada pendengar atau penonton. Sehingga yang perlu diingat bahwa vokal sebagai salah satu media pengungkapan ekspresi Presenter & MC, dan hal ini merupakan media penyajian informasi melalui dialog.Seorang Presenter & MC akan terlihat membawakan laku penampilannya dengan baik seolah tidak ada beban tekhnik sebab ia dengan kesadaran yang penuh telah melatih seluruh peralatan dirinya agar vokalnya menjadi lentur dan dapat berartikulasi dengan jelas. Ini semua dibutuhkan adanya suatu ketekunan, keuletan yang disertai dengan tekad dan kemauan keras untuk terus menerus melatih seluruh peralatan tersebut. Karena ketekunan dan keuletan berlatih akan dapat memanfaatkan dan mengembangkan kemampuan vokalnya tahap demi tahap. Tentu saja asalkan seorang Presenter & MC yang bersangkutan tidak memiliki atau mengidap cacat peralatan vokal.Bagian – bagian pokok yang menyangkut dengan suara / vokal :

A. Pernafasan

Nafas mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, tanpa nafas yang baik kesehatan manusia akan sangat terpengaruhi. Bernafas untuk hidup sehari– hari dan bernafas untuk Presenter & MC sangatlah lain, meskipun sama–sama dalam hal bernafas. Bernafas untuk hidup berkenaan dengan bagaimana harus mengisi pada rongga dada yang berguna bagi pembakaran darah. Untuk ini tak ada faedahnya mengajarkan bagaimana caranya bernafas, karena sejak lahir kita telah bernafas.Kita tak akan berkata tanpa menarik nafas. Kata–kata yang kita lepaskan diikuti dengan keluarnya udara dari mulut. Jika persediaan udara dalam rongga dada telah terkuras keluar maka tak sepatah katapun dapat kita ucapkan dengan jelas, karena nafaslah yang menjadi sumber tenaga penggerak / penggetar pita suara kita.Ada tiga macam cara pernafasan yaitu sebagai berikut:

a. Pernafasan dada yaitu saat kita bernafas maka bagian dada yang mengembang dan mengempis bila kita mengeluarkan nafas. Pernafasan dada kurang baik dilakukan dalam menghimpun tenaga sebagai penggetar sumber suara. Karena mengakibatkan Presenter & MC merasa cepat lelah dalam memproduksikan suara, sebab peralatan pernafasan tidak dapat bekerja dengan leluasa. Demikian juga Presenter & MC akan cepat merasa gatal – gatal ditenggorokan dan disusul kemudian dengan penampilan suara yang serak.

b. Pernafasan perut yakni saat kita bernafas maka bagian perut yang mengembang dan mengempis saat kita menghembuskan nafas. Pernafasan perut ini kurang mempunyai daya untuk mendukung pembentukan volume suara. Tapi pernafasan ini cukup baik untuk melatih vokal dari pada pernafasan dada.

c. Pernafasan Diafragma yaitu dada dan perut mengembang saat kita bernafas. Dimana tahapan perut lebih dominan dari pada dada. Pernafasan Diafragma adalah yang paling efektif bagi seorang Presenter & MC dan paling menguntungkan dalam berolah vokal. Sebab tidak mengakibatkan ketegangan pada peralatan pernafasan dan peralatan suara serta juga mempunyai cukup daya untuk pembentukan volume suara.

Ada baiknya juga mengadakan latihan pernafasan dengan cara lainnya karena pernafasan seseorang tergantung pada kebutuhan kegiatan fisiknya ( misalnya akrobat ) menuntut jenis pernafasan yang lain.Perlu diperhatikan bahwa untuk wanita, pernafasan yang cocok adalah yang menggunakan perut dengan bagian dada ikut bekembang sedikit sekali dibandingkan dengan pernafasan pria. Hal ini disebabkan karena memang adanya perbedaan alamiah pada susunan tubuh.

B. Membuka Laring

Laring (larink) terletak di bagian atas pipa suara yang terdapat sepasang pita suara. Apabila pita tersentuh udara atau nafas, maka akan bergetarlah ia sehingga menimbulkan suara secara efektif sehingga tidak mampu menggunakan suaranya dengan benar. Dikatakan laring itu tertutup apabila :- – - Laring akan selalu terbuka apabila seseorang melatihnya dengan sensasi untuk mendapatkan ruang yang cukup banyak di mulut bagian belakang (seperti misalnya kita sedang menguap).suaranya datar. ketika menghirup udara, terdengar suara yang menyertainya. otot pada leher bagian belakang terjadi kontraksi, juga otot–otot di bawah dagu.C. PengucapanUntuk dapat berartikulasi dengan baik dibutuhkan kelenturan alat–alat pengucapan, sering kita lihat seorang Presenter & MC yang bersuara cukup nyaring tetapi tidak menampilkan artikulasi yang cukup baik maka kejelasan informasi pun terhambat pula. Salah satu penghambatnya adalah selain otot–otot peralatan pengucapan yang kurang terlatih, juga disebabkan yang bersangkutan segan atau malu untuk membentuk rongga bibir sesuai dengan bentuk lambang bunyi yang dibawakan. Bahkan banyak orang yang enggan membuka mulut selagi membentuk artikulasinya. Tentu saja hal semacam ini tidak pada tempatnya.Artikulasi yang baik akan dapat dicapai dengan menempatkan posisi alat–alat pengucapan pada posisi yang wajar tetapi dengan penggunaan tenaga yang efektif dan senantiasa terkontrol. Suara ucapan panjang atau pendek caranya harus membangun pada suatu klimaks. Ini berarti bahwa satu dari unsur–unsur berikut harus dikembangkan dari permulaan, yaitu volume, intensitas emosi, variasi jarak kecepatan, nada atau irama ( diksi, tekanan ). Latihan menciptakan irama gunanya agar Presenter & MC mampu menghindari pengucapan dialog yang monoton ( datar ). Bayangkan saja apa yang terjadi pada penonton kalau Presenter & MC yang pengucapannya monoton. Penonton jadi bosan, jenuh.

Seorang Penyiar ( Presenter & MC ) yang baik akan selalu memperhatikan kebutuhan latihan. Banyak hal yang harus diperhatikan untuk mempertahankan dan meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas. Latihan-latihan itu antara lain :

1. Pernafasan

2. Pengucapan

3. Kelancaran

4. Intonasi

5. Menyusun Kalimat

6. Membaca ( Koran, Majalah dan Ilmu Pengetahuan )

7. Irama dll.


MELATIH SUARA DIAFRAGMA
Kualitas suara yang diperlukan seorang pembawa acara adalah “suara perut”, suara yang keluar dari rongga badan antara dada dan perut –dikenal dengan sebutan “suara diafragma”.Jenis suara ini akan lebih bertenaga (powerful), bulat, terdengar jelas, dan keras tanpa harus berteriak. Untuk bisa mengeluarkan suara diafragma, kita dapat melakukan latihan ringan sebagai berikut:

1. Ucapkan huruf vocal A, I, U, E, O dengan panjang-panjang. Contoh: tarik nafas, lalu suarakan AAAAAaaaaaaaaaaaaa… (dengan bulat), terus, sampai habis nafas. Dilanjutkan lagi untuk huruf lainnya.

2. Suarakan AAAAaaaaaaa… dari nada rendah, lalu naik sampai AAAAaaaaaaa… nada tinggi.

3. Ambil napas pelan-pelan. Ketika diafragma dirasa udah penuh, buang pelan-pelan. Untuk nambah power, buang nafas itu, hela dengan cara berdesis: ss… ss… ss… (putus-putus), seperti memompa isi udara keluar. Akan tampak diafragma Anda bergerak.

4. Saat mengambil napas, bahu jangan sampai terangkat. Kalau terangkat, berarti Anda bernapas dengan paru-paru. Contoh: ketika orang sedang ambil napas mendadak karena kaget, ia akan mengambil napas dengan paru-paru. Makanya, orang kaget suka megang dada. (www.romeltea.com).*
Sambil melatih vokal Anda, lakukanlah di depan cermin  agar sekaligus melatih penampilan dan pembawaan Anda. Ada baiknya juga sekali-kali membaca puisi dengan lantang di depan kaca, sekaligus untuk melatih intonasi dan jeda Anda. Jangan segan minta pendapat teman atau orang lain tentang kualitas MC Anda. Anda juga perlu sering mengamati cara presenter atau MC papan atas dalam membawakan acara, ambil tekhnik-tehnik mereka yang bagus dan bisa Anda terapkan.

Kunci sukses seorang MC juga ditentukan oleh ‘jam terbang’ nya, dengan kata lain pengalaman praktek menjadi pembawa acara sangat mutlak diperlukan. Karena itu teruslah berlatih dan mengasah ketrampilan Anda , setiap ada kesempatan atau event untuk melakukannya, ambillah itu dan lakukan tugas Anda dengan penuh percaya diri. Selamat mencoba ^_^.

Beautiful Singapore

Enjoying a day in Singapore with my son, Faishal…how fun!

My 9-yr-old son Faishal @ Soetta Airport

Asyiknya mau bepergian...

HarbourFront

Singapore from a cruise

Faishal...

I wish Jakarta had an MRT like this...

A sign at an MRT station

Faishal in front of Maybank bld

One Fullerton!

Mini Merlion

Kesampean juga foto depan Merlion, sudah sah jadi turis

Far behind is the Esplanade

Esplanade Singapore

Wow!

Singapore city

Beautiful city

What is more amazing is I got a chance to meet an old friend of mine, Lina Puryanti, there. She’s a sPh.D. candiddate of NUS now. Wow, it was our first meeting after we graduated in 1995.

Ketemu temen lama di Singapore

Oleh-oleh dari Jepun

Aku dapat kesempatan mengikuti short course di Temple university, Japan selama 15 hari. Lumayan menambah pengetahuan tentang training management & HRD management. Tapi kali ini cuma mau share sedikit foto aja di sini, tentang materi short course bisa di upload kapan2 ya…

Btw untuk teman2 yang ingin punya kesempatan belajar di LN, syaratnya sih cuma skor TOEFL aja yang bagus, makanya sering2 belajar bahasa Inggris ya…

Check out my ole2 4 U:

Hari pertama menginjak Japan

Kalo ngga salah ini ornamen dinding di stasiun Ueno

x

Di Shensoji Temple

Lukisan di Asakusa market, ini kecil tapi mahal...

Ini juga, kecil2 mahal banget (1 yen sekitar Rp1000,-) lukisannya cuma 20 x 20 cm

Warteg di Aoyama Street

Mau nyoba makan ini? Halal tidak dijamin...

menjelang senja di Harajuku

Mau lunch di deket sta. Roppongi

Tempat favorit buat beli cemilan sehari2

Tokyo tower senja hari

Tokyo Tower pas maghrib

pemandangan malam di Odaiba

kunjungan ke Tokyo Stock Exchange

Foto2 yang lain silakan liat di facebookku aja ya….

Gempa Besar di Jakarta 2010? Bener Ngga Sih?

Saya dapat sms dari teman yang mengingatkan bahwa akan ada gempa besar di Jakarta dalam waktu dekat ini. Buru-buru saya cari informasi untuk mengecek kebenarannya. Banyak yang udah saya baca. Di antaranya dari koran Republika, ada berita dari bahwa Pusat Penanggulangan Krisis (PPK) Departemen Kesehatan mengingatkan agar warga Jakarta siap-siap menghadapi gempa. “Jakarta masuk dalam garis gempa membentang dari Sinabang hingga Pelabuhan Ratu yang berpotensi gempa,” kata Kepala PPK Depkes, Rustam S Pakaya. Potensi gempa ini, menurut Rustam, akibat adanya pergerakan lempeng di bawah laut yang berinduk pada Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. “Terjadi erosi terus-menerus di bawah permukaan laut.” Wih, ngeri juga  nih. Memang

berdasarkan pantauan yang diperoleh PPK Depkes telah terjadi erosi di Pelabuhan Ratu setinggi 2.050 meter dan 600-700 meter di Pangandaran di bawah permukaan laut. “Kita harus waspada jika benturan di antara lempeng di bawah permukaan laut ini terjadi. Walaupun tidak bisa diperkirakan waktu tepatnya, pasti akan terjadi gempa,” kata Rustam. Yang terparah, kata dia, gempa diperkirakan bisa mencapai 8,5 skala richter dan menyebabkan tsunami.

Wah, 8,5SR juga dilaporkan vivanews beberapa waktu lalu. Berarti kita tetap harus waspada pada perkiraan gempa akibat pergerakan lempeng yang sedang terjadi saat ini.

Kalau dibaca lagi di Republika, Rustam mengatakan, yang penting bagi seluruh warga termasuk Jakarta adalah pathway (jalur untuk evakuasi ke tempat aman). “Bagaimanapun, saat gempa terjadi kita sudah tidak sempat berpikir lagi.  Pathway harus segera disosialisasikan ke masyarakat,” kata dia.

Saya cari lagi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),  dinyatakan bahwa Jakarta tidak mempunyai potensi pusat gempa.

“Jakarta dalam sejarah kegempaan Jawa tidak mempunyai episentrum gempa. Tetapi Jakarta terpengaruh oleh gempa yang terjadi di Jawa, seperti gempa Pangandaran,” kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI Dr Ir Hery Harjono dalam jumpa pers di Kantor LIPI, Jakarta, Selasa (6/10/2009).

Jadi, Jakarta bukan di episentrum gempa, tapi karena pergerakan lempeng bisa saja terjadi yang 8,5 SR itu. Apalagi saya ingat pernah baca dulu Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana pernah mengingatkan selepas kejadian gempa di Padang tahun lalu bahwa gempa besar pernah terjadi di Jakarta yaitu  pada 1699, 1780, 1883, dan 1903. (Makanya waktu itu pemerintah mengundang Professor Antony Saich dan Dr. Arnold Howitt, dua pakar manajemen gempa dari Harvard –memberi kuliah soal manajemen gempa  di Istana. Sepertinya pak BY and pemerintah mau membenahi manajemen bencana di negara kita ini.)

Saya cari-cari lagi, di detiknew malah ditulis pusat gempa ada di Ujung Kulon, Tasikmalaya. Wah, Banten kan dekat Jakarta ya. Katanya Potensi (gempa) di darat dan di laut terjadi di sebelah selatan Lampung, di Jawa Barat dan di Banten antara Selat Sunda. Kekuatannya sekitar 8 skala Richter (SR),” kata Direktur Teknologi Sumber Daya Mineral BPPT Yusuf Surachman, Kamis (3/9/2009).

Potensi seperti muncul karena tabrakan lempeng Indoaustralia dan lempeng Sumatera dan Jawa.

“Bagaimana mekanismenya? Ada subduksi lempeng oceanic menyusup ke dalam lempeng benua. Karena ada sistem terkunci maka ada potensi gempa seperti itu. Jadi lempeng Indoaustralia bergerak terus di selatan Jawa dan menekan hingga 7 cm pertahun,” jelasnya.

Apalagi, saat ini lempeng itu sudah memasuki periode matang. “Pergerakan centimeter pertahun saja sudah tertekan, sekarang saja banyak terjadi gempa meski berkekuatan kecil menyebar di seluruh Indonesia, kondisi ini sama dengan 1 abad lalu, sekitar tahun 1800-an,” tutupnya.

Ih, ngeri ah. Kalau gitu siap-siap antisipasinya saja ya. Saya ada artikel dari Depkominfo tahun 2009 lalu: langsung copas aja.

GEMPA BUMI DAN ANTISIPASI KITA

Untuk kesekian kalinya, bumi Pertiwi dilanda bencana gempa bumi. Kali ini gempa mengguncang kota Padang dan kota-kota sekitarnya di Provinsi Sumatera Barat. Ratusan warga meninggal dunia, ribuan luka-luka, sementara kerusakan harta-benda akibat bencana ini tak terhitung nilainya. Belum lagi trauma kejiwaan, kesedihan dan nestapa warga yang kehilangan anggota keluarga, sanak saudara, serta rumah yang selama ini mereka tinggali.

Seperti saat terjadi gempa-gempa bumi sebelumnya, banyak di antara kita yang terkejut, prihatin, sekaligus menyesali banyaknya korban yang meninggal dunia. Bagaimanapun, bencana gempa yang terjadi berturut-turut di berbagai wilayah, dengan korban harta dan jiwa yang cukup besar, membuat bangsa ini selalu dirundung duka. Namun sayang, semua keprihatinan itu belum mampu mengubah sikap dan perilaku masyarakat secara mendasar dalam menghadapi gempa bumi. Kita baru mampu melakukan tindakan kuratif atau penanggulangan dampak setelah gempa melanda, sementara tindakan preventif-antisipatif belum diterapkan secara sungguh-sungguh dalam kehidupan sehari-hari.

Harus diakui, reaksi masyarakat terhadap dampak bencana gempa bumi sangat positif. Hanya berselang satu hari setelah gempa terjadi, sumbangan dalam bentuk uang, makanan, pakaian maupun barang dari berbagai pihak terus mengalir ke Sumatera Barat. Hal tersebut menunjukkan bukti bahwa masyarakat sangat peduli untuk membantu meringankan beban mereka yang sedang menderita. Hanya saja, tindakan itu belum diimbangi dengan kesadaran bahwa kekuatan gempa bumi tidak bisa dilawan oleh manusia, sehingga diperlukan sikap mengalah untuk menang. Mengalah dalam arti mempersiapkan kondisi yang kondusif bagi berlangsungnya gempa bumi, bukan sebaliknya melawannya dengan tindakan yang tidak selaras dengan sifat-sifat gempa bumi.

Sebagai negara yang sebagian besar wilayahnya berada di dalam ring of fire atau lingkar gunung api dunia dan berada persis di patahan lempeng bumi yakni lempeng Australia dan Eurasia—dimana keduanya merupakan faktor utama pencetus gempa bumi—sepantasnyalah bangsa Indonesia menganggap bahwa terjadinya gempa bumi merupakan sebuah keniscayaan. Seyogyanya pula bangsa Indonesia membangun bangunan yang tahan gempa, sehingga saat bencana yang sama terjadi lagi, jumlah korban bisa diminimalisasi. Namun kenyataan menunjukkan, di sejumlah daerah yang jelas-jelas termasuk wilayah rawan gempa, masyarakat justru mendirikan bangunan yang tidak tahan guncangan. Konstruksi beton yang masif dan kaku menjadi pilihan, karena dipandang lebih murah, kuat dan sesuai dengan tren desain modern. Namun diakui maupun tidak, tren membuat bangunan beton—apalagi persyaratan teknisnya tidak diterapkan secara baik—adalah salah satu bentuk perlawanan terhadap sifat-sifat gempa yang lebih selaras dengan tipe bangunan yang elastis dan dinamis.

Berbagai gempa bumi berskala di atas 6 Skala Richter (SR) seperti yang terjadi di Aceh dan Nias, Bengkulu, Pangandaran, Tasikmalaya, semua membawa korban yang cukup besar. Bahkan gempa Yogyakarta yang ‘hanya’ 5,9 SR pun menelan korban jiwa sampai ribuan orang. Kebanyakan korban meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan tempat tinggal yang menurut para pakar sebagian besar berkonstruksi beton non standar atau beton sederhana.

Bandingkan dengan gempa berkekuatan 7,1 SR yang terjadi di Ishikawa Jepang pada 2007, yang hanya menewaskan sekitar sepuluh orang. Bahkan gempa ini hanya merubuhkan puluhan rumah saja. Hal tersebut bukan semata-mata karena kuat-lemahnya guncangan, akan tetapi lebih terkait dengan bagaimana perilaku masyarakat setempat dalam mendirikan bangunan yang selaras dengan tabiat gempa bumi.

Kendati sebagian besar penduduk Indonesia sadar bahwa mereka tinggal di daerah rawan gempa, akan tetapi jumlah warga yang secara khusus mendesain tempat tinggal yang tahan guncangan dapat dihitung dengan jari. Ironisnya, rumah-rumah tradisional yang sejatinya didesain oleh nenek-moyang agar tahan guncangan, justru menghilang dari khazanah arsitektur Indonesia. Blunder ini pada akhirnya membawa petaka, banyak rumah beton yang rubuh manakala diguncang gempa berkekuatan besar.

Fakta tersebut sesungguhnya dapat difahami, karena rumah beton—kendati lebih kuat—namun fleksibilitasnya di tengah guncangan sangat rendah. Apalagi rumah beton yang desainnya tidak memenuhi standar, misalnya tidak disertai blok-blok beton cor bertulang besi sebagai penunjangnya, kemampuannya menahan daya tarik dan daya tekan sangat rendah. Kita bisa melihat, hampir 80% rumah yang rubuh saat gempa di Padang Yogyakarta beberapa waktu lalu adalah rumah beton, sementara sebagian besar rumah-rumah tradisional dari kayu masih berdiri, kendati ada kerusakan pada atap dan dinding-dindingnya.

Probabilitas terjadinya gempa bumi di Indonesia masih sangat besar, dan jangan lupa, tidak seorangpun dapat meramalkan kapan gempa tersebut akan terjadi. Maka sangat naif jika bangsa Indonesia terus mendirikan bangunan yang tidak tahan gempa, khususnya rumah-rumah beton alakadarnya, sebagaimana yang dilakukan sebagian besar masyarakat saat ini. Tindakan tersebut sama saja dengan mengabaikan keselamatan diri sendiri.

Sekali lagi, kita tidak bisa melawan kekuatan gempa bumi. Sebaliknya, kita seharusnya bersahabat dengan gempa. Salah satu cara yang paling rasional adalah dengan membangun rumah tahan gempa. Soal desain, kita memiliki puluhan jenis rumah tradisional yang sebagian besar tahan gempa. Tinggal bagaimana menyesuaikan desain tersebut dengan kebutuhan dan mode masa kini.

Nah, saya mau share tips-tips menghadapi  gempa dari Nuansa  Cinta Untuk Semua :

1. Jika rumah anda terletak di daerah rawan gempa, perkokoh bangunannya.

2. Jika sedang berada di daerah pantai, kenali tanda-tanda terjadinya tsunami.

3. Atur perabotan rumah sedemikian rupa, untuk menghindari benda-benda itu jatuh, roboh atau bergeser jika terjadi gempa.

4. Persiapkan jalan darurat yang bisa dilalui jika terjadi gempa.

5. Persiapkan lampu senter dan obat-obatan luka beserta verban.

6. Catat nomor telepon penting yang dapat dihubungi bila terjadi gempa.

7. Simpan bahan mudah terbakar pada tempat yang tidak gampang pecah agar terhindar dari kebakaran.

8. Matikan air, gas dan listrik bila tidak digunakan.

9. Atur benda berat pada posisi aman. Sebaiknya benda-benda berat diletakkan di bawah.

10. Cek kestabilan benda  yang tergantung agar tidak jatuh pada saat gempa.

11. Simpan dokumen penting dengan baik, seperti  ijasah, akte kelahiran, sertifikat rumah/tanah,    dan lakukan laminating, sehingga tidak rusak.

Kita memang sangat tidak mengharapkan gempa itu datang. Tapi, dengan inisiatif untuk antisipasi, InsyaAllah perasaan kita akan menjadi lebih tenang. Semoga dengan tips tadi kita bisa menjadi lebih waspada ketika gempa itu datang. InsyaAllah…

Satu lagi ya, banyak-banyak tobat deh. Ajal bisa datang kapan saja, buru-buru minta ampun sama Allah dan minta tolong diselamatkan diri kita, keluarga, teman, dan kerabat dari bencana. Amin ya Allah.